Think Globally Act Locally

Koro Pedang

Sumber : DISINI

Tempe yang menjadi makanan sejuta umat di Indonesia. Hampir siapa saja mesti pernah makan tempe. Lauk yang enak nan gurih. Tempe bisa dikatakan makanan asli Indonesia. Resep cara membuat tempe, kita yang punya.

Bahan baku tempe adalah kedelai. Kedelai untuk membuat tempe konon 60 % dari Impor (sumber :Kemenperin). Saya dengar dari pengrajin tempe ketika penelitian biogas. Harga kedelai sangat fluktuatif.

Jika Amerika panen raya kedelai maka harga kedelai dunia turun. Sebaliknya, Kalau Amerika sedang gagal panen maka harga akan naik tinggi. Harga kedelai mengikuti harga pasar dunia.

Karena kedelai sebagian besar impor. Pengrajin Tahu dan Tempe tidak bisa tidur nyenyak. Karena harga kedelai naik dan turun seperti Roller Coaster. Apes, Harga Tempe/Tahu tidak bisa mengikuti fluktuasi harga kedelai

Sedih, Makanan rakyat yang ikonik memiliki ketergantungan tinggi dengan impor. Kita memang tergantung terhadap komoditas internasional seperti kedelai. Karena produksi dalam negeri tidak mencukupi.

Ketergantungan ini menyebabkan pedagang besar kedelai menjadi faktor penting. Petani dan Konsumen hanya bisa pasrah. Para pedagang kedelai yang memiliki modal besar dan gudang besar. Kalau timing pas, maka bisa untung besar. Beli saat harga murah dan jual saat harga mahal.

Ya iyalah…Mereka yang punya kapital/modal. Petani cuman bisa pasrah. Produksi berlebih maka harga jual turun dan jika produksi turun maka konsumen yang pasrah. Akibatnya, Ukuran tahu/tempe yang dijual akan mengecil jika harga kedelai naik. Kalau ukuran tempe tidak berubah maka harganya naik. Hufttt… Pilihan yang sulit.

Pengrajin tahu/tempe serba salah. Kalau harga tahu dan tempe dinaikan maka bisa gulung tikar. Mana ada yang mau beli tahu-tempe? kalau harganya naik. Kita mesti pilih ayam atau daging jika harga tahu/tempe mahal.

Tapi, Kalau harga tahu dan tempe tidak naik maka biaya produksi tidak tercover. Runyam….. Pilihan yang sulit bagi pengrajin tahu/tempe. Pengrajin tahu/tempe rata-rata pengusaha skala kecil sampai menengah. Kasihan khan…

Pemerintah yang harus mengambil peran melindungi konsumen, pengrajin dan petani kedelai. Petani kedelai dan pengrajin harus dilindungi sehingga masih dapat untung. Pemerintah bisa kasih subsidi ke petani atau pengrajin.

Kebijakan pemerintah harus mengarah ke swa sembada kedelai. Petani kedelai harus bisa hidup dari panen kedelai. Produksi melimpah dan untuk kebutuhan dalam negeri dulu. Harga Pokok Penjualan harus bisa mengcover biaya produksi dan lebih. Petani kedelai harus bisa hidup dengan tanam kedelai.

Ini yang namanya “Ketergantungan kedelai”. Karena mayoritas berasal dari impor. Efek yang ditimbulkan adalah efek domino. Pemerintah mau swa sembada kedelai mesti sulit. Banyak kepentingan bersliweran. Bisnis komoditi internasional memang menggiurkan.

Ternyata ada yang iseng melawan “ketergantungan kedelai”dengan caranya sendiri. Misal : Pak Tode dan kawan-kawan. Dia kawan saya yang mencoba mengolah kacang koro pedang menjadi tempe dan tahu.

Beliau berpikir skala global. Indonesia memiliki ketergantungan impor kedelai. Dia sengaja tidak menanam kedelai. Karena kedelai adalah komoditas internasional. Bagaimanapun harus mengikuti tata niaga yang ada.

Kalau pak Tode menanam kedelai maka harus mengikuti harga pasar. Pak Tode harus mengikuti tata niaga kedelai. Maka, jika menanam koro Pedang. Pak Tode mengatur sendiri. Produksi sendiri, diolah sendiri dan dikonsumsi sendiri atau dijual.

Pak Tode termotivasi oleh sahabatnya. Sahabatnya  menanam koro pedang di lahan seluas 3 hektar. Pak Tode berpikir untuk membuat dan menjual tahu/tempe koro pedang. Jadi, Koro pedang itu ditanam sendiri, diolah sendiri dan dijual sendiri oleh masyarakat.

Beliau mencoba membuat tempe dan tahu dari Koro Pedang. Koro Pedang yang ditanam dari kebun milik temannya. Obsesi beliau, Jika berhasil membuat tempe dan tahu sendiri maka akan dikonsumsi sendiri dan dijual ke sahabat-sahabat atau di depan rumah.

Akhirnya, Kedelai tidak akan menjadi pemain tunggal dalam produksi tahu/tempe. Kalau ada kompetitor maka diharapkan harganya jadi kompetitif. Ada produk alternatif pengganti tempe. Harga ekulibrium kedelai diharapkan lebih stabil. Karena ada produk alternatif

Naif sekali…..yang saya tulis diatas. Tapi bukannya tidak mungkin. ”Ketergantungan kedelai” hampir tidak mungkin hilang. Kayak semut melawan Gajah. Mission Impossible, tapi kalau nggak dicoba ya mana tahu. Tentu saja masih ada possibility.

Beliau berpikir secara global namun langkah beliau hanya lokal. Beliau melihat ada “ketergantungan kedelai” namun ada produk alternatif yaitu koro pedang.

Beliau melakukan langkah kecil. Langkah yang sangat lokal. Coba, kalau semua orang melakukan langkah kecil perbedaan dan kemajuan. Semua akan maju dan membuat perbedaan.

Makanya, Think Globally Act Locally

Advertisements

Hidup Berkeluarga

sumber :disini

Keluarga adalah filosofi yang diangkat dalam film fast and furious. Dominic Toretto membangun semangat keluarga diantara krunya sejak pertama sampai sekuel terakhir. Tidak ada hubungan yang lebih intim dan dekat selain keluarga.

Keluarga adalah tempat berteduh, berkeluh kesah dan berlindung. Semua anggota keluarga akan saling melindungi dibawah pimpinan seorang kepala keluarga. Keluarga adalah tempat berkumpulnya  kasih sayang, perlindungan dan kenyaman.

Film ini mengangkat tema dunia otomotif, balapan dan aksi tembak-menembak. Hal yang menarik perhatian bukan aksinya, teknologi dan tokoh film.  Itu semua tentang keluarga.  Kita hidup di zaman ketika manusia menjadi lebih soliter. Manusia yang ingin hidup bebas dari ikatan. Tema keluarga menjadi menarik namun tetap terselubung di film ini.

Manusia menjadi egois, private dan soliter. Segalanya bisa dilakukan dengan bantuan “gadget” tanpa bantuan orang lain. Ternyata, Manusia adalah manusia. Manusia memiliki  dua sisi mata uang. Satu sisi adalah kesendirian  dan sisi yang lain adalah kebersamaan atau ikatan. Naluri manusia membina hubungan atau ikatan seperti pernikahan.

Adegan aksi dalam fast and furious memang sangat menarik. Namun, Film ini menarik ditonton bukan karena adegan-adengan berbahaya dan menegangkan. Film ini diminati karena semangat kekeluargaan yang dibumbui konflik diantara mereka dan misi yang mereka kerjakan.

Keluarga adalah ikatan. Kecenderungan hidup saat ini adalah kebebasan. Sejak ide kebebasan bersliweran di kehidupan kita. Apabila kita membuat ikatan maka dianggap itu sebagai keberanian. Karena keterikatan membutuhkan komitmen, penyesuaian dan konsekuensi. Konsekuensi ini bisa menyenangkan dan tidak jarang menyedihkan.

Adegan dimana Toretto (Vin Diesel) memuji Connor (Paul Walker). Karena Connor berani membangun keluarga dengan adik Toretto . Keberanian apapun yang dilakukan oleh Connor masih kalah dengan keberaniannya menikahi sang adik hingga mempunyai seorang anak. Karena itu menghasilkan hubungan yang kuat dan berkonsekuensi.

Keberanian untuk mengikat diri dalam sebuah pernikahan adalah keberanian sesungguhnya. Itulah pelajaran dari film fast and furious.Memang, Hidup bebas dan sendiri memang menggoda. Kita bebas melakukan apa saja tanpa ada konsekuensi.

Hidup berkeluarga adalah naluri manusia. Sehingga, kehadiran keluarga bagi setiap manusia ternyata tetap dirindukan meskipun, hidup sendiri menyenangkan. Film ini menyajikan ritual-ritual dalam keluarga misal: makan bersama dimulai dengan do’a yang dipimpin salah satu dari mereka. Itulah bentuk kerinduan mereka terhadap keluarga.

Ini adalah ritual yang menyatukan mereka dalam satu ikatan. Ikatan keluarga yang longgar. Karena mereka diikat dengan satu kebersamaan bukan ikatan yang kuat seperti hubungan darah. Ikatan karena hubungan darah adalah ikatan yang kuat.

Kita sering mendengar ungkapan, orang yang paling dekat kita adalah “keluarga”  meskipun tidak ada hubungan darah. Pernyataan ini boleh jadi benar tapi ikatannya tetap lemah. Jika suatu saat berpisah maka rasanya bukan keluarga lagi. Berbeda dengan keluarga karena ikatan darah.

Keluarga yang terdiri Ayah, Ibu dan anak. Apapun, Bagaimanapun dan Dimanapun mereka tetap anggota keluarga. Boleh tidak suka bahkan benci namun kenyataan tetap mengatakan mereka bagian dari keluarga. Kita harus menerima dengan senang hati. Ini berlaku mutlak bagi sang anak.

Karena apabila berkeluarga maka kita harus siap menerima segala konsekuensi dari hidup berkeluarga. Itulah keberanian. Kita tidak tahu jika kita berani atau tidak. Karena seringkali hanya nekad. Filosofi film  fast and furious adalah keluarga.

 

 

Niteni, Nirokke, Nambahi dan Nemokke

Saya pernah membaca sebuah artikel bisnis mengenai ATM (Amati Tiru dan Modifikasi). ATM itu bukan tempat mengambil uang namun sebuah metode dalam bisnis. Metode untuk mengembangkan sebuah produk. Sehingga produk tersebut mempunyai added value dan laku dijual. Produk itu tidak harus original atau sesuatu yang sangat khusus. Bisa produk apapun.

Produk sabun cuci, sabun mandi, segala kebutuhan rumah tangga, TV atau Gadget. Produk yang diproduksi banyak perusahaan dan banyak yang hampir sama. Kekuatannya yaitu di added value. Added value bisa aja sesuatu yang amat khusus atau sangat sederhana. Tim riset produk yang harus pandai mencari added value.

Prinsip ATM membutuhkan kreatifitas tinggi sehingga menghasilkan added value yang unik. Karena jika nggak pas maka bisa dianggap plagiat. Kalau plagiat nggak seru lagi. Bukan sesuatu yang menarik jika itu Plagiat. Ahli ATM itu sangat jeli karena bisa jadi beda tipis dengan Plagiat.

Ternyata, Prinsip ATM sudah menjadi kearifan lokal jawa sejak zaman Kerajaan Singasari atau era Prabu Siliwangi. Prinsip yang digunakan oleh Empu Sedah untuk memodifikasi kisah Mahabarata yang asli India menjadi lebih berasa Konten Lokal yaitu Jawa. Ronggowarsito menyempurnakan di kemudian hari di era Mataram Islam. Prinsip ini sudah mendarah daging.

Prinsip ini berkembang di tanah jawa dengan sebutan 4N. 4N adalah Niteni, Nirokke, Nambahi dan Nemokke. Prinsip ini sudah sangat mendarah daging. Itulah adalah istilah njawani atau jawanisasi dari ATM.

Wayang, salah satu masterpiece dari ATM ala jawa. Wayang itu original dari Anak Benua India. Semua sepakat bahwa berasal dari Jawa. Coba, Anda nonton TV di stasiun ANTV. Wow, Film India bertebaran disana. Otomatis, Dunia Pewayangan ada disana. Wayang  versi asli. Karena Wayang senafas dengan dunia religi orang India.

Para Pujangga kita mampu melakukan 4N sehingga muncul wayang versi Jawa. Nama tokoh ada yang sama namun juga ditambahi versi Indonesia. Tokoh Wayang Asli Indonesia misal adalah Punakawan. Punakawan yang terdiri dari Semar, Gareng, Petruk dan Bagong.

Kita tidak akan menemukan tokoh Punakawan dalam versi asli India. Punakawan seolah menjadi ciri khas wayang Indonesia. Para Pujangga dengan halus memasukkan Punakawan dalam kisah Baratayudha. Bahkan lakon tersendiri tentang Punakawan juga ada misal: “Petruk Dadi Ratu”.

“Petruk Dadi Ratu” tidak akan ditemukan dalam epos Mahabarata versi India. Perang Baratayudha tanpa kehadiran Punakawan bagai Sayur tanpa Garam. Kalau pementasan Wayang mesti ada plot khusus buat Punakawan yaitu “Goro-Goro”.

Punakawan digunakan untuk mengajarkan filosofi jawa kepada masyarakat. Punakawan menjadi pembeda. Punakawan menjadi ikonik Pewayangan versi Jawa. Walisanga  menggunakan wayang untuk sarana berdakwah padahal bukan genuine budaya Islam.

Kecerdasan Lokal semacam inilah yang amazing. Nenek moyang kita sudah menelorkan masterpiece sebelum para ahli Marketing dan Rekayasa Produk menelorkan metode ATM. Penggunaan metode 4N bahkan tidak terbatas di dunia Industri namun masuk ke dalam dunia Religi, Sosial dan Budaya.

Metode 4N masuk ke ranah yang sensitif. Metode 4N bertujuan mengakulturasi dua hal yang sama sekali berbeda bahkan bertentangan. Sehingga metode 4N mengemulsi dua larutan yang sebenarnya tidak mungkin bersatu menjadi satu bahkan bersenyawa.

Metode 4N bukan mempertentangkan atau bahkan mengadu dua hal berbeda. Metode 4N menyelaraskan dua hal berbeda. Ini selaras dengan filosofi jawa yaitu

“ Keno Iwake Ojo Buthek Banyune”

(pent : Ikan dapat tertangkap namun jangan membuat keruh kolamnya)

Jatidiri

(Hikmah membaca buku  “Biografi putra sang fajar, Soekarno” yang ditulis Cindy Adams)

Pak Karno adalah tokoh yang orisinil. Beliau suka sesuatu yang asli Indonesia, mulai dari Idiologi, seni, tanaman, makanan dsb. Beliau jika berkeliling dunia maka selalu mengenalkan Indonesia dari berbagai sisi. Beliau selalu menampilkan sesuatu yang unik dari Indonesia

Marhaenisme adalah salah satu produk lokal yang diangkat Pak Karno. Pak Marhaen adalah tipologi manusia asli Indonesia. Dia bukan buruh atau tuan tanah. Dia hanya petani penggarap sawah yang hanya memiliki sepetak sawah yang digarap untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Maka,  Muncul idiologi marhaenisme.Beliau bukan kapitalis atau sosalis namun seorang marhaenis. Marhaenisme adalah produk asli Indonesia

Presiden Korea Utara datang ke Indonesia. Pak Karno memberi kenang-kenangan berupa bunga anggrek. Akhirnya, festival bunga anggrek diadakan di korea utara. Karena berawal dari pemberian Pak Karno kepada Kim Young Sam.

Pak Karno paling tidak suka dengan anak muda ngak ngik ngok. Ini sebutan bagi anak muda yang menyukai musik britania semisal The Beatles. Maka, pak karno mengembangkan musik asli Indoensia yaitu Lenso.

Pak Karno tidak menyukai pakaian wanita ala amerika. Beliau lebih suka dengan sensualitas ala Indonesia yaitu Kebaya. Karena memakai lebih sopan dan bermartabat namun tetap terlihat sensual. Wanita muda jaman itu mayoritas memakai kebaya. Kebaya itu orisinil dari Indonesia seperti kain sari di India

Pak Karno ingin bangsa Indonesia menjadi bangsa yang percaya diri. Bangsa yang memiliki ciri tersendiri. Namun, tidak canggung dengan bangsa lain. Ini prasyarat menjadi bangsa besar. Bangsa yang mempunyai jatidiri.

Bagaimana menjadi bangsa besar? Kalau tidak memiliki jatidiri. Sebenarnya, inilah yang dibangun pak Karno yaitu jatidiri bangsa. Kalau tidak punya jatidiri dan kepercayaan diri maka kita selalu merasa inferior. Inferior adalah pertanda kemunduran sebuah bangsa. Ibarat pasukan tempur, kalah sebelum bertempur.

Inferior-kah kita? Hahahaha…!!!! Aku tidak tahu

Catatlah…!!!!!

Dunia semakin sempit. Jaringan internet yang mendekatkan kita menjadi semakin dekat dan sempit. Dunia maya (baca: internet) berisi berbagai hal yang saya rangkum dengan sebutan yaitu Informasi. Informasi bersliweran kesana kemari. Ada yang upload dan download. Ini terjadi dari detik ke detik, menit ke menit, jam ke jam dst.

John Naisbitt sudah mengingatkan kita, Penguasa Dunia adalah Penguasa Informasi. Rupert Murdoch yang sukses menerjemahkan dan mengaplikasi. Dia menguasai informasi dengan jaringan perusahaan news corp. Informasi adalah sekumpulan data. Data adalah segala sesuatu yang dicatat atau ditulis kemudian disimpan. Apabila ada kebutuhan maka data/ informasi yang disimpan bisa dimanfaatkan

Catatlah…!!! maka kamu akan menguasai dunia. Kegiatan mencatat adalah awal dari menguasai dunia.  Lebay…!!!! Hehehehe…!!!! Tapi percaya deh, Kalau anda rajin mencatat segala sesuatu dan menyimpan maka anda menjadi sumber data. Jika yang melakukan ini adalah manusia bernaluri bisnis maka bisa jadi asset yang bernilai jutaan bahkan milyaran.

Internet membuat kegiatan mencatat semakin hebat. Mencatat itu tidak terbatas menulis aja namun juga merekam, memfoto, memvideo dan menyimpan dalam sebuah database. But, saya termasuk yang bodoh. Saya tidak suka mencatat hanya suka melihat dan mendengar. Akhinya, saya tidak punya apa-apa hanya sebatas yang saya ingat dalam otak.

Percaya atau tidak? Soe Hok Gie tidak akan terkenal dan dikenang sampai sekarang apabila tidak memiliki “catatan harian seorang demonstran”. Karena Soe Hok Gie mendokumentasikan peristiwa yang dialami maka ada warisan yang ditinggal buat generasi penerusnya. Itu membuat dia dikenang lebih abadi.

Akhirnya, Saya tuliskan qoute paling indah dari sang maestro sastra Indonesia mengenai dunia “catat-mencatat”. Quote ini yang diikuti oleh Soe Hok Gie.

“Orang boleh pandai setinggi langit,

tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.

Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

( Pramoedya Ananta Toer )

Televisi, Oh Nasibmu Kini..!!

Saya adalah penggemar TV Nasional. Nonton TV adalah hiburan murah bagi saya. Berbagai macam acara saya gemari mulai : FTV, AFI, X-Factor sampai sinetron. Paling seru, nonton Piala Dunia. TV adalah bagian tidak terpisahkan dari kehidupan saya.

Istri saya adalah penggemar serial di TV KABEL mulai CSI, CSI New York, NCIS. Kalau reality  show mulai Masterchef, My Kitchen Rules atau The Dessert. Dia sudah mafhum nama Gordon Ramsay, Antoni Bourdain atau Jammie Oliver. Dia paling suka acara kuliner dan penyidikan kepolisian. Dia hampir tidak mengenal acara TV lokal kecuali acara sepakbola.

Menikah dengan saya sering menimbulkan kelucuan buat kami berdua. Saya yang orang Udik berhadapan dengan Istri yang eks metropolitan. Dia menikah dengan saya setelah “mengungsi” ke daerah, maklum dia jadi dosen di daerah. Jiahahahaha….!!!!! Dua dunia yang berbeda.

Ketika masa awal sebelum menikah. Kalau kita ngomong masalah acara TV. Kita sama sekali nggak nyambung. Istri nggak kenal “Tukul Arwana” dan saya nggak paham CSI, Saya paham FTV dan dia menyukai CSI. Pokoknya kesana kemari. Apa itu FTV ? istri nggak tahu. Jammie Oliver itu siapa ? saya nggak paham.

Akhirnya, Kompromi diantara kami berdua yaitu berlangganan TV Kabel. Kami langganan AORA TV dengan pertimbangan harganya yang paling ramah di kantong kami berdua. Saya masih bisa nonton TV Lokal dan Istri masih bisa nonton acara favoritnya.

Lama kelamaan, saya yang jadi suka acara TV dari luar negeri mulai dari HBO, FX, FOX dsb. Karena acaranya lebih bermutu ( Ssttt..!!!! Bermutu itu ukuran saya lho ). Bukan karena tidak nasionalis tapi acara TV kabel memang lebih bermutu. Program TV yang membuat kami berpikir dan menjadi lebih pinter. Nggak cuman hahahihi…..!!!!

Saya jadi punya acara favorit yaitu serial “Criminal Minds”, “Law & Order” dan “Law & Order Criminal Intent”. Sebelum acara “Junior MasterChef” jadi acara favorit di TV Lokal. Kami sudah sering nonton “Junior MasterChef Australia”. Istri bilang gini, “ andai ada acara ginian di TV Lokal”. Tak lama kemudian, emang trus ada. Ajaib….!!!! hahahahahaha…!!!!

Alkisah, AORA TV tutup karena suatu hal. Kami mencoba langganan BIG TV tapi nggak memuaskan. Sampai titik klimaks yaitu kita nggak nonton TV lagi. Karena nonton TV lokal sudah nggak mungkin, rasanya kok kurang sreg ( ada yang nggak setuju? ). Kalau nonton TV Kabel kok mahal amat. Jiahahahaha…!!!

Walhasil, Keluarga kami tidak menonton TV. Bukan masalah idealisme, tapi masalah keuangan dan kesukaan. Hahahahaha…!!!! Kami tidak anti TV tapi hidup tanpa TV masih Ok Ok saja. Coba kalau TV Lokal still OK? Wah, Ok lah untuk nonton TV Lokal. Lha ini, nggak Ok sih TV Lokal.

Karena nggak nonton TV maka beralih ke Youtube. Ifa jadi kenal yang berbeda dengan teman-temannya. Ifa jadi kenal tokoh kartun Tayo, Kongsuni dan Robo Car Poli atau Super Wings. Tokoh-tokoh kartun yang nggak ada di TV Lokal. Yang agak aneh, Ifa suka nonton tutorial produk mainan semacam LEGO, Pocorro atau Barbie. Mana ada ceritanya ?

Ifa jadi nggak kenal Mascha, Upin-Ipin atau Power Ranger. Karena nggak lihat TV Lokal. Adit, Sopo dan Jarwo juga nggak kenal. Saya nyari berita lebih suka di media online. Istri nggak paham berbagai macam sinetron atau serial dari India, Turki atau Indonesia sendiri.

Kalau Mbak ART lebih suka mendengar radio. Dia bisa mendengar radio sambil apa saja mulai masak, menyetrika atau mencuci. Dia lebih hebat lagi karena rutin mendengarkan pengajian dari Majlis Taklim yang terkenal di Solo yang disiarkan di Radio. Produktifitas masih tinggi dan hiburan juga didapat.

Alhamdulillah, dulu pas beli TV untungnya hanya beli yang kecil saja dan sederhana. Coba kalau beli yang mahal dan besar. Cuman, menghabiskan uang dan memenuhi ruangan. Sekali lagi, kami bukan nonton TV bukan karena Idealisme tetapi karena keadaan. Jiahahahaha……..!!!!!

 

 

 

 

SAVE OUR EARTH

rosok_rev

ambil dari sini

SAVE OUR EARTH adalah ungkapan yang sering kita dengar. Ini tentang penyelamatan lingkungan alam. Bumi semakin tua maka harus diselamatkan dari limbah terutama limbah plastik. Karena diurai oleh tanah dalam jangka waktu sangat lama. Beda dengan zat organik yang lebih cepat diurai tanah

Saya punya pengalaman menarik tentang ungkapan diatas. Tindakan yang sederhana namun bermanfaat. Karena manfaatnya adalah menyelamatkan bumi sekaligus ada keuntungan secara komersial.

ART (Asisten Rumah Tangga ) kami yang melakukan langkah ini. Dia dapat tambahan uang dengan mengumpulkan limbah kertas dan plastik yang ada di rumah kami

Maklum, Semenjak bisnis mainan semakin berkembang. Paket mainan sering keluar masuk di rumah. Dampaknya adalah sampah Plastik dan Kardus pembungkus semakin menumpuk di rumah.

Dia minta izin istri untuk mengumpulkan limbah tersebut untuk dijual. Istri tentu saja “OK” saja. Karena hanya memenuhi rumah saja. Sudah taraf menganggu kenyaman rumah.

Dia menunggu sampah semakin menggunung. Semua sampah plastik di rumah juga dilibas semua misal: botol aqua, botol soft drink, pembersih lantai dsb.

Akhirnya, setelah terkumpul “segunung sampah” kemudian dijual ke pengumpul sampah. Kalau di daerah kami disebut tukang rosok ( Orang yang berprofesi jual beli barang rongsokan). “Barang Dagangan” ditimbang dan dibayar oleh si tukang rosok. Harganya adalah Rp 7000,-/kg untuk segala jenis limbah baik plastik atau besi.

Pertama kali, dia bisa jualan satu kilogram limbah maka dapat 7 ribu rupiah. Dia simpan uang hasil penjualan baik-baik sembari mengumpulkan sampah yang lain. Dia bisa menjual 2 kilogram untuk tahap kedua dan disimpan baik-baik uangnya. Dan seterusnya.

Puncaknya, Sewaktu istri beli mainan agak banyak dan ukurannya gede. Dia dapat uang cukup banyak. Karena kardus pembungkus juga besar dan berat. Artinya kiloannya banyak maka rupiahnya juga lebih banyak. Hehehehehe…

Dia pernah sekali jual “rosok” mendapat uang 35 ribu. Akumulasi uang yang diterima tentu sudah banyak. Hasil penjualan limbah ini digunakan untuk membeli baju buat anak di rumah. Anaknya senang karena baju baru. dan dia senang karena tidak mengurangi gajinya.

Kebiasaan ini terus berlanjut. Limbah non biodegradable di rumah terus dilibas olehnya. Dia juga dapat tambahan penghasilan dari usaha kami plus jualan rosok.

Akumulasi tambahan uang dari segala penjuru dugunakan untuk membeli Kompor Gas dan HP baru. Kompor Gas “RINNAI” dan HP merek NOKIA telah terbeli dengan sukses. Kompor gas sudah nangkring di rumahnya sendiri. Hehehehehehe…!!!!

Sesuatu yang mungkin remeh di hadapan saya seringkali sangat bermanfaat untuk orang lain. Kita bantu orang ternyata bukan hanya dengan memberi uang. Kita beri kesempatan untuk mengembangkan kreativitas, seringkali lebih membantu.

Saya dan istri juga senang. Karena tidak perlu diiming-imingi imbalan yang besar. Dia sudah termotivasi untuk bekerja dengan baik. Dia akan berusaha lebih baik untuk dirinya dan so pasti buat kita juga. Hehehehehehe…!!!!

Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Dia semakin produktif bekerja dan SAVE OUR EARTH.

Solusi  seringkali hadir dengan cara yang sangat sederhana.

hehehehehehe…!!!!