MANUSIA PILIHAN

Sudah diketahui khalayak umum. Orang paling kaya di negeri ini adalah pengusaha rokok. Emang mantep bisnis rokok, jika produknya disukai pasar. Terutama bagi pasar Indonesia. Phillip Morris aja masuk Indonesia.

Berapapun harganya mesti dibeli. Kaya, miskin, tua muda sakit atau sehat, kalau udah ketagihan rokok. suuuuuuliiiit berhenti….!!! Pakde saya yang perokok berat pernah berkata begini :

Orang kalau merokok biasanya badan menjadi tidak enak alias sakit, kalau saya tidak merokok maka badan terasa tidak enak.
Ini kebiasaan buruk, jangan ditiru. Saya merokok sejak tahun 1950 sampai sekarang (2014). Jadi kalau tidak merokok maka badan terasa tidak enak.

Beliau merokok sehari minimal satu bungkus. Rokoknya sekarang adalah rokok putih. Dahulu, rokok Djarum atau Gudang Garam adalah kegemaran beliau. Sehari bisa 3 bungkus sewaktu muda beliau. Pokoknya TOP BGT ( teope begete), udah mirip lokomotif kereta api jaman jepang.

Beliau hampir tidak pernah sakit, cuman yang ringan. Beliau tidak mengidap penyakit berat semacam jantung, hipertensi atau diabetes. Anak-anaknya juga sudah sarjana semua. Hidupnya cukup meski tidak berlebihan. Ekonomi keluarga cukup stabil padahal istri cuma di rumah.

Memang, orang Indonesia itu pilihan. Setiap hari mengkonsumsi racun tetap saja sehat. Uangnya dihisap pabrik rokok tetap aja merasa cukup. Kalau uang cekak mesti ada anggaran rokok buat para perokok.

Kata mas Dani, “Indonesia Hebat”. Kata mbak Monda, kehidupan yang “hebat” harus mulai ditinggalkan. Saya hanya bilang, “manusia Indonesia itu manusia pilihan”. Paling tidak itu adalah ungkapan optimisme.

Saya bukan perokok. Saya tidak membeli rokok. Jika membeli paling banter buat oleh-oleh. Saya memilih hidup tanpa rokok lebih sehat secara jasmani maupun ekonomi. Paling tidak itu menurut saya.

Saya juga tidak menampik realita seperti pakde saya. Realita itu mungkin pengecualian. Namun, pengecualian di negara ini terlampau banyak. Buktinya, pabrik rokok tetap jaya meskipun hanya mengandalkan pasar konsumen dalam negeri.

Pengecualian itu sebuah keistimewaan bagi perokok atau sikap “masa bodoh” dengan efek merokok untuk kesehatan dan ekonomi. Hanya perokok yang bisa menjawab.

Yang jelas, himbauan bahaya merokok sepertinya mandul. Meskipun gambarnya sudah begitu sangar di bungkus rokok. Apalagi fatwa rokok, ,dipastikan tidak laku. Banyak kyai yang merokok juga je. Hehehehehe….!!!!

Kita suka meniru eropa kecuali satu hal ini. Manusia eropa sepertinya sudah membatasi privasi perokok mulai ruang khusus merokok, batasan usia, kadar nikotin, perdagangan tembakau dsb. Kalau yang diatas tidak kita tiru, meniru yang lain aja, hehehehe….!!!!

Kalau mau lebih jelas, saya mau nanya ke Teteh. Gimana aturan merokok di JERMAN?  Bebas/bebas terbatas/longgar seperti Indonesia? Gimana teteh? Hehehe….!!!

Advertisements

Author: zaki19482

Saya sedang belajar menulis, mencoba menulis segala sesuatu yang dapat dilihat, didengar dam dirasakan

6 thoughts on “MANUSIA PILIHAN”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s