Zaid Bin Haritsah

Hati Rasulullah SAW gembira dengan kehadiran Zaid bin Haritsah menjadi bagian keluarga. Zaid bin Haritsah adalah budak yang dihadiahkan oleh Khadijah kepada Rasulullah SAW. Akhirnya, Zaid bin Haritsah menjadi bagian keluarga Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW sangat mencintai Zaid bin Haritsah. Tradisi kaum Quraisy adalah menyamakan antara anak kandung dengan anak angkat. Sehingga Zaid bin Haritsah juga memiliki hak waris atas Rasulullah SAW. Nama Zaid bin Haritsah berubah menjadi Zaid bin Muhammad. Ternyata, Allah tidak memperbolehkan yang dilakukan oleh Rasulullah SAW terhadap Zaid bin Haritsah. Ini tertuang dalam QS Al-Ahzab : 5

ادْعُوهُمْ لِآبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ ۚ فَإِنْ لَمْ تَعْلَمُوا آبَاءَهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَمَوَالِيكُمْ ۚ وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُمْ بِهِ وَلَٰكِنْ مَا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ ۚ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا


Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggilah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu. Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Karena garis nasab anak dan waris mengikuti hubungan darah. Ini menjadi syariat Islam bagi seluruh umat Islam. Anak angkat tidak mempunyai kedudukan sama dengan Anak kandung. Anak angkat tidak memiliki hubungan nasab dengan ayah angkat. Hubungan nasab tidak terputus meskipun terpisah lama atau tidak pernah bertemu selamanya.

Hak Perwalian dan Waris masih di jalur nasab keluarga sekandung. Karena Zaid bin Haritsah orang yang sangat patuh  dan tunduk dengan Syariat Islam. Maka, tidak ada masalah bagi Zaid bin Haritsah. Suatu saat, Zaid bin Haritsah dinikahkan dengan Zainab binti Jahsy oleh Rasulullah SAW.

Zaid bin Haritsah berasal dari keluarga biasa dan Zainab binti Jahsy berasal dari keluarga bangsawan arab Quraisy. Ada perbedaan sosial dan budaya yang mencolok diantara mereka berdua. Zaid yang pada awalnya menolak maka bisa menerima pernikahan dengan Zainab binti  Jahsy. Karena rasa taat kepada Rasulullah SAW. Seperti yang termaktub dalam QS Al-Ahzab : 36

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.

Akhirnya, Pernikahan mereka kandas dan cerai. Karena perbedaan sosial dan budaya. Rasulullah SAW selalu menganjurkan agar mempertahankan pernikahan Zaid dan Zainab. Rasulullah SAW selalu menganjurkan untuk mempertahankan pernikahan mereka

اتَّقِ اللهَ فِي قَوْلِكَ، وَأَمْسِكْ عَلَيْكَ زَوْجَكَ

“Bertakwalah kepada Allah dalam ucapanmu. Tahanlah istrimu bersamamu.”

Karena sudah menjadi ketentuan Allah SWT. Maka, mereka berdua bercerai. Perceraian ini membawa sejuta hikmah dan ketentuan hukum (syariat) Islam di kemudian hari dan selamanya. Atas perintah Allah SWT dalam QS Al-Ahzab : 37. Rasulullah SAW menikahi Zainab binti Jahsy.

وَإِذْ تَقُولُ لِلَّذِي أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَنْعَمْتَ عَلَيْهِ أَمْسِكْ عَلَيْكَ زَوْجَكَ وَاتَّقِ اللَّهَ وَتُخْفِي فِي نَفْسِكَ مَا اللَّهُ مُبْدِيهِ وَتَخْشَى النَّاسَ وَاللَّهُ أَحَقُّ أَنْ تَخْشَاهُ ۖ فَلَمَّا قَضَىٰ زَيْدٌ مِنْهَا وَطَرًا زَوَّجْنَاكَهَا لِكَيْ لَا يَكُونَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ حَرَجٌ فِي أَزْوَاجِ أَدْعِيَائِهِمْ إِذَا قَضَوْا مِنْهُنَّ وَطَرًا ۚ وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ مَفْعُولًا

Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya: “Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah”, sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi.

Pernikahan Rasulullah SAW dan Zainab bin Jahsy menjadi kontroversi. Musuh-musuh Islam yang terdiri dari kaum Musyrik, Kafir dan Munafiq menyerang Rasulullah SAW. Rasulullah Saw dianggap sebagai orang yang suka mengumbar syahwat. Berbagai tulisan kontroversial mengenai pernikahan  Rasulullah SAW dengan Zainab binti Jahsy bersliweran hingga sampai sekarang.

Pernikahan Rasulullah SAW dengan Zainab binti Jahsy membawa hikmah yang besar, yaitu: Ini adalah bukti bahwa anak angkat kedudukan berbeda dengan anak kandung. Anak angkat tetap orang lain. Budaya arab yang menyamakan anak angkat dan anak kandung dipatahkan oleh Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW selalu berjuang di Jalan Allah. Halangan dan rintangan selalu ada. Perintah Allah SWT menjadi ujian bagi Rasulullah SAW. Rasulullah SAW memilih jalan taat kepada Allah SWT dengan menikahi Zainab binti Jahsy daripada mengikuti gunjingan orang. Karena perintah Allah SWT diatas segala-galanya.

Ujian keimanan bagi kaum muslimin sejak itu sampai saat ini. Apakah kaum Muslimin tetap taat kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW atau membangkang? Kontroversi akan selalu ada. Fitnah dan gunjingan akan bergulir terus atas pernikahan ini. Sebagai seorang yang beriman akan memilih Allah SWT dan Rasulullah SAW dengan segala resiko dan hikmah yang ada.

Zaid bin Haritsah menikahi Ummu Aiman. Ummu Aiman adalah bekas hamba sahaya (budak) ibunda Rasulullah Aminah binti Wahab. Dialah yang mengasuh Rasulullah waktu kecil, selagi ibundanya masih hidup. Dia pulalah yang merawat sesudah ibunda wafat. Karena itu, dalam kehidupan Rasulullah, beliau hampir tidak mengenal ibunda yang mulia, selain Ummu Aiman. Pernikahan ini melahirkan seorang anak yang hebat bernama Usamah bin Zaid. Usamah bin Zaid menjadi panglima termuda di masa Rasulullah  SAW.

Tibalah saat perang Mu’tah. Peperangan antara bangsa Romawi melawan Bangsa Arab (baca: Muslimin). Perang ini disebabkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim surat melalui utusannya, Harits bin Umair radhiallahu ‘anhu kepada Raja Bushra. Tatkala utusan ini sampai di Mu’tah (Timur Yordania), ia dihadang dan dibunuh, padahal menurut adat yang berlaku pada saat itu (dan berlaku hingga sekarang) bahwa utusan tidak boleh dibunuh dan kapan saja membunuh utusan, maka berarti menyatakan pengumuman perang.

Rasulullah SAW  merespon tindakan ini dengan  mengirim pasukan perang pada Jumadil Awal tahun ke-8 Hijriah yang dipimpin oleh Zaid bin Haritsah. Kemudian Rasulullah SAW bersabda :

إِنْ قُتِلَ زَيْدٌ فَجَعْفَرٌ، وَإِنْ قُتِلَ جَعْفَرٌ فَعَبْدُ اللهِ بْنُ رَوَاحَةَ

“Kalau Zaid terbunuh, maka Ja’far (yang menggantikannya). Jika Ja’far terbunuh, maka Abdullah bin Rawahah (yang menggantikan).” (HR. Al-Bukhari dalam Kitab Al-Maghazi)

Peperangan ini tercatat di dalam sejarah sebagai sebuah perang besar. Tentara Islam yang berjumlah 3.000 orang melawan 200.000 tentara Romawi. Sekalipun demikian dahsyatnya perang mu’tah. Tentara Islam yang mati syahid hanya 12 orang namun termasuk didalamnya adalah 3 Panglima diatas (Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Tholib dan Abdullah bin Rawahah).

Peperangan berkecamuk dengan dahsyat. Pusat perhatian musuh tertuju kepada pembawa bendera kaum muslimin dan keberanian para panglima Islam dalam maju memerangi musuh, hingga mati syahid panglima pertama, Zaid bin Haritsah. Zaid bin Haritsah gugur sebagai Syuhada.

Itulah kisah sahabat Rasulullah SAW yang bernama Zaid bin Haritsah. Seorang sahabat Rasulullah SAW yang namanya diabadikan di QS Al-Ahzab: 37.  Zaid bin Haritsah yang hidup dalam hangat keluarga Rasulullah SAW. Tumbuh sebagai pejuang Islam dan akhirnya meninggal dalam perang Mu’tah. Perang yang berbeda dengan biasanya. Karena melawan bangsa Romawi bukan bangsa Arab.

https://islami.co/kisah-zaid-bin-haritsah-sahabat-nabi-yang-diabadikan-al-quran/

https://muslimobsession.com/zaid-bin-haritsah-sahabat-nabi-yang-namanya-diabadikan-al-quran/

https://kisahmuslim.com/6183-ummul-mukminin-zainab-binti-jahsy.html

https://kisahmuslim.com/2477-sejarah-perang-mutah.html

http://salafy.or.id/blog/2013/03/31/perang-mutah/

https://nabilmufti.wordpress.com/2010/03/14/usamah-bin-zaid-bin-haritsah-panglima-perang-termuda-kesayangan-rasulullah-saw/

https://tafsirq.com/33-al-ahzab/ayat-37

https://tafsirq.com/33-al-ahzab/ayat-36

https://tafsirq.com/33-al-ahzab/ayat-5

Advertisements

Mushab bin Umair

Belum lama ini sebuah stasiun Televisi menyiarkan sebuah konser musik. Konser Musik dari grup musik yang berjaya di era 90-an. Suasana konser yang ramai oleh fans yang mulai beranjak tua, mayoritas sudah early 40. Grup musik itu bernama Sheila On 7. Mereka adalah idola remaja di eranya bersama DEWA, PADI, Wayang dsb.

Idola baru selalu bermunculan bagi para remaja dari masa ke masa. Masa muda adalah masa pencarian jatidiri. Masa yang paling rawan bagi setiap anak manusia. Karena apabila salah dalam mencari jatidiri bisa tersesat sangat jauh. Menjadi fans dari sebuah idola/public figure adalah bagian dari pencarian jatidiri.

Sehingga selalu ada idola baru bagi anak muda di eranya masing-masing. Generasi 90-an dulu mengenal film Taiwan (Tao Ming Tse) kemudian muncul budaya J-POP dengan vocal grup yang fenomenal JKT 48.

Korea mulai “menjajah” Indonesia dengan DRAKOR. Anak 90-anyang gemar drakor mesti tau film “Winter Sonata” diikuti Drama “Putri JangGeum” (dimaafkeun ya jika tulisannya salah ….hehe) dan  kemudian Drakor “Full House”.

Lha lebih jauh lagi yaitu musik K-POP. Anak milenial hafal Ato Z tentang K-POP. Saya sebagai generasi sebelumnya sudah nggak paham.Hehehehe….!!! Sungguh dunia anak muda adalah dunia role model. Mereka membutuhkankehadiran seorang Idola atau
role model, itu bisa siapapun mulai artis, atlet, blogger, influencer sampai selebgram.

 Anak muda yang menjadi role model biasanya memiliki ciri-ciri yang bersifat jasmaniah yang 11-12 sejak dahulu sampai sekarang yaitu Ganteng/Cantik, Berbusana yang rapi, postur tubuh ideal dan wangi. Perbedaan ciri antara satu yang lain itu hanya beda-beda sedikit.

Zaman Rosululloh SAW, Suku Arab Quraisy mempunyai idola anak muda yaitu Mush’ab Bin Umair. Idola muda suku Quraisy yang mempesona di kala itu. Mushab bin Umair selalu memakai pakaian yang bagus dan bersih. Apabila Mushab bin Umair berjalan maka muncul semerbak bau wangi. Pakaiannya wangi dan terbuat dari bahan pilihan.

Ibunya sangat memanjakan dia. Makanan selalu tersedia di kamar tidurnya. Apabila dia terbangun dari tidur maka selalu tersedia makanan di sebelahnya. Pakaian yang rapi dan mahal, bau wangi dari tubuhnya dan busananya rapi tertata.

Setiap penduduk Makkah terkesan dengan penampilan Mushab Bin Umair. Mushab bin Umair adalah idola remaja di zamannya. Mushab Bin Umair dipuja-puja di zamannya. Tapi, Siapa yang menyangka? Dia berubah total  setelah menjadi seorang Muslim.

Allah SWT memang telah memilihkan untuk Rasulullah SAW pengikut-pengikutnya yang setia dan unggul. Pengikut Rasulullah SAW mulai dari Abu Bakar, Umar Bin Khottob, Ali Bin Abi Tholib, Utsman Bin Affan dan  Mushab Bin Umair termasuk juga.

Mushab bin Umair dibuka hatinya untuk menerima hidayah Islam. Mushab bin Umair mengikuti kajian-kajian Islam yang diadakan di rumah Al-Arqam. Mushab bin Umair termasuk orang-orang pilihan di zaman Rasulullah SAW.

Mushab tersentuh oleh ayat-ayat Al-Qur’an yang dibacakan Rasulullah SAW. Komitmen dia kepada Islam jangan pernah ditanyakan. Dia rela meninggalkan kemewahan dunia demi Islam. Ibunya sangat kecewa dengan keputusan Mushab bin Umair menjadi muslim.

Ibunya Mushab bin Umair mengancam tidak akan makan-minum selama dia masih menjadi muslim. Mushab bin Umair tidak bergeming sama sekali. Kemewahan hilang dari dirinya sejak menjadi muslim.

Mushab bin Umair mendengar berita bahwa beberapa Musliminhijrah ke Habasyah (Ethiopia). Mushab bin Umair memutuskan untuk ikut hijrah Habasyah. Kemudian terdengar desas-desus bahwa pihak Quraisy mengurangi tekanan terhadap muslim.

Mereka memutuskan untuk kembali ke Mekkah, begitu pula Mushab bin Umair. Mereka segera menemui Rasulullah SAW dan para sahabat.

Suatu ketika, Mushab bin Umair tampil di hadapan kaum muslimin yang sedang duduk mengelilingi Rasululloh SAW. Mereka ada yang menundukkan wajah, memejamkan mata dan beberapa basah matanya karena meneteskan air mata. Mereka melihat Mushab bin Umair memakai jubah usang.

Mereka menangis karena teringat penampilan Mushab bin Umair sebelum menjadi Muslim. Penampilan Mushab bin Umair yang sangat kontras. Mushab bin Umair yang dahulu wangi dan rapi. Namun, Mushab bin Umair terlihat lusuh dan kusam.

Rasulullah SAW menatap dengan pandangan penuh arti, cinta kasih dan syukur dalam hati. Rasulullah SAW mulai tersungging senyuman seraya mengatakan, “Dahulu aku lihat Mush’ab ini tak ada yang mengimbangi dalam memperoleh kesenangan dari orang tuanya, kemudian ditinggalkannya semua itu demi cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Beberapa waktu sebelumnya, Dua belas orang penduduk Madinahmenyatakan masuk Islam dan berbaiat kepada Rosulullah SAW. Mereka berbaiat diBukit Aqobah maka disebut Baiat Aqabah I. Setelah peristiwa Baiat Aqabah I maka Rasulullah SAW mengirim duta untuk mengajarkan Al-Quran dan berbagaipengetahuan tentang Islam untuk penduduk Madinah.

Mushab bin Umair memikul amanat berbekal karunia Allah SWT berupa pikiran yang cerdas, akhlak yang mulia dan sifat zuhud, jujur serta kesungguhan hati. Mushab bin Umair berhasil menundukkan, melunakkan dan menawan hati penduduk Madinah. Penduduk Madinah berduyun-duyun memeluk Islam.

Mushab bin Umair berhasil mengajak sebagian besar masyarakatkota Madinah memeluk Islam. Mushab bin Umair dikenal sebagai Muqri’ul Madinah (Nara sumber Madinah). Mushab bin Umair berhasil mengajak lebih dari 70 kaum Muslimin ke Mekkah pada musim haji berikutnya.

Mushab bin Umair yang berpenampilan rapi, pandai bergaul dan mempunyai kepribadian yang menarik. Atas izin Allah SWT, Mushab bin Umair berhasil mengislamkan kabilah-kabilah di Madinah. Dia sukses dalam berdakwah Islam di Madinah. Sampai akhirnya, Rosululloh SAW berhijrah ke Madinah disambut suka cita oleh penduduk Madinah.

Mushab Bin Umair dipercaya membawa bendera pasukan perang dalam perang Uhud. Pada mulanya Kaum Muslimin unggul. Karena pasukan pemanah diatas bukit tidak disiplin dengan perintah Rasulullah SAW. Mereka diperintahkan untuk bertahan diatas bukit apapun yang terjadi. Ternyata, mereka turun dari bukit untuk mencari ghonimah (pampasan perang).

Kholid bin Walid yang saat itu belum masuk Islam. Dia mengitari bukit dan menyerang pasukan Islam dari balik bukit. Pasukan Islam kocar-kacir karena serangan Kholid bin Walid. Pada saat genting, berita kematian Rasulullah SAW beredar . Mushab terkejut dan mengkawatirkan atas kelanjutan Islam. Islam akan surut sebelum berkembang jika Rasulullah SAW meninggal dunia.

Mushab bin Umair segera meneriakkan, “Muhammad itu tiada lain hanyalah Rasul yang sebelumnya didahului oleh beberapa Rasul” sambil mengacungkan bendera tinggi-tinggi dan bertakbir sembari menyerang musuh dengan gagah berani.

Pihak musuh menebas tangan kanannya hingga putus kemudian Mushab segera memindahkan bendera ke tangan kiri. Tangan kirinya akhirnya putus juga. Mush’ab membungkuk ke arah bendera dan meraih bendera dengan pangkal lengan. Mush’ab diserang di bagian dada. Dadanya tertusuk oleh tombak musuh.Dia gugur sebagai seorang Syuhada yang gagah berani.

Diakhir perang, Rasulullah SAW beserta para sahabat meninjau medan perang dan mendapati jasad Mush’ab. Tak sehelaipun kain untuk menutupinya selain sehelai burdah yang andai ditaruh di atas kepalanya terbukalah kedua kakinya. Sebaliknya bila ditutup kakinya maka terbukalah kepalanya. Maka Rasulullah bersabda : ” Tutupkanlah ke bagian kepalanya , kakinya tutuplah dengan rumput idzkir!”.

Itulah akhir hayat Mushab bin Umair. Dahulu dipuja-puja, dahulu seperti sang raja. Dia adalah lambang kesempurnaan dunia secara jasmani. Karena keimanan maka dia tinggalkan segala bentuk keduniaan. Dia tukar dengan keimanan.

Itulah akhir perjuangan Mush’ab bin Umair dalam menegakkan agama yang dengan tidak gentar menghadapi musuh-musuh Allah, yaitu orang-orang yang enggan mengakui bahwa “Tiada Tuhan yang patut disembah melainkan Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah”( Laa ilaaha illaLLAH wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah).

“ Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. (QS.Al-An’aam(6):161-163).

Sumber :

https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/11/08/23/lqdi5w-kisah-sahabat-nabi-mushab-bin-umair-duta-islam-yang-pertama

https://arraahmanmedia.wordpress.com/2010/09/29/mushab-bin-umair/

http://bio.or.id/biografi-mushab-bin-umayr/

Marhaenisme

Soekarno aktif di pergerakan sudah sejak lama. Pergumulan dengan tokoh-tokoh bangsa di Rumah Cokroaminoto adalah awal menjadi seorang Aktivis. Soekarno bertemu dengan S.M Kartosuwiryo dan Moeso. Dua orang kawan karib Soekarno ini akhirnya dihukum mati oleh Soekarno. Soekarno sendiri meninggal ketika beliau menjalani Tahanan Rumah pasca peristiwa GESTAPU. Mereka adalah manusia yang hidup dan mati di dunia pergerakan Indonesia.

Kisah Soekarno sungguh berwarna-warni ketika “mondok” di Rumah Cokroaminoto . Namun, Kisah perjuangan Soekarno ketika kuliah di THS (sekarang ITB) lebih berwarna-warni. Beliau menelurkan ide MARHAENISME, menikah dengan ibu Inggrit, dipenjara di Banceuy dan Sukamiskin, berdebat dengan Misbach di Kongres Syarikat Islam. Itu adalah sebagian dari warna-warni kehidupan aktivis perjuangan kemerdekan bernama Soekarno. Kita sepakati di artikel ini , kita sebut saja Bung Karno.

Bung Karno adalah seorang Idiolog Bangsa. Beliau selalu memikirkan jatidiri bangsa Indonesia. Siapakah sebenarnya rakyat Indonesia? Bagaimana wajah rakyat Indonesia. Karena saat iu, Indonesia disebut dengan Hindia Belanda. Kita belum mempunyai jatidiri bangsa Indonesia sendiri. Ide persatuan masih belum nampak secara jelas. 1928, Mulai nampak jelas dengan diselenggarakan Konggres Pemuda II.

Mungkin, Beliau baru di titik kebosanan saat itu. Bung Karno ambil sepeda kemudian mengayuh ke arah Bandung Selatan. Bung Karno hanya ingin cari “angin”. Bandung Selatan terkenal dengan hamparan sawah yang luas. Bung Karno menyusuri tanah persawahan di Bandung Selatan. Ketika itu usia Bung Karno 21 tahun jadi kira-kira tahun 1921.

Bung Karno menuturkan bahwa Bandung Selatan adalah kawasan pertanian. Para petani mengerjakan sawah miliknya sendiri. Luas sawah mereka tidak lebih dari sepertiga hektar. Bung Karno mendatangi seorang petani kemudian terjadilah sebuah dialog menggunakan bahasa sunda.

Hal yang menarik dari dialog Bung Karno dan petani tersebut adalah isi dialog. Bung Karno menyimpulkan bahwa Petani itu mengerjakan sawah miliknya sendiri (bisa jadi : warisan orang tua), menggunakan perkakas sendiri ( cangkul, sabit, bajak dsb). Hasilnya untuk menghidupi dirinya sendiri atau keluarga sendiri, tidak mempunyai pegawai dan tinggal di rumah berupa Gubuk.

Konon, nama petani itu adalah MARHAEN. Bung Karno mendapat ilham dari si Marhaen. Bung Karno menamai semua petani yang bernasib sama dengan nama MARHAEN. Bung Karno yang aktif di pergerakan di Bandung. Bung Karno menjadi bagian dari kelompok diskusi “Algemene Studie Club”. Bung Karno memakai istilah MARHAEN dalam diskursus klas atau susunan sosial masyarakat Indonesia dalam setiap diskusi.

Istilah MARHAEN berkembang dan tidak hanya merujuk ke petani saja. Bung Karno juga menyebut “tukang gerobak” sebagai marhaen. Si “Tukang Gerobak” masih memiliki alat produksi, tidak mempunyai pegawai dan tidak punya majikan.

Inilah ajaran Bung Karno : MARHAENISME. Marhaenisme adalah lambang dari penemuan kembali kepribadian nasional bangsa Indonesia. MARHAENISME adalah idiologi kemandirian bangsa Indonesia meskipun dalam keadaan melarat atau miskin. Pelakunya disebut dengan MARHAEN atau Pak Marhaen. Teori MARHAENISME disusun konteks historis dan kekhususan masyarakat Indonesia.

Seorang Marhaen adalah pemilik produksi kecil, tidak menyewa atau memperkerjakan orang lain dikerjakan sendiri dengan perkakas milik sendiri, tidak mempunyai majikan dan hasilnya untuk memenuhi kebutuhan sendiri.

Ini mungkin sepadan dengan istilah “borjuis kecil” dalam terminologi marxis. Bung Karno memberi penekanan Marhaen dengan perkataan “Kaum Melarat Indonesia”. Marhaen adalah pemilik produksi kecil (borjuis kecil) tetapi hidup sangat melarat.

Lawan kata “borjuis” adalah “proletar” dalam terminologi Marxis. Proletar adalah kaum yang bekerja untuk orang lain alias orang upahan. Mereka tidak mempunyai alat-alat produksi sendiri. Proletar bekerja untuk majikan.

Teori Marxis ingin membentuk masyarakat tanpa klas (Classless). Masyarakat tanpa  majikan/buruh,  Borjuis/Proletar. Semua adalah milik negara. Ada yang bilang bahwa “Masyarakat Tanpa Klas” adalah Utopia.

Kapitalisme mendewa-dewakan Kapital atau modal. Rakyat diberi kebebasan untuk menumpuk modal dan alat produksinya sendiri. Bahkan dalam melakukan aksi penumpukan modal dilindungi UU. Pursuit Of Happynes adalah tujuannya. Pursuit Of Happynes adalah mencari kebahagiaan duniawi.

Bung Karno mensintesis terminologinya sendiri yaitu MARHAENISME. MARHAENISME itu genuine karya Bung Karno. MARHAENISME bukan Marxisme atau Kapitalisme. MARHAENSIME adalah potret masyarakat Indonesia. Potret masyarakat yang bisa dideskripsikan dan disimpulkan oleh Bung Karno di usia 21 Tahun pada tahun 1920-an.

Indonesia mengalami pergeseran. Negara Agraris menuju Industri. Karena Kemerdekaan maka Eksistensi buruh yang dulu bagian dari perusahaan Belanda berubah menjadi bagian dari Warga Negara Indonesia. Kaum miskin proletar menjadi eksis di Republik Indonesia.

Maka, Bung Karno menyebut kaum itu menjadi 3 unsur : Kaum miskin proletar (buruh), kamu tani melarat dan kaum melarat Indonesia yang lain pada Tahun 1960-an. Tujuannya adalah menyatukan seluruh kaum tertindas dalam sebuah persatuan yang revolusioner.

Kaum buruh (miskin proletar) berbeda dengan kaum petani di zaman dulu.  Akan tetapi, Ini menjadi mirip di zaman kekinian. Karena mereka sama-sama tidak mempunyai alat produksi (sawah). Kaum petani tanpa lahan disebut kaum buruh tani. Mereka sama-sama tidak mempunyai lahan.

Kaum buruh tani adalah mereka menggarap sawah yang dimiliki para tuan tanah atau kaum kapitalis yang menguasai lahan. Mereka tidak mendapat gaji tapi bagi hasil dari panenan. Kalau panen berhasil maka mendapat uang. Jika panen gagal maka tidak mendapat apa-apa. Kaum buruh tani lebih termaginalkan. Karena tidak mempunyai lahan dan seringkali tidak mendapat hasil. Karena gagal panen.

Sumber :

  1. https://id.wikipedia.org/wiki/Marhaenisme
  2. http://www.berdikarionline.com/bung-karno-dan-defenisi-marhaen/
  3. https://penasoekarno.wordpress.com/2009/10/21/siapakah-marhaen/

 

 

 

 

Hidup Bermakna


Saya menerima telepon dari pakde Widadi pagi ini tadi. Pakde saya yang satu ini sungguh istimewa. Beliau sangat humanis. Beliau paling gemar membaca buku. Buku yang beliau baca mulai dari ekonomi, sosial, budaya, agama bahkan psikologi. Sungguh saya senang sekali ngangsu kawruh dari beliau.

Saya mendiskusikan tentang “kebermaknaan” dengan beliau. Kebermaknaan adalah sesuatu yang membawa kebahagiaan pribadi tanpa mengorbankan orang lain. Orang miskin bisa bahagia karena merasa hidupnya “bermakna”. Orang yang menderita sakit akan merasa bahagia meskipun sangat menderita. Karena dia merasa hidupnya “bermakna”. Orang kaya bisa merasa tidak bahagia karena hidupnya “tidak bermakna”. Bahagia tanpa egois itu hidup yang “bermakna”.

Kalau kita omong hidup “bermakna” maka lebih afdol pakai contoh. Pepeng Ferrasta adalah contoh riil dari hidup “bermakna”. Beliau menderita penyakit multiple sclerosis. Penyakit itu menyebabkan kelumpuhan dari bagian pinggang ke bawah. “Orang barat yang menderita penyakit ini biasanya minum painkiller pill, kalau saya pakai dzikir dan obat dari cina”, begitu kata Pepeng.

Pepeng itu memang beda. Beliau tidak mengeluh meskipun sangat menderita. Rasa sakit dihadapi dengan senyuman dan segudang kegiatan. Kegiatan mulai dari studi S2, bisnis kacang goreng dan menulis buku. Pepeng ingin mengurangi rasa sakit dengan banyak kegiatan. Pepeng ingin bahagia juga dengan membuat hidupnya lebih bermakna. Hidup bermakna dengan membuat karya nyata.

Beliau juga menderita sakit jantung. Anda bisa bayangkan bagaimana menderitanya beliau. Beliau hanya bisa terbaring di tempat tidur selama bertahun-tahun dan merasakan rasa nyeri yang hebat sehingga tidak bisa kemana-mana. Apakah beliau mengeluh? Menyerah? Minta dikasihani? Ternyata tidak.

Beliau dalam keadaan sangat terbatas telah menyelesaikan S2 di Psikologi UI. Beliau juga memulai dan menjalankan bisnis kacang goreng ketika sudah sakit. Beliau menjalankan bisnis secara online. Beliau menulis buku meskipun belum tidak selesai. Bahkan, beliau juga sudah bercita-cita melanjutkan studi S3 di Psikologi UI. Karena maut lebih cepat menjemput. Maka, Buku belum terselesaikan dan belum sempat kuliah S3.

 “Dia mampu melewati masa-masa sulit, menerima, bersyukur, dan “menikmati” misi yang sedang Tuhan berikan kepadanya. –Andy F.Noya, Pembawa Acara Kick Andy” .

Begitu pernyataan host acara KICK ANDY di metro TV setelah mas Pepeng meninggal dunia. Karena Pepeng berhasil melewati dengan hidup “bermakna.”. Dia bahagia meskipun sakit. Dia mampu berkarya meskipun belum semua terselesaikan.

Saya hanya membayangkan kronologis kejadian ketika mas Pepeng divonis menderita Mutiple Sclerosis. Awalnya, Mas Pepeng merasakan rasa nyeri yang teramat sangat menyakitkan. Dia hanya berbaring di rumah. Dia tidak tahu kapan penyakit ini akan sirna. Karena penyakit ini sangat langka dan hampir-hampir tidak ada obatnya.

Pilihannya ada dua yaitu PASRAH atau BANGKIT ?

PASRAH,…..merasa kalah dengan penyakit yang diderita. Bersedih dan menyesali segala yang terjadi didirinya.  Atau, merasa berhak bersumpah serapah kepada Allah SWT. Karena kesialan yang ditimpakan ke beliau. Sungguh menyedihkan hidup mas Pepeng. Jika jalan ini dipilih.

BANGKIT,…….dia menerima (accept) atas keadaan yang diterima. Beliau menyadari bahwa penyakit ini ada di dalam tubuhnya. Penerimaan ini harus disertai dengan kebangkitan. Kebangkitan ini ditandai dengan tekad yang kuat. Bahwa, Hidup harus “Bermakna” bagi diri sendiri, orang lain maupun alam semesta.

“Bermakna“,  ini yang akan membawa kebahagiaan dalam segala keterbatasan. Sedih atau bahagia adalah pilihan. Alhamdulillah, Mas Pepeng memilih hidup “bermakna”. Beliau menjalani hidup yang bahagia dengan menjalani hidup “bermakna” hingga ajal menjemput.

Viktor E. Frankl, dalam buku Man’s Search for Meaning, menyatakan bahwa  peristiwa-peristiwa  semacam itu terjadi karena manusia mengalami “kehilangan makna” dalam hidupnya. Kehilangan makna dalam hidup menyebabkan orang merasa tidak memiliki “alasan” lagi untuk hidup. Oleh karena itu, Frankl menegaskan pentingnya “kehendak akan makna” dalam hidup manusia agar ia selalu memiliki alasan untuk hidup sampai kematian merenggutnya.

Barangkali, Itulah alasan Pepeng untuk selalu berkarya. Berkarya dalam keterbatasan. Agar selalu memiliki alasan untuk hidup sampai kematian merenggutnya. Rumusan “kebahagian” ala Frankl ini tidak hanya untuk yang sakit atau sedang terpuruk saja. Bahkan untuk yang sedang di puncak kejayaan dan kondisi kesehatan sedang puncaknya.

Kita sering mendengar jika banyak orang sukses namun merasa hampa. Tingkat bunuh diri yang tinggi bukan karena kesempitan ekonomi. Misalnya : Negara Jepang. Tingkat Bunuh diri yang tinggi disana bukan karena Jepang miskin. Penyebabnya disinyalir karena rasa hampa di hidup mereka. Rasa Hampa karena hidup yang tidak Bermakna.

Agar hidup bermakna maka tidak boleh egois. Agar tidak egois maka harus berbagi dengan sesama makhluk Tuhan (sesama manusia, Binatang, Tumbuhan bahkan Alam semesta). Hubungan kita dengan sekitar kita yang membuat hidup “bermakna”.

Soichiro Honda  adalah pendiri kerajaan Honda. Dia memilih hidup sederhana dan menyumbangkan kekayaan untuk kegiatan sosial kemanusiaan. Itu salah satu usaha dia agar hidup bermakna. Kegiatan tersebut disebut Filantropi.

Jika ingin menjadi filantropi tidak harus menunggu menjadi kaya. Kita tidak harus berbagi dengan orang lain hanya dalam bentuk uang. Berbagi bisa berbentuk apapun.Kita menyisihkan “sesuatu” untuk orang lain baik itu tenaga, pikiran atau harta. Sehingga hidup kita menjadi “bermakna”.

Hidup “bermakna” artinya hidup bahagia tanpa egoisme. Kuncinya adalah “berbagi”. Kita bisa berbagi apapun tidak hanya uang. Seperti Pepeng, dia berbagi simpati, empati, semangat, energi positif dan ilmu.

Hmmm……. Apa yang sudah saya “bagikan” untuk sesama?


Terjemahan : Ngangsu Kawruh —> Belajar

Sumber :

  1. http://dunsscotusofm.wixsite.com/mysite/single-post/2017/03/08/Manusia-Sejati-Menurut-Viktor-E-Frankl-Sebuah-Elaborasi-Singkat-atas-Buku-Mans-Search-For-Meaning
  2. https://psikotikafif.wordpress.com/2008/06/25/21/





Posyandu Lansia

Saya dulu bercita-cita menjadi dokter. Dokter adalah profesi yang mulia di dserah kami. Akhirnya, Cit-cita saya tidak kesampaian. Hahahahaha….Saya menjadi sarjana teknik. Sarjana teknik aja juga nanggung. Karena tidak menjiwai masalah keteknikan. Kerja sebagai orang kantoran yang ngurusi keuangan. Apes dah……hahahahaha….

Singkat cerita, Saya berkenalan dengan pak Amin. Beliau adalah dosen senior tapi berjiwa muda. Beliau sangat mengharapkan generasi muda berkiprah di masyarakat. Beliau sering menyelenggarakan pelatihan, pengobatan gratis atau pembinaan remaja.

Kegiatan yang bersinggungan dengan cita-cita masa kecil adalah Pengobatan Gratis. Kita mengadakan pengobatan gratis dengan melibatkan dokter, perawat dan apoteker. Semua kru tidak dibayar alias gratis. Karena mereka menganggap sebagai tugas yang mulia. Saya menjadi koordinator mereka. Saya sebagai representasi dari Pak Amin di kegiatan Pengobatan Gratis.

Pengobatan Gratis dilakukan di Posyandu Lansia. Karena yang datang ke posyandu tidak hanya balita namun juga Lanjut Usia (Lansia). Wajah-wajah pasien sumringah ketika kru kami bekerja. Kadang muncul ucapan terimakasih dari para Lansia.

Nah, Saya tidak harus jadi dokter namun bisa bekerjasama dengan dokter. Alangkah bahagianya sebagai dokter. Mereka mampu membantu sesama dengan ilmunya. Mereka tidak dibayar tapi kepuasaan batiniah yang lebih mahal dari sekedar bayaran rupiah.

 

Terimakasih Pak Dokter, Bu Dokter, Mbak Perawat dan Mas Apoteker

 

Kesempatan

Sudah menjadi kebiasaan di masjid. Pengajian dimulai dengan membaca Al-Quran. Setiap peserta pengajian harus membaca satu ayat secara bergantian. Tiba giliran Pak Winoto, Dia membaca Al-Quran  tidak lancar namun dibiarkan saja. Pak Winoto terlihat sangat lega ketika sudah selesai giliran. Saya pikir dia membaca tulisan “latin”-nya bukan tulisan arab-nya. “Ah…biarkan saja”, pikir saya saat itu.

Pak Marwan memberitahu saya bahwa Pak Winoto belum bisa baca Al-Qur’an. “Pak Winoto itu baca latinnya bukan arabnya”, tukas pak Marwan dengan mimik serius. Pak Marwan juga berkomentar begini, “Kalau nggak bisa mengaji, ya belajar dan jangan memaksakan diri kayak gitu”.” Kalau ada niat mesti ya belajar”, tambah Pak Marwan.

Hufft… ternyata benar dugaan saya. Pak Winoto belum bisa membaca tapi semangat sekali ikut pengajian. Sedih mendengar kabar dari pak Marwan yang membenarkan perkiraan saya. Tapi itu hanya gejolak di dalam hati. Mana berani saya berkomentar ke Pak Marwan. Bisa jadi gosip….

Aduh, Beliau kasihan sekali karena harus menanggung “beban” kalau pas pengajian. Beliau suka mengikuti pengajian. Dia harus paksakan walaupun tidak bisa. Dia berpura-pura dengan membaca latinnya. Pak Winoto  sadar kalau menjadi gunjingan diantara jamaah masjid.Tapi apa boleh buat. Saya senang dengan semangat pak Winoto.

Saya dekati pak Winoto. Saya tanya beliau,“Maaf pak, Apa benar bapak belum bisa baca Al-Quran?”. Beliau menjawab dengan mimik serius sekaligus sedih,” bener mas”.“Bapak mau belajar dengan saya?”,Setengah berbisik kepada beliau. “Belajarnya nanti di rumah saya di malam hari “, saya menekankan hal ini kepada beliau. “Jadi nggak ada yang tau”, saya tambahi sambil senyum dan mengangkat jari jempol.

Pak Winoto menjawab dengan penuh antusias, “Iya mas, saya mau”. Saya tau kalau pak Winoto sebenarnya ingin belajar mengaji sejak dulu.  Hidayah dan kesempatan yang Allah SWT diberikan kepada hamba-Nya kadang datang tidak tentu. Kadang saat masih anak, remaja bahkan sudah manula. Beliau sudah terlanjur tua.

Beliau bingung mau belajar mengaji dimana. Apa mau ikut ngaji di TPA Masjid? Lha mosok mau ngaji dengan anak kecil. Pak Winoto juga tidak tau tempat belajar mengaji dengan sesama orang tua . Pak Winoto akhirnya pasrah. Karena ada kesempatan emas untuk belajar mengaji. Pak Winoto menyambut dengan semangat.

Pak Winoto akhirnya datang malam itu. Dia hanya berbekal semangat dan tekad. Saya belikan buku Iqra karya KH. As’ad Humam. Dia mulai belajar mulai dari dasar atau Alif, Ba’, Ta’. Saya mengajari dengan pelan-pelan. Saya tidak punya target muluk-muluk. Beliau yang penting bisa membaca Al-Qur’an.

Anak-anaknya biar tau kalau bapaknya mampu membaca al-qur’an dengan baik dan benar. Motivasi dan kebanggan buat anak-anak beliau. Saya mumpung masih longgar dan tidak banyak kegiatan. Semoga bermanfaat buat Pak Winoto.

Belajar itu memang dari sejak lahir sampai meninggal dunia. Kanjeng Nabi Muhammad SAW yang bicara begitu. Belajar tidak mengenal usia. Hambatan belajar seringkali masalah sosial dan budaya. “Kesempatan” itu datangnya memang tidak terduga. Maka, setiap ada “kesempatan” maka harus dimanfaatkan.

Beruntunglah, Orang yang diberi “kesempatan” ketika masih anak atau balita. Kita sudah tau  banyak anak kecil sudah hafal Al-Quran. Anak teman bapak saya bahkan sudah hafal 30 Juz sejak usia 9 Tahun. Tetapi, banyak juga yang diberi “kesempatan” di usia senja. Semua manusia mempunyai jalan hidup masing-masing.

Mana yang lebih baik? Semua baik. Karena Allah SWT memberikan kesempatan dan petunjuk kepada manusia berbeda-beda waktunya. Masalahnya, Bagaimana kita menangkap kesempatan ini. Kepedulian kita untuk membantu orang lain untuk mendapatkan “kesempatan”. Itu sangat dibutuhkan. Seperti kisah pak Winoto diatas.

 

 

 

 

 

 

Hidup Berdampingan

Kami berdua telah memiliki dua anak. Anak kami sudah lengkap yaitu seorang anak lelaki dan perempuan. Alhamdulillah, Kami juga telah dibantu seorang ART, sebut saja “Mbak”. Si “Mbak” sangat tangguh. Dia membantu mengasuh kedua anak kami, mengurusi urusan belakang dan juga membantu bagian perawatan di usaha kami. Rasanya senang dan nyaman karena ada ART yang tangguh, efektif dan efisien.

Faktanya, anak kami itu ada tiga. Lho kok bisa? Bisa saja lah. Khan, Si “mbak” membawa anak juga di rumah kami. Hehehehehe… Usia anaknya selisih satu tahun dengan anak saya nomer dua.  ART yang tangguh, efektif dan efisien tapi bawa anak di rumah kami. Hehehehe…..

Anak kami yang sulung itu perempuan berusia 5 tahun dan  yang kedua itu laki-laki berusia 2 tahun.  Anak si “mbak” itu perempuan berusia 3 tahun. Mereka bertiga hidup dalam satu rumah. Bisa dibayangkan betapa ramai rumah kami. Pokoknya rumah kami tidak pernah sepi dari suara anak-anak.

Bagaimana bisa sih? Anak dari si “mbak” tinggal di rumah kami.  Itu tidak terlalu penting. Buat saya interaksi diantara ketiga balita itu yang terpenting. Mereka berinteraksi bersama dalam kurun 24 jam secara terus-menerus. Lebih banyak menyenangkan dari menyusahkan. Kami seisi rumah sangat menikmati keadaan ini.

Saya dibesarkan sebagai anak tunggal selama 11 tahun 6 bulan. Setelah akhirnya, Adik saya dilahirkan ketika menjelang ujian kelulusan SD. Saya merasakan suka duka sebagai anak tunggal tanpa saudara. Saya merasakan kehadiran saudara kandung menjelang remaja awal. Setelah sekian lama menjadi “raja” di rumah.

Saya tahu rasanya sepi tanpa saudara atau teman sebaya di rumah. Meskipun di bagian lain, saya tidak perlu berbagi dengan saudara yang lain jika ada pemberian dari orang tua. Saya tidak perlu berbagi, bertenggang rasa dan bahkan tidak perlu berkonflik dalam segala hal. Apapun buat saya itu mutlak untuk saya.

Keadaan yang bertolak belakang dengan anak-anak saya. Anak-anak sejak balita sudah belajar untuk saling menyesuaikan dengan saudara kandung. Bahkan mereka sudah harus belajar saling menyesuaikan dengan anak orang lain. Padahal, Ego mereka muncul sebagai anak manusia maka konflik seringkali tidak terelakan.

Bukankah biasa setiap manusia memiliki ego. Karena ego maka ada konflik. Lha ini, konflik ego dengan anak orang lain dan apalagi tinggal dan kerja di rumah kami. Bukan konflik yang kami permasalahkan tetapi bagaimana mereka menyelesaikan konflik. Itu yang membuat kami terkagum-kagum dengan anak kecil.

Konflik sesama anak-anak sudah kami anggap biasa. Anak kecil itu ternyata sangat pemaaf. Setelah mereka bertengkar. Mereka bisa bermain lagi tanpa rasa dendam lima menit kemudian. Tidak ada yang disimpan di kalbu, semua hanya luapan emosi sesaat saja.

Anak itu tetaplah anak. Anak si “mbak” tentu belum terlalu peduli kalau numpang hidup di rumah orang. Ego anak tetap akan muncul dimanapun dan bisa kapanpun. Awalnya, mereka bertiga kalau udah berebut sesuatu maka ramai rumah kami.

Konflik yang sejati adalah konflik bagi kami. Para orang dewasa yang tinggal serumah. Ternyata, Kami dan si “mbak” yang harus bertenggang rasa dan saling menyesuaikan diri. Karena setiap orang tua akan memprioritaskan anak-anak kita diatas segala-galanya . Itu yang normal dan  naluriah. Kalau kadar berlebihan maka itu yang jadi masalah.

Kami sebagai tuan rumah dan si “mbak” yang hidup dalam satu rumah mendapat pelajaran berharga . Bagaimana menempatkan konflik anak-anak dalam koridor dunia anak tanpa melibatkan emosi kami sebagai orang tua.  Karena anak-anak itu sangat pemaaf, kadang kita sebagai orang tua yang seringkali memperpanjang konflik.

Kalau menimbang-nimbang untung dan rugi dari ART yang membawa anak ketika bekerja. Tentulah, kita lebih mudah melihat kerugiannya. Kerugian mulai kualitas pekerjaan si”mbak” tentu kurang maksimal karena perhatian terbagi antara anak dan pekerjaan. Privacy keluarga kami mestilah terganggu.

Alih-alih memperhatikan kerugian. Saya melihat banyak manfaat. Saya dan Istri mengibaratkan rumah kami adalah asrama yang besar. Asrama yang tidak ditinggali sendiri. Rumah kami menjadi ramai. Saya tidak merasakan kesepian seperti masa kecil. Hidup kami merasa lebih berkah dan penuh kegembiraan.

Karena kami bukan termasuk orang yang berpenghasilan besar. Tetapi, banyak orang  yang kami tanggung hidupnya. Rezeki terasa lancar meskipun pas-pasan. Ibarat aliran sungai, sungai kami tidak besar tetapi  alirannya kecil dan lancar. Karena kami menghidupi dua keluarga. Alhamdulillah, kami merasa cukup tetapi tidak berlebihan. Rasanya “pas”. Gitu aja…..

Anak-anak belajar hidup bersama dengan orang lain yang seusia mereka. Mereka harus berbagi dalam berbagai hal mulai makanan, minuman, mainan dan kesenangan. Karena hidup serumah maka pembagian harus adil diantara mereka bertiga. Saya anggap ini pembelajaraan buat anak-anak kami untuk berbagi, bersimpati dan mempunyai empati.

Semoga anak-anak saya tumbuh sebagai anak-anak yang peduli sesama, mampu mengontrol ego dan ringan dalam menolong. Bukan konflik yang kami permasalahkan, Bagaimana anak-anak menyelesaikan konflik yang kami perhatikan. Besok, Mereka akan menghadapi konflik dengan orang lain besok jika sudah dewasa.

Namun, Kami tetap mempunyai waktu istimewa. Waktu dimana merasa diistimewakan oleh orang tua mereka sendiri. Karena itu juga menjadi hak mereka sebagai anak-anak kami. Kami ajak mereka main keluar kota 1-2 hari. Kami hanya bersenang-senang selama perjalanan. Kami bermain bersama.

Kalau sudah selesai liburan. Kami pulang ke rumah dan hidup secara komunal kembali. Ruang kosong itu harus diisi. Ruangan yang membutuhkan kasih sayang langsung dari orangtua kepada anak-anak tanpa ada gangguan. Namun, Empati anak juga harus dibangun. Empati dibangun saat hidup bersama dengan orang lain.

 

 

 

Njagong

Hari Ahad adalah hari libur. Buat saya yang bekerja sebagai karyawan. Hari untuk bersantai dan bermalas-malasan. Namun, Kenyataan yang terjadi adalah bukan santai di rumah. Kita harus keluar untuk njagong atau menghadiri kondangan.

Njagong yang dilakukan di kota-kota besar biasanya dilakukan lebih simple. Kita datang, nyumbang, salaman, makan dan pulang. Kalau njagong dengan style seperti itu maka cukup 15 menit atau paling lama 30 menit. Cukup simpel dan praktis.

Beda yang ada di kota saya yaitu Solo. Penyelenggaraan masih banyak dengan gaya tradisional. Para tamu datang, duduk dan mengikuti seremonial dengan durasi kurang lebih dua jam. Tamu dilayani dengan sinoman mulai minuman, snek, sup, nasi dan kelengkapannya dan ditutup dengan hidangan es.

Kalau ada tamu dari luar kota. Mereka banyak yang complain. “Ah, nggak praktis banget kondangan macam gini”, kata mereka. “Waktu kita banyak terbuang nih, kita cuma duduk-duduk doang”, mereka makin bosan. Tapi, dimana bumi dipijak maka langit dijunjung. Kita harus mengikuti budaya setempat.

Semakin sibuk manusia maka segala sesuatu dilakukan semakin praktis. Budaya kondangan ala solo dianggap tidak praktis. Namun, Masyarakat Solo masih banyak yang melakukan. Warga Solo berkeyakinan bahwa ini adalah cara menghormati tamu yang diundang.

Tamu duduk dan dilayani dengan sinoman. Sinoman itu adalah sekelompok orang yang bertugas melayani makanan buat tamu undangan di kondangan. Nggak praktis bener, tetapi cukup menyenangkan. Hehehehehe….!!!! Kalau diniyati untuk sekalian nyantai. ( heheheheh…!!!! mana ada kondangan untuk refreshing).

Tamu dilayani kemudian dilayani makanan sambil mendengarkan lagu. Tamu harus duduk dan tidak ada yang berdiri. Kalau ada yang berdiri maka yang Hamong Tamu mencarikan kursi untuk duduk. Ribet ya….!!!! Hehehehehehe….

Itulah budaya. Setiap daerah punya budaya dan tradisi masing-masing. Solo dan Yogyakarta masih dalam satu wilayah budaya yaitu budaya jawa.

Saya merasa Yogya semakin praktis. Maklum, Yogyakarta berisi manusia yang lebih heterogen dan lebih adaptif dengan perubahan zaman.

Kondangan disana lebih praktis. Berdasarkan pengalaman saya saja ini. Hehehehe…Kondangan di Yogyakarta pakai “Standing Party”. Tamu datang, nyumbang, salaman dengan pengantin, foto dengan pengantin, makan dan pulang.

Mau makan banyak atau sedikit maka nggak ketahuan. Wong Prasmanan apalagi kalau pakai Booth. Lebih nggak ketahuan kalau mau bawa pulang.

Kalau di Solo, Hidangan sudah disajikan dan ditakar. Jadi kalau mau dobel bisa ketahuan. Nggak akan berani bawa pulang. Hahahahaha…….

Kondangan model Solo. Kita jika ingin bersalaman dengan pengantin harus nunggu acara selesai atau datang sebelum prosesi dimulai.

Kalau mau foto-foto nggak bisa sembarangan, nunggu panggilan. Itu saja kalau dipanggil. Kalau nggak dipanggil maka nunggu acara bubaran. Kita foto-foto dengan pengantin sendiri. Itu diluar acara di kondangan. Hehehehe….

Ya begitulah, Dimana Bumi dipijak Maka Disitu Langit Dijunjung. Setiap daerah memiliki tradisi dan budaya masing-masing. Nggak ada salah atau benar. Anggaplah itu keanekaragaman budaya. Bagaimana tradisi di tempat anda?

Salam dari SO

Kreativitas Sang Istri

Kita masih mau ngobrol kreativitas menghadapi problematika hidup. Beberapa orang mengeluh harga cabe yang melonjak tidak karuan. Harga cabai pas mahal-mahalnya saat lebaran. Kadang turun drastis nyungsep ke tanah. Saya nggak paham kok bisa gini. Harga cabai bergerak layaknya Roller Coaster.

Kedelai, Cabai, Gula dan Beras yang disebut dengan Sembako (Sembilan Bahan Pokok). Hmmm…. Harganya naik-turun nggak karuan. Beda cerita, Kita pergi ke Dufan dan naik Roller Coaster. Semakin cepat naik dan turun maka semakin menyenangkan.

Harga sembako yang naik turun. Itu bisa bikin nangis bombay. Ibu yang cermat dan teliti di keuangan keluarga akan pusing tujuh keliling. Harga yang naik –turun secara cepat bisa merusak perhitungan. Padahal, uang sudah diplotting pos-pos tertentu. Apa harus mencomot pos keuangan yang lain ?

The Power of Kepepet. Agar muncul kreativitas kadang harus dipepet dengan keadaan. Saya acungi jempol kepada ibu rumah tangga yang tidak bekerja di luar rumah tapi kreatif. Mereka hanya menerima gaji  dari sang suami. Gaji yang seringkali sudah tidak utuh pas diterima. Karena sudah dipotong disana-sini. Maklum, hutang masih menumpuk.

Karena saya adalah bagian dari para suami tersebut. Saya bisa memahami kesulitan para ibu rumah tangga. Mereka harus putar otak  bagaimana mencukupkan uang suami untuk kebutuhan yang semakin bertambah dan harga kebutuhan yang semakin naik. Padahal, Jumlah uang yang diterima tidak bertambah.

Padahal, Ibu Rumah Tangga sudah dibebani pekerjaan rumah yang memusingkan. Mereka harus menyingsingkan lengan baju, memeras otak dan menguatkan tubuh. Roda kehidupan rumah tangga harus jalan. Kalau suami hanya jadi pegawai rendahan sampai level menengah maka harus kreatif. Agar semua kebutuhan tercukupi. Tidak muluk-muluk, Tidak perlu jadi kaya asal tercukupi.

Kreativitas para ibu rumah tangga bermunculan mulai online shop, urban farming, bank sampah, katering, souvenir sampai menjahit. Alhamdulillah, kita hidup di era medsos. Apapun bisa kita lakukan dengan medsos. Salah satunya adalah online shop.

Ibu-ibu sambil menggendong anak, menyusui si bayi atau mengajari anak. Mereka berkelana di dunia maya untuk menambah pundi-pundi uang. Mereka adalah pengguna smartphone. Smartphone tidak harus mahal tapi menghasilkan.

Keinginan yang sederhana yaitu keluarga hidup layak, makan yang layak dan anak-anak bisa lulus sekolah dan akhirnya si anak bekerja. Sehingga sang anak bisa menghidupi sendiri.

Kalau jadi kaya. Itu adalah bonus. Niyat semula adalah untuk memenuhi kebutuhan keluarga saja. Para suami dengan sigap membantu istrinya. Mereka sepulang kantor berganti kostum yaitu kaos T-Shirt.

Mereka mengantar barang dagangan ke kantor ekspedisi. Para Suami yang siaga untuk mengantar barang dagangan yang laku. sekaligus mengambil dagangan yang sudah dipesan oleh istri mereka.

Istri mereka selesai merekap penjualan online selama satu hari. Uang penjualan hari itu sudah mengalir ke rekening bank yang ada di BCA, Mandiri atau BRI.

Selesai merekap hasil penjualan. Suami terburu-buru mengambil uang di ATM untuk belanja/kulakan barang dagangan di esok harinya.

Uang sisanya dipindahkan ke rekening penampungan. Uang itu adalah tabungan biaya sekolah anak, persiapan untuk berobat dan kebutuhan yang mendesak atau buat refreshing. Jika mereka beruntung. Mereka bisa beli mobil atau tanah.

Kebutuhan makan dan tagihan bulanan sudah ditanggung oleh gaji sang suami. Sisa gaji suami untuk bayar hutang. Gaji suami sudah habis tanpa sisa.

Mereka adalah manusia yang hidup dengan penuh keyakinan. Kita hanya diwajibkan berusaha. Sisanya kita serahkan ke Allah SWT. Semoga hidup kita semakin lancar jaya.

Saya ANGKAT TOPI kepada para ibu rumah tangga yang tangguh dan perkasa. Mereka sangat memahami bahwa hidup berumah tangga adalah selayaknya sebuah tim. Mereka seringkali lebih repot daripada sang suami. Mereka sunyi dan senyap dalam pubilkasi padahal sangat menentukan bagi roda kehidupan rumah tangga.

Think Globally Act Locally

Koro Pedang

Sumber : DISINI

Tempe yang menjadi makanan sejuta umat di Indonesia. Hampir siapa saja mesti pernah makan tempe. Lauk yang enak nan gurih. Tempe bisa dikatakan makanan asli Indonesia. Resep cara membuat tempe, kita yang punya.

Bahan baku tempe adalah kedelai. Kedelai untuk membuat tempe konon 60 % dari Impor (sumber :Kemenperin). Saya dengar dari pengrajin tempe ketika penelitian biogas. Harga kedelai sangat fluktuatif.

Jika Amerika panen raya kedelai maka harga kedelai dunia turun. Sebaliknya, Kalau Amerika sedang gagal panen maka harga akan naik tinggi. Harga kedelai mengikuti harga pasar dunia.

Karena kedelai sebagian besar impor. Pengrajin Tahu dan Tempe tidak bisa tidur nyenyak. Karena harga kedelai naik dan turun seperti Roller Coaster. Apes, Harga Tempe/Tahu tidak bisa mengikuti fluktuasi harga kedelai

Sedih, Makanan rakyat yang ikonik memiliki ketergantungan tinggi dengan impor. Kita memang tergantung terhadap komoditas internasional seperti kedelai. Karena produksi dalam negeri tidak mencukupi.

Ketergantungan ini menyebabkan pedagang besar kedelai menjadi faktor penting. Petani dan Konsumen hanya bisa pasrah. Para pedagang kedelai yang memiliki modal besar dan gudang besar. Kalau timing pas, maka bisa untung besar. Beli saat harga murah dan jual saat harga mahal.

Ya iyalah…Mereka yang punya kapital/modal. Petani cuman bisa pasrah. Produksi berlebih maka harga jual turun dan jika produksi turun maka konsumen yang pasrah. Akibatnya, Ukuran tahu/tempe yang dijual akan mengecil jika harga kedelai naik. Kalau ukuran tempe tidak berubah maka harganya naik. Hufttt… Pilihan yang sulit.

Pengrajin tahu/tempe serba salah. Kalau harga tahu dan tempe dinaikan maka bisa gulung tikar. Mana ada yang mau beli tahu-tempe? kalau harganya naik. Kita mesti pilih ayam atau daging jika harga tahu/tempe mahal.

Tapi, Kalau harga tahu dan tempe tidak naik maka biaya produksi tidak tercover. Runyam….. Pilihan yang sulit bagi pengrajin tahu/tempe. Pengrajin tahu/tempe rata-rata pengusaha skala kecil sampai menengah. Kasihan khan…

Pemerintah yang harus mengambil peran melindungi konsumen, pengrajin dan petani kedelai. Petani kedelai dan pengrajin harus dilindungi sehingga masih dapat untung. Pemerintah bisa kasih subsidi ke petani atau pengrajin.

Kebijakan pemerintah harus mengarah ke swa sembada kedelai. Petani kedelai harus bisa hidup dari panen kedelai. Produksi melimpah dan untuk kebutuhan dalam negeri dulu. Harga Pokok Penjualan harus bisa mengcover biaya produksi dan lebih. Petani kedelai harus bisa hidup dengan tanam kedelai.

Ini yang namanya “Ketergantungan kedelai”. Karena mayoritas berasal dari impor. Efek yang ditimbulkan adalah efek domino. Pemerintah mau swa sembada kedelai mesti sulit. Banyak kepentingan bersliweran. Bisnis komoditi internasional memang menggiurkan.

Ternyata ada yang iseng melawan “ketergantungan kedelai”dengan caranya sendiri. Misal : Pak Tode dan kawan-kawan. Dia kawan saya yang mencoba mengolah kacang koro pedang menjadi tempe dan tahu.

Beliau berpikir skala global. Indonesia memiliki ketergantungan impor kedelai. Dia sengaja tidak menanam kedelai. Karena kedelai adalah komoditas internasional. Bagaimanapun harus mengikuti tata niaga yang ada.

Kalau pak Tode menanam kedelai maka harus mengikuti harga pasar. Pak Tode harus mengikuti tata niaga kedelai. Maka, jika menanam koro Pedang. Pak Tode mengatur sendiri. Produksi sendiri, diolah sendiri dan dikonsumsi sendiri atau dijual.

Pak Tode termotivasi oleh sahabatnya. Sahabatnya menanam koro pedang di lahan seluas 3 hektar. Pak Tode berpikir untuk membuat dan menjual tahu/tempe koro pedang. Jadi, Koro pedang itu ditanam sendiri, diolah sendiri dan dijual sendiri oleh masyarakat.

Beliau mencoba membuat tempe dan tahu dari Koro Pedang. Koro Pedang yang ditanam dari kebun milik temannya. Obsesi beliau, Jika berhasil membuat tempe dan tahu sendiri maka akan dikonsumsi sendiri dan dijual ke sahabat-sahabat atau di depan rumah.

Akhirnya, Kedelai tidak akan menjadi pemain tunggal dalam produksi tahu/tempe. Kalau ada kompetitor maka diharapkan harganya jadi kompetitif. Ada produk alternatif pengganti tempe. Harga ekulibrium kedelai diharapkan lebih stabil. Karena ada produk alternatif

Naif sekali…..yang saya tulis diatas. Tapi bukannya tidak mungkin. ”Ketergantungan kedelai” hampir tidak mungkin hilang. Kayak semut melawan Gajah. Mission Impossible, tapi kalau nggak dicoba ya mana tahu. Tentu saja masih ada possibility.

Beliau berpikir secara global namun langkah beliau hanya lokal. Beliau melihat ada “ketergantungan kedelai” namun ada produk alternatif yaitu koro pedang.

Beliau melakukan langkah kecil. Langkah yang sangat lokal. Coba, kalau semua orang melakukan langkah kecil perbedaan dan kemajuan. Semua akan maju dan membuat perbedaan.

Makanya, Think Globally Act Locally