Ironi Aia Kawa

Kata Penjual Aia Kawa begini,
”Dulu, orang tidak boleh minum kopi yang boleh hanya Belanda, Kita minum air daun Kopi”.

 
Saya bertanya ke mbah gugel dulu sebelum menulis di postingan kali ini. Karena penyebutan minuman dari daun kopi ini bermacam-macam. Penjual di Ngarai menyebut “kopi kawa”.  Ada yang bilang “kopi kawa daun”.

Kalau disebut teh tidak tepat, karena dari pohon kopi. Jika disebut kopi juga tidak pas karena berasal dari daun pohon kopi. Ya sudah, saya sebut saja “Aia Kawa”. Saya ambil nama itu dari Republika. Kalau salah, mohon ada yang membetulkan. Aia Kawa cukup unik. Hehehehe..!!!

image
Penyajian "aia kawa" secara lengkap

Saya tahu minuman ini ketika di Ngarai Sianok bagian bawah. Biasanya, Kita menikmati Ngarai Sianok dari atas, di Taman Panorama Bukittinggi. Karena bisa melihat secara utuh. Uda Nedi mengajak yang sedikit berbeda yaitu menikmati Ngarai Sianok dari bawah. Lokasinya dekat dengan “Janjang Saribu”.

image
Janjang Saribu di Ngarai Sianok

Kalau Ngarai Sianok sudah terkenal seantero Nusantara. Jika anda masih punya uang kertas seribu rupiah era 1980-an. Gambar depan yaitu DR Soetomo maka bagian belakang gambar Ngarai Sianok. Ngarai ini terbentuk karena proses alam. Bisa dibayangkan bagaimana dahsyatnya pembentukan Ngarai Sianok.

image
Sisi Lain dari Ngarai Sianok

Kedai yang jual Aia Kawa ini terletak di seberang dari bale-bale di foto tersebut. Lokasinya diatas Janjang Saribu.

image
Logonya mirip STARBUCKS 🙂

Kata Penjual Aia Kawa begini,”Dulu, orang tidak boleh minum kopi yang boleh hanya Belanda, Kita minum air daun Kopi”.  Wesss,…!!! Ternyata Aia Kawa menyimpan sebuah kisah getir dari sebuah Bangsa. Ngerih…..!!!!

Negara kita khan penghasil kopi terbaik di Dunia. Menurut saya lho, hehehehe…!!!! Misal : kopi Gayo Aceh. Kopi Arabika yang masih ada aroma tanah basah. Apalagi Kopi Luwak Arabika dari Gayo. Kopi Arabika yang telah mengalami fermentasi oleh hewan luwak.

Kopi yang ditanam di kebun kita sendiri but kita tidak boleh menikmatinya. Kita hanya boleh minum air seduhan daunnya. Sungguh tragis saat itu. Apalagi cara minumnya yang lebih dramatis yaitu memakai batok kelapa.  Ini bisa melambungkan angan-angan di zaman Penjajahan Kumpeni Belanda.

Aia Kawa dibuat dari daun kopi yang disangrai. Cara menyangrai yaitu dengan meletakkan daun kopi diatas bara api selama 12 jam. Cara membuat aia kawa dengan menyeduh air panas. Finally, dituangkan ke batok kelapa.

Menurut sejarah, Ini akibat program TANAM PAKSA atau CULTUURSTELSEL yang diprakarsai oleh Gubernur Jenderal Johannes Van Den Bosch. Kerajaan Belanda saat itu sedang tekor. Karena biaya Perang Diponegoro yang besar. Kas Kerajaan kosong maka Hindia Belanda a.k.a Indonesia yang menanggung akibatnya.

Seluruh wilayah jajahan harus menanam tanaman yang laku di pasar Internasional. Tanaman yang laku adalah Tembakau Gula, Kopi, Karet dan Gula. VORSTENLANDEN a.k.a Solo-Jogja harus menghasilkan Gula dan Tembakau. Wilayah Sumatera menghasilkan Karet dan Kopi dsb.

Akibatnya, Tanaman padi jarang ada yang menanam maka terjadi kelaparan dimana-mana. Semua ditanami tanaman perkebunan. Keuangan Kerajaan Belanda sampai Surplus dari hasil bumi Hindia Belanda. 72 % pemasukan keuangan ditopang oleh Hindia Belanda. Itulah kata wikipedia. Ironisnya, kita minum Aia Kawa saja. hehehe..!!!

Aia Kawa terasa cukup enak . Minum di kedai dengan gelas batok kelapa. Itu pengalaman yang menarik. Aia Kawa bisa bisa ditambahi gula atau tidak. Kami duduk sambil menikmati pemandangan Ngarai Sianok. Hmmm…!!!! Seperti kembali di zaman Kumpeni.

Kata orang, minum Aia Kawa lebih nikmat ditemani dengan kue Bika. Kue khas Minang. Informasi ini diketahui dari Republika juga. Sayang, Kedai itu tidak menjual kue Bika. Aia Kawa tanpa gula, saya seruput sedikit demi sedikit hingga tandas.

Jujur, saya merasa aneh. Sedemikian naas bangsa kita. Kopi kita dibawa keluar negeri, diberi merek luar dan masuk ke negara kita lagi. Harganya jadi luar biasa. Hehehe….!!! Rasanya ? Terserah anda tergantung selera anda.

Kopi Indonesia sudah  populer di dunia. Coba googling saja, Kopi dari Indonesia menjadi primadona di Starbucks. Mungkin, cara membuat minuman kopi di starbukcs lebih baik? Tak tahu juga. Saya pernah minum kopi di Starbucks namun kopi tubruk di rumah lebih nikmat.

Apakah lebih nikmat minum kopi di starbucks daripada di rumah atau di kedai kopi? Apabila sama-sama menggunakan Kopi dari Indonesia. Kalau kita bisa beli kopi indonesia dari perusahaan Indonesia atau petani Indonesia. Saya kira lebih murah. Hehehe…!!!

Kopi berkualitas tinggi dari Indonesia sudah banyak yang jual, di Superindo, Hypermart, Carrrefour dsb. Harganya memang mahal tapi lebih murah dibandingkan jika beli dari gerai-gerai multinasional. Coba aja,…!!! Nikmat sekali. Apalagi dibuat kopi tubruk. Hahaha….!!!!

Dulu, kita tidak boleh minum kopi. Sekarang, kita boleh minum kopi tetapi “kalau bisa” dari kedai kopi mereka. Hahahahaha….!!!!

 

 

Advertisements

21 thoughts on “Ironi Aia Kawa

  1. Sama mas. Sedih juga. Harus beli kopi Indonesia dg harga yang lebih lagi hanya karena mereka bisa mengolahnya.
    Dalam film Filosofi Kopi juga digambarkan bagaimana perkebunan kopi menghilang karena paksaan untuk dijadikan kebun yang lain lagi. Hiks.

    Liked by 1 person

  2. dangau aia kawa / kawa daun itu biasanya punya spesialisasi he..he..
    ada yg dengan sedia gorengan, ada yang sedia bika, atau ada juga dengan lamang
    semuanya mak nyus
    yg belum kucoba paduan aia kawa dan bika

    pali g asyik minum aia kawa pas ujan2…, romantis he..he..

    Liked by 1 person

    1. Lha itu dia, saya pas ketemu dangau yang cuman jual aia kawa. kayak yang tulisan di republika . Beli bika ditempat lain. Pokoknya, tanah minang itu menarik. hehehehe..!!!

      Like

  3. Saya belum pernah minum ayia kawa. Kata teman yang pernah minum ayia kawa rasanya lumayan, apalagi kalo minum sambil makan penganan.

    Sewaktu saya tinggal di Bukittinggi tahun 1992 saya belum kenal ayia kawa. Nanti kalo ke Bukittinggi lagi perlu dicoba nih. Salam

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s