Kisah Cinta Dewi Amba

Prabu Sentanu dan Dewi Satyawati memiliki anak yaitu Citranggada dan Wicitrawirya. Keduanya adalah saudara seayah dengan Dewabrata. Dewabrata alias Bisma bersumpah menjadi Brahmanacarin (Resi) dan Wadat alias tidak akan menikah. Karena baktinya kepada ayahnya, Dewa memberi kesaktian yang tiada tara (Mahawira) yaitu  tidak dapat mati kecuali atas kemauan sendiri.

Sesuai dengan janji sang Prabu Santanu kepada Dewi Satyawati. Prabu Santanu menyerahkan tahta Hastinapura kepada Citranggada. Bisma menjadi penasihat kerajaan. Citranggada menjadi ksatria yang gagah dan sakti. Ilmu yang diajarkan Bisma diserap dengan baik oleh Citranggada. 

Alkisah, Seorang Raja Gendruwo yang juga bernama Citranggada memberi surat tantangan. Raja Gendruwo marah karena merasa ada dua raja dengan nama yang sama. Kedua Raja tidak mungkin akan hidup bersama dalam satu zaman, maka ia berpikir bahwa salah satu di antaranya harus mati. Citranggada putra Santanu menerima tantangan tersebut.

Menurut Adiparwa, pertempuran mereka berlangsung di tepi sungai Saraswati. Citranggada manusia dan Citranggada Gendruwo sama-sama kuat dan sakti. Namun, Citranggada gandarwa lebih mahir dalam tipu muslihat. Setelah pertempuran sengit berlangsung selama tiga tahun, Citranggada putra Santanu akhirnya gugur.

Sesuai dengan tradisi, maka Wicitrawirya menggantikan kekuasaannya. Pada waktu itu usia Wicitrawirya juga masih muda. Karena Wicitrawirya masih muda untuk melanjutkan pemerintahan, maka ia dibantu oleh saudara tirinya, Bisma. Satyawati sebagai sang ibu menjadi khawatir dengan keberlangsungan keturunan Prabu Santanu. Karena Citranggada meninggal tanpa keturunan.

Satyawati menyampaikan kekhawatirannya kepada Bisma. Bisma menyanggupi untuk meminang ketiga putri dari kerajaan Kasipura atau Giyantipura untuk Wicitrawirya. Bisma mengkuti sayembara di Kerajaan Kasipura untuk mendapatkan ketiga putri yaitu Amba, Ambika dan Ambalika.

Raksasa Wahmuka dan Raksasa Arimuka memiliki tiga saudara perempuan yaitu Amba, Ambika dan Ambalika. Ketika mereka meningkat dewasa, Arimuka dan Wahmuka sepakat mengadakan sayembara untuk mencari calon suami untuk mereka bertiga atas izin Prabu Darmamuka dari Kerajaan Giyantipura.

Pelamar yang sanggup mengalahkan Arimuka dan Wahmuka, akan dinikahkan dengan ketiga putri raja itu. Wahmuka dan Arimuka memiliki kesaktian yang hebat. Apabila salah satu di antara mereka mati, dan yang lain melompati mayat saudaranya, maka yang mati akan hidup kembali. Tetapi itu juga tidak mudah, karena Arimuka dan Wahmuka memiliki ilmu kebal.

Banyak ksatria dan raja yang mengikuti sayembara itu, tetapi semuanya dapat dikalahkan oleh Arimuka danWahmuka. Bisma yang hanya bisa mengalahkan mereka berdua. Keduanya gugur karena bocoran rahasia dari Ki Lurah Semar.  Dewabrata mendapat rahasia tentang bagaimana cara membunuh kedua raksasa kakak beradik itu.

 Menurut Semar, kedua raksasa sakti itu sebenarnya adalah penjelmaan air kawah dan ari-ari ketiga putri Prabu Darmamuka itu. Keduanya kebal dan tidak mempan segala macam senjata. Oleh karena itu, untuk dapat membunuhnya kedua telapak tangan Dewabrata harus dilumuri dengan kunir (kunyit) dan apu (kapur sirih).

Jika Dewabrata dapat memukulmereka bersama-sama sekaligus, maka Wahmuka dan Arimuka pasti akan mati.Ternyata saran Semar itu terbukti. Kedua raksasa itu mati dalam waktu bersamaandan tidak bangun lagi. Karena Dewabrata menempeleng dalam waktu yang bersamaan. Bisma berhasil mengalahkan Wahmuka dan Arimuka. Keduanya kembali ke wujud asli yaitu kawah dan ari-ari.

Dewabrata dapat membunuh Wahmuka dan Arimuka maka berhak atas ketiga putri yaitu Amba, Ambika danAmbalika. Ketiga-tiga putri diboyong ke Hastinapura. Di tengah perjalanan, Dewi Amba memohon kepada Resi Bisma agar dibebaskan, karena dia telah mempunyai seorang kekasih yang bernama Prabu Citramuka dari kerajaan Srawantipura. Permintaan Dewi Amba dikabulkan dan pergilah ia menyusul Prabu Citramuka.

Tetapi Prabu Citramuka menolak Dewi Amba. Karena Dewi Amba telah menjadi milik Dewabrata seperti dalam ketentuan sayembara. Kemudian Dewi Amba kembali menemui Dewabrata dan memohon agar diperkenankan ikut bersama saudarinya yaitu Ambika dan Ambalika ke Hastinapura.

Dewabrata tidak dapat menerima kembali dewi Amba sebagai putri boyongan. Karena Bisma sudah melepas dewi Amba.  Dewi Amba memaksa sehingga menimbulkan kemarahan Dewabrata. Bisma mengancamnya dengan menodongkan pusakanya.

Tanpa sengaja anak panah terlepas dari busurnya dan meluncurmengenai dada Dewi Amba. Sebelum meninggal Dewi Amba mengeluarkan kutukan kepada Dewabrata. Dewi Amba akan membalas dendam dengan perantara seorang prajurit wanita dalam perang Bharata Yudha.

Titisan dewi Amba masuk ke tubuh Dewi Srikandi, Istri Arjuna. Srikandi adalah putri dari Prabu Drupada dan Dewi Gandawati. Kisahnya akan ditulis di postingan selanjutnya.

Advertisements

Vivere Pericoloso

Rentetan peristiwa pasca Proklamasi 17 Agustus 1945 sungguh panjang dan dinamis. Kemudian disusul dengan munculnya Maklumat 14 November 1945 merupakan titik perubahan sistem pemerintahan Indonesia, yang semula presidensil menjadi parlementer.  Maka muncul dari struktur pemerintah yaitu PerdanaMenteri.

Belanda membonceng sekutu sehingga muncul peristiwa 10 November 1945. Belanda melancarkan Agresi Militer Belanda I di tanggal 21 Juli 1947 dan disusul  Agresi Militer Belanda II sampai muncul peristiwa Pembebasan Irian Barat. Berbagai cobaan datang silih berganti sampai tahun 1950-an.

1950-an,Era Parlementer mulai bergairah dan bergejolak. Pemerintahan tidak stabil.Pergantian Kabinet terjadi sangat cepat. RIS (Republik IndonesiaSerikat) berubah bentuk kembali menjadi NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).

Pergantian kabinet menyebabkan Pemerintah menjadi tidak stabil. Karena selalu digoyang oleh parlemen. Badan konstituante tidak berhasil menyusun UUD. Karya besar Pemerintah adalah Pemilu 1955 untuk pertama kali di era Parlementer.

Pemilu 1955 menghasilkan empat partai besar yaitu PNI, Masyumi, PKI dan Partai NU.Empat partai mempunyai kekuatan seimbang sehingga parlemen selalu deadlock untuk memutuskan sesuatu. Kepastian jalan pemerintah menjadi tidak pasti. Tahun1959, Presiden Soekarno mengeluarkan Dekrit 5 juli 1959.

Presiden Soekarno merubah parlementer menjadi presidensial. Persiden Soekarno mengeluarkan MANIPOL USDEK pada tanggal 17 Agustus 1959 ketika Upacara Hari Kemerdekaan RI. DPAS mengusulkan ke pemerintah agar Manifesto Politik dijadikan sebuah ketetapan.MPRS kemudian menetapkan Manifesto Politik sebagai GBHN (Garis Besar HaluanNegara) melalui Tap MPRS No 1/1960 Pada tahun 1960, .

Presiden  Soekarno mengeluarkan pidato negara tanggal17 Agustus 1964 yang berjudul “Tahun Vivere Pericoloso” atau lebih dikenal pidato TAVIP. Pidato yang merefleksikan perjalanan pemerintahan sejak diterbitkan Manipol USDEK. Pidato ini adalah refleksi perjalanan perjuangan revolusi Indonesia yang penuh cobaan dan hambatan namun tetap terus bergerak maju. Perjuangan mewujudkan Indonesia yang sesuai dengan UUD 1945 penuh dengan bahaya minimal menyerempet bahaya atau VIVERE PERICOLOSO.

PidatoTAVIP mempunyai intisari yang dalam , kami kutip sebagian pidato TAVIP PresidenSoekarno.

“Saja tandaskan sekarang sekali lagi : dus : Revolusi minta tiga sjarat mutlak romantik, dinamik, dialektik. Romantik, dinamik, dan dialektik jang bukan sadja bersarang didada pemimpin, tetapi romantik, dinamik, dialektik jang menggelora diseluruh hatinja Rakjat, – romantik, dinamik dan dialektik jang mengelektrisir sekudjur badannja Rakjat dari Sabang sampai Merauke. Tanpa romantik jang mengelektrisir seluruh Rakjat itu, Revolusi ta’akan tahan. Tetapi dinamik jang laksana mengkrandjingkan seluruh Rakjat itu, Revolusi akan mandek ditengah djalan. Tetapi dialektik jang bersambung kepada angan-angan seluruh Rakjat itu, Rakjat ta’akan bersatu dengan rising demandsnja Revolusi, dan Revolusi akan pelan-pelan ambles dalam padang-pasirnja kemasa bodohan, seperti kadang-kadang ada sungai ambles-hilang dalam gurun-gurun-pasir sebelum ia mentjapai samudera lautan.”

Berikut diatas adalah nukilan dari Pidato TAVIP. Perjuangan atau Revolusi harus menginternalisasi tiga hal yaitu Romantis, Dinamis dan Dialeketis :

  1. Romantis

Perjuangan / Revolusi harus dilakukan dengan sepenuh hati. Presiden Soekarno menekankan romantis. Romantis artinya mencintai segenap jiwa dan perasaan, Perjuangan/Revolusi tidak mengenal faktor “transaksional” (imbal-balik). Orang romantis  memberi pengorbanan bagi yang dicintainya.  Romantisme ini untuk Bangsa Indonesia.

Orang Romantis akan timbul keberanian  melindungi yang dicintai. Keberanian untuk “menyerempet” bahaya. Kalau bukan orang romantis maka keberanian itu tidak muncul sehingga tidak berani Vivere Pericoloso.

2.  Dinamis

Revolusi / Perjuangan harus selalu bergerak ke arah kemajuan. Artinya, Revolusi harus dinamis atau bergerak. Orang Dinamis tidak akan mudah berpuas diri namun mudah bersyukur. Orang dinamis bergerak ke arah kemajuan sebagai wujud rasa syukur.

Orang Dinamis berani mencoba,mengevaluasi, merancang kembali dan mencoba lagi menuju yang lebih baik. Maka,tidak ada perjuangan/revolusi tanpa dinamisasi gerakan. Dinamis artinya hidup dan kebalikannya adalah diam artinya mati. Mencoba-coba juga membutuhkan keberanian yang seringkali menyerempet bahaya. Orang Dinamis berani menghadapi Vivere Pericoloso.

3. Dialektis

Agar tetap dinamis maka harus terbuka. Terbuka menghadapi perbedaaan pendapat sehingga terwujud dialektika. Dialektika dengan mempertentangkan sebuah tesa dengan anti tesa sehingga muncul sebuah sintesa. Perjuangan membutuhkan sebuah dialektika.

Orang dialektis menghadapi perbedaan dengan tenang. Memadu padan, menimbang-nimbang dan memilah-milih dari berbagai perbedaan itu butuh keberanian. Orang dialektis diperlukan dalam perjuangan untuk bergerak maju.

Orang Dialektis kadang disayang namun seringkali dibenci . Dia sama sekali tidak surut ke belakang. Dia berani menghadapi resiko. Orang dialektis akrab dengan Vivere Pericoloso.

Presiden Soekarno menghembuskan angin optimisme di Rakyat Indonesia. Bahwa MANIPOL USDEK tetap berdiri tegak selama 5 tahun meskipun diguncang oleh berbagai cobaan. Presiden Soekarno ingin menghimbau seluruh rakyat Indonesia menjaga MANIPOL USDEK. Sayang, setahun kemudian terjadi tragedi yang mengubah segalanya.

Apakah Pidato TAVIP sebuah pertanda? Wallahu A’lam.

Sumber :

https://koransulindo.com/lima-pesan-bung-karno-tentang-tahun-vivere-pericoloso/

https://jakarta45.wordpress.com/2011/05/29/kenegarawanan-tahun-vivere-pericoloso-17-agustus-1964-bung-karno/

https://id.quora.com/Apakah-yang-dimaksud-dengan-Manipol-USDEK

https://id.wikipedia.org/wiki/Manipol_USDEK

https://id.wikipedia.org/wiki/Dekret_Presiden_5_Juli_1959

https://dinayuuhuu.wordpress.com/2013/08/12/analisis-maklumat14-november-1945/

Zaid Bin Haritsah

Hati Rasulullah SAW gembira dengan kehadiran Zaid bin Haritsah menjadi bagian keluarga. Zaid bin Haritsah adalah budak yang dihadiahkan oleh Khadijah kepada Rasulullah SAW. Akhirnya, Zaid bin Haritsah menjadi bagian keluarga Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW sangat mencintai Zaid bin Haritsah. Tradisi kaum Quraisy adalah menyamakan antara anak kandung dengan anak angkat. Sehingga Zaid bin Haritsah juga memiliki hak waris atas Rasulullah SAW. Nama Zaid bin Haritsah berubah menjadi Zaid bin Muhammad. Ternyata, Allah tidak memperbolehkan yang dilakukan oleh Rasulullah SAW terhadap Zaid bin Haritsah. Ini tertuang dalam QS Al-Ahzab : 5

ادْعُوهُمْ لِآبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ ۚ فَإِنْ لَمْ تَعْلَمُوا آبَاءَهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَمَوَالِيكُمْ ۚ وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُمْ بِهِ وَلَٰكِنْ مَا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ ۚ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا


Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggilah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu. Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Karena garis nasab anak dan waris mengikuti hubungan darah. Ini menjadi syariat Islam bagi seluruh umat Islam. Anak angkat tidak mempunyai kedudukan sama dengan Anak kandung. Anak angkat tidak memiliki hubungan nasab dengan ayah angkat. Hubungan nasab tidak terputus meskipun terpisah lama atau tidak pernah bertemu selamanya.

Hak Perwalian dan Waris masih di jalur nasab keluarga sekandung. Karena Zaid bin Haritsah orang yang sangat patuh  dan tunduk dengan Syariat Islam. Maka, tidak ada masalah bagi Zaid bin Haritsah. Suatu saat, Zaid bin Haritsah dinikahkan dengan Zainab binti Jahsy oleh Rasulullah SAW.

Zaid bin Haritsah berasal dari keluarga biasa dan Zainab binti Jahsy berasal dari keluarga bangsawan arab Quraisy. Ada perbedaan sosial dan budaya yang mencolok diantara mereka berdua. Zaid yang pada awalnya menolak maka bisa menerima pernikahan dengan Zainab binti  Jahsy. Karena rasa taat kepada Rasulullah SAW. Seperti yang termaktub dalam QS Al-Ahzab : 36

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.

Akhirnya, Pernikahan mereka kandas dan cerai. Karena perbedaan sosial dan budaya. Rasulullah SAW selalu menganjurkan agar mempertahankan pernikahan Zaid dan Zainab. Rasulullah SAW selalu menganjurkan untuk mempertahankan pernikahan mereka

اتَّقِ اللهَ فِي قَوْلِكَ، وَأَمْسِكْ عَلَيْكَ زَوْجَكَ

“Bertakwalah kepada Allah dalam ucapanmu. Tahanlah istrimu bersamamu.”

Karena sudah menjadi ketentuan Allah SWT. Maka, mereka berdua bercerai. Perceraian ini membawa sejuta hikmah dan ketentuan hukum (syariat) Islam di kemudian hari dan selamanya. Atas perintah Allah SWT dalam QS Al-Ahzab : 37. Rasulullah SAW menikahi Zainab binti Jahsy.

وَإِذْ تَقُولُ لِلَّذِي أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَنْعَمْتَ عَلَيْهِ أَمْسِكْ عَلَيْكَ زَوْجَكَ وَاتَّقِ اللَّهَ وَتُخْفِي فِي نَفْسِكَ مَا اللَّهُ مُبْدِيهِ وَتَخْشَى النَّاسَ وَاللَّهُ أَحَقُّ أَنْ تَخْشَاهُ ۖ فَلَمَّا قَضَىٰ زَيْدٌ مِنْهَا وَطَرًا زَوَّجْنَاكَهَا لِكَيْ لَا يَكُونَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ حَرَجٌ فِي أَزْوَاجِ أَدْعِيَائِهِمْ إِذَا قَضَوْا مِنْهُنَّ وَطَرًا ۚ وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ مَفْعُولًا

Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya: “Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah”, sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi.

Pernikahan Rasulullah SAW dan Zainab bin Jahsy menjadi kontroversi. Musuh-musuh Islam yang terdiri dari kaum Musyrik, Kafir dan Munafiq menyerang Rasulullah SAW. Rasulullah Saw dianggap sebagai orang yang suka mengumbar syahwat. Berbagai tulisan kontroversial mengenai pernikahan  Rasulullah SAW dengan Zainab binti Jahsy bersliweran hingga sampai sekarang.

Pernikahan Rasulullah SAW dengan Zainab binti Jahsy membawa hikmah yang besar, yaitu: Ini adalah bukti bahwa anak angkat kedudukan berbeda dengan anak kandung. Anak angkat tetap orang lain. Budaya arab yang menyamakan anak angkat dan anak kandung dipatahkan oleh Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW selalu berjuang di Jalan Allah. Halangan dan rintangan selalu ada. Perintah Allah SWT menjadi ujian bagi Rasulullah SAW. Rasulullah SAW memilih jalan taat kepada Allah SWT dengan menikahi Zainab binti Jahsy daripada mengikuti gunjingan orang. Karena perintah Allah SWT diatas segala-galanya.

Ujian keimanan bagi kaum muslimin sejak itu sampai saat ini. Apakah kaum Muslimin tetap taat kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW atau membangkang? Kontroversi akan selalu ada. Fitnah dan gunjingan akan bergulir terus atas pernikahan ini. Sebagai seorang yang beriman akan memilih Allah SWT dan Rasulullah SAW dengan segala resiko dan hikmah yang ada.

Zaid bin Haritsah menikahi Ummu Aiman. Ummu Aiman adalah bekas hamba sahaya (budak) ibunda Rasulullah Aminah binti Wahab. Dialah yang mengasuh Rasulullah waktu kecil, selagi ibundanya masih hidup. Dia pulalah yang merawat sesudah ibunda wafat. Karena itu, dalam kehidupan Rasulullah, beliau hampir tidak mengenal ibunda yang mulia, selain Ummu Aiman. Pernikahan ini melahirkan seorang anak yang hebat bernama Usamah bin Zaid. Usamah bin Zaid menjadi panglima termuda di masa Rasulullah  SAW.

Tibalah saat perang Mu’tah. Peperangan antara bangsa Romawi melawan Bangsa Arab (baca: Muslimin). Perang ini disebabkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim surat melalui utusannya, Harits bin Umair radhiallahu ‘anhu kepada Raja Bushra. Tatkala utusan ini sampai di Mu’tah (Timur Yordania), ia dihadang dan dibunuh, padahal menurut adat yang berlaku pada saat itu (dan berlaku hingga sekarang) bahwa utusan tidak boleh dibunuh dan kapan saja membunuh utusan, maka berarti menyatakan pengumuman perang.

Rasulullah SAW  merespon tindakan ini dengan  mengirim pasukan perang pada Jumadil Awal tahun ke-8 Hijriah yang dipimpin oleh Zaid bin Haritsah. Kemudian Rasulullah SAW bersabda :

إِنْ قُتِلَ زَيْدٌ فَجَعْفَرٌ، وَإِنْ قُتِلَ جَعْفَرٌ فَعَبْدُ اللهِ بْنُ رَوَاحَةَ

“Kalau Zaid terbunuh, maka Ja’far (yang menggantikannya). Jika Ja’far terbunuh, maka Abdullah bin Rawahah (yang menggantikan).” (HR. Al-Bukhari dalam Kitab Al-Maghazi)

Peperangan ini tercatat di dalam sejarah sebagai sebuah perang besar. Tentara Islam yang berjumlah 3.000 orang melawan 200.000 tentara Romawi. Sekalipun demikian dahsyatnya perang mu’tah. Tentara Islam yang mati syahid hanya 12 orang namun termasuk didalamnya adalah 3 Panglima diatas (Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Tholib dan Abdullah bin Rawahah).

Peperangan berkecamuk dengan dahsyat. Pusat perhatian musuh tertuju kepada pembawa bendera kaum muslimin dan keberanian para panglima Islam dalam maju memerangi musuh, hingga mati syahid panglima pertama, Zaid bin Haritsah. Zaid bin Haritsah gugur sebagai Syuhada.

Itulah kisah sahabat Rasulullah SAW yang bernama Zaid bin Haritsah. Seorang sahabat Rasulullah SAW yang namanya diabadikan di QS Al-Ahzab: 37.  Zaid bin Haritsah yang hidup dalam hangat keluarga Rasulullah SAW. Tumbuh sebagai pejuang Islam dan akhirnya meninggal dalam perang Mu’tah. Perang yang berbeda dengan biasanya. Karena melawan bangsa Romawi bukan bangsa Arab.

https://islami.co/kisah-zaid-bin-haritsah-sahabat-nabi-yang-diabadikan-al-quran/

https://muslimobsession.com/zaid-bin-haritsah-sahabat-nabi-yang-namanya-diabadikan-al-quran/

https://kisahmuslim.com/6183-ummul-mukminin-zainab-binti-jahsy.html

https://kisahmuslim.com/2477-sejarah-perang-mutah.html

http://salafy.or.id/blog/2013/03/31/perang-mutah/

https://nabilmufti.wordpress.com/2010/03/14/usamah-bin-zaid-bin-haritsah-panglima-perang-termuda-kesayangan-rasulullah-saw/

https://tafsirq.com/33-al-ahzab/ayat-37

https://tafsirq.com/33-al-ahzab/ayat-36

https://tafsirq.com/33-al-ahzab/ayat-5

Sarinah

Bung Karno membagi gerakan perempuan menjadi tiga kelompok yang hirarkis. Hirarki  paling bawah dari gerakan perempuan adalah kelompok arisan. Hirarki diatasnya adalah kelompok feminis. Hirarki yang paling tinggi adalah kelompok wanita sosialis.

Kelompok arisan adalah kelompok wanita yang suka kumpul-kumpul. Mereka kadang hanya sekedar kumpul-kumpul minum teh atau ngerumpi. Mereka juga meningkatkan kemampuan dirinya sendiri di bidang kewanitaan. Misal : Kursus menyulam, memasak atau berkebun. Mereka melakukan kegiatan untuk menguatkan eksistensi mereka sebagai wanita. Wanita sebagai ratu Rumah Tangga.

Kelompok feminis adalah kelompok wanita yang berkumpul dan berjuang kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan. Pria seringkali dianggap kompetitor dan penghalang kemajuan wanita. Biasanya konfrontatif terhadap pria. Kelompok Feminis menganggap pernikahan adalah Lembaga yang memenjarakan wanita.

Kelompok wanita sosialis adalah kelompok wanita yang bersosialisasi dan bekerjasama dengan pria untuk memajukan masyarakat. Mereka menganggap bahwa pria dan wanita sama dan sederajat. Mereka beranggapan bahwa pria dan wanita harus bekerjasama secara setara dan sederajat membangun bangsa.

Ini adalah kesimpulan saya setelah membaca buku SARINAH. Buku yang ditulis oleh Bung Karno di era kemerdekaan. Bung Karno menulis gagasannya tentang pergerakan wanita di sela-sela kesibukan memberi kursus-kursus bagi wanita Indonesia.

Wanita adalah partner sejati lelaki dalam mewujudkankesejahteraan bagi seluruh bangsa Indonesia. Jika kita masih berkutat dengan keterbelakangan maka Indonesia masih dalam masa-masa kegelapan. Namun, Jika kita disibukkan dengan pertentangan antara pria dan wanita. Artinya, kita belum bangkit sepenuhnya.

Bung Karno yang kagum dengan pergerakan wanita sosialis zaman itu. Maka, beliau mencontohkan dengan gerakan sosialis yang ada di Rusia. Mereka sudah bekerjasama untuk membangun bangsa. Seluruh komponen bangsa harus memberi kontribusi untuk negara.

Bung karno memimpikan masyarakat sosialis yang saling bahu-membahu antara pria dan wanita. Masyarakat berbagi tugas alias gotong royong. Lebih spesifik, Bung Karno tidak membeda-bedakan antar kelas yaitu Borjuis dan Proletar. Bung Karno menganjurkan untuk gotong royong seluruh kaum dan golongan di Indonesia dalam bingkai Bangsa Indonesia.

Bangsa Indonesia yang tediri kaum pria dan wanita saling bahu-membahu mewujudkan masyarakat Indonesia yang berkemajuan. Wanita mengambil peran sesuai dengan kodrat dan kemampuan maka Pria juga mengambil peran sesuai dengan kodrat dan kemampuan.

Bung Karno menulis buku SARINAH karena terinspirasi oleh pengasuh beliau sejak kecil yang bernama Sarinah.  Seperti yang tertulis di dalam buku Bung Karno-Penyambung Lidah Rakyat Indonesia karya Cindy Adams

Bung Karno menyatakan , “Dia mbok saya. Dia membantu ibu saya. Dari dia saya menerima banyak rasa cinta dan rasa kasih. Dari dia, saya mendapat banyak pelajaran mencintai orang kecil. Dia sendiri pun orang kecil. Tetapi budinya selalu besar. Moga-moga Tuhan membalas kebaikan Sarinah.”

Oleh sebab itu, Perjuangan Bung Karno kental sekali dengan pembelaan orang kecil. Mulai dari Marhaen sampai Sarinah. Bung Karno mempunyai idealisme untuk membantu, menolong, membangkitkan dan memajukan orang kecil.

Idealisme Bung Karno hampir mirip-mirip dengan Sosialisme yang berkembang di eropa mulai tanah Bavaria (Jerman) sampai Rusia. Bung Karno mengambil sari pati sosialisme kemudian disesuaikan dengan kekhasan Indonesia maka muncullah buku Sarinah.

Ajaran Bung Karno yang muncul bukanlah sosialisme namun Nasionalisme. Nasionalisme yang didukung bersama alias gotomg royong oleh seluruh komponen bangsa baik itu proletar, borjuis, pria maupun wanita.

Sarinah adalah sosok wanita yang dihormati Bung Karno.Wanita desa yang menumpang hidup di Keluarga Soekemi Sosrodiharjo-Ida Ayu Nyoman Rai. Sarinah tinggal disitu membantu mengasuh Bung Karno. Dia tidak kawin, tinggal, makan, dan bekerja di rumah keluarga Bung Karno.

Di Tulungagung Jawa Timur, Bung Karno kecil berusia empat hingga enam tahun ditemani dan diasuh oleh Mbok Sarinah di Tulungagung. Mbok Sarinah sangat dekat dan mempunyai arti penting bagi hidup Bung Karno. Karena Mbok Sarinah  yang mengajari untuk cinta rakyat kecil.

Sarinah meninggal 28 Desember 1959. Dimakamkan di pekuburan rakyat Kelurahan Kepatihan Kota Tulungagung, Jawa Timur. Apalagi, Sarinah tidak menikah dan tidak diketahui sanak saudaranya yang tersisa.

Bila berkunjung ke Tulungagung, tidak lupa sang proklamator selalu menyempatkan diri untuk berziarah ke makam keluarga Raden Hardjodikromo. Setelahnya, Soekarno selalu menyempatkan diri menghampiri makam Sarinah dan berdoa di sana

Mushab bin Umair

Belum lama ini sebuah stasiun Televisi menyiarkan sebuah konser musik. Konser Musik dari grup musik yang berjaya di era 90-an. Suasana konser yang ramai oleh fans yang mulai beranjak tua, mayoritas sudah early 40. Grup musik itu bernama Sheila On 7. Mereka adalah idola remaja di eranya bersama DEWA, PADI, Wayang dsb.

Idola baru selalu bermunculan bagi para remaja dari masa ke masa. Masa muda adalah masa pencarian jatidiri. Masa yang paling rawan bagi setiap anak manusia. Karena apabila salah dalam mencari jatidiri bisa tersesat sangat jauh. Menjadi fans dari sebuah idola/public figure adalah bagian dari pencarian jatidiri.

Sehingga selalu ada idola baru bagi anak muda di eranya masing-masing. Generasi 90-an dulu mengenal film Taiwan (Tao Ming Tse) kemudian muncul budaya J-POP dengan vocal grup yang fenomenal JKT 48.

Korea mulai “menjajah” Indonesia dengan DRAKOR. Anak 90-anyang gemar drakor mesti tau film “Winter Sonata” diikuti Drama “Putri JangGeum” (dimaafkeun ya jika tulisannya salah ….hehe) dan  kemudian Drakor “Full House”.

Lha lebih jauh lagi yaitu musik K-POP. Anak milenial hafal Ato Z tentang K-POP. Saya sebagai generasi sebelumnya sudah nggak paham.Hehehehe….!!! Sungguh dunia anak muda adalah dunia role model. Mereka membutuhkankehadiran seorang Idola atau
role model, itu bisa siapapun mulai artis, atlet, blogger, influencer sampai selebgram.

 Anak muda yang menjadi role model biasanya memiliki ciri-ciri yang bersifat jasmaniah yang 11-12 sejak dahulu sampai sekarang yaitu Ganteng/Cantik, Berbusana yang rapi, postur tubuh ideal dan wangi. Perbedaan ciri antara satu yang lain itu hanya beda-beda sedikit.

Zaman Rosululloh SAW, Suku Arab Quraisy mempunyai idola anak muda yaitu Mush’ab Bin Umair. Idola muda suku Quraisy yang mempesona di kala itu. Mushab bin Umair selalu memakai pakaian yang bagus dan bersih. Apabila Mushab bin Umair berjalan maka muncul semerbak bau wangi. Pakaiannya wangi dan terbuat dari bahan pilihan.

Ibunya sangat memanjakan dia. Makanan selalu tersedia di kamar tidurnya. Apabila dia terbangun dari tidur maka selalu tersedia makanan di sebelahnya. Pakaian yang rapi dan mahal, bau wangi dari tubuhnya dan busananya rapi tertata.

Setiap penduduk Makkah terkesan dengan penampilan Mushab Bin Umair. Mushab bin Umair adalah idola remaja di zamannya. Mushab Bin Umair dipuja-puja di zamannya. Tapi, Siapa yang menyangka? Dia berubah total  setelah menjadi seorang Muslim.

Allah SWT memang telah memilihkan untuk Rasulullah SAW pengikut-pengikutnya yang setia dan unggul. Pengikut Rasulullah SAW mulai dari Abu Bakar, Umar Bin Khottob, Ali Bin Abi Tholib, Utsman Bin Affan dan  Mushab Bin Umair termasuk juga.

Mushab bin Umair dibuka hatinya untuk menerima hidayah Islam. Mushab bin Umair mengikuti kajian-kajian Islam yang diadakan di rumah Al-Arqam. Mushab bin Umair termasuk orang-orang pilihan di zaman Rasulullah SAW.

Mushab tersentuh oleh ayat-ayat Al-Qur’an yang dibacakan Rasulullah SAW. Komitmen dia kepada Islam jangan pernah ditanyakan. Dia rela meninggalkan kemewahan dunia demi Islam. Ibunya sangat kecewa dengan keputusan Mushab bin Umair menjadi muslim.

Ibunya Mushab bin Umair mengancam tidak akan makan-minum selama dia masih menjadi muslim. Mushab bin Umair tidak bergeming sama sekali. Kemewahan hilang dari dirinya sejak menjadi muslim.

Mushab bin Umair mendengar berita bahwa beberapa Musliminhijrah ke Habasyah (Ethiopia). Mushab bin Umair memutuskan untuk ikut hijrah Habasyah. Kemudian terdengar desas-desus bahwa pihak Quraisy mengurangi tekanan terhadap muslim.

Mereka memutuskan untuk kembali ke Mekkah, begitu pula Mushab bin Umair. Mereka segera menemui Rasulullah SAW dan para sahabat.

Suatu ketika, Mushab bin Umair tampil di hadapan kaum muslimin yang sedang duduk mengelilingi Rasululloh SAW. Mereka ada yang menundukkan wajah, memejamkan mata dan beberapa basah matanya karena meneteskan air mata. Mereka melihat Mushab bin Umair memakai jubah usang.

Mereka menangis karena teringat penampilan Mushab bin Umair sebelum menjadi Muslim. Penampilan Mushab bin Umair yang sangat kontras. Mushab bin Umair yang dahulu wangi dan rapi. Namun, Mushab bin Umair terlihat lusuh dan kusam.

Rasulullah SAW menatap dengan pandangan penuh arti, cinta kasih dan syukur dalam hati. Rasulullah SAW mulai tersungging senyuman seraya mengatakan, “Dahulu aku lihat Mush’ab ini tak ada yang mengimbangi dalam memperoleh kesenangan dari orang tuanya, kemudian ditinggalkannya semua itu demi cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Beberapa waktu sebelumnya, Dua belas orang penduduk Madinahmenyatakan masuk Islam dan berbaiat kepada Rosulullah SAW. Mereka berbaiat diBukit Aqobah maka disebut Baiat Aqabah I. Setelah peristiwa Baiat Aqabah I maka Rasulullah SAW mengirim duta untuk mengajarkan Al-Quran dan berbagaipengetahuan tentang Islam untuk penduduk Madinah.

Mushab bin Umair memikul amanat berbekal karunia Allah SWT berupa pikiran yang cerdas, akhlak yang mulia dan sifat zuhud, jujur serta kesungguhan hati. Mushab bin Umair berhasil menundukkan, melunakkan dan menawan hati penduduk Madinah. Penduduk Madinah berduyun-duyun memeluk Islam.

Mushab bin Umair berhasil mengajak sebagian besar masyarakatkota Madinah memeluk Islam. Mushab bin Umair dikenal sebagai Muqri’ul Madinah (Nara sumber Madinah). Mushab bin Umair berhasil mengajak lebih dari 70 kaum Muslimin ke Mekkah pada musim haji berikutnya.

Mushab bin Umair yang berpenampilan rapi, pandai bergaul dan mempunyai kepribadian yang menarik. Atas izin Allah SWT, Mushab bin Umair berhasil mengislamkan kabilah-kabilah di Madinah. Dia sukses dalam berdakwah Islam di Madinah. Sampai akhirnya, Rosululloh SAW berhijrah ke Madinah disambut suka cita oleh penduduk Madinah.

Mushab Bin Umair dipercaya membawa bendera pasukan perang dalam perang Uhud. Pada mulanya Kaum Muslimin unggul. Karena pasukan pemanah diatas bukit tidak disiplin dengan perintah Rasulullah SAW. Mereka diperintahkan untuk bertahan diatas bukit apapun yang terjadi. Ternyata, mereka turun dari bukit untuk mencari ghonimah (pampasan perang).

Kholid bin Walid yang saat itu belum masuk Islam. Dia mengitari bukit dan menyerang pasukan Islam dari balik bukit. Pasukan Islam kocar-kacir karena serangan Kholid bin Walid. Pada saat genting, berita kematian Rasulullah SAW beredar . Mushab terkejut dan mengkawatirkan atas kelanjutan Islam. Islam akan surut sebelum berkembang jika Rasulullah SAW meninggal dunia.

Mushab bin Umair segera meneriakkan, “Muhammad itu tiada lain hanyalah Rasul yang sebelumnya didahului oleh beberapa Rasul” sambil mengacungkan bendera tinggi-tinggi dan bertakbir sembari menyerang musuh dengan gagah berani.

Pihak musuh menebas tangan kanannya hingga putus kemudian Mushab segera memindahkan bendera ke tangan kiri. Tangan kirinya akhirnya putus juga. Mush’ab membungkuk ke arah bendera dan meraih bendera dengan pangkal lengan. Mush’ab diserang di bagian dada. Dadanya tertusuk oleh tombak musuh.Dia gugur sebagai seorang Syuhada yang gagah berani.

Diakhir perang, Rasulullah SAW beserta para sahabat meninjau medan perang dan mendapati jasad Mush’ab. Tak sehelaipun kain untuk menutupinya selain sehelai burdah yang andai ditaruh di atas kepalanya terbukalah kedua kakinya. Sebaliknya bila ditutup kakinya maka terbukalah kepalanya. Maka Rasulullah bersabda : ” Tutupkanlah ke bagian kepalanya , kakinya tutuplah dengan rumput idzkir!”.

Itulah akhir hayat Mushab bin Umair. Dahulu dipuja-puja, dahulu seperti sang raja. Dia adalah lambang kesempurnaan dunia secara jasmani. Karena keimanan maka dia tinggalkan segala bentuk keduniaan. Dia tukar dengan keimanan.

Itulah akhir perjuangan Mush’ab bin Umair dalam menegakkan agama yang dengan tidak gentar menghadapi musuh-musuh Allah, yaitu orang-orang yang enggan mengakui bahwa “Tiada Tuhan yang patut disembah melainkan Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah”( Laa ilaaha illaLLAH wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah).

“ Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. (QS.Al-An’aam(6):161-163).

Sumber :

https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/11/08/23/lqdi5w-kisah-sahabat-nabi-mushab-bin-umair-duta-islam-yang-pertama

https://arraahmanmedia.wordpress.com/2010/09/29/mushab-bin-umair/

http://bio.or.id/biografi-mushab-bin-umayr/

Marhaenisme

Soekarno aktif di pergerakan sudah sejak lama. Pergumulan dengan tokoh-tokoh bangsa di Rumah Cokroaminoto adalah awal menjadi seorang Aktivis. Soekarno bertemu dengan S.M Kartosuwiryo dan Moeso. Dua orang kawan karib Soekarno ini akhirnya dihukum mati oleh Soekarno. Soekarno sendiri meninggal ketika beliau menjalani Tahanan Rumah pasca peristiwa GESTAPU. Mereka adalah manusia yang hidup dan mati di dunia pergerakan Indonesia.

Kisah Soekarno sungguh berwarna-warni ketika “mondok” di Rumah Cokroaminoto . Namun, Kisah perjuangan Soekarno ketika kuliah di THS (sekarang ITB) lebih berwarna-warni. Beliau menelurkan ide MARHAENISME, menikah dengan ibu Inggrit, dipenjara di Banceuy dan Sukamiskin, berdebat dengan Misbach di Kongres Syarikat Islam. Itu adalah sebagian dari warna-warni kehidupan aktivis perjuangan kemerdekan bernama Soekarno. Kita sepakati di artikel ini , kita sebut saja Bung Karno.

Bung Karno adalah seorang Idiolog Bangsa. Beliau selalu memikirkan jatidiri bangsa Indonesia. Siapakah sebenarnya rakyat Indonesia? Bagaimana wajah rakyat Indonesia. Karena saat iu, Indonesia disebut dengan Hindia Belanda. Kita belum mempunyai jatidiri bangsa Indonesia sendiri. Ide persatuan masih belum nampak secara jelas. 1928, Mulai nampak jelas dengan diselenggarakan Konggres Pemuda II.

Mungkin, Beliau baru di titik kebosanan saat itu. Bung Karno ambil sepeda kemudian mengayuh ke arah Bandung Selatan. Bung Karno hanya ingin cari “angin”. Bandung Selatan terkenal dengan hamparan sawah yang luas. Bung Karno menyusuri tanah persawahan di Bandung Selatan. Ketika itu usia Bung Karno 21 tahun jadi kira-kira tahun 1921.

Bung Karno menuturkan bahwa Bandung Selatan adalah kawasan pertanian. Para petani mengerjakan sawah miliknya sendiri. Luas sawah mereka tidak lebih dari sepertiga hektar. Bung Karno mendatangi seorang petani kemudian terjadilah sebuah dialog menggunakan bahasa sunda.

Hal yang menarik dari dialog Bung Karno dan petani tersebut adalah isi dialog. Bung Karno menyimpulkan bahwa Petani itu mengerjakan sawah miliknya sendiri (bisa jadi : warisan orang tua), menggunakan perkakas sendiri ( cangkul, sabit, bajak dsb). Hasilnya untuk menghidupi dirinya sendiri atau keluarga sendiri, tidak mempunyai pegawai dan tinggal di rumah berupa Gubuk.

Konon, nama petani itu adalah MARHAEN. Bung Karno mendapat ilham dari si Marhaen. Bung Karno menamai semua petani yang bernasib sama dengan nama MARHAEN. Bung Karno yang aktif di pergerakan di Bandung. Bung Karno menjadi bagian dari kelompok diskusi “Algemene Studie Club”. Bung Karno memakai istilah MARHAEN dalam diskursus klas atau susunan sosial masyarakat Indonesia dalam setiap diskusi.

Istilah MARHAEN berkembang dan tidak hanya merujuk ke petani saja. Bung Karno juga menyebut “tukang gerobak” sebagai marhaen. Si “Tukang Gerobak” masih memiliki alat produksi, tidak mempunyai pegawai dan tidak punya majikan.

Inilah ajaran Bung Karno : MARHAENISME. Marhaenisme adalah lambang dari penemuan kembali kepribadian nasional bangsa Indonesia. MARHAENISME adalah idiologi kemandirian bangsa Indonesia meskipun dalam keadaan melarat atau miskin. Pelakunya disebut dengan MARHAEN atau Pak Marhaen. Teori MARHAENISME disusun konteks historis dan kekhususan masyarakat Indonesia.

Seorang Marhaen adalah pemilik produksi kecil, tidak menyewa atau memperkerjakan orang lain dikerjakan sendiri dengan perkakas milik sendiri, tidak mempunyai majikan dan hasilnya untuk memenuhi kebutuhan sendiri.

Ini mungkin sepadan dengan istilah “borjuis kecil” dalam terminologi marxis. Bung Karno memberi penekanan Marhaen dengan perkataan “Kaum Melarat Indonesia”. Marhaen adalah pemilik produksi kecil (borjuis kecil) tetapi hidup sangat melarat.

Lawan kata “borjuis” adalah “proletar” dalam terminologi Marxis. Proletar adalah kaum yang bekerja untuk orang lain alias orang upahan. Mereka tidak mempunyai alat-alat produksi sendiri. Proletar bekerja untuk majikan.

Teori Marxis ingin membentuk masyarakat tanpa klas (Classless). Masyarakat tanpa  majikan/buruh,  Borjuis/Proletar. Semua adalah milik negara. Ada yang bilang bahwa “Masyarakat Tanpa Klas” adalah Utopia.

Kapitalisme mendewa-dewakan Kapital atau modal. Rakyat diberi kebebasan untuk menumpuk modal dan alat produksinya sendiri. Bahkan dalam melakukan aksi penumpukan modal dilindungi UU. Pursuit Of Happynes adalah tujuannya. Pursuit Of Happynes adalah mencari kebahagiaan duniawi.

Bung Karno mensintesis terminologinya sendiri yaitu MARHAENISME. MARHAENISME itu genuine karya Bung Karno. MARHAENISME bukan Marxisme atau Kapitalisme. MARHAENSIME adalah potret masyarakat Indonesia. Potret masyarakat yang bisa dideskripsikan dan disimpulkan oleh Bung Karno di usia 21 Tahun pada tahun 1920-an.

Indonesia mengalami pergeseran. Negara Agraris menuju Industri. Karena Kemerdekaan maka Eksistensi buruh yang dulu bagian dari perusahaan Belanda berubah menjadi bagian dari Warga Negara Indonesia. Kaum miskin proletar menjadi eksis di Republik Indonesia.

Maka, Bung Karno menyebut kaum itu menjadi 3 unsur : Kaum miskin proletar (buruh), kamu tani melarat dan kaum melarat Indonesia yang lain pada Tahun 1960-an. Tujuannya adalah menyatukan seluruh kaum tertindas dalam sebuah persatuan yang revolusioner.

Kaum buruh (miskin proletar) berbeda dengan kaum petani di zaman dulu.  Akan tetapi, Ini menjadi mirip di zaman kekinian. Karena mereka sama-sama tidak mempunyai alat produksi (sawah). Kaum petani tanpa lahan disebut kaum buruh tani. Mereka sama-sama tidak mempunyai lahan.

Kaum buruh tani adalah mereka menggarap sawah yang dimiliki para tuan tanah atau kaum kapitalis yang menguasai lahan. Mereka tidak mendapat gaji tapi bagi hasil dari panenan. Kalau panen berhasil maka mendapat uang. Jika panen gagal maka tidak mendapat apa-apa. Kaum buruh tani lebih termaginalkan. Karena tidak mempunyai lahan dan seringkali tidak mendapat hasil. Karena gagal panen.

Sumber :

  1. https://id.wikipedia.org/wiki/Marhaenisme
  2. http://www.berdikarionline.com/bung-karno-dan-defenisi-marhaen/
  3. https://penasoekarno.wordpress.com/2009/10/21/siapakah-marhaen/

 

 

 

 

Kebaikan Bisma

Raja Sentanu sedang berjalan-jalan di tepi sungai Gangga. Tiba-tiba, Sang Raja terpana dengan kecantikan seorang wanita di tepi sungai Gangga. Sang Raja sekonyong-konyong ingin menikahinya. Wanita itu bernama Dewi Gangga. Raja Sentanu sangat ngebet banget menikahi sang dewi. Dewi Gangga dengan elegan menerima pinangan sang raja dengan satu syarat.

Karena udah tidak tertahankan. “Apapun syaratnya akan kupenuhi”, jawab sang Raja. Gunung ku daki dan Laut kan ku seberangi, begitulah rayuan orang yang sedang jatuh cinta. Syaratnya adalah ,  “Raja tidak boleh melarang apapun yang akan dilakukan sang Dewi apalagi yang agak di luar nalar dan moral”. Artinya, Raja harus kasih kebebasan 100 % kepada sang dewi.

Kepalang basah, Asal kau bisa kunikahi. Raja Sentanu sangat girang bukan kepalang. Mereka hidup dalam kebahagiaan. Namun, ada yang aneh dari sang dewi gangga. Dewi Gangga selalu membunuh setiap anak yang dilahirkan. Raja Sentanu sangat galau. Tapi, Raja terlanjur janji. Sabda Pandhita Ratu Tan Kena Wola Wali

Ternyata, Bisma merupakan reinkarnasi dari salah satu Delapan Wasu yang bernama Prabasa. Itu berdasarkan  kitab Adiparwa. Karena Prabasa dan para Wasu lainnya berusaha mencuri sapi milik Resi Wasista, maka mereka dikutuk agar terlahir sebagai anak manusia.

Dalam perjalanan menuju Bumi, mereka bertemu dengan Dewi Gangga yang juga dikutuk untuk turun ke dunia sebagai istri putra Raja Pratipa, yaitu Sentanu.

Para Wasu membuat kesepakatan dengan sang dewi bahwa mereka akan menjelma sebagai delapan putra Prabu Sentanu yang dilahirkan oleh Dewi Gangga. Untuk meringankan penderitaan yang harus mereka tanggung di dunia manusia. Sang dewi hanya membiarkan mereka hidup sementara

Sampai anak yang kedelapan. Sang Dewi Gangga bersiap-siap membunuh si jabang bayi. Raja Sentanu merasa perih sekali tak tertahan. Raja Sentanu menegur sang dewi yang akan membunuh anak mereka yang kedelapan. Sang Dewi marah. Raja melanggar janji.

Anak yang kedelapan dari Dewi Gangga diberi nama Dewabrata.
Dewabrata berarti “disukai para dewa”. Dewabrata adalah Wasu yang paling bertanggung jawab atas usaha pencurian sapi tersebut. Maka dari itu, sang dewi membiarkannya hidup lebih lama dibandingkan Wasu lainnya.

Karena Raja Sentanu melanggar janji maka sang dewi pergi dengan membawa anaknya yang ke delapan. Setelah 36 tahun, Raja Sentanu dipertemukan dengan sang anak dan Dewi Gangga. Dewi Gangga menyerahkan hak asuh Dewabrata kepada Raja Sentanu. Karena Dewabrata diasuh oleh Raja Sentanu. Dewabrata menjadi putra mahkota Hastinapura.

Huffft… Masalah  selesai. Eitsss…….tunggu dulu. Raja Sentanu yang ditinggal Dewi Gangga dan mendapat anak Dewabrata terpikat seorang wanita yang bernama Satyawati. Sang Raja Sentanu meminta izin ke Ayah Satyawati. Ini membuktikan Raja Sentanu adalah Raja yang bijaksana. Tidak asal ambil anak orang. Raja yang berkuasa masih menunjukkan kebijaksanaan.

Lha ini yang membuat pusing sang Raja.  Ayah Satyawati bersedia menyerahkan putrinya dengan syarat bahwa keturunan Satywati diberikan hak atas takhta Hastinapura. Alias keturunannya yang harus jadi raja. Ayah Satyawati pinter juga. Hehehehe…

Raja Sentanu tidak bisa menyanggupi syarat tersebut. Dewabrata sudah menjadi penerus takhta. Raja Sentanu sedih dan kembali ke Hastinapura. Raja Sentanu jatuh sakit karena gagal menikahi Satyawati. Sulitnya dapat istri karena syarat yang berat.

Dewabrata sebagai anak yang berbakti. Dia mengorek informasi dari kusir pribadi sang prabu. Maklum, Kendaraan dinas raja adalah kereta bukan mobil. Jadi bukan sopir pribadi tapi kusir pribadi. Dewabrata menemukan penyebab ayahnya jatuh sakit. Dewabrata  segera berangkat menuju kediaman Satyawati.

Dewabrata bersumpah tidak akan mewarisi takhta Hastinapura di hadapan ayah Satyawati. Dia menyerahkan hak tersebut kepada keturunan Satyawati. Ehhh…Ayah Satyawati masih belum percaya. Pertikaian perebutan takhta antara keturunan Bisma dan keturunan Satyawati masih bisa terjadi. Dewabrata tidak kurang akal.

Dewabrata bersumpah tidak akan menikah seumur hidup. Ini untuk menghindari pertikaian perebutan kekuasaan. Hmmm…..Baru Satyawati diserahkan ke Raja Sentanu. Raja Sentanu merasa senang sekali.

Karena pengorbanan Dewabrata. Dewabrata diberi nama Bisma oleh ayahnya, dan diberi kemampuan mampu bersahabat dengan Sang Dewa Waktu.  Sehingga, Bisma bisa menentukan waktu kematiannya sendiri.

Nama Bisma dalam bahasa Sanskerta berarti “mengerikan” atau “mengundang ketakutan”, karena ia amat disegani musuh-musuhnya dan keberaniannya ditakuti oleh para kesatria pada masanya.

Nama Dewabrata diganti menjadi Bisma semenjak ia melakukan bhishan-pratigya, yaitu sumpah untuk membujang selamanya dan tidak akan mewarisi tahta ayahnya.

Oleh sebab itu, Bisma dapat pula berarti “yang sumpahnya dahsyat (hebat)”, karena ia bersumpah untuk hidup membujang selamanya dan tidak mewarisi takhta kerajaannya, untuk mencegah terjadinya perselisihan antara keturunannya dengan keturunan Satyawati.

< –>

Hidup Bermakna


Saya menerima telepon dari pakde Widadi pagi ini tadi. Pakde saya yang satu ini sungguh istimewa. Beliau sangat humanis. Beliau paling gemar membaca buku. Buku yang beliau baca mulai dari ekonomi, sosial, budaya, agama bahkan psikologi. Sungguh saya senang sekali ngangsu kawruh dari beliau.

Saya mendiskusikan tentang “kebermaknaan” dengan beliau. Kebermaknaan adalah sesuatu yang membawa kebahagiaan pribadi tanpa mengorbankan orang lain. Orang miskin bisa bahagia karena merasa hidupnya “bermakna”. Orang yang menderita sakit akan merasa bahagia meskipun sangat menderita. Karena dia merasa hidupnya “bermakna”. Orang kaya bisa merasa tidak bahagia karena hidupnya “tidak bermakna”. Bahagia tanpa egois itu hidup yang “bermakna”.

Kalau kita omong hidup “bermakna” maka lebih afdol pakai contoh. Pepeng Ferrasta adalah contoh riil dari hidup “bermakna”. Beliau menderita penyakit multiple sclerosis. Penyakit itu menyebabkan kelumpuhan dari bagian pinggang ke bawah. “Orang barat yang menderita penyakit ini biasanya minum painkiller pill, kalau saya pakai dzikir dan obat dari cina”, begitu kata Pepeng.

Pepeng itu memang beda. Beliau tidak mengeluh meskipun sangat menderita. Rasa sakit dihadapi dengan senyuman dan segudang kegiatan. Kegiatan mulai dari studi S2, bisnis kacang goreng dan menulis buku. Pepeng ingin mengurangi rasa sakit dengan banyak kegiatan. Pepeng ingin bahagia juga dengan membuat hidupnya lebih bermakna. Hidup bermakna dengan membuat karya nyata.

Beliau juga menderita sakit jantung. Anda bisa bayangkan bagaimana menderitanya beliau. Beliau hanya bisa terbaring di tempat tidur selama bertahun-tahun dan merasakan rasa nyeri yang hebat sehingga tidak bisa kemana-mana. Apakah beliau mengeluh? Menyerah? Minta dikasihani? Ternyata tidak.

Beliau dalam keadaan sangat terbatas telah menyelesaikan S2 di Psikologi UI. Beliau juga memulai dan menjalankan bisnis kacang goreng ketika sudah sakit. Beliau menjalankan bisnis secara online. Beliau menulis buku meskipun belum tidak selesai. Bahkan, beliau juga sudah bercita-cita melanjutkan studi S3 di Psikologi UI. Karena maut lebih cepat menjemput. Maka, Buku belum terselesaikan dan belum sempat kuliah S3.

 “Dia mampu melewati masa-masa sulit, menerima, bersyukur, dan “menikmati” misi yang sedang Tuhan berikan kepadanya. –Andy F.Noya, Pembawa Acara Kick Andy” .

Begitu pernyataan host acara KICK ANDY di metro TV setelah mas Pepeng meninggal dunia. Karena Pepeng berhasil melewati dengan hidup “bermakna.”. Dia bahagia meskipun sakit. Dia mampu berkarya meskipun belum semua terselesaikan.

Saya hanya membayangkan kronologis kejadian ketika mas Pepeng divonis menderita Mutiple Sclerosis. Awalnya, Mas Pepeng merasakan rasa nyeri yang teramat sangat menyakitkan. Dia hanya berbaring di rumah. Dia tidak tahu kapan penyakit ini akan sirna. Karena penyakit ini sangat langka dan hampir-hampir tidak ada obatnya.

Pilihannya ada dua yaitu PASRAH atau BANGKIT ?

PASRAH,…..merasa kalah dengan penyakit yang diderita. Bersedih dan menyesali segala yang terjadi didirinya.  Atau, merasa berhak bersumpah serapah kepada Allah SWT. Karena kesialan yang ditimpakan ke beliau. Sungguh menyedihkan hidup mas Pepeng. Jika jalan ini dipilih.

BANGKIT,…….dia menerima (accept) atas keadaan yang diterima. Beliau menyadari bahwa penyakit ini ada di dalam tubuhnya. Penerimaan ini harus disertai dengan kebangkitan. Kebangkitan ini ditandai dengan tekad yang kuat. Bahwa, Hidup harus “Bermakna” bagi diri sendiri, orang lain maupun alam semesta.

“Bermakna“,  ini yang akan membawa kebahagiaan dalam segala keterbatasan. Sedih atau bahagia adalah pilihan. Alhamdulillah, Mas Pepeng memilih hidup “bermakna”. Beliau menjalani hidup yang bahagia dengan menjalani hidup “bermakna” hingga ajal menjemput.

Viktor E. Frankl, dalam buku Man’s Search for Meaning, menyatakan bahwa  peristiwa-peristiwa  semacam itu terjadi karena manusia mengalami “kehilangan makna” dalam hidupnya. Kehilangan makna dalam hidup menyebabkan orang merasa tidak memiliki “alasan” lagi untuk hidup. Oleh karena itu, Frankl menegaskan pentingnya “kehendak akan makna” dalam hidup manusia agar ia selalu memiliki alasan untuk hidup sampai kematian merenggutnya.

Barangkali, Itulah alasan Pepeng untuk selalu berkarya. Berkarya dalam keterbatasan. Agar selalu memiliki alasan untuk hidup sampai kematian merenggutnya. Rumusan “kebahagian” ala Frankl ini tidak hanya untuk yang sakit atau sedang terpuruk saja. Bahkan untuk yang sedang di puncak kejayaan dan kondisi kesehatan sedang puncaknya.

Kita sering mendengar jika banyak orang sukses namun merasa hampa. Tingkat bunuh diri yang tinggi bukan karena kesempitan ekonomi. Misalnya : Negara Jepang. Tingkat Bunuh diri yang tinggi disana bukan karena Jepang miskin. Penyebabnya disinyalir karena rasa hampa di hidup mereka. Rasa Hampa karena hidup yang tidak Bermakna.

Agar hidup bermakna maka tidak boleh egois. Agar tidak egois maka harus berbagi dengan sesama makhluk Tuhan (sesama manusia, Binatang, Tumbuhan bahkan Alam semesta). Hubungan kita dengan sekitar kita yang membuat hidup “bermakna”.

Soichiro Honda  adalah pendiri kerajaan Honda. Dia memilih hidup sederhana dan menyumbangkan kekayaan untuk kegiatan sosial kemanusiaan. Itu salah satu usaha dia agar hidup bermakna. Kegiatan tersebut disebut Filantropi.

Jika ingin menjadi filantropi tidak harus menunggu menjadi kaya. Kita tidak harus berbagi dengan orang lain hanya dalam bentuk uang. Berbagi bisa berbentuk apapun.Kita menyisihkan “sesuatu” untuk orang lain baik itu tenaga, pikiran atau harta. Sehingga hidup kita menjadi “bermakna”.

Hidup “bermakna” artinya hidup bahagia tanpa egoisme. Kuncinya adalah “berbagi”. Kita bisa berbagi apapun tidak hanya uang. Seperti Pepeng, dia berbagi simpati, empati, semangat, energi positif dan ilmu.

Hmmm……. Apa yang sudah saya “bagikan” untuk sesama?


Terjemahan : Ngangsu Kawruh —> Belajar

Sumber :

  1. http://dunsscotusofm.wixsite.com/mysite/single-post/2017/03/08/Manusia-Sejati-Menurut-Viktor-E-Frankl-Sebuah-Elaborasi-Singkat-atas-Buku-Mans-Search-For-Meaning
  2. https://psikotikafif.wordpress.com/2008/06/25/21/





Pembakaran Sampah (2)

Sampah anorganik dikurangi dengan membakar. Bagaimana dengan sampah organik? Awalnya, saya pakai cara menimbun. Saya buat lubang penampungan sampah di kebun.

Lubang ini berfungsi menampung sampah organik seperti : daun-daunan, batang dan akar. Sampah tersebut dikumpulkan di lubang itu untuk dirubah menjadi kompos.  Kompos adalah pupuk yang dihasilkan dari sampah organik.

Katalisator yang digunakan biasanya adalah EM4. Saya siram dengan EM4. EM4 sebagai katalisator untuk membentuk kompos. Sampah diurai menjadi unsur-unsur yang diperlukan oleh tanaman. Kompos terbentuk setelah proses pembentukan selama  1-2 bulan.

Kebun mayoritas ditanami pohon pisang. Karena setiap panen pisang selalu diikuti dengan tebang pohon pisang. Lubang penampungan lebih cepat penuh sebelum terbentuk kompos. Lubang sampah sudah membludak.

Proses dekomposisi ternyata belum menjadi solusi total untuk sampah organik. Arus sampah lebih besar darpada arus dekomposisi. Sampah masih selalu saja menggunung. Saya bisa bayangkan begitu repotnya bagi pekerja yang mengurusi sampah.

Walhasil, pembakaran menjadi solusi alternatif. Kelebihan sampah organik dibakar di dalam drum. Ternyata, membakar sampah itu tidak semudah yang saya bayangkan.

Saya beli drum baru lagi. Saya mengisi dengan sampah organik seperti daun pisang kering dan batang pohon pisang. Daun-daun pohon mangga mengering juga ikut dibakar.

Hasilnya lumayan. Saya dulu bingung buang sampah dari penebangan pohon pisang. Sekarang, saya bisa bakar langsung tanpa harus membuang di suatu tempat. But, timbul masalah baru yaitu polusi udara bersifat temporer. hehehehehehe….

zaki19482

Pembakaran Sampah (1)

Kalau sampah sudah terpisah antara organik dan anorganik. Sampah organik dikonsumsi oleh ayam dan sampah anorganik dijual oleh mbak warti sebagai tambahan penghasilan. Ternyata, sampah masih menggunung. Sampah organik maupun dan organik sama-sama menggunung. Hehehehhe….Pusing juga ya.

Sampah plastik yang mendominasi dari sampah anorganik. Kalau botol plastik maka masih bisa dijual.Apalagi yang merek *Q*A. Lha…. kalau bentuknya plastik pembungkus makanan, aluminium foil, sampah susu kotak, atau pembungkus apapun yang berasal dari plastik dan sudah jadi serpihan. Gimana coba……? Udah tidak laku dijual. Kita tidak mampu mendaur ulang.

Sampah anorganik yang paling sering muncul di rumah yaitu Tisu. Maklum, usaha kami adalah persewaan perlengkapan bayi. Tisu antiseptic adalah andalan kami untuk membersihkan peralatan. Maka menggununglah sampah tisu. Yang nomer dua adalah kotak susu UHT.

Anak kami lebih suka minum susu UHT daripada susu bubuk. Sampah yang dihasilkan dari susu UHT adalah kemasan kosong. Sampah jenis ini sama sekali tidak bisa dimanfaatkan. Karena ada sisa cairan susu di dalam kemasan. Ini rentan munculnya bakteri. Kalau mau dibuat handycraft juga berbahaya. Treatment yang sulit.

Snek makanan dalam kemasan biasanya dibungkus alumunium foil. Ini juga merepotkan. Kalau mau dibuat sebagai handycraft maka butuh dalam jumlah yang banyak. Padahal, kita beli makanan tidak sebanyak itu kecuali sebagai pengepul. Kalau handycraft rusak maka menjadi limbah lagi. Alumunium foil sulit dicarikan solusi mendaur ulang.

Saya punya teman yang mengolah limbah aluminium foil. Dia mengubah alumunium foil menjadi lembaran-lembaran. Alumunium foil mula-ula dipanaskan kemudian dipres menjadi lembaran alumunium foil. Lembaran-lembaran bisa menjadi pelapis meja atau counter-counter di front office hotel atau bank.

Lha, sampah aluminium foil di rumah kami Cuma sedikit. Solusi paling mudah ya dimusnahkan. Cara efektif memusnahkan sampah anorganik adalah pembakaran. Kalau ada yang tidak bisa dijual maka dibakar. Kita kumpulkan sampah anorganik kemudian dibakar. Niscaya sampah menjadi abu.

Saya minta tolong mas Giyoto untuk membelikan tong sampah dari drum. Kita kumpulkan sampah anorganik kemudian dibakar di dalam tong sampah tersebut. Sisa pembakaran sampah adalah abu. Abu tersebut dibuang melalui “pak sampah”.

Karena proses pembuangan sampah melalui proses pembakaran. Volume sampah yang diambiil “pak sampah” berkurang drastis. Sampah yang diambil sudah menjadi abu. Berapapun jumlah sampah anorganik yang dihasilkan di rumah kami. Kami akan bakar kecuali yang bisa dijual. Pengurangan volume sampah bisa sampai 90 % lebih.

Lumayan, sudah tidak menggunung lagi. Solusinya adalah “Pembakaran”. Sampah organik ? Hmm… Ada yang dibakar dan ada yang ditimbun. Ini untuk postingan selanjutnya.  Hehehehehe…..

 

Sampah Anorganik (Kanan) dan Sampah Organik (kanan / sedang dibakar)