Njagong

Hari Ahad adalah hari libur. Buat saya yang bekerja sebagai karyawan. Hari untuk bersantai dan bermalas-malasan. Namun, Kenyataan yang terjadi adalah bukan santai di rumah. Kita harus keluar untuk njagong atau menghadiri kondangan.

Njagong yang dilakukan di kota-kota besar biasanya dilakukan lebih simple. Kita datang, nyumbang, salaman, makan dan pulang. Kalau njagong dengan style seperti itu maka cukup 15 menit atau paling lama 30 menit. Cukup simpel dan praktis.

Beda yang ada di kota saya yaitu Solo. Penyelenggaraan masih banyak dengan gaya tradisional. Para tamu datang, duduk dan mengikuti seremonial dengan durasi kurang lebih dua jam. Tamu dilayani dengan sinoman mulai minuman, snek, sup, nasi dan kelengkapannya dan ditutup dengan hidangan es.

Kalau ada tamu dari luar kota. Mereka banyak yang complain. “Ah, nggak praktis banget kondangan macam gini”, kata mereka. “Waktu kita banyak terbuang nih, kita cuma duduk-duduk doang”, mereka makin bosan. Tapi, dimana bumi dipijak maka langit dijunjung. Kita harus mengikuti budaya setempat.

Semakin sibuk manusia maka segala sesuatu dilakukan semakin praktis. Budaya kondangan ala solo dianggap tidak praktis. Namun, Masyarakat Solo masih banyak yang melakukan. Warga Solo berkeyakinan bahwa ini adalah cara menghormati tamu yang diundang.

Tamu duduk dan dilayani dengan sinoman. Sinoman itu adalah sekelompok orang yang bertugas melayani makanan buat tamu undangan di kondangan. Nggak praktis bener, tetapi cukup menyenangkan. Hehehehehe….!!!! Kalau diniyati untuk sekalian nyantai. ( heheheheh…!!!! mana ada kondangan untuk refreshing).

Tamu dilayani kemudian dilayani makanan sambil mendengarkan lagu. Tamu harus duduk dan tidak ada yang berdiri. Kalau ada yang berdiri maka yang Hamong Tamu mencarikan kursi untuk duduk. Ribet ya….!!!! Hehehehehehe….

Itulah budaya. Setiap daerah punya budaya dan tradisi masing-masing. Solo dan Yogyakarta masih dalam satu wilayah budaya yaitu budaya jawa.

Saya merasa Yogya semakin praktis. Maklum, Yogyakarta berisi manusia yang lebih heterogen dan lebih adaptif dengan perubahan zaman.

Kondangan disana lebih praktis. Berdasarkan pengalaman saya saja ini. Hehehehe…Kondangan di Yogyakarta pakai “Standing Party”. Tamu datang, nyumbang, salaman dengan pengantin, foto dengan pengantin, makan dan pulang.

Mau makan banyak atau sedikit maka nggak ketahuan. Wong Prasmanan apalagi kalau pakai Booth. Lebih nggak ketahuan kalau mau bawa pulang.

Kalau di Solo, Hidangan sudah disajikan dan ditakar. Jadi kalau mau dobel bisa ketahuan. Nggak akan berani bawa pulang. Hahahahaha…….

Kondangan model Solo. Kita jika ingin bersalaman dengan pengantin harus nunggu acara selesai atau datang sebelum prosesi dimulai.

Kalau mau foto-foto nggak bisa sembarangan, nunggu panggilan. Itu saja kalau dipanggil. Kalau nggak dipanggil maka nunggu acara bubaran. Kita foto-foto dengan pengantin sendiri. Itu diluar acara di kondangan. Hehehehe….

Ya begitulah, Dimana Bumi dipijak Maka Disitu Langit Dijunjung. Setiap daerah memiliki tradisi dan budaya masing-masing. Nggak ada salah atau benar. Anggaplah itu keanekaragaman budaya. Bagaimana tradisi di tempat anda?

Salam dari SO

Advertisements

2 thoughts on “Njagong

  1. Klo ke acara nikahan biasanya ya ada ceramah agamanya. Kadang ada penyanyinya gitu. Panjang acaranya tergantung yang mengadakan acara. Tapi ada juga kok yang datang, nyerahin amplop, dan langsung pulang. Biasanya tenda pengantinnya bisa sampai beberapa hari. 😀

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s