Ngempit

Posisi tangan sedang “ngempit” tas 🙂

Sumber foto : disini

Negara mawa tata, Desa mawa cara

Itulah ungkapan yang menunjukkan  setiap tempat mempunyai aturan main. Itu bisa berupa kampung, keluarga, kantor bahkan pasar.Para penghuni mempunyai aturan yang tertulis atau tidak tertulis. Aturan tidak tertulis yang disepakati bersama disebut konvensi.

Pasar yang mau saya jadikan adalah: pasar klewer. Pasar Klewer adalah salah satu pasar tradisional yang ada di Solo. Pasar yang menjual produk-produk garmen,mulai dari batik, kain, baju, celana sampai pakaian dalam. Pasar ini tidak menjual kebutuhan harian yang lain. Hanya produk garmen saja.

Kalau anda tinggal di Jogjakarta maka anda ngerti Pasar Beringharjo. Pasar Beringharjo mirip dengan pasar klewer. Pasar Klewer ini sangat besar nilai transaksi per hari. Pasar ini mempunyai omzet  miliaran rupiah setiap harinya. Kalau di Jakarta itu mirip pasar Tanah Abang.

Pasar tradisional dengan omzet yang besar. Pasar yang menjadi tempat jujugan para bakul dari berbagai daerah. Pedagang kain yang berasal dari sekitar solo dan pantura banyak berdatangan ke pasar klewer. Mereka kulakan di pasar klewer kemudian dijual di daerah asalnya.

Ada kebiasan unik di pasar klewer yaitu “ngempit”. “Ngempit” dalam bahasa jawa artinya kita membawa sesuatu dengan menjepitkan antara lengan kita dengan ketiak. “Ngempit” dalam kebiasaan pasar klewer adalah meminjamkan barang kepada seseorang untuk dijual.

Modalnya adalah kepercayaan. Jadi untuk berdagang kain atau batik tidak perlu modal uang. Apabila kita mempunyai track record yang bagus maka sang pedagang akan meminjami dagangan dengan sukarela. Apalagi kalau terbukti jika kita jual laku keras. Kita akan dititipi banyak dagangan.

Juragan yang meminjamkan ke para tukang “ngempit” akan memberikan harga jual. Tukang “ngempit” akan menjual diatas harga jual yang diberikan juragan. Selisih harga yang dia jual dengan harga dari juragan adalah keuntungan mereka. Tukang “ngempit” akan menyetorkan hasil penjualan sesuai harga dari juragan.

Banyak yang sukses dari sistem “ngempit” ini. Mereka pada awalnya cuman “ngempit”. Lama-lama, bisa kulakan sendiri dan pesanan semakin menggunung. Karena banyak pembelian maka tukang “ngempit” naik kelas menjadi juragan.

Tukang “ngempit” yang semula berdagang keliling. Mereka akhirnya membeli kios dan menjadi Juragan bagi tukang “ngempit” yang lain. Ini banyak sekali terjadi di Solo. Semula biasa bahkan nyaris tanpa modal uang. Mereka menjadi orang kaya dan juragan besar.

Modalnya adalah kepercayaan. Apabila bisa dipercaya dan mempunyai pangsa pasar. Otomatis mereka akan naik kelas asal tekun dan rajin. Mereka para tukang “ngempit” adalah orang yang rajin, tangguh dan pantang menyerah.

Berbisnis memang butuh modal uang. Saya yakin dan percaya 100%. Tetapi, untuk mengawali tidak selalu butuh uang. Kita hanya butuh kepercayaan dan kerja keras. Kepercayaan yang menghadirkan modal. Kerja keras yang akan menghadirkan pelanggan. Kepercayaan dan pelanggan yang akan menghasilkan uang. Hehehehe….

Akhirnya, Pasar Tradisional hadir segala keunikannya yang tidak tergantikan. Kalau anda pernah mendengar istilah “Dropshipping”dalam dunia online shop. Ini mirip tapi beda. Dunia “Dropshipping” yang diberikan foto. Para Dropshipper cuman disuruh foto produk atau dikasih foto . Pengiriman barang yang laku berasal dari juragannya.

Dunia “ngempit” yang dipinjamkan adalah barang dagangan. Mereka para pedagang pasar lebih berani mengambil resiko. Karena yang diberikan tidak cuma foto tetapi barang dagangan. Mungkin,….. “Dropshipping” adalah bentuk lain dari “Ngempit” di era medsos kali ini ?

Bisa Jadi. Ah biarkan ahli marketing yang menyimpulkan hubungan “ngempit” dan “Dropshipping”. Hehehehehe…..

Salam dari Solo,18-10-2017

 

Advertisements

Pasar Tradisional

Superindo emang bersih karena kebersihan adalah standar mereka. Superindo itu nyaman karena AC-nya sejuk. Parkirnya juga luas. Superindo sangat lengkap dari kebutuhan dapur sampai kebutuhan sehari-hari (consumer goods) tersedia lengkap….kap. Kita bisa mendapatkan produk yang baik.

Hypermart, Carrefour, Makro, Giant dan masih lagi, Mereka adalah pasar modern yang berkonsep one stop shopping. Kita nggak perlu tawar-menawar. Kita bisa milih-milih tanpa terganggu. Kita belanja di satu tempat udah beres semua.

Asap knalpot, bau keringat dan suara bising pedagang tidak akan kita temukan disana. Pokoknya menyenangkan.

Tetapi mengapa? Masih ada yang senang pergi ke pasar kampung sebelah. Pasar itu bernama pasar Tradisional.

Pasar boleh jadi lengkap atau tidak lengkap. Pasar yang kotor, becek,sesak dan bau. Mungkin, Masih ada copet yang berlalu-lalang.

Tidak ada lorong yang bersih dan licin dan tidak ada hiburan musik. Suara yang memekakkan telinga dari para pedagang dan pembeli.

Kita masih harus menghadapi bermacam-macam jenis pedagang. Kita kadang bisa milih-milih namun kadang ada pedagang yang berusaha mengintimidasi kita.

Baunya amis atau anyir. Kalau nyari parkir sulitnya minta ampun. Jangan berharap sejuk udara dari AC. Kita akan menemukan hawa panas dan sesak nafas.

Karena berdesak-desakan antara pedagang, pembeli dan kuli panggul yang membawa barang belanjaan berlalu-lalang.

Aneh, Masih banyak yang suka pergi ke pasar terutama pasar kampung sebelah. Karena satu hal yaitu INTERAKSI.

Ini yang tidak ditemukan di Superindo, Hypermart, Carefour. Belanja di Superindo maka tidak ada kegiatan lain selain berbelanja.

Kalau sudah terpenuhi kebutuhan maka pulang. Kalau pramuniaga sok akrab (baca : interaksi) maka pembeli malah nggak suka. Pramuniaga cukup berkata “terimakasih pak..bu”,habisnya sekian..”,”pakai kardus atau plastik..”. Mereka cukup bicara satu dua patah kata.

Faktor daya tarik utama dari pasar itu adalah Interaksi. Kita belanja namun ada interaksi yang dibangun antara penjual dan pembeli. Interaksi itu sifatnya imbal-balik atau dua arah. Sehingga bisa kemana-mana. Bisa menyenangkan atau konflik.

Awalnya mungkin tawar-menawar kemudian ada negosiasi diantara pembeli dan penjual. Mereka kemudian sepakat dan dibayar. Suatu saat karena uangnya kurang maka hutang dulu. Beberapa hari kemudian, Pembeli yang punya utang datang . Dia melunasi utangnya. Tidak mungkin hanya sekedar membayar utang.

Mereka akan ngobrol kesana-kemari. Mereka jadi akrab dan berkawan. Karena sering ke pasar maka banyak kawan di pasar. Pergi ke pasar bukan sekedar kegiatan transaksional namun menjadi ritual kehidupan.

Itulah daya tarik pasar tradisional. Bagaimanapun manusia bisa hidup mandiri di era digital. Kehadiran orang lain adalah kebutuhan. Percaya deh…!!!

Saya yakin di era digital. Kita bisa mencukupi kebutuhan sendiri. Banyak sekali alat bantu mulai Go-Jek, Grab, Sosmed, Online Shop dsb. Hidup kita tergantung di ujung jari kita. Asal ada uang dan Gadget maka semua bisa terpenuhi. How Wonderful Life…!!

Alangkah garing hidup kita. Kalau kita menjalani hidup dengan pola kesendirian. Tanpa kita sadari maka kita menjadi pribadi kesepian. Pribadi yang pemurung dan tertutup. Karena semua bisa dicukupi sendiri.

I don’t need you. Wuih, kalau udah gitu sepi hidup kita.

Manusia yang ada di pasar (baca : pasar tradisional) . Mereka menolak menjadi kesepian. Mereka akan selalu berinteraksi.

Meskipun kadang ke arah positif (persaudaraan) atau ke arah negatif (permusuhan). Mereka menyukai interaksi dan menolak kesendirian.

Njagong

Hari Ahad adalah hari libur. Buat saya yang bekerja sebagai karyawan. Hari untuk bersantai dan bermalas-malasan. Namun, Kenyataan yang terjadi adalah bukan santai di rumah. Kita harus keluar untuk njagong atau menghadiri kondangan.

Njagong yang dilakukan di kota-kota besar biasanya dilakukan lebih simple. Kita datang, nyumbang, salaman, makan dan pulang. Kalau njagong dengan style seperti itu maka cukup 15 menit atau paling lama 30 menit. Cukup simpel dan praktis.

Beda yang ada di kota saya yaitu Solo. Penyelenggaraan masih banyak dengan gaya tradisional. Para tamu datang, duduk dan mengikuti seremonial dengan durasi kurang lebih dua jam. Tamu dilayani dengan sinoman mulai minuman, snek, sup, nasi dan kelengkapannya dan ditutup dengan hidangan es.

Kalau ada tamu dari luar kota. Mereka banyak yang complain. “Ah, nggak praktis banget kondangan macam gini”, kata mereka. “Waktu kita banyak terbuang nih, kita cuma duduk-duduk doang”, mereka makin bosan. Tapi, dimana bumi dipijak maka langit dijunjung. Kita harus mengikuti budaya setempat.

Semakin sibuk manusia maka segala sesuatu dilakukan semakin praktis. Budaya kondangan ala solo dianggap tidak praktis. Namun, Masyarakat Solo masih banyak yang melakukan. Warga Solo berkeyakinan bahwa ini adalah cara menghormati tamu yang diundang.

Tamu duduk dan dilayani dengan sinoman. Sinoman itu adalah sekelompok orang yang bertugas melayani makanan buat tamu undangan di kondangan. Nggak praktis bener, tetapi cukup menyenangkan. Hehehehehe….!!!! Kalau diniyati untuk sekalian nyantai. ( heheheheh…!!!! mana ada kondangan untuk refreshing).

Tamu dilayani kemudian dilayani makanan sambil mendengarkan lagu. Tamu harus duduk dan tidak ada yang berdiri. Kalau ada yang berdiri maka yang Hamong Tamu mencarikan kursi untuk duduk. Ribet ya….!!!! Hehehehehehe….

Itulah budaya. Setiap daerah punya budaya dan tradisi masing-masing. Solo dan Yogyakarta masih dalam satu wilayah budaya yaitu budaya jawa.

Saya merasa Yogya semakin praktis. Maklum, Yogyakarta berisi manusia yang lebih heterogen dan lebih adaptif dengan perubahan zaman.

Kondangan disana lebih praktis. Berdasarkan pengalaman saya saja ini. Hehehehe…Kondangan di Yogyakarta pakai “Standing Party”. Tamu datang, nyumbang, salaman dengan pengantin, foto dengan pengantin, makan dan pulang.

Mau makan banyak atau sedikit maka nggak ketahuan. Wong Prasmanan apalagi kalau pakai Booth. Lebih nggak ketahuan kalau mau bawa pulang.

Kalau di Solo, Hidangan sudah disajikan dan ditakar. Jadi kalau mau dobel bisa ketahuan. Nggak akan berani bawa pulang. Hahahahaha…….

Kondangan model Solo. Kita jika ingin bersalaman dengan pengantin harus nunggu acara selesai atau datang sebelum prosesi dimulai.

Kalau mau foto-foto nggak bisa sembarangan, nunggu panggilan. Itu saja kalau dipanggil. Kalau nggak dipanggil maka nunggu acara bubaran. Kita foto-foto dengan pengantin sendiri. Itu diluar acara di kondangan. Hehehehe….

Ya begitulah, Dimana Bumi dipijak Maka Disitu Langit Dijunjung. Setiap daerah memiliki tradisi dan budaya masing-masing. Nggak ada salah atau benar. Anggaplah itu keanekaragaman budaya. Bagaimana tradisi di tempat anda?

Salam dari SO

Kreativitas Sang Istri

Kita masih mau ngobrol kreativitas menghadapi problematika hidup. Beberapa orang mengeluh harga cabe yang melonjak tidak karuan. Harga cabai pas mahal-mahalnya saat lebaran. Kadang turun drastis nyungsep ke tanah. Saya nggak paham kok bisa gini. Harga cabai bergerak layaknya Roller Coaster.

Kedelai, Cabai, Gula dan Beras yang disebut dengan Sembako (Sembilan Bahan Pokok). Hmmm…. Harganya naik-turun nggak karuan. Beda cerita, Kita pergi ke Dufan dan naik Roller Coaster. Semakin cepat naik dan turun maka semakin menyenangkan.

Harga sembako yang naik turun. Itu bisa bikin nangis bombay. Ibu yang cermat dan teliti di keuangan keluarga akan pusing tujuh keliling. Harga yang naik –turun secara cepat bisa merusak perhitungan. Padahal, uang sudah diplotting pos-pos tertentu. Apa harus mencomot pos keuangan yang lain ?

The Power of Kepepet. Agar muncul kreativitas kadang harus dipepet dengan keadaan. Saya acungi jempol kepada ibu rumah tangga yang tidak bekerja di luar rumah tapi kreatif. Mereka hanya menerima gaji  dari sang suami. Gaji yang seringkali sudah tidak utuh pas diterima. Karena sudah dipotong disana-sini. Maklum, hutang masih menumpuk.

Karena saya adalah bagian dari para suami tersebut. Saya bisa memahami kesulitan para ibu rumah tangga. Mereka harus putar otak  bagaimana mencukupkan uang suami untuk kebutuhan yang semakin bertambah dan harga kebutuhan yang semakin naik. Padahal, Jumlah uang yang diterima tidak bertambah.

Padahal, Ibu Rumah Tangga sudah dibebani pekerjaan rumah yang memusingkan. Mereka harus menyingsingkan lengan baju, memeras otak dan menguatkan tubuh. Roda kehidupan rumah tangga harus jalan. Kalau suami hanya jadi pegawai rendahan sampai level menengah maka harus kreatif. Agar semua kebutuhan tercukupi. Tidak muluk-muluk, Tidak perlu jadi kaya asal tercukupi.

Kreativitas para ibu rumah tangga bermunculan mulai online shop, urban farming, bank sampah, katering, souvenir sampai menjahit. Alhamdulillah, kita hidup di era medsos. Apapun bisa kita lakukan dengan medsos. Salah satunya adalah online shop.

Ibu-ibu sambil menggendong anak, menyusui si bayi atau mengajari anak. Mereka berkelana di dunia maya untuk menambah pundi-pundi uang. Mereka adalah pengguna smartphone. Smartphone tidak harus mahal tapi menghasilkan.

Keinginan yang sederhana yaitu keluarga hidup layak, makan yang layak dan anak-anak bisa lulus sekolah dan akhirnya si anak bekerja. Sehingga sang anak bisa menghidupi sendiri.

Kalau jadi kaya. Itu adalah bonus. Niyat semula adalah untuk memenuhi kebutuhan keluarga saja. Para suami dengan sigap membantu istrinya. Mereka sepulang kantor berganti kostum yaitu kaos T-Shirt.

Mereka mengantar barang dagangan ke kantor ekspedisi. Para Suami yang siaga untuk mengantar barang dagangan yang laku. sekaligus mengambil dagangan yang sudah dipesan oleh istri mereka.

Istri mereka selesai merekap penjualan online selama satu hari. Uang penjualan hari itu sudah mengalir ke rekening bank yang ada di BCA, Mandiri atau BRI.

Selesai merekap hasil penjualan. Suami terburu-buru mengambil uang di ATM untuk belanja/kulakan barang dagangan di esok harinya.

Uang sisanya dipindahkan ke rekening penampungan. Uang itu adalah tabungan biaya sekolah anak, persiapan untuk berobat dan kebutuhan yang mendesak atau buat refreshing. Jika mereka beruntung. Mereka bisa beli mobil atau tanah.

Kebutuhan makan dan tagihan bulanan sudah ditanggung oleh gaji sang suami. Sisa gaji suami untuk bayar hutang. Gaji suami sudah habis tanpa sisa.

Mereka adalah manusia yang hidup dengan penuh keyakinan. Kita hanya diwajibkan berusaha. Sisanya kita serahkan ke Allah SWT. Semoga hidup kita semakin lancar jaya.

Saya ANGKAT TOPI kepada para ibu rumah tangga yang tangguh dan perkasa. Mereka sangat memahami bahwa hidup berumah tangga adalah selayaknya sebuah tim. Mereka seringkali lebih repot daripada sang suami. Mereka sunyi dan senyap dalam pubilkasi padahal sangat menentukan bagi roda kehidupan rumah tangga.

Think Globally Act Locally

Koro Pedang

Sumber : DISINI

Tempe yang menjadi makanan sejuta umat di Indonesia. Hampir siapa saja mesti pernah makan tempe. Lauk yang enak nan gurih. Tempe bisa dikatakan makanan asli Indonesia. Resep cara membuat tempe, kita yang punya.

Bahan baku tempe adalah kedelai. Kedelai untuk membuat tempe konon 60 % dari Impor (sumber :Kemenperin). Saya dengar dari pengrajin tempe ketika penelitian biogas. Harga kedelai sangat fluktuatif.

Jika Amerika panen raya kedelai maka harga kedelai dunia turun. Sebaliknya, Kalau Amerika sedang gagal panen maka harga akan naik tinggi. Harga kedelai mengikuti harga pasar dunia.

Karena kedelai sebagian besar impor. Pengrajin Tahu dan Tempe tidak bisa tidur nyenyak. Karena harga kedelai naik dan turun seperti Roller Coaster. Apes, Harga Tempe/Tahu tidak bisa mengikuti fluktuasi harga kedelai

Sedih, Makanan rakyat yang ikonik memiliki ketergantungan tinggi dengan impor. Kita memang tergantung terhadap komoditas internasional seperti kedelai. Karena produksi dalam negeri tidak mencukupi.

Ketergantungan ini menyebabkan pedagang besar kedelai menjadi faktor penting. Petani dan Konsumen hanya bisa pasrah. Para pedagang kedelai yang memiliki modal besar dan gudang besar. Kalau timing pas, maka bisa untung besar. Beli saat harga murah dan jual saat harga mahal.

Ya iyalah…Mereka yang punya kapital/modal. Petani cuman bisa pasrah. Produksi berlebih maka harga jual turun dan jika produksi turun maka konsumen yang pasrah. Akibatnya, Ukuran tahu/tempe yang dijual akan mengecil jika harga kedelai naik. Kalau ukuran tempe tidak berubah maka harganya naik. Hufttt… Pilihan yang sulit.

Pengrajin tahu/tempe serba salah. Kalau harga tahu dan tempe dinaikan maka bisa gulung tikar. Mana ada yang mau beli tahu-tempe? kalau harganya naik. Kita mesti pilih ayam atau daging jika harga tahu/tempe mahal.

Tapi, Kalau harga tahu dan tempe tidak naik maka biaya produksi tidak tercover. Runyam….. Pilihan yang sulit bagi pengrajin tahu/tempe. Pengrajin tahu/tempe rata-rata pengusaha skala kecil sampai menengah. Kasihan khan…

Pemerintah yang harus mengambil peran melindungi konsumen, pengrajin dan petani kedelai. Petani kedelai dan pengrajin harus dilindungi sehingga masih dapat untung. Pemerintah bisa kasih subsidi ke petani atau pengrajin.

Kebijakan pemerintah harus mengarah ke swa sembada kedelai. Petani kedelai harus bisa hidup dari panen kedelai. Produksi melimpah dan untuk kebutuhan dalam negeri dulu. Harga Pokok Penjualan harus bisa mengcover biaya produksi dan lebih. Petani kedelai harus bisa hidup dengan tanam kedelai.

Ini yang namanya “Ketergantungan kedelai”. Karena mayoritas berasal dari impor. Efek yang ditimbulkan adalah efek domino. Pemerintah mau swa sembada kedelai mesti sulit. Banyak kepentingan bersliweran. Bisnis komoditi internasional memang menggiurkan.

Ternyata ada yang iseng melawan “ketergantungan kedelai”dengan caranya sendiri. Misal : Pak Tode dan kawan-kawan. Dia kawan saya yang mencoba mengolah kacang koro pedang menjadi tempe dan tahu.

Beliau berpikir skala global. Indonesia memiliki ketergantungan impor kedelai. Dia sengaja tidak menanam kedelai. Karena kedelai adalah komoditas internasional. Bagaimanapun harus mengikuti tata niaga yang ada.

Kalau pak Tode menanam kedelai maka harus mengikuti harga pasar. Pak Tode harus mengikuti tata niaga kedelai. Maka, jika menanam koro Pedang. Pak Tode mengatur sendiri. Produksi sendiri, diolah sendiri dan dikonsumsi sendiri atau dijual.

Pak Tode termotivasi oleh sahabatnya. Sahabatnya  menanam koro pedang di lahan seluas 3 hektar. Pak Tode berpikir untuk membuat dan menjual tahu/tempe koro pedang. Jadi, Koro pedang itu ditanam sendiri, diolah sendiri dan dijual sendiri oleh masyarakat.

Beliau mencoba membuat tempe dan tahu dari Koro Pedang. Koro Pedang yang ditanam dari kebun milik temannya. Obsesi beliau, Jika berhasil membuat tempe dan tahu sendiri maka akan dikonsumsi sendiri dan dijual ke sahabat-sahabat atau di depan rumah.

Akhirnya, Kedelai tidak akan menjadi pemain tunggal dalam produksi tahu/tempe. Kalau ada kompetitor maka diharapkan harganya jadi kompetitif. Ada produk alternatif pengganti tempe. Harga ekulibrium kedelai diharapkan lebih stabil. Karena ada produk alternatif

Naif sekali…..yang saya tulis diatas. Tapi bukannya tidak mungkin. ”Ketergantungan kedelai” hampir tidak mungkin hilang. Kayak semut melawan Gajah. Mission Impossible, tapi kalau nggak dicoba ya mana tahu. Tentu saja masih ada possibility.

Beliau berpikir secara global namun langkah beliau hanya lokal. Beliau melihat ada “ketergantungan kedelai” namun ada produk alternatif yaitu koro pedang.

Beliau melakukan langkah kecil. Langkah yang sangat lokal. Coba, kalau semua orang melakukan langkah kecil perbedaan dan kemajuan. Semua akan maju dan membuat perbedaan.

Makanya, Think Globally Act Locally

Hidup Berkeluarga

sumber :disini

Keluarga adalah filosofi yang diangkat dalam film fast and furious. Dominic Toretto membangun semangat keluarga diantara krunya sejak pertama sampai sekuel terakhir. Tidak ada hubungan yang lebih intim dan dekat selain keluarga.

Keluarga adalah tempat berteduh, berkeluh kesah dan berlindung. Semua anggota keluarga akan saling melindungi dibawah pimpinan seorang kepala keluarga. Keluarga adalah tempat berkumpulnya  kasih sayang, perlindungan dan kenyaman.

Film ini mengangkat tema dunia otomotif, balapan dan aksi tembak-menembak. Hal yang menarik perhatian bukan aksinya, teknologi dan tokoh film.  Itu semua tentang keluarga.  Kita hidup di zaman ketika manusia menjadi lebih soliter. Manusia yang ingin hidup bebas dari ikatan. Tema keluarga menjadi menarik namun tetap terselubung di film ini.

Manusia menjadi egois, private dan soliter. Segalanya bisa dilakukan dengan bantuan “gadget” tanpa bantuan orang lain. Ternyata, Manusia adalah manusia. Manusia memiliki  dua sisi mata uang. Satu sisi adalah kesendirian  dan sisi yang lain adalah kebersamaan atau ikatan. Naluri manusia membina hubungan atau ikatan seperti pernikahan.

Adegan aksi dalam fast and furious memang sangat menarik. Namun, Film ini menarik ditonton bukan karena adegan-adengan berbahaya dan menegangkan. Film ini diminati karena semangat kekeluargaan yang dibumbui konflik diantara mereka dan misi yang mereka kerjakan.

Keluarga adalah ikatan. Kecenderungan hidup saat ini adalah kebebasan. Sejak ide kebebasan bersliweran di kehidupan kita. Apabila kita membuat ikatan maka dianggap itu sebagai keberanian. Karena keterikatan membutuhkan komitmen, penyesuaian dan konsekuensi. Konsekuensi ini bisa menyenangkan dan tidak jarang menyedihkan.

Adegan dimana Toretto (Vin Diesel) memuji Connor (Paul Walker). Karena Connor berani membangun keluarga dengan adik Toretto . Keberanian apapun yang dilakukan oleh Connor masih kalah dengan keberaniannya menikahi sang adik hingga mempunyai seorang anak. Karena itu menghasilkan hubungan yang kuat dan berkonsekuensi.

Keberanian untuk mengikat diri dalam sebuah pernikahan adalah keberanian sesungguhnya. Itulah pelajaran dari film fast and furious.Memang, Hidup bebas dan sendiri memang menggoda. Kita bebas melakukan apa saja tanpa ada konsekuensi.

Hidup berkeluarga adalah naluri manusia. Sehingga, kehadiran keluarga bagi setiap manusia ternyata tetap dirindukan meskipun, hidup sendiri menyenangkan. Film ini menyajikan ritual-ritual dalam keluarga misal: makan bersama dimulai dengan do’a yang dipimpin salah satu dari mereka. Itulah bentuk kerinduan mereka terhadap keluarga.

Ini adalah ritual yang menyatukan mereka dalam satu ikatan. Ikatan keluarga yang longgar. Karena mereka diikat dengan satu kebersamaan bukan ikatan yang kuat seperti hubungan darah. Ikatan karena hubungan darah adalah ikatan yang kuat.

Kita sering mendengar ungkapan, orang yang paling dekat kita adalah “keluarga”  meskipun tidak ada hubungan darah. Pernyataan ini boleh jadi benar tapi ikatannya tetap lemah. Jika suatu saat berpisah maka rasanya bukan keluarga lagi. Berbeda dengan keluarga karena ikatan darah.

Keluarga yang terdiri Ayah, Ibu dan anak. Apapun, Bagaimanapun dan Dimanapun mereka tetap anggota keluarga. Boleh tidak suka bahkan benci namun kenyataan tetap mengatakan mereka bagian dari keluarga. Kita harus menerima dengan senang hati. Ini berlaku mutlak bagi sang anak.

Karena apabila berkeluarga maka kita harus siap menerima segala konsekuensi dari hidup berkeluarga. Itulah keberanian. Kita tidak tahu jika kita berani atau tidak. Karena seringkali hanya nekad. Filosofi film  fast and furious adalah keluarga.

 

 

Life and Journey

Judul: In The Mind of Natali Ardianto
Penulis: Natali Ardianto
Penerbit: Metagraf, 2016
Tebal: 154 Halaman

Jika anda ingin belajar sesuatu maka belajar kepada yang ahli dan berpengalaman. Anda ingin belajar memasak maka belajar ke seorang koki. Belajar bertani?  Maka datangilah petani.  Anda ingin membuat  Start-Up, belajarlah kepada yang Ahli Start-Up. Ahli yang berpengalaman mendirikan dan mengelola Start-Up.

Natali Ardianto, nama yang tidak asing di dunia Start-Up. Dia adalah founder Urbanesia. Website Directory Online  yang dibeli grup Kompas. Golfnesia adalah proyek yang selanjutnya. Puncaknya adalah Tiket.Com. Natali menjadi salah satu Co-Founder disana yang akhirnya dibeli oleh grup Djarum.

Life is Journey, itu kesimpulan saya dari Buku In The Mind of Natali Ardianto tulisan dari Natali Ardianto. Natali mengkisahkan perjalanan hidupnya dimulai dari masa kecil yang dimulai dengan berkenalan dengan Komputer Apple “Lisa” sampai mendapat penghargaan  “The Most Intelligent CTO”. Itu adalah sebuah journey bagi dirinya.

Saya kira masih panjang petualangan bagi Si Natali.  Tiket.com sudah dibeli maka akan ada kisah baru dari si Natali. Kita tunggu saja.Manusia dianugerahi akal dan hati sehingga selalu bergerak dinamis.

Apa yang kita dapat jika selalu dinamis? Sesuatu yang  priceless,  yaitu  Experience dan Journey. Journey  lebih  bersifat  personal  karena tidak semua orang mengalami. Sesuatu yang bisa dibagikan untuk anak-cucu. Experience itu adalah Portofolio bagi seorang profesional. Portofolio  itulah  yang menaikkan nilai tawar.

Natali menjelaskan pentingnya Experience dengan contoh kasus yaitu  Google. Sergey Brin dan Larry Page adalah pendiri GOOGLE. Namun, mereka membutuhkan Eric Schmidt sebagai CEO GOOGLE. Eric yang membawa GOOGLE menjadi  Worldwide Company.  Karena Eric mempunyai pengalaman selama bertahun-tahun di Sun Microsystem sehingga paham dunia bisnis IT.

Eric yang membawa GOOGLE terkenal seantero dunia. Kalau mau mencari informasi di dunia maya. Kita pakai istilah Googling. “Silahkan googling dulu biar lebih paham”, ungkapan yang sering kita sampaikan. Jika hanya dikembangkan oleh Sergey Brin dan Larry Page maka Google hanya menjadi perusahaan rata-rata saja.

Pengalaman Natali di dunia Start-Up dituangkan di dalam buku ini.Buku ini membahas mulai yang basic, teknis sampai attitude. Segala yang  dipikirkan, dirasakan dan dijalani tertuang di buku ini. Kalau ingin membuat atau sedang menjalani sebuah start-up maka buku ini layak dibaca.

Kita langsung belajar Experience dan Journey dari seorang praktisi dan ahli. Ini akan menjadi masukan berharga.Meskipun, bagi yang hanya ingin menambah wawasan dan kebijaksanaan hidup cocok juga baca buku ini.

Kelemahan buku ini adalah tulisannya bercampur antara bahasa Inggris dan Indonesia. Generasi Milenial yang hidup di borderless world sesungguhnya bukan masalah. Bahasa Inggris telah menjamur kian kemari. Namun, saya yakin masih ada yang tidak nyaman. Karena pakai bahasa Indonesia dan kadang bahasa Inggris.

Natali beralasan bahwa kalau diterjemahkan maka ada ungkapan yang tidak tepat diartikan dalam bahasa Indonesia. Natali khawatir pesannya tidak sampai dan jadi ribet. Karena ada yang tidak bisa diterjemahkan secara langsung ke bahasa Indonesia.