Eyang Pram yang Jenius

https://zahapedia.files.wordpress.com/2012/10/rumah-kaca.jpeg?w=840

Deposuit Potentes de Sede et Exaltavat Humiles

(Dia Rendahkan Mereka yang Berkuasa dan Naikkan Mereka Yang Terhina) hal : 646

 

Karya Eyang Pram yang ini  “melewati batas zaman”. Kita disuguhi cerita tentang Minke pada tetralogi sebelumnya ( Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa dan Jejak Langkah) kemudian diakhiri dengan pembuangan Minke ke tanah Maluku. Proses penangkapan sampai dengan pembuangan Minke dilakukan oleh Komisaris Besar Polisi Hindia yang berdarah Ambon yaitu Jacques Pangemanann.

Rumah Kaca sebagai bagian akhir dari tetralogi ternyata tidak bercerita tentang Minke, namun tentang Jacques Pangemanann. Perwira Polisi yang menangkap dan membuang Minke ke Maluku. Jacques Pangemanann adalah pribumi asli dari Manado yang diangkat anak seorang apoteker berkebangsaan prancis. Maka, dia menyandang nama  Jacques.

Jacques Pangemanann diceritakan setelah membuang Minke kemudian pensiun dari dinas Kepolisian. Masa Pensiun bukan diisi bersantai dengan keluarga namun diangkat sebagai staf ahli Algemene Secretarie. Staf Ahli yang menangani operasi khusus untuk menghambat pergerakan organisasi pribumi.

Kisah Spionase awal abad 20, Eyang Pram menceritakan bagaimana cara Pangemanann menghambat Organisasi Pribumi dengan cara halus sampai cara paling licik. Novel ini sangat terasa paling berat diantara tetralogi tersebut. Operasi Intelijen dilakukan dengan riset , analis, diskusi dan eksekusi di lapangan. Mang, kayak gini kerja organisasi Intelijen semacam CIA ?

Operasi Intelijen semacam ini kerap dilakukan dinas intelijen manapun. Skenario teror untuk menciptakan kondisi yang diinginkan oleh dinas intelijen. Model operasi intelijen yang dilakukan organisasi Intelijen  modern. Intelijen tdak hanya mengendus potensi perlawanan negara. Intelijen merekayasa kondisi sosial untuk keamanan negara.  kepiawaian Eyang Pram teruji dalam meramu cerita novel ini.

Alur cerita sebagian diisi tentang diskusi, menganalisa dan menyimpulkan  yang dilakukan oleh Pangemanann. Eyang Pram ingin menyampaikan gagasan tentang  Indonesia melalui tokoh si Pangemanann. Pemikiran, Analisa, Pendapat dan tindakan si Pangemanan adalah opini Eyang Pram tentang Indonesia.

Indonesia telah merdeka secara resmi dan syah. Eyang Pram bercerita bahwa kemerdekaan itu baru sebatas ragawi belum sampai dengan jiwa. Karena eyang Pram menilai bahwa jiwa bangsa Indonesia sama sekali tak berubah sejak zaman Belanda datang ke Indonesia pertama kali sampai saat ini.

Manusia kompromistis, penyuka keselarasan dan tidak berprinsip. Coba anda  baca bagian 3 berisi diskusi Pangemanann dengan Tuan L mengenai orang jawa dan kejawen. Terlihat jelas pemikiran Eyang Pram namun tersamar dengan nama Pangemanann. Itu pendapat saya lho.

“Pertama-tama karena bangsa ini mempunyai watak mencari kesamaan, keselarasan, melupakan perbedaan, untuk menghindari bentrokan sosial. Dia tunduk dan patuh pada ini sampai kadang tak ada batas . Akhirnya dalam perkembangannya yang sering, ia terjatuh pada satu kompromi ke kompromi lain dan kehilangan prinsip-prinsip. Ia lebih suka penyeseuaian daripada cekcok urusan prinsip” (hal : 125)

 “Orang Eropa lebih kecil jumlahnya , tapi menang karena prinsip” ( hal : 128)

 Inilah ketajaman mata hati Eyang Pram. Beliau meneropong manusia Indonesia secara sosiologis maupun antropologis. Beliau tuangkan dalam bentuk novel bukan karya ilmiah yang membosankan.

Analisa Eyang Pram ini masih sangat up-to-date  sampai saat ini.  Jacques Pangemanann adalah gambaran manusia pribumi a.k.a WNI dari dahulu sampai sekarang. Pangemanann mengantar Minke ke Ambon dan meningggalkan surat kepadanya. Minke adalah sahabat dan guru bagi seorang pangemanann.

Minke adalah orang yang terhormat dalam kekalahannya. Pangemanann adalah seorang hamba Gubermen secara pribadi tidak ikut campur dalam menentukan pembuangan Minke ke Maluku. Pangemanann adalah pesuruh dari Gubermen.

 Pada akhir catatanku sendiri aku tulis :”Hamba Gubermen ! Orang yang selalu bertanggungjawab dan merasa bertanggungjawab kepada Gubermen, tak pernah bertanggungjawab sendiri kecuali demi keselamatan dan kesenangan hidupnya (hal : 132)

 Pangemanann diceritakan mengalami dilemma karena harus menghancurkan bangsanya sendiri. Pangemanann tak sanggup menolak pekerjaan “kotor” ini karena tuntunan duniawi mengalahkan idealisme dia sebagai seorang terpelajar lulusan Universitas Sorbonne yang termasyhur di Prancis.

Eyang Pram menggambarkan orang Indonesia dengan begitu pas. Manusia yang sangat complicated. Manusia yang berhasrat atas kedudukan dan kenyamanan yang sering bertentangan dengan nuraninya sendiri namun terus dijalani. Karena harta, tahta dan wanita adalah segalanya.

Indonesia tidak bergerak maju bukan karena manusia Indonesia yang bodoh. Manusia Indonesia adalah manusia yang pintar dan cerdik. Indonesia tidak maju disebabkan kerapuhan mental.

Mental penikmat, penakut  dan tidak berprinsip  Manusia yang mengandalkan kompromi meskipun tidak adil. Alih-alih bangsa lain, yang dirugikan adalah saudaranya sendiri yaitu sesama pribumi . Ini adalah cerminan dari si Pangemanann.

Sejarah mempunyai versinya masing-masing. Sejarah  tergantung rezim yang berkuasa saat itu. Eyang Pram juga memiliki versinya sendiri dari Sejarah Bangsa Indonesia. Syarekat Dagang Islam menurut versi Eyang Pram didirikan oleh Raden Tirto Adi Sudiro atau Minke. Kemudian baru diserahkan ke Tuan Samadi yaitu H. Samanhudi

Padahal, Pendirian SDI menurut versi pemerintah tercantum di mata pelajaran Sejarah mulai dari SD – SMA. SDI didirikan di Surakarta oleh H. Samanhudi di Surakarta. Itu juga yang diakui oleh Pemerintah . Versi Eyang Pram, SDI didirikan di Buitenzorg kemudian baru dipindahkan ke Solo. Maka, Eyang Pra sangat berhati-hati dalam penulisan tahun dalam novel-nya.

Kecenderungan Eyang Pram terhadap tokoh berhaluan kiri menonjol dalam  “Rumah Kaca” ini. Eyang Pram sering memuji-muji tokoh misal : Sneevlit, Marco dan Semaoen.  Mereka adalah tokoh berhaluan kiri embrio dari Paham Komunis di Indonesia.

Sneevlit adalah pendiri ISDV, cikal bakal Partai Komunis di Indonesia. Pangemanann menyatakan bahwa Sneevlit lebih progresif daripada Boedi Moeljo atau Syarikat Islam. Sneevlit dkk lebih berbahaya karena memakai sebuah aliran filsafat baru ( Komunis????) yang belum dipahami sepenuhnya oleh Pangemanann.

 Mereka adalah dari Golongan nihilis yang terkutuk. Mereka memang mampu mengekspresikan serta berpikir sangat logis dan membikin orang tersudut tak berdaya. Jelas, mereka berasal dari suatu aliran filsafat baru yang belum kukenal selama ini. Atau lebih tepat pernah kukenal tetapi telah kulupakan ( hal : 388)

 Marco adalah nama lain dari Markodikromo. Dia adalah tokoh sayap kiri dari Syarikat Islam yang berhaluan sosialis. Marco banyak bergerak di daerah vorstlanden ( Surakarta, Yogyakarta dan Semarang). Tokoh ini adalah didikan Minke yang sangat militant.

Semaoen adalah tokoh yang masuk ke dalam “Rumah Kaca “ si Pangemanannn. Dia adalah tokoh muda progresif. Semaoen adalah tokoh VSTP ( Serikat Buruh Kereta Api) yang selalu menggelorakan perlawanan terhadap  Gubermen. Pada akhirnya bersama Alimin dan Darsono, Semaoen mendirikan Syarikat Islam Merah ( SI Merah) yang berhaluan komunis.

Indsiche Partij adalah partai pertama yang dibentuk di bumi Hindia ini. Pendirinya adalah Douwager alias Douwes Dekker, Wardi alias Suwardi Suryaningrat dan Tjipto alias dr Tjipto Mangunkusumo. Ketiga-tiganya atau D-W-T adalah manusia tanpa pengikut. Mereka pemberani, pintar namun tidak memiliki pengikut. Paling tidak begitu menurut Pangemanann.

Lebih mengenaskan lagi yaitu Boedi Moeljo. Nama samaran dari Boedi Oetomo. Pemimpinnya sudah menjadi dokter Rumah Sakit Zending di Blora Jawatengah. Boedi Moeljo hanya mendirikan sekolah yang menghasilkan Priyayi yang akan selalu setia kepada Gubermen.

Syarikat Islam dipimpin oleh Mas Tjokro. Seorang “Kaisar Tanpa Mahkota”. Dia menjadi pimpinan SI bukan karena dipilih pengikutnya. Karena ketakutan H Samadi a.k.a H.Samanhudi kepada Gubermen. Pangemanann yang semakin gencar memberangus musuh Gubermen mengakibatkan H Samadi ketakutan dan harus menyerahkan ke Mas Tjokro. Mas Tjokro adalah nama lain dari HOS Cokroaminoto.

Mas Tjokro tidak mempunyai pengikut yang riil seperti Minke. Mas Tjokro berkeliling Jawa tidak untuk mengunjungi pengikut-pengikutnya namun ke pesantren-pesantren. Mas Tjokro mendapat fasilitas mobil dari Syarikat Islam berbeda dengan Minke yang pejuang miskin yang militan. Padahal, Mas Tjokro adalah mentor Presiden Soekarno yang akan memimpin kemerdekaan Indonesia.

Eyang Pram lebih menonjolkan tokoh-tokoh dari haluan kiri. Infiltrasi ajaran komunis dalam novel ini memang sulit dibuktikan. Simpati eyang pram kepada tokoh-tokoh haluan kiri memang kentara. Padahal Republik ini dibangun oleh seluruh rakyat Indonesia baik haluan kiri, kanan maupun tengah.

Namun, hal itu adalah wajar dan syah. Penulis boleh memasukkan apa saja yang dikehendaki. Karena setiap penulis mempunyai misi sendiri. Sebagaimana Hamka yang mempunyai misi Islam-nya.

Itu semua tidak mengurangi keunggulan “Rumah Kaca”. “ Rumah Kaca” selangkah lebih maju dari zaman dilihat dari alur cerita, intrik dan pesan yang terkandung di dalamnya. Apakah karena ini maka ORBA melarang peredaran karya Eyang Pram? Aku Tidak Tahu. hehehehe….!!!!

 

 

Advertisements

Author: zaki19482

Saya sedang belajar menulis, mencoba menulis segala sesuatu yang dapat dilihat, didengar dam dirasakan

3 thoughts on “Eyang Pram yang Jenius”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s