Dilema Durna

Sumber : disini

Bambang Kumbayana adalah nama muda dari Resi Durna. Guru Besar di Perguruan Sokalima. Guru sejati bagi Pandawa dan Kurawa. Dia adalah Guru Seni Perang di Astinapura. Resi Durna terlahir sebagai Brahmana namun takdirnya bertindak selayaknya Ksatria.

Sucitra adalah sahabat karibnya. Sucitra telah berjanji memberikan sebagian wilayah jika telah berkuasa di Panchala. Sumpah di masa muda seringkali hanya sumpah di bibir saja. Durna merasa senang hatinya, dia tidak menyadari jika akhirnya harus kecewa hati.

Sucitra telah menjadi Raja Panchala bergelar Prabu Drupada. Resi Durna menagih janji. Resi Durna mendatangi Prabu Drupada. Karena Resi Durna yang merasa dekat dengan Prabu Drupada. Maka Sang Prabu dipanggil dengan nama Sucitra. Patih Gandamana marah dan tidak terima. Prabu Drupada tidak mau membagi Kerajaan. Durna dihajar sampai cacat permanen. Resi Durna pulang dengan kondisi babak belur, tangan hampa, malu dan dendam.

Resi Durna terlahir sebagai Brahmana. Brahmana adalah Begawan yang mengajarkan kebijaksanaan. Ternyata,garis takdir berkata lain. Resi Durna yang ingin berguru ilmu Brahmana ke Parasurama ternyata ditolak. Parasurama telah menurunkan ilmu brahmana ke orang lain. Maka, Parasurama menurunkan Ilmu Perang ke Resi Durna bukan ilmu kebijaksanaan.

Malang nian nasib Bambang Kumbayana. Bambang Kumbayana adalah menjadi Brahmana berwujud Ksatria. Resi Durna menguasai segala ilmu perang. Seorang ahli perang dengan membawa dendam di dada. Ini sungguh berbahaya. Ahli perang yang dengan dendam membara.

Bambang Kumbayana telah memiliki murid-murid yang hebat yaitu Pandawa dan Kurawa. Mereka diberi ujian terakhir yaitu menaklukan Kerajaan Panchala. Ujian ini hanya akal-akalan sang resi. Panchala kalah di tangan Pandawa. Sucitra dipermalukan oleh anak-anak ingusan .

Sungguh malu Sang Prabu Drupada. Dia memohon kepada sang dewa agar dapat membalaskan rasa malu dan kekalahan ini. Sang Dewa mengabulkan dengan menurunkan seorang anak yang bernama Drestajumna. Drestajumna ini kelak akan menghabisi Resi Durna di kancah perang Baratayudha.

Resi Durna tersenyum puas karena telah memiliki Padepokan yang baru yaitu Sokalima. Sokalima yang dulu wilayah dari Pancala direbut oleh Durna. Resi Durna mempunyai murid kesayangan yaitu Arjuna. Sang Resi namun sangat mempercayai Puntadewa. Puntadewa yang tidak pernah bohong.

Resi Durna lebih menyayangi Trah Pandawa namun dalam perang Baratayudha menjadi Panglima Tertinggi Kurawa. Akibat rasa percaya yang lebih terhadap Puntadewa. Resi Durna tewas karena permainan Si Kresna. Dalang Peperangan dari pihak Pandawa.

Sungguh sangat dilema bagi seorang Guru. Orang yang berjiwa Brahmana namun harus menjadi Ksatria yang berpikir killed or to be killed. Durna adalah manusia yang berwatak sportif. Resi Durna tidak ada keraguan sama sekali dalam perang Baratayudha. Resi Durna tak ragu menghadapi murid-murid kesayangannya.

Pembunuhan atas Abimanyu adalah maha karya sang resi. Kalau sang resi tidak turun tangan maka barisan Kurawa sudah hancur lebur. Memang, Kitab Jitabsara sudah menggariskan seperti itu. Perang Baratayudha adalah sarana terwujudnya karma bagi setiap manusia. Baik dari pihak Pandawa atau Kurawa.

Dendam Sucitra, Kasih sayang Sang Resi atas Aswatama dan Tipu Daya sang Kresna adalah paduan sempurna untuk menghancurkan sang Resi. Sang Resi yang limbung jadi gila karena mendengar Aswatama telah mati. Puntadewa telah memainkan peran atas kematian sang resi dan pukulan mematikan Drestajumna mengakhiri hidup sang Resi Durna.

Sang Resi yang mengawali kejayaan hidup dengan segala ironi. Sang Resi mengakhiri kejayaan dengan hati yang pilu. Kepandaian, Kekuatan dan Kedudukan seringkali tidak menjamin hidup berjalan lancar dan bahagia. Sang Resi yang memiliki segalanya ternyata mempunyai jalan hidup yang ironis.

Maka, Marilah kita syukuri yang telah ada. Karena boleh jadi, Jika kita diberi sesuatu yang lebih maka ujian yang timbul juga bisa jadi lebih menyakitkan. Kita hanya wayang yang menjalani hidup. Kita tidak tau yang terjadi esok.

Sang Resi pikir hidupnya akan lancar dengan segala kemampuan. Ternyata, Karena kedigdayaan dan kehebatan sang resi pula yang membuat hidupnya menjadi sebuah Ironi.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s