Soto Semarang Pak To

Kalau anda jalan-jalan sekitaran Kota Solo di malam hari. Anda merasa lapar tapi ingin makan dengan porsi ringan. But, anda ingin makan nasi bukan snek. “Soto Semarang Pak To” kayaknya cocok buat makan malam. Saya menyebut kudapan malam yang menyenangkan.

DSC05421_rev
Soto Semarang (Mangkok Kecil)

Porsi tidak berlebihan cocok untuk mengganjal perut. Soto disajikan dengan mangkok kecil. Kalau mau mengudap maka satu mangkok sudah cukup. Perut terasa lapar maka nambah satu mangkok lagi masih memungkinkan.

DSC05425_rev
Angkringan Soto

Soto “minimalis” ,kalau saya menyebutnya. Karena porsi dan lauk yang disajikan juga berukuran minimalis. Hebatnya, “Sate Sundukan” sebagai teman makan soto disediakan dengan ukuran minimalis. Kalau mau makan enak tapi nggak mau gendut kesini aja. Hahahaha…!!!!

DSC05419_rev
Sate Sundukan

Soto Semarang adalah salah satu genre dalam dunia “per-soto-an”. Soto Semarang disajikan dalam mangkok kecil dan menikmatinya dengan ditemani sate kerang. Sate yang direndam dalam air kaldu.

Beberapa orang mencampur air rendaman sate kerang dengan kuah soto. Rasanya jadi agak beda, karena aroma ikan dalam kuah soto membuat lebih eksotis. Saya sering melakukan itu juga. Rasanya jadi lebih mantap.

Kota Semarang khan di pesisir pantai. So, Soto Semarang tidak ingin kehilangan ciri pesisir, disajikan pula sate kerang. Menurut saya lho, Apabila kita makan soto semarang tanpa sate kerang kurang mantep. Karena ciri khas “semarang” jadi hilang. Jadi sulit membedakan dengan soto ayam genre solo. Hehehehe…!!!

DSC05427_rev
Tampak Depan

Lokasinya mudah dijangkau. Soto Semarang Pak To berada di sebelah barat Pengadilan Negeri Solo. Lokasi di trotoar pinggiran Pengadilan Solo. Lokasi ini memang shelter yang disediakan untuk Pedagang Kaki Lima.

Advertisements

WARUNG TEGAL

Jalan Tol Solo-Semarang mulai dibangun dan jalur Semarang-Bawen sudah digunakan, artinya sebentar lagi jalur konvensional mulai ditinggalkan. Perjalanan solo-semarang bisa jadi ditempuh kurang dari dua jam bahkan satu jam saja. But, saya merasa sedih disitu. Hehehehe…!!!! Napa hayo????

Jalur Solo-Semarang adalah jalur kuliner. Kita bisa menemukan mulai dari Soto Sapi, Keripik Paru, Sop Buntut, Sate Kambing, Sate Sapi, Yoghurt dan Soto Semarang. Semua ada di jalur ini mulai dari Solo sampai Semarang dan sebaliknya. Penggemar kuliner tentu telah mencermati fenomena ini. Kalau saya hanya setengah penggemar kuliner. Bukan kategori die hard.

gambar 4_rev
Arah Solo-Semarang

Salah satu khasanah kuliner di jalur ini adalah Sop Buntut “Warung Tegal”. Rumah makan ini berada di daerah Ampel Boyolali. Kalau dari arah Solo yaitu setelah Terminal Bis Boyolali kira-kira perjalanan 15 menit dan terletak di sebelah kanan jalan. Pas di turunan jalan sebelum kota kecamatan Ampel.

gambar 1_rev
Cukup Longgar dan Luas

Rumah Makan ini mempunyai menu cukup lengkap mulai dari sayuran sampai protein hewani. Menu andalannya adalah Nasi Pecel dan Sop Buntut. Kalau perjalanan pagi ke Semarang dan belum sarapan. “Warung Tegal” cocok untuk tempat sarapan. Favorit saya adalah Sop Buntut.

gambar 7-rev
Kalau mau nyari selain Sop Buntut

Sop Buntut adalah sup daging yang berasal dari bagian ekor sapi ( Buntut (jawa ) = Ekor). Rasanya nikmat karena kaldu daging yang segar. Teksturnya empuk dan lembut , kadang-kadang dagingnya diselimuti seperti lapisan kolagen. Lapisan ini yang membuat lebih nikmat.

gambar 2_rev
Sop Buntut

RPH (Rumah Pemotongan Hewan) banyak berdiri di daerah Boyolali. Maka, tidaklah sulit mencari bahan baku yaitu Ekor Sapi. Saya mampir ke “warung tegal” mesti pesan Sop Buntut. Rasa kaldu yang gurih dan mantap berpadu dengan daging yang empuk dan segar adalah dasar kelezatan Sop Buntut.

Mereka bisa membuat kaldu yang nikmat karena pemilihan bahan baku yang baik. Kaldu yang istimewa berasal dari daging yang masih segar. RPH yang ada di daerah Boyolali yang menopang bahan baku mereka. Waktu pengiriman yang singkat menjamin kesegaran daging sapi.

Sop Buntut memakai sayuran kentang dan wortel. Rasa eneg daging, tekstur daging yang empuk, kaldu yang mantap bertemu dengan kesegaran sayuran adalah paduan yang sempurna. Hahahahahahaha….!!!!! Pantas dicoba.

gambar 6_rev
Tampak Muka

Jalan Tol Solo-Semarang memang mempersingkat waktu tempuh.Namun, Apabila waktu anda longgar dan ingin menikmati perjalanan. Silahkan coba jalur konvensional. Disana banyak sekali khazanah kuliner yang enak, nikmat dan “relatif” murah.

gambar 3_rev
Jualan Makanan Khas : Keripik Cakar, Keripik Paru, Rambak Kulit Sapi

Ini baru salah satu contohnya saja. Masih banyak lagi seperti Sate Kambing Blotongan, Sate Sapi Pak Kempleng, Soto Mbok Giyem, Soto Bangkong Semarang, Chimory dsb. Saya tidak bisa membayangkan nasib mereka. Jika Jalur Solo-Semarang sudah beroperasi 100 %. Sepi atau Ramai ?

Karena rezeki memang sudah ada yang mengatur. Nasib usaha memang seperti roda pedati. Kadang diatas dan kadang dibawah. Tapi, saya suka jalan-jalan ke Semarang menyusuri jalur kuliner ini. Hehehehehe…!!!!

Untung Ada Kelinci

kelinci

Mama Ifa sudah nggak menemani Ifa lagi di sekolah. Setelah, Ifa ditemeni mamanya selama setahun. Rasanya lega. Ayah gantian yang nganter ke sekolah. Mama nunggu di rumah aja. Lha kalau pulang sekolah, mama menyambut Ifa di halaman rumah. So Sweet, hehehehehe…!!!!

Saya yang mengantar-jemput ifa, masuk jam 8 dan dijemput jam 11. Saya mengantar Ifa sampai masuk kelas.  saya gandeng Ifa dari turun mobil sampai masuk kelas , Ifa meletakkan tas dan tempat minum di loker. Finally, Ifa salim dengan saya. Ifa dipegang gurunya. Saya pun melambaikan tangan ke ifa sambil bilang, “saya titip Ifa”. Simpel itu ajah, hehehehe…!!! Semua berjalan dan sampai pada akhirnya. Ceritanya begini…!!! hahahaha..!!!

Saya jemput Ifa di sekolah di hari jum’at sebulan yang lalu. Saya ditemui pak guru disana sambil berkata, “Ifa masuk Rumah Sakit“. Wussss…!!!! Hati berdesir. Ada apa gerangan? Ifa ternyata jatuh dari salah satu mainan yaitu “panjat pelangi” yang ada di playgroup.Saya ditemani salah satu pak guru meluncur ke Rumah Sakit.  Ifa harus dijahit dengan tiga jahitan tepat di bawah dagu.

Wah..!!! Sedih rasanya. Ifa sudah mulai nyaman di playgroup kok ada insiden ini. Nggak apalah, namanya juga musibah. Ifa sukses dijahit tiga jahitan. Untung hari jum’at. Ifa bisa istirahat agak panjang di rumah. Ifa masuk lagi di hari rabu. Jadwal masuk sekolah memang hanya tiga hari yaitu: Rabu, Kamis dan Jum’at.

Hari Rabu, Kami harap-harap cemas dengan Ifa. “Apakah mau masuk sekolah ya?”, pertanyaan ini jadi misteri buat kami. Maklum, Insiden jum’at membuat kami khawatir. Eh, ternyata…!!! Ifa mau berangkat sekolah. Saya antar dan melakukan ritual seperti diatas.

Kami semua lega. Ifa masih mau sekolah. Eh, jangan senang dulu. Ifa nggak mau masuk sekolah esok hari. Ifa mogok. Akhirnya, Ifa hanya masuk di hari Rabu di minggu ini. Libur panjang lagi dah. Hahahahaha…..!!!!

Hari rabu depan. Kami nggak tenang. Awalnya, Ifa mau masuk sekolah. Saya antar ke sekolah. Mobil diparkir dan hampir mau keluar dari mobil. Ifa mendadak nangis nggak mau sekolah. Pening, Saya minta tolong bu guru. Bu Guru datang dan membujuk Ifa. Ifa digendong dan tetep aja nangis.

Saya tinggal Ifa dalam keadaan nangis. Ifa menangis sejadi-jadinya dalam keadaan digendong ibu guru. Nggak tega ..!!! tapi Life must go on. Saya berangkat ke kantor. Saya jemput Ifa jam 10. Saya sampai disana dan Ifa sudah diem.Kata bu guru kalau Ifa nangis lama.

Bu guru agak kerepotan tapi akhirnya diem. Ifa diem dan nggak mau ikut kegiatan. Dia cuman diem aja. Mungkin Ifa masih trauma. Nggak apalah, yang penting masih masuk sekolah. Tujuan saya cuma satu, Ifa tahu kalau harus masuk sekolah. Kalau di rumah keterusan, saya takut jadi tidak mau sekolah lagi.

Saya tetep antar Ifa esok hari. Seperti biasanya, Ifa nangis sejadi-jadinya. Hehehehehe…!!!!! Saya nggak kehilangan akal. Mosok kalah sama anak kecil, whuahuahua….!!!! Saya ajak Ifa nonton kelinci di halaman belakang sekolah. Karena sekolah punya koleksi binatang. Ifa suka kelinci.

Ifa memandangi kelinci dengan khusyuk. Saya tawari untuk kasih makan kelinci. Dia mau ngasih makan dan sedikit terhibur. Saya udah pesen ke bu guru untuk mengikuti dari belakang. Saya kasih kode ke bu guru untuk mengambil alih ifa dari saya. Ifa nangis lagi sejadi-jadinya. Saya harus berangkat kantor lagi. It’s sadness but it must.

Saya jemput Ifa. Ifa sudah seperti biasa dan kelihatannya lupa abis nangis. Saya bertanya ke bu guru, “Bu, ifa nangisnya lama?”. Bu Guru menjawab, “Cuman sebentar trus mau ngikuti kegiatan”. Saya lihat memang kayaknya sudah normal lagi. Ifa nyanyi lagu Sayonara sepanjang perjalanan pulang ke rumah.

Mama Ifa kaget melihat Ifa pas pulang sekolah. Ifa kelihatan gembira sambil nyanyi-nyanyi. Ifa mau bercerita kegiatannya di sekolah. Ifa seolah-olah lupa kalau habis menangis dan sedih di pagi hari tadi. Ifa ditanya mau sekolah esok hari. Dia mengangguk dengan riang gembira.

Singkat cerita, Ada ritual baru ketika berangkat sekolah. Ifa harus menengok kelinci sebelum masuk kelas. “Liat ci?”, kata Ifa. Ifa bilang ke saya sewaktu mau berangkat sekolah. Ada-ada saja, Saya jadi teringat tokoh si Toto-Chan dalam novel Toto-Chan. Toto-Chan selalu memandang keluar jendela saat pelajaran. Totto-Chan menunggu rombongan topeng monyet yang lewat.

Saya belajar dari Ifa. Manusia belajar untuk mengelola emosinya melalui berbagai cara. Ifa mengelola rasa khawatir dengan menengok “sahabat”. Sekarang, Ifa datang ke sekolah mesti mampir ke kandang kelinci lebih dulu. Apapun yang terjadi meskipun terlambat. Mungkin, Itu yang membuatnya “tenang”.

Ifa cuman menengok tanpa berkata apapun dan tanpa kasih makan. Sekarang “sahabat” ifa bertambah yaitu Kura-Kura. Ifa menengok kelinci dan kura-kura sebelum masuk kelas. Ifa puas memandangi mereka kemudian saya ajak masuk kelas. Ajib, Ifa mau saja masuk ke kelas.

Itulah ritual baru si Ifa. Ifa belajar mengelola emosi. Dia mungkin agak khawatir setelah kejadian kemarin ( jatuh dan dijahit dagunya) tapi berusaha menghadapi rasa takut.  Dia mencoba mengalihkan rasa takutnya dengan menemui “sahabat-sahabat”. Dalam imajinasi saya. Sahabat-sahabat ifa berkata, “Ayo masuk ke kelas, jangan takut”.

I’ve learned from you, darling…!!!! Thanks for your lesson