COMFORT ZONE

Manusia biasanya mempunyai “comfort zone”. Apabila seseorang mengalami kesedihan atau sakit maka dia akan kembali ke “comfort zone”. Maka hatinya menjadi tenang, nyaman dan bahagia. “Comfort zone” bisa berupa makanan/kuliner, lokasi (kafe, pondok makan, obyek wisata), buku atau aktivitas. Berbahagialah manusia yang memiliki “comfort zone”. Karena dia tahu bagaimana membuat dirinya nyaman atau bahagia.

Saya belajar “comfort zone” dari istri. Dia punya “comfort zone” berupa kuliner. Kuliner yang selalu menjadi “comfort zone” sejak kenal pertama merasakan sampai saat ini. Itu adalah Bakmi Margonda. Bakmi Margonda adalah bagian hidup ketika menimba ilmu di PTN di Depok. Apabila ingin “comfort zone” maka dia bergegas ke Bakmi Margonda.

Saya dan istri baru saja menikmati kuliner tersebut satu bulan yang lalu. Buat saya itu pertama kali namun buat dia adalah nostalgia. Kata dia,rasanya tidak berubah masih seperti dulu. Hatinya puas, senang dan kenyang. Dia baru saja menemukan “comfort zone”.

“Comfort Zone” buat dia adalah Bakmi Margonda. Rumah makan yang terletak di Jalan Margonda Depok. Menu yang menjadi “comfort zone” adalah Ifu mie.

Tekstur mie yang sempurna, rasanya khas dan tiada duanya,pokoknya sempurna bagi istri. Saya nikmati dan rasakan. Saya emang suka makan tapi untuk saya,rasa makanan hanya ada dua yaitu enak dan sangat enak.

Bakmi margonda emang enak. Saya yakin bahwa warga depok sudah tahu bakmi margonda. Lebih dari itu,Bakmi margonda adalah “comfort zone” dan nostalgia buat istri saya.

Kami melancong ke Jakarta memang salah satu tujuannya adalah bakmi margonda. Dia ingin berbagi “comfort zone” dan nostalgia dengan saya dan anak-anak.

Artinya, Dia ingin berbagi kebahagiaan dengan keluarganya. Ifu mie memang enak. Karena adalah “comfort zone” maka terasa lebih enak. Karena nostalgia maka lebih nikmat.

Advertisements