JUST DO IT

Saya dan “mama ifa” sarapan bersama pagi ini. Kami mesti ngobrol sembari sarapan. Topiknya bisa tentang bisnis, kuliner, resep masakan, travelling sampai dengan anak. Dua hal yang jarang kami diskusi yaitu tentang politik dan aktivitas kantor saya.
Maklum, sudah full mother  dan saya kerja di kantor juga santai.hahahahaha……!!!! Kami tidak terlalu memusingkan kantor. Lebih suka bahas tentang makanan dan travelling.
Saya nanya ,  “ma, dulu belajar masak dari eyang putri ya?”. “kadang nanya-nanya resep sih”, jawabnya. “Tapi resep rahasianya ya kliping resep masakan”, tambahnya.
Kliping masakan itu adalah kliping yang dibuat olehnya sewaktu masih di SMA. Kliping berasal dari resep masakan yang ada di koran kompas dan tabloid nova era 90-an.
Sungguh, mama tidak kepikiran kalau kliping ini akan sangat berguna kelak. Mama khan masih belum terlalu suka masak saat itu. Dia hanya suka aja buat kliping. Prinsipnya adalah  Just Do It.
Satu dekade kemudian, dia buka klipingnya dan mulai mencoba untuk memasak. Semakin lama mama semakin ahli . Kliping tersebut sudah ditinggal. Mama terus memasak. Sumber ilmunya berkembang merambah dunia maya.
Kadang kita sering rewel. Kita hanya meributkan sesuatu, sibuk mendebat dan cuman mengkritik. Padahal, tidak melakukan apapun yang nyata.
Kita jadi NATO ( no action talk only). Kita sering berdebat tentang rencana dan aksi. Mana dulu yang didahulukan? Kayak ngomong tentang telur dan ayam, tidak ada realisasi.
Kita sangat ahli untuk hal ini. Kita adalah manusia Indonesia. Apakah kita seperti itu? Hanya kita sendiri yang bisa jawab. Pokoknya, Just Do It.
Kita kadang berpikir pendek atau tidak sabar, maunya instan. Manfaat tentu tidak hadir seketika.  Proses mesti panjang. Prosesnya dinikmati saja sembari berdoa. Semoga ada manfaat kelak di kemudian hari. Kalau yang kita lakukan positif, hasilnya Insya Allah Positif juga.
Surakarta, 29 Agustus 2014

Resep Bahagia

Kita pernah denger nama Pepeng. Komedian yang menderita sakit multiple sclerosis. Beliau hanya bisa terbaring di tempat tidur. Beliau meski sakit tetap menulis dengan laptopnya. Menulis memberi semangat hidup bagi dia. Ternyata, manfaat menulis bukan hanya memperdalam pemahaman juga menjaga kesehatan. Lho kok bisa?
Kakek saya menderita diabetes melitus sejak tahun70-an. Sampai beliau harus pensiun dini dari dinas kepolisian. Beliau kembali ke hobi lama yaitu bertani. Setiap hari bertani di sawah dan disiplin mengkonsumsi obat. Beliau meninggal dunia di akhir 90-an. Bertani ternyata membuat panjang umur dan badan jadi sehat.
Intisari dari dua kisah di atas bukan tentang menulis atau bertani. Intisari kedua kisah di atas adalah melakukan sesuatu yang anda sukai maka akan membuat anda bahagia. Bahagia membuat anda sehat. Itu karena kerja Hormon Serotonin.
Apa itu serotonin? Hehehehehe…..Buat tulisan besok aja deh. Ternyata mempunyai hobi itu penting. Dahulu, saya tidak memahami manusia yang menghabiskan tenaga, pikiran, waktu dan harta untuk hobi. Saya baru memahami bahwa hobi yang membuat hormon serotonin bekerja sehingga anda bahagia.
Hehehehehehe…..!!!!!!! Yang penting hobi yang manfaat untuk sekitar. Hobi mencuri? Jangan…..!!!!! Kleptomania kata orang. Hobi tidak harus mahal dan prestisius. Bisa-bisa hanya gengsi doang. Ukurannya memang tipis dan kasuistik.
Hobi itu yang positif. Ada yang hobi membantu sesama, sering disebut filantropi. Menulis memberi pencerahan. Berkebun menjaga lingkungan. Travelling membuat kita lebih toleran dengan perbedaan. Pokoknya punya hobi. Jangan sampai hidup anda kering dan mati gaya karena hidup yang tidak seimbang.
Surakarta, 27 Agustus 2014