Life and Journey

Judul: In The Mind of Natali Ardianto
Penulis: Natali Ardianto
Penerbit: Metagraf, 2016
Tebal: 154 Halaman

Jika anda ingin belajar sesuatu maka belajar kepada yang ahli dan berpengalaman. Anda ingin belajar memasak maka belajar ke seorang koki. Belajar bertani?  Maka datangilah petani.  Anda ingin membuat  Start-Up, belajarlah kepada yang Ahli Start-Up. Ahli yang berpengalaman mendirikan dan mengelola Start-Up.

Natali Ardianto, nama yang tidak asing di dunia Start-Up. Dia adalah founder Urbanesia. Website Directory Online  yang dibeli grup Kompas. Golfnesia adalah proyek yang selanjutnya. Puncaknya adalah Tiket.Com. Natali menjadi salah satu Co-Founder disana yang akhirnya dibeli oleh grup Djarum.

Life is Journey, itu kesimpulan saya dari Buku In The Mind of Natali Ardianto tulisan dari Natali Ardianto. Natali mengkisahkan perjalanan hidupnya dimulai dari masa kecil yang dimulai dengan berkenalan dengan Komputer Apple “Lisa” sampai mendapat penghargaan  “The Most Intelligent CTO”. Itu adalah sebuah journey bagi dirinya.

Saya kira masih panjang petualangan bagi Si Natali.  Tiket.com sudah dibeli maka akan ada kisah baru dari si Natali. Kita tunggu saja.Manusia dianugerahi akal dan hati sehingga selalu bergerak dinamis.

Apa yang kita dapat jika selalu dinamis? Sesuatu yang  priceless,  yaitu  Experience dan Journey. Journey  lebih  bersifat  personal  karena tidak semua orang mengalami. Sesuatu yang bisa dibagikan untuk anak-cucu. Experience itu adalah Portofolio bagi seorang profesional. Portofolio  itulah  yang menaikkan nilai tawar.

Natali menjelaskan pentingnya Experience dengan contoh kasus yaitu  Google. Sergey Brin dan Larry Page adalah pendiri GOOGLE. Namun, mereka membutuhkan Eric Schmidt sebagai CEO GOOGLE. Eric yang membawa GOOGLE menjadi  Worldwide Company.  Karena Eric mempunyai pengalaman selama bertahun-tahun di Sun Microsystem sehingga paham dunia bisnis IT.

Eric yang membawa GOOGLE terkenal seantero dunia. Kalau mau mencari informasi di dunia maya. Kita pakai istilah Googling. “Silahkan googling dulu biar lebih paham”, ungkapan yang sering kita sampaikan. Jika hanya dikembangkan oleh Sergey Brin dan Larry Page maka Google hanya menjadi perusahaan rata-rata saja.

Pengalaman Natali di dunia Start-Up dituangkan di dalam buku ini.Buku ini membahas mulai yang basic, teknis sampai attitude. Segala yang  dipikirkan, dirasakan dan dijalani tertuang di buku ini. Kalau ingin membuat atau sedang menjalani sebuah start-up maka buku ini layak dibaca.

Kita langsung belajar Experience dan Journey dari seorang praktisi dan ahli. Ini akan menjadi masukan berharga.Meskipun, bagi yang hanya ingin menambah wawasan dan kebijaksanaan hidup cocok juga baca buku ini.

Kelemahan buku ini adalah tulisannya bercampur antara bahasa Inggris dan Indonesia. Generasi Milenial yang hidup di borderless world sesungguhnya bukan masalah. Bahasa Inggris telah menjamur kian kemari. Namun, saya yakin masih ada yang tidak nyaman. Karena pakai bahasa Indonesia dan kadang bahasa Inggris.

Natali beralasan bahwa kalau diterjemahkan maka ada ungkapan yang tidak tepat diartikan dalam bahasa Indonesia. Natali khawatir pesannya tidak sampai dan jadi ribet. Karena ada yang tidak bisa diterjemahkan secara langsung ke bahasa Indonesia.

 

Advertisements

Review Film : Spotlight

spotlight-2015-directed-by-tom-mccarthy-movie-reviewAmbil dari sini

Dunia investigasi bukan monopoli pihak berwajib saja. Jurnalistik juga mengenal pula dunia investigasi. Tujuannya agar pembaca memperoleh gambaran utuh, komprehensif dan obyektif. Karena biasanya menyangkut hal-hal yang sensitif atau populer maka berita investigasi dimanfaatkan untuk menaikkan oplah dari sebuah surat kabar.

Ini adalah jurnalisme investigasi. Berita investigasi biasanya dipersiapkan oleh tim khusus dan menyita waktu yang panjang, sebagai contoh kasus adalah PANAMA PAPER. Jurnalisme diharapkan mempunyai dampak ke masyarakat. Apabila masyarakat mengetahui maka diharapkan ada gerakan dari masyarakat untuk menyikapi sebuah kasus.

Kata seorang pengacara  untuk memenangkan suatu kasus kadang harus melibatkan pers.. Pers mendorong public bereaksi. Reaksi masyarakat digunakan mendorong sebuah kasus berjalan. Sayang, Ini sering dijadikan alat yaitu Trial By Press.

Saya ambil kesimpulan diatas setelah menonton film “spotlight”. Film bergenre drama bercerita tentang investigasi surat kabar lokal yaitu  Boston Globe mengenai Pelecehan Seksual Anak oleh oknum Pastur di kota Boston Amerika Serikat.

Film ini based on true story alias kejadian nyata. Penyelidikan kasus pelecehan seksual oleh Pastur di Boston. Korban pelecehan seksual adalah mayoritas anak-anak imigran . Mereka yang tidak punya pilihan karena dibawah penguasaan para pastur baik di bidang keuangan, pendidikan dan keamanan.

Pelecehan yang terjadi sejak puluhan tahun yang lalu. Kardinal Law sebagai Uskup Kota Boston disinyalir menutup-nutupi kasus tersebut. Bahkan, seluruh aparat hokum dan pemerintahan disana juga menutupinya. Karen Gereja Katolik adalah lembaga yang paling terpercaya sejak berabad-abad. Mereka ingin menjaga reputasi ini.

Investigasi ini dilakukan sebuah unit khusus di Boston Globe yaitu Spotlight. Spotlight dipimpin oleh Walter Robin yang diperankan oleh Michael Keaton. Spotlight menginvestigasi selama setahun dengan mengumpulkan bukti dan melakukan wawancara. Itulah judul film tersebut

Penyilidikan yang dilakukan oleh spotlight dilaksanakan di awal-awal tahun 2000-an. Tahun 2002, Hasil penyilidikan dirilis. Hasil penyelidikan ini mendapat penghargaan PULITZER di tahun 2003. Film Spotlight dirilis tahun 2015 dan memenangkan dua piala Oscar.

Mereka memutuskan untuk menyelidiki karena dua sebab yaitu idealisme dan bisnis. Direktur baru Boston Globe ingin meningkatkan nilai/ valuasi maka harus ada berita yang sensasional. Kejahatan seksual para pastur sudah sangat endemik dan lama. Maka, kasus harus dibuka dan dihentikan.

Sejak berita investigasi ini diriis di Boston College maka para korban bermunculan untuk melaporkan diri yang jumlahnya ribuan.Mereka meminta perlindungan dan pengusutan lebih lanjut. Para Korban melapor dan memaksa otoritas gereja menghukum para pelaku. Gereja tidak mungkin lagi menutup-nutupi.

Kisah Spotlight adalah buah karya yang positif dari jurnalisme . Karena jurnalisme investigasi jika dilakukan dengan baik dapat menghasilkan dampak yang besar dan positif. Bahkan, Otoritas Vatikan dipaksa melakukan tindakan untuk melawan aksi pelecehan seksual. Namun, Jurnalisme investigasi dapat juga digunakan untuk menggiring opini masyarakat. Hal yang sangat dihindari  adalah Trial By Press.

Jurnalisme Investigasi ibarat pistol. Pistol tergantung siapa yang memegang dan diarahkan ke siapa. Kembali ke personal. Maka, The Man Behind The Gun itu yang paling menentukan.

 

Soekarno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia

soekarnoRasanya lega sudah membaca buku Biografi “Bung Karno : Penyambung Lidah Rakyat Indonesia” yang ditulis Cindy Adams. Buku ini diterbitkan pertama kali tahun 1965 menurut Asvi Warman Adam. Buku yang saya baca sungguh istimewa. Karena diterbitkan oleh Yayasan Bung Karno. Yayasan yang dipimpin oleh Mas Guruh Soekarnoputra. Yayasan yang didirikan oleh delapan anak Bung Karno di tahun 1978.

Delapan anak tersebut adalah Guntur Sukarno Putra, Megawati Sukarno Putri, Rachmawati Sukarno Putri, Sukmawati Sukarno Putri, Guruh Sukarno Putra, Taufan Sukarno Putra (alm), Bayu Sukarno Putra dan Kartika Sari Sukarno Putri.

Kita telah mafhum bersama bahwa Bung Karno sering berseberangan dengan AS. Uniknya, Bung Karno bersahabat dengan Duta Besar AS yang juga kepala korps diplomat asing di Indonesia yaitu Howard P Jones. Dia mengusulkan agar sejarah hidup Bung Karno ditulis. Ini sebagai warisan untuk anak bangsa. Karena kita harus JAS MERAH ( Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah).

Maka, Cindy Adams yang ditugasi menulis biografi Bung Karno. Cindy Adams adalah seorang jurnalis berkebangsaan AS diizinkan oleh Bung Karno untuk menulis sejarah hidupnya. Hal ini tertulis di BAB I yang berjudul “Alasan Menulis Buku Ini”. Bab ini mencakup peran sang Duta Besar dalam menginisiasi penulisan biografi Bung Karno. Akhirnya, Bung Karno mengizinkan.

Biografi ini bercerita tentang asal-usul keluarga sampai akhir hayat sang proklamator. Segala kisah hadir di buku ini termasuk yang bersifat pribadi, semi pribadi dan konsumsi publik. Soekarno lahir, tumbuh sampai menjadi tokoh besar di bumi nusantara. Biografi kurun waktu awal 1900-an sampai 1960-an.

Saya yang awam tentang Bung Karno hanya bisa menyatakan bahwa buku ini adalah “Buku Pengantar” atau Introduction untuk memahami Bung Karno sebagai pribadi dan pencetus idiologi MARHAENISME atau SOEKARNOISME. Saya sebagai generasi yang lahir di awal 80-an dan tumbuh di era 90-an serta dewasa di era 2000-an.

Saya lahir dan tumbuh di orde baru di puncak kejayaan. Dewasa dan Tua di era yang kacau balau. Semua idiologi hadir dan bersliweran yaitu sejak reformasi 98. Saya tidak terlalu mengenal Soekarno maupun Soekarnoisme. Karena kandungan buku cukup lengkap dan berdasarkan rekomendasi oleh putra-putri Bung Karno. Maka, buku ini cocok untuk mengisi pengetahuan saya tentang sejarah Bung Karno.

Jika saya boleh membuat periodisasi dalam buku ini. Maka ada 9 periode dalam buku ini yaitu : Masa Kanak-Kanak, Belajar Bersama Cokroaminoto, Awal Pergerakan di Bandung (Marhaenisme), Zaman Susah ( Penjara dan Pembuangan), Zaman Jepang, Masa Kemerdekaan, Demokrasi Parlementer, Demokrasi Terpimpin, Masa Krisis ( PBB, Trikora, Dwikora, DI/TII, Permesta, Nasakom dan PKI).

Soekarno ternyata sangat humanis dan sensitif terhadap penindasan dan ketidakadilan. Ini atas jasa seorang pengasuhnya di masa kecil, namanya SARINAH. Nama yang diabadikan untuk pasar modern pertama di Indonesia, PASARAYA SARINAH . Sesuatu yang tidak terungkap kepada kami sebagai generasi 90-an.

Kami hanya tahu bahwa SARINAH adalah nama sebuah mall. Kami tidak tahu yang melatarbelakangi nama SARINAH. Bahkan, Bung Karno yang menulis buku berjudul SARINAH. Saya sebagai generasi muda 90-an sama sekali tidak tahu. SARINAH adalah nama mall, titik. Ironis…!!!!

Bung Karno yang memelihara anjing bernama Kiar. Bung Karno mempunyai anjing dengan nama “ketuk satu” dan “ketuk dua”. Bung Karno dituduh sebagai kolaborator. Bung Karno yang berjiwa seni, seorang  polyglot dan suka menyenangkan orang lain. Bung Karno yang disayang oleh Cokroaminoto. Semua terungkap disini.

Bung Karno yang religius. Bung Karno yang telah berdiskusi dengan Pendeta Van Lith. Bung Karno memiliki kepasrahan tinggi kepada Allah SWT  sehingga selalu mengucapkan “Insya Allah”. Karena Bung Karno yang meyakini hanya menjalani takdir sebagai penyambung lidah rakyat Indonesia. Bung Karno yang sangat percaya dengan “intuisi”.

Cerita Bung Karno dengan para istri juga diungkap disini. Kebijakan luar negeri, tidak mau tunduk kepada AS namun akrab dengan John F Kennedy dan Dubes AS yaitu Howard P Jones. Pemikiran beliau tentang Idiologi dan Nasionalisme. Alasan beliau “memanfaatkan” Jepang.

Bung Karno menyatakan bahwa Idiologi bangsa Indonesia  harus diambil dari nilai-nilai luhur bangsa ini sendiri. Bung Karno berpikir bahwa kita tidak perlu “mengimpor” idiologi bangsa asing dan “mengekspor” idiologi bangsa Indonesia yaitu PANCASILA ke luar negeri. Sehingga tanggal 1 Juni diperingati sebagai hari lahir PANCASILA.

Bung Karno menyatakan bahwa kita tidak perlu mengemis-ngemis ke bangsa namun kita juga tidak perlu jumawa dengan bangsa lain. Kita sebagai bangsa Indonesia yang besar harus Percaya Diri terhadap bangsa lain. Karena alasan inilah mengapa Indonesia sempat keluar dari PBB dan mengadakan Konferensi Asia Afrika.

Ini menunjukkan bahwa Bung Karno adalah seorang Humanis. Humanis yang mampu membedakan mana hubungan antar Negara dan hubungan pribadi. Alasan Bung Karno menghukum mati kawan-kawan lama selama ngekos di Surabaya yaitu Musso dan Kartosoewiryo. Ini adalah murni untuk tegaknya Republik Indonesia juga tersurat di buku ini.

Marhaenisme, Pemikiran yang paling murni / genuine dari seorang Soekarno. Pertemuan beliau dengan seorang petani bernama Marhaen di pinggiran Kota Bandung. Saat itu, Soekarno masih mahasiswa . Marhaenisme berbeda dengan Gerakan buruh dan Sosialisme. Namun, Bung Karno mengakui terinspirasi dengan Sosialisme.

Saya jadi ternganga-nganga. Pemikiran saya tentang Bung Karno ternyata jauh berbeda. Beliau adalah orang Idealis sekaligus Realistis. Dia paham bagaimana menyukseskan cita-cita. Kapan melawan dan kapan memanfaatkan keadaan. Pikiran beliau melampaui zamannya.

Kelebihan dari buku ini adalah urut dan teratur. Kisahnya dimulai dari kelahiran sampai kematian. Sisipan-sisipan dalam kisahnya cukup lengkap mulai kehidupan pribadi, keluarga, pergerakan nasional, sampai pergolakan pemikiran.

Buku ini memakai sudut pandang orang pertama dengan kata “Aku”. Seolah-olah, Bung Karno bercerita kepada kita dalam tulisan meskipun ditulis oleh Cindy Adams. Cindy Adams cukup obyektif meskipun menimbulkan polemik. Namun, telah dibuat versi revisi seperti yang saya baca ini.

Kejengkelan Bung Karno terhadap Sutan Syahrir yang cukup kentara. Soekarno terlihat jengkel terhadap Sutan Syahrir tertulis beberapa kali di buku ini. Ini wajar sebagai manusia. Bung Karno tidak menyukai demokrasi parlementer berlaku di Indonesia era 50-an.

Bung Karno beranggapan bahwa ide demokrasi parlementer ini dibawa oleh para sarjana lulusan Belanda. Mereka tidak percaya diri membawa idiologi bangsa sendiri. Karena sudah lama hidup dalam lingkungan Eropa.

Demokrasi parlementer berawal dari Maklumat Wakil Presiden no : X  1945 yang muncul tanggal 16 Oktober 1945. Karena Maklumat ini maka Kabinet Presidensil berubah menjadi Kabinet Parlementer. Bung Hatta yang mengeluarkan maklumat ini.

Asvi Warman Adam di bab “Kesaksian Bung Karno” di dalam buku ini menyatakan bahwa penerjamahan buku ini telah direstui menteri/Panglima Angkatan Darat Letnan Jenderal Soeharto. Kata sambutan yang diberikan oleh Soeharto, “Dengan penerbitan ini, diharapkan dapat terbaca luas di kalangan rakyat, Bangsa Indonesia”.

 

MEMAHAMI FILSAFAT

Filsafat UmumSaya ambil foto diatas dari sini

Judul : Filsafat Umum (Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Chapra )
Pengarang : Prof. DR. Ahmad Tafsir
Tebal Buku : viii + 276 halaman
Cetakan ke : 19
Tahun : 2012
Penerbit : PT REMAJA ROSDAKARYA
Jl. Ibu Inggit Ganarsih No : 40 Bandung 40252

Filsafat adalah sesuatu yang sangat sulit dipelajari. Sayang, buku yang kelas berat biasanya menggunakan pendekatan filsafat. Kita ambil contoh buku MADILOG merupakan buku masterpiece dari TAN MALAKA. Saya sulit sekali memahami, hehehehe…!!!!! Otak sudah mampet atau karena tidak paham filsafat.

Bagian awal MADILOG, Tan Malaka bicara tentang Filsafat Idealisme dan Materialisme. Saya yang tidak punya pengalaman dengan filsafat nekad membaca. Hasilnya adalah kebingungan. Karena tidak memiliki dasar apapun tentang idealisme atau materialisme.

Kesimpulannya, saya harus buku pengantar filsafat dulu. Buku pengantar ini agar ada “benang merah” ketika membaca buku kelas berat. Makanya kita menganggap ada buku level “kudapan” dan level “berat”, karena kita tidak ada jembatan penghubung yaitu pemahaman filsafat.

Filsafat itu seperti senjata. Apabila digunakan untuk kebaikan maka mendatangkan kemaslahatan. Karena kita diajak berpikir mendalam sampai inti masalah. Filsafat bersifat “relatif “. Filsafat maka bisa untuk mencari-cari “alasan pembenaran” tindakan kita meski itu tidak tepat.

Nah, ada buku yang mudah dicerna dan menjembatani menuju pemahaman filsafat. Judul bukunya adalah FILSAFAT ILMU. Buku yang ditulis oleh Prof Ahmad Tafsir, seorang guru besar di UIN SUNAN GUNUNG DJATI. Buku ini lumayan lengkap.

Beliau menulis dengan bahasa yang sederhana dan ringkas. Kalimatnya pendek dan langsung ke tujuan. Beliau menulis filsafat dari perspektif sejarah. Filsafat sejak zaman Yunani yaitu Thales sampai ke filsafat post modernisme. Karena buku ini berawal dari Diktat kuliah maka cukup lengkap.

Menurut beliau, Para filosof atau pecinta kebijakan telah beradu argumen dan berdiskusi sejak lama. Perdebatan diantara mereka berkutat konflik antara idealisme/agama dan akal/materialisme.

Era Socrates, Agama atau keyakinan yang memenangkan meskipun harus dibayar mahal. Karena Socrates dihukum mati. Abad pertengahan maka agama yang menang mutlak. Kemudian lahir Descartes sebagai tokoh rasionalisme terus berkembang era post modernism . Beliau tidak lupa menyinggung perkembangan filsafat di dunia Islam.

Buku ini tidak lepas dari subyektivitas penulis. Misal, beliau menulis secara kritis tentang filsafat pragmatisme yang didirikan oleh William James yang seorang psikolog ( anak psikologi mesti tahu nih. Hehehehehe…!!!!). Filsafat yang mendasari negara Amerika Serikat. Beliau juga mengkritisi Jean Paul Satre sebagai tokoh filsafat Eksistensialisme. Jean Paul Satre yang sangat atheis, menurut beliau.

Buku yang sudah ada pendapat subyektif penulis menjadi tidak asyik. Buku itu cenderung segmented. Tapi nggak masalah lah. Kalau masih buta sama sekali filsafat buku ini recommended. Karena penulisannya sangat simpel dan mudah dipahami. Saya yang bingung dengan filsafat agak sedikit ngeh.

Kalau boleh saya sebut, buku ini adalah INTRODUCTION OF PHILOSOPHY FOR DUMMIES. Itu yang terjadi pada saya. Hehehehe…!!!! Kalau ada salah penulisan diatas dalam bahasa inggris, saya minta maaf ya. Sekian terimakasih

BUDAYA MEMBACA

Dahulu, ketika saya masih mahasiswa. Mahasiswa baru intens masuk perpustakaan ketika mengerjakan skripsi. Kalau hanya duduk berjam-jam hanya membaca buku. Rasanya sangat membosankan sekali. Endingnya adalah tertidur sambil memegang buku. Padahal bukunya belum tentu terbaca. Sama saja dengan saya. Hehehehe..!!!!

Membaca itu ternyata sebuah kebiasaan. Kalau yang addict bisa jadi kebutuhan, kalau yang gaya doang paling banter ditenteng. Era sekarang sedikit berbeda. Buku yang dibawa bukan buku biasa, namanya e-book. Bukunya berbentuk file yang tertanam dalam gadget. Kalau baca tinggal buka gadget dan baca. Kalau saya sering berakhir dengan ber-sosmed ria.

Banyak sekali buku diterbitkan mulai resep makanan, novel sampai dengan Tips & Trik SEO. Ini adalah tanda dari peningkatan minat baca.  Heehehehehe…!!!! Alhamdulillah, kita sudah punya budaya membaca yang lebih baik. But, saya belum tahu budaya membaca yang baik itu bagaimana?

Bangsa Israel adalah bangsa yang suka membaca. Paling tidak menurut blog izzatunissa. Saya setelah blogwalking ternyata mereka gila baca. Merek benar-benar gila. hahahahaha…!!!!!! Mereka membaca langsung dari buku yang tebal-tebal dan butuh mikir. Itu bagian yang sulit. brrr….!!!!!

Coba baca kutipan dari blog izzatunisa :

Saya sedang membuka chapter dua puluh lima buku di tangan ketika seorang bapak berusia tiga puluhan bangkit berdiri dan mengambil smartphone dari tangan anak lelaki yang saya taksir berusia Sembilan atau sepuluh tahun, dengan bahasa yang saya tidak mengerti sang ayah seolah menasihati anaknya untuk tidak berlama-lama berkutat dengan game di telepon genggam canggihnya.
Bangsa jewish yang menemukan smartphone namun membatasi penggunaan smartphone. Lha iki piye..!! mereka yang cerdik, kita yang dibanjiri smartphone. Tulisan mbak izza memang kasuistik tapi menarik. Karena mereka lebih suka baca dari buku yang berat di otak saya.

Si sulung membaca novel kontemporer karangan John Green, sang ibu membaca buku setebal kurang lebih dua ratus halaman, dan entah apa yang dibaca sang ayah, namun kesamaannya adalah buku mereka sama-sama ditulis dalam bahasa Ibrani (Hebrew). Sang kakak sulung untuk menghentikan adiknya yang merajuk membongkar tasnya dan merogoh buku bacaan lain dan menyodorkannya ke si adik kecil usia Sembilan tahun.

Ini yang mengerikan sekali. Mereka menunggu penerbangan di Bandara. Dalam keadaan yang sama (menunggu jadwal penerbangan). Saya pilih ngobrol dengan orang yang duduk disebelah saya dan saya yakin jika istri pilih tidur sedangkan . Wah, sulit sekali dilakukan buat kami. Hahaha…!!!

Kalau orang kepepet biasanya akan berjuang. Bangsa Israel juga begitu. Jumlah mereka nggak banyak hanya sekian persen dari total penduduk dunia. Sadar jumlahnya sedikit maka harus maju. Mereka mengawali dengan membentuk kebiasaan yang progresif. Salah satunya adalah membaca.

Budaya membaca mereka sudah di tingkat advance. Mereka membaca bukan sekedar mencari hiburan. Mereka membaca bukan gaya-gayaan. Meski awal budaya membaca bisa diawali dengan gaya-gayaan. Mereka membaca sudah jadi kebutuhan. Kayak manusia kalau tidak makan ya lapar.

Dulu pernah geger di jagad maya. Mark Zuckerberg berencana membaca buku Muqaddimah karya Ibnu Battutah. Buku opo iku? Anak itu sudah kaya dan hidup nyaman kok susah-susah amat mau baca buku kayak gitu. Lha apa manfaatnya? Mungkin, Otak saya yang belum bisa memikirkan. Begitu kiranya khusnudzon saya. Hahahaha….!!!!!

Apa ya saya bisa ? mempunyai budaya membaca tingkat advance. Bangsa Israel sudah memilih jenis bacaan lebih berkualitas dan dilakukan oleh anak kecil lho bukan mahasiswa. Emang aneh bangsa Israel itu ya.

Baca komik itu penting untuk nutrisi otak kanan, baca berita gosip itu “harus” agar selalu update. Tapi kalau saya hanya baca buku sekelas “jajanan pasar”. Apa saya ya tambah pinter?

Wah, jadi ngelantur nih. Saya hanya ingin kontemplasi saja. Jangan sampai saya hanya suku baca “judul berita” saja dan nggak peduli isinya. But, baca MADILOG karya TAN MALAKA saja sulit sekali saya pahami.

Emang otak saya sudah mampet atau masih harus dilatih dengan bacaan rumit. So, dengan buku berat bisa nyambung dan nggak pusing. Ibarat mobil sudah terbiasa tanjakan. Kayaknya itu perlu latihan . hehehehehe…!!!!

Marilah kita baca buku. Apapun bentuk bukunya mau yang asli atau e-book. Mulai dari yang santai sampai serius. Mulai Koran sampai buku tebal. Mulai komik sampai karya sastra. Mulai yang fiksi sampai science.

lha kok sulit tenan ya. 😀

 

KETIKA AYAH MENJADI MELLOW

image

Saya telah menyelesaikan menonton sekuel film TAKEN, mulai TAKEN 1 dilanjutkan TAKEN 2, diakhiri TAKEN 3. Filmnya biasa saja sih. Kisah seorang mantan Agen CIA, Bryan Mills, yang terpaksa menghadapi teroris Internasional. Karena setting berada di tiga kota di tiga belahan dunia yang berbeda.

TAKEN 1 mengambil setting di Paris Prancis dan TAKEN 2 di kota Istambul Turki, sedangkan TAKEN 3 di Washington Amerika Serikat. Jalan ceritanya sederhana, tipikal film Amrik gitu. Super Hero mengalahkan penjahat.

Jalan ceritanya biasa tapi kok menarik ya ? Karena ada sisi humanisme jika diperhatikan. Hubungan dinamis antara ayah dan anak perempuan. Ini dasar cerita dalam tiga film sekuel. Bryan Mills melindungi si anak perempuan adalah tema sentral cerita. Sang pensiunan CIA terpaksa beraksi . Karena anak perempuannya dalam bahaya.

Ini sisi humanis yang menarik. Ketika zaman sudah mulai menggila.Keluarga mengalami dekadensi ( halah, istilah apa ini?hahahaha…!!! ). Hubungan anak dan orang tua mulai memudar. Film ini mengangkat tema humanisme keluarga.

Sang agen memang sudah bercerai dengan istrinya dan si anak wedok ( baca : perempuan) ikut ibunya. Perhatian sang agen sangat besar kepada istri dan anak perempuan. Si Anak perempuan sering jengkel dengan ayahnya yang dirasa terlalu protektif. Meskipun pada akhirnya meminta tolong ayahnya ketika dalam bahaya.

Anak perempuannya adalah tipikal anak gadis modern yaitu independen, mandiri dan percaya diri. Ayahnya adalah tipe family man yaitu perhatian, hangat dan melindungi. Anak gadis tidak mau diperlakukan seperti anak kecil. Lha wong, sudah gedhe. Meski, si anak harus mengakui bahwa ayahnya yang benar.

Ketiga sekuel semua menceritakan penyelamatan sang anak perempuan. Motivasi aksi juga adalah penyelamatan si anak perempuan. Film ini berpesan bahwa seorang family man adalah lelaki sejati. Dia tidak peduli istrinya sudah berganti suami berkali-kali. Pokoknya, Family man akan memastikan bahwa anak perempuannya dalam keadaan baik-baik saja.

Ada satu adegan dalam TAKEN 3 yang menarik. Ketika si anak diketahui telah hamil dengan pacarnya. Sang Agen bersedih. Orang yang hidup di Negara berpikiran bebas saja merasa sedih. Dia pikir anak perempuannya seharusnya melakukan berbagai hal sebelum menjadi ibu.

Wajar, sang ayah tentu ingin yang terbaik. Sang ayah ingin anaknya bahagia. Namun, sebagai ayah maka dia harus menyelamatkan kedua-duanya. Dia kecewa tetapi mendukung si anak sembari berkata , “jangan kau kecewakan ibumu, kau harus bahagia”.

Seorang ayah sebenarnya bisa mellow ketika berurusan dengn anak. Dalam hal ini kebetulan perempuan. Ayah bisa sangat perhatian, sayang dan protektif. Ada adegan yaitu member hadiah ulang tahun kepada si anak perempuan. Ini film action atau drama remaja. Hehehehehe…!!!!

Lha terus moral story-nya apa dong ? STRONG FATHERS, STRONG DAUGHTERS SO BE A FAMILY MAN. Ah mosok begitu, film action atau drama sih? Ini fim action yang men-drama. Ya begitulah, hehehehehe…!!!!! Pesan buat sendiri, ”be a family man”. Karena saya juga punya anak perempuan juga.

Agak mellow tapi bener juga kalau dipikir-pikir

 

STUDENT HIDJO

student hidjoSumber : Aliktahassa

Mas Marco Kartodikromo memang tidak memiliki pendidikan tinggi namun memiliki ketajaman pemikiran . Beliau adalah contoh dari intelektual tanpa sekolah. Tulisan beliau cukup berbobot. Padahal, Beliau hanya lulusan sekolah ongko loro. Intelektual dan tokoh pergerakan revolusioner berhaluan kiri.

Ketajaman pemikiran mas Marco disebabkan profesi beliau sebagai seorang wartawan. Kemampuan menulis menjadi semakin baik. Apalagi ditunjang bakat dan kecerdasan yang sudah tertanam di kepalanya. Mas Marco selain menulis opini dan berita , beliau juga menulis beberapa novel.

Novel Mas Marco kali ini adalah Student Hidjo. Tokoh utamanya adalah RM Hidjo. Perjuangan RM Hidjo menempuh pendidikan di negeri Belanda yang dibumbui dengan kisah cinta. Hidjo menemukan kesadaran bahwa orang Hindia atau Pribumi ternyata dihormati di negeri Belanda.

Karena pribumi dianggap kaya. Seperti yang kita ketahui bahwa Hindia Belanda alias Indonesia kaya akan hasil alam. Perlakuan ini berbeda jauh yang dirasakan Pribumi yang ada di Indonesia. Manusia pribumi mengalami perbedaan perlakuan dan dianggap manusia kelas bawah. Golongan manusia yang paling bawah.

Hidjo menyadari bahwa semua bangsa adalah sama. Tidak ada perbedaan antara pribumi, indo, cina dan eropa. Novel ini adalah novel idiologis namun bercitarasa romantis. Namun, Nuansa Romantis lebih terasa daripada idiologis. Apalagi dengan setting Kota Solo Jawa Tengah era awal 90-an.

Alur cerita adalah maju. Ending cerita cukup manis. Konflik yang timbul kurang menggigit. Karena Novel ini muncul di awal 90-an dan ditulis seorang idiologis maka cukup menarik untuk dibaca. Gaya bahasa yang digunakan adalah gaya lama. Cukup unik untuk dirasakan.