Marketplace

Urusan jual beli ternyata mengalami lompatan besar. Transaksi dimulai dengan barter berkembang menggunakan uang dan dilakukan di pasar. Pasar mengalami evolusi mulai pasar tradisional menjadi pasar modern sampai era Centro, Metro dan SOGO. Di era millenial ini, Transaksi jual-beli menjadi sangat personal yaitu melalui marketplace dengan Gadget. Kita membayar juga tanpa uang tetapi dengan e-money.

Kita bertransaksi disana tanpa ketemu sang penjual. Kita melihat foto saja dan cocok. Maka langsung diklik “bayar”. Kita bisa mengunjungi “pasar” dimanapun, kapanpun dan dalam keadaan bagaimanapun. “Pasar” ini mempunyai nama yang unik dan variatif seperti Bukalapak, Tokopedia, Shopee, Lazada dsb. “Pasar” ini ditopang oleh industri jasa Delivery yang sudah menjamur seperti : JNE, JNT, Lion Cargo atau Wahana. Apalah arti “pasar ” ini jika tidak ada jasa Delivery? “Pasar” ini hanya lelucon jika tanpa Jasa Delivery. Lelucon di era millenial.

Dahulu, saya ragu untuk berbelanja di “Pasar” ini. Karena transaksi membutuhkan jasa perbankan secara langsung (ATM, M-Banking, E-Banking dsb). Sekarang, “Pasar” ini telah dibanjiri konsumen yang ternyata tidak punya rekening di bank .

Kita sering melihat orang antre di gerai ALFAMART/INDOMARET untuk membayar transaksi di “Pasar”. Mereka tidak ragu lagi berbelanja di “pasar”. Karena sistem pembayaran sudah dipermudah. Ini revolusi sistem pembayaran dimulai dari barter dilanjutkan uang dilengkapi dengan e-money.

“Pasar” itu adalah Marketplace, Marketplace diterjemahan secara harfiah artinya ya pasar itu sendiri yang kekinian. Marketplace itu adalah pasar yang ada di dunia maya. Itu sepanjang pengertian yang saya ketahui. Pemerintah melihat potensi pajak dari “pasar” ini cukup besar. Maka, Pemerintah sedang pusing tujuh keliling bagaimana me-“majak”-i transaksi dunia maya.

Ah…Nikmatnya Hidup di Jaman NOW. Semua bisa dilakukan dengan ujung jari. Tapi inget….Ancaman Konsumerisme mengancam saya dan kita semua. Kita sudah belanja online dan masih aja belanja offline. Lihat aja, Mall masih rame dan banyak pengunjung.Banyak ahli yang meramalkan banyak Mall akan Gulung Tikar akan tetapi masih ramai aja. Karena semua sudah online mulai belanja online, bisnis online, teman online. Ini bisa saja sampai era Nikah Online . Uppssss….!!!

Advertisements

Winnetou Mati (Winnetou III)

Ketika sebelum membaca Novel Winnetou maka terbayang cerita koboi yang berisi adegan membunuh, membantai, dar-der-dor atau kata-kata sumpah serapah, kehidupan alam yang liar atau perampok yang selalu menyerang KA. Itu semua memang ada namun……..

Old Shatterhand tidak pernah membunuh seorang pun. Old Shatterhand yang masyhur sebagai westman tidak pernah membunuh meski sudah didzolimi. Padahal, Kehidupan prairie menghalalkan itu semua.Old Shatterhand tidak beraksi jagoan seperti bayangan saya.

Siapapun yang didzolimi boleh membalas langsung. Kehidupan tanpa hukum karena belum tegak di daerah barat. Old Shatterhand hanya menembak lutut si Tangua,kepala suku Kiowa. Bahkan, Old Shatterhand tidak membunuh Santer. Santer yang telah membunuh ayah Winnetou dan melakukan berbagai kejahatan. Santer dihukum oleh alam karena longsoran tanah yang mengantarkannya ke dasar danau.

Winnetou menjadi humanis setelah bersahabat dengan Old Shatterhand. Akhirnya, Winnetou tidak mengambil scalp (kulit kepala) dari musuhnya di bagian akhir dari novel Winnetou III. Padahal, Scalp adalah tanda kemenangan dan kekuatan bagi seorang Indian terutama kepala suku Indian (Apache, Kiowa, Comanche, Sioux & Ogelallah).

Humanisme, Persahabatan, Persaudaraan dan Komitmen adalah tema yang diangkat oleh Karl May. Petualangan yang menantang dan menyenangkan dirangkai oleh Karl May dengan elok. Lebih lanjut, petualang Old Shatterhand dan Winnetou lebih menarik daripada tema utama cerita itu sendiri.

Novel ini akan membuat siapapun yang suka petualangan akan tertarik dengan novel ini. Petualangan Winnetou akhirnya harus berakhir dengan kematian. Kematian yang disebabkan sebuah peluru yang menembus paru-paru sebelah kanan. Winnetou dikuburkan bersama senapan perak yang melegenda.

Cerita diakhiri ketika Santer masuk ke dalam dasar danau. Santer yang dibutakan oleh emas yang disimpan oleh Winnetou. Emas disebut Deadly Dust (Debu Mematikan) oleh Old Shatterhand. Karena alih-alih membuat hidup sejahtera malah membuat hidup manusia sengsara dengan saling membunuh. Karena memperebutkan emas. Tema utama Novel ini adalah Nyawa Manusia itu Priceless dan kebahagiaan manusia seringkali bukan masalah materi (uang, emas, deposito dsb) namun tentang immateri (persahabatan, kebaikan, keluarga, cinta dsb). TAMAT