Balada Wisanggeni

450px-bambang_wisanggeniAmbil di sini

Kita masih mengupas wayang asli Indonesia. Wayang yang satu ini bernama Wisanggeni. Wisanggeni adalah anak dari Arjuna dari istri yang bernama Dresnala. Dresnala adalah anak dari Batara Brama. So, Wisanggeni itu seperti Hercules. Wisanggeni itu manusia setengah dewa. Ayahnya manusia dan ibunya seorang dewi.

Kisah ini diawali ketika Batari Durga mengeluh ke suaminya yaitu Batara Guru. Karena Arjuna telah menikahi Dresnala padahal Dewasrani menginginkan Arjuna juga. Naluri Ibu yang ingin memberikan  yang terbaik buat anak membuncah. Batara Guru menjadi resah. Batara Guru adalah Raja para Dewa. Mitologi Yunani mungkin selevel dengan Zeus.

Anak polah Bopo Kepradah demikian peribahasa jawa. Batara Guru berusaha agar Arjuna berpisah dengan Dresnala. Batara Guru memerintahkan Batara Brama agar menceraikan Arjuna dengan Dresnala. Batara Narada sebagai penasihat Batara Guru menentang, dia memilih mundur dari posisi penasehat demi membela Arjuna.

Ternyata, Dresnala sudah mengandung anak dari Arjuna yaitu Wisanggeni. Batara Brama berusaha menggugurkan. Dresnala dihajar oleh Batara Brama, ayahnya sendiri. Ajaib, Bayi itu lahir sebelum waktunya. Bayi itu dibuang oleh batara brama ke kawah candradimuka. Dresnala di-“aman”-kan oleh Batari Durga dan anaknya yaitu Dewasrani. Dresnala dibawa ke Kerajaan Tunggulmaya.

Batara Narada diam-diam menyelamatkan sang bayi dengan mengambil dari Kawah Candradimuka. Ajaib, Bayi itu berubah menjadi seorang pemuda yang gagah perkasa. Batara Narada memberi nama sang pemuda yaitu Wisanggeni. Wisanggeni berasal dari dua kata yaitu Wisa (Upas) dan Geni (Api). Karena Wisanggeni lahir dari kemarahan kakeknya yaitu Batara Brama yang juga sebagai Dewa penguasa api. Kawah Candradimuka tidak membunuhnya tapi menghidupkannya bahkan menguatkan.

Wisanggeni dibawah perlindungan Sanghyang Wenang. Sanghyang Wenang adalah leluhur dari Batara Guru. So, Batara Guru tidak bisa mengalahkan Wisanggeni karena beking lebih kuat. Wisanggeni menjelma menjadi sakti tiada tara. Para Dewa tidak mampu melawannya. Batara Guru bahkan pernah harus ngacir dari Kahyangan Jonggringsaloka menuju dunia manusia. karena ulah Wisanggeni atas saran Batara Narada.

Wisanggeni tidak terkalahkan karena perlindungan Sanghyang Wenang. Sekali lagi, beking itu penting. Hahahahaha…!!!!! Batara Guru dan Batara Brama mengakui kesalahan dan bertobat pada akhirnya. Karena konspirasi mereka sungguh jahat dan tidak mencerminkan kode etik seorang Batara. Emang, kalau udah kalah biasanya emang begitu. “Tobat deh…!!!! “.

Wisanggeni sifatnya jujur, lugu dan pemberani. Wisanggeni dianggap gila di kahyangan. Wisanggeni jika berbicara dengan bahasa jawa kasar (Ngoko) namun dialeknya halus kepada siapapun kecuali dengan Sanghyang Wenang. Dia orangnya lurus dan tidak terkalahkan namun sangat emosional dan tidak matang. Orang macam begini sungguh merepotkan.

Wisanggeni menghadap kepada sang ayah yaitu Arjuna di kerajaan Amarta. Arjuna tidak langsung percaya. Maklum, banyak yang mengaku sebagai anaknya. Karena banyak pula yang dihamilinya. Hehehehehehe…!!!!! Wisanggeni akhirnya beradu kekuatan dengan Arjuna. Wisanggeni memang pilih tanding, semua Pandawa dapat dikalahkannya. Baru, Arjuna mengakui Wisanggeni sebagai anaknya. Hehehehehe…!!!!! Kalau udah kalah biasanya ya begitu. Akui aja deh….!!!!!

Wisanggeni menceritakan semua kisah ibunya sampai kisah dia sendiri. Wisanggeni melakukan “operasi pembebasan “ ibunya yang diculik oleh Batari Durga dan Dewasrani. Sekali lagi, Wisanggeni menunjukkan kelas yaitu “INVICIBLE”. Operasi Pembebasan berjalan sukses.

Anak Polah Bapa Kepradah, Anak membuat ulah maka orangtua ikut bertindak. Karena Dewasrani merengek-rengek minta dikawinin dengan Arjuna maka membuat batari Durga menjadi gelap mata. Dia paksa Batara Guru melakukan kejahatan. Batara Guru memaksa Batara Brama menceraikan anaknya. Sungguh tindakan tidak terpuji. Ini semua karena permintaan anaknya. Akibatnya fatal, karena muncul ksatria yang mempermalukan Batara Guru sekeluarga.

Batara Guru adalah pimpinan para Dewa. Batara Guru harus menanggung kekalahan malu karena ulah anaknya bahkan seluruh anggota keluarganya. Itulah filosofi jawa, Anak Polah Bapa Kepradah. Saya juga belajar untuk menyayangi anak saya tanpa harus gelap mata. Hehehehehehe…!!!!

 

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Balada Wisanggeni

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s