TENGGELAMNYA KAPAL VAN DER WIJCK

TENGGELAMNYA KAPAL VAN DER WIJCK

Tanah Minang memang tidak ada habisnya untuk dieksplorasi seperti : Keindahan alam, Para Tokoh nasional dan Kuliner yang melegenda. Kepandaian dagang orang minang yang tersohor. Tanah Minang ikut mewarnai republik sejak sebelum kemerdekaan sampai dengan saat ini.

Kecintaan terhadap sastra bagi seorang ulama agak melenceng dari pakem. Ulama yang menyukai karya sastra sedikit malu-malu kucing mengakui di depan khalayak. Sastra itu dunia angan-angan . Berkhayal tanpa ujung dihindari para Ulama. Padahal, Khayalan adalah pintu dari imajinasi.

HAMKA dan Ahmad Tohari justru menyukai sastra. Ahmad Tohari yang mengasuh pondok pesantren adalah sastrawan produktif. Ahmad Tohari memiliki masterpiece yaitu Ronggeng Dukuh Paruk. Novel yang atraktif dan melawan arus. HAMKA juga cukup produktif.

HAMKA memiliki hobi membaca sehingga mampu memahami dunia sastra. Beliau membaca berbagai buku dan dari berbagai bahasa. Hobi ini yang mengantarkan beliau menjadi Novelis. Bacaan yang beragam membuat dia kaya akan khazanah sastra. Akhirnya, dituangkan dalam salah satu masterpiece yaitu Tenggelamnya Kapal Van der Wijck.

Abdullah S.P a.k.a Pramodeya Ananta Toer menganggap bahwa karya sastra ini adalah hasil plagiasi dari karya Jean-Baptiste Alphonse Karr dalam karyanya yang berjudu Sous les Tilleuls. Ada kesamaan tokoh Zainuddin dengan Steve dan Hayati dengan Magdalena. HB Jassin membela bahwa karya ini adalah asli tulisan HAMKA.

HB Jassin membandingkan kedua karya itu dengan menggunakan terjemahan Sous les Tilleuls berbahasa Indonesia yang diberi judul Magdalena. Beliau menyatakan bahwa cara Hamka mendeskripsikan tempat itu sangat mendalam dan sesuai dengan gaya bahasanya. Ide cerita asli dari Indonesia . (Wikipedia)

Kedua penulis itu adalah pengarang besar saat itu. Mereka yang mewarnai khasanah sastra saat itu. Eyang Pram dan Buya Hamka berhadapan karena perbedaan idiologi. Buya Hamka juga seorang politikus Masyumi. Eyang Pram adalah tokoh LEKRA. LEKRA adalah lembaga seni underbouw dari PKI era 1960-an.

Saya kira kemampuan Eyang Pram di bidang sastra lebih unggul dari HAMKA. Karena Eyang Pram memang terlahir sebagai sastrawan. Buya HAMKA bukan sebagai sastrawan namun terlahir sebagai seorang ‘ulama. Sastra adalah bagian dari multitalenta HAMKA. HAMKA adalah ulama mutitalenta di bidang Agama, Politik dan Sastra.

Setting novel diawali di Makasar menuju Tanah Minang kemudian ke Jakarta serta berakhir di Surabaya. Karena beliau adalah pengelana maka setting cerita begitu berwarna-warni. Untuk karya sastra lama, karya HAMKA cukup unik dan menarik dengan setting daerah yang beragam.

Konflik yang dihadirkan adalah CINTA SEGITIGA. Pemuka Agama berbicara tentang cinta itu jarang sekali. Bahkan, Beberapa kalangan Muslim konservatif menolak Tenggelamnya Kapal Van der Wijck. Mereka menyatakan bahwa seorang ulama harusnya tidak mengarang cerita tentang percintaan.

Tokoh Utamanya adalah Zainuddin, Hayati dan Azis. Tokoh pembantu pria adalah Muluk. Mereka adalah orang minangkabau asli. Mereka hidup dengan konflik antara adat, cinta segitiga dan moderniitas. Adat Tanah Minang yangmengakar kuat.

Gaya hidup modern di tanah minang juga tidak lepas dari perhatian HAMKA. Orang minang yang mempunyai ajaran ADAT BASANDI SYARAK, SYARAK BASANDI KITABULLOH seakan hanya menjadi slogan. Kehidupan modern seakan membiaskan itu semua. Itu tidak lepas dari kritikan HAMKA di dalam Novel ini.

HAMKA mengkritik budaya minang yang kaku dalam pandangan beliau.. Beliau mendeskripsikan dengan detil dalam novel tersebut.Bagaimana seorang pemuda yang baik tidak boleh menikahi seorang gadis. Karena si laki-laki  bukan keturunan minang dari Jalur Ibu. Beliau menyampaikan dalam bungkus cerita cinta segitiga.

Ending dari Novel ini cukup menarik. Karena yang terjadi bukan happy ending tetapi sad ending. Azis yang mati gantung diri, Hayati yang mati karena kapal yang dtumpanginya (Kapal Van Der Wijck) dan Zainuddin hidup sebatang kara.

Plot dalam novel ini memang ada yang mirip dengan novel Magdalena namun tidak 100 %. Bisa jadi, ini adalah kelemahan dari novel Kapal Van Der Wijck. Namun, pengaruh novel Magdalena pula yang membuat Novel ini mempunyai greget.

Karena belaiu seorang Ulama tentu saja ada pesan moral yang diselipkan dalam cerita. HAMKA ingin menyampaikan bahwa semua manusia itu sama dihadapan TUHAN. Cinta itu bersifat universal maka harus lintas batas adat, budaya dan suku bangsa namun tetap seagama.

Advertisements

4 thoughts on “TENGGELAMNYA KAPAL VAN DER WIJCK

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s