Bahasa Kalbu

Ifa, itu nama panggilan dari anak saya. Ifa telah naik kelas TK B. Tak terasa sudah 3 tahun belajar di PAUD. Ifa belajar di PAUD sejak usia 2 tahun. Karena ifa mengalami speech delay. Saya mendaftarkan dia ke PAUD sebagai bagian terapi wicara. Lucu juga, Saya bukan mengikuti  sebuah terapi tetapi sekolah.

Ifa sebenarnya sudah mengikuti terapi. Sayang, Ifa selalu meronta-ronta dan menangus ketika terapi. Ifa menjalani tiga kali terapi wicara tapi gagal terus. Dia tidak nyaman dengan suasana di ruang terapi. Kita punya ide sendiri. Ifa harus dikasih tantangan untuk ngomong. Ifa harus kumpul dengan sesama anak-anak seusia. Dia akan tertantang untuk berbicara.

Alhamdulillah, Ifa dinyatakan resmi bisa ngomong di usia 2,5 tahun atau 30 bulan. Perjuangan cukup berat buat mama Ifa. Mama Ifa nungguin Ifa di sekolah hampir satu tahun ketika masih di Playgroup Kecil. Ifa sempat mogok sekolah di akhir tahun ajaran. Ifa mungkin kepayahan di Sekolah. Busyeeettt…. Dah…!!! Tapi nggak masalah. hehehehe….

Ifa naik Playgroup Besar. Guru di playgroup besar kasih saran ke kami. “Ifa biar diantar ayah aja,kalau mama yang antar bisa mellow nanti si Ifa”, gitu kata gurunya. Waduh, Tambahan tugas nih buat saya. Saya harus ngantor masih ditambah antar jam 8 dan jemput jam 11. Cukup merepotkan juga, karena harus bagi waktu.

Saya jalani rutinitas ini terasa ringan saja, nikmatin aja deh. Ternyata…., Kegiatan ini berlangsung sudah 2 tahun. Saya sering mendiskusikan tentang Ifa dengan ibu guru di jeda waktu ketika antar atau jemput. Saya nanya gimana Ifa di kelas. Mulai ngomong atau belum ? Ibu guru juga mulai memancing Ifa ngomong. Ifa kadang merespon atau kadang diam aja.

Alhamdulillah, Ifa akhirnya bisa ngomong. Lega hati saya, kita beri kesempatan Ifa berinteraksi dengan teman kelas dan gurunya adalah bentuk terapi pula. Ifa mulai senang bercerita di rumah. Ifa selalu bercerita ke mamanya tentang segala kejadian di Sekolah. Kalau nonton TV, Ifa cerita tentang yang ditontonnya. Semua hanya untuk mama Ifa dan Mbak  yang njagain Ifa. Tetapi, Itu tidak terjadi ke saya. Ketemu saya, hehehehe… Ifa masih diem aja atau cuman satu dua patah kata.

Ifa masuk ke kelas TK A. Guru kelasnya ada yang laki-laki. Ini menambah tantangan ke Ifa. Ifa harus mulai berkomunikasi dengan seorang lawan jenis dan dewasa lagi. Ifa lebih nyaman dengan sesama jenis makanya dekat dengan Mamanya. Tim Guru TK disusun sebagai ganda campuran. Mereka adalah Pak Luki dan Bu Mifta, Tim Guru yang mengajar di kelasnya si Ifa.

Mereka dengan sabar meladeni Ifa. Pak Luki dan Bu Mifta melatih Ifa untuk mengungkapkan keinginan dan keadaan. Meskipun hal yang sederhana,misal : pipis, makan, atau haus. Awalnya, sering nangis. Sulit bagi Ifa menyatakan perasaan dalam sebuah kalimat. Maklum, dulu pernah speech delay. Ifa lebih nyaman dengan bahasa Isyarat. Namun, Ifa harus dilatih mengungkapkan secara oral.

Guru selalu memberi contoh dalam sebuah kalimat. Ifa dilatih untuk menirukan contoh kalimat tersebut. Alhamdulillah, Pak Luki dan Bu Mifta menganggap sebuah tantangan untuk melatih Ifa. Jadi, mereka melakukan dengan senang hati.  Sebenarnya, Bu Mifta dan Pak Luki mengetahui keinginan Ifa. Mereka ingin melatih Ifa  untuk mengungkapkan dalam sebuah kalimat sederhana bukan isyarat/gesture.

Ifa semakin terlatih. Ifa sudah cerewet ke mama. Lumayan, Dia sudah tahu sendiri bagaimana bercerita ke mama. Hufftt…. Lega rasanya. Ifa mulai dari satu dua patah kata berkembang menjadi kalimat. Terimakasih kami haturkan bagi para guru dengan segala dedikasinya, teruntuk Pak Luki dan Bu Miftah.

Buat Pak Luki dan Bu Mifta, Ifa adalah tantangan. Ifa bukan dianggap sebagai beban di kelas. Emang, Dua guru mengajar dalam satu kelas  dengan murid yang jumlahnya dibawah 20 anak. Tetapi,Saya kira cukup berat juga. Tantangan merubah Ifa menjadi bisa bercerita dan bukan sekedae ngomong adalah sesuatu yang ingin mereka taklukkan.

Lha trus gimana si Ifa ke saya? Hehehehehe….!!! Dia masih sama sejak pertama kali mengantar jemput di sekolah . Ifa masih diam saja ke saya. Ifa sering memakai sinyal/gesture daripada ngomong jika menyampaikan pesan ke saya.Saya antar ifa dari berangkat sampai pulang sekolah dalam kesunyian.

Ifa mungkin kurang sreg. Mungkin, Karena Cara berkomunikasi saya yang buruk. Saya kurang lihai berbasa-basi kepada anak-anak. Kata mama, Kalau dengan anak itu kadang harus butuh basa-basi dan mengetahui keinginan mereka. Apalagi anak perempuan. Dia penginnya dimengerti. Saya sukar untuk mengerti dia

Susahnya minta ampun. Hehehehe…!!!! Kita mengingat kesukaan anak ternyata itu penting. “Kalau ngobrol selipkan tentang kesukaan anak kita misal: Little Pony, Pawn Star, Kongkuni atau Upin Ipin”, begitu saran istri saya. “Kita yang menyesuaikan dunia anak bukan sebaliknya”, Sergah Istri saya.

Ah benar juga, Saya mengalami kesulitan melakukan itu. Saya coba dan masih belum berhasil sampai sekarang.Karena saya belum luwes melakukannya. Saya tidak terbiasa hidup dengan seorang perempuan apalagi seorang anak perempuan . Satu-satunya perempuan dalam keluarga saya adalah ibu. Keluarga saya terdiri dua orang anak laki-laki dan kedua orang tua saya. Setelah menikah, saya mempunyai anak perempuan yang melankolis. Sulit juga menyesuaikannya.

Ifa mulai membuka diri ke saya. Dia mau ngomong dengan saya hanya beberapa patah kata. Ifa mulai bisa ketawa-ketiwi meskipun seringkali ditahan. Gengsinya minta ampun, Ketawa –ketiwi dengan ayah sendiri masih sulit. Hehehehehe…!!!

Saya bersyukur. Ifa sudah bisa berkisah meski bukan ke saya. Ifa bisa mengungkapkan keinginannya meski kepada guru bukan ke saya. Ifa bisa melaporkan pesan guru kepada mama. Ifa sering bercanda dengan Mamanya. Saya yakin Ifa telah mampu berkomunikasi secara lisan. Itu membuat saya bahagia. It’s Enough.

Nak, kau sekarang udah naik TK B. Semoga kau lebih riang dan gembira. Semoga kau lebih cerewet. Ayah cuman bisa tersenyum lega dari kejauhan. Karena kau harus jadi dirimu sendiri. Engkau adalah anak panah. Anak panah yang melesat jauh ke depan sehingga menjadi dirimu sendiri seutuhnya. Kau bukan bayangan dari siapapun termasuk ayah dan mama.

Ah sudahlah

Tak mengapa kau diam kepadaku nak.

Ayahmu yakin bahwa merasakan atensi dari ayahmu

Perasaan itu seringkali tak terungkapkan tapi terasa

Bahasa kami adalah bahasa kalbu

 

 

NB :

Momen yang membahagiakan Ayah:

Tatkala Ifa berlari menyongsong kedatangan ayah. Ayah yang sedang menunggumu keluar dari kelas di halaman sekolah. Ayah yakin itulah bahasa kalbu Ifa.  “Aku sayang ayah”, mungkin itu yang terucap di dalam hati Ifa. Saya yakin itu. Rasa sayang memang sering tak terucapkan.

 

Advertisements

Author: zaki19482

Saya sedang belajar menulis, mencoba menulis segala sesuatu yang dapat dilihat, didengar dam dirasakan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s