Kesedihan Prabu Destarata

Pandhu diangkat sebagai raja di Hastinapura. Karena kakaknya yaitu Destarata dalam keadaan buta. Buta yang disebabkan menutupnya kelopak mata sang Ibu saat bertemu Begawan Abiyasa. Destarata hanya menjadi “pejabat sementara” sebagai Raja ketika Prabu Pandhu sedang tidak di Istana.

Prabu Pandhu yang menyepi di hutan sampai ajal menjemput. Karena Prabu Pandhu mendapat kutukan Resi Kindama. Destarata dikukuhkan sebagai Prabu Destarata di Kerajaan Hastinapura setelah kematian Prabu Pandhu Dewanata. Prabu Pandhu Dewanata meninggalkan lima anak yang disebut PANDAWA LIMA.

Prabu Destarata memiliki seorang istri bernama Dewi Gendari. Mereka berdua memiliki seratus anak yang disebut KURAWA. Duryudana adalah anak sulung dari Prabu Destarata. Suatu saat, Bisma dan Widura mengingatkan kepada Prabu Destarata bahwa Duryudana adalah anak yang akan membawa angkara murka.

Prabu Destarata sangat menyayangi anak-anaknya. Prabu Destarata cenderung “Welas Tanpa Alis”. Welas Tanpa Alis adalah Kasih Sayang yang berlebihan tanpa syarat. Ini menyebabkan kerugian. Kutukan Dewi Drupadi atas Dursasana yang menarik kemben. Sumpah Bima karena ulah Duryudana atas Dewi Drupadi . Prabu Destarata membiarkan semua tanpa memperingatkan kepada Dursasana dan Duryudana.

Pandawa Lima beranjak dewasa. Usia mereka seangkatan yaitu Pandawa dan Kurawa. Pandawa Lima menuntut hak atas Kerajaan Hastinapura. Emang mereka yang berhak. Karena mereka adalah anak-anak Prabu Pandhu Dewanata.

Duryudana juga menuntu hak yang menjadi raja. Padahal, niat semula adalah Prabu Destarata cuman menjadi “pejabat sementara” sampai Pandawa Lima dewasa. Duryudana beralasan bahwa Ayahnya juga Raja Kerajaan Hastinapura.

Keruwetan ini ditengahi oleh sang kakek yaitu Bisma. Bisma mengusulkan bahwa Kerajaan Hastinapura dibagi dua. Separuh wilayah kerajaan Hastinapura diberikan kepada anak-anak Prabu Destarata. Pandawa Lima diberi sisanya yaitu di Kandawaprasta.

Kandawaprasta adalah lokasi kerajaan Hastinapura yang awal. Ini adalah wilayah yang kering, miskin, dan berpenduduk jarang. Pandawa Lima yang dipimpin Yudistira dibantu oleh Kresna dan Baladewa. Mereka mengubah daerah gersang tersebut menjadi makmur dan megah, dan dikenal sebagai Kerajaan Amarta atau Indraprastha.

Indrapastha mengalami kejayaan. Yudhistira bermaksud mengadakan acara Sesaji Rajasuya. Acara yang bertujuan mengungkapkan rasa Syukur kepada Sang Maha Kuasa. Seluruh raja dari kerajaan tetangga diundang termasuk Kerajaan Hastinapura.

Kurawa datang ke acara Sesaji Rajasuya. Mereka adalah Duryudana, Dursasana, Sengkuni beserta Kurawa datang di acara Sesaji Rajasuya. Mereka melihat kemegahan Indraprastha. Timbul rasa iri dan dengki di kalbu Duryudana. Ide liar bermunculan termasuk mencaplok wilayah Indraprasta.

Hasutan Sengkuni membuat dada Duryudana lebih sesak. Mereka bersekongkol untuk mengajak Yudhistira bemaina Dadu. Permainan yang disukai Yudhistira tetapi Sengkuni lebih mumpuni. Mereka hendak merebut Indraprastha via permaian dadu tanpa perang.

Singkat cerita, Pandawa kalah habis-habisan. Semua habis diambil oleh Kurawa mulai uang, kerajaan bahkan istri. Pandawa harus mengasingkan diri selama 12 tahun. Masa pengasingan inilah yang menempa Pandawa Lima menjadi lebih kuat. Pelatihan sebelum perang sejati dimulai yaitu Perang Baratayudha Jaya Binangun.

Prabu Destarata hanya diam saja tanpa melakukan apapun. Prabu Destarata hanya mampu memerintahkan untuk mengembalikan harta dan kerajaan yang direbut Kurawa. Meskipun firasatnya berbicara bahwa ini awal kehancuran keturunannya.

Prabu Destarata paling bersedih karena dalam permainan dadu muncul dua kutukan untuk kedua anaknya yaitu Dursasana dan Duryudana. Karena kutukan ini maka kedua anaknya akan mati ditangan Bima. Dosa Duryudana dan Dursasana adalah melecehkan Dewi Drupadi.

Duryudana yang merasa sudah menguasai dewi Drupadi. Dia menyuruh dewi drupadi duduk di pahanya. Bima sangat marah maka berjanji akan membunuh Duryudana dengan mematahkan pahanya. Sumpah Bima adalah kutukan bagi Duryudana.

Dursasana yang bernafsu menarik selendang dewi drupadi di balairung kerajaan. Dewi Drupadi memohon kepada dewa untuk memanjangkan selendangnya. Doa Dewi Drupadi dikabulkan sehingga Dursasana tidak bisa melucuti selendang sampai dia kelelahan sendiri.

Dewi Drupadi bersumpah tidak akan melepas ikatan rambut. Dewi Drupadi akan melepas ikatan rambut setelah keramas dengan darah Dursasana. Dursasana sangat ketakutan akan sumpah dewi drupadi. Bima menyanggupi akan membunuh dursasana dan mempersembahkan darah dursasana  untuk dewi drupadi.

Prabu destarata sangat sedih. Karena Prabu Destarata sadar hal itu akan terjadi. Prabu Destarata juga meyakini bahwa Duryudana dan Dursasana akan mati ditangan Bima. Prabu Destarata tidak memiliki penerus setelah Kurawa.

Prabu Destarata sangat benci dengan Bima di akhir masa perang. Prabu Destarata kehilangan seluruh keturunannya. Bima adalah Jagal yang paling banyak membunuh kurawa. Bagaimanapun dosa Kurawa itu menggunung tinggi. Kasih Sayang orang tua sepanjang masa. Maka, Rasa benci itu adalah manusiawi.

Alkisah, setelah perang Baratayuda selesai. Pandawa Lima menghadap Prabu Destarata. Pandawa Lima ingin mengangkat Prabu Destarata menjadi sesepuh kerajaan. Prabu Destarata memanggil Bima. Prabu Destarata ingin memeluk Bima. Kresna sudah “waskita” bahwa ada niat buruk dari prabu Destarata.

Prabu Destarata mempunyai kesaktian untuk meremukkan batu. Kalau Bima dipeluk maka bisa diremuk oleh Prabu Destarata. Prabu Destarata yang buta maka tidak tahu yang terjadi disekitarnya. Kresna melakukan sebuah muslihat.

Kresna mengajukan sebuah batu yang berbentuk Bima. Prabu Destarata memeluk dan meremukkan batu itu sampai pecah berkeping-keping. Prabu Destarata awalnya menduga itu Bima ternyata hanya batu. Prabu Destarata minta maaf atas tindakan pengecut tersebut.

Prabu Destarata, Dewi Gendari dan Dewi Kunti akhirnya menyepi ke tengah hutan. Mereka bertapa mendekat diri kepada Sang MAHA KUASA. Hutan tersebut terbakar karena api suci. Api Suci yang sejatinya sebagai kelengkapan Prabu Destarata untuk bertapa. Prabu Destarata meninggal dunia bersama sesepuh kerajaan Hastinapura dalam kesedihan.  

Advertisements

Ironi Sang Prabu

Destarata dan Pandu mulai beranjak dewasa. Karena Destarata mengalami kebutaan maka Tahta diserahkan kepada Pandu. Dia bergelar Prabu Pandhu Dewanata. Prabu Pandhu memiliki dua istri yaitu Dewi Kunti dan Dewi Madrim. Yang paling terkenal adalah anak-anak dari Sang Prabu yaitu PANDAWA LIMA.

Sang Prabu suka berburu dengan memanah. Tatkala melihat sepasang kijang sedang bersenggama maka langsung dipanah. Mungkin itu naluri seorang pemburu. Sayang, Sang Prabu tidak mengetahui bahwa kijang itu adalah jelmaan sang resi kindama dan istri . Ketika itu sang resi sedang bersenggama dalam wujud Kijang. Siapa yang tau bro…? That’s too bad.

Sebelum meninggal maka sang resi Kindama mengucapkan kutukan kepada sang Prabu. “Sang Prabu akan meninggal dunia ketika sedang bersenggama”, Kira-kira begitu kutukannya. Aduh…., Sang Prabu belum mempunyai keturunan padahal ada dua istri. Mereka juga terancam “menganggur”.Ini sebuah ironi.

Karena telah dikutuk. Sang Prabu Pandhu Dewanata memutuskan untuk menyepi menjadi pertapa. Kerajaan Astinapura diserahkan kepada Destarata. Sang Prabu ditemani oleh dua orang istri yaitu Dewi Kunti dan Dewi Madrim. Itu hukuman berat…. Ketika masih produktif tetapi tidak boleh disalurkan. Apalagi belum punya anak.

Masalah yang kedua adalah masalah keturunan. Emang, Keturunan selalu menjadi inti pokok masalah di Trah ini. Prabu Pandu terancam tidak mempunyai keturunan. Bagaimana mau punya keturunan? Bersenggama saja dikutuk. Padahal,mempunyai keturunan adalah keniscayaan untuk meneruskan kekuasaan. Masalah yang selalu dihadapi oleh keturunan Prabu Sentanu.

Hufftt…. Selalu ada jalan keluar. Dewi Kunti menguasai mantera tertentu yang bisa memanggil dewa yaitu mantera Adityaredhaya. Mantera ini diajarkan oleh Resi Druwasa. Dewi Kunti pernah main-main dengan mantera itu maka datang Batara Surya. Karena kebablasan maka dewi Kunti mengandung anak dari Batara Surya. Kejadian ini sebelum menjadi istri Prabu Pandhu Dewanata. Dewi Kunti akan dikupas dalam tulisan tersendiri.

Dewi Kunti memanggil tiga batara yaitu Batara Darma, Batara Bayu dan Batara Indra dengan menggunakan mantera Adityaredhaya. Kunti melahirkan Yudhistira dari Batara Darma, Bima adalah putera dari Batara Bayu dan Arjuna adalah putera Batara Indra.

Prabu Pandhu mengusulkan agar Dewi Madri juga diajari mantera Adityaredhaya. Dewi Madrim memanggil Batara Aswin maka lahir dua anak kembar yaitu Nakula dan Sadewa.

Ah….Case closed. Prabu Pandu Dewanata mempunyai lima anak yaitu Yudhistira, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa. Mereka berlima disebut PANDAWA LIMA. Prabu Pandhu Dewanata berbahagia. Karena penerus tahta sudah lahir. Ada masalah lain yang menghantui Sang Prabu Pandhu Dewanata yaitu KUTUKAN SENGGAMA.

Prabu Pandhu pergi bertapa salah satu tujuannya adalah mengendalikan libido. Manusia tetaplah manisia. Ketika itu libido sedang memuncak sehingga Prabu Pandhu bersenggama dengan dewi Madri. Kutukan Resi Kindama berlaku. Ini berakibat Prabu Pandhu meninggal dunia. Dewi Madri sangat bersedih dan merasa bersalah.

Jenazah Prabu Pandhu Dewanata dibakar dalam sebuah upacara perabuan. Dewi Madri merasa bersalah maka dia terjun ke dalam api pembakaran (Sati) sang suami. Ini sebagai wujud kesetiaan dan penyesalan atas sebab kematian sang Prabu .Kedua anaknya yaitu Nakula dan Sadewa dititipkan ke Dewi Kunti.

Ironi kehidupan sang Prabu. Semua ada dan tersedia. Karena kutukan dari sang resi merubah segalanya.

Begawan Abiyasa, Sang Penolong Trah

Ketika Wicitrawirya meninggal dunia. Dewi Satyawati sangat sedih. Dia teringat ketika awal menikah dengan Prabu Sentanu. Dia membuat syarat bahwa yang menjadi penerus kerajaan Hastinapura harus dari keturunannya. Ternyata, Semua anak dari Prabu Sentanu meninggal dunia semua. Dia menghiba agar Bisma mau jadi raja Astinapura. Ternyata, Dewabrata sudah nyaman menjomblo sampai akhir hayat (Brahmacarin).

Dewi Satyawati tidak kehilangan akal. Dia teringat bahwa masih punya anak dari keturunan Resi Palasara. Anaknya yang sudah menjadi Begawan. Dia bernama Begawan Abiyasa.  Begawan Abiyasa ini memang sakti. Begawan ini mampu memberi keturunan kepada para istri Wicitrawirya (Ambika dan Ambalika) tanpa harus bersetubuh tapi cukup melangsungkan suatu Yajna (Upacara Suci).

Ambika mendapat giliran pertama melakukan Yajna. Karena Begawan Abiyasa memang bukan Ksatria namun seorang pertapa. Ambika menutup mata secara spontan karena takut dengan sang Begawan. Sang begawan mengatakan bahwa anak Ambika akan terlahir dalam keadaan Buta. Hufft….Sang Dewi Satyawati sebenarnya sudah mengingatkan Ambika untuk jangan menutup mata. Karena sang dewi udah mengetahui konsekuensi dari menutup mata. Eeeee… terjadi pula.

Ambalika belajar dari pengalaman Ambika. Dia bertekad tidak menutup mata. Ambalika ternyata ketakutan dan wajah pucat pasi ketika ketemu Begawan Abiyasa. Namun, Ambalika kedua matanya tetap terbuka. Hufft….Tidak buta. Tapi, Sang begawan mengatakan anak Ambalika akan terlihat pucat. Yah…..sedih juga.

Dewi Satyawati masih belum menyerah. Ambika dan Ambalika diminta menghadap lagi ke Begawan Abiyasa. Sayang, Mereka udah menyerah. Mereka berdua meminta seorang dayang untuk mewakili mereka. Dayang itu bersikap tenang selama upacara berlangsung. Anak yang dilahirkan dalam keadaan sehat wal afiat tanpa kekurangan apapun. Dia bernama Widura.

Ambika melahirkan anak yang buta. Dia adalah Destarata. Kelak anak keturunan dari Destarata disebut dengan Korawa. Ambalika melahirkan anak yang lemah. Dia adalah Pandu. Anak keturunan dari Pandu disebut dengan Pandawa. Dua trah ini yang memperebutkan kerajaan Astinapura dalam sebuah perang yang disebut perang Baratayudha.

Ambisi Dewi Satyawati terhadap keturunannya menyebabkan peperangan diantara mereka sendiri. Bahkan skenario perang besar ini sudah tertulis dalam sebuah kitab yang disebut kitab Jitabsara. Ini sebuah pesan filosofis. Bahwa menjalankan hidup lebih baik Narima Ing Pandum daripada memperturutkan hawa nafsu. Karena kita tidak tahu akibat dari nafsu duniawi yang ada di dalam diri kita sendiri.

Wicitrawirya Mencari Istri

Sesuai dengan tradisi, maka Wicitrawirya menggantikan kekuasaan Citranggada. Pada waktu itu usia Wicitrawirya juga masih muda. Karena Wicitrawirya masih muda untuk melanjutkan pemerintahan. Bisma ditunjuk untuk membantu saudara tirinya, Bisma. Satyawati sebagai sang ibu menjadi khawatir dengan keberlangsungan keturunan Prabu Santanu. Karena Citranggada meninggal tanpa keturunan.

Satyawati menyampaikan kekhawatirannya kepada Bisma. Bisma menyanggupi untuk meminang ketiga putri dari kerajaan Kasipura atau Giyantipura untuk Wicitrawirya. Bisma mengkuti sayembara di Kerajaan Kasipura untuk mendapatkan ketiga putri yaitu Amba, Ambika dan Ambalika.

Raksasa Wahmuka dan Raksasa Arimuka memiliki tiga saudara perempuan yaitu Amba, Ambika dan Ambalika. Ketika mereka meningkat dewasa, Arimuka dan Wahmuka sepakat mengadakan sayembara untuk mencari calon suami untuk mereka bertiga atas izin Prabu Darmamuka dari Kerajaan Giyantipura.

Pelamar yang sanggup mengalahkan Arimuka dan Wahmuka, akan dinikahkan dengan ketiga putri raja itu. Wahmuka dan Arimuka memiliki kesaktian yang hebat. Apabila salah satu di antara mereka mati, dan yang lain melompati mayat saudaranya, maka yang mati akan hidup kembali. Tetapi membunuh kedua raksasa juga tidak mudah, karena Arimuka dan Wahmuka memiliki ilmu kebal.

Banyak ksatria dan raja yang mengikuti sayembara itu, tetapi semuanya dapat dikalahkan oleh Arimuka danWahmuka. Bisma yang hanya bisa mengalahkan mereka berdua. Keduanya gugur karena bocoran rahasia dari Ki Lurah Semar.  Dewabrata mendapat rahasia tentang bagaimana cara membunuh kedua raksasa kakak beradik itu.

 Menurut Semar, kedua raksasa sakti itu sebenarnya adalah penjelmaan air kawah dan ari-ari ketiga putri Prabu Darmamuka itu. Keduanya kebal dan tidak mempan segala macam senjata. Oleh karena itu, untuk dapat membunuhnya kedua telapak tangan Dewabrata harus dilumuri dengan kunir (kunyit) dan apu (kapur sirih).

Jika Dewabrata dapat memukul mereka bersama-sama sekaligus, maka Wahmuka dan Arimuka pasti akan mati.Ternyata, Saran Semar itu terbukti. Kedua raksasa itu mati dalam waktu bersamaan dan tidak bangun lagi. Karena Dewabrata menempeleng dalam waktu yang bersamaan. Bisma berhasil mengalahkan Wahmuka dan Arimuka. Keduanya kembali ke wujud asli yaitu kawah dan ari-ari.

Dewabrata dapat membunuh Wahmuka dan Arimuka maka berhak atas ketiga putri yaitu Amba, Ambika danAmbalika. Ketiga-tiga putri diboyong ke Hastinapura. Di tengah perjalanan, Dewi Amba memohon kepada Resi Bisma agar dibebaskan, karena dia telah mempunyai seorang kekasih yang bernama Prabu Citramuka dari kerajaan Srawantipura. Permintaan Dewi Amba dikabulkan dan pergilah ia menyusul Prabu Citramuka.

Tetapi Prabu Citramuka menolak Dewi Amba. Karena Dewi Amba telah menjadi milik Dewabrata seperti dalam ketentuan sayembara. Kemudian Dewi Amba kembali menemui Dewabrata dan memohon agar diperkenankan ikut bersama saudarinya yaitu Ambika dan Ambalika ke Hastinapura.

Dewabrata tidak dapat menerima kembali dewi Amba sebagai putri boyongan. Karena Bisma sudah melepas dewi Amba.  Dewi Amba memaksa sehingga menimbulkan kemarahan Dewabrata. Bisma mengancamnya dengan menodongkan pusakanya.

Tanpa sengaja anak panah terlepas dari busurnya dan meluncurmengenai dada Dewi Amba. Sebelum meninggal Dewi Amba mengeluarkan kutukan kepada Dewabrata. Dewi Amba akan membalas dendam dengan perantara seorang prajurit wanita dalam perang Bharata Yudha.

Titisan dewi Amba masuk ke tubuh Dewi Srikandi, Istri Arjuna. Srikandi adalah putri dari Prabu Drupada dan Dewi Gandawati. Kisahnya akan ditulis di postingan selanjutnya.

Petaka Atas Nama Citranggada

Prabu Sentanu dan Dewi Satyawati memiliki anak yaitu Citranggada dan Wicitrawirya. Keduanya adalah saudara seayah dengan Dewabrata. Dewabrata alias Bisma bersumpah menjadi Brahmanacarin (Resi) dan Wadat alias tidak akan menikah. Karena baktinya kepada ayahnya, Dewa memberi kesaktian yang tiada tara (Mahawira) yaitu  tidak dapat mati kecuali atas kemauan sendiri.

Prabu Sentanu dan Dewi Satyawati memiliki anak yaitu Citranggada dan Wicitrawirya. Keduanya adalah saudara seayah dengan Dewabrata. Dewabrata alias Bisma bersumpah menjadi Brahmanacarin (Resi) dan Wadat alias tidak akan menikah. Karena baktinya kepada ayahnya, Dewa memberi kesaktian yang tiada tara (Mahawira) yaitu  tidak dapat mati kecuali atas kemauan sendiri.

Alkisah, Seorang Raja Gendruwo yang juga bernama Citranggada memberi surat tantangan. Raja Gendruwo marah karena merasa ada dua raja dengan nama yang sama. Kedua Raja tidak mungkin akan hidup bersama dalam satu zaman, maka ia berpikir bahwa salah satu di antaranya harus mati. Citranggada putra Santanu menerima tantangan tersebut. Menurut Adiparwa, pertempuran mereka berlangsung di tepi sungai Saraswati. Citranggada manusia dan Citranggada Gendruwo sama-sama kuat dan sakti. Namun, Citranggada gandarwa lebih mahir dalam tipu muslihat. Setelah pertempuran sengit berlangsung selama tiga tahun, Citranggada putra Santanu akhirnya gugur.

JASMERAH

Tanggal 17 agustus 1966 adalah pidato terakhir Bung Karno di perayaan HUT Kemerdekaan RI di Istana Merdeka. Karena setelah itu Bung Karno bukan lagi seorang presiden. Presiden Soekarno menyampaikan pidato yang terkenal dengan judul JASMERAH (Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah).

Gejolak politik Indonesia yang menggelora mulai akhir Oktber 1965 – medio 1966. Presiden Soekarno lengser setelah Jenderal Soeharto menerima SUPERSEMAR. SUPERSEMAR menjadi kontroversi sampai saat ini. SUPERSEMAR yang bertujuan memulihkan keamanan menjadi pemindahan kekuasaan, begitu kata beberapa pihak, Ada pro kontra disana. Kita tidak akan membahas kontroversi tersebut.

Kata Jenderal A.H Nasution bahwa JASMERAH adalah judul yang diberikan oleh Kesatuan Aksi terhadap pidato Presiden, bukan judul yang diberikan Bung Karno.Presiden Soekarno memberi judul pidato itu dengan Karno mempertahankan garis politiknya yang berlaku “Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah”. Kutipan pidato Presiden Soekarno yang berjudul JASMERAH. Saya ambil dadri tulisan ROSO DARAS :

Abraham Lincoln, berkata: “one cannot escape history, orang tak dapat meninggalkan sejarah”, tetapi saya tambah : “Never leave history”. inilah sejarah perjuangan, inilah sejarah historymu. Peganglah teguh sejarahmu itu, never leave your own history! Peganglah yang telah kita miliki sekarang, yang adalah AKUMULASI dari pada hasil SEMUA perjuangan kita dimasa lampau. Jikalau engkau meninggalkan sejarah, engkau akan berdiri diatas vacuum, engkau akan berdiri diatas kekosongan dan lantas engkau menjadi bingung, dan akan berupa amuk, amuk belaka. Amuk, seperti kera kejepit di dalam gelap.

Kalimat kunci dalam cuplikan pidato diatas adalah, “Peganglah yang telah kita miliki sekarang, yang adalah AKUMULASI dari pada hasil SEMUA perjuangan kita dimasa lampau”.Sejarah adalah akumulasi peristiwa dari awal sampai akhir hayat. Sejarah adalah rangkaian peristiwa sehingga lahir Bangsa Indonesia.

Presiden Soekarno mengingatkan agar kita menyadari bahwa saat itu (1966). Indonesia berdri sebagai negara berdaulat adalah akumulasi dari perjuangan tanpa henti dari para pejuang kemedekaan. Bangsa Indonesia harus sadar dari mana asalnya.

Bangsa Indonesia harus mengetahui oleh siapa yangmemperjuangkan kemerdekaan, bagaimana cara memperjuangkan dan pengorbanan yang telah dilakukan oleh para founding father. Jangan sampai kita seperti ungkapan, “Kacang lali lanjaran”. Ini adalah peribahasa orang jawa. Ungkapan ini artinya “Kacang yang lupa kulitnya”.

Sejarah adalah jatidiri sebuah bangsa. Bangsa yang tidak paham asal-usul adalah bangsa dalam kekosongan. Bangsa tidak mempunyai tujuan hidup karena tidak mengerti yang harus diperjuangkan. Ini pentingnya sebuah sejarah bangsa. JASMERAH artinya kita harus memahami tujuan para Founding Fathers mendirikan sebuah bangsa.

Presiden Soekarno telah mengetahui bahwa akan ada suksesi kepemimpinan. Suksesi yang meninggalkan jejak yang dalam. Oleh karena itu,Presiden Soekarno memberi pesan kepada suksesor untuk selalu mengingatkan sejarah. Kita harus melihat masa lalu untuk menatap masa depan. Presiden Soekarno menyadari sepenuhnya bahwa suka atau tidak suka terjadilah itu suksesi kepemimpinan nasional.

JASMERAH adalah pesan pamungkas beliau. Sehingga beliau menekankan agar bangsa Indonesia tidak lepas dari idealisme awal pendirian bangsa Indonesia. Pidato ini adalah langkah cerdas yang dilakukan Presiden Soekarno. Presiden yang cerdas, visioner dan memiliki rasa seni yang tinggi. Presiden Soekarno menyampaikan pesan dengan bahasa yang indah, tegas dan komprehensif.

Sumber :

  1. https://rosodaras.wordpress.com/tag/jasmerah/ Benang Merah Pidato BungKarno (4-Selesai)
  2. http://www.pikiran-rakyat.com/nasional/2016/06/22/soekarno-dan-pidatonya-yang-tak-terlupakan-372577
  3. https://id.wikipedia.org/wiki/Jangan_Sekali-kali_Meninggalkan_Sejarah


Diplomasi Ja’Far Bin Abi Tholib

Abi Tholib meninggal dunia masih dalam keadaan musyrik meskipun Rasulullah SAW sudah mendakwahi Abu Tholib. Abu Tholib memang tetap musyrik namun sama sekali tidak menghalangi dakwah Islam. Dia mendukung dakwah Islam bahkan dua anaknya menjadi Mujahid Islam.

Mereka adalah Ali bin Abi Tholib dan Ja’far bin Abi Tholib.  Ali bin Abi Tholib sejak kecil sudah ikut Rasulullah SAW. Sehingga Ali menjadi Assabiqunal Awwalun (orang yang paling awal masuk Islam ) paling muda. Abu Tholib membiarkan Ali menjadi seorang Muslim.

Kakaknya yaitu Ja’far bin Abi Tholib sudah beristri dengan Asma binti Umais. Ja’far bin Abi Tholib masuk Islam beserta keluarganya atas ajakan Abu Bakar RA. Ja’far bin Abi Tholib menjadi muslim yang taat dan tabah. Pemuda Al Hasyimi ini bersama istrinya merasakan siksaan suku Quraisy. Sebagaimana yang dirasakan oleh muslimin yang lain. Keduanya bersabar atas siksaan ini. Karena menyadari bahwa jalan menuju surga dipenuhi dengan duri dan penuh dengan hal yang menyakitkan.

Sesuatu yang membuat jengkel dirasakan oleh Sahabat Rasulullah SAW yang lain. Suku Quraisy menghalangi muslimin melakukan ibadah sehingga menghalangi untuk merasakan lezatnya ibadah. Pada saat itulah Ja’far bin Abi Thalib meminta izin kepada Rasulullah saw untuk berhijrah bersama istri dan beberapa orang sahabat lainnya ke negeri Habasyah.

Rombongan kaum muhajirin pertama berangkat ke Habasyah, Ja’far bin Abi Thalib ikut di dalam rombongan tersebut. Mereka tinggal di sana dengan jaminan keamanan An-najasy yang merupakan pemimpin Habasyah yang dikenal adil dan shaleh. Akhirnya, mereka mendapatkan rasa aman sejak mereka masuk Islam dan merasakan nikmatnya ibadah tanpa ada yang mengganggu atau mengacau.

Begitu Quraisy mendengar kabar ini, mereka segera mengirimkan dua orang yang paling gagah diantara mereka kepada An-Najasy. Keduanya adalah: Amr bin Ash dan Abdullah bin Abi Rabi’ah. Mereka berdua membawa hadiah yang akan diberikan kepada An-najasy dan para pemuka agama disana. Hadiah tersebut adalah barang-barang yang disukai oleh penduduk Habasyah.

Suku Quraisy juga berpesan kepada kedua utusan ini agar memberikan hadiah kepada para pemuka agama terlebih dahulu sebelum mereka menghadap An-najasy untuk membicarakan urusan muslimin. Begitu keduanya tiba di Habasyah maka mereka menemui para pemuka agama dan memberikan kepada masing-masing pemuka agama yaitu hadiah. Tidak ada seorang pun dari para pemuka agama yang tidak mendapatkan hadiah dari keduanya.

Singkat cerita, Raja An-Najasy memanggil kaum muslimin sampai dua kali. Karena Sang Raja tidak ingin mengusir mereka sebelum mengetahui alasannya. Kaum Muslimin mengangkat Ja’far Bin Abi Tholib sebagai Juru bicara.

Ja’far bin Abi Tholib sungguh menguasai diplomasi. Ja’far menjelaskan dengan jelas dan urut tentang Islam kepada RajaAn-najasy. Kaum muslimin dipanggil Raja An-najasy sampai dua kali. Berikut petikan penjelasan Ja’far Bin Abi Tholib. Kisah ini berasal dari Ummu Salamah :

Hari 1

Raja An-najasy mengutus seseorang untuk memanggil kami untuk menghadapnya. kami berkumpul sebentar sebelum berangkat menghadapnya. Sebagian dari kami ada yang berkata: “Raja akan menanyakan agama kalian,maka katakanlah terus terang apa yang kalian anut. Biarkan yang menjadi jurubicaranya adalah Ja’far bin Abi Thalib, dan jangan ada yang bicara selainnya.”

Kemudian kami berangkat untuk menghadap An-najasy dan kami dapati bahwa ia juga telah mengundang para pemuka agama.Mereka semua duduk di samping kanan dankiri An-najasy. Mereka semua mengenakan Tayalisah dan menghiasi kepala mereka dengan peci. Mereka pun tak lupa membuka kitab dihadapan mereka. Kami juga melihat ada Amr bin Ash dan Abdullah bin Abi Rabi’ah di dekat raja.Begitu kami sudah ada di majlis, An-najasy melihat ke arah kami dan bertanya:

“Apakah agama yang baru kalian anut sehingga kalian meninggalkan agama kaum kalian juga tidak membuat kalian masuk ke dalam agamaku, juga tidak masuk suatu agama pun yang diketahui manusia?”

Lalu majulah beberapa langkah ke arah An-najasy, seseorang yang bernama Ja’far bin Abi Thalib yang berkata:

“Wahai raja, Kami dulunya adalah kaum jahiliah yang menyembah berhala dan memakan bangkai. Kami melakukan perbuatan keji dan memutuskan tali silaturahmi. Kami adalah kaum yang suka mengganggu tetangga. Yang kuat diantara kami akan memangsa mereka yang lemah. Kami hidup terus-menerus seperti itu sehingga Allah SWT mengutus seorang Rasul kepada kami yang kami kenal nasab, kejujuran, amanah dan harga dirinya… Ia mengajak kami untuk kembali ke jalan Allah. Agar kami mau mengesakan dan menyembah-Nya dan meninggalkan apa yang pernah kami dan kakek moyang kami sembah selain Allahdari bebatuan dan berhala… Rasul ini memerintahkan kami untuk berkata jujur dan menunaikan amanat. Ia juga menyuruh kami untuk menghubungkan silaturahmi dan bertetangga dengan baik. Menolak diri dari perbuatan haram dan pertumpahan darah. Ia juga melarang kami untuk mengerjakan perbuatan keji dan ucapan dosa.Memakan harta anak yatim dan menuduh wanita yang terhormat. Rasul tadi memerintahkan kami untuk beribadah kepada Allah Swt dan agar kami tidak melakukan kemusyrikan terhadap-Nya. Kami juga diperintahkan untuk mendirikan shalat, menunaikan zakat dan berpuasa Ramadhan… kami meyakininya dan kami beriman kepadanya. Kami mengikuti Rasul tadi dengan apa yang diwahyukan kepadanya dari sisi Allah. Maka kami menjalankan apa yang halal, dan kami menolak apa yang haram. Maka tidak ada lain yang dilakukan oleh kaum kami sendiri kecuali melakukan penyiksaan terhadap kami. Mereka menyiksa kami dengan begitu sadis agar mereka dapat menguji kesetiaan kami kepada agama ini dan mengembalikan kami kepada penyembahan berhala. Saat mereka semakin aniaya dan menindas kami. Mereka juga mempersempit ruang gerak kami. Mereka juga menghalangi kami untuk melakukan ibadah agama ini. Maka kami pun keluar dari tanah air menuju negeri mu, dan kami berharap perlindunganmu serta tidak akan dianiaya di bawah kekuasaanmu.”

An-najasy melihat Ja’far bin Abi Thalib dan bertanya:

“Apakah ada yang kalian bawa dari apa yang disampaikan oleh Nabi kalian dari sisi Allah?”

Ja’far menjawab: “Ya.”

An-najasy berkata:

“Bacakanlah kepadaku!”

Maka Ja’far pun membacakan:

“Kaaf Haa Yaa ‘Ain Shaad. (Yang dibacakan ini adalah)penjelasan tetang rahmat Tuhan kamu kepada hamba-Nya Zakariya. Yaitu tatkala ia berdo’a kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. Ia berkata:”Ya Tuhanku,sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalalu telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdo’a kepada Engkau, ya Tuhanku…” (QS. Maryam [19]:1-4) sehingga Ja’far membaca hingga bagian tertentu dari surat tersebut.

Maka menangislah An-najasy sehingga janggutnya basah oleh air mata serta para pemuka agama juga menangis sehingga kitab-kitab merekapun basah dibuatnya.Mereka semua menangis begitu mendengarkan Kalamullah ini. Pada saat itulah An-najasy berkata kepada kami:

“Apa yang dibawa oleh Nabi kalian dan apa yang telah dibawa oleh Isa adalah berasal dari sumber cahaya yang sama!”

Kemudian An-najasy menoleh ke arah Amr dan sahabatnya lalu berkata kepada mereka berdua:

“Pergilah kalian berdua! Demi Allah, aku tidak akan menyerahkan mereka kepada kalian berdua untuk selamanya!”

Begitu kami keluar dari ruangan An Najasy, Amr bin Ash berkata kepada sahabatnya dengan mengancam kami,

“DemiAllah, aku akan datang kepada Raja esok hari. Aku akan menceritakan kepadanya tentang mereka yang dapat menimbulkan kebencian raja kepada mereka. Aku akan membuat raja membabat mereka dari akarnya!”

Maka berkatalah Abdullah bin Abi Rabi’ah kepadanya:

“Jangan kau lakukan itu, wahai Amr! Mereka semua berasal dari keluarga kita, meskipun mereka saat ini telah meninggalkan kita!”

Amr menjawab:

“Tidak usah ikut campur! Demi Allah, aku akan menceritakan kepada raja apa yang dapat membuat mereka semua resah. Demi Allah,aku akan menceritakannya kepada raja bahwa mereka menganggap bahwa Isa bin Maryam adalah seorang hamba!!!”

Hari 2

Keesokan harinya, datanglah Amr menghadap Raja An-najasy dan berkata kepadanya:

Wahai raja, orang-orang yang engkau beri perlindungan itu mengatakan suatu perkataan keji tentang Isa bin Maryam. Kalau tidak percaya, panggilah mereka dan tanyakan sendiri apa yang mereka katakan terhadap Isa bin Maryam!”

Begitu kami mengetahui hal ini, kami merasa amat khawatir dan kami belum pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya, Sebagian kami berkata:

“Apa yang kalian katakan tentang Isa bin Maryam jika raja menanyakannya?”

Kami pun menjawab:

“Demi Allah, kami tidak akan menjawab kecuali seperti apa yang telah Allah firmankan. Kami tidak akan keluar dari perintah-Nya meski hanya seujung jari sebagaimana yang telah disampaikan oleh Nabi kita. Meski apapun yang menjadi konsekuensinya!”

Kemudian kami sepakat bahwa yang akan menjadi jurubicaranya adalah Ja’far bin Abi Thalib. Begitu An-najasy memanggil, maka kami pun datang menghadapnya, lalu kami melihat adanya beberapa orang pemuka agama dengan pakaian seperti yang telah kami lihat sebelumnya. Kami juga melihat Amr bin Ash dan sahabatnya berada di dekat raja.

Begitu kami tiba di hadapannya, An-najasy bertanya:

“Apa yang kalian katakan tentang Isa bin Maryam?”

Ja’far bin Abi Thalib mengatakan:

“Kami mengatakan tentang Isa bin Maryam sebagaimana yang disampaikan kepada Nabi kami!”

An-najasy bertanya:

“Apa pendapat Nabi kalian tentang Isa bin Maryam?”

Ja’far pun menjawab:

“Nabi berkata tentang Isa bahwa dia adalah hamba Allah sekaligus Rasul-Nya. Ia juga ruh dan kalimat Allah yang diberikan pada diri Maryam yang suci dan perawan.”

Begitu An-najasy mendengar ucapan Ja’far ia langsung memukul tanah dengan tangannya dan berkata:

“Demi Allah, Isa bin Maryam tidak keluar dari apa yang diceritakan oleh Nabi kalian meski seujung rambut!”

Maka para pemuka agama menghembuskan nafas keras dari hidung mereka pertanda tidak setuju begitu mereka mendengar ucapan An Najasy.

An-najasy berkata:

“Meski kalian menghembuskan nafas dengan kesal!”

Kemudian An-najasy menoleh dan berkata:

“Keluarlah, kalian semua aman! Siapa yang mencaci kalian akan terkena denda. Siapa yang menyerang kalian akan dihukum! Demi Allah aku tidak lebih menyukai apabila aku mendapatkan segunung emas daripada salah seorang dari kalian diganggu!

Kemudian An-najasy melihat ke arah Amr dan sahabatnya sambil berkata:

“Kembalikan hadiah kedua orang ini, aku tidak membutuhkannya!”

Maka keluarlah Amr dan sahabatnya dengan putus asa dan merasa kesal… sedangkan kami terus tinggal di wilayah An-najasy di wilayah yang paling baik dan perlindungan yang paling mulia.

Ja’far bersama istrinya menghabiskan 10 tahun dalam perlindungan keamanan An-najasy. Pada tahun 7 H, mereka berdua meninggalkan negeri Habasyah bersama rombongan kaum muslimin lainnya untuk berhijrah ke Yatsrib. Saat mereka tiba di sana, Rasulullah Saw baru saja kembali dari Khaibar, setelah Allah menaklukan daerah tersebut untuk Rasululllah SAW.

Sumber :

https://muslimah.or.id/10337-jafar-bin-abi-thalib-sang-politisi-terkenal.html

http://forsia.lk.ipb.ac.id/2015/02/23/siroh-jafar-bin-abi-thalib-versi-ringkasan-lengkap/

https://buletinmitsal.wordpress.com/sosok/ja%E2%80%99far-bin-abu-thalib/

https://kisahmuslim.com/2071-jafar-bin-abi-thalib.html

https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/11/08/02/lpb0jd-kisah-sahabat-nabi-jafar-bin-abu-thalib-si-burung-surga


Tasawuf Modern

Hamka adalah paduan antara Ulama dan Pujangga. Beliau memiliki beberapa karya sastra dan buku-buku agama. Karya sastra yang pernah diulas disini adalah “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck”. Buku agama yang akan diulas disini adalah “Tasawuf Modern”.

Apabila kita mendengar kata Tasawuf maka alam bawah sadar kita menuju ke Tarekat. Tarekat yang kita kenal antara lain Naqsabandiyah, Sadziliyah dan Qodiriyah dsb. Namun, Buku yang berjudul “Tasawuf Modern” ditulis oleh Hamka jauh dari tarekat. Buku ini membahas tentang jiwa.

Buku yang berjudul “Tasawuf Modern” membahas hidup yang bahagia. Hidup bahagia adalah hidup yang selaras dengan Alam Semesta dan sesuai Syariat.

Tasawuf pada dasarnya adalah jalan mencari kebahagian dengan mengikuti jalannya para sufi. Hamka dengan cerdik mengambil intisari tasawuf yaitu mencari kebahagian. Jadi, Buku ini sama sekali bukan tentang ajaran Tasawuf. Kebahagiaan manusia terkait dengan kematian, aturan agama dan sikap hidup (Qonaah, Tawakal dan Zuhud).

Orang yang bahagia adalah orang memahami bahwa hidup akan berakhir dengan kematian. Kematian bukan akhir segalanya. Kematian adalah awal dari kehidupan lebih besar lagi. Jika manusia tidak takut mati. Maka, hidupnya akan lebih bahagia.

Manusia dilahirkan dengan fitrah. Fitrah adalah naluri dasar manusia yang diberi oleh Allah SWT kepada manusia. Fitrah manusia adalah beragama. Agama mengatur kehidupan manusia mulai alam arwah sampai alam akherat. Manusia yang mentaati aturan agama akan bahagia karena mengikuti fitrah. Manusia yang melanggar aturan agama maka hidupnya akan gelisah dan tidak tentram. Karena jauh dari fitrah manusia.

Manusia harus memiliki sikap hidup. Sikap hidup ini meliputi Qonaah, Tawakal dan Zuhud. Qonaah artinya adalah menerima segala sesuatu ketentuan Allah SWT (miskin,  kaya, sejahtera atau sengsara). Tawakal yaitu menyerahkan segala urusan kepada Allah SWT sembari berusaha sekuat tenaga. Zuhud yaitu rasa terimaksih atas segala karunia Allah SWT.

Hamka menekankan Qonaah,Tawakal dan Zuhud namun manusia harus selalu berikhtiyar sekuat mungkin. Kaya, Miskin, berpangkat atau tidak itu sebuah keniscayaan. Semua itu bukan untuk dipertentangkan. Masalah manusia adalah menyikapi terhadap kekayaan, kemiskinan maupun kedudukan. Bagaimana sikap hidup manusia terhadap itu semua?

Manusia harus mampu menerima semua ketentuan Allah SWT yang baik maupun yang buruk. Oleh sebab itu, Manusia harus mempunyai sikap hidup yang benar (Qonaah, Tawakkal dan Zuhud).

Buku ini cukup lengkap meskipun diterbitkan sejak tahun 1939. Buku ini dicetak berulang-ulang. Hamka yang seorang Ulama yang sastrawan ternyata mampu menjadi motivator kehidupan.

Hamka yang pernah dipenjara oleh Soekarno  tahun  1964. Dia merasa  terguncang jiwanya ketika diinterogerasi saat itu. Hamka merasa terguncang hatinya. Hamka berusaha menyembuhkan dengan membaca buku karangannya sendiri yaitu Tasawuf Modern. Maka ada yang bilang, “Hamka membaca bukunya Hamka”.

Kekurangan buku ini adalah ditulis dengan gaya bahasa yang kental gaya bahasa sastra. Bagi saya yang termasuk awam, Kadang harus membaca berkali-kali untuk memahami satu kalimat. Agar bisa memahami isinya. Kekurangan ini bisa jadi kelebihan bagi orang lain. Karena ada nilai plus dari buku ini adalah nilai sastra.

Vivere Pericoloso

Rentetan peristiwa pasca Proklamasi 17 Agustus 1945 sungguh panjang dan dinamis. Kemudian disusul dengan munculnya Maklumat 14 November 1945 merupakan titik perubahan sistem pemerintahan Indonesia, yang semula presidensil menjadi parlementer.  Maka muncul dari struktur pemerintah yaitu PerdanaMenteri.

Belanda membonceng sekutu sehingga muncul peristiwa 10 November 1945. Belanda melancarkan Agresi Militer Belanda I di tanggal 21 Juli 1947 dan disusul  Agresi Militer Belanda II sampai muncul peristiwa Pembebasan Irian Barat. Berbagai cobaan datang silih berganti sampai tahun 1950-an.

1950-an,Era Parlementer mulai bergairah dan bergejolak. Pemerintahan tidak stabil.Pergantian Kabinet terjadi sangat cepat. RIS (Republik IndonesiaSerikat) berubah bentuk kembali menjadi NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).

Pergantian kabinet menyebabkan Pemerintah menjadi tidak stabil. Karena selalu digoyang oleh parlemen. Badan konstituante tidak berhasil menyusun UUD. Karya besar Pemerintah adalah Pemilu 1955 untuk pertama kali di era Parlementer.

Pemilu 1955 menghasilkan empat partai besar yaitu PNI, Masyumi, PKI dan Partai NU.Empat partai mempunyai kekuatan seimbang sehingga parlemen selalu deadlock untuk memutuskan sesuatu. Kepastian jalan pemerintah menjadi tidak pasti. Tahun1959, Presiden Soekarno mengeluarkan Dekrit 5 juli 1959.

Presiden Soekarno merubah parlementer menjadi presidensial. Persiden Soekarno mengeluarkan MANIPOL USDEK pada tanggal 17 Agustus 1959 ketika Upacara Hari Kemerdekaan RI. DPAS mengusulkan ke pemerintah agar Manifesto Politik dijadikan sebuah ketetapan.MPRS kemudian menetapkan Manifesto Politik sebagai GBHN (Garis Besar HaluanNegara) melalui Tap MPRS No 1/1960 Pada tahun 1960, .

Presiden  Soekarno mengeluarkan pidato negara tanggal17 Agustus 1964 yang berjudul “Tahun Vivere Pericoloso” atau lebih dikenal pidato TAVIP. Pidato yang merefleksikan perjalanan pemerintahan sejak diterbitkan Manipol USDEK. Pidato ini adalah refleksi perjalanan perjuangan revolusi Indonesia yang penuh cobaan dan hambatan namun tetap terus bergerak maju. Perjuangan mewujudkan Indonesia yang sesuai dengan UUD 1945 penuh dengan bahaya minimal menyerempet bahaya atau VIVERE PERICOLOSO.

PidatoTAVIP mempunyai intisari yang dalam , kami kutip sebagian pidato TAVIP PresidenSoekarno.

“Saja tandaskan sekarang sekali lagi : dus : Revolusi minta tiga sjarat mutlak romantik, dinamik, dialektik. Romantik, dinamik, dan dialektik jang bukan sadja bersarang didada pemimpin, tetapi romantik, dinamik, dialektik jang menggelora diseluruh hatinja Rakjat, – romantik, dinamik dan dialektik jang mengelektrisir sekudjur badannja Rakjat dari Sabang sampai Merauke. Tanpa romantik jang mengelektrisir seluruh Rakjat itu, Revolusi ta’akan tahan. Tetapi dinamik jang laksana mengkrandjingkan seluruh Rakjat itu, Revolusi akan mandek ditengah djalan. Tetapi dialektik jang bersambung kepada angan-angan seluruh Rakjat itu, Rakjat ta’akan bersatu dengan rising demandsnja Revolusi, dan Revolusi akan pelan-pelan ambles dalam padang-pasirnja kemasa bodohan, seperti kadang-kadang ada sungai ambles-hilang dalam gurun-gurun-pasir sebelum ia mentjapai samudera lautan.”

Berikut diatas adalah nukilan dari Pidato TAVIP. Perjuangan atau Revolusi harus menginternalisasi tiga hal yaitu Romantis, Dinamis dan Dialeketis :

  1. Romantis

Perjuangan / Revolusi harus dilakukan dengan sepenuh hati. Presiden Soekarno menekankan romantis. Romantis artinya mencintai segenap jiwa dan perasaan, Perjuangan/Revolusi tidak mengenal faktor “transaksional” (imbal-balik). Orang romantis  memberi pengorbanan bagi yang dicintainya.  Romantisme ini untuk Bangsa Indonesia.

Orang Romantis akan timbul keberanian  melindungi yang dicintai. Keberanian untuk “menyerempet” bahaya. Kalau bukan orang romantis maka keberanian itu tidak muncul sehingga tidak berani Vivere Pericoloso.

2.  Dinamis

Revolusi / Perjuangan harus selalu bergerak ke arah kemajuan. Artinya, Revolusi harus dinamis atau bergerak. Orang Dinamis tidak akan mudah berpuas diri namun mudah bersyukur. Orang dinamis bergerak ke arah kemajuan sebagai wujud rasa syukur.

Orang Dinamis berani mencoba,mengevaluasi, merancang kembali dan mencoba lagi menuju yang lebih baik. Maka,tidak ada perjuangan/revolusi tanpa dinamisasi gerakan. Dinamis artinya hidup dan kebalikannya adalah diam artinya mati. Mencoba-coba juga membutuhkan keberanian yang seringkali menyerempet bahaya. Orang Dinamis berani menghadapi Vivere Pericoloso.

3. Dialektis

Agar tetap dinamis maka harus terbuka. Terbuka menghadapi perbedaaan pendapat sehingga terwujud dialektika. Dialektika dengan mempertentangkan sebuah tesa dengan anti tesa sehingga muncul sebuah sintesa. Perjuangan membutuhkan sebuah dialektika.

Orang dialektis menghadapi perbedaan dengan tenang. Memadu padan, menimbang-nimbang dan memilah-milih dari berbagai perbedaan itu butuh keberanian. Orang dialektis diperlukan dalam perjuangan untuk bergerak maju.

Orang Dialektis kadang disayang namun seringkali dibenci . Dia sama sekali tidak surut ke belakang. Dia berani menghadapi resiko. Orang dialektis akrab dengan Vivere Pericoloso.

Presiden Soekarno menghembuskan angin optimisme di Rakyat Indonesia. Bahwa MANIPOL USDEK tetap berdiri tegak selama 5 tahun meskipun diguncang oleh berbagai cobaan. Presiden Soekarno ingin menghimbau seluruh rakyat Indonesia menjaga MANIPOL USDEK. Sayang, setahun kemudian terjadi tragedi yang mengubah segalanya.

Apakah Pidato TAVIP sebuah pertanda? Wallahu A’lam.

Sumber :

https://koransulindo.com/lima-pesan-bung-karno-tentang-tahun-vivere-pericoloso/

https://jakarta45.wordpress.com/2011/05/29/kenegarawanan-tahun-vivere-pericoloso-17-agustus-1964-bung-karno/

https://id.quora.com/Apakah-yang-dimaksud-dengan-Manipol-USDEK

https://id.wikipedia.org/wiki/Manipol_USDEK

https://id.wikipedia.org/wiki/Dekret_Presiden_5_Juli_1959

https://dinayuuhuu.wordpress.com/2013/08/12/analisis-maklumat14-november-1945/

Zaid Bin Haritsah

Hati Rasulullah SAW gembira dengan kehadiran Zaid bin Haritsah menjadi bagian keluarga. Zaid bin Haritsah adalah budak yang dihadiahkan oleh Khadijah kepada Rasulullah SAW. Akhirnya, Zaid bin Haritsah menjadi bagian keluarga Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW sangat mencintai Zaid bin Haritsah. Tradisi kaum Quraisy adalah menyamakan antara anak kandung dengan anak angkat. Sehingga Zaid bin Haritsah juga memiliki hak waris atas Rasulullah SAW. Nama Zaid bin Haritsah berubah menjadi Zaid bin Muhammad. Ternyata, Allah tidak memperbolehkan yang dilakukan oleh Rasulullah SAW terhadap Zaid bin Haritsah. Ini tertuang dalam QS Al-Ahzab : 5

ادْعُوهُمْ لِآبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ ۚ فَإِنْ لَمْ تَعْلَمُوا آبَاءَهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَمَوَالِيكُمْ ۚ وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُمْ بِهِ وَلَٰكِنْ مَا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ ۚ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا


Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggilah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu. Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Karena garis nasab anak dan waris mengikuti hubungan darah. Ini menjadi syariat Islam bagi seluruh umat Islam. Anak angkat tidak mempunyai kedudukan sama dengan Anak kandung. Anak angkat tidak memiliki hubungan nasab dengan ayah angkat. Hubungan nasab tidak terputus meskipun terpisah lama atau tidak pernah bertemu selamanya.

Hak Perwalian dan Waris masih di jalur nasab keluarga sekandung. Karena Zaid bin Haritsah orang yang sangat patuh  dan tunduk dengan Syariat Islam. Maka, tidak ada masalah bagi Zaid bin Haritsah. Suatu saat, Zaid bin Haritsah dinikahkan dengan Zainab binti Jahsy oleh Rasulullah SAW.

Zaid bin Haritsah berasal dari keluarga biasa dan Zainab binti Jahsy berasal dari keluarga bangsawan arab Quraisy. Ada perbedaan sosial dan budaya yang mencolok diantara mereka berdua. Zaid yang pada awalnya menolak maka bisa menerima pernikahan dengan Zainab binti  Jahsy. Karena rasa taat kepada Rasulullah SAW. Seperti yang termaktub dalam QS Al-Ahzab : 36

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.

Akhirnya, Pernikahan mereka kandas dan cerai. Karena perbedaan sosial dan budaya. Rasulullah SAW selalu menganjurkan agar mempertahankan pernikahan Zaid dan Zainab. Rasulullah SAW selalu menganjurkan untuk mempertahankan pernikahan mereka

اتَّقِ اللهَ فِي قَوْلِكَ، وَأَمْسِكْ عَلَيْكَ زَوْجَكَ

“Bertakwalah kepada Allah dalam ucapanmu. Tahanlah istrimu bersamamu.”

Karena sudah menjadi ketentuan Allah SWT. Maka, mereka berdua bercerai. Perceraian ini membawa sejuta hikmah dan ketentuan hukum (syariat) Islam di kemudian hari dan selamanya. Atas perintah Allah SWT dalam QS Al-Ahzab : 37. Rasulullah SAW menikahi Zainab binti Jahsy.

وَإِذْ تَقُولُ لِلَّذِي أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَنْعَمْتَ عَلَيْهِ أَمْسِكْ عَلَيْكَ زَوْجَكَ وَاتَّقِ اللَّهَ وَتُخْفِي فِي نَفْسِكَ مَا اللَّهُ مُبْدِيهِ وَتَخْشَى النَّاسَ وَاللَّهُ أَحَقُّ أَنْ تَخْشَاهُ ۖ فَلَمَّا قَضَىٰ زَيْدٌ مِنْهَا وَطَرًا زَوَّجْنَاكَهَا لِكَيْ لَا يَكُونَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ حَرَجٌ فِي أَزْوَاجِ أَدْعِيَائِهِمْ إِذَا قَضَوْا مِنْهُنَّ وَطَرًا ۚ وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ مَفْعُولًا

Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya: “Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah”, sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi.

Pernikahan Rasulullah SAW dan Zainab bin Jahsy menjadi kontroversi. Musuh-musuh Islam yang terdiri dari kaum Musyrik, Kafir dan Munafiq menyerang Rasulullah SAW. Rasulullah Saw dianggap sebagai orang yang suka mengumbar syahwat. Berbagai tulisan kontroversial mengenai pernikahan  Rasulullah SAW dengan Zainab binti Jahsy bersliweran hingga sampai sekarang.

Pernikahan Rasulullah SAW dengan Zainab binti Jahsy membawa hikmah yang besar, yaitu: Ini adalah bukti bahwa anak angkat kedudukan berbeda dengan anak kandung. Anak angkat tetap orang lain. Budaya arab yang menyamakan anak angkat dan anak kandung dipatahkan oleh Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW selalu berjuang di Jalan Allah. Halangan dan rintangan selalu ada. Perintah Allah SWT menjadi ujian bagi Rasulullah SAW. Rasulullah SAW memilih jalan taat kepada Allah SWT dengan menikahi Zainab binti Jahsy daripada mengikuti gunjingan orang. Karena perintah Allah SWT diatas segala-galanya.

Ujian keimanan bagi kaum muslimin sejak itu sampai saat ini. Apakah kaum Muslimin tetap taat kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW atau membangkang? Kontroversi akan selalu ada. Fitnah dan gunjingan akan bergulir terus atas pernikahan ini. Sebagai seorang yang beriman akan memilih Allah SWT dan Rasulullah SAW dengan segala resiko dan hikmah yang ada.

Zaid bin Haritsah menikahi Ummu Aiman. Ummu Aiman adalah bekas hamba sahaya (budak) ibunda Rasulullah Aminah binti Wahab. Dialah yang mengasuh Rasulullah waktu kecil, selagi ibundanya masih hidup. Dia pulalah yang merawat sesudah ibunda wafat. Karena itu, dalam kehidupan Rasulullah, beliau hampir tidak mengenal ibunda yang mulia, selain Ummu Aiman. Pernikahan ini melahirkan seorang anak yang hebat bernama Usamah bin Zaid. Usamah bin Zaid menjadi panglima termuda di masa Rasulullah  SAW.

Tibalah saat perang Mu’tah. Peperangan antara bangsa Romawi melawan Bangsa Arab (baca: Muslimin). Perang ini disebabkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim surat melalui utusannya, Harits bin Umair radhiallahu ‘anhu kepada Raja Bushra. Tatkala utusan ini sampai di Mu’tah (Timur Yordania), ia dihadang dan dibunuh, padahal menurut adat yang berlaku pada saat itu (dan berlaku hingga sekarang) bahwa utusan tidak boleh dibunuh dan kapan saja membunuh utusan, maka berarti menyatakan pengumuman perang.

Rasulullah SAW  merespon tindakan ini dengan  mengirim pasukan perang pada Jumadil Awal tahun ke-8 Hijriah yang dipimpin oleh Zaid bin Haritsah. Kemudian Rasulullah SAW bersabda :

إِنْ قُتِلَ زَيْدٌ فَجَعْفَرٌ، وَإِنْ قُتِلَ جَعْفَرٌ فَعَبْدُ اللهِ بْنُ رَوَاحَةَ

“Kalau Zaid terbunuh, maka Ja’far (yang menggantikannya). Jika Ja’far terbunuh, maka Abdullah bin Rawahah (yang menggantikan).” (HR. Al-Bukhari dalam Kitab Al-Maghazi)

Peperangan ini tercatat di dalam sejarah sebagai sebuah perang besar. Tentara Islam yang berjumlah 3.000 orang melawan 200.000 tentara Romawi. Sekalipun demikian dahsyatnya perang mu’tah. Tentara Islam yang mati syahid hanya 12 orang namun termasuk didalamnya adalah 3 Panglima diatas (Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Tholib dan Abdullah bin Rawahah).

Peperangan berkecamuk dengan dahsyat. Pusat perhatian musuh tertuju kepada pembawa bendera kaum muslimin dan keberanian para panglima Islam dalam maju memerangi musuh, hingga mati syahid panglima pertama, Zaid bin Haritsah. Zaid bin Haritsah gugur sebagai Syuhada.

Itulah kisah sahabat Rasulullah SAW yang bernama Zaid bin Haritsah. Seorang sahabat Rasulullah SAW yang namanya diabadikan di QS Al-Ahzab: 37.  Zaid bin Haritsah yang hidup dalam hangat keluarga Rasulullah SAW. Tumbuh sebagai pejuang Islam dan akhirnya meninggal dalam perang Mu’tah. Perang yang berbeda dengan biasanya. Karena melawan bangsa Romawi bukan bangsa Arab.

https://islami.co/kisah-zaid-bin-haritsah-sahabat-nabi-yang-diabadikan-al-quran/

https://muslimobsession.com/zaid-bin-haritsah-sahabat-nabi-yang-namanya-diabadikan-al-quran/

https://kisahmuslim.com/6183-ummul-mukminin-zainab-binti-jahsy.html

https://kisahmuslim.com/2477-sejarah-perang-mutah.html

http://salafy.or.id/blog/2013/03/31/perang-mutah/

https://nabilmufti.wordpress.com/2010/03/14/usamah-bin-zaid-bin-haritsah-panglima-perang-termuda-kesayangan-rasulullah-saw/

https://tafsirq.com/33-al-ahzab/ayat-37

https://tafsirq.com/33-al-ahzab/ayat-36

https://tafsirq.com/33-al-ahzab/ayat-5