Pindang Tetel

pindang-tetel

Saya mendengar ada rumah makan yang menjual makanan khas Pekalongan Jawa Tengah di depan SPBU Pabelan Sukoharjo. Saya mencoba mencari rumah makan tersebut ternyata ada rumah makan yang menjual Pindang Tetel.

Kalau pindang ikan pernah merasakan. Lha ini, Pindang Tetel terdengar unik. Tetel berasal dari kata Tetelan. Tetelan itu adalah bagian dari daging sapi yang masih banyak lemak dan otot yang melekat. Jadi, bagian ini seringkali dibuang atau dihindari.

pindang-tetel-2

Tetelan daging sapi ini oleh orang Pekalongan menjadi makanan yang enak. Tetelan ini dimasak menjadi Pindang Tetel. Kalau orang jepara dan sekitarnya ada jenis masakan yaitu Pindang Ikan, kemudian dimasak dengan bumbu Pindang dan kluwek.

Pindang tetel adalah sayur berkuah berisi tetelan daging sapi dan irisan daun bawang dengan bumbu pindang dicampur kluwek sehingga mirip rawon. Pindang tetel disajikan dengan kerupuk yang digoreng dengan pasir. Khasnya ya begitu

Kerupuk yang digoreng dengan pasir itu bernama Opak Usek, digoreng diatas pasir yang panas. Jadi, Kerupuk ini lebih sehat karena tidak mengandung minyak.terasa lebih netral dan kering karena tidak ada aroma minyak.

Pindang tetel disajikan dengan Taburan Opak Usek yang sudah dilembutkan. Rasanya enak dan ringan tidak membuat eneg. Agak sedikit dengan Rawon. Rawon itu enak namun lebih cocok dinikmati di saat perut lapar. Rawon lebih kuat aroma daging dan kluwek.

Bagi anda warga solo atau warga Pekalongan yang berdomisili di Solo. Silahkan datang di Rumah Makan Pindang Tetel di Jalan Ahmad Yani Kartasura tepatnya di depan SMPN 2 Kartasura.

 

Advertisements

Kecerdikan Kresna

kresna-kclSumber :disini

Tokoh wayang yang satu ini adalah salah satu tokoh sentral perang Baratayudha. Dia saudara sepupu Pandawa dari jalur Ibu Kunti. Dia putra dari Prabu Basudewa, kakak Ibu Kunti. Dia juga awatara dari Dewa Wisnu. Namanya adalah Sri Kresna , Raja dari Kerajaan Dwarawati.

Ketika menjelang perang Baratayudha. Sri Kresna bersemedi dan “ngrogo sukmo”. Dia masuk ke alam kahyangan merubah diri menjadi Klanceng Putih untuk mengintip Kitab Jitabsara. Akhirnya, Kresna diserahi kitab Jitabsara oleh Batara Guru dengan satu syarat yaitu tidak boleh membocorkan isi Kitab Jitabsara.

Kresna memberikani tawaran kepada Pandawa dan Kurawa. Mereka diberi pilihan antara memilih dirinya dan pasukannya. Kurawa memilih pasukan Kresna dan Pandawa memilih Kresna. Pilihan ini yang menentukan kemenangan besok di akhir perang Baratayudha.

Karena memegang kitab Jitabsara maka Kresna harus kehilangan “Kembang Wijayakusuma”. Salah satu senjata milik Kresna yang berkhasiat untuk menghidupkan orang yang mati. It’s Worthed, Karena Kresna memegang kunci kemenangan di kancah peperangan terbesar di dunia pewayangan.

Prabu Basudewa adalah kakak dari Ibu Kunti. Ibu dari tiga anggota Pandawa yaitu Puntadewa, Arjuna dan Bimasena. Wajar, Kresna membela Pandawa karena masih ada hubungan darah. Tapi bukan karena itu. Kresna adalah awatara dari Dewa Wisnu. Dia ingin menjaga keseimbangan dunia. Kebenaran harus menang atas Kezaliman.

Kresna adalah mastermind Perang Baratayudha dari pihak Pandawa. Kemenangan demi kemenangan Pandawa tidak lepas dari strateginya. Apalah jadinya jika Pandawa tidak didukung Kresna?  Tapi, Perang Baratayudha adalah bagian kerusakan alam semesta maka Kresna wajib menjaganya dengan memenangkan Pandawa di kancah perang ini.

Duryudana lebih pintar tapi Bimasena lebih kuat, menurut Baladewa. Adipati Basukarna lebih sakti dengan senjata Kuntawijaya daripada Arjuna. Yudistira adalah orang yang lugu telah  “dikerjain” oleh Sengkuni di permainan dadu. Resi Bisma tidak terkalahkan dan Resi Durna sulit untuk ditaklukkan.

Pandawa harus melawan guru-guru mereka yang sangat dihormati. Kematian Resi Bisma ditangan Srikandi bukan oleh Arjuna. Itu adalah strategi Kresna. Pandawa tidak sanggup membunuh Resi Durna. Kematian Resi Durna karena tebasan pedang oleh Drestajumna. Itu semua karena strategi Kresna yang jitu. Adipati Karna kehilangan senjata Kuntawijaya karena diumpankan ke Gatotkaca adalah kecerdikan Kresna pula.

Kresna menyadari bahwa Pandawa adalah orang yang lurus, jujur dan lugu. Apabila Pandawa menghadapi Kurawa dengan cara yang lugu dan polos maka akan mudah dikalahkan. Apalagi harus menghadapi saudara yang disayanginya, guru-guru yang dihormati dan musuh-musuh yang culas. Pandawa tidak tega menghabisi mereka. Tega Larane Ora Tega Patine.

Karena Kurawa itu licik maka harus dihadapi dengan strategi yang cerdik. Sehingga, Kekuatan menjadi berimbang. Kresna hadir untuk mengisi kekosongan ini. Kurawa memiliki Resi Durna, Sengkuni dan Bisma yang lebih berpengalaman dan Pandawa menghormati mereka.

Kecerdikan Kresna terlihat sejak permulaan perang. Kresna memilih menjadi sais Kereta Perang Arjuna. Kresna telah berjanji tidak akan mengangkat senjata dalam perang Baratayuda. Meskipun tidak mengangkat senjata. Kresna yang merencanakan seluruh strategi perang pihak Pandawa.

Resi Bisma sangat dihormati pihak Pandawa. Arjuna enggan dan setengah hati melawan. Akhirnya, Kresna dan Pandawa menghadap Resi Bisma di kemah untuk menanyakan kelemahannya. Kelemahan Resi Bisma salah satunya adalah tidak akan melawan jika bertarung dengan wanita.

Maka, Istri Ajuna yaitu Srikandi yang diajukan untuk menghadapi Resi Bisma. Karena yang menyerang adalah wanita dan titisan Dewi Amba yang dicintai oleh Resi Bisma.  Resi Bisma tidak melawan. Resi Bisma tumbang dan dapat dikalahkan. Hanya karena Resi Bisma memiliki kesaktian untuk dapat menentukan sendiri saat kematiannya. Resi Bisma meninggal di akhir Perang Baratayuda.

Resi Durna sangat sulit dikalahkan. Kresna membuat siasat dengan menyuruh Bima untuk membunuh Gajah yang bernama Aswatama. Nama yang mirip dengan nama anak Resi Durna. Ketika Gajah itu mati maka Bima berteriak, “ Aswatama mati…!!!!”. Resi Durna mendengar nama Aswatama.

Resi Durna limbung, histeris dan sedih. Karena Aswatama adalah anak satu-satunya yang sangat dicintai. Dia bertanya kepada Yudhistira menanyakan keadaan Aswatama. Resi Durna percaya bahwa Yudhistira tidak akan berbohong. Maka, Yudhistira menjawab dengan jawaban bersayap, “Aswatama mati”. Entah itu gajah atau anak dari Resi Durna. Resi Durna akhirnya mati ditangan Drestajumna dalam keadaan sedih dan tertipu.

Adipati Basukana yang menyerang Pandawa di malam hari. Ini adalah pelanggaran dalam perang. Kresna dengan sigap mengundang Gatotkaca untuk melawan pamannya sendiri. Perang besar di malam hari terjadi. Entah mengapa, Adipati Basukarna mengeluarkan senjata Kuntawijaya untuk membunuh Gatotkaca.

Gatotkaca memang terbunuh tapi Kuntawijaya hanya sekali pakai. Adipati Basukarna sudah tidak memiliki senjata andalan lagi. Gatotkaca sanggup mengorbankan diri untuk Pandawa. Lain waktu, Adipati Basukarna dibunuh Arjuna. Ini lebih mudah dilakukan. Karena Adipati Basukarna sudah kehilangan senjata pamungkas.

Itulah, beberapa strategi Kresna dalam menghadapi Kurawa. Pandawa mungkin diatas kertas kalah unggul. Namun, karena kecerdikan Kresna maka Pandawa menjadi unggul di medan persang Baratayudha.

Kekalahan dan tumpasnya seluruh Kurawa membuat Dewi Gendari marah besar. Dewi Gendari adalah ibu dari para Kurawa dan Kakak dari Sengkuni. Dia mengutuk Kresna bahwa Kerajaan Dwarawati akan tumpas tanpa bekas. Dewi Gendari marah karena Duryudana mati dipukul pahanya oleh Bima atas saran Kresna.

Hal itu terjadi. Kerajaan Dwarawati tumpas karena rakyatnya saling bunuh. Kresna bersemedi kemudian kakinya kena panah oleh pemburu. Sang pemburu melihat kaki kresna seperti kaki kijang. Kresna akhirnya mati dengan cara Moksa. Kerajaan Dwarawati diterjang badai Tsunami.

Mikul Dhuwur Mendhem Jero

pandawa_putihAmbil dari sini

Pada akhirnya, anak-anak Pandawa gugur semua mulai dari Gatotkaca, Abimanyu, Antareja, Antasena dan Wisanggeni. Huft….!!! Keturunan langsung Pandawa ternyata hanya tersisa satu yaitu Parikesit. Parikesit adalah anak dari Abimanyu dengan istri Dewi Utari, cucu dari Arjuna. Parkesit dilahirkan di masa perang Baratayudha.

Sedih, Kemenangan keluarga Pandawa meninggalkan duka yaitu kematian anak-anak mereka. Kemenangan di Perang Baratayudha harus diiringi dengan kisah sedih itu. Mengapa jalan cerita harus begini?  Masihkah ada kemungkinan skenario kitab Jitabsara dibuat Happy Ending? Kemenangan yang gemilang namun menyedihkan.

Wayang itu salah satu bagian dari kehidupan orang jawa. Wayang adalah tuntunan bagi orang Jawa. Batas yang tipis antara kisah wayang itu nyata atau hanya cerita para pujangga. Karena wayang adalah mitologi jawa meskipun tidak murni. Oleh sebab itu, Kisah wayang harus mengandung ajaran kehidupan atau filosofi hidup. Meskipun, kadang jalan cerita kadang seringkali ironi.

“Othak-Athik Gathuk” itu kata orang Jawa. Saya mengotak-atik dan menghubung-hubungkan sehingga tampak menarik dan berfilosofi hidup. Filosofi hidup dari kematian  para Anak PANDAWA adalah “MIKUL DHUWUR MENDHEM JERO” yaitu Mengangkat kebaikan Orang Tua kita dan Mengubur segala keburukan para Orang Tua kita.

Dikisahkan jika Abimanyu dan Gatotkaca mati di medan peperangan Baratayudha. Antareja harus rela menjadi tawur/kurban  sehingga mati sebelum perang. Antasena dan Wisanggeni yang paling digdaya ternyata moksa sebelum perang Baratayudha.

Antasena dan Wisanggeni adalah dua orang dalam perlindungan Sanghyang Wenang. Keduanya melihat orangtua mereka berperang melawan Kurawa maka keduanya tergerak hati untuk ikut membantu. Mereka merasa mampu dan berkewajiban. Maka, Mereka berdua memohon izin kepada Sanghyang Wenang untuk ikut perang Baratayudha.

Sanghyang Wenang ternyata tidak mengizinkan mereka berdua ikut perang Baratayudha. Sanghyang Wenang meramalkan jika mereka berdua ikut perang maka Pandawa akan kalah. Padahal, Wisanggeni adalah anak yang sakti dan begitu pula Antasena. Wisanggeni pernah mengalah resi Durna. Antasena pernah menduduki Astinapura kemudian dilepaskan kembali atas permintaan para Pandawa. Antasena melakukan sesuatu yang berat yaitu melepaskan Astina yang sudah dalam genggamannya.

Pandawa sebenarnya cukup mengirimkan anak-anak mereka menghadapi Kurawa. Perang Baratayudha dipastikan dimenangkan pihak Pandawa. Pandawa tidak perlu susah payah berperang. Anak-anak Pandawa adalah anak yang berbakti kepada orang tuanya. Pandawa cukup duduk ditemani secangkir teh sambil menunggu perang usai. Dijamin Kurawa mesti tumpas. Astinapura menjadi Karang Abang dan Porak Poranda.

Kitab Jitabsara menjadi basi jika itu terjadi. Para Dewa menetapkan bahwa Perang Baratayudha mesti harus terjadi agar dapat menjadi pelajaran bagi anak cucu manusia. Pelajaran tentang Perjuangan, Kebenaran VS Kebathilan dan Mikul Dhuwur Mendhem Jero. Kitab Jitabsara tidak boleh menjadi basi.

Setinggi apapun kesaktian anak-anak Pandawa dan memang lebih sakti daripada bapak-bapaknya. Tetapi, Orang Tua mereka adalah prioritas utama. Kisah ini menjadi kisah pengorbanan mereka kepada para orang tua. Mereka rela jadi Tawur / Kurban untuk Perang Baratayudha. Karena perang Baratayudha adalah urusan orangtua mereka. Mereka rela untuk berkurban apa saja untuk orangtuanya meski harus gugur di medan perang atau menjadi tawur/ kurban dan moksa sehingga menghilang tanpa bekas.

Itulah sikap Mikul Dhuwur dari anak-anak Pandawa. Mereka akan selalu memanggul (mikul) demi kehormatan orang tua mereka. Apapun yang terjadi bahkan nyawa sekalipun. Mereka rela harus minggir untuk memanggul kehormatan orang tua.

Karena Perang Baratayudha adalah perang “kehormatan” dari masing-masing trah yaitu Trah Pandawa dan Trah Kurawa. Sehingga para Pandawa sendiri yang harus maju perang. Jangan sampai Sejarah menyatakan bahwa mereka adalah para pengecut dengan berlindung dibalik kesaktian anak-anak mereka. Anak-anak Pandawa sedang mengamalkan ajaran “Mikul Dhuwur”.

Anak-anak Pandawa sebenarnya anak-anak yang ditelantarkan. Para Pandawa khususnya Bimasena dan Arjuna adalah Ksatria yang mempunyai anak dimana-mana dari beberapa istri. Anak-anak ini tidak diurus” oleh para bapaknya. Akan tetapi, anak-anak Pandawa tidak pernah mengungkit masalah ini kepada para bapaknya.

Seringkali kisah bercerita bahwa si anak lahir tanpa ditunggui ayahnya dan ditinggal bersama ibunya seperti Wisanggeni dan Antasena. Namun, Anak-anak Pandawa tidak pernah melawan atas perlakuan ini. Mereka memilih jalan “Mendhem Jero”. Apapun yang terjadi maka saya harus menghormati ayah dan Ibu.

Hehehehehe..!!!!! Naif-kah?  Tapi begitulah, Penghormatan kepada orang tua adalah filosofi dalam pewayangan. Menghormati bukan berarti sepakat dalam berbagai hal. Bahkan Para Pandawa pernah bertempur dan dikalahkan oleh anak mereka misal : Wisanggeni. Menghormati tapi tetap bersifat kritis. Kekritisan dibingkai dalam rasa penghormatan.

Namun, setelah ayah mereka mempunyai musuh maka mereka patuh dengan strategi yang dijalankan oleh pihak Pandawa. Antareja harus menjilat kakinya sendiri hingga mati. Wisanggeni dan Antasena juga harus mati sebelum perang. Gatotkaca dan Abimanyu harus mati dalam peperangan. Itu semua dalam bingkai strategi pihak Pandawa yang diotaki sang penasihat militer yaitu Kresna. Mereka manut saja asal untuk kebaikan mereka sendiri di Nirwana.

Anak-anak Pandawa, Mereka patuh menjalani takdirnya untuk kemenangan orang tua mereka. Ini bentuk keyakinan dan kepercayaan mereka. Bahwa menghormati orang tua mereka adalah jalan terbaik menuju kehidupan Nirwana yang lebih Agung dan Abadi.

 

 

 

Kesaktian Antasena

antasena-ang

Sumber : disini

Tokoh ini adalah anak dari Bimasena yaitu Antasena. Jika mengikuti gagrak Surakarta maka Antasena adalah nama lain dari Antareja namun Gagrak Yogyakarta maka Antasena adalah anak bungsu dari Bimasena. Keduanya sama-sama murid Sanghyang Antaboga. Antasena yang paling sakti diantara keluarga Pandawa.

Antasena memiliki kemampuan terbang, ambles bumi dan menyelam. Kesaktiannya lengkap sudah, Gatotkaca yang mampu terbang, Antareja yang mampu ambles bumi masih kalah kelas karena Antasena masih bisa menyelam. Anugerah yang dimiliki oleh Antasena sebagai cucu Batara Baruna yang menguasai lautan.

Wisanggeni yang memiliki kemampan yaitu Upas yang beracun maka Antasena juga memiliki. Kelahiran Antasena juga sedikit dipaksakan. Saat itu, Kahyangan diserbu oleh Prabu Dewa Kintaka dari Kerajaan Guwacinraka untuk merebut Batari Komaratih untuk dijadikan istri. Kala itu, Dewi Urangayu sedang mengandung janin si Antasena. Seperti biasa, sang Ayah janin yaitu Bimasena sudah meninggalkan Dewi Urangayu menuju kerajaan Amarta.

Batara Narada yang menjadi penasehat Batara Guru memiliki ide untuk menghadapi pengacau Kahyangan. Batara Narada mengeluarkan Antasena dari dalam janin ibunya. Antasena dimajukan ke medan perang menghadapi Prabu Dewa Kintaka.Singkat cerita maka Prabu Dewa Kintaka dapat dikalahkan. Kemudian, Antasena dikirim ke Kakeknya Antareja yaitu Sanghyang Antaboga untuk dididik menjadi Ksatria pilih tanding.

Antasena adalah lambang kejujuran. Antasena tidak bisa basa-basi, omongannya lugas dan ngoko cenderung kasar. Sepupunya yaitu Wisanggeni memanggil dia dengan sebutan Cah Edan ( Anak Gila). Antasena sangat urakan, semau gue, polos, lugu dan teguh pendirian. Dia mempunyai loyalitas tinggi ke trah Pandawa.

Anggota Pandawa sangat segan dengan antasena. Trah Pandawa tidak ada yang mengalahkan kesaktian Antasena dan Trah Pandwa juga diselamatkan oleh Antasena berkali-kali.

Pernikahan Dewi Pregiwati dan Raden Pancawala diselamatkan dari gangguan Begawan Durna. Pandawa juga pernah diselamatkan pula dari Ganggatrimuka yaitu Raja Dasar Samodra. Ganggatrimuka adalah sekutu Kurawa. Pandawa dimasukkan ke dalam jeruji besi oleh Ganggatrimuka. Kemudian mereka ditenggelamkan ke dasar Samudra sampai mati.  Pandawa yang sudah mati dihidupkan kembali oleh Antasena dengan Senjata Cupumadusena pemberian dari Kakeknya.

Antasena juga pernah merebut Astina sebelum perang Baratayuda pecah. Prabu Duryudana sudah takluk namun Pandawa tidak merestui aksi Antasena. Antasena dengan legowo mengembalikan Astina ke tangan Prabu Duryudana. Antasena lebih taat kepada orangtuanya meskipun mampu merebut Astina.

Kalau Astina sudah direbut Pandawa sebelum Perang Baratayudha, Apa jadinya Kitab Jitabsara? Hehehehehe…!!!!! nggak ada cerita Perang Baratayudha.

Balada Wisanggeni

450px-bambang_wisanggeniAmbil di sini

Kita masih mengupas wayang asli Indonesia. Wayang yang satu ini bernama Wisanggeni. Wisanggeni adalah anak dari Arjuna dari istri yang bernama Dresnala. Dresnala adalah anak dari Batara Brama. So, Wisanggeni itu seperti Hercules. Wisanggeni itu manusia setengah dewa. Ayahnya manusia dan ibunya seorang dewi.

Kisah ini diawali ketika Batari Durga mengeluh ke suaminya yaitu Batara Guru. Karena Arjuna telah menikahi Dresnala padahal Dewasrani menginginkan Arjuna juga. Naluri Ibu yang ingin memberikan  yang terbaik buat anak membuncah. Batara Guru menjadi resah. Batara Guru adalah Raja para Dewa. Mitologi Yunani mungkin selevel dengan Zeus.

Anak polah Bopo Kepradah demikian peribahasa jawa. Batara Guru berusaha agar Arjuna berpisah dengan Dresnala. Batara Guru memerintahkan Batara Brama agar menceraikan Arjuna dengan Dresnala. Batara Narada sebagai penasihat Batara Guru menentang, dia memilih mundur dari posisi penasehat demi membela Arjuna.

Ternyata, Dresnala sudah mengandung anak dari Arjuna yaitu Wisanggeni. Batara Brama berusaha menggugurkan. Dresnala dihajar oleh Batara Brama, ayahnya sendiri. Ajaib, Bayi itu lahir sebelum waktunya. Bayi itu dibuang oleh batara brama ke kawah candradimuka. Dresnala di-“aman”-kan oleh Batari Durga dan anaknya yaitu Dewasrani. Dresnala dibawa ke Kerajaan Tunggulmaya.

Batara Narada diam-diam menyelamatkan sang bayi dengan mengambil dari Kawah Candradimuka. Ajaib, Bayi itu berubah menjadi seorang pemuda yang gagah perkasa. Batara Narada memberi nama sang pemuda yaitu Wisanggeni. Wisanggeni berasal dari dua kata yaitu Wisa (Upas) dan Geni (Api). Karena Wisanggeni lahir dari kemarahan kakeknya yaitu Batara Brama yang juga sebagai Dewa penguasa api. Kawah Candradimuka tidak membunuhnya tapi menghidupkannya bahkan menguatkan.

Wisanggeni dibawah perlindungan Sanghyang Wenang. Sanghyang Wenang adalah leluhur dari Batara Guru. So, Batara Guru tidak bisa mengalahkan Wisanggeni karena beking lebih kuat. Wisanggeni menjelma menjadi sakti tiada tara. Para Dewa tidak mampu melawannya. Batara Guru bahkan pernah harus ngacir dari Kahyangan Jonggringsaloka menuju dunia manusia. karena ulah Wisanggeni atas saran Batara Narada.

Wisanggeni tidak terkalahkan karena perlindungan Sanghyang Wenang. Sekali lagi, beking itu penting. Hahahahaha…!!!!! Batara Guru dan Batara Brama mengakui kesalahan dan bertobat pada akhirnya. Karena konspirasi mereka sungguh jahat dan tidak mencerminkan kode etik seorang Batara. Emang, kalau udah kalah biasanya emang begitu. “Tobat deh…!!!! “.

Wisanggeni sifatnya jujur, lugu dan pemberani. Wisanggeni dianggap gila di kahyangan. Wisanggeni jika berbicara dengan bahasa jawa kasar (Ngoko) namun dialeknya halus kepada siapapun kecuali dengan Sanghyang Wenang. Dia orangnya lurus dan tidak terkalahkan namun sangat emosional dan tidak matang. Orang macam begini sungguh merepotkan.

Wisanggeni menghadap kepada sang ayah yaitu Arjuna di kerajaan Amarta. Arjuna tidak langsung percaya. Maklum, banyak yang mengaku sebagai anaknya. Karena banyak pula yang dihamilinya. Hehehehehehe…!!!!! Wisanggeni akhirnya beradu kekuatan dengan Arjuna. Wisanggeni memang pilih tanding, semua Pandawa dapat dikalahkannya. Baru, Arjuna mengakui Wisanggeni sebagai anaknya. Hehehehehe…!!!!! Kalau udah kalah biasanya ya begitu. Akui aja deh….!!!!!

Wisanggeni menceritakan semua kisah ibunya sampai kisah dia sendiri. Wisanggeni melakukan “operasi pembebasan “ ibunya yang diculik oleh Batari Durga dan Dewasrani. Sekali lagi, Wisanggeni menunjukkan kelas yaitu “INVICIBLE”. Operasi Pembebasan berjalan sukses.

Anak Polah Bapa Kepradah, Anak membuat ulah maka orangtua ikut bertindak. Karena Dewasrani merengek-rengek minta dikawinin dengan Arjuna maka membuat batari Durga menjadi gelap mata. Dia paksa Batara Guru melakukan kejahatan. Batara Guru memaksa Batara Brama menceraikan anaknya. Sungguh tindakan tidak terpuji. Ini semua karena permintaan anaknya. Akibatnya fatal, karena muncul ksatria yang mempermalukan Batara Guru sekeluarga.

Batara Guru adalah pimpinan para Dewa. Batara Guru harus menanggung kekalahan malu karena ulah anaknya bahkan seluruh anggota keluarganya. Itulah filosofi jawa, Anak Polah Bapa Kepradah. Saya juga belajar untuk menyayangi anak saya tanpa harus gelap mata. Hehehehehehe…!!!!

 

 

 

Jalan Hidup Antareja

antareja_soloAmbil di sini

Antareja adalah salah satu wayang asli Indonesia selain Semar. Kita tidak akan menemukan tokoh ini di kisah mahabarata versi Indonesia. Tokoh ini muncul di kisah pewayangan gagrak Solo dan Jogja. Antareja, Raja Jangkarbumi yang kulitnya bersisik. Putra dari Bima. Tokoh panengah Pandawa. Tokoh protagonis dalam pewayangan Mahabarata.

Ibunya adalah  Nagagini yaitu putri Batara Anantaboga. Antareja tidak mempan senjata karena seluruh badannya telah dilumuri dengan air liur Batara Antaboga. Kesaktian Antareja 11-12 dengan Gatotkaca bahkan lebih karena hampir tanpa kelemahan. Anatreja memiliki senjata berupa upas / racun di air lirnmya. Antareja bagai pasukan khusus sekelas Denjaka Jala Mengkara atau Pasukan SEAL AS.

Dia pernah bertempur dengan saudara sebapak beda ibu yaitu Gatotkaca. Bisa dibayangkan bagaimana serunya pertempuran mereka. Ilmunya seimbang. Gatotkaca hanya bisa dikalahkan oleh senjata Kontawijaya. Karena kesalahpahaman, Antareja dikira membunuh bibinya yaitu Wara Sumbadra. Padahal, Sumbadra ditolong Antareja bahkan dihidupkan kembali oleh Antareja. Sungguh, punya istri lebih dari satu kadang merepotkan. Saudara sebapak sendiri bisa berantem pula. Hahahahahaha…!!!!

Alkisah, Kresna sang raja Dwrarawati sedang “ngrogo sukmo” alias mengeluarkan roh dari jasadnya sehingga tampak seperti orang tidur. Kresna dalam misi berbahaya yaitu mengintip informasi A1 tentang perang Baratayudha. Informasi itu berupa skenario (pakem) perang yang akan terjadi antara PANDAWA vs KURAWA ditulis oleh Batara Penyarikan dengan arahan Batara Guru dan Batara Narada. Skenario itu dinamakan Kitab Jitabsara.

Kresna berkamuflase dengang menjadi klanceng putih (lebah putih). Weitsss…!!!! Batara panyarikan menulis bahwa “Baladewa dikalahkan oleh Antareja”. Dueerrr…!!!! Baladewa adalah kakak kandung Kresna. Baladewa juga akan menjadi pendukung Kurawa. Secara…!!!! Kresna adalah penasihat militer Pandawa. Galau…!!!Kakak beradik harus di pihak yang berhadap-hadapan.

Batara Panyarikan yang sedang asyik menulis kitab Jitabsara disenggol Klanceng Putih. So, Tumpah tinta yang untuk menulis kitab Jitabsara. Kamuflase sang kresna ketahuan. Kresna bernegosiasi dengan Batara Guru. Hasilnya, Kitab Jitabsara dipegang oleh Kresna tapi Batara Guru minta dirahasiakan tentang isi Kitab Jitabsara kepada siapapun dan Kresna harus menyelesaikan urusan Baladewa.

Hehehehehe…!!!!! Kresna adalah penasihat militer Pandawa. Dia pemegang kitab Jitabsara maka kemenangan sudah didepan mata. Kresna  cuman ingin menyelesaikan Baratayudha dengan cantik dan menyelamatkan kehormatan kakaknya di sejarah pewayangan. Harus ada langkah terobosan.

Harus ada cara menghindari pertempuran antara Baladewa dan Antareja. Jelas, Baladewa mesti kalah dengan Antareja. Karena itu yang tertulis di kitab Jitabsara. Kalau Baladewa mati sebagai pembela PANDAWA itu bukan masalah. Sudah kalah dan dikenang sebagai pembela KURAWA. Ah…!!!! Apa kata dunia…?????????

Kresna memutar otak. Dia memang jago strategi yang cerdas dan kreatif. Jangan sebut kresna jika tidak bisa mengakali kitab Jitabsara. Baladewa diminta untuk bertapa di Grojogan Sewu menjelang perang Baratayudha. Untuk memastikan tidak kemana-mana. Anaknya si Kresna yaitu Raden Samba diminta menjaga pamannya si Baladewa. Kresna ingin memastikan seusia dengan strateginya.

Ah…!!!! Baladewa sudah aman. Dia akan bertapa sampai menjelang berakhir perang Baratayudha. Kresna harus menyelesaikan urusan si Antareja. Antareja harus di-“aman”-kan. Alkisah, Ketika menjelang perang Baratayudha maka masing-masing pihak harus mempersembahkan kurban / Tawur kepada para Dewa. Sebagai wujud kesungguhan diri dalam memohon pertolongan sang dewa.

Kurban ini adalah permohonan kepada dewa agar diberi kemenangan dalam perang Baratayudha. Kresna mengusulkan Antareja sebagai kurban / Tawur dari pihak Pandawa. Sebagai gantinya, Antareja akan dimasukkan di Surga Lapis Sembilan milik Kresna. Ini barter yang cantik. Antareja tidak perlu berperang tapi ditukar dengan kehidupan abadi. Hmmmm…!!! Pertukaran yang menggiurkan.

Antareja adalah anak yang berbakti, ksatria yang selalu membela trah yaitu Trah Pandawa. Antareja rela dijadikan kurban / tawur. Antareja yang sakti mandraguna dan invicible. Dia kalah dengan dirinya sendiri. Dia gugur dengan menjilat telapak kakinya sendiri. Tubuhnya teracuni oleh Upas dari air liurnya sendiri. Tidak ada yang mampu mengalahkannya namun dia sendiri yang “mengalah”.Anaknya  yaitu Arya Danurwenda kelak akan menjadi patih Astinapura setelah perang Baratayudha.

Hikmah kisah Antareja ini adalah musuh terbesar kita seringkali adalah diri kita sendiri. Seorang yang sakti mandraguna seringkali tidak kalah oleh orang lain namun karena oleh dirinya sendiri. Kisah Antareja tidak akan anda temukan di cerita versi India.Ini tipikal suku Jawa yaitu menyukai win-win solution. Ini adalah kearifan lokal bangsa kita sendiri. Filosofi orang jawa seperti dibawah ini :

Sugih tanpa bandha

Digdaya tanpa aji

Nglurug tanpa bala

Menang tanpa ngasorake.

(Kaya tanpa harta

Kekuasaan sering kali tercipta karena suatu kemenangan fisik, kemenangan mental.

Menyerang tanpa pasukan

tujuan pencapaian kita yang kita harapkan, kemenangan yang kita inginkan, haruslah tanpa merendahkan orang lain)

Dalam Kisah Antareja maka menggunakan filosofi yaitu MENANG TANPO NGASORAKE meskipun harus ada jatuh kuban yaitu Antareja. Kehormatan Baladewa tetap terjaga, Antareja juga mendapat ganti setimpal yaitu Surga Lapis Sembilan milik Kresna dan PANDAWA tampil sebagai pemenang perang BARATAYUDHA JAYA BINANGUN.