Pembakaran Sampah (2)

Sampah anorganik dikurangi dengan membakar. Bagaimana dengan sampah organik? Awalnya, saya pakai cara menimbun. Saya buat lubang penampungan sampah di kebun.

Lubang ini berfungsi menampung sampah organik seperti : daun-daunan, batang dan akar. Sampah tersebut dikumpulkan di lubang itu untuk dirubah menjadi kompos.  Kompos adalah pupuk yang dihasilkan dari sampah organik.

Katalisator yang digunakan biasanya adalah EM4. Saya siram dengan EM4. EM4 sebagai katalisator untuk membentuk kompos. Sampah diurai menjadi unsur-unsur yang diperlukan oleh tanaman. Kompos terbentuk setelah proses pembentukan selama  1-2 bulan.

Kebun mayoritas ditanami pohon pisang. Karena setiap panen pisang selalu diikuti dengan tebang pohon pisang. Lubang penampungan lebih cepat penuh sebelum terbentuk kompos. Lubang sampah sudah membludak.

Proses dekomposisi ternyata belum menjadi solusi total untuk sampah organik. Arus sampah lebih besar darpada arus dekomposisi. Sampah masih selalu saja menggunung. Saya bisa bayangkan begitu repotnya bagi pekerja yang mengurusi sampah.

Walhasil, pembakaran menjadi solusi alternatif. Kelebihan sampah organik dibakar di dalam drum. Ternyata, membakar sampah itu tidak semudah yang saya bayangkan.

Saya beli drum baru lagi. Saya mengisi dengan sampah organik seperti daun pisang kering dan batang pohon pisang. Daun-daun pohon mangga mengering juga ikut dibakar.

Hasilnya lumayan. Saya dulu bingung buang sampah dari penebangan pohon pisang. Sekarang, saya bisa bakar langsung tanpa harus membuang di suatu tempat. But, timbul masalah baru yaitu polusi udara bersifat temporer. hehehehehehe….

zaki19482

Advertisements

Pembakaran Sampah (1)

Kalau sampah sudah terpisah antara organik dan anorganik. Sampah organik dikonsumsi oleh ayam dan sampah anorganik dijual oleh mbak warti sebagai tambahan penghasilan. Ternyata, sampah masih menggunung. Sampah organik maupun dan organik sama-sama menggunung. Hehehehhe….Pusing juga ya.

Sampah plastik yang mendominasi dari sampah anorganik. Kalau botol plastik maka masih bisa dijual.Apalagi yang merek *Q*A. Lha…. kalau bentuknya plastik pembungkus makanan, aluminium foil, sampah susu kotak, atau pembungkus apapun yang berasal dari plastik dan sudah jadi serpihan. Gimana coba……? Udah tidak laku dijual. Kita tidak mampu mendaur ulang.

Sampah anorganik yang paling sering muncul di rumah yaitu Tisu. Maklum, usaha kami adalah persewaan perlengkapan bayi. Tisu antiseptic adalah andalan kami untuk membersihkan peralatan. Maka menggununglah sampah tisu. Yang nomer dua adalah kotak susu UHT.

Anak kami lebih suka minum susu UHT daripada susu bubuk. Sampah yang dihasilkan dari susu UHT adalah kemasan kosong. Sampah jenis ini sama sekali tidak bisa dimanfaatkan. Karena ada sisa cairan susu di dalam kemasan. Ini rentan munculnya bakteri. Kalau mau dibuat handycraft juga berbahaya. Treatment yang sulit.

Snek makanan dalam kemasan biasanya dibungkus alumunium foil. Ini juga merepotkan. Kalau mau dibuat sebagai handycraft maka butuh dalam jumlah yang banyak. Padahal, kita beli makanan tidak sebanyak itu kecuali sebagai pengepul. Kalau handycraft rusak maka menjadi limbah lagi. Alumunium foil sulit dicarikan solusi mendaur ulang.

Saya punya teman yang mengolah limbah aluminium foil. Dia mengubah alumunium foil menjadi lembaran-lembaran. Alumunium foil mula-ula dipanaskan kemudian dipres menjadi lembaran alumunium foil. Lembaran-lembaran bisa menjadi pelapis meja atau counter-counter di front office hotel atau bank.

Lha, sampah aluminium foil di rumah kami Cuma sedikit. Solusi paling mudah ya dimusnahkan. Cara efektif memusnahkan sampah anorganik adalah pembakaran. Kalau ada yang tidak bisa dijual maka dibakar. Kita kumpulkan sampah anorganik kemudian dibakar. Niscaya sampah menjadi abu.

Saya minta tolong mas Giyoto untuk membelikan tong sampah dari drum. Kita kumpulkan sampah anorganik kemudian dibakar di dalam tong sampah tersebut. Sisa pembakaran sampah adalah abu. Abu tersebut dibuang melalui “pak sampah”.

Karena proses pembuangan sampah melalui proses pembakaran. Volume sampah yang diambiil “pak sampah” berkurang drastis. Sampah yang diambil sudah menjadi abu. Berapapun jumlah sampah anorganik yang dihasilkan di rumah kami. Kami akan bakar kecuali yang bisa dijual. Pengurangan volume sampah bisa sampai 90 % lebih.

Lumayan, sudah tidak menggunung lagi. Solusinya adalah “Pembakaran”. Sampah organik ? Hmm… Ada yang dibakar dan ada yang ditimbun. Ini untuk postingan selanjutnya.  Hehehehehe…..

 

Sampah Anorganik (Kanan) dan Sampah Organik (kanan / sedang dibakar)

 

 

Sampah…Oh…Sampah

Sampah akan menjadi masalah di masa depan. Tanggapan orang akan hal tersebut bisa sangat bervariasi. Orang pesimis bisa bilang gini, “hidup kita semakin tidak sehat”. Orang optimis berkata sebaliknya,” ini ada peluang di masa depan berkaitan sampah”. Orang optimis bisa melonjak girang,”kita harus merubah sampah menjadi emas”.

Kalau saya, sadar diri aja. Saya yakin sampah bisa menjadi masalah masa depan. Tidak sampai pesimis tapi juga tidak terlalu optimis. Kita pakai jargon Aa Gym saja, Mulai dari diri sendiri, Mulai dari yang kecil dan Mulai sekarang juga. Kita urus sampah yang ada di rumah dulu. Itung-itung, aplikasi ilmu sewaktu kuliah. Saya meskipun IP pas-pasan bahkan pernah NASAKOM. Saya tidak ada salahnya mengaplikasikan hal-hal yang sepele dari Ilmu di bangku kuliah dulu. (*tutup muka…..hehehehe..)

Sampah di rumah saya mulai menjadi masalah. Sampah mulai menggunung karena aktivitas rumah tangga dan usaha bisnis. Anak-anak suka jajan menambah masalah. Karena sampah aluminium foil bertambah. Istri suka memasak juga menambah sampah. Kita punya usaha rental mainan juga menimbulkan sampah baik itu berupa kardus mainan, plastik pembungkus, baterei sampai tisu pembersih.

Mbak Warti sering bilang ke saya, “Sampah rumah kita paling banyak sepanjang gang ini,mas”. Saya nggak enak juga sama petugas sampah. Kita bayar sama dengan tetangga tetapi volume bisa dua kali dari sampah tetangga. Maklum, Karena Limbah usaha rental dan usaha pesanan masakan  yang menjadi ekstra sampah.

Setiap hari selalu ada limbah tisu. Karena membersihkan mainan dengan tisu. Belum lagi, sampah plastik dari alumunium foil untuk pembungkus makanan, Botol Soft drink dan AMDK (Air Minum Dalam Kemasan). Semua itu limbah yang berasal dari sampah Anorganik.

Kami juga menyuplai makanan ke Rumah Makan milik keluarga besar. Kegiatan memasak menghasilkan limbah seperti : dedaunan, kulit bawang. Bonggol sayuran dsb. Kami juga memasak untuk keperluan pribadi. Karena anggota keluarga agak banyak. Maka kalau masak besar maka limbah juga banyak. Belum lagi ada sisa makanan. Semua itu adalah sumber limbah organik.

Pernah suatu saat, Petugas yang mengambil sampah di rumah libur sehari. Sampah  menggunung dan tidak karuan. Pemandangan tidak enak dipandang dan tidak sehat. Baunya juga tidak enak. Kita butuh sedikit kreatifitas untuk masalah sampah.

Alhamdulillah, Mbak Warti emang kreatif. Sampah yang bisa “dijual” dikumpulkan. Semangatnya bukan solusi limbah. Semangat nyari tambahan penghasilan. Hehehehehe…Tapi gak  masalah. Ini cukup solutif. Mbak Warti jadi rajin mengumpulkan sampah botol plastik. Dia seneng dapat tambahan penghasilan. Kami yang tuan rumah juga senang. Karena rumah bebas dari sampah plastik. Katakanlah ini adalah simbiosis mutualisme.

Sampah sisa makanan. Ini menyisakan masalah tersendiri. Karena membuang makan secara etika tidak pantas. Orang Jawa bilang “ora elok”. Karena sama saja membuang rezeki. Apa boleh buat? Karena tidak tersentuh atau memang bersisa. Karena terlanjur memasak ternyata ada kegiatan di luar rumah. Kita makan di luar. Kita masuk rumah sudah malam. Akhirnya, masakan sudah basi.

Dahulu, Makanan sisa/basi dibuang begitu saja. Lha mau gimana lagi?. Karena kalau tidak dibuang baunya itu lho dan jadi sumber penyakit. Eureka……hehehehe… Ada solusi.

Suatu hari, Mbak Warti datang dari kampung halaman dengan membawa sepasang ayam (Ayam Babon dan Ayam Jago). Anak-anak sangat girang melihat sepasang ayam. Mereka pikir kalau mau ada kebun binatang di rumah. Anak emang paling suka dengan hewan maka hadirlah kebun binatang.

Saya siapkan kandang buat sepasang ayam tersebut. Saya kasih pakan berupa  bekatul dan BR. Makanan pabrik tentu lebih bergizi. Eh…Ternyata…, saya keliru besar. Makanan sisa ternyata disukai ayam. “ Makanan sisa lebih bagus buat ayam daripada pakan pabrikan, gitu mas”, Mbak Warti mengoreksi pendapat saya.

Alhamdulillah, Masalah makanan sisa sudah ada solusi. Makanan sisa bisa diberikan ke  ayam. Bahkan, saya kadang sengaja menyisakan buat ayam. Pakan ayam kombinasi dari pakan pabrikan, bekatul, makanan sisa dan dedaunan yang terbuang. Hasilnya? Hmmmm…Luar Biasa. Saya akan ceritakan di postingan tersendiri.

Ini baru solusi awal dari limbah rumah tangga. Mbak Warti masih banyak segudang solusi. Solusi “ mbak warti dengan “sok tahu” saya. So, Amburadul. Hehehehehe….

Posyandu Lansia

Saya dulu bercita-cita menjadi dokter. Dokter adalah profesi yang mulia di dserah kami. Akhirnya, Cit-cita saya tidak kesampaian. Hahahahaha….Saya menjadi sarjana teknik. Sarjana teknik aja juga nanggung. Karena tidak menjiwai masalah keteknikan. Kerja sebagai orang kantoran yang ngurusi keuangan. Apes dah……hahahahaha….

Singkat cerita, Saya berkenalan dengan pak Amin. Beliau adalah dosen senior tapi berjiwa muda. Beliau sangat mengharapkan generasi muda berkiprah di masyarakat. Beliau sering menyelenggarakan pelatihan, pengobatan gratis atau pembinaan remaja.

Kegiatan yang bersinggungan dengan cita-cita masa kecil adalah Pengobatan Gratis. Kita mengadakan pengobatan gratis dengan melibatkan dokter, perawat dan apoteker. Semua kru tidak dibayar alias gratis. Karena mereka menganggap sebagai tugas yang mulia. Saya menjadi koordinator mereka. Saya sebagai representasi dari Pak Amin di kegiatan Pengobatan Gratis.

Pengobatan Gratis dilakukan di Posyandu Lansia. Karena yang datang ke posyandu tidak hanya balita namun juga Lanjut Usia (Lansia). Wajah-wajah pasien sumringah ketika kru kami bekerja. Kadang muncul ucapan terimakasih dari para Lansia.

Nah, Saya tidak harus jadi dokter namun bisa bekerjasama dengan dokter. Alangkah bahagianya sebagai dokter. Mereka mampu membantu sesama dengan ilmunya. Mereka tidak dibayar tapi kepuasaan batiniah yang lebih mahal dari sekedar bayaran rupiah.

 

Terimakasih Pak Dokter, Bu Dokter, Mbak Perawat dan Mas Apoteker

 

Balance Bike

Dulu,saya belajar naik sepeda dengan langsung menaiki tanpa tips tertentu. Kakak sepupu yang mengajari naik sepeda. Saya ucapkan terimakasih kepada mbak Ani. Beliau adalah kakak sepupu mengajari dengan penuh kesabaran. Lama banget bisa naik sepeda. Teknik belajar saya yang kurang pas.

Belajar naik sepeda yang pertama kali dilatih adalah keseimbangan. Saya paham setelah melihat di Yutub. Ah…. pantes, saya belajar naik sepeda kok lama banget. Sebelum mengayuh pedal maka melatih keseimbangan terlebih dahulu.

Pada awal belajar naik sepeda. Kita lepas dulu pedal dan berusaha meluncur dengan menjaga keseimbangan. Lha,prinsip melatih keseimbangan itu ada di Balance Bike. Balance bike atau boleh saya sebut yaitu Sepeda keseimbangan atau sepeda tanpa pedal.

Kita mengendarai balance bike berjalan dengan menapak dua kaki terlebih pada awalnya. Tahap selanjutnya ,kita meluncur dengan dua kaki terangkat. Balance Bike itu menyenangkan pas meluncur ke bawah dan jalan berkelok.. Kalau teknik meluncur dilakukan dengan baik maka tahap selanjutnya adalah mengkombinasi antara mengayuh dan meluncur.

Begitu kiranya, saya belajar dari Yutub. hehehehehe…Bisa benar atau salah. Anak laki-laki saya sedang belajar mengendarai balance bike. Usianya masih 2 tahun lebih sedikit. Semoga segera bisa mengendarai balance bike kemudian sepeda. Kalau udah lancar. Kita naik sepeda keliling kampung. Hehehehehe…..

Sisa Makanan

Hampir tidak ada makanan yang tersisa untuk saat ini di rumah. Semua makanan hampir tidak terbuang sia-sia. Semua makanan hampir terkonsumsi dengan baik. Siapa yang membantu menghabiskan sisa makanan? Ternyata adalah sepasang ayam. Sepasang ayam yang terdiri ayam seekor ayam jago dan ayam betina.

Saya sudah membayangkan sebelumnya memiliki ayam. Binatang yang suatu saat bisa dikonsumsi sendiri. Binatang ini juga ikut mengkonsumsi sisa makanan di rumah kami, misal : Ayam atau Ikan Lele. Dua jenis binatang ini sangat ahli dalam mengkonsumsi sisa makanan. Jadi, makanan di rumah kami relatif tidak mubadzir.

Sungguh amat sayang, Kita membuang sisa nasi yang masih banyak. Ada perasaan bersalah, karena jauh disana masih banyak membutuhkan tapi kita malah membuang. Apa boleh buat? Karena tidak layak konsumsi maka harus dibuang. Kita dahulu juga tidak punya hewan peliharaan. Mau dikasih siapa? Sekitar kami juga tidak yang bikin karak.

Kita sudah punya tukang “tadah” untuk sisa makanan di rumah kami. Sepasang ayam itu adalah penadahnya. Pemberian makanan sisa mengirit biaya pakan ayam. Apabila ayam itu sudah besar maka bisa disembelih. Inilah prinsip “Sisa Makanan ” (Dari Kita Oleh Kita dan Untuk Kita)

Asisten Rumah Tangga yang berbaik hati. Dia memberikan sepasang ayam. Dia setelah mengetahui keinginan saya untuk mempunyai ayam. Sepasang ayam ini berasal dari induk yang saya belikan untuk keluarganya. Jadi, Saya pernah memberi modal berupa “bibit ayam” sebanyak 100 ekor.

Setelah dikembangkan maka ada yang dikasihkan kembali ke saya. Katanya, ayam bertelur setiap hari. Dia tidak perlu beli telur lagi dan cukup untuk anak-anaknya.

Karena saya ingin punya ayam. Dia membawa sepasang ayam dari rumah. Sepasang ayam itu sudah mulai membesar. Ayam jagonya gemar berkokok. Ada hiburan baru di rumah kami.

Terimakasih Mbak Warti (ART kami). Dia memberi solusi masalah kita sekaligus hiburan. Sisa Makanan sudah ada yang menampung. Suara kokok ayam juga menjadi hiburan kami. Anak-anak suka memberi makan ayam.

Puasa Bedug

Anak kecil belum menanggung dosa dan kewajiban dalam beragama. So, Jika ada anak kecil makan di siang hari bolong saat bulan puasa maka jangan dimarahi. Karena emang belum wajib. Dia belum baligh sehingga belum mukallaf. Baligh?…Mukallaf?  Intinya mereka belum wajib berpuasa.

Puasa jika nggak dilatih nanti kaget pas saatnya wajib berpuasa. Bener nggak?.. Hmmm… Boleh dilatih bahkan dianjurkan tapi jangan maksa. Saya punya pengalaman puasa anak bersama Ifa. Ifa itu anak sulung kami. Ifa mendapat pengalaman pertama puasa tahun ini. Saya sebenarnya masih nggak tega tapi anaknya yang berkehendak dan tanpa “paksaan”. Ya sudah, walhasil jadinya Puasa Bedug.

Sebenarnya bukan tanpa paksaan 100 %, Guru di TK yang menganjurkan si Ifa puasa. Guru TK emang TOP BGT. Kata-katanya kadang lebih didengar daripada orang tuanya sendiri. “Mama, Bu guru bilang kalau anak-anak An-Naml  disuruh berpuasa besok pagi”, Ifa cerita ke mama. Saya cuman dilapori dari istri saja.

Tibalah waktu sahur, Saya makan sahur cuman ala kadarnya. Saya cukup minum susu dan air putih. Mama ifa juga sahur dengan menu yang sama dengan saya. Ifa ikut sahur sambil terkantuk-kantuk. Ifa makan sahur dengan menu “nasi bungkus nori”.

Dia udah pesen ke mama sebelum tidur,“Ma, aku nanti dibangunin pas sahur, aku mau puasa”. Mama menjawab, “mama bangunin nanti pas sahur tapi ifa puasanya puasa bedug aja ya”. Ifa mengiyakan kemudian menguap dan akhirnya tidur.

Ifa suka puasa bedug. Ifa cuman puasa dari sahur sampai dhuhur. Ifa makan sebentar pas dhuhur kemudian lanjut sampai maghrib. Itulah yang disebut dengan puasa bedug. Hehehehe…..Puasa bedug bukan puasa yang sesungguhnya alias puasa jadi-jadian. Tapi nggak apa-apa lah, khan masih anak kecil belum baligh dan mukallaf.

Hal yang utama adalah esensi puasa tersampaikan ke anak-anak. Kalau puasa itu menahan diri dari makan dan minum. Itu aja cukup. Saya dan istri memilih untuk menanamkan Ajaran Agama secara bertahap. Kata istri, “kita bangun kesadaran dulu aja yah”. Saya manggut-mangut aja.

Anak-anak diluar sana mungkin lebih hebat. Mereka udah bisa puasa sehari mulai sahur sampai berbuka di waktu maghrib padahal usianya beda tipis dengan Ifa. Bahkan mungkin lebih muda. Saya acungi dua jempol. Itu tergantung dengan tipe masing-masing anak.

Kalau tipe Ifa itu logis, sistematis dan rasional. Maka, Ifa harus merasakan, memikirkan dan memutuskan sesuai dengan pengalaman yang dialami.Ifa nggak suka sesuatu yang mendadak dan tanpa penjelasan yang logis.

Ibarat makan, Ifa harus mencicipi dulu, merasakan dan memutuskan makanan itu enak atau tidak enak. Ifa baru bisa memutuskan melalui proses tersebut. Karena fitrah manusia itu beragama. Maka, Saya yakin jika Ifa akan mengikuti fitrahnya jika dikenalkan secara bertahap.

Ifa berbeda dengan saya. Saya itu spontan, intuitif dan kadang tidak logis. Saya dikenalkan dengan hal baru biasanya girang dan gembira. Karena ada perasaan ingin mencoba hal baru tanpa harus ada penjelasan. Pokoknya coba dulu. Urusan lain, dipikirkan belakangan.

 

Karena setiap anak itu unik

Tidak ada yang sama persis

Walaupun anak kembar sekalipun

Kesempatan

Sudah menjadi kebiasaan di masjid. Pengajian dimulai dengan membaca Al-Quran. Setiap peserta pengajian harus membaca satu ayat secara bergantian. Tiba giliran Pak Winoto, Dia membaca Al-Quran  tidak lancar namun dibiarkan saja. Pak Winoto terlihat sangat lega ketika sudah selesai giliran. Saya pikir dia membaca tulisan “latin”-nya bukan tulisan arab-nya. “Ah…biarkan saja”, pikir saya saat itu.

Pak Marwan memberitahu saya bahwa Pak Winoto belum bisa baca Al-Qur’an. “Pak Winoto itu baca latinnya bukan arabnya”, tukas pak Marwan dengan mimik serius. Pak Marwan juga berkomentar begini, “Kalau nggak bisa mengaji, ya belajar dan jangan memaksakan diri kayak gitu”.” Kalau ada niat mesti ya belajar”, tambah Pak Marwan.

Hufft… ternyata benar dugaan saya. Pak Winoto belum bisa membaca tapi semangat sekali ikut pengajian. Sedih mendengar kabar dari pak Marwan yang membenarkan perkiraan saya. Tapi itu hanya gejolak di dalam hati. Mana berani saya berkomentar ke Pak Marwan. Bisa jadi gosip….

Aduh, Beliau kasihan sekali karena harus menanggung “beban” kalau pas pengajian. Beliau suka mengikuti pengajian. Dia harus paksakan walaupun tidak bisa. Dia berpura-pura dengan membaca latinnya. Pak Winoto  sadar kalau menjadi gunjingan diantara jamaah masjid.Tapi apa boleh buat. Saya senang dengan semangat pak Winoto.

Saya dekati pak Winoto. Saya tanya beliau,“Maaf pak, Apa benar bapak belum bisa baca Al-Quran?”. Beliau menjawab dengan mimik serius sekaligus sedih,” bener mas”.“Bapak mau belajar dengan saya?”,Setengah berbisik kepada beliau. “Belajarnya nanti di rumah saya di malam hari “, saya menekankan hal ini kepada beliau. “Jadi nggak ada yang tau”, saya tambahi sambil senyum dan mengangkat jari jempol.

Pak Winoto menjawab dengan penuh antusias, “Iya mas, saya mau”. Saya tau kalau pak Winoto sebenarnya ingin belajar mengaji sejak dulu.  Hidayah dan kesempatan yang Allah SWT diberikan kepada hamba-Nya kadang datang tidak tentu. Kadang saat masih anak, remaja bahkan sudah manula. Beliau sudah terlanjur tua.

Beliau bingung mau belajar mengaji dimana. Apa mau ikut ngaji di TPA Masjid? Lha mosok mau ngaji dengan anak kecil. Pak Winoto juga tidak tau tempat belajar mengaji dengan sesama orang tua . Pak Winoto akhirnya pasrah. Karena ada kesempatan emas untuk belajar mengaji. Pak Winoto menyambut dengan semangat.

Pak Winoto akhirnya datang malam itu. Dia hanya berbekal semangat dan tekad. Saya belikan buku Iqra karya KH. As’ad Humam. Dia mulai belajar mulai dari dasar atau Alif, Ba’, Ta’. Saya mengajari dengan pelan-pelan. Saya tidak punya target muluk-muluk. Beliau yang penting bisa membaca Al-Qur’an.

Anak-anaknya biar tau kalau bapaknya mampu membaca al-qur’an dengan baik dan benar. Motivasi dan kebanggan buat anak-anak beliau. Saya mumpung masih longgar dan tidak banyak kegiatan. Semoga bermanfaat buat Pak Winoto.

Belajar itu memang dari sejak lahir sampai meninggal dunia. Kanjeng Nabi Muhammad SAW yang bicara begitu. Belajar tidak mengenal usia. Hambatan belajar seringkali masalah sosial dan budaya. “Kesempatan” itu datangnya memang tidak terduga. Maka, setiap ada “kesempatan” maka harus dimanfaatkan.

Beruntunglah, Orang yang diberi “kesempatan” ketika masih anak atau balita. Kita sudah tau  banyak anak kecil sudah hafal Al-Quran. Anak teman bapak saya bahkan sudah hafal 30 Juz sejak usia 9 Tahun. Tetapi, banyak juga yang diberi “kesempatan” di usia senja. Semua manusia mempunyai jalan hidup masing-masing.

Mana yang lebih baik? Semua baik. Karena Allah SWT memberikan kesempatan dan petunjuk kepada manusia berbeda-beda waktunya. Masalahnya, Bagaimana kita menangkap kesempatan ini. Kepedulian kita untuk membantu orang lain untuk mendapatkan “kesempatan”. Itu sangat dibutuhkan. Seperti kisah pak Winoto diatas.

 

 

 

 

 

 

Antar-Jemput

Kita mungkin sebagian besar sudah mendengar istilah “Mamah Rempong”. Ini adalah sebutan bagi ibu-ibu muda yang sibuk mulai antar-jemput sekolah,  antar-jemput les, arisan, pengajian,  memasak buat keluarga, mengurus rumah, bahkan sampai ngurusi olshop. Pokoknya sibuk deh…… Mereka tidak kalah sibuk dengan yang bekerja atau berbisnis.

Mamah rempong hidup di era millenial. Maka mereka tidak akan pernah lupa untuk ngeksis di Sosmed. Kalau saya sering mantau di Instagram. Apapun kegiatan mereka musti lapor ke sosmed. Foto dengan berbagai pose dan latar belakang  Mamah Rempong butuh eksistensi. Foto-foto mereka bertebaran di Instagram. Prinsip mereka adalah “Aku Posting Maka Aku Ada”.

Saya juga pelaku antar-jemput anak. Tapi saya laki-laki maka bukan seorang Mamah . Saya bekerja tapi saya masih merasa santai jadi tidak Rempong. Saya menikmati ritual antar-jemput. Tapi, rasanya belum pantas untuk mengeksiskan. Kalau cuman mau berbagi cerita ritual ini maka ini sedang saya lakukan

Ritual antar-jemput sudah saya lakukan sejak mahasiswa. Lho kok bisa…? Anak saya yang sulung masih TK B, lha kok sudah menjalani sejak mahasiswa. Ini ceritanya panjang.

Saya baru punya adik tatkala usia 12 tahun. Hampir menjadi anak tunggal. Eitss… Allah SWT berkehendak lain. Kelahiran adik saya bersamaan dengan saya menjalani UAN SD di hari pertama.

Ketika sang adik masuk SD. Saya di bangku kuliah di semester awal. Bapak ditugaskan di luar kota. Ibu sebagai guru yang harus mengajar sejak pagi sampai siang. Maka saya yang mendapat tugas antar-jemput adik. Saya jalani aktivitas ini sejak adik saya di bangku SD kelas 1.

Ternyata….. Saya tidak hanya antar jemput namun juga mengambil raport. Saya bermain peran sebagai orang tua kalau pas menerima raport. Rasanya gimana gitu….

Ritual antar-jemput anak sudah berlangsung 4 tahun. Ini terhitung sejak si Ifa masuk KB / Playgroup kecil. Dia termasuk anak yang rajin. Dia jarang izin atau bolos. Kalau nggak masuk sekolah maka nggak tenang. Sebenarnya, bapaknya pengin sekali-kali dia bolos. Saya penginnya sedikit nyantai. Ah mosok, Ritual antar-jemput tanpa henti. Hahahaha…

Rasanya gimana gitu pas antar-jemput anak. Pokoknya menyenangkan. Saya bisa bertemu berbagai macam orang. Hasrat untuk mengobrol tersalurkan dengan sesama penunggu. Penunggu ada berbagai macam mulai Mamah Rempong, Ayah, kakek/nenek sampai dengan pembantu.

Sesuatu yang paling menyenangkan adalah bisa “jajan” di kantin sekolah bersama anak-anak TK. Kalau jajan di TK itu rasanya lebih happy. Anak-anak khan happy terus. Auranya menembus kalbu.

Ada lagi yang menyenangkan dari ritual ini. Saya berkenalan dengan guru-guru yang jago mendongeng. Karena intesitas komunikasi yang tinggi. Sampai-sampai, Saya meminta tolong mereka membuat acara mendongeng di masjid-masjid  kawasan padat penduduk atau bantaran sungai di kota Solo. Acara ini diadakan rutin setiap bulan dan sudah 2 tahun berjalan sampai sekarang.

Pelatihan Dongeng rutin untuk guru TK-TK di kawasan padat penduduk atau bantaran sungai di kota Solo juga saya wujudkan. Mereka yang mengisi dan menghandle acara pelatihan. Mereka adalah guru-guru TK dimana anak saya bersekolah. Menyenangkan bukan?

Ya, itu tadi ritual saya. Ritual Antar-Jemput.

 

Marketplace

Urusan jual beli ternyata mengalami lompatan besar. Transaksi dimulai dengan barter berkembang menggunakan uang dan dilakukan di pasar. Pasar mengalami evolusi mulai pasar tradisional menjadi pasar modern sampai era Centro, Metro dan SOGO. Di era millenial ini, Transaksi jual-beli menjadi sangat personal yaitu melalui marketplace dengan Gadget. Kita membayar juga tanpa uang tetapi dengan e-money.

Kita bertransaksi disana tanpa ketemu sang penjual. Kita melihat foto saja dan cocok. Maka langsung diklik “bayar”. Kita bisa mengunjungi “pasar” dimanapun, kapanpun dan dalam keadaan bagaimanapun. “Pasar” ini mempunyai nama yang unik dan variatif seperti Bukalapak, Tokopedia, Shopee, Lazada dsb. “Pasar” ini ditopang oleh industri jasa Delivery yang sudah menjamur seperti : JNE, JNT, Lion Cargo atau Wahana. Apalah arti “pasar ” ini jika tidak ada jasa Delivery? “Pasar” ini hanya lelucon jika tanpa Jasa Delivery. Lelucon di era millenial.

Dahulu, saya ragu untuk berbelanja di “Pasar” ini. Karena transaksi membutuhkan jasa perbankan secara langsung (ATM, M-Banking, E-Banking dsb). Sekarang, “Pasar” ini telah dibanjiri konsumen yang ternyata tidak punya rekening di bank .

Kita sering melihat orang antre di gerai ALFAMART/INDOMARET untuk membayar transaksi di “Pasar”. Mereka tidak ragu lagi berbelanja di “pasar”. Karena sistem pembayaran sudah dipermudah. Ini revolusi sistem pembayaran dimulai dari barter dilanjutkan uang dilengkapi dengan e-money.

“Pasar” itu adalah Marketplace, Marketplace diterjemahan secara harfiah artinya ya pasar itu sendiri yang kekinian. Marketplace itu adalah pasar yang ada di dunia maya. Itu sepanjang pengertian yang saya ketahui. Pemerintah melihat potensi pajak dari “pasar” ini cukup besar. Maka, Pemerintah sedang pusing tujuh keliling bagaimana me-“majak”-i transaksi dunia maya.

Ah…Nikmatnya Hidup di Jaman NOW. Semua bisa dilakukan dengan ujung jari. Tapi inget….Ancaman Konsumerisme mengancam saya dan kita semua. Kita sudah belanja online dan masih aja belanja offline. Lihat aja, Mall masih rame dan banyak pengunjung.Banyak ahli yang meramalkan banyak Mall akan Gulung Tikar akan tetapi masih ramai aja. Karena semua sudah online mulai belanja online, bisnis online, teman online. Ini bisa saja sampai era Nikah Online . Uppssss….!!!