Bermata Dua

Semua orang bersembunyi di rumah di awal pandemi. Orang tidak berani keluar rumah. Lama-lama rasa bosan menyusup ke dalam jiwa manusia. Mereka mulai keluar rumah dengan berbagai aktivitas. Aktivitas dari sekedar jalan-jalan ,muter-muter keliling kota  atau olahraga. Tentu saja dengan mematuhi protokol kesehatan yaitu pakai masker, social distancing dan cuci tangan pakai sabun atau hand sanitizer.

Eh..tiba-tiba, Semua mengalami demam sepeda. Jalanan dipenuhi oleh sepeda yang berkeliling kesana kemari. Orang yang berolahraga sepeda sebenarnya udah ada sejak lama. Tapi, Ada peningkatan yang cukup drastis di masa pandemi.

Harga sepeda juga bervariasi dengan jangkauan harga lebih lebar mulai ratusan ribu sampai ratusan juta. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana nikmatnya naik sepeda yang berbanderol ratusan juta. 🙂

Bersepeda adalah sebuah ikhtiyar untuk meningkatkan imun melawan COVID-19. Popularitas Sepeda mengalahkan olahraga yang lain. Sepeda yang mengalami peningkatan popularitas secara siginifikan.  Aneh ya….., Kenapa hanya bersepeda yang lain tidak?

Kita udah biasa melihat tanaman atau bunga di halaman depan atau belakang rumah. Ibu saya selalu menyirami taman bunga setiap pagi dan sore . Sampai ada lagu “Lihat Kebunku”. Karena aktivitas berkebun itu menyenangkan dan sudah ada sejak lama. Siapa yang tidak suka melihat indahnya bunga dan main air.

Tapi…..Semua orang mengurusi kebun tanaman di masa pandemi. Semua orang menanam bunga atau tumbuhan hias di halaman rumah. Mereka berusaha melengkapi koleksi tanaman yang cantik dan unik. Kios-kios tanaman sepanjang jalan di Pasar Nongko dipenuhi manusia yang mencari tanaman yang diinginkan.

Berkebun adalah ikhtiyar adalah mencari kebahagiaan. Karena bahagia bisa meningkatkan hormon endorfin. Hormon endorfin akan meningkatkan imun. Imun ini yang akan menghalau virus masuk dan meracuni tubuh. Rasa penasaranku adalah, “mengapa harus berkebun yang menjadi viral ?”.

Ada ungkapan yang menjadi viral, “Ada tiga tempat yang ramai yaitu Rumah Sakit, Toko Sepeda dan Kios Tanaman”. Ini berkah bagi penjual tanaman dan toko sepeda. Sepeda termasuk kebutuhan sekunder. Kita tetap membeli sepeda meskipun bukan penghobi. Olahraga sepeda yang viral menambah omzet penjualan semakin melejit .

Apalagi buat penjual tanaman. Ini berkah besar. Penghobi tanaman itu terbatas. Kebutuhan tanaman tidak setinggi kebutuhan sepeda. Masa pandemi melejitkan pamor tanaman. Omzet penjualan tanaman melejit sangat tinggi.

Pandemi bermata dua. Mata yang satu bersifat mematikan. Pandemi memberi rasa takut. Karena memang pandemi ini mematikan. Pandemi harus disikapi dengan rasa waspada dan hati-hati. Kita tidak boleh jumawa dan paranoid. Kita menghadapi secara rasional dan logis.

Mata yang satunya adalah kebiasaan baru yang positif. Pemerintah menggalakkan olahraga sepeda udah lama. Pemerintah menggalakan penggunaan sepeda untuk mengurangi polusi itu juga udah lama. Usaha pemerintah belum berhasil secara signifikan. Pandemi ternyata signifikan untuk menggalakan olahraga bersepeda.

Polusi udara semakin meningkat. Pemerintah menyeru masyarakat agar banyak menanam. Ini salah satu ikhtiyar mengurangi polusi. Gerakan 1.000.000 pohon udah lama digeber dan terus diperjuangkan. Pandemi tanpa bertujuan untuk sebuah gerakan 1.000.000 pohon ternyata membuat sebuah trend. Trend itu adalah menanam. Trend ini menjadi viral.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s