Bima Suci

Sumber : disini

Tubuhnya besar dan gempal. Dia mempunyai brewok yang lebat. Kalau berbicara tidak bisa halus kepada siapa saja. Orangnya tulus, pemberani dan sakti. Adik dari Puntadewa. Dia adalah sang Bima yang perkasa.  Bima adalah anak kedua dari Pandawa Lima

Bima atau Werkudara hanya berbicara halus kepada seorang saja yaitu Dewa Ruci. Dewa Ruci adalah guru sejati bagi Werkudara. Resi Drona saat itu sedang menggunakan akal liciknya untuk menyingkir Werkudara. Maka, Werkudara ditugaskan mencari Tirta Prawitasari ke dasar Samudra.

Tirta Prawitasari atau Air Kehidupan sebenarnya ada di dasar hati manusia. Karena bujukan Sengkuni atas Drona maka Bima ditugaskan mencari Tirta Prawitasari. Sengkuni berharap jika Bima masuk ke dalam samudra maka dia akan mati terbunuh oleh makhluk dasar laut.

Karena Werkudara itu tulus dan patuh kepada gurunya. Werkudara mengerjakan dengan sepenuh hati tanpa dia pikir panjang. Perintah Gurunya maka Sami’na Wa Atho’na ( Kami mendengar dan Kami Taati). Rantai komando harus ditaati tanpa bantahan. Werkudara masuk ke dalam dasar samudra.

Bima menyelam ke dalam samudra bertemu dengan dua Raksasa yaitu Rukmaka dan Rukmakala. Dua raksasa tersebut dihajar sampai tewas. Ternyata, Dua raksasa itu adalah jelmaan Batara Bayu dan Batara Indra yang disumpah oleh Batara Guru jadi Raksasa. Karena Dua Raksasa itu telah mati maka dua batara yang disumpah naik ke Kahyangan.

Werkudara bertemu dengan Naga bernama Nemburnawa maka sang Naga dihajar habis. Kuku Pancanaka yang dipakai werkudara telah merobek sang Naga. Sang Naga tewas dengan mengenaskan. Selesai berkelahi, Werkudara duduk termenung.

Werkudara bingung kemana lagi harus mencari Tirta Prawitasari. Sengkuni dan kroni mungkin baru terkekeh-kekeh membicarakan ketololan Werkudara. Tetapi, Kalau Sengkuni tau keadaan Bima saat itu. Maka siapakah yang tolol ? Sengkuni atau Werkudara? Werkudara semakin kuat dan berpengalaman berkelahi.

Dia mungkin sudah menyumpah serapahi dirinya sendiri. “Mengapa gue jadi tolol gini? “,Gumamnya.”Sial, gue dikerjain sang guru”, tambahnya dalam hati.  Dia tidak sadar melakukan dua hal besar yaitu membunuh dua raksasa dan seekor naga. Kalau Sengkuni mendengar itu, saya yakin dia akan kencing di celana saking takutnya.

Setelah itu Werkudara duduk terdiam di atas samudra. Di sini,Werkudara bertemu dengan gurunya atau dewanya yang sejati yaitu Dewa Ruci. Werkudara diminta masuk kedalam lubang telinga dewa kerdil itu atau Dewa Ruci. Werkudara masuk dan mendapat wejangan tentang makna kehidupan.

Werkudara juga melihat suatu daerah yang damai, aman, dan tenteram. Setelah itu, Werkudara menjadi seorang pendeta bergelar Begawan Bima Suci dan mengajarkan apa yang telah ia peroleh dari Dewa Ruci. Ksatria yang menjadi Begawan.

Kesetian Werkudara atas gurunya diganjar dengan gelar Begawan Bima Suci. Ini terkait dengan niat dan cara yang baik. Barangsiapa yang berniat baik maka akan mendapat kebaikan. Asal dilakukan dengan cara yang baik pula. Niat dan cara yang baik akan memberi keberkahan dan keberuntungan. Maka, marilah kita berniat baik dan menggunakan cara yang baik

Hahahahaha…….

 

Advertisements

Dilema Durna

Sumber : disini

Bambang Kumbayana adalah nama muda dari Resi Durna. Guru Besar di Perguruan Sokalima. Guru sejati bagi Pandawa dan Kurawa. Dia adalah Guru Seni Perang di Astinapura. Resi Durna terlahir sebagai Brahmana namun takdirnya bertindak selayaknya Ksatria.

Sucitra adalah sahabat karibnya. Sucitra telah berjanji memberikan sebagian wilayah jika telah berkuasa di Panchala. Sumpah di masa muda seringkali hanya sumpah di bibir saja. Durna merasa senang hatinya, dia tidak menyadari jika akhirnya harus kecewa hati.

Sucitra telah menjadi Raja Panchala bergelar Prabu Drupada. Resi Durna menagih janji. Resi Durna mendatangi Prabu Drupada. Karena Resi Durna yang merasa dekat dengan Prabu Drupada. Maka Sang Prabu dipanggil dengan nama Sucitra. Patih Gandamana marah dan tidak terima. Prabu Drupada tidak mau membagi Kerajaan. Durna dihajar sampai cacat permanen. Resi Durna pulang dengan kondisi babak belur, tangan hampa, malu dan dendam.

Resi Durna terlahir sebagai Brahmana. Brahmana adalah Begawan yang mengajarkan kebijaksanaan. Ternyata,garis takdir berkata lain. Resi Durna yang ingin berguru ilmu Brahmana ke Parasurama ternyata ditolak. Parasurama telah menurunkan ilmu brahmana ke orang lain. Maka, Parasurama menurunkan Ilmu Perang ke Resi Durna bukan ilmu kebijaksanaan.

Malang nian nasib Bambang Kumbayana. Bambang Kumbayana adalah menjadi Brahmana berwujud Ksatria. Resi Durna menguasai segala ilmu perang. Seorang ahli perang dengan membawa dendam di dada. Ini sungguh berbahaya. Ahli perang yang dengan dendam membara.

Bambang Kumbayana telah memiliki murid-murid yang hebat yaitu Pandawa dan Kurawa. Mereka diberi ujian terakhir yaitu menaklukan Kerajaan Panchala. Ujian ini hanya akal-akalan sang resi. Panchala kalah di tangan Pandawa. Sucitra dipermalukan oleh anak-anak ingusan .

Sungguh malu Sang Prabu Drupada. Dia memohon kepada sang dewa agar dapat membalaskan rasa malu dan kekalahan ini. Sang Dewa mengabulkan dengan menurunkan seorang anak yang bernama Drestajumna. Drestajumna ini kelak akan menghabisi Resi Durna di kancah perang Baratayudha.

Resi Durna tersenyum puas karena telah memiliki Padepokan yang baru yaitu Sokalima. Sokalima yang dulu wilayah dari Pancala direbut oleh Durna. Resi Durna mempunyai murid kesayangan yaitu Arjuna. Sang Resi namun sangat mempercayai Puntadewa. Puntadewa yang tidak pernah bohong.

Resi Durna lebih menyayangi Trah Pandawa namun dalam perang Baratayudha menjadi Panglima Tertinggi Kurawa. Akibat rasa percaya yang lebih terhadap Puntadewa. Resi Durna tewas karena permainan Si Kresna. Dalang Peperangan dari pihak Pandawa.

Sungguh sangat dilema bagi seorang Guru. Orang yang berjiwa Brahmana namun harus menjadi Ksatria yang berpikir killed or to be killed. Durna adalah manusia yang berwatak sportif. Resi Durna tidak ada keraguan sama sekali dalam perang Baratayudha. Resi Durna tak ragu menghadapi murid-murid kesayangannya.

Pembunuhan atas Abimanyu adalah maha karya sang resi. Kalau sang resi tidak turun tangan maka barisan Kurawa sudah hancur lebur. Memang, Kitab Jitabsara sudah menggariskan seperti itu. Perang Baratayudha adalah sarana terwujudnya karma bagi setiap manusia. Baik dari pihak Pandawa atau Kurawa.

Dendam Sucitra, Kasih sayang Sang Resi atas Aswatama dan Tipu Daya sang Kresna adalah paduan sempurna untuk menghancurkan sang Resi. Sang Resi yang limbung jadi gila karena mendengar Aswatama telah mati. Puntadewa telah memainkan peran atas kematian sang resi dan pukulan mematikan Drestajumna mengakhiri hidup sang Resi Durna.

Sang Resi yang mengawali kejayaan hidup dengan segala ironi. Sang Resi mengakhiri kejayaan dengan hati yang pilu. Kepandaian, Kekuatan dan Kedudukan seringkali tidak menjamin hidup berjalan lancar dan bahagia. Sang Resi yang memiliki segalanya ternyata mempunyai jalan hidup yang ironis.

Maka, Marilah kita syukuri yang telah ada. Karena boleh jadi, Jika kita diberi sesuatu yang lebih maka ujian yang timbul juga bisa jadi lebih menyakitkan. Kita hanya wayang yang menjalani hidup. Kita tidak tau yang terjadi esok.

Sang Resi pikir hidupnya akan lancar dengan segala kemampuan. Ternyata, Karena kedigdayaan dan kehebatan sang resi pula yang membuat hidupnya menjadi sebuah Ironi.

 

NO BODY PERFECT

(Kisah Puntadewa)

Sumber : disini

Raden Puntadewa adalah anak sulung dari Pandawa dari Ibu Kunti. Dia adalah sosok yang sempurna, mempunyai ilmu kanuragan yang tinggi sekaligus memiliki budi pekerti yang unggul. Dia terkenal sebagai Ksatria berdarah putih. Artinya  adalah berwatak unggul yaitu jujur, berperasaan halus dan hatinya yang Tulus Ikhlas.

Puntadewa alias Yudistira dalam versi India. Manusia yang berakhlaq mulia. Beliau dalam ilmu kanuragan unggul dalam memainkan tombak. Resi Durna sebagai guru Pandawa dan Kurawa mengakui hal itu. Puntadewa sangat menghormati guru-gurunya termasuk Resi Durna. Sayang, Resi Durna mati karena muslihat yang dimainkan oleh Puntadewa dalam perang Baratayudha.

Seperti yang kita ketahui, Pandawa selalu dikerjai oleh Kurawa. Negara Hastina yang seharusnya diwariskan kepada Pandawa ternyata direkayasa menjadi milik Kurawa. Karena hati Puntadewa yang baik maka diterima pula keputusan yang sepihak itu. Puntadewa memilih menyingkir dan mendirikan kerajaan Amarta.

Pandawa diberi wilayah berupa hutan angker di wilayah hastina. Hutan itu sebenar adalah tempat kerajaan hastina yang lama kemudian dipindah di lokasi yang sekarang. Puntadewa harus berjuang dulu untuk membuka hutan tersebut menjadi Kerajaan Amarta. Kurawa sungguh enak tinggal meneruskan kerajaan yang sudah besar.

Singkat cerita, Puntadewa dan para Pandawa berhasil mendirikan kerajaan Amarta di daerah hutan yang telah dibuka.  Kerajaan Amarta milik Pandawa yang dibangun sendiri. Berbeda dengan Kerajaan Hastina yang direbut oleh saudara sepupu mereka yaitu Kurawa adalah warisan. Pandawa memang hebat memiliki jiwa Entrepreneurship. Mereka tidak mau berpangku tangan. Alih-alih, mereka berjuang untuk mewujudkan cita-cita. Hehehehehe……..

Amarta berkembang pesat. Amarta mempunyai wilayah dan  tanah jajahan yang semakin meluas. Kerajaan menjadi besar dan menyamai kerajaan Hastina. Karena mereka mau berjuang untuk mewujudkan.

Negara Hastina tidak mungkin ditaklukkan bahkan diserang oleh Pandawa. Mereka selalu patuh dengan Filosofi “Kacang Ora Lali Lanjaran” (Kacang tidak akan lupa dengan kulitnya). Karena di Hastina terdapat orang-orang yang dihormati Pandawa yaitu Resi Bisma, Resi Durna, Paman Yamawidura, Ibu Kunti, Prabu Destarata dan Dewi Madrim dsb.

Puntadewa yang mengadakan perayaan Sesaji Rajasuya sebagai rasa syukur kepada YANG MAHA KUASA. Karena Pandawa telah dianugerahi dengan kerajaan Amarta yang semakin berjaya. Perayaan ini mengundang seluruh negara jajahan, negara sahabat dan para kerabat termasuk negara Hastina. Mereka yang diundang termasuk Kurawa, Resi Bisma, Resi Durna dan Prabu Destarata dsb.

Kurawa yang dipimpin oleh Duryudana melihat sendiri kejayaan dan kemasyhuran dari Kerajaan Amarta. Hati Duryudana terbakar oleh rasa iri dan dengki. Karena rivalnya lebih jempolan. Pandawa mampu mendirikan Imperium mereka sendiri. Kurawa mempunyai imperium yang besar karena warisan nenek moyang.

Rasa iri dan dengki yang berkobar-kobar ini bagai Api disiram BBM Pertamax DEX. Apalagi Sengkuni memprovokasi Kurawa untuk merebut Amarta tanpa perang. Sengkuni adalah ahli strategi perang agitasi, propganda dan penghasutan. Rasa iri dan Dengki Prabu Duryudana berkolaborasi dengan hasutan Sengkuni.

Sengkuni adalah lambang kelicikan level  TOP. Karena pola kerja sengkuni adalah menang tanpa perang namun dengan menghasut, memfitnah dan menjebak. Mulai dari Insiden Bale Sigala-gala, penghasutan Raja Duryudana untuk merebut Amarta melalui meja Judi dan puncaknya adalah Perang Baratayudha. Sengkuni mengambil peran penting dalam peristiwa itu semua.

No Body Perfect, Satu kalimat yang menggambarkan Puntadewa. Puntadewa yang bersih, jujur, alim dan sportif ternyata memiliki titik lemah. Puntadewa suka sekali main dadu. Main dadu alias berjudi. Hobi kesukaan di kala senggang bagi raja-raja. Ternyata, apapun bisa jadi taruhan alias judi.

Sengkuni memahami hal ini. Pandawa diajak untuk bermain dadu melawan Kurawa di Hastina. Sengkuni menjalankan strategi dengan mengalah di awal permainan dan menghajar di tengah sampai akhir permainan. Pandawa menjadi lengah. Pandawa masuk perangkap Kurawa tanpa sadar.

Semakin lama permainan menggila. Pandawa mulai kalah sedikit demi sedikit. Taruhan semakin menggila mulai uang recehan sampai kerajaan Amarta bahkan pasangan hidup. Sial, Pandawa masih juga kalah. Hmmm….!!! Pandawa sudah kehilangan Amarta.

Kurawa ingin menghabisi Pandawa sampai akar-akarnya. Dewi Drupadi dijadikan taruhan. Oh no…!!!! Dewi Fortuna sedang enggan memihak Pandawa. Saya jadi ingat lagu Bang Rhoma yang judulnya JUDI. Hehehehe… Judi emang harus ditinggalkan

Pandawa kalah dalam taruhan Dewi Drupadi. Dursasana berjingkrak-jingkrak. Dursasana menarik kain kemben Dewi Drupadi dengan penuh nafsu. Karena perlindungan dewa maka kain kemben yang ditarik tiada habisnya. Dursasana tidak berhasil menelanjangi Dewi Drupadi.

Dewi Drupadi malu dan murka. Dia bersumpah tidak akan melepas ikatan rambutnya sampai bisa berkeramas dengan darah Dursasana. Sumpah ini akan terbukti di kancah perang Baratayudha. Dursasana akan mati mengenaskan bagai bangkai yang dihisap darahnya sampai habis.

Pandawa Cuma bisa pasrah melihat adegan tersebut. Pandawa kalah tanpa peperangan. Kelihaian Arjuna memainkan panah tidak ada gunanya. Keperkasaan Werkudara dengan senjata Gada tiada artinya. Pandawa kehilangan segala-galanya dan masih menjalani hukuman.

Masih untung, Dewi Drupadi dilepaskan. Dursasana mungkin mikir. Meskipun bisa memiliki Dewi tapi apalah gunanya. Kemben Drupadi nggak bisa dia lucuti. Maka berlaku pantun dibawah ini :

Jas Buka Iket Blangkon,

Sami juga Sami Mawon.

Apalagi, Ngerih…!!!  mendengar sumpah Dewi Drupadi.

Pandawa menjalani hukuman untuk mengasingkan diri  selama 12 tahun. Pandawa tidak boleh diketahui siapapun dalam masa pengasingan. Jika ada yang mengetahui maka hukuman harus diulang dari awal lagi . Meskipun, sudah menginjak tahun ke-11 bulan ke-11. Itulah peperangan tanpa adu fisik memang lebih Sadiiissssssssss……!!!!!!!

Pandawa menyelesaikan masa hukuman 12 tahun. Ini kesempatan untuk menuntut kerajaan Hastina untuk dikembalikan kepada Pandawa. Duryudana tidak mau menyerahkan Hastina kepada Puntadewa. Bahkan, Duryudana tetap menolak ketika Puntadewa hanya meminta lima buah desa saja.

Atas saran penasehat Pandawa yaitu Kresna. Perang Baratayudha digelar antara Pandawa dan Kurawa. Kresna sudah yakin menang. Karena kitab Jitabsara sudah ditulis. Kitab Jitabsara menulis kemenangan Pandawa lengkap dengan cara kematian para pelaku perang Baratyudha.

Kresna yang telah melakukan operasi intelijen ke Ngarcapada sehingga mengetahui detil perang `Baratayudha. Pandawa menyerahkan strategi perang kepada Kresna. Ini seperti dalam Perang Dunia ke-2. Ketika Sekutu yang mencuri mesin Enigma dari Jerman. Sehingga, Sekutu bisa mengetahui pergerakan tentara Jerman melalui berita intelijen yang diterjemahkan dengan mesin Enigma.

Sekali lagi, Puntadewa mengalami dilema. Strategi perang dari Kresna mengharuskan Puntadewa melakukan muslihat sehingga Resi Drona bisa dibunuh. Puntadewa harus memberi berita tidak lengkap  mengenai kematian Aswatama. Aswatama adalah titik lemah Resi Durna (Inget… No Body Perfect).

Putra kesayangan Resi Durna bernama Aswatama. Kebetulan, Salah satu gajah yang menjadi tunggangan dalam Perang Baratayudha bernama Aswatama. Bima membunuh gajah Aswatama. Prajurit Pandawa diperintahkan berteriak, “Aswatama mati…!!!!!”. Ketika berita ini sampai di telinga Resi Durna menjadi limbung dan galau. Resi Durna teringat anak kesayangan dan satu-satunya

Resi Durna paham bahwa Puntadewa adalah orang jujur dan tidak bisa bohong meskipun di pihak musuh. Resi Durna menanyakan kepada Puntadewa, “apakah Aswatama mati?”. Puntadewa dengan bimbang menjawab,”iya”. Puntadewa tidak memberi keterangan lebih lanjut. Bahwa yang mati adalah Gajah yang bernama Aswatama.

Resi Durna sangat sedih hati. Dia lepaskan baju perang dan bermeditasi. Drestajumna, Panglima Pandawa sekaligus saudara kandung Dewi Drupadi menebas leher Resi Durna sehingga mati. Puntadewa sangat galau dan sedih karena telah melakukan penipuan.

Singkat cerita, Perang Baratayudha dimenangkan Pandawa dan janji telah tertunaikan. Dursasana mati mengenaskan. Karena darahnya diambil untuk keramas dewi Drupadi. Paha Duryudana patah sampai ajalnya tiba. Karena sumpah Werkudara akan mematahkan paha Duryudana untuk memangku Dewi Drupadi. Menurut Werkudara, Itu adalah pelecehan Duryudana atas Dewi Drupadi.

Puntadewa memiliki dua kerajaan yaitu Amarta dan Hastina. Dua kerajaan besar menjadi satu. Keluhuran budi si Puntadewa membuahkan hasil. Puntadewa telah mengembalikan yang hilang darinya bahkan lebih besar dengan cara elegan.

Puntadewa menyepi di Gunung Himalaya menjelang ajal tiba. Puntadewa ketika hendak dimasukkan Nirwana maka diperlihatkan bahwa saudara Pandawa berada di Neraka dan Kurawa di Nirwana. Puntadewa sangat bersedih hati. Puntadewa memilih hidup neraka bersama dengan saudara-saudaranya daripada di Nirwana bersama dengan Kurawa yang penuh angkara murka.

Cling…!!! Puntadewa tiba-tiba sudah berada di Nirwana bersama Pandawa. Ini adalah penebusan dosanya yang telah “mengerjai” sang guru yaitu Resi Durna. Puntadewa hidup damai bersama saudara Pandawa di Nirwana.

No Body Perfect, itu hikmah dari cerita Puntadewa. Puntadewa yang sudah memiliki ketinggian budi pekerti. Kadang kala harus terperosok. Karena kebiasaan “main dadu” atau berjudi dan strategi perang yang mengharuskan untuk “mengerjai” Resi Durna.

Orang Yang Terbaik Bukanlah Yang Tanpa Dosa, Orang Yang Terbaik Adalah Cepat Menyadari Kesalahan, Memohon Ampun Ke HadliratNYA dan Tidak Akan Mengulang Lagi.

 

 

 

 

 

 

Kecerdikan Kresna

kresna-kclSumber :disini

Tokoh wayang yang satu ini adalah salah satu tokoh sentral perang Baratayudha. Dia saudara sepupu Pandawa dari jalur Ibu Kunti. Dia putra dari Prabu Basudewa, kakak Ibu Kunti. Dia juga awatara dari Dewa Wisnu. Namanya adalah Sri Kresna , Raja dari Kerajaan Dwarawati.

Ketika menjelang perang Baratayudha. Sri Kresna bersemedi dan “ngrogo sukmo”. Dia masuk ke alam kahyangan merubah diri menjadi Klanceng Putih untuk mengintip Kitab Jitabsara. Akhirnya, Kresna diserahi kitab Jitabsara oleh Batara Guru dengan satu syarat yaitu tidak boleh membocorkan isi Kitab Jitabsara.

Kresna memberikani tawaran kepada Pandawa dan Kurawa. Mereka diberi pilihan antara memilih dirinya dan pasukannya. Kurawa memilih pasukan Kresna dan Pandawa memilih Kresna. Pilihan ini yang menentukan kemenangan besok di akhir perang Baratayudha.

Karena memegang kitab Jitabsara maka Kresna harus kehilangan “Kembang Wijayakusuma”. Salah satu senjata milik Kresna yang berkhasiat untuk menghidupkan orang yang mati. It’s Worthed, Karena Kresna memegang kunci kemenangan di kancah peperangan terbesar di dunia pewayangan.

Prabu Basudewa adalah kakak dari Ibu Kunti. Ibu dari tiga anggota Pandawa yaitu Puntadewa, Arjuna dan Bimasena. Wajar, Kresna membela Pandawa karena masih ada hubungan darah. Tapi bukan karena itu. Kresna adalah awatara dari Dewa Wisnu. Dia ingin menjaga keseimbangan dunia. Kebenaran harus menang atas Kezaliman.

Kresna adalah mastermind Perang Baratayudha dari pihak Pandawa. Kemenangan demi kemenangan Pandawa tidak lepas dari strateginya. Apalah jadinya jika Pandawa tidak didukung Kresna?  Tapi, Perang Baratayudha adalah bagian kerusakan alam semesta maka Kresna wajib menjaganya dengan memenangkan Pandawa di kancah perang ini.

Duryudana lebih pintar tapi Bimasena lebih kuat, menurut Baladewa. Adipati Basukarna lebih sakti dengan senjata Kuntawijaya daripada Arjuna. Yudistira adalah orang yang lugu telah  “dikerjain” oleh Sengkuni di permainan dadu. Resi Bisma tidak terkalahkan dan Resi Durna sulit untuk ditaklukkan.

Pandawa harus melawan guru-guru mereka yang sangat dihormati. Kematian Resi Bisma ditangan Srikandi bukan oleh Arjuna. Itu adalah strategi Kresna. Pandawa tidak sanggup membunuh Resi Durna. Kematian Resi Durna karena tebasan pedang oleh Drestajumna. Itu semua karena strategi Kresna yang jitu. Adipati Karna kehilangan senjata Kuntawijaya karena diumpankan ke Gatotkaca adalah kecerdikan Kresna pula.

Kresna menyadari bahwa Pandawa adalah orang yang lurus, jujur dan lugu. Apabila Pandawa menghadapi Kurawa dengan cara yang lugu dan polos maka akan mudah dikalahkan. Apalagi harus menghadapi saudara yang disayanginya, guru-guru yang dihormati dan musuh-musuh yang culas. Pandawa tidak tega menghabisi mereka. Tega Larane Ora Tega Patine.

Karena Kurawa itu licik maka harus dihadapi dengan strategi yang cerdik. Sehingga, Kekuatan menjadi berimbang. Kresna hadir untuk mengisi kekosongan ini. Kurawa memiliki Resi Durna, Sengkuni dan Bisma yang lebih berpengalaman dan Pandawa menghormati mereka.

Kecerdikan Kresna terlihat sejak permulaan perang. Kresna memilih menjadi sais Kereta Perang Arjuna. Kresna telah berjanji tidak akan mengangkat senjata dalam perang Baratayuda. Meskipun tidak mengangkat senjata. Kresna yang merencanakan seluruh strategi perang pihak Pandawa.

Resi Bisma sangat dihormati pihak Pandawa. Arjuna enggan dan setengah hati melawan. Akhirnya, Kresna dan Pandawa menghadap Resi Bisma di kemah untuk menanyakan kelemahannya. Kelemahan Resi Bisma salah satunya adalah tidak akan melawan jika bertarung dengan wanita.

Maka, Istri Ajuna yaitu Srikandi yang diajukan untuk menghadapi Resi Bisma. Karena yang menyerang adalah wanita dan titisan Dewi Amba yang dicintai oleh Resi Bisma.  Resi Bisma tidak melawan. Resi Bisma tumbang dan dapat dikalahkan. Hanya karena Resi Bisma memiliki kesaktian untuk dapat menentukan sendiri saat kematiannya. Resi Bisma meninggal di akhir Perang Baratayuda.

Resi Durna sangat sulit dikalahkan. Kresna membuat siasat dengan menyuruh Bima untuk membunuh Gajah yang bernama Aswatama. Nama yang mirip dengan nama anak Resi Durna. Ketika Gajah itu mati maka Bima berteriak, “ Aswatama mati…!!!!”. Resi Durna mendengar nama Aswatama.

Resi Durna limbung, histeris dan sedih. Karena Aswatama adalah anak satu-satunya yang sangat dicintai. Dia bertanya kepada Yudhistira menanyakan keadaan Aswatama. Resi Durna percaya bahwa Yudhistira tidak akan berbohong. Maka, Yudhistira menjawab dengan jawaban bersayap, “Aswatama mati”. Entah itu gajah atau anak dari Resi Durna. Resi Durna akhirnya mati ditangan Drestajumna dalam keadaan sedih dan tertipu.

Adipati Basukana yang menyerang Pandawa di malam hari. Ini adalah pelanggaran dalam perang. Kresna dengan sigap mengundang Gatotkaca untuk melawan pamannya sendiri. Perang besar di malam hari terjadi. Entah mengapa, Adipati Basukarna mengeluarkan senjata Kuntawijaya untuk membunuh Gatotkaca.

Gatotkaca memang terbunuh tapi Kuntawijaya hanya sekali pakai. Adipati Basukarna sudah tidak memiliki senjata andalan lagi. Gatotkaca sanggup mengorbankan diri untuk Pandawa. Lain waktu, Adipati Basukarna dibunuh Arjuna. Ini lebih mudah dilakukan. Karena Adipati Basukarna sudah kehilangan senjata pamungkas.

Itulah, beberapa strategi Kresna dalam menghadapi Kurawa. Pandawa mungkin diatas kertas kalah unggul. Namun, karena kecerdikan Kresna maka Pandawa menjadi unggul di medan persang Baratayudha.

Kekalahan dan tumpasnya seluruh Kurawa membuat Dewi Gendari marah besar. Dewi Gendari adalah ibu dari para Kurawa dan Kakak dari Sengkuni. Dia mengutuk Kresna bahwa Kerajaan Dwarawati akan tumpas tanpa bekas. Dewi Gendari marah karena Duryudana mati dipukul pahanya oleh Bima atas saran Kresna.

Hal itu terjadi. Kerajaan Dwarawati tumpas karena rakyatnya saling bunuh. Kresna bersemedi kemudian kakinya kena panah oleh pemburu. Sang pemburu melihat kaki kresna seperti kaki kijang. Kresna akhirnya mati dengan cara Moksa. Kerajaan Dwarawati diterjang badai Tsunami.

Mikul Dhuwur Mendhem Jero

pandawa_putihAmbil dari sini

Pada akhirnya, anak-anak Pandawa gugur semua mulai dari Gatotkaca, Abimanyu, Antareja, Antasena dan Wisanggeni. Huft….!!! Keturunan langsung Pandawa ternyata hanya tersisa satu yaitu Parikesit. Parikesit adalah anak dari Abimanyu dengan istri Dewi Utari, cucu dari Arjuna. Parkesit dilahirkan di masa perang Baratayudha.

Sedih, Kemenangan keluarga Pandawa meninggalkan duka yaitu kematian anak-anak mereka. Kemenangan di Perang Baratayudha harus diiringi dengan kisah sedih itu. Mengapa jalan cerita harus begini?  Masihkah ada kemungkinan skenario kitab Jitabsara dibuat Happy Ending? Kemenangan yang gemilang namun menyedihkan.

Wayang itu salah satu bagian dari kehidupan orang jawa. Wayang adalah tuntunan bagi orang Jawa. Batas yang tipis antara kisah wayang itu nyata atau hanya cerita para pujangga. Karena wayang adalah mitologi jawa meskipun tidak murni. Oleh sebab itu, Kisah wayang harus mengandung ajaran kehidupan atau filosofi hidup. Meskipun, kadang jalan cerita kadang seringkali ironi.

“Othak-Athik Gathuk” itu kata orang Jawa. Saya mengotak-atik dan menghubung-hubungkan sehingga tampak menarik dan berfilosofi hidup. Filosofi hidup dari kematian  para Anak PANDAWA adalah “MIKUL DHUWUR MENDHEM JERO” yaitu Mengangkat kebaikan Orang Tua kita dan Mengubur segala keburukan para Orang Tua kita.

Dikisahkan jika Abimanyu dan Gatotkaca mati di medan peperangan Baratayudha. Antareja harus rela menjadi tawur/kurban  sehingga mati sebelum perang. Antasena dan Wisanggeni yang paling digdaya ternyata moksa sebelum perang Baratayudha.

Antasena dan Wisanggeni adalah dua orang dalam perlindungan Sanghyang Wenang. Keduanya melihat orangtua mereka berperang melawan Kurawa maka keduanya tergerak hati untuk ikut membantu. Mereka merasa mampu dan berkewajiban. Maka, Mereka berdua memohon izin kepada Sanghyang Wenang untuk ikut perang Baratayudha.

Sanghyang Wenang ternyata tidak mengizinkan mereka berdua ikut perang Baratayudha. Sanghyang Wenang meramalkan jika mereka berdua ikut perang maka Pandawa akan kalah. Padahal, Wisanggeni adalah anak yang sakti dan begitu pula Antasena. Wisanggeni pernah mengalah resi Durna. Antasena pernah menduduki Astinapura kemudian dilepaskan kembali atas permintaan para Pandawa. Antasena melakukan sesuatu yang berat yaitu melepaskan Astina yang sudah dalam genggamannya.

Pandawa sebenarnya cukup mengirimkan anak-anak mereka menghadapi Kurawa. Perang Baratayudha dipastikan dimenangkan pihak Pandawa. Pandawa tidak perlu susah payah berperang. Anak-anak Pandawa adalah anak yang berbakti kepada orang tuanya. Pandawa cukup duduk ditemani secangkir teh sambil menunggu perang usai. Dijamin Kurawa mesti tumpas. Astinapura menjadi Karang Abang dan Porak Poranda.

Kitab Jitabsara menjadi basi jika itu terjadi. Para Dewa menetapkan bahwa Perang Baratayudha mesti harus terjadi agar dapat menjadi pelajaran bagi anak cucu manusia. Pelajaran tentang Perjuangan, Kebenaran VS Kebathilan dan Mikul Dhuwur Mendhem Jero. Kitab Jitabsara tidak boleh menjadi basi.

Setinggi apapun kesaktian anak-anak Pandawa dan memang lebih sakti daripada bapak-bapaknya. Tetapi, Orang Tua mereka adalah prioritas utama. Kisah ini menjadi kisah pengorbanan mereka kepada para orang tua. Mereka rela jadi Tawur / Kurban untuk Perang Baratayudha. Karena perang Baratayudha adalah urusan orangtua mereka. Mereka rela untuk berkurban apa saja untuk orangtuanya meski harus gugur di medan perang atau menjadi tawur/ kurban dan moksa sehingga menghilang tanpa bekas.

Itulah sikap Mikul Dhuwur dari anak-anak Pandawa. Mereka akan selalu memanggul (mikul) demi kehormatan orang tua mereka. Apapun yang terjadi bahkan nyawa sekalipun. Mereka rela harus minggir untuk memanggul kehormatan orang tua.

Karena Perang Baratayudha adalah perang “kehormatan” dari masing-masing trah yaitu Trah Pandawa dan Trah Kurawa. Sehingga para Pandawa sendiri yang harus maju perang. Jangan sampai Sejarah menyatakan bahwa mereka adalah para pengecut dengan berlindung dibalik kesaktian anak-anak mereka. Anak-anak Pandawa sedang mengamalkan ajaran “Mikul Dhuwur”.

Anak-anak Pandawa sebenarnya anak-anak yang ditelantarkan. Para Pandawa khususnya Bimasena dan Arjuna adalah Ksatria yang mempunyai anak dimana-mana dari beberapa istri. Anak-anak ini tidak diurus” oleh para bapaknya. Akan tetapi, anak-anak Pandawa tidak pernah mengungkit masalah ini kepada para bapaknya.

Seringkali kisah bercerita bahwa si anak lahir tanpa ditunggui ayahnya dan ditinggal bersama ibunya seperti Wisanggeni dan Antasena. Namun, Anak-anak Pandawa tidak pernah melawan atas perlakuan ini. Mereka memilih jalan “Mendhem Jero”. Apapun yang terjadi maka saya harus menghormati ayah dan Ibu.

Hehehehehe..!!!!! Naif-kah?  Tapi begitulah, Penghormatan kepada orang tua adalah filosofi dalam pewayangan. Menghormati bukan berarti sepakat dalam berbagai hal. Bahkan Para Pandawa pernah bertempur dan dikalahkan oleh anak mereka misal : Wisanggeni. Menghormati tapi tetap bersifat kritis. Kekritisan dibingkai dalam rasa penghormatan.

Namun, setelah ayah mereka mempunyai musuh maka mereka patuh dengan strategi yang dijalankan oleh pihak Pandawa. Antareja harus menjilat kakinya sendiri hingga mati. Wisanggeni dan Antasena juga harus mati sebelum perang. Gatotkaca dan Abimanyu harus mati dalam peperangan. Itu semua dalam bingkai strategi pihak Pandawa yang diotaki sang penasihat militer yaitu Kresna. Mereka manut saja asal untuk kebaikan mereka sendiri di Nirwana.

Anak-anak Pandawa, Mereka patuh menjalani takdirnya untuk kemenangan orang tua mereka. Ini bentuk keyakinan dan kepercayaan mereka. Bahwa menghormati orang tua mereka adalah jalan terbaik menuju kehidupan Nirwana yang lebih Agung dan Abadi.

 

 

 

Kesaktian Antasena

antasena-ang

Sumber : disini

Tokoh ini adalah anak dari Bimasena yaitu Antasena. Jika mengikuti gagrak Surakarta maka Antasena adalah nama lain dari Antareja namun Gagrak Yogyakarta maka Antasena adalah anak bungsu dari Bimasena. Keduanya sama-sama murid Sanghyang Antaboga. Antasena yang paling sakti diantara keluarga Pandawa.

Antasena memiliki kemampuan terbang, ambles bumi dan menyelam. Kesaktiannya lengkap sudah, Gatotkaca yang mampu terbang, Antareja yang mampu ambles bumi masih kalah kelas karena Antasena masih bisa menyelam. Anugerah yang dimiliki oleh Antasena sebagai cucu Batara Baruna yang menguasai lautan.

Wisanggeni yang memiliki kemampan yaitu Upas yang beracun maka Antasena juga memiliki. Kelahiran Antasena juga sedikit dipaksakan. Saat itu, Kahyangan diserbu oleh Prabu Dewa Kintaka dari Kerajaan Guwacinraka untuk merebut Batari Komaratih untuk dijadikan istri. Kala itu, Dewi Urangayu sedang mengandung janin si Antasena. Seperti biasa, sang Ayah janin yaitu Bimasena sudah meninggalkan Dewi Urangayu menuju kerajaan Amarta.

Batara Narada yang menjadi penasehat Batara Guru memiliki ide untuk menghadapi pengacau Kahyangan. Batara Narada mengeluarkan Antasena dari dalam janin ibunya. Antasena dimajukan ke medan perang menghadapi Prabu Dewa Kintaka.Singkat cerita maka Prabu Dewa Kintaka dapat dikalahkan. Kemudian, Antasena dikirim ke Kakeknya Antareja yaitu Sanghyang Antaboga untuk dididik menjadi Ksatria pilih tanding.

Antasena adalah lambang kejujuran. Antasena tidak bisa basa-basi, omongannya lugas dan ngoko cenderung kasar. Sepupunya yaitu Wisanggeni memanggil dia dengan sebutan Cah Edan ( Anak Gila). Antasena sangat urakan, semau gue, polos, lugu dan teguh pendirian. Dia mempunyai loyalitas tinggi ke trah Pandawa.

Anggota Pandawa sangat segan dengan antasena. Trah Pandawa tidak ada yang mengalahkan kesaktian Antasena dan Trah Pandwa juga diselamatkan oleh Antasena berkali-kali.

Pernikahan Dewi Pregiwati dan Raden Pancawala diselamatkan dari gangguan Begawan Durna. Pandawa juga pernah diselamatkan pula dari Ganggatrimuka yaitu Raja Dasar Samodra. Ganggatrimuka adalah sekutu Kurawa. Pandawa dimasukkan ke dalam jeruji besi oleh Ganggatrimuka. Kemudian mereka ditenggelamkan ke dasar Samudra sampai mati.  Pandawa yang sudah mati dihidupkan kembali oleh Antasena dengan Senjata Cupumadusena pemberian dari Kakeknya.

Antasena juga pernah merebut Astina sebelum perang Baratayuda pecah. Prabu Duryudana sudah takluk namun Pandawa tidak merestui aksi Antasena. Antasena dengan legowo mengembalikan Astina ke tangan Prabu Duryudana. Antasena lebih taat kepada orangtuanya meskipun mampu merebut Astina.

Kalau Astina sudah direbut Pandawa sebelum Perang Baratayudha, Apa jadinya Kitab Jitabsara? Hehehehehe…!!!!! nggak ada cerita Perang Baratayudha.

Balada Wisanggeni

450px-bambang_wisanggeniAmbil di sini

Kita masih mengupas wayang asli Indonesia. Wayang yang satu ini bernama Wisanggeni. Wisanggeni adalah anak dari Arjuna dari istri yang bernama Dresnala. Dresnala adalah anak dari Batara Brama. So, Wisanggeni itu seperti Hercules. Wisanggeni itu manusia setengah dewa. Ayahnya manusia dan ibunya seorang dewi.

Kisah ini diawali ketika Batari Durga mengeluh ke suaminya yaitu Batara Guru. Karena Arjuna telah menikahi Dresnala padahal Dewasrani menginginkan Arjuna juga. Naluri Ibu yang ingin memberikan  yang terbaik buat anak membuncah. Batara Guru menjadi resah. Batara Guru adalah Raja para Dewa. Mitologi Yunani mungkin selevel dengan Zeus.

Anak polah Bopo Kepradah demikian peribahasa jawa. Batara Guru berusaha agar Arjuna berpisah dengan Dresnala. Batara Guru memerintahkan Batara Brama agar menceraikan Arjuna dengan Dresnala. Batara Narada sebagai penasihat Batara Guru menentang, dia memilih mundur dari posisi penasehat demi membela Arjuna.

Ternyata, Dresnala sudah mengandung anak dari Arjuna yaitu Wisanggeni. Batara Brama berusaha menggugurkan. Dresnala dihajar oleh Batara Brama, ayahnya sendiri. Ajaib, Bayi itu lahir sebelum waktunya. Bayi itu dibuang oleh batara brama ke kawah candradimuka. Dresnala di-“aman”-kan oleh Batari Durga dan anaknya yaitu Dewasrani. Dresnala dibawa ke Kerajaan Tunggulmaya.

Batara Narada diam-diam menyelamatkan sang bayi dengan mengambil dari Kawah Candradimuka. Ajaib, Bayi itu berubah menjadi seorang pemuda yang gagah perkasa. Batara Narada memberi nama sang pemuda yaitu Wisanggeni. Wisanggeni berasal dari dua kata yaitu Wisa (Upas) dan Geni (Api). Karena Wisanggeni lahir dari kemarahan kakeknya yaitu Batara Brama yang juga sebagai Dewa penguasa api. Kawah Candradimuka tidak membunuhnya tapi menghidupkannya bahkan menguatkan.

Wisanggeni dibawah perlindungan Sanghyang Wenang. Sanghyang Wenang adalah leluhur dari Batara Guru. So, Batara Guru tidak bisa mengalahkan Wisanggeni karena beking lebih kuat. Wisanggeni menjelma menjadi sakti tiada tara. Para Dewa tidak mampu melawannya. Batara Guru bahkan pernah harus ngacir dari Kahyangan Jonggringsaloka menuju dunia manusia. karena ulah Wisanggeni atas saran Batara Narada.

Wisanggeni tidak terkalahkan karena perlindungan Sanghyang Wenang. Sekali lagi, beking itu penting. Hahahahaha…!!!!! Batara Guru dan Batara Brama mengakui kesalahan dan bertobat pada akhirnya. Karena konspirasi mereka sungguh jahat dan tidak mencerminkan kode etik seorang Batara. Emang, kalau udah kalah biasanya emang begitu. “Tobat deh…!!!! “.

Wisanggeni sifatnya jujur, lugu dan pemberani. Wisanggeni dianggap gila di kahyangan. Wisanggeni jika berbicara dengan bahasa jawa kasar (Ngoko) namun dialeknya halus kepada siapapun kecuali dengan Sanghyang Wenang. Dia orangnya lurus dan tidak terkalahkan namun sangat emosional dan tidak matang. Orang macam begini sungguh merepotkan.

Wisanggeni menghadap kepada sang ayah yaitu Arjuna di kerajaan Amarta. Arjuna tidak langsung percaya. Maklum, banyak yang mengaku sebagai anaknya. Karena banyak pula yang dihamilinya. Hehehehehehe…!!!!! Wisanggeni akhirnya beradu kekuatan dengan Arjuna. Wisanggeni memang pilih tanding, semua Pandawa dapat dikalahkannya. Baru, Arjuna mengakui Wisanggeni sebagai anaknya. Hehehehehe…!!!!! Kalau udah kalah biasanya ya begitu. Akui aja deh….!!!!!

Wisanggeni menceritakan semua kisah ibunya sampai kisah dia sendiri. Wisanggeni melakukan “operasi pembebasan “ ibunya yang diculik oleh Batari Durga dan Dewasrani. Sekali lagi, Wisanggeni menunjukkan kelas yaitu “INVICIBLE”. Operasi Pembebasan berjalan sukses.

Anak Polah Bapa Kepradah, Anak membuat ulah maka orangtua ikut bertindak. Karena Dewasrani merengek-rengek minta dikawinin dengan Arjuna maka membuat batari Durga menjadi gelap mata. Dia paksa Batara Guru melakukan kejahatan. Batara Guru memaksa Batara Brama menceraikan anaknya. Sungguh tindakan tidak terpuji. Ini semua karena permintaan anaknya. Akibatnya fatal, karena muncul ksatria yang mempermalukan Batara Guru sekeluarga.

Batara Guru adalah pimpinan para Dewa. Batara Guru harus menanggung kekalahan malu karena ulah anaknya bahkan seluruh anggota keluarganya. Itulah filosofi jawa, Anak Polah Bapa Kepradah. Saya juga belajar untuk menyayangi anak saya tanpa harus gelap mata. Hehehehehehe…!!!!