Sampah…Oh…Sampah

Sampah akan menjadi masalah di masa depan. Tanggapan orang akan hal tersebut bisa sangat bervariasi. Orang pesimis bisa bilang gini, “hidup kita semakin tidak sehat”. Orang optimis berkata sebaliknya,” ini ada peluang di masa depan berkaitan sampah”. Orang optimis bisa melonjak girang,”kita harus merubah sampah menjadi emas”.

Kalau saya, sadar diri aja. Saya yakin sampah bisa menjadi masalah masa depan. Tidak sampai pesimis tapi juga tidak terlalu optimis. Kita pakai jargon Aa Gym saja, Mulai dari diri sendiri, Mulai dari yang kecil dan Mulai sekarang juga. Kita urus sampah yang ada di rumah dulu. Itung-itung, aplikasi ilmu sewaktu kuliah. Saya meskipun IP pas-pasan bahkan pernah NASAKOM. Saya tidak ada salahnya mengaplikasikan hal-hal yang sepele dari Ilmu di bangku kuliah dulu. (*tutup muka…..hehehehe..)

Sampah di rumah saya mulai menjadi masalah. Sampah mulai menggunung karena aktivitas rumah tangga dan usaha bisnis. Anak-anak suka jajan menambah masalah. Karena sampah aluminium foil bertambah. Istri suka memasak juga menambah sampah. Kita punya usaha rental mainan juga menimbulkan sampah baik itu berupa kardus mainan, plastik pembungkus, baterei sampai tisu pembersih.

Mbak Warti sering bilang ke saya, “Sampah rumah kita paling banyak sepanjang gang ini,mas”. Saya nggak enak juga sama petugas sampah. Kita bayar sama dengan tetangga tetapi volume bisa dua kali dari sampah tetangga. Maklum, Karena Limbah usaha rental dan usaha pesanan masakan  yang menjadi ekstra sampah.

Setiap hari selalu ada limbah tisu. Karena membersihkan mainan dengan tisu. Belum lagi, sampah plastik dari alumunium foil untuk pembungkus makanan, Botol Soft drink dan AMDK (Air Minum Dalam Kemasan). Semua itu limbah yang berasal dari sampah Anorganik.

Kami juga menyuplai makanan ke Rumah Makan milik keluarga besar. Kegiatan memasak menghasilkan limbah seperti : dedaunan, kulit bawang. Bonggol sayuran dsb. Kami juga memasak untuk keperluan pribadi. Karena anggota keluarga agak banyak. Maka kalau masak besar maka limbah juga banyak. Belum lagi ada sisa makanan. Semua itu adalah sumber limbah organik.

Pernah suatu saat, Petugas yang mengambil sampah di rumah libur sehari. Sampah  menggunung dan tidak karuan. Pemandangan tidak enak dipandang dan tidak sehat. Baunya juga tidak enak. Kita butuh sedikit kreatifitas untuk masalah sampah.

Alhamdulillah, Mbak Warti emang kreatif. Sampah yang bisa “dijual” dikumpulkan. Semangatnya bukan solusi limbah. Semangat nyari tambahan penghasilan. Hehehehehe…Tapi gak  masalah. Ini cukup solutif. Mbak Warti jadi rajin mengumpulkan sampah botol plastik. Dia seneng dapat tambahan penghasilan. Kami yang tuan rumah juga senang. Karena rumah bebas dari sampah plastik. Katakanlah ini adalah simbiosis mutualisme.

Sampah sisa makanan. Ini menyisakan masalah tersendiri. Karena membuang makan secara etika tidak pantas. Orang Jawa bilang “ora elok”. Karena sama saja membuang rezeki. Apa boleh buat? Karena tidak tersentuh atau memang bersisa. Karena terlanjur memasak ternyata ada kegiatan di luar rumah. Kita makan di luar. Kita masuk rumah sudah malam. Akhirnya, masakan sudah basi.

Dahulu, Makanan sisa/basi dibuang begitu saja. Lha mau gimana lagi?. Karena kalau tidak dibuang baunya itu lho dan jadi sumber penyakit. Eureka……hehehehe… Ada solusi.

Suatu hari, Mbak Warti datang dari kampung halaman dengan membawa sepasang ayam (Ayam Babon dan Ayam Jago). Anak-anak sangat girang melihat sepasang ayam. Mereka pikir kalau mau ada kebun binatang di rumah. Anak emang paling suka dengan hewan maka hadirlah kebun binatang.

Saya siapkan kandang buat sepasang ayam tersebut. Saya kasih pakan berupa  bekatul dan BR. Makanan pabrik tentu lebih bergizi. Eh…Ternyata…, saya keliru besar. Makanan sisa ternyata disukai ayam. “ Makanan sisa lebih bagus buat ayam daripada pakan pabrikan, gitu mas”, Mbak Warti mengoreksi pendapat saya.

Alhamdulillah, Masalah makanan sisa sudah ada solusi. Makanan sisa bisa diberikan ke  ayam. Bahkan, saya kadang sengaja menyisakan buat ayam. Pakan ayam kombinasi dari pakan pabrikan, bekatul, makanan sisa dan dedaunan yang terbuang. Hasilnya? Hmmmm…Luar Biasa. Saya akan ceritakan di postingan tersendiri.

Ini baru solusi awal dari limbah rumah tangga. Mbak Warti masih banyak segudang solusi. Solusi “ mbak warti dengan “sok tahu” saya. So, Amburadul. Hehehehehe….

Advertisements