Ifa Sudah Bisa Ngomong

 

Alhamdulillah, Ifa sudah bisa ngomong lancar. Masa penantian yang mendebarkan selama setahun. Biasanya, balita mulai ngomong di usia 1,5 tahun. Itu sudah lazim dan  emang seharusnya begitu. Anak dua tahun biasanya udah lengkap yaitu berjalan, ngomong meski terbata-bata dan suka nyanyi.

Lha, Ifa anak saya sedikit berbeda. hehehe….!!!!! Umur 14 bulan baru bisa berjalan padahal teman sebayanya sudah bisa jalan.  Pas umur 12 bulan, semua harap-harap cemas. Kok belum bisa jalan ya ? Apalagi para eyang makin deg-degan.

Ifa lebih seneng pakai bahasa isyarat di usia 1 – 2 tahun daripada bahasa lisan. Kami masih cuek, ya kebawa santai. hahahaha…!!!! Kami cuman punya keyakinan , saatnya bisa ngomong ya mesti ngomong. Cuman kapan?  hehehehehe…!!!!! Ifa kayaknya mengalami speech delay.

Kami akhirnya khawatir juga. Kekhawatiran bukan disebabkan keprihatinan terhadap si ifa tapi karena jengah dengan lingkungan sekitar. Lingkungan sekitar mulai para eyang, kakak, adik, saudara dan tetangga sebelah mulai bertanya-tanya. Arrgghh..!!! Udah Jengah, Gimana nih? Parah…!!! Hehehehe

Sungguh tidak manusiawi. Kita jadi pengin memaksa anak dan jika perlu mengindoktrinasi, ” Cepet fa bisa ngomong, Gimana jelasin ke mereka kalau ifa belum bisa ngomong”. hehehehehe…..!!!! Parah…!!!!

Kami mencoba merangsang si Ifa mulai dengan buku cerita  bergambar. Mama Ifa menceritakan isi buku tanpa rasa bosan. Flash card juga dipakai. Saya sering main flash card dengan ifa. Kalau main flash card. Saya yang ceriwis dan Ifa cuman senyum-senyum doang sambil nunjuk gambar di flash card.

Kita juga pakai poster. Seumpama saya menyebut, “Kereta Api”. Ifa langsung nunjuk gambar kereta api. Padahal, Gambar di poster campuran berbagai alat transportasi. Ifa udah tau tapi malas ngomong. Wah, kok bisa gini ya?. 😦

Si Ifa itu ngefans banget dengan THOMAS AND FRIENDS. Kalau nonton di Gadget selalu minta itu. Karena keseringan pakai buku gambar atau flash card dengan tokoh THOMAS AND FRIENDS. Kita juga punya posternya juga. Meskipun ngefans, tetep aja belum mau ngomong. Pusing dah….!!!!

Ifa suka tunjuk sana-sini, malas ngomong. Ifa cuman senyam-senyum dan menjelaskan sesuatu dengan gerakan tangan. Tambah khawatir aja deh.  Takutnya udah merasa nyaman dengan bahasa isyarat. Akhirnya,  kita semakin paham dengan bahasa isyaratnya.

Kami membawa Ifa ke Dokter Spesialis Anak. Dokter yang ikut bantu kelahiran Ifa.. Kami mencoba konsultasi untuk langkah terbaik buta Ifa. Takutnya ketelatan. Bicara salah satu kemampuan dasar manusia.

Ifa dites dengan empat kemampuan dasar anak. Namanya tes apa gitu? Saya lupa. Ifa dites untuk kemampuan motorik halus, motorik kasar, interaksi dan wicara. Dokternya duduk selonjoran disebelah Ifa. Bu Dokter mencoba berkomunikasi dengan Ifa.  Asisten bu dokter sibuk menyiapkan peralatan.

Tes ini berisi serangkaian perintah untuk dikerjakan oleh Ifa. Ifa dites kemampuan motorik halus. Wah, Dia jagonya. Mamanya khan usaha rental mainan, Ifa paling suka main lego atau balok ELC. Dia suka menyusun balok ELC atau Lego.

Tes motorik kasar. Dia lolos namun biasa saja. Ifa disuruh loncat-loncat masih kesulitan. Dia ragu untuk meloncat, naik tangga juga belum kokoh. Kalau sekarang udah bisa lompat-lompat. Dia suka pamer kalau bisa lompat. Minta tepuk tangan kalau bisa lompat. hehehehehe…!!!!

Tes Interaksi, Ifa juga lolos. Memang, Ifa agak pemalu tapi mampu berinteraksi. Interaksinya ya seperti tadi, bahasa isyarat. Interaksi khan tidak hanya ngomong. Sesuatu yang mendasar adalah berkomunikasi dengan orang lain.  Bahasa Isyarat ini pula yang menghambat untuk ngomong. Menurut pendapat saya. hehehehe….!!!!

Terakhir, tes wicara. Hehehehehe…!!!! Macet dah. Ifa nggak mau ngomong sama sekali. Usia sudah 21 bulan. Dia masih macet aja. hehehehehe…!!!! Kita agak sedih. Bu dokter menyarankan mengikuti terapi wicara. Seminggu dua kali, kami ngikut aja.

Hari pertama, ifa suka mengikuti  terapi. Dia suka di tempat terapi karena banyak mainan. Ini seperti di rumah aja. Walhasil, terapi hari pertama gagal. Karena ifa nggak mau mengikuti program tetapi cuman mau main-main. Terapisnya pusing untuk menaklukan Ifa. Ifa sama sekali nggak mau ikut program terapi cuman main-main saja.

Sesi kedua lebih parah. Ifa belum diterapi dan baru masuk ruangan udah nangis sejadi-jadinya. Ifa tadi lihat mainan di luar pengin main disana. Ifa nggak mau disuruh-suruh dalam program terapi. Terapis mencoba merayu ifa tetap nggak bisa.

Sesi ketiga, Udah hancur-hancuran. Terapis nyerah nggak sanggup menangani ifa. Ifa nangis minta main di playground saja. Terapis merekomendasikan teman sesama terapis untuk menerapi Ifa di rumah.

Kita manggil terapis ke rumah. Belum apa-apa, Ifa nangis sejadi-jadinya. Ifa udah trauma kejadian di klinik. Ifa nggak suka kondisi formal. Ifa cuman mau main saja.  So, terapis cadangan terusir juga sebelum bekerja. Kami harus  tanggung jawab dong. Meski nggak kerja ya tetep dibayar. Terapis pulang tanpa kerja tapi bawa hasil sambil senyum-senyum. Hehehehehe…!!!! Ini anak maunya apa seh? 🙂

Pusing tujuh keliling dan malu dengan bu dokter. Karena tidak bisa menjalankan saran beliau. Akhirnya, saya ambil langkah alternatif yaitu ikut Playgroup. Playgroup yang kita pilih bertema Alam. Karena Ifa lebih suka bergerak bebas. Jadi,lebih banyak main dan interaksi dengan temannya. Nggak ada kelas, nggak ada situasi formal. Adanya cuman main, main dan main. Itu favorit Ifa

Ifa mengikuti playgroup dengan harapan berinteraksi dengan teman sebayanya yang sudah bisa ngomong. Kalau kumpul dengan mereka semoga jadi terangsang  ngomong. Apalagi guru-gurunya mestinya juga cerewet, secara khan guru Playgroup. hahahahaha…!!!!  Itu lebih terstimulus.  Itu cuma teori ngawur saya. Hehehehehe…!!!

Hari pertama dilalui dengan mulus. Ifa cenderung diam saat itu. Ifa mengamati aktivitas di kelas. Kelasnya tidak ada tembok yang mengelilingi. Kelasnya adalah rumah panggung seperti di teras rumah . Murid-murid duduk lesehan tanpa meja dan kursi. Pandangan luas dan bebas, angin semilir ke dalam dan keluar kelas.

Ifa masih terasa asing namun penasaran. Alhamdulillah, Ifa nggak menangis dan mencoba mengikuti segala kegiatan. Ifa masih cenderung mengamati saja. kegiatannya mewarnai, menempel, bernyanyi.  Lokasi favorit ifa di sekolah adalah kebun belakang. Ifa bisa melihat ayam, kura-kura, ikan dan berbagai hewan disana.

Kalau mau sekolah. Ifa minta ke kebun belakang Playgroup dulu . Dia mau lihat polah tingkah hewan . Bu guru cukup sabar untuk menemani si Ifa. Bu guru telaten menanggapi celoteh Ifa tentang hewan yang ada. Kalau puas, Ifa baru mau masuk kelas. Pokoknya, Semau gue banget sekolahnya tetapi difasilitasi oleh Playgroup.

Ifa cenderung pendiam. Ifa lebih banyak mengamati. Ifa mengiktui kegiatan cuman yang disenangi saja. Ifa mengamati gurunya ngomong, temannya berceloteh dan mendengar nyanyian.  Sekarang, Ifa sudah suka nyanyi di rumah. Di sekolah? Masih pendiam. hehehehehehe….!!!!

Ifa nggak merasa belajar atau mengikuti terapi wicara. Ifa berangkat ke Playgroup namun merasa berangkat ke tempat bermain. Dia nggak punya perasaan terbebani. Pikirannya cuman nanti bermain disana. Nyanyi, main gunting, main tempel, main lego, main play dough, main air dan main tanah.

Kita menunaikan haji ketika ifa sudah terbiasa dengan aktivitas di Playgroup, kira-kira setelah dua bulan gabung ke Playgroup. Rasanya lega, karena Ifa sudah menemukan aktivitas yang menyenangkan.

Para eyang tinggal mennyesuaikan dengan jadwal di Palygroup. Selama kami menunaikan ibadaha yang menjaga Ifa itu para eyang secara bergantian. Oh ya, Ifa masuk Playgroup cuman tiga hari dalam seminggu. Hehehehehe…!!!!! khan yang ikut balita. nyantai aja.

Kami menunaikan haji dipenuhi dengan doa agar Ifa segera bisa ngomong. Usianya sudah dua tahun lebih. Rasanya sudah pasrah aja. Lha mau gimana lagi, hehehehe…!!!! Terapisnya aja diusir. Nggak ada obat mujarab yang membuat Ifa terus bisa ngomong.

ngomong itu butuh latihan saja. Cara melatihnya? hehehehehe….!!!!! Semoga dengan ikut Playgroup terstimulus untuk ngomong. Kalau ini lebih mendebarkan. Ifa khan sudah dua tahun. Ifa meski dijaga para eyang namun selalu ditemani pengasuhnya.

Para Eyang masih aktif semua. Kalau Ifa tidak punya kegiatan rutin. Kasihan para eyang, kegiatannya bisa terganggu cuman menjaga Ifa. Ifa jadi tertantang untuk ngomong dengan orang lain. Ayah dan Mama yang memahami bahasa isyaratnya tidak berada disisinya cuma ada “mbak”-nya.

Kita masih optimis kalau Ifa ngomong dengan lancar. Rasa optimis ini bukan berdasarkan “ngecap” saja. Karena Ifa sudah diperiksa Dokter. Dokter menyimpulkan kalau Ifa normal cuman kemampuan wicara yang lambat. Ifa membutuhkan lingkungan yang mendukung untuk ngomong makanya dimasukan Playgroup. Itu kesimpulan kita selaku orang tuanya. hehehehehe…!!!!

Ifa bisa terlambat juga karena kesalahan kita. kita sebagai orang tua membiarkan Ifa larut dalam buaian Tablet Smartphone. Sejak mama Ifa resign dari Dosen PNS, Kita membangun usaha yaitu Rental Peralatan Bayi dan Mainan Anak, namanya mainan solo.

Kebetulan, Kita mulai merintis  ketika Ifa masih berumur dibawah dua tahun. Agar nggak nganggu aktivitas usaha. Ifa dikasih mainan Tablet. Kita kasih lagu dan game anak-anak. Ifa keterusan dan kurang berinteraksi dengan lingkungan sekitar.

Itu awal masalah. Ifa merasa cukup dengan dunianya yaitu  Gadget. Ifa merasa tidak butuh teman. Karena Gadget sudah cukup menemani. Itu berbahaya sebenarnya. Cuman, enak juga tidak diganggu anak. hahahahahaha…!!!!! Egois lah saya sebagai orang tua. Maaf ya Ifa…..!!!! 😦

Kita pulang Haji. Ifa udah mulai ngomong.. Mama…Ayah….!!!!  Ifa mulai ngomong satu kata, dua kata dan seterusnya. Ifa mulai mencoba mengungkapkan dengan kata-kata. Ifa mulai nambah dengan dua kata diteruskan satu kalimat sederhana. Ifa mulai “ledakan kata-kata”. Itu istilahnya mama Ifa. Ketika suka berbicara terus menerus meski tidak nyambung.

Alhamdulillah, Ifa dinyatakan sudah bisa ngomong di usia 2,5 tahun oleh kami. Ifa sudah bisa menyampaikan keinginannya dengan kalimat sederhana yang teratur dan nyambung. Hufft…!!!! Lega rasanya. Ternyata, Ifa jadi cerewet. Apapun dikomentari dan dilaporkan. “Ma, bunganya merah”.” Yah, ada bis putih”, “Ma, Ifa makan”, dsb.

Kita punya mainan Roller Coaster yang posisinya agak tinggi. Ifa naik kesitu dan menyanyi lagu favoritnya “Cicak di Dinding”. Selesai nyanyi, kita disuruh tepuk tangan. Ifa hafal lagu Cicak di dinding, Burung Kakatua, Topi saya bundar, Naik ke Puncak Gunung.

Karena masih main Gadget. Ifa hafal sendiri angka 1 sampai 10. Karena sering nonton “Baby First”, ifa sudah melafalkan angka 1 sampai 10 dalam bahasa Inggris. Ifa sudah hafal abjad A sampai Z. Itu semua dia pelajari sendiri dari TV dan Gadget. Kembali ke gadget lagi. Parah…!!!! hehehehehe…!!!!

Kita sama sekali tidak mengajari angka dan huruf. Karena sudah komitimen dengan istri bahwa Ifa tidak akan diajari Calistung ( Baca, Tulis Hitung ) sampai lulus TK. Karena kita nggak mau Ifa terbebani. Kita cuman mengenalkan aja dalam format bermain.

Kalau masuk SD disyaratkan harus bisa Calistung. Saya mau nyari sekolah yang tidak mewajibkan bisa Calistung  . Pokoknya masa pra SD adalah masa bermain, bermain dan bermain…!!!!

Pelajaran yang bisa diambil dai kasu Ifa sangat banyak. Saya merenung ternyata kita harus tenang dan jangan panik yang berkaitan dengan perkembangan anak. Konsultasi dokter jika ada yang ganjil, keyakinan tinggi bahwa setiap anak itu unik.

Semua anak itu hebat mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing. kita harus melihat dari kacamat positif dan optimis. Nggak ada anak bodoh. Semua anak mempunyai keunikan, kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Makanya, menghadapi anak kita harus : Santai , Nrimo, Syukur dan  Optimis saja.

 

 

 

Advertisements