Keplek Ilat

Kita sudah sering mendengar bahwa Pak Jokowi mempunyai warung soto favorit yaitu Soto Gading. Beliau sering mampir kesana. Pak Jokowi juga mengajak tamu untuk bersantap di Soto Gading. Ibu Mega dan para menteri dijamu di Soto Gading ketika ada kunjungan di Solo. Mereka itu sedang “Keplek Ilat”.

Kita mesti sudah pernah dengar kata “Keplek Ilat”. Kata yang jamak diucapkan dan didengar orang Solo. “Keplek Ilat” yang menyebabkan kerinduan terhadap produk kuliner lokal. Parahnya,Jika mindset sudah fanatik, kalau nggak mirip “gagrak” solo maka kurang enak. Kurang lebih begitulah…!!! Hehehehehe…!!!!

Keplek itu bisa diartikan secara bebas yaitu membanting, Ilat artinya adalah Lidah. Keplek Ilat artinya adalah membanting lidah atau makan. Keplek ilat itu mengarah ke aktivitas berburu kuliner yang enak atau wisata kuliner. Enak meskipun mahal tetap diburu. 🙂

Rasa itu mengalahkan segalanya mulai : penyajian, harga, kesehatan maupun tempat. Kalau sebuah warung makan sudah dianggap enak maka itu anugerah bagi pemiliknya. Karena para pemburu kuliner sudah tidak berpikir harga atau tempat apalagi higienis. Enak ya dibayar, tempatnya jelek nggak masalah yang penting makan enak.

Kalau anda membaca tulisan tentang soto gunting. Mereka menyajikan makanan sangat tidak rapi dan jauh dari higienis. Alih-alih, pemilik warung mau mengiriskan sekerat daging, tetapi kita disediakan gunting untuk mengiris. Saya yakin gunting itu dicuci ala kadarnya dan dipakai bergantian. Penggunaan gunting tidak pas dan tidak higienis.

Saya menikmati sepiring garang masak harus merogoh kocek yang dalam. Harganya mencapai 40 rb. Itu bukan harga yang murah. Saya membayangkan 40 rb di warteg sudah bisa mengajak dua orang. Karena sudah memiliki penggemar setia maka tetap saja laris. Coba anda baca di tulisan Garang Masak Ala Pak Manto.

Soto Gading sudah memiliki beberapa cabang. Tempatnya lebih bersih, luas dan nyaman daripada yang soto gading yang asli. Anehnya, Orang masih berbondong-bondong mendatangi Soto Gading yang asli. Tempat sempit, panas dan berdesak-desakan. Mereka pikir jika dari yang asli lebih enak dan orisinil. Saya pikir sama saja. Hehehehe…!!!!

Warung makan legendaris atau yang mampu bertahan puluhan tahun di Solo masih banyak.Orang Solo memang suka keplek ilat.. Keplek Ilat adalah bagian dari gaya hidup. Mereka akan menyempatkan diri meski hanya sesekali untuk mampir di warung legendaris. Sekedar melepas kerinduan dan mengingat rasa.

Keplek llat adalah urusan menikmati hidup. Makan bukan sekedar memenuhi kebutuhan pokok. Makan adalah bagian kesenangan hidup. Jadi, makan jangan hanya sekedar mendapatkan rasa kenyang tapi juga kegembiraan. Keplek Ilat sudah lahir sebelum kuliner menjadi trend. Atau wisata kuliner a.k.a keplek ilat.

Orang Solo juga lebih konservatif dalam urusan Keplek Ilat. Orang Solo lebih suka “kembali ke selera asal”. Apapun jenis makanan baru bermunculan. Seberapa banyak kafe, gerai modern dan restoran bermunculan . Orang Solo pada akhirnya kembali ke warung makan legendaris.

Kata teman saya yang pebisnis di Yogyakarta bilang,  “Orang Solo itu romantis”. Mereka menyukai sesuatu yang bersifat kenangan. Keplek Ilat  termasuk di dalamnya. Jadi, seenak apapun jenis makanan baru beredar di Solo. Mereka akan kembali ke selera asal. Makanan modern akan datang silih berganti tetapi yang legendaris tetap melenggang.

 

 

Advertisements

Author: zaki19482

Saya sedang belajar menulis, mencoba menulis segala sesuatu yang dapat dilihat, didengar dam dirasakan

2 thoughts on “Keplek Ilat”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s