Marketplace

Urusan jual beli ternyata mengalami lompatan besar. Transaksi dimulai dengan barter berkembang menggunakan uang dan dilakukan di pasar. Pasar mengalami evolusi mulai pasar tradisional menjadi pasar modern sampai era Centro, Metro dan SOGO. Di era millenial ini, Transaksi jual-beli menjadi sangat personal yaitu melalui marketplace dengan Gadget. Kita membayar juga tanpa uang tetapi dengan e-money.

Kita bertransaksi disana tanpa ketemu sang penjual. Kita melihat foto saja dan cocok. Maka langsung diklik “bayar”. Kita bisa mengunjungi “pasar” dimanapun, kapanpun dan dalam keadaan bagaimanapun. “Pasar” ini mempunyai nama yang unik dan variatif seperti Bukalapak, Tokopedia, Shopee, Lazada dsb. “Pasar” ini ditopang oleh industri jasa Delivery yang sudah menjamur seperti : JNE, JNT, Lion Cargo atau Wahana. Apalah arti “pasar ” ini jika tidak ada jasa Delivery? “Pasar” ini hanya lelucon jika tanpa Jasa Delivery. Lelucon di era millenial.

Dahulu, saya ragu untuk berbelanja di “Pasar” ini. Karena transaksi membutuhkan jasa perbankan secara langsung (ATM, M-Banking, E-Banking dsb). Sekarang, “Pasar” ini telah dibanjiri konsumen yang ternyata tidak punya rekening di bank .

Kita sering melihat orang antre di gerai ALFAMART/INDOMARET untuk membayar transaksi di “Pasar”. Mereka tidak ragu lagi berbelanja di “pasar”. Karena sistem pembayaran sudah dipermudah. Ini revolusi sistem pembayaran dimulai dari barter dilanjutkan uang dilengkapi dengan e-money.

“Pasar” itu adalah Marketplace, Marketplace diterjemahan secara harfiah artinya ya pasar itu sendiri yang kekinian. Marketplace itu adalah pasar yang ada di dunia maya. Itu sepanjang pengertian yang saya ketahui. Pemerintah melihat potensi pajak dari “pasar” ini cukup besar. Maka, Pemerintah sedang pusing tujuh keliling bagaimana me-“majak”-i transaksi dunia maya.

Ah…Nikmatnya Hidup di Jaman NOW. Semua bisa dilakukan dengan ujung jari. Tapi inget….Ancaman Konsumerisme mengancam saya dan kita semua. Kita sudah belanja online dan masih aja belanja offline. Lihat aja, Mall masih rame dan banyak pengunjung.Banyak ahli yang meramalkan banyak Mall akan Gulung Tikar akan tetapi masih ramai aja. Karena semua sudah online mulai belanja online, bisnis online, teman online. Ini bisa saja sampai era Nikah Online . Uppssss….!!!

Advertisements

Winnetou Mati (Winnetou III)

Ketika sebelum membaca Novel Winnetou maka terbayang cerita koboi yang berisi adegan membunuh, membantai, dar-der-dor atau kata-kata sumpah serapah, kehidupan alam yang liar atau perampok yang selalu menyerang KA. Itu semua memang ada namun……..

Old Shatterhand tidak pernah membunuh seorang pun. Old Shatterhand yang masyhur sebagai westman tidak pernah membunuh meski sudah didzolimi. Padahal, Kehidupan prairie menghalalkan itu semua.Old Shatterhand tidak beraksi jagoan seperti bayangan saya.

Siapapun yang didzolimi boleh membalas langsung. Kehidupan tanpa hukum karena belum tegak di daerah barat. Old Shatterhand hanya menembak lutut si Tangua,kepala suku Kiowa. Bahkan, Old Shatterhand tidak membunuh Santer. Santer yang telah membunuh ayah Winnetou dan melakukan berbagai kejahatan. Santer dihukum oleh alam karena longsoran tanah yang mengantarkannya ke dasar danau.

Winnetou menjadi humanis setelah bersahabat dengan Old Shatterhand. Akhirnya, Winnetou tidak mengambil scalp (kulit kepala) dari musuhnya di bagian akhir dari novel Winnetou III. Padahal, Scalp adalah tanda kemenangan dan kekuatan bagi seorang Indian terutama kepala suku Indian (Apache, Kiowa, Comanche, Sioux & Ogelallah).

Humanisme, Persahabatan, Persaudaraan dan Komitmen adalah tema yang diangkat oleh Karl May. Petualangan yang menantang dan menyenangkan dirangkai oleh Karl May dengan elok. Lebih lanjut, petualang Old Shatterhand dan Winnetou lebih menarik daripada tema utama cerita itu sendiri.

Novel ini akan membuat siapapun yang suka petualangan akan tertarik dengan novel ini. Petualangan Winnetou akhirnya harus berakhir dengan kematian. Kematian yang disebabkan sebuah peluru yang menembus paru-paru sebelah kanan. Winnetou dikuburkan bersama senapan perak yang melegenda.

Cerita diakhiri ketika Santer masuk ke dalam dasar danau. Santer yang dibutakan oleh emas yang disimpan oleh Winnetou. Emas disebut Deadly Dust (Debu Mematikan) oleh Old Shatterhand. Karena alih-alih membuat hidup sejahtera malah membuat hidup manusia sengsara dengan saling membunuh. Karena memperebutkan emas. Tema utama Novel ini adalah Nyawa Manusia itu Priceless dan kebahagiaan manusia seringkali bukan masalah materi (uang, emas, deposito dsb) namun tentang immateri (persahabatan, kebaikan, keluarga, cinta dsb). TAMAT

Humanisme

Old Shatterhand melanjutkan petualangan hingga tanah Mexico. Old Shatterhand yang mempunyai nama asli yaitu Charley sudah sangat terkenal di Amerika Serikat mulai dari barat sampai timur. Charley setelah mengalami petualangan bersama Winnetou harus berpisah jua.

Winnetou mengejar Santer yang telah membunuh ayahnya. Old Shatterhand harus kembali ke perusahaan yang memperkerjakan sebagai surveyor.  Surveyor berganti pekerjaan sebagai detektif. Dia memperoleh pekerjaan untuk mencari anak yang hilang yaitu William Olhert.

Perburuan ini membuatnya bertemu dengan Old Death. Mereka berkelana sampai wilayah Mexico dan kembali ke wilayah Amerika Serikat. Old Death akhirnya meninggal setelah mati tertembak. Tak lama kemudian, Old Shatterhand bertemu Old Firehand.

Petualang menyenangkan di dunia WILD WILD WEST. Dunia yang memperbolehkan saling membunuh. Karena memang saat itu bisa dikatakan belum ada pemerintahan yang syah. Paling tidak menurut masyarakat eropa. Suku-suku Indian meski kuat tapi tidak mampu membendung arus bangsa eropa ke amerika.

Old Shatterhand meskipun kuat tapi tidak mudah membunuh bahkan diusahakan tidak membunuh. Itulah pesan dari novel ini yaitu HUMANISME.

COMFORT ZONE

Manusia biasanya mempunyai “comfort zone”. Apabila seseorang mengalami kesedihan atau sakit maka dia akan kembali ke “comfort zone”. Maka hatinya menjadi tenang, nyaman dan bahagia. “Comfort zone” bisa berupa makanan/kuliner, lokasi (kafe, pondok makan, obyek wisata), buku atau aktivitas. Berbahagialah manusia yang memiliki “comfort zone”. Karena dia tahu bagaimana membuat dirinya nyaman atau bahagia.

Saya belajar “comfort zone” dari istri. Dia punya “comfort zone” berupa kuliner. Kuliner yang selalu menjadi “comfort zone” sejak kenal pertama merasakan sampai saat ini. Itu adalah Bakmi Margonda. Bakmi Margonda adalah bagian hidup ketika menimba ilmu di PTN di Depok. Apabila ingin “comfort zone” maka dia bergegas ke Bakmi Margonda.

Saya dan istri baru saja menikmati kuliner tersebut satu bulan yang lalu. Buat saya itu pertama kali namun buat dia adalah nostalgia. Kata dia,rasanya tidak berubah masih seperti dulu. Hatinya puas, senang dan kenyang. Dia baru saja menemukan “comfort zone”.

“Comfort Zone” buat dia adalah Bakmi Margonda. Rumah makan yang terletak di Jalan Margonda Depok. Menu yang menjadi “comfort zone” adalah Ifu mie.

Tekstur mie yang sempurna, rasanya khas dan tiada duanya,pokoknya sempurna bagi istri. Saya nikmati dan rasakan. Saya emang suka makan tapi untuk saya,rasa makanan hanya ada dua yaitu enak dan sangat enak.

Bakmi margonda emang enak. Saya yakin bahwa warga depok sudah tahu bakmi margonda. Lebih dari itu,Bakmi margonda adalah “comfort zone” dan nostalgia buat istri saya.

Kami melancong ke Jakarta memang salah satu tujuannya adalah bakmi margonda. Dia ingin berbagi “comfort zone” dan nostalgia dengan saya dan anak-anak.

Artinya, Dia ingin berbagi kebahagiaan dengan keluarganya. Ifu mie memang enak. Karena adalah “comfort zone” maka terasa lebih enak. Karena nostalgia maka lebih nikmat.

Masjid Itu…..

Masjid itu sederhana tapi mengesankan. Arsitek masjid tidak neko-neko. Bangunannya berarsitek jawa yang tidak terkesan megah dan mewah tapi teduh dan mengayomi. Bangunan masjid dikelilingi serambi. Ada taman diantara serambi dan ruang utama masjid. Taman di dalam masjid berdiri berbagai pohon yang rindang. Itu sangat menentramkan dan meneduhkan.

Masjid itu indah. Masjid berada di pinggir danau UI. Balairung dan Rektorat UI berdiri kokoh di seberang danau. Masjid , Balairung dan Rektorat berdiri mengitari danau yang tenang dan tampak indah di sore hari. Angin berhembus lembut menerpa tubuh kami. Angin yang membawa uap air ini menambah syahdu suasana di masjid.

Masjid itu pusat kegiatan. Masjid UI bukan hanya tempat untuk sholat saja. Mahasiswa banyak yang berdiskusi di serambi masjid tepatnya di pinggir danau. Mereka berdiskusi, bercengkerama atau refreshing sambil makan bekal yang dibawa. Hebatnya, Ada Toko buku di pojok serambi. Tokonya kecil sederhana tapi lengkap. Saya beli dua novel yang ditulis Kafka. Buku yang tidak saya temui di toko buku dimana-mana.

Masjid itu menenangkan. Kita bisa tertidur nyenyak, asyik ngobrol atau khusyuk membaca buku di masjid ini. Masjid yang didesain terbuka maka di dalam masjid sekalipun terasa sangat menyejukan. Suasana sejuk dan segar mungkin pengaruh dari keberadaan danau. Sungguh menyenangkan mendirikan sholat di situ

Masjid itu bagai oase. Oase di tengah-tengah hiruk pikuk manusia di kota Depok. Kota Depok yang panas, sesak dan gaduh. Apabila masuk ke masjid UI maka akan terasa kebalikannya. Rasanya teduh, tenang dan menentramkan. Apalagi setelah sholat kemudian duduk terpekur mengagungkan Asma Allah SWT sembari melihat hamparan danau UI. Danau UI yang sedang berkilauan karena diterpa sinar matahari.

Masjid itu adalah Masjid UI (Ukhuwah Islamiyah) yang berada di Kampus UI ( Universitas Indonesia) Depok. Masjid bukan sekedar tempat ibadah. Masjid adalah tempat segala urusan muslimin tertumpah ruah mulai dari belajar, bergaul,berkumpul, berdiskusi, bergaul sampai berdagang di serambi masjid. Masjid itu terus terngiang-ngiang di kepala saya. Sungguh, Masjid itu………

Winnetou I

Karl May memang seorang jenius. Kecerdasan Karl May mungkin sejajar dengan J.K Rowling yang menulis Harry Potter. Maaf, saya belum baca Harry Potter. Ini hasil dari diskusi dengan istri yang menyukai novel Harry Potter. “Cerita Harry Potter begitu sempurna dan lengkap dan semua kait- mengkait”, Itu menurut istri saya.

Karl May memang produktif menghasilkan novel. Novel Karl May berkisah tentang petualang si Charlie dengan setting di berbagai negara mulai Afrika, Asia, Eropa dan Amerika. Sungguh butuh kecerdasan tinggi untuk menyusun novel dengan kisah yang seru yang panjang dan setting di berbagai belahan dunia. Daerah-daerah tersebut ada yang pernah dikunjungi dan ada yang belum pernah dikunjungi sama sekali.

Karya yang masyhur dari Karl May salah satunya adalah Winnetou. Winnetou adalah seorang kepala suku indian Apache. Dia mempunyai saudara kulit putih yang bernama Old Shatterhand. Kisah ini dimulai di daerah pesisir barat (west) Amerika. Anehnya, Karl May belum pernah ke pesisir barat.

Bagaimana mungkin bisa menulis tanpa pernah mendatangi setting novel. Buat saya yang awam maka jawabannya adalah “Sulit”. Karl May mampu melakukan dengan baik bahkan ceritanya hidup. Seolah-olah kita berada disana ketika membaca buku Winnetou.

Karl May terlihat menguasai tentang detail cerita. Dia menulis dengan sangat detail. Imajinasi kita melayang-layang di padang prairie, sabana, hutan dan sungai di daerah barat. Kita merasa bertemu dengan para westman, indian. Kita seakan-akan berburu di Bison dan Mustang. Kita harus menahan nafas karena Beruang Grizzly menyerang Old Shatterhand di dalam kisah novel Winnetou.

Novel Winnetou itu humanis. Old Shatterhand mempunyai kesempatan untuk membalas dendam kepada Rattler. Rattler sudah ditangkap oleh suku Apache. Old Shatterhand meminta tolong kepada saudaranya yaitu Winnetou. Agar Rattler dihukum mati dengan satu tembakan bukan dengan siksaan. Suku Indian menghukum mati seseorang biasanya dengan menggunakan teknik siksaan.

Winnetou, kepala suku indian Apache yang berbeda. Winnetou menghormati manusia tidak memandang perbedaan suku, agama dan warna kulit. Winnetou adalah didikan Klekih-Putra. Seseorang yang berasal dari Jerman yang mengabdikan diri di Suku Indian Apache. Klekih-Putra adalah seorang Pendeta Kristen.

Winnetou tidak membenci orang westman atau orang eropa. Dia tidak suka karena tanah atau wilayah suku Indian dilewati rel kuda besi (Kereta Api) tanpa meminta izin atau membeli dari suku Apache. Seolah-olah tanah yang dilewati rel KA adalah tanah tidak bertuan.

Ini awal perselisihan dari suku Apache. Suku Indian memang semakin lama terdesak dan minoritas. Winnetou menentang sebuah gerakan yang menghapus orang indian di bumi Amerika. Makanya, dia mengangkat senjata demi kehormatan wilayah suku Indian.

Dia resah dengan keadaan orang eropa di Amerika. Mereka mendesak kehidupan bangsa Indian. Jika dibiarkan maka suku Indian akan punah. Dia menyadari bahwa Suku Indian pasti akan tersisih di tanah air mereka sendiri.

Sebelum Suku Indian terdesak dan menjadi minoritas. Old Shatterhand ingin melakukan sesuatu untuk memberdayakan bangsa Indian. Suku Indian adalah suku yang berbudaya menurut Old shaterhand. Pendapat yang berbeda di tengah-tengah pendapat mayoritas yang menyatakan bahwa Suku Indian itu tidak beradab.

Kita membaca novel Winnetou maka seolah-olah menonton film koboi. Ada suku indian yaitu Navajo, Kiowa dan Apache. Kita akan mengenal senjata yaitu Tomahawk. Kita akan mengenal mokasin. Semua budaya indian ada disana. Kita mengenal kebiasaan para westman. Kehidupan yang liar dan bebas di tengah padang prairie.

Karl May memang ingin memperkenal bangsa Indian. Bangsa yang pasti akan kalah dan punah di tanah mereka sendiri. Indian yang dikalahkan oleh bangsa eropa. Indian bukanlah bangsa terbelakang dan kejam. Indian adalah bangsa yang memiliki kebudayaan yang tinggi.

Bangsa Indian harus kalah dan terstigma bangsa yang kejam oleh bangsa eropa pendatang. Itulah keprihatinan Karl May yang diwujudkan novel dengan tokoh Winnetou, Old Shatterhand, Sam Wakkens, Dick, Rattler dsb.

Napak Tilas

Keluarga kecil kami liburan di musim liburan akhir tahun 2017. Kami liburan ke kampus istri di UI Depok. Karena istri dan kakak ipar adalah alumni dari sana. Istri saya yang menginginkan perjalanan napak tilas ke UI Depok. Katanya ingin menunjukkan ke anak-anak dimana mamanya dulu kuliah.

Mama Ifa dan Pakde Aji memang unik. Jika kami yang orang daerah menuju ibukota untuk mengadu nasib atau studi / kuliah maka tidak pulang sampai berkeluarga dan beranak pinak. Jika usia sudah tua dan pensiun baru pulang ke daerah asal.

Kata orang, “ Sejauh Burung Terbang Maka Tetap Akan Pulang ke Sarangnya”. Buat istri saya belum jauh terbang udah pulang ke sarang. Pakde Aji juga begitu setelah kerja di sebuah Bank ditempatkan di Kota kelahiran dan akhirnya menetap dan berbisnis di kota kelahiran pula.

Perjalanan ini menjadi terasa lebih emosional buat istri saya. Dia telah meninggalkan Jakarta beberapa tahun yang lalu. Katanya, Jakarta itu dinamis dan penuh tantangan. Sungguh sangat menantang hidup di gemerlap Jakarta. Bahkan, kawannya dari pulau seberang yang sudah mengenal Jakarta tidak mau pulang. Karena sudah nyaman hidup di Jakarta. Tiba-tiba, Dia harus pulang menjalani kehidupan rumah tangga di kota kecil yang sepi dan tenang.

Napak Tilas itu berasal dari kata “Napak” dan “Tilas”. Napak itu arti menapaki atau melintasi sebuah daerah atau wilayah. Tilas itu artinya bekas dipakai atau dulu pernah ditempati atau dilintasi. Kami (Saya, Istri, Ifa dan Zufar) menapaktilasi wilayah yang ditinggali atau dilewati sang mama ketika kuliah. Mulai wilayah Jakarta sampai berakhir di Depok.

Ketika melintasi stasiun UI maka terasa lebih emosional. Mama ifa mulai membandingkan kondisi dulu dengan sekarang. Kata mama ifa sudah banyak perubahan. Perpustakaan UI yang paling berubah. Perpustakaan UI adalah spot yang paling Instagramable ( Maaf, kalau salah penulisan..).

Aku pun cuman manggut-manggut. Hehehehehe… Saya adalah putra daerah asli. Saya sejak dari balita sampai punya dua anak tidak pernah berpindah dari kota kecilku. Mama Ifa sibuk menanyakan ke pakde Aji tentang perubahan kampus UI Depok. Karena pakde Aji lebih sering wira-wiri ke kampus UI Depok.

Kita melintasi berbagai fakultas. FKUI ternyata sudah ada di Depok. Saya kira FKUI hanya di Salemba. Pembangunan Kampus UI masih terus berlangsung. Kampus UI dilengkapi dengan RS Pendidikan. FEBUI terlihat lebih modern dan segar.

Pakde Aji menyempatkan diri berfoto dengan keluarga kecilnya di FEBUI. Maklum, Pakde Aji adalah alumni FEBUI program studi Manajemen. Foto adalah gambar sejuta makna. Agar menjadi prasasti bahwa ayahmu pernah kuliah di kampus terbaik di Indonesia. Kamu harus lebih baik dari bapakmu. Begitu sekiranya makna foto pakde aji sekeluarga buat buah hatinya.

Kami juga berfoto di depan kampus FASILKOM UI. Mama Ifa itu alumni S1 dan S2 di FASILKOM UI. Kami berfoto dalam formasi lengkap. Suatu saat, Ifa dan Zufar akan melihat oto itu. Ifa juga akan mengeti bahwa pernah ke kampus UI. Kamu berdua semoga lebih baik dari ibumu.

Tidak lupa, Kami napak tilas ke Masjid UI Depok. Masjid UI tampak teduh dan asri di siang har jam 13.30 WIB. Masjid yang terletak di tepi danau UI. Tampak di seberang danau yaitu Balairung UI dan Rektorat UI. Hawa panas yang menyengat berubah segar menyenangkan. Karena hembusan angin dari danau menuju masjid. Elemen air memang menenangkan dan menentramkan.

Napak Tilas itu menyenangkan dan bermanfaat. Napak tilas ini memberi energi positif buat mama ifa. Manusia kadang harus menengok ke belakang. Ketika melihat di depan terasa sangat sulit dan berat dilalui. Kita harus menengok ke belakang. Karena kita telah mengalami sesuatu yang lebih berat dan lebih payah di masa lalu. Kita tengok ke depan lagi. Ah… Itu tidak seberat masa laluku. Maka kita akan melangkah ke depan dengan gagah berani.

Acceptance

 

Saya berdiskusi dengan dua orang hebat. Mereka adalah Pak Maman . Sehebat apakah beliau? Beliau adalah guru TK yang mempunyai dedikasi dan loyalitas tinggi terhadap profesi. Beliau sangat menikmati setiap proses dalam menjalani profesi sebagai guru TK. Pendidikan beliau bukan sarjana tetapi kecintaan beliau terhadap dunia anak menjadikan dia layaknya seorang sarjana.

Saya meminta tolong kepada beliau tersebut untuk memberi pembekalan ke guru-guru TK di sebuah kecamatan yang ada di kota Solo. Guru-guru yang mengajar di TK-TK pinggiran dengan bayaran yang tidak akan mencukupi biaya hidup sebulan. Mereka meskipun berkekurangan tapi mempunyai semangat belajar yang tinggi.

Para Guru TK ini membutuhkan sekedar dari pemberian uang. Mereka membutuhkan asupan gizi ilmu. Kalau mereka diberi uang maka satu jam, sehari atau seminggu lagi segera terkonsumsi. Jika ilmu yang disalurkan maka akan mengendap dalam alam pikiran mereka, memajukan cara berpikir mereka dan akhirnya merubah generasi penerus menjadi lebih hebat.

Pak Maman adalah guru yang mempunyai nasib sedikit beruntung. Karena bekerja di TK yang modern. Mereka menikmati gaji yang cukup dan bekal ilmu yang banyak dari tempat bekerja. Alhamdulillah, mereka bersedia padahal honornya kecil. Mereka mempunyai idealisme tinggi untuk pendidikan anak usia dini.

Diskusi itu berjalan dengan menarik, dinamis dan hangat. Salah satu kesimpulan dari diskusi itu adalah Acceptance atau Penerimaan adalah faktor kunci dalam keberhasilan pendidikan anak usia dini. Apapun kondisi anak harus diterima baik itu normal atau yang berkebutuhan. Apabila anak sudah dapat kita terima maka lebih mudah kita menghantarkan mereka kearah keberhasilan.

Pak Maman cerita bahwa ada seorang dosen memiliki anak perempuan yang bisu dan tuli. Bagaimana sedihnya sang dosen memikir masa depan sang buah hati? Kebetulan sang ayah adalah Dosen Psikologi. Dia lebih rasional memikirkan masa depan sang anak.

Sang dosen menemui Pak Maman. Sang dosen ingin mendidik anaknya sesuai dengan kondisi si anak. Anak harus bertumbuh dan berkembang sesuai dengan kondisi fisik dan mental. Sang dosen mendiskusikan dengan pak maman untuk menentukan sekolah mana yang cocok buat sang anak. Sang dosen menginginkan anaknya paling tidak menjadi mandiri.

Pak Maman ngomong ke sang dosen, “Anak anda tidak butuh sekolah pak, Ngapain dimasukkan sekolah?”. “Anak anda butuh penerimaan dari anda”, ujar pak maman. “Anak ini akan mencari sendiri gift yang ada di dalam dirinya”,  Pak Maman menambahi. “Kuatkan saja potensi yang ada didalam dirinya”,Pak Maman mengakhiri uraiannya.

Sang Dosen berusaha menerima apa adanya si buah hati. Sang buah hati didampingi dengan menguatkan segala sesuatu dalam pembentukan karakter si anak mulai psikomotorik halus, psikomotorik kasar, karakter, keberanian dan kemandirian. Anaknya dibantu dalam ‘Tumbuh-Kembang” sampai menemukan sesuatu yang dia senangi dan kuasai. Sang Dosen meyakini bahwa ini adalah The Best Gift From GOD.

Anak ini sudah beranjak dewasa. Anak ini telah menjadi “mesin uang” yang handal. Anak ini mempunyai “gift” dalam bidang desain. Desain yang dia buat sangat diminati dan dihargai dengan mahal. Suatu Hari, Klien ingin bertemu dengan sang desainer. Sang desainer adalah anak sang dosen yang bisu dan tuli. Sang dosen mengantarkan sang anak untuk bertemu denga klien sang anak.

Klien si anak kaget bukan kepalang, “Hmm, selama ini yang mendesain itu mbak”. Sang dosen menjawab dengan bangga, “ Iya pak, Anak saya yang bisu dan tuli”. Karena Sang Anak disapa oleh kliennya maka dengan percaya diri menjawab meskipun dengan segala keterbatasan dia. Uppss…...Ternyata.

Penerimaan atau Acceptance dari orang tua kepada sang anak menguatkan karakter si anak. Menurut perhitungan, Si anak akan menjadi beban orang tua di masa depan. Karena Acceptance dari orang tua. Anak ini malah membuat bangga sang orang tua. Padahal, Sang dosen mungkin hanya mengharapkan kemandirian dari si anak.

Pak Maman menekankan bahwa kita harus menerima kondisi anak kita apa adanya. Pak Luki, kawan pak luki yang ikut nimbrung diskusi, menambahi bahwa seorang guru juga harus menerima apa adanya kondisi murid. Acceptance  dari seorang guru kepada murid sangat berpengaruh psoitif. Anak yang susah diatur menjadi lebih mengerti aturan. Anak-anak menjadi dekat gurunya dan muridnya menjadi percaya diri.

Saya bisa mempercayai itu. Karena anak saya adalah murid pak Luki di TK. Anak saya yang speech delay menjadi gembira dan percaya diri bergaul dengan teman-temannya. Anak saya sudah bisa ngomong. Anak saya menemukan ketenangan, keberanian dan Percaya Diri. Teman-temannya yang semula bengal menjadi taat aturan meskipun masih tetap saja ramai.

Setiap anak telah diberi “gift” dari Allah SWT. Kita harus menerima apa adanya. Tugas kita hanya memperkuat mental mereka, psikomotorik kasar, psikomotorik halus dan kegemaran untuk belajar. Setiap orang tua dan guru bertanggung jawab untuk menghantarkan “tumbuh-kembang” anak sesuai dengan gift yang diberikan oleh Allah SWT.

Acceptance kita terhadap anak akan memperkuat karakter mereka. Sehingga mereka tidak ragu untuk mengembangkan diri sesuai dengan “gift” masing-masing.Ibaratnya adalah Telur yang diselubungi cangkang. Kita hanya membantu isi telur menjadi anak ayam dan menetas sendiri tanpa kita bantu memecahkan cangkangnya.

Agar telur itu cepat menetas maka harus kita panasi. Kita masukkan ke mesin penetas telur. Ayam induk di-“minta” unrtuk mengerami dan ditempatkan di tempat yang senyaman-nyamannya. Namun, kita tidak boleh memecahkan telur itu terlebih dahulu. Kita tidak ada hak memecah cangkang jika kita menginginkan seekor anak ayam. Kecuali, kita menginginkan sepiring Telor Mata Sapi.

Acceptance itu menguatkan si anak. Siapapun anak itu baik yang normal atau berkebutuhan. Kita cari pelan-pelan yang menjadi gift bagi si anak. Kita bisa melakukan tes sidik jari sampai konsultasi dengan psikolog atau dokter. Trial and error, Kita mengenalkan berbagai hal mulai permainan, buku sampai perlombaan.

Pak Maman menyatakan bahwa dalam proses trial and error tidak ada kalah-menang  atau salah-benar. Kalau si anak diajari namun lambat menguasai berarti memang bukan bakatnya disitu. Jika diajak lomba maka yang dicari adalah pengalaman. Semua itu adalah ikhtiyar mencari gift dari si anak.

Sore itu banyak ilmu yang saya serap. Ternyata, saya banyak melakukan kesalahan ke sang buah hatiku. Maafkan ayah ya nak. Ayah akan selalu belajar memahamimu. Engkau adalah anugerah sekaligus ujian buat ayahmu ini. Agar ayahmu menjadi manusia lebih baik.

 

 

 

 

 

Isi Dompet

Anda mesti sudah tahu betul dengan nasi pecel. Nasi yang diberi sayuran yang sudah direbus kemudian disiram sambal kacang. So simple….

Kalau ditambahi dengan jantung pisang (jawa : tuntut), mlandhing, timun, bongko dan gembrot. Hmm… Terasa lebih enak dan istimewa.

Mau lebih enak? Kita ganti sambal kacang dengan sambal wijen hitam. Kita tambahi dengan parutan kelapa yang diurap dengan sambal. Oh ya,jangan lupa sambal trasi.

Sayuran harus lengkap,mulai bayam,taoge, kenikir, mentimun dan kemangi. Saya kira para vegetarian dan vegan mesti menggandrungi itu semua.

Kita bahas harganya. Menurut anda berapa? Bagi yang suka ke pasar tradisional, warteg, warung makan, restoran biasa atau yang mahal. Mereka mempunyai perkiraan masing-masing.

Pecel yang lengkap begitu disebut pecel ndeso. Kalau di jawa, Pecel ndeso masih banyak dijual di pasar tradisional. Harganya berkisar 3 ribu per porsi. Itu udah pakai nasi merah. Kalau yang baik hati masih ditambah ikan asin kering (jawa : gereh).

Kalau di tempat kumpul warga. Kalau di Jakarta misal di Monas. Kita yang di Solo misal di Manahan. Harga bisa berkisar 5 – 6 ribu.

Pecel ndeso jika disajikan di hotel berbintang atau resto berkelas. Harganya bisa berkali lipat. Kalau mau menikmati sajian yang masih genuine dan etnis. So,datang aja ke pasar tradisional. Rasanya masih asli dan harganya musti murah.

Cuman,pasar itu seringkali kotor dan tidak teratur. Suasana tidak mendukung untuk menikmati sajian istimewa. Padahal,kuliner itu ada di pasar.

Seperti ini tadi, saya datang ke manahan. Saya dan istri melakukan olahraga pagi mengitari stadion manahan dua kali. Kemudian,muter-muter nyari sarapan.

Setiap ahad pagi,manahan jadi tempat kumpul warga baik yang berolahraga atau yang jualan barang atau kuliner. Saya nyari pecel ndeso.

Karena semalam hujan deras. Suasana menjadi lembab, basah dan becek. Situasi agak gimana. Kurang pas buat makan sajian Istimew sekelas pecel ndeso.

Setelah ketemu yang jual pecel ndeso. Kami ya makan disitu. Meskipun agak gimana ya nggak masalah. hehe….

Rasanya enak dan unik. Pokoknya pas banget. Harganya cukup murah meskipun lebih murah yang di pasar tradisional.

Semuanya cocok baik rasa atau harga. Cuman kurang satu yaitu situasi yang lembab dan agak becek. Itulah resiko makan di tempat umum dan terbuka.

Ada nggak ya yang jual pecel ndeso yang genuine, murah, enak dan tempatnya nyaman?

Ah sudahlah…..Itu biar dipikir yang berwenang (pemerintah atau pengusaha). Kita menyesuaikan diri aja antara rasa,otentisitas, tempat dan isi dompet. Nggak ada yang sempurna di dunia.

Kalau mau istimewa ya harus bayar mahal. Kalau mau yang biasa so bisa aja yang murah. Kita menyesuaikan tergantung isi dompet. hehehehe……

Hidup Berdampingan

Kami berdua telah memiliki dua anak. Anak kami sudah lengkap yaitu seorang anak lelaki dan perempuan. Alhamdulillah, Kami juga telah dibantu seorang ART, sebut saja “Mbak”. Si “Mbak” sangat tangguh. Dia membantu mengasuh kedua anak kami, mengurusi urusan belakang dan juga membantu bagian perawatan di usaha kami. Rasanya senang dan nyaman karena ada ART yang tangguh, efektif dan efisien.

Faktanya, anak kami itu ada tiga. Lho kok bisa? Bisa saja lah. Khan, Si “mbak” membawa anak juga di rumah kami. Hehehehehe… Usia anaknya selisih satu tahun dengan anak saya nomer dua.  ART yang tangguh, efektif dan efisien tapi bawa anak di rumah kami. Hehehehe…..

Anak kami yang sulung itu perempuan berusia 5 tahun dan  yang kedua itu laki-laki berusia 2 tahun.  Anak si “mbak” itu perempuan berusia 3 tahun. Mereka bertiga hidup dalam satu rumah. Bisa dibayangkan betapa ramai rumah kami. Pokoknya rumah kami tidak pernah sepi dari suara anak-anak.

Bagaimana bisa sih? Anak dari si “mbak” tinggal di rumah kami.  Itu tidak terlalu penting. Buat saya interaksi diantara ketiga balita itu yang terpenting. Mereka berinteraksi bersama dalam kurun 24 jam secara terus-menerus. Lebih banyak menyenangkan dari menyusahkan. Kami seisi rumah sangat menikmati keadaan ini.

Saya dibesarkan sebagai anak tunggal selama 11 tahun 6 bulan. Setelah akhirnya, Adik saya dilahirkan ketika menjelang ujian kelulusan SD. Saya merasakan suka duka sebagai anak tunggal tanpa saudara. Saya merasakan kehadiran saudara kandung menjelang remaja awal. Setelah sekian lama menjadi “raja” di rumah.

Saya tahu rasanya sepi tanpa saudara atau teman sebaya di rumah. Meskipun di bagian lain, saya tidak perlu berbagi dengan saudara yang lain jika ada pemberian dari orang tua. Saya tidak perlu berbagi, bertenggang rasa dan bahkan tidak perlu berkonflik dalam segala hal. Apapun buat saya itu mutlak untuk saya.

Keadaan yang bertolak belakang dengan anak-anak saya. Anak-anak sejak balita sudah belajar untuk saling menyesuaikan dengan saudara kandung. Bahkan mereka sudah harus belajar saling menyesuaikan dengan anak orang lain. Padahal, Ego mereka muncul sebagai anak manusia maka konflik seringkali tidak terelakan.

Bukankah biasa setiap manusia memiliki ego. Karena ego maka ada konflik. Lha ini, konflik ego dengan anak orang lain dan apalagi tinggal dan kerja di rumah kami. Bukan konflik yang kami permasalahkan tetapi bagaimana mereka menyelesaikan konflik. Itu yang membuat kami terkagum-kagum dengan anak kecil.

Konflik sesama anak-anak sudah kami anggap biasa. Anak kecil itu ternyata sangat pemaaf. Setelah mereka bertengkar. Mereka bisa bermain lagi tanpa rasa dendam lima menit kemudian. Tidak ada yang disimpan di kalbu, semua hanya luapan emosi sesaat saja.

Anak itu tetaplah anak. Anak si “mbak” tentu belum terlalu peduli kalau numpang hidup di rumah orang. Ego anak tetap akan muncul dimanapun dan bisa kapanpun. Awalnya, mereka bertiga kalau udah berebut sesuatu maka ramai rumah kami.

Konflik yang sejati adalah konflik bagi kami. Para orang dewasa yang tinggal serumah. Ternyata, Kami dan si “mbak” yang harus bertenggang rasa dan saling menyesuaikan diri. Karena setiap orang tua akan memprioritaskan anak-anak kita diatas segala-galanya . Itu yang normal dan  naluriah. Kalau kadar berlebihan maka itu yang jadi masalah.

Kami sebagai tuan rumah dan si “mbak” yang hidup dalam satu rumah mendapat pelajaran berharga . Bagaimana menempatkan konflik anak-anak dalam koridor dunia anak tanpa melibatkan emosi kami sebagai orang tua.  Karena anak-anak itu sangat pemaaf, kadang kita sebagai orang tua yang seringkali memperpanjang konflik.

Kalau menimbang-nimbang untung dan rugi dari ART yang membawa anak ketika bekerja. Tentulah, kita lebih mudah melihat kerugiannya. Kerugian mulai kualitas pekerjaan si”mbak” tentu kurang maksimal karena perhatian terbagi antara anak dan pekerjaan. Privacy keluarga kami mestilah terganggu.

Alih-alih memperhatikan kerugian. Saya melihat banyak manfaat. Saya dan Istri mengibaratkan rumah kami adalah asrama yang besar. Asrama yang tidak ditinggali sendiri. Rumah kami menjadi ramai. Saya tidak merasakan kesepian seperti masa kecil. Hidup kami merasa lebih berkah dan penuh kegembiraan.

Karena kami bukan termasuk orang yang berpenghasilan besar. Tetapi, banyak orang  yang kami tanggung hidupnya. Rezeki terasa lancar meskipun pas-pasan. Ibarat aliran sungai, sungai kami tidak besar tetapi  alirannya kecil dan lancar. Karena kami menghidupi dua keluarga. Alhamdulillah, kami merasa cukup tetapi tidak berlebihan. Rasanya “pas”. Gitu aja…..

Anak-anak belajar hidup bersama dengan orang lain yang seusia mereka. Mereka harus berbagi dalam berbagai hal mulai makanan, minuman, mainan dan kesenangan. Karena hidup serumah maka pembagian harus adil diantara mereka bertiga. Saya anggap ini pembelajaraan buat anak-anak kami untuk berbagi, bersimpati dan mempunyai empati.

Semoga anak-anak saya tumbuh sebagai anak-anak yang peduli sesama, mampu mengontrol ego dan ringan dalam menolong. Bukan konflik yang kami permasalahkan, Bagaimana anak-anak menyelesaikan konflik yang kami perhatikan. Besok, Mereka akan menghadapi konflik dengan orang lain besok jika sudah dewasa.

Namun, Kami tetap mempunyai waktu istimewa. Waktu dimana merasa diistimewakan oleh orang tua mereka sendiri. Karena itu juga menjadi hak mereka sebagai anak-anak kami. Kami ajak mereka main keluar kota 1-2 hari. Kami hanya bersenang-senang selama perjalanan. Kami bermain bersama.

Kalau sudah selesai liburan. Kami pulang ke rumah dan hidup secara komunal kembali. Ruang kosong itu harus diisi. Ruangan yang membutuhkan kasih sayang langsung dari orangtua kepada anak-anak tanpa ada gangguan. Namun, Empati anak juga harus dibangun. Empati dibangun saat hidup bersama dengan orang lain.