Marhaenisme

Soekarno aktif di pergerakan sudah sejak lama. Pergumulan dengan tokoh-tokoh bangsa di Rumah Cokroaminoto adalah awal menjadi seorang Aktivis. Soekarno bertemu dengan S.M Kartosuwiryo dan Moeso. Dua orang kawan karib Soekarno ini akhirnya dihukum mati oleh Soekarno. Soekarno sendiri meninggal ketika beliau menjalani Tahanan Rumah pasca peristiwa GESTAPU. Mereka adalah manusia yang hidup dan mati di dunia pergerakan Indonesia.

Kisah Soekarno sungguh berwarna-warni ketika “mondok” di Rumah Cokroaminoto . Namun, Kisah perjuangan Soekarno ketika kuliah di THS (sekarang ITB) lebih berwarna-warni. Beliau menelurkan ide MARHAENISME, menikah dengan ibu Inggrit, dipenjara di Banceuy dan Sukamiskin, berdebat dengan Misbach di Kongres Syarikat Islam. Itu adalah sebagian dari warna-warni kehidupan aktivis perjuangan kemerdekan bernama Soekarno. Kita sepakati di artikel ini , kita sebut saja Bung Karno.

Bung Karno adalah seorang Idiolog Bangsa. Beliau selalu memikirkan jatidiri bangsa Indonesia. Siapakah sebenarnya rakyat Indonesia? Bagaimana wajah rakyat Indonesia. Karena saat iu, Indonesia disebut dengan Hindia Belanda. Kita belum mempunyai jatidiri bangsa Indonesia sendiri. Ide persatuan masih belum nampak secara jelas. 1928, Mulai nampak jelas dengan diselenggarakan Konggres Pemuda II.

Mungkin, Beliau baru di titik kebosanan saat itu. Bung Karno ambil sepeda kemudian mengayuh ke arah Bandung Selatan. Bung Karno hanya ingin cari “angin”. Bandung Selatan terkenal dengan hamparan sawah yang luas. Bung Karno menyusuri tanah persawahan di Bandung Selatan. Ketika itu usia Bung Karno 21 tahun jadi kira-kira tahun 1921.

Bung Karno menuturkan bahwa Bandung Selatan adalah kawasan pertanian. Para petani mengerjakan sawah miliknya sendiri. Luas sawah mereka tidak lebih dari sepertiga hektar. Bung Karno mendatangi seorang petani kemudian terjadilah sebuah dialog menggunakan bahasa sunda.

Hal yang menarik dari dialog Bung Karno dan petani tersebut adalah isi dialog. Bung Karno menyimpulkan bahwa Petani itu mengerjakan sawah miliknya sendiri (bisa jadi : warisan orang tua), menggunakan perkakas sendiri ( cangkul, sabit, bajak dsb). Hasilnya untuk menghidupi dirinya sendiri atau keluarga sendiri, tidak mempunyai pegawai dan tinggal di rumah berupa Gubuk.

Konon, nama petani itu adalah MARHAEN. Bung Karno mendapat ilham dari si Marhaen. Bung Karno menamai semua petani yang bernasib sama dengan nama MARHAEN. Bung Karno yang aktif di pergerakan di Bandung. Bung Karno menjadi bagian dari kelompok diskusi “Algemene Studie Club”. Bung Karno memakai istilah MARHAEN dalam diskursus klas atau susunan sosial masyarakat Indonesia dalam setiap diskusi.

Istilah MARHAEN berkembang dan tidak hanya merujuk ke petani saja. Bung Karno juga menyebut “tukang gerobak” sebagai marhaen. Si “Tukang Gerobak” masih memiliki alat produksi, tidak mempunyai pegawai dan tidak punya majikan.

Inilah ajaran Bung Karno : MARHAENISME. Marhaenisme adalah lambang dari penemuan kembali kepribadian nasional bangsa Indonesia. MARHAENISME adalah idiologi kemandirian bangsa Indonesia meskipun dalam keadaan melarat atau miskin. Pelakunya disebut dengan MARHAEN atau Pak Marhaen. Teori MARHAENISME disusun konteks historis dan kekhususan masyarakat Indonesia.

Seorang Marhaen adalah pemilik produksi kecil, tidak menyewa atau memperkerjakan orang lain dikerjakan sendiri dengan perkakas milik sendiri, tidak mempunyai majikan dan hasilnya untuk memenuhi kebutuhan sendiri.

Ini mungkin sepadan dengan istilah “borjuis kecil” dalam terminologi marxis. Bung Karno memberi penekanan Marhaen dengan perkataan “Kaum Melarat Indonesia”. Marhaen adalah pemilik produksi kecil (borjuis kecil) tetapi hidup sangat melarat.

Lawan kata “borjuis” adalah “proletar” dalam terminologi Marxis. Proletar adalah kaum yang bekerja untuk orang lain alias orang upahan. Mereka tidak mempunyai alat-alat produksi sendiri. Proletar bekerja untuk majikan.

Teori Marxis ingin membentuk masyarakat tanpa klas (Classless). Masyarakat tanpa  majikan/buruh,  Borjuis/Proletar. Semua adalah milik negara. Ada yang bilang bahwa “Masyarakat Tanpa Klas” adalah Utopia.

Kapitalisme mendewa-dewakan Kapital atau modal. Rakyat diberi kebebasan untuk menumpuk modal dan alat produksinya sendiri. Bahkan dalam melakukan aksi penumpukan modal dilindungi UU. Pursuit Of Happynes adalah tujuannya. Pursuit Of Happynes adalah mencari kebahagiaan duniawi.

Bung Karno mensintesis terminologinya sendiri yaitu MARHAENISME. MARHAENISME itu genuine karya Bung Karno. MARHAENISME bukan Marxisme atau Kapitalisme. MARHAENSIME adalah potret masyarakat Indonesia. Potret masyarakat yang bisa dideskripsikan dan disimpulkan oleh Bung Karno di usia 21 Tahun pada tahun 1920-an.

Indonesia mengalami pergeseran. Negara Agraris menuju Industri. Karena Kemerdekaan maka Eksistensi buruh yang dulu bagian dari perusahaan Belanda berubah menjadi bagian dari Warga Negara Indonesia. Kaum miskin proletar menjadi eksis di Republik Indonesia.

Maka, Bung Karno menyebut kaum itu menjadi 3 unsur : Kaum miskin proletar (buruh), kamu tani melarat dan kaum melarat Indonesia yang lain pada Tahun 1960-an. Tujuannya adalah menyatukan seluruh kaum tertindas dalam sebuah persatuan yang revolusioner.

Kaum buruh (miskin proletar) berbeda dengan kaum petani di zaman dulu.  Akan tetapi, Ini menjadi mirip di zaman kekinian. Karena mereka sama-sama tidak mempunyai alat produksi (sawah). Kaum petani tanpa lahan disebut kaum buruh tani. Mereka sama-sama tidak mempunyai lahan.

Kaum buruh tani adalah mereka menggarap sawah yang dimiliki para tuan tanah atau kaum kapitalis yang menguasai lahan. Mereka tidak mendapat gaji tapi bagi hasil dari panenan. Kalau panen berhasil maka mendapat uang. Jika panen gagal maka tidak mendapat apa-apa. Kaum buruh tani lebih termaginalkan. Karena tidak mempunyai lahan dan seringkali tidak mendapat hasil. Karena gagal panen.

Sumber :

  1. https://id.wikipedia.org/wiki/Marhaenisme
  2. http://www.berdikarionline.com/bung-karno-dan-defenisi-marhaen/
  3. https://penasoekarno.wordpress.com/2009/10/21/siapakah-marhaen/

 

 

 

 

Advertisements

Hidup Bermakna


Saya menerima telepon dari pakde Widadi pagi ini tadi. Pakde saya yang satu ini sungguh istimewa. Beliau sangat humanis. Beliau paling gemar membaca buku. Buku yang beliau baca mulai dari ekonomi, sosial, budaya, agama bahkan psikologi. Sungguh saya senang sekali ngangsu kawruh dari beliau.

Saya mendiskusikan tentang “kebermaknaan” dengan beliau. Kebermaknaan adalah sesuatu yang membawa kebahagiaan pribadi tanpa mengorbankan orang lain. Orang miskin bisa bahagia karena merasa hidupnya “bermakna”. Orang yang menderita sakit akan merasa bahagia meskipun sangat menderita. Karena dia merasa hidupnya “bermakna”. Orang kaya bisa merasa tidak bahagia karena hidupnya “tidak bermakna”. Bahagia tanpa egois itu hidup yang “bermakna”.

Kalau kita omong hidup “bermakna” maka lebih afdol pakai contoh. Pepeng Ferrasta adalah contoh riil dari hidup “bermakna”. Beliau menderita penyakit multiple sclerosis. Penyakit itu menyebabkan kelumpuhan dari bagian pinggang ke bawah. “Orang barat yang menderita penyakit ini biasanya minum painkiller pill, kalau saya pakai dzikir dan obat dari cina”, begitu kata Pepeng.

Pepeng itu memang beda. Beliau tidak mengeluh meskipun sangat menderita. Rasa sakit dihadapi dengan senyuman dan segudang kegiatan. Kegiatan mulai dari studi S2, bisnis kacang goreng dan menulis buku. Pepeng ingin mengurangi rasa sakit dengan banyak kegiatan. Pepeng ingin bahagia juga dengan membuat hidupnya lebih bermakna. Hidup bermakna dengan membuat karya nyata.

Beliau juga menderita sakit jantung. Anda bisa bayangkan bagaimana menderitanya beliau. Beliau hanya bisa terbaring di tempat tidur selama bertahun-tahun dan merasakan rasa nyeri yang hebat sehingga tidak bisa kemana-mana. Apakah beliau mengeluh? Menyerah? Minta dikasihani? Ternyata tidak.

Beliau dalam keadaan sangat terbatas telah menyelesaikan S2 di Psikologi UI. Beliau juga memulai dan menjalankan bisnis kacang goreng ketika sudah sakit. Beliau menjalankan bisnis secara online. Beliau menulis buku meskipun belum tidak selesai. Bahkan, beliau juga sudah bercita-cita melanjutkan studi S3 di Psikologi UI. Karena maut lebih cepat menjemput. Maka, Buku belum terselesaikan dan belum sempat kuliah S3.

 “Dia mampu melewati masa-masa sulit, menerima, bersyukur, dan “menikmati” misi yang sedang Tuhan berikan kepadanya. –Andy F.Noya, Pembawa Acara Kick Andy” .

Begitu pernyataan host acara KICK ANDY di metro TV setelah mas Pepeng meninggal dunia. Karena Pepeng berhasil melewati dengan hidup “bermakna.”. Dia bahagia meskipun sakit. Dia mampu berkarya meskipun belum semua terselesaikan.

Saya hanya membayangkan kronologis kejadian ketika mas Pepeng divonis menderita Mutiple Sclerosis. Awalnya, Mas Pepeng merasakan rasa nyeri yang teramat sangat menyakitkan. Dia hanya berbaring di rumah. Dia tidak tahu kapan penyakit ini akan sirna. Karena penyakit ini sangat langka dan hampir-hampir tidak ada obatnya.

Pilihannya ada dua yaitu PASRAH atau BANGKIT ?

PASRAH,…..merasa kalah dengan penyakit yang diderita. Bersedih dan menyesali segala yang terjadi didirinya.  Atau, merasa berhak bersumpah serapah kepada Allah SWT. Karena kesialan yang ditimpakan ke beliau. Sungguh menyedihkan hidup mas Pepeng. Jika jalan ini dipilih.

BANGKIT,…….dia menerima (accept) atas keadaan yang diterima. Beliau menyadari bahwa penyakit ini ada di dalam tubuhnya. Penerimaan ini harus disertai dengan kebangkitan. Kebangkitan ini ditandai dengan tekad yang kuat. Bahwa, Hidup harus “Bermakna” bagi diri sendiri, orang lain maupun alam semesta.

“Bermakna“,  ini yang akan membawa kebahagiaan dalam segala keterbatasan. Sedih atau bahagia adalah pilihan. Alhamdulillah, Mas Pepeng memilih hidup “bermakna”. Beliau menjalani hidup yang bahagia dengan menjalani hidup “bermakna” hingga ajal menjemput.

Viktor E. Frankl, dalam buku Man’s Search for Meaning, menyatakan bahwa  peristiwa-peristiwa  semacam itu terjadi karena manusia mengalami “kehilangan makna” dalam hidupnya. Kehilangan makna dalam hidup menyebabkan orang merasa tidak memiliki “alasan” lagi untuk hidup. Oleh karena itu, Frankl menegaskan pentingnya “kehendak akan makna” dalam hidup manusia agar ia selalu memiliki alasan untuk hidup sampai kematian merenggutnya.

Barangkali, Itulah alasan Pepeng untuk selalu berkarya. Berkarya dalam keterbatasan. Agar selalu memiliki alasan untuk hidup sampai kematian merenggutnya. Rumusan “kebahagian” ala Frankl ini tidak hanya untuk yang sakit atau sedang terpuruk saja. Bahkan untuk yang sedang di puncak kejayaan dan kondisi kesehatan sedang puncaknya.

Kita sering mendengar jika banyak orang sukses namun merasa hampa. Tingkat bunuh diri yang tinggi bukan karena kesempitan ekonomi. Misalnya : Negara Jepang. Tingkat Bunuh diri yang tinggi disana bukan karena Jepang miskin. Penyebabnya disinyalir karena rasa hampa di hidup mereka. Rasa Hampa karena hidup yang tidak Bermakna.

Agar hidup bermakna maka tidak boleh egois. Agar tidak egois maka harus berbagi dengan sesama makhluk Tuhan (sesama manusia, Binatang, Tumbuhan bahkan Alam semesta). Hubungan kita dengan sekitar kita yang membuat hidup “bermakna”.

Soichiro Honda  adalah pendiri kerajaan Honda. Dia memilih hidup sederhana dan menyumbangkan kekayaan untuk kegiatan sosial kemanusiaan. Itu salah satu usaha dia agar hidup bermakna. Kegiatan tersebut disebut Filantropi.

Jika ingin menjadi filantropi tidak harus menunggu menjadi kaya. Kita tidak harus berbagi dengan orang lain hanya dalam bentuk uang. Berbagi bisa berbentuk apapun.Kita menyisihkan “sesuatu” untuk orang lain baik itu tenaga, pikiran atau harta. Sehingga hidup kita menjadi “bermakna”.

Hidup “bermakna” artinya hidup bahagia tanpa egoisme. Kuncinya adalah “berbagi”. Kita bisa berbagi apapun tidak hanya uang. Seperti Pepeng, dia berbagi simpati, empati, semangat, energi positif dan ilmu.

Hmmm……. Apa yang sudah saya “bagikan” untuk sesama?


Terjemahan : Ngangsu Kawruh —> Belajar

Sumber :

  1. http://dunsscotusofm.wixsite.com/mysite/single-post/2017/03/08/Manusia-Sejati-Menurut-Viktor-E-Frankl-Sebuah-Elaborasi-Singkat-atas-Buku-Mans-Search-For-Meaning
  2. https://psikotikafif.wordpress.com/2008/06/25/21/





Posyandu Lansia

Saya dulu bercita-cita menjadi dokter. Dokter adalah profesi yang mulia di dserah kami. Akhirnya, Cit-cita saya tidak kesampaian. Hahahahaha….Saya menjadi sarjana teknik. Sarjana teknik aja juga nanggung. Karena tidak menjiwai masalah keteknikan. Kerja sebagai orang kantoran yang ngurusi keuangan. Apes dah……hahahahaha….

Singkat cerita, Saya berkenalan dengan pak Amin. Beliau adalah dosen senior tapi berjiwa muda. Beliau sangat mengharapkan generasi muda berkiprah di masyarakat. Beliau sering menyelenggarakan pelatihan, pengobatan gratis atau pembinaan remaja.

Kegiatan yang bersinggungan dengan cita-cita masa kecil adalah Pengobatan Gratis. Kita mengadakan pengobatan gratis dengan melibatkan dokter, perawat dan apoteker. Semua kru tidak dibayar alias gratis. Karena mereka menganggap sebagai tugas yang mulia. Saya menjadi koordinator mereka. Saya sebagai representasi dari Pak Amin di kegiatan Pengobatan Gratis.

Pengobatan Gratis dilakukan di Posyandu Lansia. Karena yang datang ke posyandu tidak hanya balita namun juga Lanjut Usia (Lansia). Wajah-wajah pasien sumringah ketika kru kami bekerja. Kadang muncul ucapan terimakasih dari para Lansia.

Nah, Saya tidak harus jadi dokter namun bisa bekerjasama dengan dokter. Alangkah bahagianya sebagai dokter. Mereka mampu membantu sesama dengan ilmunya. Mereka tidak dibayar tapi kepuasaan batiniah yang lebih mahal dari sekedar bayaran rupiah.

 

Terimakasih Pak Dokter, Bu Dokter, Mbak Perawat dan Mas Apoteker

 

Kesempatan

Sudah menjadi kebiasaan di masjid. Pengajian dimulai dengan membaca Al-Quran. Setiap peserta pengajian harus membaca satu ayat secara bergantian. Tiba giliran Pak Winoto, Dia membaca Al-Quran  tidak lancar namun dibiarkan saja. Pak Winoto terlihat sangat lega ketika sudah selesai giliran. Saya pikir dia membaca tulisan “latin”-nya bukan tulisan arab-nya. “Ah…biarkan saja”, pikir saya saat itu.

Pak Marwan memberitahu saya bahwa Pak Winoto belum bisa baca Al-Qur’an. “Pak Winoto itu baca latinnya bukan arabnya”, tukas pak Marwan dengan mimik serius. Pak Marwan juga berkomentar begini, “Kalau nggak bisa mengaji, ya belajar dan jangan memaksakan diri kayak gitu”.” Kalau ada niat mesti ya belajar”, tambah Pak Marwan.

Hufft… ternyata benar dugaan saya. Pak Winoto belum bisa membaca tapi semangat sekali ikut pengajian. Sedih mendengar kabar dari pak Marwan yang membenarkan perkiraan saya. Tapi itu hanya gejolak di dalam hati. Mana berani saya berkomentar ke Pak Marwan. Bisa jadi gosip….

Aduh, Beliau kasihan sekali karena harus menanggung “beban” kalau pas pengajian. Beliau suka mengikuti pengajian. Dia harus paksakan walaupun tidak bisa. Dia berpura-pura dengan membaca latinnya. Pak Winoto  sadar kalau menjadi gunjingan diantara jamaah masjid.Tapi apa boleh buat. Saya senang dengan semangat pak Winoto.

Saya dekati pak Winoto. Saya tanya beliau,“Maaf pak, Apa benar bapak belum bisa baca Al-Quran?”. Beliau menjawab dengan mimik serius sekaligus sedih,” bener mas”.“Bapak mau belajar dengan saya?”,Setengah berbisik kepada beliau. “Belajarnya nanti di rumah saya di malam hari “, saya menekankan hal ini kepada beliau. “Jadi nggak ada yang tau”, saya tambahi sambil senyum dan mengangkat jari jempol.

Pak Winoto menjawab dengan penuh antusias, “Iya mas, saya mau”. Saya tau kalau pak Winoto sebenarnya ingin belajar mengaji sejak dulu.  Hidayah dan kesempatan yang Allah SWT diberikan kepada hamba-Nya kadang datang tidak tentu. Kadang saat masih anak, remaja bahkan sudah manula. Beliau sudah terlanjur tua.

Beliau bingung mau belajar mengaji dimana. Apa mau ikut ngaji di TPA Masjid? Lha mosok mau ngaji dengan anak kecil. Pak Winoto juga tidak tau tempat belajar mengaji dengan sesama orang tua . Pak Winoto akhirnya pasrah. Karena ada kesempatan emas untuk belajar mengaji. Pak Winoto menyambut dengan semangat.

Pak Winoto akhirnya datang malam itu. Dia hanya berbekal semangat dan tekad. Saya belikan buku Iqra karya KH. As’ad Humam. Dia mulai belajar mulai dari dasar atau Alif, Ba’, Ta’. Saya mengajari dengan pelan-pelan. Saya tidak punya target muluk-muluk. Beliau yang penting bisa membaca Al-Qur’an.

Anak-anaknya biar tau kalau bapaknya mampu membaca al-qur’an dengan baik dan benar. Motivasi dan kebanggan buat anak-anak beliau. Saya mumpung masih longgar dan tidak banyak kegiatan. Semoga bermanfaat buat Pak Winoto.

Belajar itu memang dari sejak lahir sampai meninggal dunia. Kanjeng Nabi Muhammad SAW yang bicara begitu. Belajar tidak mengenal usia. Hambatan belajar seringkali masalah sosial dan budaya. “Kesempatan” itu datangnya memang tidak terduga. Maka, setiap ada “kesempatan” maka harus dimanfaatkan.

Beruntunglah, Orang yang diberi “kesempatan” ketika masih anak atau balita. Kita sudah tau  banyak anak kecil sudah hafal Al-Quran. Anak teman bapak saya bahkan sudah hafal 30 Juz sejak usia 9 Tahun. Tetapi, banyak juga yang diberi “kesempatan” di usia senja. Semua manusia mempunyai jalan hidup masing-masing.

Mana yang lebih baik? Semua baik. Karena Allah SWT memberikan kesempatan dan petunjuk kepada manusia berbeda-beda waktunya. Masalahnya, Bagaimana kita menangkap kesempatan ini. Kepedulian kita untuk membantu orang lain untuk mendapatkan “kesempatan”. Itu sangat dibutuhkan. Seperti kisah pak Winoto diatas.

 

 

 

 

 

 

Hidup Berdampingan

Kami berdua telah memiliki dua anak. Anak kami sudah lengkap yaitu seorang anak lelaki dan perempuan. Alhamdulillah, Kami juga telah dibantu seorang ART, sebut saja “Mbak”. Si “Mbak” sangat tangguh. Dia membantu mengasuh kedua anak kami, mengurusi urusan belakang dan juga membantu bagian perawatan di usaha kami. Rasanya senang dan nyaman karena ada ART yang tangguh, efektif dan efisien.

Faktanya, anak kami itu ada tiga. Lho kok bisa? Bisa saja lah. Khan, Si “mbak” membawa anak juga di rumah kami. Hehehehehe… Usia anaknya selisih satu tahun dengan anak saya nomer dua.  ART yang tangguh, efektif dan efisien tapi bawa anak di rumah kami. Hehehehe…..

Anak kami yang sulung itu perempuan berusia 5 tahun dan  yang kedua itu laki-laki berusia 2 tahun.  Anak si “mbak” itu perempuan berusia 3 tahun. Mereka bertiga hidup dalam satu rumah. Bisa dibayangkan betapa ramai rumah kami. Pokoknya rumah kami tidak pernah sepi dari suara anak-anak.

Bagaimana bisa sih? Anak dari si “mbak” tinggal di rumah kami.  Itu tidak terlalu penting. Buat saya interaksi diantara ketiga balita itu yang terpenting. Mereka berinteraksi bersama dalam kurun 24 jam secara terus-menerus. Lebih banyak menyenangkan dari menyusahkan. Kami seisi rumah sangat menikmati keadaan ini.

Saya dibesarkan sebagai anak tunggal selama 11 tahun 6 bulan. Setelah akhirnya, Adik saya dilahirkan ketika menjelang ujian kelulusan SD. Saya merasakan suka duka sebagai anak tunggal tanpa saudara. Saya merasakan kehadiran saudara kandung menjelang remaja awal. Setelah sekian lama menjadi “raja” di rumah.

Saya tahu rasanya sepi tanpa saudara atau teman sebaya di rumah. Meskipun di bagian lain, saya tidak perlu berbagi dengan saudara yang lain jika ada pemberian dari orang tua. Saya tidak perlu berbagi, bertenggang rasa dan bahkan tidak perlu berkonflik dalam segala hal. Apapun buat saya itu mutlak untuk saya.

Keadaan yang bertolak belakang dengan anak-anak saya. Anak-anak sejak balita sudah belajar untuk saling menyesuaikan dengan saudara kandung. Bahkan mereka sudah harus belajar saling menyesuaikan dengan anak orang lain. Padahal, Ego mereka muncul sebagai anak manusia maka konflik seringkali tidak terelakan.

Bukankah biasa setiap manusia memiliki ego. Karena ego maka ada konflik. Lha ini, konflik ego dengan anak orang lain dan apalagi tinggal dan kerja di rumah kami. Bukan konflik yang kami permasalahkan tetapi bagaimana mereka menyelesaikan konflik. Itu yang membuat kami terkagum-kagum dengan anak kecil.

Konflik sesama anak-anak sudah kami anggap biasa. Anak kecil itu ternyata sangat pemaaf. Setelah mereka bertengkar. Mereka bisa bermain lagi tanpa rasa dendam lima menit kemudian. Tidak ada yang disimpan di kalbu, semua hanya luapan emosi sesaat saja.

Anak itu tetaplah anak. Anak si “mbak” tentu belum terlalu peduli kalau numpang hidup di rumah orang. Ego anak tetap akan muncul dimanapun dan bisa kapanpun. Awalnya, mereka bertiga kalau udah berebut sesuatu maka ramai rumah kami.

Konflik yang sejati adalah konflik bagi kami. Para orang dewasa yang tinggal serumah. Ternyata, Kami dan si “mbak” yang harus bertenggang rasa dan saling menyesuaikan diri. Karena setiap orang tua akan memprioritaskan anak-anak kita diatas segala-galanya . Itu yang normal dan  naluriah. Kalau kadar berlebihan maka itu yang jadi masalah.

Kami sebagai tuan rumah dan si “mbak” yang hidup dalam satu rumah mendapat pelajaran berharga . Bagaimana menempatkan konflik anak-anak dalam koridor dunia anak tanpa melibatkan emosi kami sebagai orang tua.  Karena anak-anak itu sangat pemaaf, kadang kita sebagai orang tua yang seringkali memperpanjang konflik.

Kalau menimbang-nimbang untung dan rugi dari ART yang membawa anak ketika bekerja. Tentulah, kita lebih mudah melihat kerugiannya. Kerugian mulai kualitas pekerjaan si”mbak” tentu kurang maksimal karena perhatian terbagi antara anak dan pekerjaan. Privacy keluarga kami mestilah terganggu.

Alih-alih memperhatikan kerugian. Saya melihat banyak manfaat. Saya dan Istri mengibaratkan rumah kami adalah asrama yang besar. Asrama yang tidak ditinggali sendiri. Rumah kami menjadi ramai. Saya tidak merasakan kesepian seperti masa kecil. Hidup kami merasa lebih berkah dan penuh kegembiraan.

Karena kami bukan termasuk orang yang berpenghasilan besar. Tetapi, banyak orang  yang kami tanggung hidupnya. Rezeki terasa lancar meskipun pas-pasan. Ibarat aliran sungai, sungai kami tidak besar tetapi  alirannya kecil dan lancar. Karena kami menghidupi dua keluarga. Alhamdulillah, kami merasa cukup tetapi tidak berlebihan. Rasanya “pas”. Gitu aja…..

Anak-anak belajar hidup bersama dengan orang lain yang seusia mereka. Mereka harus berbagi dalam berbagai hal mulai makanan, minuman, mainan dan kesenangan. Karena hidup serumah maka pembagian harus adil diantara mereka bertiga. Saya anggap ini pembelajaraan buat anak-anak kami untuk berbagi, bersimpati dan mempunyai empati.

Semoga anak-anak saya tumbuh sebagai anak-anak yang peduli sesama, mampu mengontrol ego dan ringan dalam menolong. Bukan konflik yang kami permasalahkan, Bagaimana anak-anak menyelesaikan konflik yang kami perhatikan. Besok, Mereka akan menghadapi konflik dengan orang lain besok jika sudah dewasa.

Namun, Kami tetap mempunyai waktu istimewa. Waktu dimana merasa diistimewakan oleh orang tua mereka sendiri. Karena itu juga menjadi hak mereka sebagai anak-anak kami. Kami ajak mereka main keluar kota 1-2 hari. Kami hanya bersenang-senang selama perjalanan. Kami bermain bersama.

Kalau sudah selesai liburan. Kami pulang ke rumah dan hidup secara komunal kembali. Ruang kosong itu harus diisi. Ruangan yang membutuhkan kasih sayang langsung dari orangtua kepada anak-anak tanpa ada gangguan. Namun, Empati anak juga harus dibangun. Empati dibangun saat hidup bersama dengan orang lain.

 

 

 

Njagong

Hari Ahad adalah hari libur. Buat saya yang bekerja sebagai karyawan. Hari untuk bersantai dan bermalas-malasan. Namun, Kenyataan yang terjadi adalah bukan santai di rumah. Kita harus keluar untuk njagong atau menghadiri kondangan.

Njagong yang dilakukan di kota-kota besar biasanya dilakukan lebih simple. Kita datang, nyumbang, salaman, makan dan pulang. Kalau njagong dengan style seperti itu maka cukup 15 menit atau paling lama 30 menit. Cukup simpel dan praktis.

Beda yang ada di kota saya yaitu Solo. Penyelenggaraan masih banyak dengan gaya tradisional. Para tamu datang, duduk dan mengikuti seremonial dengan durasi kurang lebih dua jam. Tamu dilayani dengan sinoman mulai minuman, snek, sup, nasi dan kelengkapannya dan ditutup dengan hidangan es.

Kalau ada tamu dari luar kota. Mereka banyak yang complain. “Ah, nggak praktis banget kondangan macam gini”, kata mereka. “Waktu kita banyak terbuang nih, kita cuma duduk-duduk doang”, mereka makin bosan. Tapi, dimana bumi dipijak maka langit dijunjung. Kita harus mengikuti budaya setempat.

Semakin sibuk manusia maka segala sesuatu dilakukan semakin praktis. Budaya kondangan ala solo dianggap tidak praktis. Namun, Masyarakat Solo masih banyak yang melakukan. Warga Solo berkeyakinan bahwa ini adalah cara menghormati tamu yang diundang.

Tamu duduk dan dilayani dengan sinoman. Sinoman itu adalah sekelompok orang yang bertugas melayani makanan buat tamu undangan di kondangan. Nggak praktis bener, tetapi cukup menyenangkan. Hehehehehe….!!!! Kalau diniyati untuk sekalian nyantai. ( heheheheh…!!!! mana ada kondangan untuk refreshing).

Tamu dilayani kemudian dilayani makanan sambil mendengarkan lagu. Tamu harus duduk dan tidak ada yang berdiri. Kalau ada yang berdiri maka yang Hamong Tamu mencarikan kursi untuk duduk. Ribet ya….!!!! Hehehehehehe….

Itulah budaya. Setiap daerah punya budaya dan tradisi masing-masing. Solo dan Yogyakarta masih dalam satu wilayah budaya yaitu budaya jawa.

Saya merasa Yogya semakin praktis. Maklum, Yogyakarta berisi manusia yang lebih heterogen dan lebih adaptif dengan perubahan zaman.

Kondangan disana lebih praktis. Berdasarkan pengalaman saya saja ini. Hehehehe…Kondangan di Yogyakarta pakai “Standing Party”. Tamu datang, nyumbang, salaman dengan pengantin, foto dengan pengantin, makan dan pulang.

Mau makan banyak atau sedikit maka nggak ketahuan. Wong Prasmanan apalagi kalau pakai Booth. Lebih nggak ketahuan kalau mau bawa pulang.

Kalau di Solo, Hidangan sudah disajikan dan ditakar. Jadi kalau mau dobel bisa ketahuan. Nggak akan berani bawa pulang. Hahahahaha…….

Kondangan model Solo. Kita jika ingin bersalaman dengan pengantin harus nunggu acara selesai atau datang sebelum prosesi dimulai.

Kalau mau foto-foto nggak bisa sembarangan, nunggu panggilan. Itu saja kalau dipanggil. Kalau nggak dipanggil maka nunggu acara bubaran. Kita foto-foto dengan pengantin sendiri. Itu diluar acara di kondangan. Hehehehe….

Ya begitulah, Dimana Bumi dipijak Maka Disitu Langit Dijunjung. Setiap daerah memiliki tradisi dan budaya masing-masing. Nggak ada salah atau benar. Anggaplah itu keanekaragaman budaya. Bagaimana tradisi di tempat anda?

Salam dari SO

Kreativitas Sang Istri

Kita masih mau ngobrol kreativitas menghadapi problematika hidup. Beberapa orang mengeluh harga cabe yang melonjak tidak karuan. Harga cabai pas mahal-mahalnya saat lebaran. Kadang turun drastis nyungsep ke tanah. Saya nggak paham kok bisa gini. Harga cabai bergerak layaknya Roller Coaster.

Kedelai, Cabai, Gula dan Beras yang disebut dengan Sembako (Sembilan Bahan Pokok). Hmmm…. Harganya naik-turun nggak karuan. Beda cerita, Kita pergi ke Dufan dan naik Roller Coaster. Semakin cepat naik dan turun maka semakin menyenangkan.

Harga sembako yang naik turun. Itu bisa bikin nangis bombay. Ibu yang cermat dan teliti di keuangan keluarga akan pusing tujuh keliling. Harga yang naik –turun secara cepat bisa merusak perhitungan. Padahal, uang sudah diplotting pos-pos tertentu. Apa harus mencomot pos keuangan yang lain ?

The Power of Kepepet. Agar muncul kreativitas kadang harus dipepet dengan keadaan. Saya acungi jempol kepada ibu rumah tangga yang tidak bekerja di luar rumah tapi kreatif. Mereka hanya menerima gaji  dari sang suami. Gaji yang seringkali sudah tidak utuh pas diterima. Karena sudah dipotong disana-sini. Maklum, hutang masih menumpuk.

Karena saya adalah bagian dari para suami tersebut. Saya bisa memahami kesulitan para ibu rumah tangga. Mereka harus putar otak  bagaimana mencukupkan uang suami untuk kebutuhan yang semakin bertambah dan harga kebutuhan yang semakin naik. Padahal, Jumlah uang yang diterima tidak bertambah.

Padahal, Ibu Rumah Tangga sudah dibebani pekerjaan rumah yang memusingkan. Mereka harus menyingsingkan lengan baju, memeras otak dan menguatkan tubuh. Roda kehidupan rumah tangga harus jalan. Kalau suami hanya jadi pegawai rendahan sampai level menengah maka harus kreatif. Agar semua kebutuhan tercukupi. Tidak muluk-muluk, Tidak perlu jadi kaya asal tercukupi.

Kreativitas para ibu rumah tangga bermunculan mulai online shop, urban farming, bank sampah, katering, souvenir sampai menjahit. Alhamdulillah, kita hidup di era medsos. Apapun bisa kita lakukan dengan medsos. Salah satunya adalah online shop.

Ibu-ibu sambil menggendong anak, menyusui si bayi atau mengajari anak. Mereka berkelana di dunia maya untuk menambah pundi-pundi uang. Mereka adalah pengguna smartphone. Smartphone tidak harus mahal tapi menghasilkan.

Keinginan yang sederhana yaitu keluarga hidup layak, makan yang layak dan anak-anak bisa lulus sekolah dan akhirnya si anak bekerja. Sehingga sang anak bisa menghidupi sendiri.

Kalau jadi kaya. Itu adalah bonus. Niyat semula adalah untuk memenuhi kebutuhan keluarga saja. Para suami dengan sigap membantu istrinya. Mereka sepulang kantor berganti kostum yaitu kaos T-Shirt.

Mereka mengantar barang dagangan ke kantor ekspedisi. Para Suami yang siaga untuk mengantar barang dagangan yang laku. sekaligus mengambil dagangan yang sudah dipesan oleh istri mereka.

Istri mereka selesai merekap penjualan online selama satu hari. Uang penjualan hari itu sudah mengalir ke rekening bank yang ada di BCA, Mandiri atau BRI.

Selesai merekap hasil penjualan. Suami terburu-buru mengambil uang di ATM untuk belanja/kulakan barang dagangan di esok harinya.

Uang sisanya dipindahkan ke rekening penampungan. Uang itu adalah tabungan biaya sekolah anak, persiapan untuk berobat dan kebutuhan yang mendesak atau buat refreshing. Jika mereka beruntung. Mereka bisa beli mobil atau tanah.

Kebutuhan makan dan tagihan bulanan sudah ditanggung oleh gaji sang suami. Sisa gaji suami untuk bayar hutang. Gaji suami sudah habis tanpa sisa.

Mereka adalah manusia yang hidup dengan penuh keyakinan. Kita hanya diwajibkan berusaha. Sisanya kita serahkan ke Allah SWT. Semoga hidup kita semakin lancar jaya.

Saya ANGKAT TOPI kepada para ibu rumah tangga yang tangguh dan perkasa. Mereka sangat memahami bahwa hidup berumah tangga adalah selayaknya sebuah tim. Mereka seringkali lebih repot daripada sang suami. Mereka sunyi dan senyap dalam pubilkasi padahal sangat menentukan bagi roda kehidupan rumah tangga.

Think Globally Act Locally

Koro Pedang

Sumber : DISINI

Tempe yang menjadi makanan sejuta umat di Indonesia. Hampir siapa saja mesti pernah makan tempe. Lauk yang enak nan gurih. Tempe bisa dikatakan makanan asli Indonesia. Resep cara membuat tempe, kita yang punya.

Bahan baku tempe adalah kedelai. Kedelai untuk membuat tempe konon 60 % dari Impor (sumber :Kemenperin). Saya dengar dari pengrajin tempe ketika penelitian biogas. Harga kedelai sangat fluktuatif.

Jika Amerika panen raya kedelai maka harga kedelai dunia turun. Sebaliknya, Kalau Amerika sedang gagal panen maka harga akan naik tinggi. Harga kedelai mengikuti harga pasar dunia.

Karena kedelai sebagian besar impor. Pengrajin Tahu dan Tempe tidak bisa tidur nyenyak. Karena harga kedelai naik dan turun seperti Roller Coaster. Apes, Harga Tempe/Tahu tidak bisa mengikuti fluktuasi harga kedelai

Sedih, Makanan rakyat yang ikonik memiliki ketergantungan tinggi dengan impor. Kita memang tergantung terhadap komoditas internasional seperti kedelai. Karena produksi dalam negeri tidak mencukupi.

Ketergantungan ini menyebabkan pedagang besar kedelai menjadi faktor penting. Petani dan Konsumen hanya bisa pasrah. Para pedagang kedelai yang memiliki modal besar dan gudang besar. Kalau timing pas, maka bisa untung besar. Beli saat harga murah dan jual saat harga mahal.

Ya iyalah…Mereka yang punya kapital/modal. Petani cuman bisa pasrah. Produksi berlebih maka harga jual turun dan jika produksi turun maka konsumen yang pasrah. Akibatnya, Ukuran tahu/tempe yang dijual akan mengecil jika harga kedelai naik. Kalau ukuran tempe tidak berubah maka harganya naik. Hufttt… Pilihan yang sulit.

Pengrajin tahu/tempe serba salah. Kalau harga tahu dan tempe dinaikan maka bisa gulung tikar. Mana ada yang mau beli tahu-tempe? kalau harganya naik. Kita mesti pilih ayam atau daging jika harga tahu/tempe mahal.

Tapi, Kalau harga tahu dan tempe tidak naik maka biaya produksi tidak tercover. Runyam….. Pilihan yang sulit bagi pengrajin tahu/tempe. Pengrajin tahu/tempe rata-rata pengusaha skala kecil sampai menengah. Kasihan khan…

Pemerintah yang harus mengambil peran melindungi konsumen, pengrajin dan petani kedelai. Petani kedelai dan pengrajin harus dilindungi sehingga masih dapat untung. Pemerintah bisa kasih subsidi ke petani atau pengrajin.

Kebijakan pemerintah harus mengarah ke swa sembada kedelai. Petani kedelai harus bisa hidup dari panen kedelai. Produksi melimpah dan untuk kebutuhan dalam negeri dulu. Harga Pokok Penjualan harus bisa mengcover biaya produksi dan lebih. Petani kedelai harus bisa hidup dengan tanam kedelai.

Ini yang namanya “Ketergantungan kedelai”. Karena mayoritas berasal dari impor. Efek yang ditimbulkan adalah efek domino. Pemerintah mau swa sembada kedelai mesti sulit. Banyak kepentingan bersliweran. Bisnis komoditi internasional memang menggiurkan.

Ternyata ada yang iseng melawan “ketergantungan kedelai”dengan caranya sendiri. Misal : Pak Tode dan kawan-kawan. Dia kawan saya yang mencoba mengolah kacang koro pedang menjadi tempe dan tahu.

Beliau berpikir skala global. Indonesia memiliki ketergantungan impor kedelai. Dia sengaja tidak menanam kedelai. Karena kedelai adalah komoditas internasional. Bagaimanapun harus mengikuti tata niaga yang ada.

Kalau pak Tode menanam kedelai maka harus mengikuti harga pasar. Pak Tode harus mengikuti tata niaga kedelai. Maka, jika menanam koro Pedang. Pak Tode mengatur sendiri. Produksi sendiri, diolah sendiri dan dikonsumsi sendiri atau dijual.

Pak Tode termotivasi oleh sahabatnya. Sahabatnya menanam koro pedang di lahan seluas 3 hektar. Pak Tode berpikir untuk membuat dan menjual tahu/tempe koro pedang. Jadi, Koro pedang itu ditanam sendiri, diolah sendiri dan dijual sendiri oleh masyarakat.

Beliau mencoba membuat tempe dan tahu dari Koro Pedang. Koro Pedang yang ditanam dari kebun milik temannya. Obsesi beliau, Jika berhasil membuat tempe dan tahu sendiri maka akan dikonsumsi sendiri dan dijual ke sahabat-sahabat atau di depan rumah.

Akhirnya, Kedelai tidak akan menjadi pemain tunggal dalam produksi tahu/tempe. Kalau ada kompetitor maka diharapkan harganya jadi kompetitif. Ada produk alternatif pengganti tempe. Harga ekulibrium kedelai diharapkan lebih stabil. Karena ada produk alternatif

Naif sekali…..yang saya tulis diatas. Tapi bukannya tidak mungkin. ”Ketergantungan kedelai” hampir tidak mungkin hilang. Kayak semut melawan Gajah. Mission Impossible, tapi kalau nggak dicoba ya mana tahu. Tentu saja masih ada possibility.

Beliau berpikir secara global namun langkah beliau hanya lokal. Beliau melihat ada “ketergantungan kedelai” namun ada produk alternatif yaitu koro pedang.

Beliau melakukan langkah kecil. Langkah yang sangat lokal. Coba, kalau semua orang melakukan langkah kecil perbedaan dan kemajuan. Semua akan maju dan membuat perbedaan.

Makanya, Think Globally Act Locally

Hidup Berkeluarga

sumber :disini

Keluarga adalah filosofi yang diangkat dalam film fast and furious. Dominic Toretto membangun semangat keluarga diantara krunya sejak pertama sampai sekuel terakhir. Tidak ada hubungan yang lebih intim dan dekat selain keluarga.

Keluarga adalah tempat berteduh, berkeluh kesah dan berlindung. Semua anggota keluarga akan saling melindungi dibawah pimpinan seorang kepala keluarga. Keluarga adalah tempat berkumpulnya  kasih sayang, perlindungan dan kenyaman.

Film ini mengangkat tema dunia otomotif, balapan dan aksi tembak-menembak. Hal yang menarik perhatian bukan aksinya, teknologi dan tokoh film.  Itu semua tentang keluarga.  Kita hidup di zaman ketika manusia menjadi lebih soliter. Manusia yang ingin hidup bebas dari ikatan. Tema keluarga menjadi menarik namun tetap terselubung di film ini.

Manusia menjadi egois, private dan soliter. Segalanya bisa dilakukan dengan bantuan “gadget” tanpa bantuan orang lain. Ternyata, Manusia adalah manusia. Manusia memiliki  dua sisi mata uang. Satu sisi adalah kesendirian  dan sisi yang lain adalah kebersamaan atau ikatan. Naluri manusia membina hubungan atau ikatan seperti pernikahan.

Adegan aksi dalam fast and furious memang sangat menarik. Namun, Film ini menarik ditonton bukan karena adegan-adengan berbahaya dan menegangkan. Film ini diminati karena semangat kekeluargaan yang dibumbui konflik diantara mereka dan misi yang mereka kerjakan.

Keluarga adalah ikatan. Kecenderungan hidup saat ini adalah kebebasan. Sejak ide kebebasan bersliweran di kehidupan kita. Apabila kita membuat ikatan maka dianggap itu sebagai keberanian. Karena keterikatan membutuhkan komitmen, penyesuaian dan konsekuensi. Konsekuensi ini bisa menyenangkan dan tidak jarang menyedihkan.

Adegan dimana Toretto (Vin Diesel) memuji Connor (Paul Walker). Karena Connor berani membangun keluarga dengan adik Toretto . Keberanian apapun yang dilakukan oleh Connor masih kalah dengan keberaniannya menikahi sang adik hingga mempunyai seorang anak. Karena itu menghasilkan hubungan yang kuat dan berkonsekuensi.

Keberanian untuk mengikat diri dalam sebuah pernikahan adalah keberanian sesungguhnya. Itulah pelajaran dari film fast and furious.Memang, Hidup bebas dan sendiri memang menggoda. Kita bebas melakukan apa saja tanpa ada konsekuensi.

Hidup berkeluarga adalah naluri manusia. Sehingga, kehadiran keluarga bagi setiap manusia ternyata tetap dirindukan meskipun, hidup sendiri menyenangkan. Film ini menyajikan ritual-ritual dalam keluarga misal: makan bersama dimulai dengan do’a yang dipimpin salah satu dari mereka. Itulah bentuk kerinduan mereka terhadap keluarga.

Ini adalah ritual yang menyatukan mereka dalam satu ikatan. Ikatan keluarga yang longgar. Karena mereka diikat dengan satu kebersamaan bukan ikatan yang kuat seperti hubungan darah. Ikatan karena hubungan darah adalah ikatan yang kuat.

Kita sering mendengar ungkapan, orang yang paling dekat kita adalah “keluarga”  meskipun tidak ada hubungan darah. Pernyataan ini boleh jadi benar tapi ikatannya tetap lemah. Jika suatu saat berpisah maka rasanya bukan keluarga lagi. Berbeda dengan keluarga karena ikatan darah.

Keluarga yang terdiri Ayah, Ibu dan anak. Apapun, Bagaimanapun dan Dimanapun mereka tetap anggota keluarga. Boleh tidak suka bahkan benci namun kenyataan tetap mengatakan mereka bagian dari keluarga. Kita harus menerima dengan senang hati. Ini berlaku mutlak bagi sang anak.

Karena apabila berkeluarga maka kita harus siap menerima segala konsekuensi dari hidup berkeluarga. Itulah keberanian. Kita tidak tahu jika kita berani atau tidak. Karena seringkali hanya nekad. Filosofi film  fast and furious adalah keluarga.

 

 

Niteni, Nirokke, Nambahi dan Nemokke

Saya pernah membaca sebuah artikel bisnis mengenai ATM (Amati Tiru dan Modifikasi). ATM itu bukan tempat mengambil uang namun sebuah metode dalam bisnis. Metode untuk mengembangkan sebuah produk. Sehingga produk tersebut mempunyai added value dan laku dijual. Produk itu tidak harus original atau sesuatu yang sangat khusus. Bisa produk apapun.

Produk sabun cuci, sabun mandi, segala kebutuhan rumah tangga, TV atau Gadget. Produk yang diproduksi banyak perusahaan dan banyak yang hampir sama. Kekuatannya yaitu di added value. Added value bisa aja sesuatu yang amat khusus atau sangat sederhana. Tim riset produk yang harus pandai mencari added value.

Prinsip ATM membutuhkan kreatifitas tinggi sehingga menghasilkan added value yang unik. Karena jika nggak pas maka bisa dianggap plagiat. Kalau plagiat nggak seru lagi. Bukan sesuatu yang menarik jika itu Plagiat. Ahli ATM itu sangat jeli karena bisa jadi beda tipis dengan Plagiat.

Ternyata, Prinsip ATM sudah menjadi kearifan lokal jawa sejak zaman Kerajaan Singasari atau era Prabu Siliwangi. Prinsip yang digunakan oleh Empu Sedah untuk memodifikasi kisah Mahabarata yang asli India menjadi lebih berasa Konten Lokal yaitu Jawa. Ronggowarsito menyempurnakan di kemudian hari di era Mataram Islam. Prinsip ini sudah mendarah daging.

Prinsip ini berkembang di tanah jawa dengan sebutan 4N. 4N adalah Niteni, Nirokke, Nambahi dan Nemokke. Prinsip ini sudah sangat mendarah daging. Itulah adalah istilah njawani atau jawanisasi dari ATM.

Wayang, salah satu masterpiece dari ATM ala jawa. Wayang itu original dari Anak Benua India. Semua sepakat bahwa berasal dari Jawa. Coba, Anda nonton TV di stasiun ANTV. Wow, Film India bertebaran disana. Otomatis, Dunia Pewayangan ada disana. Wayang  versi asli. Karena Wayang senafas dengan dunia religi orang India.

Para Pujangga kita mampu melakukan 4N sehingga muncul wayang versi Jawa. Nama tokoh ada yang sama namun juga ditambahi versi Indonesia. Tokoh Wayang Asli Indonesia misal adalah Punakawan. Punakawan yang terdiri dari Semar, Gareng, Petruk dan Bagong.

Kita tidak akan menemukan tokoh Punakawan dalam versi asli India. Punakawan seolah menjadi ciri khas wayang Indonesia. Para Pujangga dengan halus memasukkan Punakawan dalam kisah Baratayudha. Bahkan lakon tersendiri tentang Punakawan juga ada misal: “Petruk Dadi Ratu”.

“Petruk Dadi Ratu” tidak akan ditemukan dalam epos Mahabarata versi India. Perang Baratayudha tanpa kehadiran Punakawan bagai Sayur tanpa Garam. Kalau pementasan Wayang mesti ada plot khusus buat Punakawan yaitu “Goro-Goro”.

Punakawan digunakan untuk mengajarkan filosofi jawa kepada masyarakat. Punakawan menjadi pembeda. Punakawan menjadi ikonik Pewayangan versi Jawa. Walisanga  menggunakan wayang untuk sarana berdakwah padahal bukan genuine budaya Islam.

Kecerdasan Lokal semacam inilah yang amazing. Nenek moyang kita sudah menelorkan masterpiece sebelum para ahli Marketing dan Rekayasa Produk menelorkan metode ATM. Penggunaan metode 4N bahkan tidak terbatas di dunia Industri namun masuk ke dalam dunia Religi, Sosial dan Budaya.

Metode 4N masuk ke ranah yang sensitif. Metode 4N bertujuan mengakulturasi dua hal yang sama sekali berbeda bahkan bertentangan. Sehingga metode 4N mengemulsi dua larutan yang sebenarnya tidak mungkin bersatu menjadi satu bahkan bersenyawa.

Metode 4N bukan mempertentangkan atau bahkan mengadu dua hal berbeda. Metode 4N menyelaraskan dua hal berbeda. Ini selaras dengan filosofi jawa yaitu

“ Keno Iwake Ojo Buthek Banyune”

(pent : Ikan dapat tertangkap namun jangan membuat keruh kolamnya)