Soekarno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia

soekarnoRasanya lega sudah membaca buku Biografi “Bung Karno : Penyambung Lidah Rakyat Indonesia” yang ditulis Cindy Adams. Buku ini diterbitkan pertama kali tahun 1965 menurut Asvi Warman Adam. Buku yang saya baca sungguh istimewa. Karena diterbitkan oleh Yayasan Bung Karno. Yayasan yang dipimpin oleh Mas Guruh Soekarnoputra. Yayasan yang didirikan oleh delapan anak Bung Karno di tahun 1978.

Delapan anak tersebut adalah Guntur Sukarno Putra, Megawati Sukarno Putri, Rachmawati Sukarno Putri, Sukmawati Sukarno Putri, Guruh Sukarno Putra, Taufan Sukarno Putra (alm), Bayu Sukarno Putra dan Kartika Sari Sukarno Putri.

Kita telah mafhum bersama bahwa Bung Karno sering berseberangan dengan AS. Uniknya, Bung Karno bersahabat dengan Duta Besar AS yang juga kepala korps diplomat asing di Indonesia yaitu Howard P Jones. Dia mengusulkan agar sejarah hidup Bung Karno ditulis. Ini sebagai warisan untuk anak bangsa. Karena kita harus JAS MERAH ( Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah).

Maka, Cindy Adams yang ditugasi menulis biografi Bung Karno. Cindy Adams adalah seorang jurnalis berkebangsaan AS diizinkan oleh Bung Karno untuk menulis sejarah hidupnya. Hal ini tertulis di BAB I yang berjudul “Alasan Menulis Buku Ini”. Bab ini mencakup peran sang Duta Besar dalam menginisiasi penulisan biografi Bung Karno. Akhirnya, Bung Karno mengizinkan.

Biografi ini bercerita tentang asal-usul keluarga sampai akhir hayat sang proklamator. Segala kisah hadir di buku ini termasuk yang bersifat pribadi, semi pribadi dan konsumsi publik. Soekarno lahir, tumbuh sampai menjadi tokoh besar di bumi nusantara. Biografi kurun waktu awal 1900-an sampai 1960-an.

Saya yang awam tentang Bung Karno hanya bisa menyatakan bahwa buku ini adalah “Buku Pengantar” atau Introduction untuk memahami Bung Karno sebagai pribadi dan pencetus idiologi MARHAENISME atau SOEKARNOISME. Saya sebagai generasi yang lahir di awal 80-an dan tumbuh di era 90-an serta dewasa di era 2000-an.

Saya lahir dan tumbuh di orde baru di puncak kejayaan. Dewasa dan Tua di era yang kacau balau. Semua idiologi hadir dan bersliweran yaitu sejak reformasi 98. Saya tidak terlalu mengenal Soekarno maupun Soekarnoisme. Karena kandungan buku cukup lengkap dan berdasarkan rekomendasi oleh putra-putri Bung Karno. Maka, buku ini cocok untuk mengisi pengetahuan saya tentang sejarah Bung Karno.

Jika saya boleh membuat periodisasi dalam buku ini. Maka ada 9 periode dalam buku ini yaitu : Masa Kanak-Kanak, Belajar Bersama Cokroaminoto, Awal Pergerakan di Bandung (Marhaenisme), Zaman Susah ( Penjara dan Pembuangan), Zaman Jepang, Masa Kemerdekaan, Demokrasi Parlementer, Demokrasi Terpimpin, Masa Krisis ( PBB, Trikora, Dwikora, DI/TII, Permesta, Nasakom dan PKI).

Soekarno ternyata sangat humanis dan sensitif terhadap penindasan dan ketidakadilan. Ini atas jasa seorang pengasuhnya di masa kecil, namanya SARINAH. Nama yang diabadikan untuk pasar modern pertama di Indonesia, PASARAYA SARINAH . Sesuatu yang tidak terungkap kepada kami sebagai generasi 90-an.

Kami hanya tahu bahwa SARINAH adalah nama sebuah mall. Kami tidak tahu yang melatarbelakangi nama SARINAH. Bahkan, Bung Karno yang menulis buku berjudul SARINAH. Saya sebagai generasi muda 90-an sama sekali tidak tahu. SARINAH adalah nama mall, titik. Ironis…!!!!

Bung Karno yang memelihara anjing bernama Kiar. Bung Karno mempunyai anjing dengan nama “ketuk satu” dan “ketuk dua”. Bung Karno dituduh sebagai kolaborator. Bung Karno yang berjiwa seni, seorang  polyglot dan suka menyenangkan orang lain. Bung Karno yang disayang oleh Cokroaminoto. Semua terungkap disini.

Bung Karno yang religius. Bung Karno yang telah berdiskusi dengan Pendeta Van Lith. Bung Karno memiliki kepasrahan tinggi kepada Allah SWT  sehingga selalu mengucapkan “Insya Allah”. Karena Bung Karno yang meyakini hanya menjalani takdir sebagai penyambung lidah rakyat Indonesia. Bung Karno yang sangat percaya dengan “intuisi”.

Cerita Bung Karno dengan para istri juga diungkap disini. Kebijakan luar negeri, tidak mau tunduk kepada AS namun akrab dengan John F Kennedy dan Dubes AS yaitu Howard P Jones. Pemikiran beliau tentang Idiologi dan Nasionalisme. Alasan beliau “memanfaatkan” Jepang.

Bung Karno menyatakan bahwa Idiologi bangsa Indonesia  harus diambil dari nilai-nilai luhur bangsa ini sendiri. Bung Karno berpikir bahwa kita tidak perlu “mengimpor” idiologi bangsa asing dan “mengekspor” idiologi bangsa Indonesia yaitu PANCASILA ke luar negeri. Sehingga tanggal 1 Juni diperingati sebagai hari lahir PANCASILA.

Bung Karno menyatakan bahwa kita tidak perlu mengemis-ngemis ke bangsa namun kita juga tidak perlu jumawa dengan bangsa lain. Kita sebagai bangsa Indonesia yang besar harus Percaya Diri terhadap bangsa lain. Karena alasan inilah mengapa Indonesia sempat keluar dari PBB dan mengadakan Konferensi Asia Afrika.

Ini menunjukkan bahwa Bung Karno adalah seorang Humanis. Humanis yang mampu membedakan mana hubungan antar Negara dan hubungan pribadi. Alasan Bung Karno menghukum mati kawan-kawan lama selama ngekos di Surabaya yaitu Musso dan Kartosoewiryo. Ini adalah murni untuk tegaknya Republik Indonesia juga tersurat di buku ini.

Marhaenisme, Pemikiran yang paling murni / genuine dari seorang Soekarno. Pertemuan beliau dengan seorang petani bernama Marhaen di pinggiran Kota Bandung. Saat itu, Soekarno masih mahasiswa . Marhaenisme berbeda dengan Gerakan buruh dan Sosialisme. Namun, Bung Karno mengakui terinspirasi dengan Sosialisme.

Saya jadi ternganga-nganga. Pemikiran saya tentang Bung Karno ternyata jauh berbeda. Beliau adalah orang Idealis sekaligus Realistis. Dia paham bagaimana menyukseskan cita-cita. Kapan melawan dan kapan memanfaatkan keadaan. Pikiran beliau melampaui zamannya.

Kelebihan dari buku ini adalah urut dan teratur. Kisahnya dimulai dari kelahiran sampai kematian. Sisipan-sisipan dalam kisahnya cukup lengkap mulai kehidupan pribadi, keluarga, pergerakan nasional, sampai pergolakan pemikiran.

Buku ini memakai sudut pandang orang pertama dengan kata “Aku”. Seolah-olah, Bung Karno bercerita kepada kita dalam tulisan meskipun ditulis oleh Cindy Adams. Cindy Adams cukup obyektif meskipun menimbulkan polemik. Namun, telah dibuat versi revisi seperti yang saya baca ini.

Kejengkelan Bung Karno terhadap Sutan Syahrir yang cukup kentara. Soekarno terlihat jengkel terhadap Sutan Syahrir tertulis beberapa kali di buku ini. Ini wajar sebagai manusia. Bung Karno tidak menyukai demokrasi parlementer berlaku di Indonesia era 50-an.

Bung Karno beranggapan bahwa ide demokrasi parlementer ini dibawa oleh para sarjana lulusan Belanda. Mereka tidak percaya diri membawa idiologi bangsa sendiri. Karena sudah lama hidup dalam lingkungan Eropa.

Demokrasi parlementer berawal dari Maklumat Wakil Presiden no : X  1945 yang muncul tanggal 16 Oktober 1945. Karena Maklumat ini maka Kabinet Presidensil berubah menjadi Kabinet Parlementer. Bung Hatta yang mengeluarkan maklumat ini.

Asvi Warman Adam di bab “Kesaksian Bung Karno” di dalam buku ini menyatakan bahwa penerjamahan buku ini telah direstui menteri/Panglima Angkatan Darat Letnan Jenderal Soeharto. Kata sambutan yang diberikan oleh Soeharto, “Dengan penerbitan ini, diharapkan dapat terbaca luas di kalangan rakyat, Bangsa Indonesia”.

 

Catatlah…!!!!!

Dunia semakin sempit. Jaringan internet yang mendekatkan kita menjadi semakin dekat dan sempit. Dunia maya (baca: internet) berisi berbagai hal yang saya rangkum dengan sebutan yaitu Informasi. Informasi bersliweran kesana kemari. Ada yang upload dan download. Ini terjadi dari detik ke detik, menit ke menit, jam ke jam dst.

John Naisbitt sudah mengingatkan kita, Penguasa Dunia adalah Penguasa Informasi. Rupert Murdoch yang sukses menerjemahkan dan mengaplikasi. Dia menguasai informasi dengan jaringan perusahaan news corp. Informasi adalah sekumpulan data. Data adalah segala sesuatu yang dicatat atau ditulis kemudian disimpan. Apabila ada kebutuhan maka data/ informasi yang disimpan bisa dimanfaatkan

Catatlah…!!! maka kamu akan menguasai dunia. Kegiatan mencatat adalah awal dari menguasai dunia.  Lebay…!!!! Hehehehe…!!!! Tapi percaya deh, Kalau anda rajin mencatat segala sesuatu dan menyimpan maka anda menjadi sumber data. Jika yang melakukan ini adalah manusia bernaluri bisnis maka bisa jadi asset yang bernilai jutaan bahkan milyaran.

Internet membuat kegiatan mencatat semakin hebat. Mencatat itu tidak terbatas menulis aja namun juga merekam, memfoto, memvideo dan menyimpan dalam sebuah database. But, saya termasuk yang bodoh. Saya tidak suka mencatat hanya suka melihat dan mendengar. Akhinya, saya tidak punya apa-apa hanya sebatas yang saya ingat dalam otak.

Percaya atau tidak? Soe Hok Gie tidak akan terkenal dan dikenang sampai sekarang apabila tidak memiliki “catatan harian seorang demonstran”. Karena Soe Hok Gie mendokumentasikan peristiwa yang dialami maka ada warisan yang ditinggal buat generasi penerusnya. Itu membuat dia dikenang lebih abadi.

Akhirnya, Saya tuliskan qoute paling indah dari sang maestro sastra Indonesia mengenai dunia “catat-mencatat”. Quote ini yang diikuti oleh Soe Hok Gie.

“Orang boleh pandai setinggi langit,

tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.

Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

( Pramoedya Ananta Toer )

Televisi, Oh Nasibmu Kini..!!

Saya adalah penggemar TV Nasional. Nonton TV adalah hiburan murah bagi saya. Berbagai macam acara saya gemari mulai : FTV, AFI, X-Factor sampai sinetron. Paling seru, nonton Piala Dunia. TV adalah bagian tidak terpisahkan dari kehidupan saya.

Istri saya adalah penggemar serial di TV KABEL mulai CSI, CSI New York, NCIS. Kalau reality  show mulai Masterchef, My Kitchen Rules atau The Dessert. Dia sudah mafhum nama Gordon Ramsay, Antoni Bourdain atau Jammie Oliver. Dia paling suka acara kuliner dan penyidikan kepolisian. Dia hampir tidak mengenal acara TV lokal kecuali acara sepakbola.

Menikah dengan saya sering menimbulkan kelucuan buat kami berdua. Saya yang orang Udik berhadapan dengan Istri yang eks metropolitan. Dia menikah dengan saya setelah “mengungsi” ke daerah, maklum dia jadi dosen di daerah. Jiahahahaha….!!!!! Dua dunia yang berbeda.

Ketika masa awal sebelum menikah. Kalau kita ngomong masalah acara TV. Kita sama sekali nggak nyambung. Istri nggak kenal “Tukul Arwana” dan saya nggak paham CSI, Saya paham FTV dan dia menyukai CSI. Pokoknya kesana kemari. Apa itu FTV ? istri nggak tahu. Jammie Oliver itu siapa ? saya nggak paham.

Akhirnya, Kompromi diantara kami berdua yaitu berlangganan TV Kabel. Kami langganan AORA TV dengan pertimbangan harganya yang paling ramah di kantong kami berdua. Saya masih bisa nonton TV Lokal dan Istri masih bisa nonton acara favoritnya.

Lama kelamaan, saya yang jadi suka acara TV dari luar negeri mulai dari HBO, FX, FOX dsb. Karena acaranya lebih bermutu ( Ssttt..!!!! Bermutu itu ukuran saya lho ). Bukan karena tidak nasionalis tapi acara TV kabel memang lebih bermutu. Program TV yang membuat kami berpikir dan menjadi lebih pinter. Nggak cuman hahahihi…..!!!!

Saya jadi punya acara favorit yaitu serial “Criminal Minds”, “Law & Order” dan “Law & Order Criminal Intent”. Sebelum acara “Junior MasterChef” jadi acara favorit di TV Lokal. Kami sudah sering nonton “Junior MasterChef Australia”. Istri bilang gini, “ andai ada acara ginian di TV Lokal”. Tak lama kemudian, emang trus ada. Ajaib….!!!! hahahahahaha…!!!!

Alkisah, AORA TV tutup karena suatu hal. Kami mencoba langganan BIG TV tapi nggak memuaskan. Sampai titik klimaks yaitu kita nggak nonton TV lagi. Karena nonton TV lokal sudah nggak mungkin, rasanya kok kurang sreg ( ada yang nggak setuju? ). Kalau nonton TV Kabel kok mahal amat. Jiahahahaha…!!!

Walhasil, Keluarga kami tidak menonton TV. Bukan masalah idealisme, tapi masalah keuangan dan kesukaan. Hahahahaha…!!!! Kami tidak anti TV tapi hidup tanpa TV masih Ok Ok saja. Coba kalau TV Lokal still OK? Wah, Ok lah untuk nonton TV Lokal. Lha ini, nggak Ok sih TV Lokal.

Karena nggak nonton TV maka beralih ke Youtube. Ifa jadi kenal yang berbeda dengan teman-temannya. Ifa jadi kenal tokoh kartun Tayo, Kongsuni dan Robo Car Poli atau Super Wings. Tokoh-tokoh kartun yang nggak ada di TV Lokal. Yang agak aneh, Ifa suka nonton tutorial produk mainan semacam LEGO, Pocorro atau Barbie. Mana ada ceritanya ?

Ifa jadi nggak kenal Mascha, Upin-Ipin atau Power Ranger. Karena nggak lihat TV Lokal. Adit, Sopo dan Jarwo juga nggak kenal. Saya nyari berita lebih suka di media online. Istri nggak paham berbagai macam sinetron atau serial dari India, Turki atau Indonesia sendiri.

Kalau Mbak ART lebih suka mendengar radio. Dia bisa mendengar radio sambil apa saja mulai masak, menyetrika atau mencuci. Dia lebih hebat lagi karena rutin mendengarkan pengajian dari Majlis Taklim yang terkenal di Solo yang disiarkan di Radio. Produktifitas masih tinggi dan hiburan juga didapat.

Alhamdulillah, dulu pas beli TV untungnya hanya beli yang kecil saja dan sederhana. Coba kalau beli yang mahal dan besar. Cuman, menghabiskan uang dan memenuhi ruangan. Sekali lagi, kami bukan nonton TV bukan karena Idealisme tetapi karena keadaan. Jiahahahaha……..!!!!!