Jalan Jalan Sore di Kota Bukittinggi

Jam Gadang adalah satu-satunya yang ada di Indonesia. Konon, mesin jam gadang memiliki kembarannya di Inggris yaitu Jam Big Ben. Jam Gadang sebuah penanda (landmark) bagi kota Bukittinggi.

Kata WIKIPEDIA, Jam Gadang adalah nama untuk menara jam yang terletak di pusat kota Bukittinggi, Sumatera Barat, Indonesia. Menara jam ini memiliki jam dengan ukuran besar di empat sisinya sehingga dinamakan Jam Gadang, sebutan bahasa Minangkabau yang berarti “jam besar”.

Jam Gadang selesai dibangun pada tahun 1926 sebagai hadiah dari Ratu Belanda kepada Rook Maker sebagai controleur Fort de Kock pada masa pemerintahan Hindia-Belanda. Arsitektur menara jam ini dirancang oleh Yazid Rajo Mangkuto, dikutip dari Wikipedia.

image
Ngeksis dan Narsis di Jam Gadang

Kota ini berada diantara dua gunung yaitu Gunung Singgalang dan Gunung Marapi. Kata Wikipedia, Bukittinggi adalah Paris Van Sumatra, coba dibandingkan dengan Bandung sebagai Paris van Java.

Apabila kita berkunjung Bukittinggi maka tidak mampir ke Jam Gadang seperti makan sayur tanpa garam. Jam Gadang adalah randevous bagi warga Bukittinggi.

Semua warga Bukittinggi berkumpul di jam gadang. Mereka yang ingin jalan-jalan, bercengkerama dengan keluarga, mencari baju atau mencari kuliner khas Bukittinggi.

image
Ifa asyik main di Jam Gadang

Kota Bukittinggi tidak terlalu besar mungkin kayak kota Salatiga. Anda cukup berjalan kaki untuk mengelilingi kota. Makanya, keberadaan jam gadang sangat vital sebagai jantung kota Bukittinggi.

Bukittinggi seperti lokasi tersembunyi diantara dua gunung. Siapa sangka di bawah dua kaki gunung ada kota yang nyaman. Kota yang dulu bernama Fort De Kock. Kota kelahiran sang proklamator yaitu Bung Hatta.

Kota Bukttinggi itu unik. Kota besar kedua di Sumatra Barat namun masih asli atau natural. Ketika kami disana maka tidak ditemukan Indomaret atau Alfamart. Bukittinggi cuma punya satu mall dan satu gerai KFC. Keduanya adalah simbol kapitalisme di Bukittinggi.

image
"Hanya" RAMAYANA,hehehehe...!!!
image
"Hanya" satu di Bukittinggi. Pandangan sekilas saja. Hehehehe...!!!

Ekonomi kerakyatan disana sekilas cukup unik. Karena toko-toko yang berkembang adalah milik warga sendiri. Pemodal besar belum masuk. Perekonomian yang berkembang adalah kecil dan menengah. Tapi itu dilihat sekilas saja. Hehehe

image
Atas : jembatan limpapeh, Bawah : pojok kuliner jawa (nasi pecel, pecel lelel dan nasi goreng dsb )
image
Kawasan Pecinan

Kalau anda malas jalan kaki. Ada delman yang siap mengantar keliling kota. Anda kalau ke sana pas musim kemarau saja. Jadi, bisa menikmati suasana sore hari di Jam Gadang atau keliling kota.

image
Dimanapun semua Delman bentuknya sama. Hehehe...!!!

Anda bercengkerama dengan keluarga atau orang yang anda sayangi sembari menunggu senja datang. Ketika adzan maghrib berkumandang maka saatnya pulang. Terasa damai dan nyaman sekali. Kira-kira adzan berkumandang jam 18.30 WIB. Kalau di jawa itu sudah gelap.

image
Suasana menjelang maghrib. Diatas jam 18.00 masih terang benderang

Catetan saja, maghrib disana lebih malam daripada di Jawa. Makanya, menikmati sore di Jam Gadang bisa terasa lama dan menyenangkan.

Kami mampir membeli martabak arab sebelum masuk hotel. Kuliner yang sudah pasti kaya rempah-rempah. Itu jadi snek kami di hotel sembari istirahat.

image
Martabak Arab

Tidur malam dan pagi harinya berenang. Perjalanan dilanjutkan ke danau singkarak untuk mencari ikan bilih. Sedap sekali. Hehehehehe….!!!!

Advertisements

4 thoughts on “Jalan Jalan Sore di Kota Bukittinggi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s