Ketika Ayah Mengantar Ke Sekolah

Catatan Sekolah Ifa (1)

sosok-ayah

Sumber Foto : simiww

Alhamdulillah, Ifa sudah berusia 3 tahun lebih 6 bulan. Ifa sudah jauh berbeda dengan dulu. Sekarang, Ifa suka belajar di Sekolah. Ifa senang bercerita dengan adiknya. Kalau ada yang ngajak salaman sudah mau membalas. Ifa suka bernyanyi dan bernyanyi di rumah menirukan si Kongsuni. Ifa lebih terbuka dengan lingkungan sekitar berbeda dengan yang dulu.

Ketika saya dan istri mengantar Ifa pertama kali ke Playgrup sekitar 1, 5 tahun yang lalu. Ifa masih pemalu dan tertutup. Ifa belum lancar ngomong. Jauh berbeda dengan teman sekolahnya yang sebagian besar sudah omong lancar. Ifa lebih suka kegiatan motorik halus ketika temannya suka kegiatan motorik kasar.

Ifa masih tertutup dengan lingkungan sekitar. Saya dan Mamanya pusing tujuh keliling. Ifa nggak mau sekolah kalau nggak ditunggui. Pernah, mamanya nggak kelihatan sedikit trus nangis di kelas. Akhirnya, mamanya yang mengalah. Setiap hari mamanya ikut sekolah. Bahkan mbak warti yang mengasuhnya ikut sekolah. Heboh sekali saat itu.

Apapun ifa harus masuk playgrup. Coz Ifa is so “special”. Bukan apa-apa, Ifa butuh treatment. Agar ifa ceria, pinter omong dan terbuka. Karena cuek dengan teman sebaya dan lingkungan. It’s a problem. Ifa belum bisa omong juga bikin sedih juga. Kami memilih terapi bersekolah.

Setahun pertama, kita sangat heboh men-support Ifa untuk sekolah. Ifa tetep pendiam, belum mau berinteraksi dan masih ditunggui mama. Ifa mengikuti materi pelajaran masih OK. But, Ifa yang masih stay cool (baca : cuek) dengan lingkungan. Itu yang membuat kami gemas. Hehehehehe…!!!!!

Setengah tahun pertama, Ifa mulai ada perkembangan. Ifa sudah  omong walaupun terbatas . Kebetulan, saya dan istri sedang menunaikan ibadah haji. Mungkin, Karena “terpaksa” pisah dengan mamanya. Ifa mau nggak mau harus omong. Kalau nggak bisa nanti siapa yang paham keinginannya. Hahahaha..!!!! Ifa juga mulai nyanyi di depan para eyang.

Ketika haji, Ifa masuk sekolah sudah tertib dan ditinggal sendiri di kelas. Mbak Warti menunggu di luar kelas. Lha kita sudah pulang haji. Ifa kembali ke kebiasaan awal yaitu bangun siang, masuk kelas telat dan ditungguin mamanya di kelas plus pendiem lagi. Lebih parah lagi, Ifa semakin manja.

Kita heran dengan Ifa. Mengapa Ifa jadi begini lagi? Ifa jadi lebih manja. Ifa memang dekat mama. Saya berdiskusi tentang Ifa dengan istri saya. Kesimpulannya, Ifa masih manja dengan mama dan tidak mempunyai teman sebaya di rumah. Ifa merasa merasa menjadi pusat perhatian. Ifa harus mandiri sehingga nggak manja dan Ifa harus punya teman sebaya.

Solusinya yaitu sekolah dan diantar ayah ifa. Ayah ifa yang mengantar ke sekolah. Mama Ifa jika diperlukan baru ikut nunggu di sekolah. Hahahahaha….!!!! Kok jadi saya yang ketiban sampur. Kalau diantar mama maka Ifa tidak akan berubah. Ifa tetep manja dan menuntu mama ifa ikut gabung di kelas. Kalau nggak dituruti maka minta pulang.

Hari pertama, Ifa pergi ke sekolah dengan ayah. Keadaan menjadi heboh sebelum berangkat. Ifa dirayu-rayu agar mau dan maksa banget. Itu harus dong…!!!!! Hehehehehe…!!! Ifa berangkat ke sekolah dengan berlinangan air mata. Karena mama tidak ikut. Saya juga bingung, coz harus nungguin sampai pulang sekolah si Ifa. Padahal, saya harus masih ngantor pula. Nggak mikir dah…!!!! Hajar dulu. Urusan kantor mah belakangan.

Kalau tak ada kayu maka akar pun bisa. Ketika mama sudah tidak memberi solusi maka ayah yang harus menyelesaikan. Hahahaha…!!! (BERSAMBUNG)

Advertisements

4 thoughts on “Ketika Ayah Mengantar Ke Sekolah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s