Kesedihan Prabu Destarata

Pandhu diangkat sebagai raja di Hastinapura. Karena kakaknya yaitu Destarata dalam keadaan buta. Buta yang disebabkan menutupnya kelopak mata sang Ibu saat bertemu Begawan Abiyasa. Destarata hanya menjadi “pejabat sementara” sebagai Raja ketika Prabu Pandhu sedang tidak di Istana.

Prabu Pandhu yang menyepi di hutan sampai ajal menjemput. Karena Prabu Pandhu mendapat kutukan Resi Kindama. Destarata dikukuhkan sebagai Prabu Destarata di Kerajaan Hastinapura setelah kematian Prabu Pandhu Dewanata. Prabu Pandhu Dewanata meninggalkan lima anak yang disebut PANDAWA LIMA.

Prabu Destarata memiliki seorang istri bernama Dewi Gendari. Mereka berdua memiliki seratus anak yang disebut KURAWA. Duryudana adalah anak sulung dari Prabu Destarata. Suatu saat, Bisma dan Widura mengingatkan kepada Prabu Destarata bahwa Duryudana adalah anak yang akan membawa angkara murka.

Prabu Destarata sangat menyayangi anak-anaknya. Prabu Destarata cenderung “Welas Tanpa Alis”. Welas Tanpa Alis adalah Kasih Sayang yang berlebihan tanpa syarat. Ini menyebabkan kerugian. Kutukan Dewi Drupadi atas Dursasana yang menarik kemben. Sumpah Bima karena ulah Duryudana atas Dewi Drupadi . Prabu Destarata membiarkan semua tanpa memperingatkan kepada Dursasana dan Duryudana.

Pandawa Lima beranjak dewasa. Usia mereka seangkatan yaitu Pandawa dan Kurawa. Pandawa Lima menuntut hak atas Kerajaan Hastinapura. Emang mereka yang berhak. Karena mereka adalah anak-anak Prabu Pandhu Dewanata.

Duryudana juga menuntu hak yang menjadi raja. Padahal, niat semula adalah Prabu Destarata cuman menjadi “pejabat sementara” sampai Pandawa Lima dewasa. Duryudana beralasan bahwa Ayahnya juga Raja Kerajaan Hastinapura.

Keruwetan ini ditengahi oleh sang kakek yaitu Bisma. Bisma mengusulkan bahwa Kerajaan Hastinapura dibagi dua. Separuh wilayah kerajaan Hastinapura diberikan kepada anak-anak Prabu Destarata. Pandawa Lima diberi sisanya yaitu di Kandawaprasta.

Kandawaprasta adalah lokasi kerajaan Hastinapura yang awal. Ini adalah wilayah yang kering, miskin, dan berpenduduk jarang. Pandawa Lima yang dipimpin Yudistira dibantu oleh Kresna dan Baladewa. Mereka mengubah daerah gersang tersebut menjadi makmur dan megah, dan dikenal sebagai Kerajaan Amarta atau Indraprastha.

Indrapastha mengalami kejayaan. Yudhistira bermaksud mengadakan acara Sesaji Rajasuya. Acara yang bertujuan mengungkapkan rasa Syukur kepada Sang Maha Kuasa. Seluruh raja dari kerajaan tetangga diundang termasuk Kerajaan Hastinapura.

Kurawa datang ke acara Sesaji Rajasuya. Mereka adalah Duryudana, Dursasana, Sengkuni beserta Kurawa datang di acara Sesaji Rajasuya. Mereka melihat kemegahan Indraprastha. Timbul rasa iri dan dengki di kalbu Duryudana. Ide liar bermunculan termasuk mencaplok wilayah Indraprasta.

Hasutan Sengkuni membuat dada Duryudana lebih sesak. Mereka bersekongkol untuk mengajak Yudhistira bemaina Dadu. Permainan yang disukai Yudhistira tetapi Sengkuni lebih mumpuni. Mereka hendak merebut Indraprastha via permaian dadu tanpa perang.

Singkat cerita, Pandawa kalah habis-habisan. Semua habis diambil oleh Kurawa mulai uang, kerajaan bahkan istri. Pandawa harus mengasingkan diri selama 12 tahun. Masa pengasingan inilah yang menempa Pandawa Lima menjadi lebih kuat. Pelatihan sebelum perang sejati dimulai yaitu Perang Baratayudha Jaya Binangun.

Prabu Destarata hanya diam saja tanpa melakukan apapun. Prabu Destarata hanya mampu memerintahkan untuk mengembalikan harta dan kerajaan yang direbut Kurawa. Meskipun firasatnya berbicara bahwa ini awal kehancuran keturunannya.

Prabu Destarata paling bersedih karena dalam permainan dadu muncul dua kutukan untuk kedua anaknya yaitu Dursasana dan Duryudana. Karena kutukan ini maka kedua anaknya akan mati ditangan Bima. Dosa Duryudana dan Dursasana adalah melecehkan Dewi Drupadi.

Duryudana yang merasa sudah menguasai dewi Drupadi. Dia menyuruh dewi drupadi duduk di pahanya. Bima sangat marah maka berjanji akan membunuh Duryudana dengan mematahkan pahanya. Sumpah Bima adalah kutukan bagi Duryudana.

Dursasana yang bernafsu menarik selendang dewi drupadi di balairung kerajaan. Dewi Drupadi memohon kepada dewa untuk memanjangkan selendangnya. Doa Dewi Drupadi dikabulkan sehingga Dursasana tidak bisa melucuti selendang sampai dia kelelahan sendiri.

Dewi Drupadi bersumpah tidak akan melepas ikatan rambut. Dewi Drupadi akan melepas ikatan rambut setelah keramas dengan darah Dursasana. Dursasana sangat ketakutan akan sumpah dewi drupadi. Bima menyanggupi akan membunuh dursasana dan mempersembahkan darah dursasana  untuk dewi drupadi.

Prabu destarata sangat sedih. Karena Prabu Destarata sadar hal itu akan terjadi. Prabu Destarata juga meyakini bahwa Duryudana dan Dursasana akan mati ditangan Bima. Prabu Destarata tidak memiliki penerus setelah Kurawa.

Prabu Destarata sangat benci dengan Bima di akhir masa perang. Prabu Destarata kehilangan seluruh keturunannya. Bima adalah Jagal yang paling banyak membunuh kurawa. Bagaimanapun dosa Kurawa itu menggunung tinggi. Kasih Sayang orang tua sepanjang masa. Maka, Rasa benci itu adalah manusiawi.

Alkisah, setelah perang Baratayuda selesai. Pandawa Lima menghadap Prabu Destarata. Pandawa Lima ingin mengangkat Prabu Destarata menjadi sesepuh kerajaan. Prabu Destarata memanggil Bima. Prabu Destarata ingin memeluk Bima. Kresna sudah “waskita” bahwa ada niat buruk dari prabu Destarata.

Prabu Destarata mempunyai kesaktian untuk meremukkan batu. Kalau Bima dipeluk maka bisa diremuk oleh Prabu Destarata. Prabu Destarata yang buta maka tidak tahu yang terjadi disekitarnya. Kresna melakukan sebuah muslihat.

Kresna mengajukan sebuah batu yang berbentuk Bima. Prabu Destarata memeluk dan meremukkan batu itu sampai pecah berkeping-keping. Prabu Destarata awalnya menduga itu Bima ternyata hanya batu. Prabu Destarata minta maaf atas tindakan pengecut tersebut.

Prabu Destarata, Dewi Gendari dan Dewi Kunti akhirnya menyepi ke tengah hutan. Mereka bertapa mendekat diri kepada Sang MAHA KUASA. Hutan tersebut terbakar karena api suci. Api Suci yang sejatinya sebagai kelengkapan Prabu Destarata untuk bertapa. Prabu Destarata meninggal dunia bersama sesepuh kerajaan Hastinapura dalam kesedihan.  

Advertisements

Ironi Sang Prabu

Destarata dan Pandu mulai beranjak dewasa. Karena Destarata mengalami kebutaan maka Tahta diserahkan kepada Pandu. Dia bergelar Prabu Pandhu Dewanata. Prabu Pandhu memiliki dua istri yaitu Dewi Kunti dan Dewi Madrim. Yang paling terkenal adalah anak-anak dari Sang Prabu yaitu PANDAWA LIMA.

Sang Prabu suka berburu dengan memanah. Tatkala melihat sepasang kijang sedang bersenggama maka langsung dipanah. Mungkin itu naluri seorang pemburu. Sayang, Sang Prabu tidak mengetahui bahwa kijang itu adalah jelmaan sang resi kindama dan istri . Ketika itu sang resi sedang bersenggama dalam wujud Kijang. Siapa yang tau bro…? That’s too bad.

Sebelum meninggal maka sang resi Kindama mengucapkan kutukan kepada sang Prabu. “Sang Prabu akan meninggal dunia ketika sedang bersenggama”, Kira-kira begitu kutukannya. Aduh…., Sang Prabu belum mempunyai keturunan padahal ada dua istri. Mereka juga terancam “menganggur”.Ini sebuah ironi.

Karena telah dikutuk. Sang Prabu Pandhu Dewanata memutuskan untuk menyepi menjadi pertapa. Kerajaan Astinapura diserahkan kepada Destarata. Sang Prabu ditemani oleh dua orang istri yaitu Dewi Kunti dan Dewi Madrim. Itu hukuman berat…. Ketika masih produktif tetapi tidak boleh disalurkan. Apalagi belum punya anak.

Masalah yang kedua adalah masalah keturunan. Emang, Keturunan selalu menjadi inti pokok masalah di Trah ini. Prabu Pandu terancam tidak mempunyai keturunan. Bagaimana mau punya keturunan? Bersenggama saja dikutuk. Padahal,mempunyai keturunan adalah keniscayaan untuk meneruskan kekuasaan. Masalah yang selalu dihadapi oleh keturunan Prabu Sentanu.

Hufftt…. Selalu ada jalan keluar. Dewi Kunti menguasai mantera tertentu yang bisa memanggil dewa yaitu mantera Adityaredhaya. Mantera ini diajarkan oleh Resi Druwasa. Dewi Kunti pernah main-main dengan mantera itu maka datang Batara Surya. Karena kebablasan maka dewi Kunti mengandung anak dari Batara Surya. Kejadian ini sebelum menjadi istri Prabu Pandhu Dewanata. Dewi Kunti akan dikupas dalam tulisan tersendiri.

Dewi Kunti memanggil tiga batara yaitu Batara Darma, Batara Bayu dan Batara Indra dengan menggunakan mantera Adityaredhaya. Kunti melahirkan Yudhistira dari Batara Darma, Bima adalah putera dari Batara Bayu dan Arjuna adalah putera Batara Indra.

Prabu Pandhu mengusulkan agar Dewi Madri juga diajari mantera Adityaredhaya. Dewi Madrim memanggil Batara Aswin maka lahir dua anak kembar yaitu Nakula dan Sadewa.

Ah….Case closed. Prabu Pandu Dewanata mempunyai lima anak yaitu Yudhistira, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa. Mereka berlima disebut PANDAWA LIMA. Prabu Pandhu Dewanata berbahagia. Karena penerus tahta sudah lahir. Ada masalah lain yang menghantui Sang Prabu Pandhu Dewanata yaitu KUTUKAN SENGGAMA.

Prabu Pandhu pergi bertapa salah satu tujuannya adalah mengendalikan libido. Manusia tetaplah manisia. Ketika itu libido sedang memuncak sehingga Prabu Pandhu bersenggama dengan dewi Madri. Kutukan Resi Kindama berlaku. Ini berakibat Prabu Pandhu meninggal dunia. Dewi Madri sangat bersedih dan merasa bersalah.

Jenazah Prabu Pandhu Dewanata dibakar dalam sebuah upacara perabuan. Dewi Madri merasa bersalah maka dia terjun ke dalam api pembakaran (Sati) sang suami. Ini sebagai wujud kesetiaan dan penyesalan atas sebab kematian sang Prabu .Kedua anaknya yaitu Nakula dan Sadewa dititipkan ke Dewi Kunti.

Ironi kehidupan sang Prabu. Semua ada dan tersedia. Karena kutukan dari sang resi merubah segalanya.

Begawan Abiyasa, Sang Penolong Trah

Ketika Wicitrawirya meninggal dunia. Dewi Satyawati sangat sedih. Dia teringat ketika awal menikah dengan Prabu Sentanu. Dia membuat syarat bahwa yang menjadi penerus kerajaan Hastinapura harus dari keturunannya. Ternyata, Semua anak dari Prabu Sentanu meninggal dunia semua. Dia menghiba agar Bisma mau jadi raja Astinapura. Ternyata, Dewabrata sudah nyaman menjomblo sampai akhir hayat (Brahmacarin).

Dewi Satyawati tidak kehilangan akal. Dia teringat bahwa masih punya anak dari keturunan Resi Palasara. Anaknya yang sudah menjadi Begawan. Dia bernama Begawan Abiyasa.  Begawan Abiyasa ini memang sakti. Begawan ini mampu memberi keturunan kepada para istri Wicitrawirya (Ambika dan Ambalika) tanpa harus bersetubuh tapi cukup melangsungkan suatu Yajna (Upacara Suci).

Ambika mendapat giliran pertama melakukan Yajna. Karena Begawan Abiyasa memang bukan Ksatria namun seorang pertapa. Ambika menutup mata secara spontan karena takut dengan sang Begawan. Sang begawan mengatakan bahwa anak Ambika akan terlahir dalam keadaan Buta. Hufft….Sang Dewi Satyawati sebenarnya sudah mengingatkan Ambika untuk jangan menutup mata. Karena sang dewi udah mengetahui konsekuensi dari menutup mata. Eeeee… terjadi pula.

Ambalika belajar dari pengalaman Ambika. Dia bertekad tidak menutup mata. Ambalika ternyata ketakutan dan wajah pucat pasi ketika ketemu Begawan Abiyasa. Namun, Ambalika kedua matanya tetap terbuka. Hufft….Tidak buta. Tapi, Sang begawan mengatakan anak Ambalika akan terlihat pucat. Yah…..sedih juga.

Dewi Satyawati masih belum menyerah. Ambika dan Ambalika diminta menghadap lagi ke Begawan Abiyasa. Sayang, Mereka udah menyerah. Mereka berdua meminta seorang dayang untuk mewakili mereka. Dayang itu bersikap tenang selama upacara berlangsung. Anak yang dilahirkan dalam keadaan sehat wal afiat tanpa kekurangan apapun. Dia bernama Widura.

Ambika melahirkan anak yang buta. Dia adalah Destarata. Kelak anak keturunan dari Destarata disebut dengan Korawa. Ambalika melahirkan anak yang lemah. Dia adalah Pandu. Anak keturunan dari Pandu disebut dengan Pandawa. Dua trah ini yang memperebutkan kerajaan Astinapura dalam sebuah perang yang disebut perang Baratayudha.

Ambisi Dewi Satyawati terhadap keturunannya menyebabkan peperangan diantara mereka sendiri. Bahkan skenario perang besar ini sudah tertulis dalam sebuah kitab yang disebut kitab Jitabsara. Ini sebuah pesan filosofis. Bahwa menjalankan hidup lebih baik Narima Ing Pandum daripada memperturutkan hawa nafsu. Karena kita tidak tahu akibat dari nafsu duniawi yang ada di dalam diri kita sendiri.

Wicitrawirya Mencari Istri

Sesuai dengan tradisi, maka Wicitrawirya menggantikan kekuasaan Citranggada. Pada waktu itu usia Wicitrawirya juga masih muda. Karena Wicitrawirya masih muda untuk melanjutkan pemerintahan. Bisma ditunjuk untuk membantu saudara tirinya, Bisma. Satyawati sebagai sang ibu menjadi khawatir dengan keberlangsungan keturunan Prabu Santanu. Karena Citranggada meninggal tanpa keturunan.

Satyawati menyampaikan kekhawatirannya kepada Bisma. Bisma menyanggupi untuk meminang ketiga putri dari kerajaan Kasipura atau Giyantipura untuk Wicitrawirya. Bisma mengkuti sayembara di Kerajaan Kasipura untuk mendapatkan ketiga putri yaitu Amba, Ambika dan Ambalika.

Raksasa Wahmuka dan Raksasa Arimuka memiliki tiga saudara perempuan yaitu Amba, Ambika dan Ambalika. Ketika mereka meningkat dewasa, Arimuka dan Wahmuka sepakat mengadakan sayembara untuk mencari calon suami untuk mereka bertiga atas izin Prabu Darmamuka dari Kerajaan Giyantipura.

Pelamar yang sanggup mengalahkan Arimuka dan Wahmuka, akan dinikahkan dengan ketiga putri raja itu. Wahmuka dan Arimuka memiliki kesaktian yang hebat. Apabila salah satu di antara mereka mati, dan yang lain melompati mayat saudaranya, maka yang mati akan hidup kembali. Tetapi membunuh kedua raksasa juga tidak mudah, karena Arimuka dan Wahmuka memiliki ilmu kebal.

Banyak ksatria dan raja yang mengikuti sayembara itu, tetapi semuanya dapat dikalahkan oleh Arimuka danWahmuka. Bisma yang hanya bisa mengalahkan mereka berdua. Keduanya gugur karena bocoran rahasia dari Ki Lurah Semar.  Dewabrata mendapat rahasia tentang bagaimana cara membunuh kedua raksasa kakak beradik itu.

 Menurut Semar, kedua raksasa sakti itu sebenarnya adalah penjelmaan air kawah dan ari-ari ketiga putri Prabu Darmamuka itu. Keduanya kebal dan tidak mempan segala macam senjata. Oleh karena itu, untuk dapat membunuhnya kedua telapak tangan Dewabrata harus dilumuri dengan kunir (kunyit) dan apu (kapur sirih).

Jika Dewabrata dapat memukul mereka bersama-sama sekaligus, maka Wahmuka dan Arimuka pasti akan mati.Ternyata, Saran Semar itu terbukti. Kedua raksasa itu mati dalam waktu bersamaan dan tidak bangun lagi. Karena Dewabrata menempeleng dalam waktu yang bersamaan. Bisma berhasil mengalahkan Wahmuka dan Arimuka. Keduanya kembali ke wujud asli yaitu kawah dan ari-ari.

Dewabrata dapat membunuh Wahmuka dan Arimuka maka berhak atas ketiga putri yaitu Amba, Ambika danAmbalika. Ketiga-tiga putri diboyong ke Hastinapura. Di tengah perjalanan, Dewi Amba memohon kepada Resi Bisma agar dibebaskan, karena dia telah mempunyai seorang kekasih yang bernama Prabu Citramuka dari kerajaan Srawantipura. Permintaan Dewi Amba dikabulkan dan pergilah ia menyusul Prabu Citramuka.

Tetapi Prabu Citramuka menolak Dewi Amba. Karena Dewi Amba telah menjadi milik Dewabrata seperti dalam ketentuan sayembara. Kemudian Dewi Amba kembali menemui Dewabrata dan memohon agar diperkenankan ikut bersama saudarinya yaitu Ambika dan Ambalika ke Hastinapura.

Dewabrata tidak dapat menerima kembali dewi Amba sebagai putri boyongan. Karena Bisma sudah melepas dewi Amba.  Dewi Amba memaksa sehingga menimbulkan kemarahan Dewabrata. Bisma mengancamnya dengan menodongkan pusakanya.

Tanpa sengaja anak panah terlepas dari busurnya dan meluncurmengenai dada Dewi Amba. Sebelum meninggal Dewi Amba mengeluarkan kutukan kepada Dewabrata. Dewi Amba akan membalas dendam dengan perantara seorang prajurit wanita dalam perang Bharata Yudha.

Titisan dewi Amba masuk ke tubuh Dewi Srikandi, Istri Arjuna. Srikandi adalah putri dari Prabu Drupada dan Dewi Gandawati. Kisahnya akan ditulis di postingan selanjutnya.

Petaka Atas Nama Citranggada

Prabu Sentanu dan Dewi Satyawati memiliki anak yaitu Citranggada dan Wicitrawirya. Keduanya adalah saudara seayah dengan Dewabrata. Dewabrata alias Bisma bersumpah menjadi Brahmanacarin (Resi) dan Wadat alias tidak akan menikah. Karena baktinya kepada ayahnya, Dewa memberi kesaktian yang tiada tara (Mahawira) yaitu  tidak dapat mati kecuali atas kemauan sendiri.

Prabu Sentanu dan Dewi Satyawati memiliki anak yaitu Citranggada dan Wicitrawirya. Keduanya adalah saudara seayah dengan Dewabrata. Dewabrata alias Bisma bersumpah menjadi Brahmanacarin (Resi) dan Wadat alias tidak akan menikah. Karena baktinya kepada ayahnya, Dewa memberi kesaktian yang tiada tara (Mahawira) yaitu  tidak dapat mati kecuali atas kemauan sendiri.

Alkisah, Seorang Raja Gendruwo yang juga bernama Citranggada memberi surat tantangan. Raja Gendruwo marah karena merasa ada dua raja dengan nama yang sama. Kedua Raja tidak mungkin akan hidup bersama dalam satu zaman, maka ia berpikir bahwa salah satu di antaranya harus mati. Citranggada putra Santanu menerima tantangan tersebut. Menurut Adiparwa, pertempuran mereka berlangsung di tepi sungai Saraswati. Citranggada manusia dan Citranggada Gendruwo sama-sama kuat dan sakti. Namun, Citranggada gandarwa lebih mahir dalam tipu muslihat. Setelah pertempuran sengit berlangsung selama tiga tahun, Citranggada putra Santanu akhirnya gugur.

Kebaikan Bisma

Raja Sentanu sedang berjalan-jalan di tepi sungai Gangga. Tiba-tiba, Sang Raja terpana dengan kecantikan seorang wanita di tepi sungai Gangga. Sang Raja sekonyong-konyong ingin menikahinya. Wanita itu bernama Dewi Gangga. Raja Sentanu sangat ngebet banget menikahi sang dewi. Dewi Gangga dengan elegan menerima pinangan sang raja dengan satu syarat.

Karena udah tidak tertahankan. “Apapun syaratnya akan kupenuhi”, jawab sang Raja. Gunung ku daki dan Laut kan ku seberangi, begitulah rayuan orang yang sedang jatuh cinta. Syaratnya adalah ,  “Raja tidak boleh melarang apapun yang akan dilakukan sang Dewi apalagi yang agak di luar nalar dan moral”. Artinya, Raja harus kasih kebebasan 100 % kepada sang dewi.

Kepalang basah, Asal kau bisa kunikahi. Raja Sentanu sangat girang bukan kepalang. Mereka hidup dalam kebahagiaan. Namun, ada yang aneh dari sang dewi gangga. Dewi Gangga selalu membunuh setiap anak yang dilahirkan. Raja Sentanu sangat galau. Tapi, Raja terlanjur janji. Sabda Pandhita Ratu Tan Kena Wola Wali

Ternyata, Bisma merupakan reinkarnasi dari salah satu Delapan Wasu yang bernama Prabasa. Itu berdasarkan  kitab Adiparwa. Karena Prabasa dan para Wasu lainnya berusaha mencuri sapi milik Resi Wasista, maka mereka dikutuk agar terlahir sebagai anak manusia.

Dalam perjalanan menuju Bumi, mereka bertemu dengan Dewi Gangga yang juga dikutuk untuk turun ke dunia sebagai istri putra Raja Pratipa, yaitu Sentanu.

Para Wasu membuat kesepakatan dengan sang dewi bahwa mereka akan menjelma sebagai delapan putra Prabu Sentanu yang dilahirkan oleh Dewi Gangga. Untuk meringankan penderitaan yang harus mereka tanggung di dunia manusia. Sang dewi hanya membiarkan mereka hidup sementara

Sampai anak yang kedelapan. Sang Dewi Gangga bersiap-siap membunuh si jabang bayi. Raja Sentanu merasa perih sekali tak tertahan. Raja Sentanu menegur sang dewi yang akan membunuh anak mereka yang kedelapan. Sang Dewi marah. Raja melanggar janji.

Anak yang kedelapan dari Dewi Gangga diberi nama Dewabrata.
Dewabrata berarti “disukai para dewa”. Dewabrata adalah Wasu yang paling bertanggung jawab atas usaha pencurian sapi tersebut. Maka dari itu, sang dewi membiarkannya hidup lebih lama dibandingkan Wasu lainnya.

Karena Raja Sentanu melanggar janji maka sang dewi pergi dengan membawa anaknya yang ke delapan. Setelah 36 tahun, Raja Sentanu dipertemukan dengan sang anak dan Dewi Gangga. Dewi Gangga menyerahkan hak asuh Dewabrata kepada Raja Sentanu. Karena Dewabrata diasuh oleh Raja Sentanu. Dewabrata menjadi putra mahkota Hastinapura.

Huffft… Masalah  selesai. Eitsss…….tunggu dulu. Raja Sentanu yang ditinggal Dewi Gangga dan mendapat anak Dewabrata terpikat seorang wanita yang bernama Satyawati. Sang Raja Sentanu meminta izin ke Ayah Satyawati. Ini membuktikan Raja Sentanu adalah Raja yang bijaksana. Tidak asal ambil anak orang. Raja yang berkuasa masih menunjukkan kebijaksanaan.

Lha ini yang membuat pusing sang Raja.  Ayah Satyawati bersedia menyerahkan putrinya dengan syarat bahwa keturunan Satywati diberikan hak atas takhta Hastinapura. Alias keturunannya yang harus jadi raja. Ayah Satyawati pinter juga. Hehehehe…

Raja Sentanu tidak bisa menyanggupi syarat tersebut. Dewabrata sudah menjadi penerus takhta. Raja Sentanu sedih dan kembali ke Hastinapura. Raja Sentanu jatuh sakit karena gagal menikahi Satyawati. Sulitnya dapat istri karena syarat yang berat.

Dewabrata sebagai anak yang berbakti. Dia mengorek informasi dari kusir pribadi sang prabu. Maklum, Kendaraan dinas raja adalah kereta bukan mobil. Jadi bukan sopir pribadi tapi kusir pribadi. Dewabrata menemukan penyebab ayahnya jatuh sakit. Dewabrata  segera berangkat menuju kediaman Satyawati.

Dewabrata bersumpah tidak akan mewarisi takhta Hastinapura di hadapan ayah Satyawati. Dia menyerahkan hak tersebut kepada keturunan Satyawati. Ehhh…Ayah Satyawati masih belum percaya. Pertikaian perebutan takhta antara keturunan Bisma dan keturunan Satyawati masih bisa terjadi. Dewabrata tidak kurang akal.

Dewabrata bersumpah tidak akan menikah seumur hidup. Ini untuk menghindari pertikaian perebutan kekuasaan. Hmmm…..Baru Satyawati diserahkan ke Raja Sentanu. Raja Sentanu merasa senang sekali.

Karena pengorbanan Dewabrata. Dewabrata diberi nama Bisma oleh ayahnya, dan diberi kemampuan mampu bersahabat dengan Sang Dewa Waktu.  Sehingga, Bisma bisa menentukan waktu kematiannya sendiri.

Nama Bisma dalam bahasa Sanskerta berarti “mengerikan” atau “mengundang ketakutan”, karena ia amat disegani musuh-musuhnya dan keberaniannya ditakuti oleh para kesatria pada masanya.

Nama Dewabrata diganti menjadi Bisma semenjak ia melakukan bhishan-pratigya, yaitu sumpah untuk membujang selamanya dan tidak akan mewarisi tahta ayahnya.

Oleh sebab itu, Bisma dapat pula berarti “yang sumpahnya dahsyat (hebat)”, karena ia bersumpah untuk hidup membujang selamanya dan tidak mewarisi takhta kerajaannya, untuk mencegah terjadinya perselisihan antara keturunannya dengan keturunan Satyawati.

< –>

Bima Suci

Sumber : disini

Tubuhnya besar dan gempal. Dia mempunyai brewok yang lebat. Kalau berbicara tidak bisa halus kepada siapa saja. Orangnya tulus, pemberani dan sakti. Adik dari Puntadewa. Dia adalah sang Bima yang perkasa.  Bima adalah anak kedua dari Pandawa Lima

Bima atau Werkudara hanya berbicara halus kepada seorang saja yaitu Dewa Ruci. Dewa Ruci adalah guru sejati bagi Werkudara. Resi Drona saat itu sedang menggunakan akal liciknya untuk menyingkir Werkudara. Maka, Werkudara ditugaskan mencari Tirta Prawitasari ke dasar Samudra.

Tirta Prawitasari atau Air Kehidupan sebenarnya ada di dasar hati manusia. Karena bujukan Sengkuni atas Drona maka Bima ditugaskan mencari Tirta Prawitasari. Sengkuni berharap jika Bima masuk ke dalam samudra maka dia akan mati terbunuh oleh makhluk dasar laut.

Karena Werkudara itu tulus dan patuh kepada gurunya. Werkudara mengerjakan dengan sepenuh hati tanpa dia pikir panjang. Perintah Gurunya maka Sami’na Wa Atho’na ( Kami mendengar dan Kami Taati). Rantai komando harus ditaati tanpa bantahan. Werkudara masuk ke dalam dasar samudra.

Bima menyelam ke dalam samudra bertemu dengan dua Raksasa yaitu Rukmaka dan Rukmakala. Dua raksasa tersebut dihajar sampai tewas. Ternyata, Dua raksasa itu adalah jelmaan Batara Bayu dan Batara Indra yang disumpah oleh Batara Guru jadi Raksasa. Karena Dua Raksasa itu telah mati maka dua batara yang disumpah naik ke Kahyangan.

Werkudara bertemu dengan Naga bernama Nemburnawa maka sang Naga dihajar habis. Kuku Pancanaka yang dipakai werkudara telah merobek sang Naga. Sang Naga tewas dengan mengenaskan. Selesai berkelahi, Werkudara duduk termenung.

Werkudara bingung kemana lagi harus mencari Tirta Prawitasari. Sengkuni dan kroni mungkin baru terkekeh-kekeh membicarakan ketololan Werkudara. Tetapi, Kalau Sengkuni tau keadaan Bima saat itu. Maka siapakah yang tolol ? Sengkuni atau Werkudara? Werkudara semakin kuat dan berpengalaman berkelahi.

Dia mungkin sudah menyumpah serapahi dirinya sendiri. “Mengapa gue jadi tolol gini? “,Gumamnya.”Sial, gue dikerjain sang guru”, tambahnya dalam hati.  Dia tidak sadar melakukan dua hal besar yaitu membunuh dua raksasa dan seekor naga. Kalau Sengkuni mendengar itu, saya yakin dia akan kencing di celana saking takutnya.

Setelah itu Werkudara duduk terdiam di atas samudra. Di sini,Werkudara bertemu dengan gurunya atau dewanya yang sejati yaitu Dewa Ruci. Werkudara diminta masuk kedalam lubang telinga dewa kerdil itu atau Dewa Ruci. Werkudara masuk dan mendapat wejangan tentang makna kehidupan.

Werkudara juga melihat suatu daerah yang damai, aman, dan tenteram. Setelah itu, Werkudara menjadi seorang pendeta bergelar Begawan Bima Suci dan mengajarkan apa yang telah ia peroleh dari Dewa Ruci. Ksatria yang menjadi Begawan.

Kesetian Werkudara atas gurunya diganjar dengan gelar Begawan Bima Suci. Ini terkait dengan niat dan cara yang baik. Barangsiapa yang berniat baik maka akan mendapat kebaikan. Asal dilakukan dengan cara yang baik pula. Niat dan cara yang baik akan memberi keberkahan dan keberuntungan. Maka, marilah kita berniat baik dan menggunakan cara yang baik

Hahahahaha…….

 

Dilema Durna

Sumber : disini

Bambang Kumbayana adalah nama muda dari Resi Durna. Guru Besar di Perguruan Sokalima. Guru sejati bagi Pandawa dan Kurawa. Dia adalah Guru Seni Perang di Astinapura. Resi Durna terlahir sebagai Brahmana namun takdirnya bertindak selayaknya Ksatria.

Sucitra adalah sahabat karibnya. Sucitra telah berjanji memberikan sebagian wilayah jika telah berkuasa di Panchala. Sumpah di masa muda seringkali hanya sumpah di bibir saja. Durna merasa senang hatinya, dia tidak menyadari jika akhirnya harus kecewa hati.

Sucitra telah menjadi Raja Panchala bergelar Prabu Drupada. Resi Durna menagih janji. Resi Durna mendatangi Prabu Drupada. Karena Resi Durna yang merasa dekat dengan Prabu Drupada. Maka Sang Prabu dipanggil dengan nama Sucitra. Patih Gandamana marah dan tidak terima. Prabu Drupada tidak mau membagi Kerajaan. Durna dihajar sampai cacat permanen. Resi Durna pulang dengan kondisi babak belur, tangan hampa, malu dan dendam.

Resi Durna terlahir sebagai Brahmana. Brahmana adalah Begawan yang mengajarkan kebijaksanaan. Ternyata,garis takdir berkata lain. Resi Durna yang ingin berguru ilmu Brahmana ke Parasurama ternyata ditolak. Parasurama telah menurunkan ilmu brahmana ke orang lain. Maka, Parasurama menurunkan Ilmu Perang ke Resi Durna bukan ilmu kebijaksanaan.

Malang nian nasib Bambang Kumbayana. Bambang Kumbayana adalah menjadi Brahmana berwujud Ksatria. Resi Durna menguasai segala ilmu perang. Seorang ahli perang dengan membawa dendam di dada. Ini sungguh berbahaya. Ahli perang yang dengan dendam membara.

Bambang Kumbayana telah memiliki murid-murid yang hebat yaitu Pandawa dan Kurawa. Mereka diberi ujian terakhir yaitu menaklukan Kerajaan Panchala. Ujian ini hanya akal-akalan sang resi. Panchala kalah di tangan Pandawa. Sucitra dipermalukan oleh anak-anak ingusan .

Sungguh malu Sang Prabu Drupada. Dia memohon kepada sang dewa agar dapat membalaskan rasa malu dan kekalahan ini. Sang Dewa mengabulkan dengan menurunkan seorang anak yang bernama Drestajumna. Drestajumna ini kelak akan menghabisi Resi Durna di kancah perang Baratayudha.

Resi Durna tersenyum puas karena telah memiliki Padepokan yang baru yaitu Sokalima. Sokalima yang dulu wilayah dari Pancala direbut oleh Durna. Resi Durna mempunyai murid kesayangan yaitu Arjuna. Sang Resi namun sangat mempercayai Puntadewa. Puntadewa yang tidak pernah bohong.

Resi Durna lebih menyayangi Trah Pandawa namun dalam perang Baratayudha menjadi Panglima Tertinggi Kurawa. Akibat rasa percaya yang lebih terhadap Puntadewa. Resi Durna tewas karena permainan Si Kresna. Dalang Peperangan dari pihak Pandawa.

Sungguh sangat dilema bagi seorang Guru. Orang yang berjiwa Brahmana namun harus menjadi Ksatria yang berpikir killed or to be killed. Durna adalah manusia yang berwatak sportif. Resi Durna tidak ada keraguan sama sekali dalam perang Baratayudha. Resi Durna tak ragu menghadapi murid-murid kesayangannya.

Pembunuhan atas Abimanyu adalah maha karya sang resi. Kalau sang resi tidak turun tangan maka barisan Kurawa sudah hancur lebur. Memang, Kitab Jitabsara sudah menggariskan seperti itu. Perang Baratayudha adalah sarana terwujudnya karma bagi setiap manusia. Baik dari pihak Pandawa atau Kurawa.

Dendam Sucitra, Kasih sayang Sang Resi atas Aswatama dan Tipu Daya sang Kresna adalah paduan sempurna untuk menghancurkan sang Resi. Sang Resi yang limbung jadi gila karena mendengar Aswatama telah mati. Puntadewa telah memainkan peran atas kematian sang resi dan pukulan mematikan Drestajumna mengakhiri hidup sang Resi Durna.

Sang Resi yang mengawali kejayaan hidup dengan segala ironi. Sang Resi mengakhiri kejayaan dengan hati yang pilu. Kepandaian, Kekuatan dan Kedudukan seringkali tidak menjamin hidup berjalan lancar dan bahagia. Sang Resi yang memiliki segalanya ternyata mempunyai jalan hidup yang ironis.

Maka, Marilah kita syukuri yang telah ada. Karena boleh jadi, Jika kita diberi sesuatu yang lebih maka ujian yang timbul juga bisa jadi lebih menyakitkan. Kita hanya wayang yang menjalani hidup. Kita tidak tau yang terjadi esok.

Sang Resi pikir hidupnya akan lancar dengan segala kemampuan. Ternyata, Karena kedigdayaan dan kehebatan sang resi pula yang membuat hidupnya menjadi sebuah Ironi.

 

NO BODY PERFECT

(Kisah Puntadewa)

Sumber : disini

Raden Puntadewa adalah anak sulung dari Pandawa dari Ibu Kunti. Dia adalah sosok yang sempurna, mempunyai ilmu kanuragan yang tinggi sekaligus memiliki budi pekerti yang unggul. Dia terkenal sebagai Ksatria berdarah putih. Artinya  adalah berwatak unggul yaitu jujur, berperasaan halus dan hatinya yang Tulus Ikhlas.

Puntadewa alias Yudistira dalam versi India. Manusia yang berakhlaq mulia. Beliau dalam ilmu kanuragan unggul dalam memainkan tombak. Resi Durna sebagai guru Pandawa dan Kurawa mengakui hal itu. Puntadewa sangat menghormati guru-gurunya termasuk Resi Durna. Sayang, Resi Durna mati karena muslihat yang dimainkan oleh Puntadewa dalam perang Baratayudha.

Seperti yang kita ketahui, Pandawa selalu dikerjai oleh Kurawa. Negara Hastina yang seharusnya diwariskan kepada Pandawa ternyata direkayasa menjadi milik Kurawa. Karena hati Puntadewa yang baik maka diterima pula keputusan yang sepihak itu. Puntadewa memilih menyingkir dan mendirikan kerajaan Amarta.

Pandawa diberi wilayah berupa hutan angker di wilayah hastina. Hutan itu sebenar adalah tempat kerajaan hastina yang lama kemudian dipindah di lokasi yang sekarang. Puntadewa harus berjuang dulu untuk membuka hutan tersebut menjadi Kerajaan Amarta. Kurawa sungguh enak tinggal meneruskan kerajaan yang sudah besar.

Singkat cerita, Puntadewa dan para Pandawa berhasil mendirikan kerajaan Amarta di daerah hutan yang telah dibuka.  Kerajaan Amarta milik Pandawa yang dibangun sendiri. Berbeda dengan Kerajaan Hastina yang direbut oleh saudara sepupu mereka yaitu Kurawa adalah warisan. Pandawa memang hebat memiliki jiwa Entrepreneurship. Mereka tidak mau berpangku tangan. Alih-alih, mereka berjuang untuk mewujudkan cita-cita. Hehehehehe……..

Amarta berkembang pesat. Amarta mempunyai wilayah dan  tanah jajahan yang semakin meluas. Kerajaan menjadi besar dan menyamai kerajaan Hastina. Karena mereka mau berjuang untuk mewujudkan.

Negara Hastina tidak mungkin ditaklukkan bahkan diserang oleh Pandawa. Mereka selalu patuh dengan Filosofi “Kacang Ora Lali Lanjaran” (Kacang tidak akan lupa dengan kulitnya). Karena di Hastina terdapat orang-orang yang dihormati Pandawa yaitu Resi Bisma, Resi Durna, Paman Yamawidura, Ibu Kunti, Prabu Destarata dan Dewi Madrim dsb.

Puntadewa yang mengadakan perayaan Sesaji Rajasuya sebagai rasa syukur kepada YANG MAHA KUASA. Karena Pandawa telah dianugerahi dengan kerajaan Amarta yang semakin berjaya. Perayaan ini mengundang seluruh negara jajahan, negara sahabat dan para kerabat termasuk negara Hastina. Mereka yang diundang termasuk Kurawa, Resi Bisma, Resi Durna dan Prabu Destarata dsb.

Kurawa yang dipimpin oleh Duryudana melihat sendiri kejayaan dan kemasyhuran dari Kerajaan Amarta. Hati Duryudana terbakar oleh rasa iri dan dengki. Karena rivalnya lebih jempolan. Pandawa mampu mendirikan Imperium mereka sendiri. Kurawa mempunyai imperium yang besar karena warisan nenek moyang.

Rasa iri dan dengki yang berkobar-kobar ini bagai Api disiram BBM Pertamax DEX. Apalagi Sengkuni memprovokasi Kurawa untuk merebut Amarta tanpa perang. Sengkuni adalah ahli strategi perang agitasi, propganda dan penghasutan. Rasa iri dan Dengki Prabu Duryudana berkolaborasi dengan hasutan Sengkuni.

Sengkuni adalah lambang kelicikan level  TOP. Karena pola kerja sengkuni adalah menang tanpa perang namun dengan menghasut, memfitnah dan menjebak. Mulai dari Insiden Bale Sigala-gala, penghasutan Raja Duryudana untuk merebut Amarta melalui meja Judi dan puncaknya adalah Perang Baratayudha. Sengkuni mengambil peran penting dalam peristiwa itu semua.

No Body Perfect, Satu kalimat yang menggambarkan Puntadewa. Puntadewa yang bersih, jujur, alim dan sportif ternyata memiliki titik lemah. Puntadewa suka sekali main dadu. Main dadu alias berjudi. Hobi kesukaan di kala senggang bagi raja-raja. Ternyata, apapun bisa jadi taruhan alias judi.

Sengkuni memahami hal ini. Pandawa diajak untuk bermain dadu melawan Kurawa di Hastina. Sengkuni menjalankan strategi dengan mengalah di awal permainan dan menghajar di tengah sampai akhir permainan. Pandawa menjadi lengah. Pandawa masuk perangkap Kurawa tanpa sadar.

Semakin lama permainan menggila. Pandawa mulai kalah sedikit demi sedikit. Taruhan semakin menggila mulai uang recehan sampai kerajaan Amarta bahkan pasangan hidup. Sial, Pandawa masih juga kalah. Hmmm….!!! Pandawa sudah kehilangan Amarta.

Kurawa ingin menghabisi Pandawa sampai akar-akarnya. Dewi Drupadi dijadikan taruhan. Oh no…!!!! Dewi Fortuna sedang enggan memihak Pandawa. Saya jadi ingat lagu Bang Rhoma yang judulnya JUDI. Hehehehe… Judi emang harus ditinggalkan

Pandawa kalah dalam taruhan Dewi Drupadi. Dursasana berjingkrak-jingkrak. Dursasana menarik kain kemben Dewi Drupadi dengan penuh nafsu. Karena perlindungan dewa maka kain kemben yang ditarik tiada habisnya. Dursasana tidak berhasil menelanjangi Dewi Drupadi.

Dewi Drupadi malu dan murka. Dia bersumpah tidak akan melepas ikatan rambutnya sampai bisa berkeramas dengan darah Dursasana. Sumpah ini akan terbukti di kancah perang Baratayudha. Dursasana akan mati mengenaskan bagai bangkai yang dihisap darahnya sampai habis.

Pandawa Cuma bisa pasrah melihat adegan tersebut. Pandawa kalah tanpa peperangan. Kelihaian Arjuna memainkan panah tidak ada gunanya. Keperkasaan Werkudara dengan senjata Gada tiada artinya. Pandawa kehilangan segala-galanya dan masih menjalani hukuman.

Masih untung, Dewi Drupadi dilepaskan. Dursasana mungkin mikir. Meskipun bisa memiliki Dewi tapi apalah gunanya. Kemben Drupadi nggak bisa dia lucuti. Maka berlaku pantun dibawah ini :

Jas Buka Iket Blangkon,

Sami juga Sami Mawon.

Apalagi, Ngerih…!!!  mendengar sumpah Dewi Drupadi.

Pandawa menjalani hukuman untuk mengasingkan diri  selama 12 tahun. Pandawa tidak boleh diketahui siapapun dalam masa pengasingan. Jika ada yang mengetahui maka hukuman harus diulang dari awal lagi . Meskipun, sudah menginjak tahun ke-11 bulan ke-11. Itulah peperangan tanpa adu fisik memang lebih Sadiiissssssssss……!!!!!!!

Pandawa menyelesaikan masa hukuman 12 tahun. Ini kesempatan untuk menuntut kerajaan Hastina untuk dikembalikan kepada Pandawa. Duryudana tidak mau menyerahkan Hastina kepada Puntadewa. Bahkan, Duryudana tetap menolak ketika Puntadewa hanya meminta lima buah desa saja.

Atas saran penasehat Pandawa yaitu Kresna. Perang Baratayudha digelar antara Pandawa dan Kurawa. Kresna sudah yakin menang. Karena kitab Jitabsara sudah ditulis. Kitab Jitabsara menulis kemenangan Pandawa lengkap dengan cara kematian para pelaku perang Baratyudha.

Kresna yang telah melakukan operasi intelijen ke Ngarcapada sehingga mengetahui detil perang `Baratayudha. Pandawa menyerahkan strategi perang kepada Kresna. Ini seperti dalam Perang Dunia ke-2. Ketika Sekutu yang mencuri mesin Enigma dari Jerman. Sehingga, Sekutu bisa mengetahui pergerakan tentara Jerman melalui berita intelijen yang diterjemahkan dengan mesin Enigma.

Sekali lagi, Puntadewa mengalami dilema. Strategi perang dari Kresna mengharuskan Puntadewa melakukan muslihat sehingga Resi Drona bisa dibunuh. Puntadewa harus memberi berita tidak lengkap  mengenai kematian Aswatama. Aswatama adalah titik lemah Resi Durna (Inget… No Body Perfect).

Putra kesayangan Resi Durna bernama Aswatama. Kebetulan, Salah satu gajah yang menjadi tunggangan dalam Perang Baratayudha bernama Aswatama. Bima membunuh gajah Aswatama. Prajurit Pandawa diperintahkan berteriak, “Aswatama mati…!!!!!”. Ketika berita ini sampai di telinga Resi Durna menjadi limbung dan galau. Resi Durna teringat anak kesayangan dan satu-satunya

Resi Durna paham bahwa Puntadewa adalah orang jujur dan tidak bisa bohong meskipun di pihak musuh. Resi Durna menanyakan kepada Puntadewa, “apakah Aswatama mati?”. Puntadewa dengan bimbang menjawab,”iya”. Puntadewa tidak memberi keterangan lebih lanjut. Bahwa yang mati adalah Gajah yang bernama Aswatama.

Resi Durna sangat sedih hati. Dia lepaskan baju perang dan bermeditasi. Drestajumna, Panglima Pandawa sekaligus saudara kandung Dewi Drupadi menebas leher Resi Durna sehingga mati. Puntadewa sangat galau dan sedih karena telah melakukan penipuan.

Singkat cerita, Perang Baratayudha dimenangkan Pandawa dan janji telah tertunaikan. Dursasana mati mengenaskan. Karena darahnya diambil untuk keramas dewi Drupadi. Paha Duryudana patah sampai ajalnya tiba. Karena sumpah Werkudara akan mematahkan paha Duryudana untuk memangku Dewi Drupadi. Menurut Werkudara, Itu adalah pelecehan Duryudana atas Dewi Drupadi.

Puntadewa memiliki dua kerajaan yaitu Amarta dan Hastina. Dua kerajaan besar menjadi satu. Keluhuran budi si Puntadewa membuahkan hasil. Puntadewa telah mengembalikan yang hilang darinya bahkan lebih besar dengan cara elegan.

Puntadewa menyepi di Gunung Himalaya menjelang ajal tiba. Puntadewa ketika hendak dimasukkan Nirwana maka diperlihatkan bahwa saudara Pandawa berada di Neraka dan Kurawa di Nirwana. Puntadewa sangat bersedih hati. Puntadewa memilih hidup neraka bersama dengan saudara-saudaranya daripada di Nirwana bersama dengan Kurawa yang penuh angkara murka.

Cling…!!! Puntadewa tiba-tiba sudah berada di Nirwana bersama Pandawa. Ini adalah penebusan dosanya yang telah “mengerjai” sang guru yaitu Resi Durna. Puntadewa hidup damai bersama saudara Pandawa di Nirwana.

No Body Perfect, itu hikmah dari cerita Puntadewa. Puntadewa yang sudah memiliki ketinggian budi pekerti. Kadang kala harus terperosok. Karena kebiasaan “main dadu” atau berjudi dan strategi perang yang mengharuskan untuk “mengerjai” Resi Durna.

Orang Yang Terbaik Bukanlah Yang Tanpa Dosa, Orang Yang Terbaik Adalah Cepat Menyadari Kesalahan, Memohon Ampun Ke HadliratNYA dan Tidak Akan Mengulang Lagi.

 

 

 

 

 

 

Kecerdikan Kresna

kresna-kclSumber :disini

Tokoh wayang yang satu ini adalah salah satu tokoh sentral perang Baratayudha. Dia saudara sepupu Pandawa dari jalur Ibu Kunti. Dia putra dari Prabu Basudewa, kakak Ibu Kunti. Dia juga awatara dari Dewa Wisnu. Namanya adalah Sri Kresna , Raja dari Kerajaan Dwarawati.

Ketika menjelang perang Baratayudha. Sri Kresna bersemedi dan “ngrogo sukmo”. Dia masuk ke alam kahyangan merubah diri menjadi Klanceng Putih untuk mengintip Kitab Jitabsara. Akhirnya, Kresna diserahi kitab Jitabsara oleh Batara Guru dengan satu syarat yaitu tidak boleh membocorkan isi Kitab Jitabsara.

Kresna memberikani tawaran kepada Pandawa dan Kurawa. Mereka diberi pilihan antara memilih dirinya dan pasukannya. Kurawa memilih pasukan Kresna dan Pandawa memilih Kresna. Pilihan ini yang menentukan kemenangan besok di akhir perang Baratayudha.

Karena memegang kitab Jitabsara maka Kresna harus kehilangan “Kembang Wijayakusuma”. Salah satu senjata milik Kresna yang berkhasiat untuk menghidupkan orang yang mati. It’s Worthed, Karena Kresna memegang kunci kemenangan di kancah peperangan terbesar di dunia pewayangan.

Prabu Basudewa adalah kakak dari Ibu Kunti. Ibu dari tiga anggota Pandawa yaitu Puntadewa, Arjuna dan Bimasena. Wajar, Kresna membela Pandawa karena masih ada hubungan darah. Tapi bukan karena itu. Kresna adalah awatara dari Dewa Wisnu. Dia ingin menjaga keseimbangan dunia. Kebenaran harus menang atas Kezaliman.

Kresna adalah mastermind Perang Baratayudha dari pihak Pandawa. Kemenangan demi kemenangan Pandawa tidak lepas dari strateginya. Apalah jadinya jika Pandawa tidak didukung Kresna?  Tapi, Perang Baratayudha adalah bagian kerusakan alam semesta maka Kresna wajib menjaganya dengan memenangkan Pandawa di kancah perang ini.

Duryudana lebih pintar tapi Bimasena lebih kuat, menurut Baladewa. Adipati Basukarna lebih sakti dengan senjata Kuntawijaya daripada Arjuna. Yudistira adalah orang yang lugu telah  “dikerjain” oleh Sengkuni di permainan dadu. Resi Bisma tidak terkalahkan dan Resi Durna sulit untuk ditaklukkan.

Pandawa harus melawan guru-guru mereka yang sangat dihormati. Kematian Resi Bisma ditangan Srikandi bukan oleh Arjuna. Itu adalah strategi Kresna. Pandawa tidak sanggup membunuh Resi Durna. Kematian Resi Durna karena tebasan pedang oleh Drestajumna. Itu semua karena strategi Kresna yang jitu. Adipati Karna kehilangan senjata Kuntawijaya karena diumpankan ke Gatotkaca adalah kecerdikan Kresna pula.

Kresna menyadari bahwa Pandawa adalah orang yang lurus, jujur dan lugu. Apabila Pandawa menghadapi Kurawa dengan cara yang lugu dan polos maka akan mudah dikalahkan. Apalagi harus menghadapi saudara yang disayanginya, guru-guru yang dihormati dan musuh-musuh yang culas. Pandawa tidak tega menghabisi mereka. Tega Larane Ora Tega Patine.

Karena Kurawa itu licik maka harus dihadapi dengan strategi yang cerdik. Sehingga, Kekuatan menjadi berimbang. Kresna hadir untuk mengisi kekosongan ini. Kurawa memiliki Resi Durna, Sengkuni dan Bisma yang lebih berpengalaman dan Pandawa menghormati mereka.

Kecerdikan Kresna terlihat sejak permulaan perang. Kresna memilih menjadi sais Kereta Perang Arjuna. Kresna telah berjanji tidak akan mengangkat senjata dalam perang Baratayuda. Meskipun tidak mengangkat senjata. Kresna yang merencanakan seluruh strategi perang pihak Pandawa.

Resi Bisma sangat dihormati pihak Pandawa. Arjuna enggan dan setengah hati melawan. Akhirnya, Kresna dan Pandawa menghadap Resi Bisma di kemah untuk menanyakan kelemahannya. Kelemahan Resi Bisma salah satunya adalah tidak akan melawan jika bertarung dengan wanita.

Maka, Istri Ajuna yaitu Srikandi yang diajukan untuk menghadapi Resi Bisma. Karena yang menyerang adalah wanita dan titisan Dewi Amba yang dicintai oleh Resi Bisma.  Resi Bisma tidak melawan. Resi Bisma tumbang dan dapat dikalahkan. Hanya karena Resi Bisma memiliki kesaktian untuk dapat menentukan sendiri saat kematiannya. Resi Bisma meninggal di akhir Perang Baratayuda.

Resi Durna sangat sulit dikalahkan. Kresna membuat siasat dengan menyuruh Bima untuk membunuh Gajah yang bernama Aswatama. Nama yang mirip dengan nama anak Resi Durna. Ketika Gajah itu mati maka Bima berteriak, “ Aswatama mati…!!!!”. Resi Durna mendengar nama Aswatama.

Resi Durna limbung, histeris dan sedih. Karena Aswatama adalah anak satu-satunya yang sangat dicintai. Dia bertanya kepada Yudhistira menanyakan keadaan Aswatama. Resi Durna percaya bahwa Yudhistira tidak akan berbohong. Maka, Yudhistira menjawab dengan jawaban bersayap, “Aswatama mati”. Entah itu gajah atau anak dari Resi Durna. Resi Durna akhirnya mati ditangan Drestajumna dalam keadaan sedih dan tertipu.

Adipati Basukana yang menyerang Pandawa di malam hari. Ini adalah pelanggaran dalam perang. Kresna dengan sigap mengundang Gatotkaca untuk melawan pamannya sendiri. Perang besar di malam hari terjadi. Entah mengapa, Adipati Basukarna mengeluarkan senjata Kuntawijaya untuk membunuh Gatotkaca.

Gatotkaca memang terbunuh tapi Kuntawijaya hanya sekali pakai. Adipati Basukarna sudah tidak memiliki senjata andalan lagi. Gatotkaca sanggup mengorbankan diri untuk Pandawa. Lain waktu, Adipati Basukarna dibunuh Arjuna. Ini lebih mudah dilakukan. Karena Adipati Basukarna sudah kehilangan senjata pamungkas.

Itulah, beberapa strategi Kresna dalam menghadapi Kurawa. Pandawa mungkin diatas kertas kalah unggul. Namun, karena kecerdikan Kresna maka Pandawa menjadi unggul di medan persang Baratayudha.

Kekalahan dan tumpasnya seluruh Kurawa membuat Dewi Gendari marah besar. Dewi Gendari adalah ibu dari para Kurawa dan Kakak dari Sengkuni. Dia mengutuk Kresna bahwa Kerajaan Dwarawati akan tumpas tanpa bekas. Dewi Gendari marah karena Duryudana mati dipukul pahanya oleh Bima atas saran Kresna.

Hal itu terjadi. Kerajaan Dwarawati tumpas karena rakyatnya saling bunuh. Kresna bersemedi kemudian kakinya kena panah oleh pemburu. Sang pemburu melihat kaki kresna seperti kaki kijang. Kresna akhirnya mati dengan cara Moksa. Kerajaan Dwarawati diterjang badai Tsunami.