Niteni, Nirokke, Nambahi dan Nemokke

Saya pernah membaca sebuah artikel bisnis mengenai ATM (Amati Tiru dan Modifikasi). ATM itu bukan tempat mengambil uang namun sebuah metode dalam bisnis. Metode untuk mengembangkan sebuah produk. Sehingga produk tersebut mempunyai added value dan laku dijual. Produk itu tidak harus original atau sesuatu yang sangat khusus. Bisa produk apapun.

Produk sabun cuci, sabun mandi, segala kebutuhan rumah tangga, TV atau Gadget. Produk yang diproduksi banyak perusahaan dan banyak yang hampir sama. Kekuatannya yaitu di added value. Added value bisa aja sesuatu yang amat khusus atau sangat sederhana. Tim riset produk yang harus pandai mencari added value.

Prinsip ATM membutuhkan kreatifitas tinggi sehingga menghasilkan added value yang unik. Karena jika nggak pas maka bisa dianggap plagiat. Kalau plagiat nggak seru lagi. Bukan sesuatu yang menarik jika itu Plagiat. Ahli ATM itu sangat jeli karena bisa jadi beda tipis dengan Plagiat.

Ternyata, Prinsip ATM sudah menjadi kearifan lokal jawa sejak zaman Kerajaan Singasari atau era Prabu Siliwangi. Prinsip yang digunakan oleh Empu Sedah untuk memodifikasi kisah Mahabarata yang asli India menjadi lebih berasa Konten Lokal yaitu Jawa. Ronggowarsito menyempurnakan di kemudian hari di era Mataram Islam. Prinsip ini sudah mendarah daging.

Prinsip ini berkembang di tanah jawa dengan sebutan 4N. 4N adalah Niteni, Nirokke, Nambahi dan Nemokke. Prinsip ini sudah sangat mendarah daging. Itulah adalah istilah njawani atau jawanisasi dari ATM.

Wayang, salah satu masterpiece dari ATM ala jawa. Wayang itu original dari Anak Benua India. Semua sepakat bahwa berasal dari Jawa. Coba, Anda nonton TV di stasiun ANTV. Wow, Film India bertebaran disana. Otomatis, Dunia Pewayangan ada disana. Wayang  versi asli. Karena Wayang senafas dengan dunia religi orang India.

Para Pujangga kita mampu melakukan 4N sehingga muncul wayang versi Jawa. Nama tokoh ada yang sama namun juga ditambahi versi Indonesia. Tokoh Wayang Asli Indonesia misal adalah Punakawan. Punakawan yang terdiri dari Semar, Gareng, Petruk dan Bagong.

Kita tidak akan menemukan tokoh Punakawan dalam versi asli India. Punakawan seolah menjadi ciri khas wayang Indonesia. Para Pujangga dengan halus memasukkan Punakawan dalam kisah Baratayudha. Bahkan lakon tersendiri tentang Punakawan juga ada misal: “Petruk Dadi Ratu”.

“Petruk Dadi Ratu” tidak akan ditemukan dalam epos Mahabarata versi India. Perang Baratayudha tanpa kehadiran Punakawan bagai Sayur tanpa Garam. Kalau pementasan Wayang mesti ada plot khusus buat Punakawan yaitu “Goro-Goro”.

Punakawan digunakan untuk mengajarkan filosofi jawa kepada masyarakat. Punakawan menjadi pembeda. Punakawan menjadi ikonik Pewayangan versi Jawa. Walisanga  menggunakan wayang untuk sarana berdakwah padahal bukan genuine budaya Islam.

Kecerdasan Lokal semacam inilah yang amazing. Nenek moyang kita sudah menelorkan masterpiece sebelum para ahli Marketing dan Rekayasa Produk menelorkan metode ATM. Penggunaan metode 4N bahkan tidak terbatas di dunia Industri namun masuk ke dalam dunia Religi, Sosial dan Budaya.

Metode 4N masuk ke ranah yang sensitif. Metode 4N bertujuan mengakulturasi dua hal yang sama sekali berbeda bahkan bertentangan. Sehingga metode 4N mengemulsi dua larutan yang sebenarnya tidak mungkin bersatu menjadi satu bahkan bersenyawa.

Metode 4N bukan mempertentangkan atau bahkan mengadu dua hal berbeda. Metode 4N menyelaraskan dua hal berbeda. Ini selaras dengan filosofi jawa yaitu

“ Keno Iwake Ojo Buthek Banyune”

(pent : Ikan dapat tertangkap namun jangan membuat keruh kolamnya)

Jatidiri

(Hikmah membaca buku  “Biografi putra sang fajar, Soekarno” yang ditulis Cindy Adams)

Pak Karno adalah tokoh yang orisinil. Beliau suka sesuatu yang asli Indonesia, mulai dari Idiologi, seni, tanaman, makanan dsb. Beliau jika berkeliling dunia maka selalu mengenalkan Indonesia dari berbagai sisi. Beliau selalu menampilkan sesuatu yang unik dari Indonesia

Marhaenisme adalah salah satu produk lokal yang diangkat Pak Karno. Pak Marhaen adalah tipologi manusia asli Indonesia. Dia bukan buruh atau tuan tanah. Dia hanya petani penggarap sawah yang hanya memiliki sepetak sawah yang digarap untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Maka,  Muncul idiologi marhaenisme.Beliau bukan kapitalis atau sosalis namun seorang marhaenis. Marhaenisme adalah produk asli Indonesia

Presiden Korea Utara datang ke Indonesia. Pak Karno memberi kenang-kenangan berupa bunga anggrek. Akhirnya, festival bunga anggrek diadakan di korea utara. Karena berawal dari pemberian Pak Karno kepada Kim Young Sam.

Pak Karno paling tidak suka dengan anak muda ngak ngik ngok. Ini sebutan bagi anak muda yang menyukai musik britania semisal The Beatles. Maka, pak karno mengembangkan musik asli Indoensia yaitu Lenso.

Pak Karno tidak menyukai pakaian wanita ala amerika. Beliau lebih suka dengan sensualitas ala Indonesia yaitu Kebaya. Karena memakai lebih sopan dan bermartabat namun tetap terlihat sensual. Wanita muda jaman itu mayoritas memakai kebaya. Kebaya itu orisinil dari Indonesia seperti kain sari di India

Pak Karno ingin bangsa Indonesia menjadi bangsa yang percaya diri. Bangsa yang memiliki ciri tersendiri. Namun, tidak canggung dengan bangsa lain. Ini prasyarat menjadi bangsa besar. Bangsa yang mempunyai jatidiri.

Bagaimana menjadi bangsa besar? Kalau tidak memiliki jatidiri. Sebenarnya, inilah yang dibangun pak Karno yaitu jatidiri bangsa. Kalau tidak punya jatidiri dan kepercayaan diri maka kita selalu merasa inferior. Inferior adalah pertanda kemunduran sebuah bangsa. Ibarat pasukan tempur, kalah sebelum bertempur.

Inferior-kah kita? Hahahaha…!!!! Aku tidak tahu

Catatlah…!!!!!

Dunia semakin sempit. Jaringan internet yang mendekatkan kita menjadi semakin dekat dan sempit. Dunia maya (baca: internet) berisi berbagai hal yang saya rangkum dengan sebutan yaitu Informasi. Informasi bersliweran kesana kemari. Ada yang upload dan download. Ini terjadi dari detik ke detik, menit ke menit, jam ke jam dst.

John Naisbitt sudah mengingatkan kita, Penguasa Dunia adalah Penguasa Informasi. Rupert Murdoch yang sukses menerjemahkan dan mengaplikasi. Dia menguasai informasi dengan jaringan perusahaan news corp. Informasi adalah sekumpulan data. Data adalah segala sesuatu yang dicatat atau ditulis kemudian disimpan. Apabila ada kebutuhan maka data/ informasi yang disimpan bisa dimanfaatkan

Catatlah…!!! maka kamu akan menguasai dunia. Kegiatan mencatat adalah awal dari menguasai dunia.  Lebay…!!!! Hehehehe…!!!! Tapi percaya deh, Kalau anda rajin mencatat segala sesuatu dan menyimpan maka anda menjadi sumber data. Jika yang melakukan ini adalah manusia bernaluri bisnis maka bisa jadi asset yang bernilai jutaan bahkan milyaran.

Internet membuat kegiatan mencatat semakin hebat. Mencatat itu tidak terbatas menulis aja namun juga merekam, memfoto, memvideo dan menyimpan dalam sebuah database. But, saya termasuk yang bodoh. Saya tidak suka mencatat hanya suka melihat dan mendengar. Akhinya, saya tidak punya apa-apa hanya sebatas yang saya ingat dalam otak.

Percaya atau tidak? Soe Hok Gie tidak akan terkenal dan dikenang sampai sekarang apabila tidak memiliki “catatan harian seorang demonstran”. Karena Soe Hok Gie mendokumentasikan peristiwa yang dialami maka ada warisan yang ditinggal buat generasi penerusnya. Itu membuat dia dikenang lebih abadi.

Akhirnya, Saya tuliskan qoute paling indah dari sang maestro sastra Indonesia mengenai dunia “catat-mencatat”. Quote ini yang diikuti oleh Soe Hok Gie.

“Orang boleh pandai setinggi langit,

tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.

Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

( Pramoedya Ananta Toer )

Televisi, Oh Nasibmu Kini..!!

Saya adalah penggemar TV Nasional. Nonton TV adalah hiburan murah bagi saya. Berbagai macam acara saya gemari mulai : FTV, AFI, X-Factor sampai sinetron. Paling seru, nonton Piala Dunia. TV adalah bagian tidak terpisahkan dari kehidupan saya.

Istri saya adalah penggemar serial di TV KABEL mulai CSI, CSI New York, NCIS. Kalau reality  show mulai Masterchef, My Kitchen Rules atau The Dessert. Dia sudah mafhum nama Gordon Ramsay, Antoni Bourdain atau Jammie Oliver. Dia paling suka acara kuliner dan penyidikan kepolisian. Dia hampir tidak mengenal acara TV lokal kecuali acara sepakbola.

Menikah dengan saya sering menimbulkan kelucuan buat kami berdua. Saya yang orang Udik berhadapan dengan Istri yang eks metropolitan. Dia menikah dengan saya setelah “mengungsi” ke daerah, maklum dia jadi dosen di daerah. Jiahahahaha….!!!!! Dua dunia yang berbeda.

Ketika masa awal sebelum menikah. Kalau kita ngomong masalah acara TV. Kita sama sekali nggak nyambung. Istri nggak kenal “Tukul Arwana” dan saya nggak paham CSI, Saya paham FTV dan dia menyukai CSI. Pokoknya kesana kemari. Apa itu FTV ? istri nggak tahu. Jammie Oliver itu siapa ? saya nggak paham.

Akhirnya, Kompromi diantara kami berdua yaitu berlangganan TV Kabel. Kami langganan AORA TV dengan pertimbangan harganya yang paling ramah di kantong kami berdua. Saya masih bisa nonton TV Lokal dan Istri masih bisa nonton acara favoritnya.

Lama kelamaan, saya yang jadi suka acara TV dari luar negeri mulai dari HBO, FX, FOX dsb. Karena acaranya lebih bermutu ( Ssttt..!!!! Bermutu itu ukuran saya lho ). Bukan karena tidak nasionalis tapi acara TV kabel memang lebih bermutu. Program TV yang membuat kami berpikir dan menjadi lebih pinter. Nggak cuman hahahihi…..!!!!

Saya jadi punya acara favorit yaitu serial “Criminal Minds”, “Law & Order” dan “Law & Order Criminal Intent”. Sebelum acara “Junior MasterChef” jadi acara favorit di TV Lokal. Kami sudah sering nonton “Junior MasterChef Australia”. Istri bilang gini, “ andai ada acara ginian di TV Lokal”. Tak lama kemudian, emang trus ada. Ajaib….!!!! hahahahahaha…!!!!

Alkisah, AORA TV tutup karena suatu hal. Kami mencoba langganan BIG TV tapi nggak memuaskan. Sampai titik klimaks yaitu kita nggak nonton TV lagi. Karena nonton TV lokal sudah nggak mungkin, rasanya kok kurang sreg ( ada yang nggak setuju? ). Kalau nonton TV Kabel kok mahal amat. Jiahahahaha…!!!

Walhasil, Keluarga kami tidak menonton TV. Bukan masalah idealisme, tapi masalah keuangan dan kesukaan. Hahahahaha…!!!! Kami tidak anti TV tapi hidup tanpa TV masih Ok Ok saja. Coba kalau TV Lokal still OK? Wah, Ok lah untuk nonton TV Lokal. Lha ini, nggak Ok sih TV Lokal.

Karena nggak nonton TV maka beralih ke Youtube. Ifa jadi kenal yang berbeda dengan teman-temannya. Ifa jadi kenal tokoh kartun Tayo, Kongsuni dan Robo Car Poli atau Super Wings. Tokoh-tokoh kartun yang nggak ada di TV Lokal. Yang agak aneh, Ifa suka nonton tutorial produk mainan semacam LEGO, Pocorro atau Barbie. Mana ada ceritanya ?

Ifa jadi nggak kenal Mascha, Upin-Ipin atau Power Ranger. Karena nggak lihat TV Lokal. Adit, Sopo dan Jarwo juga nggak kenal. Saya nyari berita lebih suka di media online. Istri nggak paham berbagai macam sinetron atau serial dari India, Turki atau Indonesia sendiri.

Kalau Mbak ART lebih suka mendengar radio. Dia bisa mendengar radio sambil apa saja mulai masak, menyetrika atau mencuci. Dia lebih hebat lagi karena rutin mendengarkan pengajian dari Majlis Taklim yang terkenal di Solo yang disiarkan di Radio. Produktifitas masih tinggi dan hiburan juga didapat.

Alhamdulillah, dulu pas beli TV untungnya hanya beli yang kecil saja dan sederhana. Coba kalau beli yang mahal dan besar. Cuman, menghabiskan uang dan memenuhi ruangan. Sekali lagi, kami bukan nonton TV bukan karena Idealisme tetapi karena keadaan. Jiahahahaha……..!!!!!

 

 

 

 

SAVE OUR EARTH

rosok_rev

ambil dari sini

SAVE OUR EARTH adalah ungkapan yang sering kita dengar. Ini tentang penyelamatan lingkungan alam. Bumi semakin tua maka harus diselamatkan dari limbah terutama limbah plastik. Karena diurai oleh tanah dalam jangka waktu sangat lama. Beda dengan zat organik yang lebih cepat diurai tanah

Saya punya pengalaman menarik tentang ungkapan diatas. Tindakan yang sederhana namun bermanfaat. Karena manfaatnya adalah menyelamatkan bumi sekaligus ada keuntungan secara komersial.

ART (Asisten Rumah Tangga ) kami yang melakukan langkah ini. Dia dapat tambahan uang dengan mengumpulkan limbah kertas dan plastik yang ada di rumah kami

Maklum, Semenjak bisnis mainan semakin berkembang. Paket mainan sering keluar masuk di rumah. Dampaknya adalah sampah Plastik dan Kardus pembungkus semakin menumpuk di rumah.

Dia minta izin istri untuk mengumpulkan limbah tersebut untuk dijual. Istri tentu saja “OK” saja. Karena hanya memenuhi rumah saja. Sudah taraf menganggu kenyaman rumah.

Dia menunggu sampah semakin menggunung. Semua sampah plastik di rumah juga dilibas semua misal: botol aqua, botol soft drink, pembersih lantai dsb.

Akhirnya, setelah terkumpul “segunung sampah” kemudian dijual ke pengumpul sampah. Kalau di daerah kami disebut tukang rosok ( Orang yang berprofesi jual beli barang rongsokan). “Barang Dagangan” ditimbang dan dibayar oleh si tukang rosok. Harganya adalah Rp 7000,-/kg untuk segala jenis limbah baik plastik atau besi.

Pertama kali, dia bisa jualan satu kilogram limbah maka dapat 7 ribu rupiah. Dia simpan uang hasil penjualan baik-baik sembari mengumpulkan sampah yang lain. Dia bisa menjual 2 kilogram untuk tahap kedua dan disimpan baik-baik uangnya. Dan seterusnya.

Puncaknya, Sewaktu istri beli mainan agak banyak dan ukurannya gede. Dia dapat uang cukup banyak. Karena kardus pembungkus juga besar dan berat. Artinya kiloannya banyak maka rupiahnya juga lebih banyak. Hehehehehe…

Dia pernah sekali jual “rosok” mendapat uang 35 ribu. Akumulasi uang yang diterima tentu sudah banyak. Hasil penjualan limbah ini digunakan untuk membeli baju buat anak di rumah. Anaknya senang karena baju baru. dan dia senang karena tidak mengurangi gajinya.

Kebiasaan ini terus berlanjut. Limbah non biodegradable di rumah terus dilibas olehnya. Dia juga dapat tambahan penghasilan dari usaha kami plus jualan rosok.

Akumulasi tambahan uang dari segala penjuru dugunakan untuk membeli Kompor Gas dan HP baru. Kompor Gas “RINNAI” dan HP merek NOKIA telah terbeli dengan sukses. Kompor gas sudah nangkring di rumahnya sendiri. Hehehehehehe…!!!!

Sesuatu yang mungkin remeh di hadapan saya seringkali sangat bermanfaat untuk orang lain. Kita bantu orang ternyata bukan hanya dengan memberi uang. Kita beri kesempatan untuk mengembangkan kreativitas, seringkali lebih membantu.

Saya dan istri juga senang. Karena tidak perlu diiming-imingi imbalan yang besar. Dia sudah termotivasi untuk bekerja dengan baik. Dia akan berusaha lebih baik untuk dirinya dan so pasti buat kita juga. Hehehehehehe…!!!!

Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Dia semakin produktif bekerja dan SAVE OUR EARTH.

Solusi  seringkali hadir dengan cara yang sangat sederhana.

hehehehehehe…!!!!

BUDAYA MEMBACA

Dahulu, ketika saya masih mahasiswa. Mahasiswa baru intens masuk perpustakaan ketika mengerjakan skripsi. Kalau hanya duduk berjam-jam hanya membaca buku. Rasanya sangat membosankan sekali. Endingnya adalah tertidur sambil memegang buku. Padahal bukunya belum tentu terbaca. Sama saja dengan saya. Hehehehe..!!!!

Membaca itu ternyata sebuah kebiasaan. Kalau yang addict bisa jadi kebutuhan, kalau yang gaya doang paling banter ditenteng. Era sekarang sedikit berbeda. Buku yang dibawa bukan buku biasa, namanya e-book. Bukunya berbentuk file yang tertanam dalam gadget. Kalau baca tinggal buka gadget dan baca. Kalau saya sering berakhir dengan ber-sosmed ria.

Banyak sekali buku diterbitkan mulai resep makanan, novel sampai dengan Tips & Trik SEO. Ini adalah tanda dari peningkatan minat baca.  Heehehehehe…!!!! Alhamdulillah, kita sudah punya budaya membaca yang lebih baik. But, saya belum tahu budaya membaca yang baik itu bagaimana?

Bangsa Israel adalah bangsa yang suka membaca. Paling tidak menurut blog izzatunissa. Saya setelah blogwalking ternyata mereka gila baca. Merek benar-benar gila. hahahahaha…!!!!!! Mereka membaca langsung dari buku yang tebal-tebal dan butuh mikir. Itu bagian yang sulit. brrr….!!!!!

Coba baca kutipan dari blog izzatunisa :

Saya sedang membuka chapter dua puluh lima buku di tangan ketika seorang bapak berusia tiga puluhan bangkit berdiri dan mengambil smartphone dari tangan anak lelaki yang saya taksir berusia Sembilan atau sepuluh tahun, dengan bahasa yang saya tidak mengerti sang ayah seolah menasihati anaknya untuk tidak berlama-lama berkutat dengan game di telepon genggam canggihnya.
Bangsa jewish yang menemukan smartphone namun membatasi penggunaan smartphone. Lha iki piye..!! mereka yang cerdik, kita yang dibanjiri smartphone. Tulisan mbak izza memang kasuistik tapi menarik. Karena mereka lebih suka baca dari buku yang berat di otak saya.

Si sulung membaca novel kontemporer karangan John Green, sang ibu membaca buku setebal kurang lebih dua ratus halaman, dan entah apa yang dibaca sang ayah, namun kesamaannya adalah buku mereka sama-sama ditulis dalam bahasa Ibrani (Hebrew). Sang kakak sulung untuk menghentikan adiknya yang merajuk membongkar tasnya dan merogoh buku bacaan lain dan menyodorkannya ke si adik kecil usia Sembilan tahun.

Ini yang mengerikan sekali. Mereka menunggu penerbangan di Bandara. Dalam keadaan yang sama (menunggu jadwal penerbangan). Saya pilih ngobrol dengan orang yang duduk disebelah saya dan saya yakin jika istri pilih tidur sedangkan . Wah, sulit sekali dilakukan buat kami. Hahaha…!!!

Kalau orang kepepet biasanya akan berjuang. Bangsa Israel juga begitu. Jumlah mereka nggak banyak hanya sekian persen dari total penduduk dunia. Sadar jumlahnya sedikit maka harus maju. Mereka mengawali dengan membentuk kebiasaan yang progresif. Salah satunya adalah membaca.

Budaya membaca mereka sudah di tingkat advance. Mereka membaca bukan sekedar mencari hiburan. Mereka membaca bukan gaya-gayaan. Meski awal budaya membaca bisa diawali dengan gaya-gayaan. Mereka membaca sudah jadi kebutuhan. Kayak manusia kalau tidak makan ya lapar.

Dulu pernah geger di jagad maya. Mark Zuckerberg berencana membaca buku Muqaddimah karya Ibnu Battutah. Buku opo iku? Anak itu sudah kaya dan hidup nyaman kok susah-susah amat mau baca buku kayak gitu. Lha apa manfaatnya? Mungkin, Otak saya yang belum bisa memikirkan. Begitu kiranya khusnudzon saya. Hahahaha….!!!!!

Apa ya saya bisa ? mempunyai budaya membaca tingkat advance. Bangsa Israel sudah memilih jenis bacaan lebih berkualitas dan dilakukan oleh anak kecil lho bukan mahasiswa. Emang aneh bangsa Israel itu ya.

Baca komik itu penting untuk nutrisi otak kanan, baca berita gosip itu “harus” agar selalu update. Tapi kalau saya hanya baca buku sekelas “jajanan pasar”. Apa saya ya tambah pinter?

Wah, jadi ngelantur nih. Saya hanya ingin kontemplasi saja. Jangan sampai saya hanya suku baca “judul berita” saja dan nggak peduli isinya. But, baca MADILOG karya TAN MALAKA saja sulit sekali saya pahami.

Emang otak saya sudah mampet atau masih harus dilatih dengan bacaan rumit. So, dengan buku berat bisa nyambung dan nggak pusing. Ibarat mobil sudah terbiasa tanjakan. Kayaknya itu perlu latihan . hehehehehe…!!!!

Marilah kita baca buku. Apapun bentuk bukunya mau yang asli atau e-book. Mulai dari yang santai sampai serius. Mulai Koran sampai buku tebal. Mulai komik sampai karya sastra. Mulai yang fiksi sampai science.

lha kok sulit tenan ya. 😀

 

NASAKOM (NAsib SAtu KOMa)

Saya mengantar adik untuk wisuda S1 di UNS Solo kemarin pagi. Kebetulan, saya juga alumni dari sana. So, kami berdua memliki almamater yang sama. Saya masuk ke lingkungan kampus, jadi teringat masa kuliah dulu. Ada cerita senang dan ada cerita sedih. Cerita yang paling berkesan yaitu cerita NASAKOM.

NASAKOM ini tidak ada hubungannya dengan sejarah era 1960-an. Apalagi dengan idiologi dari sebuah partai. NASAKOM yang ini kepanjangan dari NAsib SAtu KOMa. Satu Koma adalah nilai IPK dari perkuliahan. Kalau mendapat IPK NASAKOM maka sedang kena Musibah. Hehehehehe….!!!

Saya sewaktu kuliah pernah mendapat nilai IPK NASAKOM dan bahkan dua kali. Hehehehe…!!!!! Mata kuliah banyak tidak lulus, deretan nilai D dan E.. Lebih jauh, Kelulusan tertunda. Belum ada sistem Remediasi. Saya harus mengulang kuliah di tahun depan. Kuliah jadi lebih lama lagi.

Sedih ? ya pasti lah. Kalau senang itu nggak normal. Masalah nggak akan selesai kalau cuma ditangisi. Saya punya tempat untuk menyendiri sewaktu sedih yaitu PERPUSTAKAAN. Saya bisa mengalihkan perhatian saya ke hal-hal di luar dunia perkuliahan.

Saya mulai mengenal Novel, Majalah Swa dan Majalah Warta Ekonomi disana. Baca di tempat lebih menyenangkan daripada buku di bawa pulang. Tempat favorit di bagian majalah. Kita bisa membaca majalah yang tidak akan mungkin saya beli. Pokoknya seru deh. Hehehehe…!!!!

Kalau sudah lega. Saya kembali ke dunia nyata yaitu perkuliahan. Perpustakaan seperti alat untuk mengalihkan perhatian. NASAKOM tidak akan selesai kalau tidak dihadapi. Kita perlu break sebentar terus kembali ke dunia nyata. WELCOME TO THE REAL LIFE. Hehehehe…!!!!

Pengalaman NASAKOM sangat berharga. Bukan rintangan yang jadi masalah namun respon terhadap rintangan itu yang jadi masalah. Akhirnya, lulus juga . hehehehe….!!!!! Lulus dengan nilai dua koma sekian mendekati tiga. Hahahaha….!!!! Saat itu nilai segitu sudah bisa buat melamar kerja. Kalau sekarang, xixixixixi……!!!!!, habislah aku.

Saya jadi tahu bahwa mencari rezeki itu bisa berbagai cara asal halal. Saya dan istri merintis usaha bersama. Ternyata juga bisa. Saya tetap jadi pegawai kecil di perusahaan lokalan saja sembari membesarkan usaha bersama istri.

realistis saja, hehehehe…!!!! Saya nyari jalan yang lebih logis dan rasional. Karena menilik IPK saya. Hahahahahaha…!!!!! Saya harus putar otak. Saya bisa berkembang tanpa mengandalkan IPK. Nah, ini manfaat sering mendatangi Perpustakaan. Wawasan jadi terbuka.

Eh,Istri yang mempunyai IPK lebih dari tiga koma malah keluar dari PNS. Dia yang fokus mengembangkan usaha day by day. Dia ingin mengembangkan usaha sembari menemai anak. Apalagi sesuai dengan Passion-nya. Katanya, enak di rumah daripada di kantor. Toh, juga dapat rezeki. Hehehehe..!!!

Hahahaha…!!!! Akhirnya kami berdua tidak mengandalkan ijazah S1. Lha wong saya kerja yang diakui ijazah SMA. Jiahahahahaha…!!!! Istri saya yang lulus S2 juga “mengandangkan” ijazah.Tukang Rental tidak butuh ijazah S2.

NASAKOM membuat saya belajar survive sampai saat ini. NASAKOM menjadi milestone perubahan sikap atau respon terhadap problematika kehidupan. Ada berbagai jalan menuju Roma. Pokoknya hajar saja dan maju terus. Hehehehe…!!!!

penulis-adalah-passionku-3-728Fotonya dari sini

 

Bukan rintangan yang jadi masalah
namun respon terhadap rintangan yang jadi masalah.