APAKAH JALAN KEHIDUPAN KITA TELAH MENIKUNG? ???

JALAN MENIKUNGSUMBER : SNIPVIEW

Harimurti beranjak tua. Harimurti dan Istri hidup damai di rumah sederhana khas Jawa di daerah Jakarta. Harimurti bekerja di sebuah penerbitan besar di Jakarta. Kehidupannya serasa lengkap dengan kehadiran Eko. Anak semata wayang yang disayang oleh Harimurti dan istrinya.
Tomi (anak tertua dari Noegroho) juga telah menua. Dia menjelma menjadi Konglomerat era Orde Baru. Adiknya, Marie yang bersuamikan Marijan juga menjelma menjadi pengusaha besar meskipun tidak sekaya kakaknya. Konglomerat era orde baru yang tidak jelas bisnisnya.
Konflik keluarga Sastrodarsono sudah menginjak generasi ketiga. Pendiri Trah Sastrodasrsono adalah generasi pertama, Anak-anak Sastrodarsono adalah generasi kedua dan para cucu Sastrodarsono adalah generasi ketiga. Mereka hidup dimasa kekuasaan dan kekayaan berpihak ke trah Sastrodarsono.
Dwilogi Umar Kayam melintasi empat zaman. Zaman pra kemerdekaan, zaman kemerdekaan, orde lama dan orde baru. Zaman pra kemerdekan diwakili oleh Sastrodarsono. Pelopor trah sastrodarsono yang berjasa. Dia bahkan tidak menyadari bahwa anak keturunannya akan menjadi orang besar.
Zaman kemerdekaan diwakili oleh anak-anak Sastrodarsono. Mereka sebagai priyayi baru yang tidak hanya sebagai guru. Mereka adalah tentara, guru dan pegawai pemerintahan. Mereka berpikir sederhana hanya bekerja untuk keluarganya. Noegroho meskipun seorang TNI namun dia menjadi tentara karena kebetulan saja bukan kesadaran akan Kemerdekaan.
Zaman orde lama adalah zaman keemasan anak-anak sastrodarsono. Anak-anak Sastrodarsono sudah menjabat sebagai pejabat tinggi di negeri ini. Ada yang menjadi dirjen, guru senior maupun pejabat di kementrian dalam negeri.
Zaman orde baru adalah era kejayaan Trah Sastrodarsono. Cucu-cucu sastrodarsono menjadi berbagai profesi mulai Editor sampai dengan konglomerat di negeri ini. Tomi adalah anak Noegroho. Dia menjadi kaya raya di tengah kemiskinan merajalela di negeri ini. Konglomerat yang berbisnis dengan fasilitas pemerintah. Dia sangat kaya namun tidak jelas asal kekayaannya.
Ironis, Perintis kemerdekaan adalah negarawan atau tokoh bangsa yang berjuang dengan keikhlasan harus tersingkir. Ketika perjuangannya telah berhasil. Kebanyakan kisah mereka adalah memilukan. Tomi, anak seorang kolonel yang cuma di garis belakang era perjuangan 45, menikmati kemerdekaan dengan “rakus”. Dia yang “menikmati” kemerdekaan sekaligus merusak.
Apabila Sastrodarsono masih hidup maka dia akan menangis. Memang, Satrodarsono ingin anak keturunannya sejahtera. Kesejahteraan yang hakiki yaitu tanpa menindas manusia yang lain. Kekayaan yang menyejahterakan sekitarnya bukan menghisap.
Tomi, cucu sastrodarsono, mempunyai usaha tak jelas namun sangat kaya raya. Mereka adalah bagian dari konglomerasi yang dicanangkan orde baru namun dinikmati hanya segelintir manusia. Trickle Down Policy itu kata para ekonom. Bisnisnya bisa macam-macam. Proyek yang didapatkan dengan lobi kesana kemari.
Eko, cicit dari Sastrodarsono, tidak mampu memahami apa yang terjadi di keluarga besarnya. Karena lama tinggal di Amerika Serikat. Eko mempunyai istri orang Yahudi-Amerika. Eko bahkan sudah bekerja dan menetap di Amerika serikat. Eko hidup dengan nilai-nilai bangsa Amerika.
Suli ( ibu si Eko) merasa resah. Anaknya telah berjalan jauh. Eko sudah melewati jalan menikung sehingga terancam tercerabut dari akarnya yaitu Indonesia khususnya Jawa. Manusia dengan wajah Jawa namun berbudaya Amerika. Mereka bukan menjadi orang Jawa. Tetapi, Orang Amerika yang berwajah Jawa.
Budaya adalah paduan pola pikir dan perilaku manusia. Pola pikir manusia yang menggerakan perilaku manusia. Perilaku ini membentuk budaya. Budaya yang berkembang di suatu daerah tertentu, dalam hal ini jawa. Setiap memiliki kearifan. Suli khawatir jika eko kehilangan kearifan sebagai orang jawa yaitu kepriyayian.
Keresahan ini mewakili keresahan trah Sastrodarsono. Trah Sastrodarsono telah berjalan jauh dari filosofi priyayi. Filosofi priyayi adalah menolong sesama dan peduli budaya sendiri. Priyayi bukan manusia serakah. Priyayi adalah manusia pengayom sesama khususnya keluarganya.
Tomi telah berjalan jauh sampai melewati jalan menikung meninggalkan filosofi priyayi. Konglomerasi yang dia jalani sangat rentan. Rentan penindasan sesama dan menghisap sisi kemanusiaan manusia. Eko juga telah melewati jalan menikung dengan nilai-nilai Amerika sehingga kehilangan kearifan lokal yaitu Jawa.
Umar Kayam melihat pertanda zaman saat itu. Manusia yang mulai kehilangan kearifan yang berupa jatidiri. Jatidiri sebagai manusia, negara, agama dan budaya (jawa). Jatidiri tersebut hanya tersisa sebagai simbol saja. Simbol yang timbul hanya karena garis keturunan.
Ini adalah nilai lebih novel yang ditulis para maestro semacam Eyang Pram atau Umar Kayam. Mereka mampu “membaca” alam semesta melalui gejala alam yang alami atau sosial. Dwilogi Umar Kayam bertautan dengan Tetralogi Pramoedya Ananta Toer dalam pembacaan gejala sosial. Gejala sosial yang terjadi di zamannya. Kadang, mereka meramal yang akan datang.
Mereka melakukan pembacaan alam dengan indah. Mereka menyampaikan dengan bahasa yang indah dan halus. Ini lepas dari latar belakang ideologi mereka. Mereka selalu memiliki misi bukan hanya sekedar “nyastra”. Mereka adalah “pembaca” zaman dan menyampaikan ke masyarakat.
Kelemahan novel “Jalan Menikung” sekali lagi adalah “jawa sentris”. Orang jawa mudah memahami. Namun, buat yang lain? Setting masa lalu tetapi bisa jadi pijakan masa depan. Novel ini kurang unsur “kejutan” maka kurang seru. Novel ini sederhana. Novel ini bercerita tentang kompleksitas manusia.
Novel ini tidak bisa jadi hiburan. Konflik hanya konflik keluarga. Tidak hanya unsur protagonis dan antagonis yang tajam. Novel ini lebih cocok untuk renungan daripada hiburan. Sekali lagi, Novel “pembaca” gejala alam. hehehehehehe….!!!!! Umar Kayam mungkin menginginkan bahwa kita tidak terlalu “menikung” dalam jatidiri hidup kita.

Advertisements

8 thoughts on “APAKAH JALAN KEHIDUPAN KITA TELAH MENIKUNG? ???

  1. hmmm saya belum pernah dengar tentang umar khayam, ananta noer dll. saya sendiri juga sama seperti eko, orang jawa yang suka membaca karya karya orang amerika seperti dan brown, danielle steel dll

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s