The Best Process Vs The Best Input

Pendidikan di Indonesia mengalami sebuah perkembangan baru. Sekolah konvensional berubah menjadi sekolah unggulan.Maka, berdirilah berbagai macam sekolah seperti : SD Full day School, SD Program Khusus atau SD IT ( Islam Terpadu). Mereka semua mengenalkan diri sebagai sekolah unggulan.

Pengertian unggulan sangat beragam. Unggulan adalah murid-muridnya mempunyai IQ yang tinggi. Unggulan adalah murid-muridnya mempunyai kemampuan kognitif yang tinggi atau berarti mempunyai nilai rapor rata-rata 9,0 ( Ini kenyataan, kemarin diberitahu oleh saudara saya jika rat-rata nilai kelas anaknya adalah 9,0. Wuiiiih hebat sekali….)

Tuntutan unggulan mengakibatkan tekanan kepada anak-anak didik. Mereka tertekan dengan tuntutan orangtuanya yang mempunyai ekspektasi tinggi terhadap hasil belajarnya. Tuntutan sekolah agar selalu berprestasi sehingga mempunyai nilai jual di masyarakat. Tuntutan masyarakat kepada si anak agar diakui sebagai anak pandai.

Sekolah menjadi momok bagi anak. Sekolah mencetak robot “pintar” namun hilang sisi kemanusiaan. Sekolah menjadi tidak nyaman bagi siswa karena dengan segala tuntutan. Sekolah menjadi tidak manusiawi. Sekolah yang tidak “memanusiakan manusia”.

Sekolah unggul adalah sekolah yang memanusiakan manusia (hal:96)

Itu adalah kata Munif Chatib dalam bukunya ”Sekolahnya Manusia”. Sekolah yang menghargai semua kecerdasan anak. Asumsi dasar yang dipakai adalah “TIDAK ANAK YANG BODOH TETAPI ANAK MEMPUNYAI KECENDERUNGAN KECERDASAN TERTENTU”. Anak penderita autis ternyata juga mempunyai kecerdasan tertentu misal : Spasial-Virtual.

“Sekolahnya Manusia” prinsipnya tidak menolak berbagai jenis siswa. “Sekolahnya Manusia” berasumsi tidak anak yang bodoh. Tes yang dilakukan bukan untuk menyeleksi siswa diterima atau ditolak. Tes yang dilakukan adalah Tes MIR ( Multiple Intelligence Research). Tes ini hanya mendeskripsikan kecenderungan belajar siswa. Sehingga anak-anak dikelompokkan berdasarkan kecenderungan cara belajar.

Multiple Intelligences menyarankan kepada kita untuk mempromosikan kemampuan atau kelebihan seorang anak dan mengubur ketidakmampuan atau kelemahan anak ( hal : 78)

“Sekolahnya Manusia” bukan hanya isapan jempol atau teori belaka. Munif Chatib telah membuktikannya di SMP YIMI.  Sekolah yang sudah sekarat karena tidak ada murid. Munif Chatib membangun kembali dengan metode “Sekolahnya Manusia”. Akhirnya, mampu meluluskan 100 % siswanya dengan nilai UAN tinggi kedua di Gresik. (hal : 11 )

Sekolah Unggulan saat ini mengandalkan input siswa yang pintar-pintar secara kognitif. Mereka bahkan mengadakan seleksi berdasarkan nilai UAN. Jika sudah diterima maka para siswa ini dikumpulkan di dalam satu kelas tersendiri yang disebut “kelas unggulan”. Oleh Munif Chatib disebut dengan Tracking  (hal : )

Sekolah Unggulan tipe ini berdasarkan the best input. Maka, kita tidak heran jika mereka secara kognitif berprestasi. Sekolah ini secara tidak sadar mengklasifikasi anak pintar dan anak bodoh. Padahal, Semua anak berpotensi dan semua anak mempunyai gaya belajar masing-masing. Semua anak butuh pengakuan atas kelebihannya.

Munif Chatib menjungkir balikkan konsep diatas. Dalam bukunya “Sekolahnya Manusia”, Sekolah Unggulan adalah Sekolah yang mengandalkan ”the best process”. Dosen saya di S2, Prof Sutama menyatakan bahwa sekolah unggulan adalah sekolah yang mampu mengubah anak bodoh menjadi pintar. Dengan kata lain, Sekolah Unggulan adalah sekolah yang mempunyai proses terbaik dalam proses KBM mengakomodasi semua gaya belajar siswa.

Karena menganut “The Best Process”, calon siswa yang lebih awal mendaftar akan langsung diterima. Tak peduli siswa itu mempunyai nilai ujian akhir SD yang bagus atau jeblok ( hal 9)

Sekolah unggul adalah sekolah yang para gurunya mampu menjamin semua siswa akan dibimbing kea rah perubahan yang lebih baik, bagaimanapun kualitas akademis dan moral yang mereka miliki (hal : 93)

Buku ini cukup inspiratif bagi kalangan guru. Guru disuguhi tema yang berbeda dari biasanya. Guru yang membaca buku ini diharapkan terbuka pikirannya dan menyadari bahwa ada seribu jalan untuk mencerdaskan .

Buku ini meski menyuguhkan tema yang menarik dan debatable  namun juga membingungkan. Karena dalam buku ini tidak menyediakan cerita atau keterangan yang detail bagaimana “sekolah manusia” di kelola sehingga menghasilkan lulusan yang terbaik.

Buku ini lebih condong kepada bidang Psikologi. Maklum, MI sebenarnya adalah bidang di Psikologi. Berisi tentang cerita sukses pelaksanaan Multiple Intelligence namun sedikit bercerita tentang hambatan dan kesulitan dalam proses KBM.

Pengelolaan sekolah berbasis Multiple Intelligence hanya ditulis secara sekilas saja. Pembaca yang haus akan informasi akan dibuat kebingungan karena tidak ada keterangan mengenai pengelolaan sekolah padahal judulnya “Sekolahnya Manusia”.

Mayoritas Guru akan banyak yang menolak karena metode yang begitu repotnya. Terutama Guru-Guru PNS yang merasa sudah nyaman dengan keadaannya sekarang. Mereka akan lebih enggan bersusah payah untuk mengaplikasikan Multiple Intelligence, Toh sekarang kedaan mereka sudah cukup.

Buku ini laris atau Best Seller  lebih karena ide ini cukup baru dan menarik. Ide yang berbeda dari biasanya dan unik. Para Guru tertarik namun jika tidak mempunyai idealism dan keinginan meningkatkan diri maka yang terjadi adalah penolakan terhadap ide buku ini.

Munif Chatib mungkin sengaja hanya sedikit memberi keterangan sehingga pembaca bertanya-tanya. Karena Munif Chatib ingin membuat sekuelnya sehingga nformasi yang disampaikan lebih lengkap. Akan tetapi, Ini menyebabkan pembaca kebingungan untuk menangkap isi pesan buku bahkan bisa jadi menjadi apatis.

Sekuel dari buku ini adalah : “Guruya Manusia”, “Sekolahnya sang Juara. Buku pantas diacungi jempol. Karena memberi ide segar ditengah kejumudan metode pembelajaran. Guru yang ideal akan selalu meningkatkan diri untuk memberikan terbaik untuk anak didiknya. Buku ini akan memenuhi kebutuhan guru ideal dan memacu rasa ingin tahu mereka menjadi yang terbaik.

Advertisements

Author: zaki19482

Saya sedang belajar menulis, mencoba menulis segala sesuatu yang dapat dilihat, didengar dam dirasakan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s