Mendinginkan Tangan

Masa Pandemi membuat kita harus berdiam diri di rumah. Karena manusia butuh aktivitas maka saya memilih aktivitas berkebun. Aktivitas berkebun ternyata membutuhkan kesabaran. Kesabaran ini yang akan membuat tangan kita menjadi “dingin”. Apabila sudah memiliki “tangan dingin” maka menanam apapun akan menghasilkan.

Wiktionary mengatakan bahwa Tangan Dingin mempunyai arti yaitu “sifat selalu membawa hasil “. Jika itu seorang petani maka apapun yang ditanam selalu memberikan hasil . Berkebun adalah salah satu aktivitas dari petani. Saya kagum dengan petani. Karena mereka adalah manusia ber-“tangan dingin”.

Seorang petani adalah manusia bertangan dingin. Tangannya mampu berdialog dengan alam melalui tanaman. Dialog diantara mereka menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi manusia yaitu hasil panen. Kemampuan ini bukan didapatkan secara instan. Mereka memperoleh kesaktian “tangan dingin” setelah berlatih dalam beberapa masa tanam.

Latihan ini bisa berlangsung selama satu masa tanam atau beberapa kali masa tanam. Ini tergantung suhu di tangan petani. Petani bertangan dingin melalui proses mendinginkan tangan. Jika tangan mempunyai suhu tinggi maka proses akan lama. Suhu menengah maka proses lebih cepat. Jika suhu rendah maka proses cepat.

Proses penurunan suhu proses yang melibatkan faktor jasmani dan rohani. Kuncinya adalah kesabaran. Semakin sabar maka semakin cepat turun suhunya dan sebaliknya. Petani bertangan dingin memiliki kesabaran tingkat tinggi dan sebaliknya. Saya punya pengalaman dalam penurunan suhu tangan. Saya bukan petani. Saya hanya penghobi tanaman atau suka berkebun saja. Karena berurusan dengan tanaman maka harus mendinginkan tangan.

Saya ingat ketika menanam singkong. Untuk menghasilkan singkong yang besar, empuk dan enak. Saya harus mencurahkan kemampuan untuk selalu merawat tanaman secara konsisten selama 3 bulan lamanya. Sedikit lengah maka hasilnya beda. Kesabaran diuji disitu. Karena proses alam tidak bisa dipaksakan dan dipercepat.

Mbak Warti menasehati kepada saya, “Kalau merawat tanaman harus sepenuh hati”. Nasehat ini adalah benar . Pengalaman saya ketika merawat tanaman singkong selama 3 bulan terasa berat buat saya. Karena ada perasaan tidak sabar dan ingin segera mendapat hasil. Jika mau cepat maka beli di pasar itu lebih praktis. Namun, Jika beli di pasar maka tidak kepuasan dalam berkebun. Apa guna saya berkebun?

Kesabaran adalah sesuatu yang sulit diinstal di dalam jiwa saya. Karena ada perasaan kemrungsung/tidak sabar. Berkebun adalah sarana untuk mendinginkan tangan Semoga saya bisa konsisten untuk menurunkan suhu meskipun tidak akan sedingin dari tangan petani. Paling tidak, ada penurunan suhu di tangan saya.Tangan dingin ternyata juga berkaitan erat dengan kesabaran.

Ya Allah, Ya Rahman, Ya Rahiim….

Alangkah sabar para petani. Sabar yang berlipat-lipat untuk menghadapi tantangan alam dan ketamakan manusia. Petani itu bukan pekerjaan atau profesi. Itulah adalah takdir yang dijalani dengan laku. Sehingga wujud menjadi “manunggaling kawula lan tanduran”. Alam yang menyatu di dalam sukma seorang petani.

Petani adalah pemilik dari tangan dingin. Manusia yang selalu bekerja keras dan berusaha dalam kepasrahan. Mereka bekerja keras dengan ketenangan jiwa. Mereka seringkali dikalahkan oleh alam dan ketamakan manusia. Tapi….mereka “berjuang dalam kepasrahan dan pasrah dalam perjuangan”. Karena mereka adalah pemilik dari “Tangan Dingin”.