Bermata Dua

Semua orang bersembunyi di rumah di awal pandemi. Orang tidak berani keluar rumah. Lama-lama rasa bosan menyusup ke dalam jiwa manusia. Mereka mulai keluar rumah dengan berbagai aktivitas. Aktivitas dari sekedar jalan-jalan ,muter-muter keliling kota  atau olahraga. Tentu saja dengan mematuhi protokol kesehatan yaitu pakai masker, social distancing dan cuci tangan pakai sabun atau hand sanitizer.

Eh..tiba-tiba, Semua mengalami demam sepeda. Jalanan dipenuhi oleh sepeda yang berkeliling kesana kemari. Orang yang berolahraga sepeda sebenarnya udah ada sejak lama. Tapi, Ada peningkatan yang cukup drastis di masa pandemi.

Harga sepeda juga bervariasi dengan jangkauan harga lebih lebar mulai ratusan ribu sampai ratusan juta. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana nikmatnya naik sepeda yang berbanderol ratusan juta. 🙂

Bersepeda adalah sebuah ikhtiyar untuk meningkatkan imun melawan COVID-19. Popularitas Sepeda mengalahkan olahraga yang lain. Sepeda yang mengalami peningkatan popularitas secara siginifikan.  Aneh ya….., Kenapa hanya bersepeda yang lain tidak?

Kita udah biasa melihat tanaman atau bunga di halaman depan atau belakang rumah. Ibu saya selalu menyirami taman bunga setiap pagi dan sore . Sampai ada lagu “Lihat Kebunku”. Karena aktivitas berkebun itu menyenangkan dan sudah ada sejak lama. Siapa yang tidak suka melihat indahnya bunga dan main air.

Tapi…..Semua orang mengurusi kebun tanaman di masa pandemi. Semua orang menanam bunga atau tumbuhan hias di halaman rumah. Mereka berusaha melengkapi koleksi tanaman yang cantik dan unik. Kios-kios tanaman sepanjang jalan di Pasar Nongko dipenuhi manusia yang mencari tanaman yang diinginkan.

Berkebun adalah ikhtiyar adalah mencari kebahagiaan. Karena bahagia bisa meningkatkan hormon endorfin. Hormon endorfin akan meningkatkan imun. Imun ini yang akan menghalau virus masuk dan meracuni tubuh. Rasa penasaranku adalah, “mengapa harus berkebun yang menjadi viral ?”.

Ada ungkapan yang menjadi viral, “Ada tiga tempat yang ramai yaitu Rumah Sakit, Toko Sepeda dan Kios Tanaman”. Ini berkah bagi penjual tanaman dan toko sepeda. Sepeda termasuk kebutuhan sekunder. Kita tetap membeli sepeda meskipun bukan penghobi. Olahraga sepeda yang viral menambah omzet penjualan semakin melejit .

Apalagi buat penjual tanaman. Ini berkah besar. Penghobi tanaman itu terbatas. Kebutuhan tanaman tidak setinggi kebutuhan sepeda. Masa pandemi melejitkan pamor tanaman. Omzet penjualan tanaman melejit sangat tinggi.

Pandemi bermata dua. Mata yang satu bersifat mematikan. Pandemi memberi rasa takut. Karena memang pandemi ini mematikan. Pandemi harus disikapi dengan rasa waspada dan hati-hati. Kita tidak boleh jumawa dan paranoid. Kita menghadapi secara rasional dan logis.

Mata yang satunya adalah kebiasaan baru yang positif. Pemerintah menggalakkan olahraga sepeda udah lama. Pemerintah menggalakan penggunaan sepeda untuk mengurangi polusi itu juga udah lama. Usaha pemerintah belum berhasil secara signifikan. Pandemi ternyata signifikan untuk menggalakan olahraga bersepeda.

Polusi udara semakin meningkat. Pemerintah menyeru masyarakat agar banyak menanam. Ini salah satu ikhtiyar mengurangi polusi. Gerakan 1.000.000 pohon udah lama digeber dan terus diperjuangkan. Pandemi tanpa bertujuan untuk sebuah gerakan 1.000.000 pohon ternyata membuat sebuah trend. Trend itu adalah menanam. Trend ini menjadi viral.

Rezeki

Untung tidak dapat diraih

Malang tak dapat ditolak

Ayam itu telah kembali

Rezeki adalah segala sesuatu yang sampai kepada kita. Kita tidak bisa menolak rezeki meskipun tidak kita minta. Rezeki tidak hanya berwujud uang saja namun bisa berwujud kesehatan, kesempatan, kebahagiaan, kenyamanan dan kejutan yang menyenangkan.

Sebaliknya. Kalau emang lagi apes. Kita sudah mempersiapkan sebaik-baiknya. Segala antisipasi sudah dilakukan. Diawali dengan doa dan dijagain. Kalau memang baru apes dan belum rezeki. Ada saja jalan yang menyebabkan kita apes.

Begini Kisahnya :

Saya memiliki tiga ekor ayam terdiri dua ayam betina dan satu ayam jantan. Saya beli dari pedagang ayam keliling yang sering lewat depan rumah. Harganya 50 rb/ekor. Saya merasa senang sekali mempunyai ayam. Karena tidak ada makanan tersisa sejak saya memelihara ayam.

Saya membeli ayam mesti sudah berusia remaja. Kalau orang jawa bilang “dere”. Karena saya tidak perlu membeli pakan ayam buat ayam peliharaan. Ayam “dere” udah siap makan dari sisa-sisa makanan. Setiap makanan sisa mesti diberikan ayam.

Mbak Warti (ART saya) mengumpulkan makanan sisa di malam hari setelah makan malam. Mbak Warti mengantarkan makanan sisa ke kandang ayam di pagi hari. Rutinitas ini berlangsung beberapa tahun ini. Kita tidak membuang makanan sisa atas jasa ayam. Bahkan, Kita makan ayam yang makan makanan sisa.   

Saya sudah menyembelih ayam sudah beberapa kali dari ayam peliharaan. Jenis ayam yang cocok untuk makanan sisa yaitu ayam kampung. Ayam goreng dari ayam kampung itu istimewa karena dagingnya lebih keset dan enak. Kita menyembelih ayam setiap tiga bulan sekali. Asyik khan..

 Salah satu ayam peliharaan “lepas” dari kandang tiga minggu yang lalu. Ayam itu sebenarnyas ering lepas tapi biasanya akan kembali lagi 1-2 hari kemudian. Saya merasa santai aja awalnya. Eh Ternyata, Ayam ini tidak pulang udah lebih 3 hari. Saya nunggu sampai 1 minggu kok nggak pulang-pulang. Akhirnya, saya ikhlaskan saja. Ini mungkin belum rezeki, itu pikir saya.

Kemarin pagi……. Mas Fitroh yang teman jamaah masjid nyamperin saya ke rumah. Dia bilang gini, “ merasa kehilangan ayam nggak?”. Saya agak suprise karena udah tiga minggu tidak ada kabar dari ayam. Saya jawab,”iya mas”. “Ayam itu ada di samping rumahku”, jawab beliau. “Saya tau itu ayam milikmu karena saya pernah lihat ayam itu di kandangmu dulu”, tambahnya.

Wuihh….Surprise. “ Ayamnya nanti tak antar kesini”, Mas Fitroh ngomong ke saya.  Ternyata benar, Mas Fitroh mengantar ayam tadi sore. “Maturnuwun mas”, spontan saya ngomong begitu. Ayam saya kembali setelah menghilang tiga minggu. Alhamdulillah, Ini namanya Rezeki.

Kita harus optimis saja. Karena rezeki atau apes itu misteri. Kita awali dengan doa, jalani dengan suka cita akhirnya kita pasrahkan ke MAHA KUASA. Inilah hikmah dari hikayat ayam yang hilang. J  

Sholat Jamaah

Salah satu polemik di masa pandemik adalah masalah ibadah sholat jamaah di masjid. MUI mengeluarkan fatwa tentang penggantian sholat jamaah di masjid dengan sholat jamaah di rumah di kawasan zona merah. Wah, pro kontra yang berlangsung dengan sangat seru. Bahkan masih ada sisa-sisa pro kontra sampai hari ini.

Keluarga kecil saya memilih mengikuti fatwa tersebut. Kami menunaikan shalat jamaah lima kali sehari. Ternyata, Sholat Jamaah di rumah mempunyai dampak yang dahsyat bagi Ifa. Ifa, anak sulung kami menjadi terbiasa sholat jamaah tanpa bolong-bolong mulai awal pandemi sampai hari ini.

Apabila waktu sholat udah masuk. Saya suruh Ifa untuk segera persiapan tanpa ada paksaan. Dia akan ngeloyor wudlu dan memakai mukena. Sholat jamaah menjadi rutin bagi dia. Alhamdulillah, Kita membangunkan untuk sholat shubuh tidak pakai drama.

Kita (Saya dan istri) mengalahi untuk mengikuti ritme si anak. Anak memang masih dalam taraf belajar. Jika persiapan sholat agak lama buat Ifa. Ya….kita tunggu. Pelaksanaan agak molor tidak tepat waktu kayak di masjid. Ya nggak masalah deh untuk sementara.

Ya Allah…Aku Mohon anakku menjadi anak sholihah. Jalan hidup manusia siapa yang tau. Kita harus mengusahakan dan mendoakan. Aamiin

Bahaya Laten

Awal pandemi sekitar bulan maret 2020. Segala sesuatu menjadi berhenti semua termasuk sekolah. Anakku “dirumahkan” karena ada virus yang bernama COVID-19. Dia harus tinggal di rumah dalam jangka waktu tidak menentu. Ini adalah sebuah usaha mengurangi penyebaran virus. 

Sekolah dan Guru semua kalang kabut. Karena mereka belum siap menghadapi kondisi awal-awal masa pandemi COVID-19. Akhirnya muncul kegiatan yang unik dari sekolah yaitu “menanam biji tomat”. Tugas dari sekolah ini adalah pertanda alam tentang perubahan perilaku manusia di masa pandemi COVID-19 sampai sekarang.

Kita sudah mafhum bersama. Bahwa pandemi COVID-19 membawa perubahan yang signifikan tentang perilaku masyarakat. Saya mencatat ada enam perubahan hal tersebut:

1. Ibadah 

2. Hobi

3. Komunikasi

4. Kesehatan

5. Bermasyarakat

6. Berbisnis    

Enam hal diatas masih  sedikit dan terbatas. Perubahan itu masih banyak lagi. Karena keterbatasan saya maka hanya bisa “melihat” enam hal tersebut saja. Sungguh COVID-19 itu berbahaya. Tetapi yang lebih mencengangkan lagi bahwa ternyata COVID-19 mampu merubah perilaku masyarakat. Sialnya, COVID-19 itu tidak terlihat tetapi sanggup merubah tatanan. COVID-19 itu bahaya laten yang harus diwaspadai.  🙂 

Mendinginkan Tangan

Masa Pandemi membuat kita harus berdiam diri di rumah. Karena manusia butuh aktivitas maka saya memilih aktivitas berkebun. Aktivitas berkebun ternyata membutuhkan kesabaran. Kesabaran ini yang akan membuat tangan kita menjadi “dingin”. Apabila sudah memiliki “tangan dingin” maka menanam apapun akan menghasilkan.

Wiktionary mengatakan bahwa Tangan Dingin mempunyai arti yaitu “sifat selalu membawa hasil “. Jika itu seorang petani maka apapun yang ditanam selalu memberikan hasil . Berkebun adalah salah satu aktivitas dari petani. Saya kagum dengan petani. Karena mereka adalah manusia ber-“tangan dingin”.

Seorang petani adalah manusia bertangan dingin. Tangannya mampu berdialog dengan alam melalui tanaman. Dialog diantara mereka menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi manusia yaitu hasil panen. Kemampuan ini bukan didapatkan secara instan. Mereka memperoleh kesaktian “tangan dingin” setelah berlatih dalam beberapa masa tanam.

Latihan ini bisa berlangsung selama satu masa tanam atau beberapa kali masa tanam. Ini tergantung suhu di tangan petani. Petani bertangan dingin melalui proses mendinginkan tangan. Jika tangan mempunyai suhu tinggi maka proses akan lama. Suhu menengah maka proses lebih cepat. Jika suhu rendah maka proses cepat.

Proses penurunan suhu proses yang melibatkan faktor jasmani dan rohani. Kuncinya adalah kesabaran. Semakin sabar maka semakin cepat turun suhunya dan sebaliknya. Petani bertangan dingin memiliki kesabaran tingkat tinggi dan sebaliknya. Saya punya pengalaman dalam penurunan suhu tangan. Saya bukan petani. Saya hanya penghobi tanaman atau suka berkebun saja. Karena berurusan dengan tanaman maka harus mendinginkan tangan.

Saya ingat ketika menanam singkong. Untuk menghasilkan singkong yang besar, empuk dan enak. Saya harus mencurahkan kemampuan untuk selalu merawat tanaman secara konsisten selama 3 bulan lamanya. Sedikit lengah maka hasilnya beda. Kesabaran diuji disitu. Karena proses alam tidak bisa dipaksakan dan dipercepat.

Mbak Warti menasehati kepada saya, “Kalau merawat tanaman harus sepenuh hati”. Nasehat ini adalah benar . Pengalaman saya ketika merawat tanaman singkong selama 3 bulan terasa berat buat saya. Karena ada perasaan tidak sabar dan ingin segera mendapat hasil. Jika mau cepat maka beli di pasar itu lebih praktis. Namun, Jika beli di pasar maka tidak kepuasan dalam berkebun. Apa guna saya berkebun?

Kesabaran adalah sesuatu yang sulit diinstal di dalam jiwa saya. Karena ada perasaan kemrungsung/tidak sabar. Berkebun adalah sarana untuk mendinginkan tangan Semoga saya bisa konsisten untuk menurunkan suhu meskipun tidak akan sedingin dari tangan petani. Paling tidak, ada penurunan suhu di tangan saya.Tangan dingin ternyata juga berkaitan erat dengan kesabaran.

Ya Allah, Ya Rahman, Ya Rahiim….

Alangkah sabar para petani. Sabar yang berlipat-lipat untuk menghadapi tantangan alam dan ketamakan manusia. Petani itu bukan pekerjaan atau profesi. Itulah adalah takdir yang dijalani dengan laku. Sehingga wujud menjadi “manunggaling kawula lan tanduran”. Alam yang menyatu di dalam sukma seorang petani.

Petani adalah pemilik dari tangan dingin. Manusia yang selalu bekerja keras dan berusaha dalam kepasrahan. Mereka bekerja keras dengan ketenangan jiwa. Mereka seringkali dikalahkan oleh alam dan ketamakan manusia. Tapi….mereka “berjuang dalam kepasrahan dan pasrah dalam perjuangan”. Karena mereka adalah pemilik dari “Tangan Dingin”.

FILOSOFI SAPU LIDI

Sapu Lidi terdiri dari kumpulan lidi yang diikat jadi satu. Ketika masih berwujud lidi, Lidi adalah sesuatu yang lemah dan tidak bermakna. Kita mematahkan lidi dengan  mudahnya. Apabila dijadikan satu kemudian diikat menjadi Sapu Lidi. Kita akan kesulitan mematahkan lidi-lidinya.

Kita belajar dari filosofi sapu lidi. Filosofi sapu lidi adalah berkumpul, bersatu dan bekerjasama. Saya kira itu yang mendasari munculnya komunitas IKATAN KATA. Komunitas yang mengikat anggotanya dengan KATA. Komunitas ini juga  mengikat KATA menjadi sebuah makna.

Ibarat satu penulis itu adalah SATU KATA. Apabila dikumpulkan puluhan penulis dalam satu ikatan maka akan menjadi sekumpulan KATA. Sekumpulan KATA lebih bermakna daripada sebuah KATA. Seperti  filosofi sapu lidi.

Saya bergabung dengan komunitas IKATAN KATA karena alasan ini. Jika saya menulis sendiri maka pengaruhnya tidak besar. Kecuali saya adalah orang besar atau tokoh, ternyata saya hanya orang biasa. Ketika saya menulis bersama dengan sahabat satu komunitas. Maka, Tulisan saya menjadi bagian dari kekuatan yang besar. Tulisan saya menjadi bermakna.

IKATAN KATA mengajak para penulis untuk berjalan bersama. IKATAN KATA mengajari makna kekuatan dalam persatuan. Jika anda blogger maka bergabunglah dengan sebuah komunitas. Karena ada manfaat ganda dengan bergabung dengan komunitas. Kalau saya bergabung dengan komunitas IKATAN KATA.

Seperti pepatah “SEKALI DAYUNG MAKA DUA ATAU TIGA PULAU TERLAMPAUI”. Anda menulis maka hasrat untuk menulis terpuaskan. Jika anda bergabung dengan komunitas maka tulisan anda menjadi bagian dari kekuatan yang lebih besar dan bermanfaat. Anda menulis maka hasrat terpuaskan sekaligus memberi manfaat kepada orang lain.

Kita adalah makhluk sosial. Kita tidak bisa hidup sendirian. Kita sebagai manusia mempunyai tanggungjawab sosial. Tanggungjawab sosial kita adalah memberi kebaikan kepada sesama manusia. Berkontribusi di komunitas IKATAN KATA adalah salah satu wujud tanggungjawab sosial di diri saya pribadi.

Mari bergabung di IKATAN KATA. Jika mau gabung klik saja di https://ikatankata.home.blog/join-us/

Mindset

Pengendalian diri dari dalam itu dengan memperkuat karakter yang baik. Kita eliminasi karakter yang buruk. Kalau kita selalu berbuat maka kita adalah malaikat dan selalu bertindak buruk maka kita adalah syetan. Ups….Kita adalah manusia memiliki dua karakter berpasangan yaitu baik dan buruk.

Langkah pertama yang kita atur adalah mindset. Mindset harus yang positif. Karena mindset mendasari niat dan perilaku. Mindset buruk maka menghasilkan niat yang buruk pula. Niat buruk maka motifnya juga buruk. Hasil perbuatan juga merugikan pihak lain.

Mindset yang baik akan menghasilkan tindakan yang positif, minimal tidak merugikan diri sendiri atau orang lain. Orang yang mindset-nya bagus. Mereka akan berusaha menjadi terbaik. Mereka tidak desktruktif

Berdasarkan pengamatan, obrolan dan bacaan. Orang yang berpikir positif maka memiliki sifat-sifat sebagai berikut :

  • Selalu ingat kepada Allah SWT

Saya sebagai seorang muslim. Saya harus mengingat Allah SWT dengan jalan menjalankan segala perintahNYA dan menjauhi laranganNYA, dalam bahasa agama disebut Bertakwa.

  • Mempunyai Tujuan Hidup (Purpose) agar mempunyai antusiasme dalam kehidupan.

Kita harus memiliki tujuan hidup (purpose). Tujuan hidup membuat hidup menjadi bergairah. Kita akan berusaha menggapai tujuan kita meskipun itu berat. Aktivitas kita menggapai tujuan akan mereduksi pikiran negatif .

Kita tidak akan sempat berpikir negatif . Akal dan Perasaan kita akan tercurah kepada tujuan hidup. Catatannya adalah tujuan hidup kita harus yang positif dan baik juga. Karena tujuan hidup yang positif menghasilkan yang positif juga.

  • Bertanggung jawab atas segala tindakan yang dilakukan yang baik atau buruk

Setiap tindakan kita mesti ada akibatnya. Akibat itu bisa baik atau buruk. Jika baik maka kita syukuri. Jika buruk maka harus diselesaikan. “Jangan lari dari masalah”, itu pesan bapak ke saya.

Menghadapi masalah akan meningkatkan level kehidupan kita. Kita akan belajar “problem solving”. Semakin banyak masalah yang dapat kita selesaikan. Semakin matang dan dewasa diri kita dan semakin banyak “simpanan” Problem Solving.

  • Selalu Berbagi dengan orang lain (The Power Of Giving)

Berbagi dengan orang lain membantu menjaga berpikiran positif. Kita memberi sedekah (uang) kepada orang lain atau menjadi sukarelawan (sedekah tenaga/pikiran) memberi kesempatan untuk mengubah pola pikir.

Kita tidak sibuk menghitung yang tidak kita punya. Kalau sudah begini pandangan terhadap hidup akan berubah. Kita bisa terbantu untuk berpikir positif.

  • Selalu Bersyukur atas segala keadaan

Kita bisa coba dengan mencatat segala hal yang bisa disyukuri setiap harinya. Dengan melihat daftar tersebut akan membantu kamu untuk mulai berpikir positif. Kamu akan menyadari bahwa begitu banyak hal-hal membahagiakan yang ada dalam hidupmu.

Tentu saja hal ini akan membantumu fokus pada apa yang telah kamu miliki. Kalau sudah begini, rasanya tak sulit lagi untuk bisa berpikir positif.

Saya hanya mampu menyebutkan 5 hal diatas. Insya Allah, apabila kita menjaga lima hal diatas. Kita bisa memiliki mindset yang selalu positif. Ini langkah awal membentuk karakter yang kuat.

KARAKTER


Pikiran Membentuk Tindakan

Tindakan Membentuk Kebiasaan

Kebiasaan Membentuk Perilaku

Perilaku membentuk Karakter

Karakter adalah watak, sifat atau tabiat asli dari manusia itu sendiri. Setiap manusia memiliki watak yang berbeda-beda. Ada kemungkinan sama namun tidak yang sama persis. Setiap manusia mempunyai karakter yang asli dan unik.

Kita mengasumsikan bahwa manusia dua potensi karakter. Karakter yang baik dan buruk ada di dalam seorang manusia . Manusia tidak ada luput dari kesalahan. Sebaliknya, Tidak ada manusia selalu melakukan hal yang baik dan benar.  

Hanya Nabi Muhammad SAW yang tidak pernah melakukan dosa (ma’sum). Itu keyakinan kami sebagai seorang muslim. Seorang santo adalah orang yang suci itu keyakinan bagi umat Katolik. Mereka adalah sosok idealis manusia. Sosok yang menjadi visi kehidupan manusia. Sosok idealis tidak akan bisa dicapai tetapi kita akan selalu menuju kesana.

Karakter tidak bisa dirubah tapi bisa dikendalikan melalui pengendalian diri dari dalam atau dari luar. Pengendalian diri dari dalam artinya seorang individu berusaha berperilaku / berakhlaq yang baik. Manusia juga mengatur pengaruh dari luar sehingga tidak berpengaruh negatif ke dalam dirinya. Ini yang disebut Pengendalian diri dari luar.



Ternak Teri

Saya mengantar dua anak ke sekolah setiap hari. Si Sulung udah kelas 2 SD dan adiknya masih di Playgroup besar. Kita kadang naik motor atau mobil. Ini tergantung situasi. Kalau mengantar pakai motor. Saya bisa jadi jemput pakai mobil. Istri berada di rumah untuk mengurus rumah dan bekerja dari rumah.

Teman-teman kantor sering bilang, “Ternak Teri”. Awalnya, Saya pikir itu beneran yaitu beternak ikan teri. Eh… Ternyata adalah kepanjangan dari “anTer anak anTer istri”. Ungkapan ini jadi olok-olok. Karena yang tugas antar jemput diasosiasikan dengan tugas Istri/ Ibunya anak-anak.

Zaman sudah berubah. Suami dan Istri itu “berbagi peran” berevolusi menjadi “berbagi tugas”. Pekerjaan Rumah Tangga dahulu berbias gender menjadi luntur terhadap bias gender di zaman now.

Mencari Nafkah itu tugas utama laki-laki di masa lalu. Mencari nafkah itu tugas bersama di masa kini. Memasak itu tugas wanita di masa lalu. Kita sering melihat sang ayah yang menyiapkan makan malam di masa kini.

Zaman udah berubah namun muncul anomali. Wanita Karier berbondong-bondong untuk resign. Mereka ingin mengurus keluarga secara total. Sehingga muncul istilah Full Time Mother (FTM). Istilah ini tidak tepat 100 %. Mana ada ibu yang setengah-setengah? Kalau udah jadi ibu tetaplah seorang ibu. Ibu yang di rumah atau Ibu yang berkarier.

Anomali yang lain….. Sang Ayah menyempatkan diri untuk mengantar anak ke sekolah, menemani anak ketika outing class, menunggui les anak dan mengajak anak hang out atau berenang. Padahal, Mereka sebenarnya sibuk bekerja sebagai pengusaha, profesional atau pekerja kantor.

Fenomena lain yang hadir adalah Full Time Father (FTF). Karena sang istri sangat sibuk di Kantor. Sang Suami merelakan diri untuk merawat anak di rumah. Karena sebuah pertimbangan.

Kalau mereka berdua bekerja diluar. Anak yang menjadi “korban” . Karena anak tidak terurusi dan tanpa pengawasan. Apalagi sulit juga mencari Asisten Rumah Tangga (ART). Sangat riskan meninggalkan anak tanpa pengawasan. Kesepakatan harus dicapai untuk menentukan siapa yang menemani sang anak.

Kalau era dulu…Keputusannya hampir dipastikan bahwa istri yang menunggui anak di rumah. Keputusannya berdasarkan kesepakatan untuk masa kini, bisa jadi ayah atau Ibu. Kesepakatan yang berdasarkan berbagai pertimbangan. Inilah yang disebut era “berbagi tugas”.

TERNAK TERI adalah bukanlah olok-olokan lagi. Ini adalah bagian dari era “berbagi tugas”. Ini menjadi sebuah keniscayaan. Bangga menjadi bagian TERNAK TERI. hehehehehe…….

The Man Behind A Gun

Hari ini tadi ketemu teman yang lama tidak jumpa. Beliau mempunyai usaha yang sederhana tapi cukup menarik. Dia jualan sayuran dan hasil bumi di rumah. Sederhana….khan…

Warung ini melayani penjualan sayuran meliputi Tomat, Brokoli, Bawang Merah, Bawang putih dsb. Teman saya ini tinggal di Boyolali. Dia dan suami mengambil barang dagangan dari lereng gunung merapi yaitu daerah Selo. Kalau hanya menggelar dagangan dan menunggu pembeli datang. Itu sudah biasa.

Lha menariknya…..

Dia jualan online juga. Saya mendengar kata online maka otak saya berasosiasi dengan program aplikasi android seperti yang dijalankan perusahaan start up seperti TaniHub, Regopantes atau Go-Mart. Saya bergumam, “canggih juga mbak Aris”.

Ternyata bukan aplikasi android yang complicated.……..

Setiap barang dagangan datang ke rumah. Dia catat nama dagangan beserta harganya di memo HP. Catatan itu jauh dari rapi dan informatif. Catatan di copy-paste dan dikirim ke kontak yang ada di phone book melalui aplikasi Whatsapp /WA. Meskipun tidak rapi dan informatif catatannya.

Dia bisa menghabiskan barang dagangan dalam waktu singkat. Profit yang dia dapat diatas 40 % dari harga beli. Cuman sebar catatan tadi ke kontak yang dimilikinya. Kalau cuman nunggu pembeli di warung tidak mungkin lebih cepat dan lebih besar hasilnya. Wauw Banget…..Kok bisa ya…

Kunci sukses nya ternyata bukan di aplikasi. Kuncinya adalah hubungan personal dengan orang lain. Dia mengikuti berbagai kelompok dan komunitas. Dia menjadi anggota WAG berbagai kelompok. No WA dari anggota dari berbagai WAG disimpan di kontak HP. Dia kirim catatan dagangan tadi ke semua kontak yang dimiliki via WA.

Agak nekad sih….mesti ada yang suka dan tidak suka. Kalau ada yang nggak suka bisa dimarahi. Buat dia tidak masalah, resiko usaha katanya. Ternyata ada yang nyantol juga. Nyantol untuk pesan ini dan itu. Pesanan diantar sendiri ke pelanggan. Sampai mulai kewalahan.

Kesimpulannya adalah Secanggih Apapun Teknologi Informasi maka kembali ke manusia yang menggunakannya. Aplikasi yang hebat tanpa ditunjang SDM memadai maka tidak akan efektif dan efisien. Cuman aplikasi WA tapi orang kreatif dan ulet. Perdagangan menjadi ramai dan menguntungkan.

Metode teman saya ini cukup efektif dan murah. No Admin, No System and No Server. Tapi….. kalau membesar lagi maka ya butuh sistem aplikasi. So Far…….belum butuh sampai satu atau dua tahun mendatang. Semoga…Aamiin

It’s the most Important is The Man Behind a Gun not The Gun Itself”