Jalan Hidup Antareja

antareja_soloAmbil di sini

Antareja adalah salah satu wayang asli Indonesia selain Semar. Kita tidak akan menemukan tokoh ini di kisah mahabarata versi Indonesia. Tokoh ini muncul di kisah pewayangan gagrak Solo dan Jogja. Antareja, Raja Jangkarbumi yang kulitnya bersisik. Putra dari Bima. Tokoh panengah Pandawa. Tokoh protagonis dalam pewayangan Mahabarata.

Ibunya adalah  Nagagini yaitu putri Batara Anantaboga. Antareja tidak mempan senjata karena seluruh badannya telah dilumuri dengan air liur Batara Antaboga. Kesaktian Antareja 11-12 dengan Gatotkaca bahkan lebih karena hampir tanpa kelemahan. Anatreja memiliki senjata berupa upas / racun di air lirnmya. Antareja bagai pasukan khusus sekelas Denjaka Jala Mengkara atau Pasukan SEAL AS.

Dia pernah bertempur dengan saudara sebapak beda ibu yaitu Gatotkaca. Bisa dibayangkan bagaimana serunya pertempuran mereka. Ilmunya seimbang. Gatotkaca hanya bisa dikalahkan oleh senjata Kontawijaya. Karena kesalahpahaman, Antareja dikira membunuh bibinya yaitu Wara Sumbadra. Padahal, Sumbadra ditolong Antareja bahkan dihidupkan kembali oleh Antareja. Sungguh, punya istri lebih dari satu kadang merepotkan. Saudara sebapak sendiri bisa berantem pula. Hahahahahaha…!!!!

Alkisah, Kresna sang raja Dwrarawati sedang “ngrogo sukmo” alias mengeluarkan roh dari jasadnya sehingga tampak seperti orang tidur. Kresna dalam misi berbahaya yaitu mengintip informasi A1 tentang perang Baratayudha. Informasi itu berupa skenario (pakem) perang yang akan terjadi antara PANDAWA vs KURAWA ditulis oleh Batara Penyarikan dengan arahan Batara Guru dan Batara Narada. Skenario itu dinamakan Kitab Jitabsara.

Kresna berkamuflase dengang menjadi klanceng putih (lebah putih). Weitsss…!!!! Batara panyarikan menulis bahwa “Baladewa dikalahkan oleh Antareja”. Dueerrr…!!!! Baladewa adalah kakak kandung Kresna. Baladewa juga akan menjadi pendukung Kurawa. Secara…!!!! Kresna adalah penasihat militer Pandawa. Galau…!!!Kakak beradik harus di pihak yang berhadap-hadapan.

Batara Panyarikan yang sedang asyik menulis kitab Jitabsara disenggol Klanceng Putih. So, Tumpah tinta yang untuk menulis kitab Jitabsara. Kamuflase sang kresna ketahuan. Kresna bernegosiasi dengan Batara Guru. Hasilnya, Kitab Jitabsara dipegang oleh Kresna tapi Batara Guru minta dirahasiakan tentang isi Kitab Jitabsara kepada siapapun dan Kresna harus menyelesaikan urusan Baladewa.

Hehehehehe…!!!!! Kresna adalah penasihat militer Pandawa. Dia pemegang kitab Jitabsara maka kemenangan sudah didepan mata. Kresna  cuman ingin menyelesaikan Baratayudha dengan cantik dan menyelamatkan kehormatan kakaknya di sejarah pewayangan. Harus ada langkah terobosan.

Harus ada cara menghindari pertempuran antara Baladewa dan Antareja. Jelas, Baladewa mesti kalah dengan Antareja. Karena itu yang tertulis di kitab Jitabsara. Kalau Baladewa mati sebagai pembela PANDAWA itu bukan masalah. Sudah kalah dan dikenang sebagai pembela KURAWA. Ah…!!!! Apa kata dunia…?????????

Kresna memutar otak. Dia memang jago strategi yang cerdas dan kreatif. Jangan sebut kresna jika tidak bisa mengakali kitab Jitabsara. Baladewa diminta untuk bertapa di Grojogan Sewu menjelang perang Baratayudha. Untuk memastikan tidak kemana-mana. Anaknya si Kresna yaitu Raden Samba diminta menjaga pamannya si Baladewa. Kresna ingin memastikan seusia dengan strateginya.

Ah…!!!! Baladewa sudah aman. Dia akan bertapa sampai menjelang berakhir perang Baratayudha. Kresna harus menyelesaikan urusan si Antareja. Antareja harus di-“aman”-kan. Alkisah, Ketika menjelang perang Baratayudha maka masing-masing pihak harus mempersembahkan kurban / Tawur kepada para Dewa. Sebagai wujud kesungguhan diri dalam memohon pertolongan sang dewa.

Kurban ini adalah permohonan kepada dewa agar diberi kemenangan dalam perang Baratayudha. Kresna mengusulkan Antareja sebagai kurban / Tawur dari pihak Pandawa. Sebagai gantinya, Antareja akan dimasukkan di Surga Lapis Sembilan milik Kresna. Ini barter yang cantik. Antareja tidak perlu berperang tapi ditukar dengan kehidupan abadi. Hmmmm…!!! Pertukaran yang menggiurkan.

Antareja adalah anak yang berbakti, ksatria yang selalu membela trah yaitu Trah Pandawa. Antareja rela dijadikan kurban / tawur. Antareja yang sakti mandraguna dan invicible. Dia kalah dengan dirinya sendiri. Dia gugur dengan menjilat telapak kakinya sendiri. Tubuhnya teracuni oleh Upas dari air liurnya sendiri. Tidak ada yang mampu mengalahkannya namun dia sendiri yang “mengalah”.Anaknya  yaitu Arya Danurwenda kelak akan menjadi patih Astinapura setelah perang Baratayudha.

Hikmah kisah Antareja ini adalah musuh terbesar kita seringkali adalah diri kita sendiri. Seorang yang sakti mandraguna seringkali tidak kalah oleh orang lain namun karena oleh dirinya sendiri. Kisah Antareja tidak akan anda temukan di cerita versi India.Ini tipikal suku Jawa yaitu menyukai win-win solution. Ini adalah kearifan lokal bangsa kita sendiri. Filosofi orang jawa seperti dibawah ini :

Sugih tanpa bandha

Digdaya tanpa aji

Nglurug tanpa bala

Menang tanpa ngasorake.

(Kaya tanpa harta

Kekuasaan sering kali tercipta karena suatu kemenangan fisik, kemenangan mental.

Menyerang tanpa pasukan

tujuan pencapaian kita yang kita harapkan, kemenangan yang kita inginkan, haruslah tanpa merendahkan orang lain)

Dalam Kisah Antareja maka menggunakan filosofi yaitu MENANG TANPO NGASORAKE meskipun harus ada jatuh kuban yaitu Antareja. Kehormatan Baladewa tetap terjaga, Antareja juga mendapat ganti setimpal yaitu Surga Lapis Sembilan milik Kresna dan PANDAWA tampil sebagai pemenang perang BARATAYUDHA JAYA BINANGUN.

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s