Acceptance

 

Saya berdiskusi dengan dua orang hebat. Mereka adalah Pak Maman . Sehebat apakah beliau? Beliau adalah guru TK yang mempunyai dedikasi dan loyalitas tinggi terhadap profesi. Beliau sangat menikmati setiap proses dalam menjalani profesi sebagai guru TK. Pendidikan beliau bukan sarjana tetapi kecintaan beliau terhadap dunia anak menjadikan dia layaknya seorang sarjana.

Saya meminta tolong kepada beliau tersebut untuk memberi pembekalan ke guru-guru TK di sebuah kecamatan yang ada di kota Solo. Guru-guru yang mengajar di TK-TK pinggiran dengan bayaran yang tidak akan mencukupi biaya hidup sebulan. Mereka meskipun berkekurangan tapi mempunyai semangat belajar yang tinggi.

Para Guru TK ini membutuhkan sekedar dari pemberian uang. Mereka membutuhkan asupan gizi ilmu. Kalau mereka diberi uang maka satu jam, sehari atau seminggu lagi segera terkonsumsi. Jika ilmu yang disalurkan maka akan mengendap dalam alam pikiran mereka, memajukan cara berpikir mereka dan akhirnya merubah generasi penerus menjadi lebih hebat.

Pak Maman adalah guru yang mempunyai nasib sedikit beruntung. Karena bekerja di TK yang modern. Mereka menikmati gaji yang cukup dan bekal ilmu yang banyak dari tempat bekerja. Alhamdulillah, mereka bersedia padahal honornya kecil. Mereka mempunyai idealisme tinggi untuk pendidikan anak usia dini.

Diskusi itu berjalan dengan menarik, dinamis dan hangat. Salah satu kesimpulan dari diskusi itu adalah Acceptance atau Penerimaan adalah faktor kunci dalam keberhasilan pendidikan anak usia dini. Apapun kondisi anak harus diterima baik itu normal atau yang berkebutuhan. Apabila anak sudah dapat kita terima maka lebih mudah kita menghantarkan mereka kearah keberhasilan.

Pak Maman cerita bahwa ada seorang dosen memiliki anak perempuan yang bisu dan tuli. Bagaimana sedihnya sang dosen memikir masa depan sang buah hati? Kebetulan sang ayah adalah Dosen Psikologi. Dia lebih rasional memikirkan masa depan sang anak.

Sang dosen menemui Pak Maman. Sang dosen ingin mendidik anaknya sesuai dengan kondisi si anak. Anak harus bertumbuh dan berkembang sesuai dengan kondisi fisik dan mental. Sang dosen mendiskusikan dengan pak maman untuk menentukan sekolah mana yang cocok buat sang anak. Sang dosen menginginkan anaknya paling tidak menjadi mandiri.

Pak Maman ngomong ke sang dosen, “Anak anda tidak butuh sekolah pak, Ngapain dimasukkan sekolah?”. “Anak anda butuh penerimaan dari anda”, ujar pak maman. “Anak ini akan mencari sendiri gift yang ada di dalam dirinya”,  Pak Maman menambahi. “Kuatkan saja potensi yang ada didalam dirinya”,Pak Maman mengakhiri uraiannya.

Sang Dosen berusaha menerima apa adanya si buah hati. Sang buah hati didampingi dengan menguatkan segala sesuatu dalam pembentukan karakter si anak mulai psikomotorik halus, psikomotorik kasar, karakter, keberanian dan kemandirian. Anaknya dibantu dalam ‘Tumbuh-Kembang” sampai menemukan sesuatu yang dia senangi dan kuasai. Sang Dosen meyakini bahwa ini adalah The Best Gift From GOD.

Anak ini sudah beranjak dewasa. Anak ini telah menjadi “mesin uang” yang handal. Anak ini mempunyai “gift” dalam bidang desain. Desain yang dia buat sangat diminati dan dihargai dengan mahal. Suatu Hari, Klien ingin bertemu dengan sang desainer. Sang desainer adalah anak sang dosen yang bisu dan tuli. Sang dosen mengantarkan sang anak untuk bertemu denga klien sang anak.

Klien si anak kaget bukan kepalang, “Hmm, selama ini yang mendesain itu mbak”. Sang dosen menjawab dengan bangga, “ Iya pak, Anak saya yang bisu dan tuli”. Karena Sang Anak disapa oleh kliennya maka dengan percaya diri menjawab meskipun dengan segala keterbatasan dia. Uppss…...Ternyata.

Penerimaan atau Acceptance dari orang tua kepada sang anak menguatkan karakter si anak. Menurut perhitungan, Si anak akan menjadi beban orang tua di masa depan. Karena Acceptance dari orang tua. Anak ini malah membuat bangga sang orang tua. Padahal, Sang dosen mungkin hanya mengharapkan kemandirian dari si anak.

Pak Maman menekankan bahwa kita harus menerima kondisi anak kita apa adanya. Pak Luki, kawan pak luki yang ikut nimbrung diskusi, menambahi bahwa seorang guru juga harus menerima apa adanya kondisi murid. Acceptance  dari seorang guru kepada murid sangat berpengaruh psoitif. Anak yang susah diatur menjadi lebih mengerti aturan. Anak-anak menjadi dekat gurunya dan muridnya menjadi percaya diri.

Saya bisa mempercayai itu. Karena anak saya adalah murid pak Luki di TK. Anak saya yang speech delay menjadi gembira dan percaya diri bergaul dengan teman-temannya. Anak saya sudah bisa ngomong. Anak saya menemukan ketenangan, keberanian dan Percaya Diri. Teman-temannya yang semula bengal menjadi taat aturan meskipun masih tetap saja ramai.

Setiap anak telah diberi “gift” dari Allah SWT. Kita harus menerima apa adanya. Tugas kita hanya memperkuat mental mereka, psikomotorik kasar, psikomotorik halus dan kegemaran untuk belajar. Setiap orang tua dan guru bertanggung jawab untuk menghantarkan “tumbuh-kembang” anak sesuai dengan gift yang diberikan oleh Allah SWT.

Acceptance kita terhadap anak akan memperkuat karakter mereka. Sehingga mereka tidak ragu untuk mengembangkan diri sesuai dengan “gift” masing-masing.Ibaratnya adalah Telur yang diselubungi cangkang. Kita hanya membantu isi telur menjadi anak ayam dan menetas sendiri tanpa kita bantu memecahkan cangkangnya.

Agar telur itu cepat menetas maka harus kita panasi. Kita masukkan ke mesin penetas telur. Ayam induk di-“minta” unrtuk mengerami dan ditempatkan di tempat yang senyaman-nyamannya. Namun, kita tidak boleh memecahkan telur itu terlebih dahulu. Kita tidak ada hak memecah cangkang jika kita menginginkan seekor anak ayam. Kecuali, kita menginginkan sepiring Telor Mata Sapi.

Acceptance itu menguatkan si anak. Siapapun anak itu baik yang normal atau berkebutuhan. Kita cari pelan-pelan yang menjadi gift bagi si anak. Kita bisa melakukan tes sidik jari sampai konsultasi dengan psikolog atau dokter. Trial and error, Kita mengenalkan berbagai hal mulai permainan, buku sampai perlombaan.

Pak Maman menyatakan bahwa dalam proses trial and error tidak ada kalah-menang  atau salah-benar. Kalau si anak diajari namun lambat menguasai berarti memang bukan bakatnya disitu. Jika diajak lomba maka yang dicari adalah pengalaman. Semua itu adalah ikhtiyar mencari gift dari si anak.

Sore itu banyak ilmu yang saya serap. Ternyata, saya banyak melakukan kesalahan ke sang buah hatiku. Maafkan ayah ya nak. Ayah akan selalu belajar memahamimu. Engkau adalah anugerah sekaligus ujian buat ayahmu ini. Agar ayahmu menjadi manusia lebih baik.

 

 

 

 

 

Advertisements

Protagonis

 

Ambil dari sini

Kedua anak saya (Ifa dan Zufar ) menyukai film kartun Upin & Ipin. Film kartun dari negeri Jiran yang fenomenal. Kita bisa nonton Upin & Ipin di Televisi mulai pagi, siang atau sore hari. Karena anak-anak sering nonton Upin dan Ipin. Saya juga ikut menonton juga. Saya jadi tahu beberapa episode dari film  Upin & Ipin.

Upin dan Ipin adalah anak yatim. Yatim itu artinya salah satu atau semua orangtuanya meninggal dunia. Meskipun mereka berdua adalah yatim,  hidup mereka terasa menyenangkan dan sempurna. Upin dan Ipin tidak pernah bersedih. Karena sahabat-sahabat siap menemani mereka.

Mei-mei yang rajin, Sartika yang menyenangkan, Mail yang berjiwa wirausaha, Ehsan si Anak pejabat, Fizi yang penakut dan Jarjit yang suka berpantun, Mereka semua adalah sahabat Upin & Ipin. Mereka hidup di desa Durian Runtuh yang alami dan menyenangkan. Desa Durian Runtuh yang asri dengan sungai yang mengalir melintasi desa dan hutan yang masih asri.

Upin dan Ipin suka bermain di alam bebas seperti episode “Ikan Cupang”. Tok Dalang mengajari mereka cara menangkap ikan cupang dan memancing. Tak lupa, pesan untuk menjaga alam sekitar di episode itu. Apabila alam terjaga maka banyak manfaat kita dapatkan, misal : Ikan Gurameh hasil tangkapan Tok Dalang yang lezat. Kata Opa si Upi dan Ipin, Ikan guramih hasil tangkapan di sungai lebih sedap dari Ikan guramih Peliharaan. “Betul… Betul….Betul”, Ujar si Upin dan Ipin.

Upin dan Ipin beserta kawan-kawan suka belajar di sekolah tapi juga suka main bola di tanah lapang. Mereka masih punya waktu bermain dan belajar. Mereka belum dibebani berbagai les privat  atau jam sekolah yang panjang.

Meskipun hidup di desa, Mereka mempunyai cita-cita setinggi langit. Ehsan ingin jadi koki, Mei-mei ingin jadi guru, Upin dan Ipin ingin jadi Austronot, Mail ingin jadi pengusaha sukses. Cita-cita mereka sangat bervariatif.

Tidak hanya berhenti sekedar ingin menjadi Dokter, Insinyur atau Tentara . Apalagi hanya ingin menjadi PNS. Soal besok jika sudah dewasa akhirnya berbeda dengan cita-cita masa kecil. Itu soal lain. Jadilah pemimpi. Itu penting…

Imajinasi adalah dunia mereka. Mereka bermain bola maka menjadi pemain timnas adalah imajinasi mereka. Mereka bermain perang-perangan maka perang ala Ultraman menjadi favorit mereka. Bermain balapan mobil maka dibenak mereka adalah balapan internasional. Setiap permainan memiliki imajinasi masing-masing.

Tok Dalang tidak menolak jika diajak bermain dengan anak-anak. Anak-anak suka bermain di rumah Koh Atong. Koh Atong yang menjual barang loak memiliki berbagai jenis benda. Uncle Muthu suka mengadakan nonton bareng Sepakbola. Uncle Muthu yang berjulan makanan di desa Durian Runtuh.

Film Upin-Ipin tidak mengenal tokoh antagonis. Semua adalah tokoh protagonis. Konflik yang dibangun bukan untuk menyalahkan, mentertawakan atau menuduh salah satu tokoh. Konflik yang dibangun untuk diselesaikan bersama. Ini ciri khusus dari Film Upin dan Ipin. Tidak ada permusuhan hanya kerjasama dan bergembira.

Film Upin dan Ipin memancing imajinasi anak kecil, membangkitkan kesadaran untuk melestarikan lingkungan alam dan mengajarkan keberanian bermimpi.

Apakah kita mempunyai film yang serupa di negeri kita? Kalau ada yang tau. Tolong dong… Share disini.

 

 

 

Menjadi Gurunya Manusia



Alhamdulillah, saya sudah menyelesaikan membaca “Gurunya Manusia”. Guru ternyata adalah profesi yang strategis. Karena maju dan mundurnya bangsa ditentukan kualitas Pendidikan. Pendidikan sebuah bangsa maju atau mundur itu tergantung kualitas gurunya.

Munif Chatib menyatakan bahwa Sekolah unggul bukan yang lengkap fasilitasnya, bervariasi program untuk siswa atau mahal biaya SPP. Sekolah unggul adalah sekolah yang memberi program pelatihan guru yang baik, terpadu dan berkesinambungan bagi guru di sekolah tersebut diikuti komitmen guru untuk mengimplementasikan dalam Kegiatan Belajar-Mengajar.

Guru bukan pelatih hewan atau programmer komputer. Guru adalah sosok yang melakukan sesuatu yang maha penting. Sesuatu yang maha penting itu yang akan membedakan manusia dengan hewan atau robot sekalipun. Sesuatu itu yang maha penting itu adalah mendidik manusia menjadi manusia yang berbudaya.

Sebuah bangsa akan diakui sebagai bangsa yang maju (developed country) tidak diukur dari kekayaan sumber daya alam, fasilitas yang modern atau jumlah orang kaya yang ada di negeri itu. Negara maju diukur dari tingkat pendidikan, kedisiplinan dan kemakmuran bangsa. Ringkasnya, Sebuah negara dinyatakan beradab (civilized) dan maju (developed) tergantung dari kesuksesan sistem pendidikan di negara tersebut.

Apabila kita membahas pendidikan di tingkat negara maka asumsi kita adalah Pendidikan Formal mulai PAUD sampai dengan Pendidikan Tinggi. Operator utama dari sistem pendidikan ini yaitu Guru. Maju dan Mundur sebuah bangsa tergantung dari Sistem Pendidikan Bangsa . Maju dan Mundur dari Sistem Pendidikan Bangsa ditentukan oleh kualitas guru.

Lahan garapan guru adalah murid. Murid adalah Manusia. Manusia adalah Ciptaan Allah SWT yang unik. Mereka mempunyai perbedaan satu sama lain, bahkan anak kembar siam juga mempunyai perbedaan meskipun wajahnya mirip. Allah SWT dalam menciptakan manusia mesti memberi kelebihan dan kekurangan masing-masing. Bahkan, Anak yang Berkebutuhan Khusus juga mempunyai kelebihan yang tidak dimiliki oleh manusia normal.

Berdasarkan pemikiran diatas maka Munif Chatib dalam bukunya “Gurunya Manusia” menyatakan bahwa tidak ada manusia yang bodoh bahkan yang kita anggap bodoh-pun sebenarnya tidak bodoh. Hanya kita yang sering mengkotak-kotakkan. Setiap anak itu unik yang mempunyai kecenderungan cara belajar yang berbeda-beda.

Guru mengajar selama ini mengajar dengan pola yang seragam dan monoton. Mereka mengajar murid dengan satu metode saja misal: ceramah. Ini tidak mengakomodasi berbagai kecerdasan anak. Maka, jangan heran jika yang sukses hanya segelintir anak. Karena hanya segelintir anak saja yang mempunyai kecenderungan cocok dengan metode pembelajaran gurunya.

Murid adalah Manusia dengan segala keunikannya. Mengapa kita mengajar seakan-akan mereka robot? Robot itu homogen dan tidak berbeda satu sama lain serta tidak mempunyai perasaan sebagaimana manusia. Maka, Lahirlah buku ini : “Gurunya Manusia”.

Munif Chatib menjembatani antara keanekaragaman kecerdasan siswa dengan strategi pembelajaran di kelas dengan menggunakan Lesson Plan. Guru dituntut agar membuat Lesson Plan  yang bervariasi untuk setiap materi sehingga mampu melayani keunikan cara belajar siswa.

Strategi Pembelajaran yang berupa Lesson Plan disimpan sebagai bank data yang suatu saat dapat digunakan kembali. Semakin banyak koleksi Lesson Plan maka guru tersebut semakin kreatif dan semakin mudah membuat Lesson PlanLesson Plan berbeda dengan silabus. Karena silabus itu ketentuan yang resmi dan tetap sedangkan Lesson Plan adalah strategi pembelajaran saja.

Bagaimana guru meningkatkan ketrampilan membuat lesson plan. Tentu saja, melalui pelatihan-pelatihan. Maka, pernyataan diatas sudah benar. Sekolah yang maju adalah sekolah yang banyak memberi pelatihan kepada gurunya. Pelatihan yang akan meningkat kemapuan guru dalam mengajar sehingga cara mengajar lebih bervariatif, kreatif dan akomodatif.

Sekolah yang harus menyiapkan guru menjadi “gurunya manusia”. Guru yang siap mengajar dengan berbagai variasi strategi pembelajaran untuk melayani segala kebutuhan siswa. Apabila pelatihan-pelatihan tersebut mahal maka dapat diakali dengan membentuk Guardian Angel.

Guardian Angel itu mirip dengan bagian Penelitian dan Pengembangan (R&D) dalam sebuah perusahaan. Bagian yang mengkoordinasi segala bentuk pelatihan mulai dari Bedah Buku, Kuliah Pakar maupun Praktek membuat Lesson Plan. Trainer diambil dari guru yang telah mengikuti pelatihan di luar kemudian mengajarkannya kepada sesama rekan kerja.

Munif Chatib cukup lengkap dalam menjelaskan tentang “Gurunya Manusia”. Hasilnya pun sudah tampak. SD YIMI yang mempunyai input dari siswa-siswa yang beragam namun mampu lulus 100%. Bahkan, banyak memiliki nilai yang sempurna. Memang,”Gurunya Manusia” membutuhkan komitmen dari guru. Guru yang harus menyesuaikan dengan pola belajar siswa bukan sebaliknya.

Dengan segala kelebihannya, Munif Chatib dalam menulis buku ini banyak memaparkan pengalaman pribadinya. Sehingga lebih bersifat eksklusif. Munif Chatib menjadi “subyektif” dalam buku ini. Buku ini juga dapat dianggap Quantum Teaching-nya Bebi dePorter versi Indonesia. Maklum, Munif Chatib dari pelatihan disana.

Buku ini masih dangkal jka kita ingin mendalami tentang menjadi “Gurunya Manusia”. Kita harus mengeksplor lagi di buku-buku lain. Buku-buku seperti Quantum Learning, Quantum Teaching, Accelerated Learning dapat kita baca untuk eksplorasi lebih dalam. Buku ini cocok untuk guru yang ingin lebih maju dan berkembang.

The Best Process Vs The Best Input

Pendidikan di Indonesia mengalami sebuah perkembangan baru. Sekolah konvensional berubah menjadi sekolah unggulan.Maka, berdirilah berbagai macam sekolah seperti : SD Full day School, SD Program Khusus atau SD IT ( Islam Terpadu). Mereka semua mengenalkan diri sebagai sekolah unggulan.

Pengertian unggulan sangat beragam. Unggulan adalah murid-muridnya mempunyai IQ yang tinggi. Unggulan adalah murid-muridnya mempunyai kemampuan kognitif yang tinggi atau berarti mempunyai nilai rapor rata-rata 9,0 ( Ini kenyataan, kemarin diberitahu oleh saudara saya jika rat-rata nilai kelas anaknya adalah 9,0. Wuiiiih hebat sekali….)

Tuntutan unggulan mengakibatkan tekanan kepada anak-anak didik. Mereka tertekan dengan tuntutan orangtuanya yang mempunyai ekspektasi tinggi terhadap hasil belajarnya. Tuntutan sekolah agar selalu berprestasi sehingga mempunyai nilai jual di masyarakat. Tuntutan masyarakat kepada si anak agar diakui sebagai anak pandai.

Sekolah menjadi momok bagi anak. Sekolah mencetak robot “pintar” namun hilang sisi kemanusiaan. Sekolah menjadi tidak nyaman bagi siswa karena dengan segala tuntutan. Sekolah menjadi tidak manusiawi. Sekolah yang tidak “memanusiakan manusia”.

Sekolah unggul adalah sekolah yang memanusiakan manusia (hal:96)

Itu adalah kata Munif Chatib dalam bukunya ”Sekolahnya Manusia”. Sekolah yang menghargai semua kecerdasan anak. Asumsi dasar yang dipakai adalah “TIDAK ANAK YANG BODOH TETAPI ANAK MEMPUNYAI KECENDERUNGAN KECERDASAN TERTENTU”. Anak penderita autis ternyata juga mempunyai kecerdasan tertentu misal : Spasial-Virtual.

“Sekolahnya Manusia” prinsipnya tidak menolak berbagai jenis siswa. “Sekolahnya Manusia” berasumsi tidak anak yang bodoh. Tes yang dilakukan bukan untuk menyeleksi siswa diterima atau ditolak. Tes yang dilakukan adalah Tes MIR ( Multiple Intelligence Research). Tes ini hanya mendeskripsikan kecenderungan belajar siswa. Sehingga anak-anak dikelompokkan berdasarkan kecenderungan cara belajar.

Multiple Intelligences menyarankan kepada kita untuk mempromosikan kemampuan atau kelebihan seorang anak dan mengubur ketidakmampuan atau kelemahan anak ( hal : 78)

“Sekolahnya Manusia” bukan hanya isapan jempol atau teori belaka. Munif Chatib telah membuktikannya di SMP YIMI.  Sekolah yang sudah sekarat karena tidak ada murid. Munif Chatib membangun kembali dengan metode “Sekolahnya Manusia”. Akhirnya, mampu meluluskan 100 % siswanya dengan nilai UAN tinggi kedua di Gresik. (hal : 11 )

Sekolah Unggulan saat ini mengandalkan input siswa yang pintar-pintar secara kognitif. Mereka bahkan mengadakan seleksi berdasarkan nilai UAN. Jika sudah diterima maka para siswa ini dikumpulkan di dalam satu kelas tersendiri yang disebut “kelas unggulan”. Oleh Munif Chatib disebut dengan Tracking  (hal : )

Sekolah Unggulan tipe ini berdasarkan the best input. Maka, kita tidak heran jika mereka secara kognitif berprestasi. Sekolah ini secara tidak sadar mengklasifikasi anak pintar dan anak bodoh. Padahal, Semua anak berpotensi dan semua anak mempunyai gaya belajar masing-masing. Semua anak butuh pengakuan atas kelebihannya.

Munif Chatib menjungkir balikkan konsep diatas. Dalam bukunya “Sekolahnya Manusia”, Sekolah Unggulan adalah Sekolah yang mengandalkan ”the best process”. Dosen saya di S2, Prof Sutama menyatakan bahwa sekolah unggulan adalah sekolah yang mampu mengubah anak bodoh menjadi pintar. Dengan kata lain, Sekolah Unggulan adalah sekolah yang mempunyai proses terbaik dalam proses KBM mengakomodasi semua gaya belajar siswa.

Karena menganut “The Best Process”, calon siswa yang lebih awal mendaftar akan langsung diterima. Tak peduli siswa itu mempunyai nilai ujian akhir SD yang bagus atau jeblok ( hal 9)

Sekolah unggul adalah sekolah yang para gurunya mampu menjamin semua siswa akan dibimbing kea rah perubahan yang lebih baik, bagaimanapun kualitas akademis dan moral yang mereka miliki (hal : 93)

Buku ini cukup inspiratif bagi kalangan guru. Guru disuguhi tema yang berbeda dari biasanya. Guru yang membaca buku ini diharapkan terbuka pikirannya dan menyadari bahwa ada seribu jalan untuk mencerdaskan .

Buku ini meski menyuguhkan tema yang menarik dan debatable  namun juga membingungkan. Karena dalam buku ini tidak menyediakan cerita atau keterangan yang detail bagaimana “sekolah manusia” di kelola sehingga menghasilkan lulusan yang terbaik.

Buku ini lebih condong kepada bidang Psikologi. Maklum, MI sebenarnya adalah bidang di Psikologi. Berisi tentang cerita sukses pelaksanaan Multiple Intelligence namun sedikit bercerita tentang hambatan dan kesulitan dalam proses KBM.

Pengelolaan sekolah berbasis Multiple Intelligence hanya ditulis secara sekilas saja. Pembaca yang haus akan informasi akan dibuat kebingungan karena tidak ada keterangan mengenai pengelolaan sekolah padahal judulnya “Sekolahnya Manusia”.

Mayoritas Guru akan banyak yang menolak karena metode yang begitu repotnya. Terutama Guru-Guru PNS yang merasa sudah nyaman dengan keadaannya sekarang. Mereka akan lebih enggan bersusah payah untuk mengaplikasikan Multiple Intelligence, Toh sekarang kedaan mereka sudah cukup.

Buku ini laris atau Best Seller  lebih karena ide ini cukup baru dan menarik. Ide yang berbeda dari biasanya dan unik. Para Guru tertarik namun jika tidak mempunyai idealism dan keinginan meningkatkan diri maka yang terjadi adalah penolakan terhadap ide buku ini.

Munif Chatib mungkin sengaja hanya sedikit memberi keterangan sehingga pembaca bertanya-tanya. Karena Munif Chatib ingin membuat sekuelnya sehingga nformasi yang disampaikan lebih lengkap. Akan tetapi, Ini menyebabkan pembaca kebingungan untuk menangkap isi pesan buku bahkan bisa jadi menjadi apatis.

Sekuel dari buku ini adalah : “Guruya Manusia”, “Sekolahnya sang Juara. Buku pantas diacungi jempol. Karena memberi ide segar ditengah kejumudan metode pembelajaran. Guru yang ideal akan selalu meningkatkan diri untuk memberikan terbaik untuk anak didiknya. Buku ini akan memenuhi kebutuhan guru ideal dan memacu rasa ingin tahu mereka menjadi yang terbaik.

Asisten Rumah Tangga

ART singkatan dari Asisten Rumah Tangga adalah bagian dari kehidupan bangsa ini sejak dahulu. Dulu, muncul film tentang ART yaitu “Inem Pelayan Seksi”.  ART adalah pahlawan devisa bagi Bangsa ini, dengan nama lain yaitu TKW. Sinetron terbaru yang nge-hits juga bercerita tentang ART, judulnya  “Dunia Terbalik”.

Bangsa ini awalnya feodal lambat laun mulai terkikis meskipun tidak 100 %. Stratifikasi masyarakat yang ketat sudah kendor. Kalangan atas tidak turun kasta  dan kasta bawah sangat sulit naik ke kasta di atas meskipun juga memungkinkan, Misal : Kisah Ken Arok pendiri dinasti Singashari.

“Jongos” adalah sebutan bagi ART di masa penjajahan. Sebutan yang merendahkan. Ternyata Jongos bisa naik kasta. Jongos menjadi Priyayi dan mendirikan sebuah klan keluarga yang kaya raya. Novel SANG PRIYAYI karya Umar Kayam, bercerita tentang klan / trah Sastrodarsono. Trah yang berjaya di era orba. Sastrodarsono sejak muda bercita-cita mendirikan klan yang disegani dengan menapaki mulai menjadi Priyayi Kecil. Dia tidak menikmati tetapi dua generasi dibawahnya menjadi klan yang disegani.

Hubungan antara Majikan dan ART sebenarnya adalah saling membutuhkan sejak dulu kala. Karena sistem sosial kita membuat terstratifikasi. Kita membutuhkan ART untuk menyelesaikan pekerjaan rumah. ART bekerja untuk mendapatkan uang. Mereka profesional, bekerja untuk dibayar. Cukup Adil…!!!

Semakin sibuk manusia modern,bekerja dari pagi sampai malam hari di luar rumah.  Karena urusan Rumah Tangga tidak sedikit apalagi jika sudah hadir buah hati atau anak. Karena besar tanggung jawab sang ART maka  tuntutan gaji semakin lama semakin tinggi. Maka, pilihan hidup tanpa ART menjadi alternatif.

Manusia modern cenderung hidup secara soliter. Mereka menyukai hidup yang lebih private. Apalagi ditunjang dengan kemajuan teknologi. Banyak juga yang hidup tanpa ART. Maka muncul istilah Full Time Mother dan juga Full Time Father. Jika sang buah hati lahir maka ditentukan siapa yang menjaga day by day. Kalau sudah cukup umur untuk dititipkan maka bekerja lagi.

Ketika menjelang usia Playgroup maka anak dititipkan di TK/Kelompok Bermain. Kebanyakan ambil program Full Day School atau After School. Kedua orang tua bekerja kembali. Mereka pulang dari kantor di sore hari. Mereka mampir dulu untuk mengambil anaknya di TK/KB sebelum pulang ke rumah. Anak mereka sudah mandi dan bersih. Terima Beres…..

Banyak juga perusahaan menyediakan fasilitas Penitipan Anak. Orang Tua nyaman bekerja karena anak sudah terurus. Ini tuntutan zaman. Manusia menjadi lebih soliter dan “tua di jalan”. Karena tuntutan kerja memang semakin tinggi. Jam kerja semakin menggila. Jarak tempuh rumah ke kantor semakin jauh maka perjalanan semakin lama. Mereka tinggal di Suburban area.

Repotnya, kalau kedua orang tuanya kerja sampai malam. Perusahaan tidak menyediakan fasilitas “penitipan anak”. Mana ada TK/KB buka sampai malam..? Pilihannya ada tiga, mendatangkan bala bantuan (baca: kakek / nenek / Saudara), salah satu resign menjadi FTM (Full Time Mother) atau FTF (Full Time Father) atau mempekerjakan ART.

Kehadiran ART tentu mengambil “kemerdekaan” sang majikan. Berbagi ruang, menjaga perasaan dan saling menyesuaikan adalah keniscayaan. Ini bukan hal yang mudah bagi yang menyukai hal yang private.

Asisten Rumah Tangga (ART) memang membuat hidup menjadi lebih nyaman. Karena ada yang siap untuk menyiapkan segala sesuatu dan siap membereskan. Namun jika kita tidak sanggup hidup berdampingan bisa jadi siksaan.

Apabila sudah bisa nyaman hidup “berdampingan” dengan ART. Anda juga harus siap dengan segala konsekuensi. Konsekuensi ketidaknyamanan, ART mendadak mengundurkan diri. Kita harus menyesuaikan lagi. Maju Kena Mundur Kena, hehehehehe…….

 

 

Bahasa Kalbu

Ifa, itu nama panggilan dari anak saya. Ifa telah naik kelas TK B. Tak terasa sudah 3 tahun belajar di PAUD. Ifa belajar di PAUD sejak usia 2 tahun. Karena ifa mengalami speech delay. Saya mendaftarkan dia ke PAUD sebagai bagian terapi wicara. Lucu juga, Saya bukan mengikuti  sebuah terapi tetapi sekolah.

Ifa sebenarnya sudah mengikuti terapi. Sayang, Ifa selalu meronta-ronta dan menangus ketika terapi. Ifa menjalani tiga kali terapi wicara tapi gagal terus. Dia tidak nyaman dengan suasana di ruang terapi. Kita punya ide sendiri. Ifa harus dikasih tantangan untuk ngomong. Ifa harus kumpul dengan sesama anak-anak seusia. Dia akan tertantang untuk berbicara.

Alhamdulillah, Ifa dinyatakan resmi bisa ngomong di usia 2,5 tahun atau 30 bulan. Perjuangan cukup berat buat mama Ifa. Mama Ifa nungguin Ifa di sekolah hampir satu tahun ketika masih di Playgroup Kecil. Ifa sempat mogok sekolah di akhir tahun ajaran. Ifa mungkin kepayahan di Sekolah. Busyeeettt…. Dah…!!! Tapi nggak masalah. hehehehe….

Ifa naik Playgroup Besar. Guru di playgroup besar kasih saran ke kami. “Ifa biar diantar ayah aja,kalau mama yang antar bisa mellow nanti si Ifa”, gitu kata gurunya. Waduh, Tambahan tugas nih buat saya. Saya harus ngantor masih ditambah antar jam 8 dan jemput jam 11. Cukup merepotkan juga, karena harus bagi waktu.

Saya jalani rutinitas ini terasa ringan saja, nikmatin aja deh. Ternyata…., Kegiatan ini berlangsung sudah 2 tahun. Saya sering mendiskusikan tentang Ifa dengan ibu guru di jeda waktu ketika antar atau jemput. Saya nanya gimana Ifa di kelas. Mulai ngomong atau belum ? Ibu guru juga mulai memancing Ifa ngomong. Ifa kadang merespon atau kadang diam aja.

Alhamdulillah, Ifa akhirnya bisa ngomong. Lega hati saya, kita beri kesempatan Ifa berinteraksi dengan teman kelas dan gurunya adalah bentuk terapi pula. Ifa mulai senang bercerita di rumah. Ifa selalu bercerita ke mamanya tentang segala kejadian di Sekolah. Kalau nonton TV, Ifa cerita tentang yang ditontonnya. Semua hanya untuk mama Ifa dan Mbak  yang njagain Ifa. Tetapi, Itu tidak terjadi ke saya. Ketemu saya, hehehehe… Ifa masih diem aja atau cuman satu dua patah kata.

Ifa masuk ke kelas TK A. Guru kelasnya ada yang laki-laki. Ini menambah tantangan ke Ifa. Ifa harus mulai berkomunikasi dengan seorang lawan jenis dan dewasa lagi. Ifa lebih nyaman dengan sesama jenis makanya dekat dengan Mamanya. Tim Guru TK disusun sebagai ganda campuran. Mereka adalah Pak Luki dan Bu Mifta, Tim Guru yang mengajar di kelasnya si Ifa.

Mereka dengan sabar meladeni Ifa. Pak Luki dan Bu Mifta melatih Ifa untuk mengungkapkan keinginan dan keadaan. Meskipun hal yang sederhana,misal : pipis, makan, atau haus. Awalnya, sering nangis. Sulit bagi Ifa menyatakan perasaan dalam sebuah kalimat. Maklum, dulu pernah speech delay. Ifa lebih nyaman dengan bahasa Isyarat. Namun, Ifa harus dilatih mengungkapkan secara oral.

Guru selalu memberi contoh dalam sebuah kalimat. Ifa dilatih untuk menirukan contoh kalimat tersebut. Alhamdulillah, Pak Luki dan Bu Mifta menganggap sebuah tantangan untuk melatih Ifa. Jadi, mereka melakukan dengan senang hati.  Sebenarnya, Bu Mifta dan Pak Luki mengetahui keinginan Ifa. Mereka ingin melatih Ifa  untuk mengungkapkan dalam sebuah kalimat sederhana bukan isyarat/gesture.

Ifa semakin terlatih. Ifa sudah cerewet ke mama. Lumayan, Dia sudah tahu sendiri bagaimana bercerita ke mama. Hufftt…. Lega rasanya. Ifa mulai dari satu dua patah kata berkembang menjadi kalimat. Terimakasih kami haturkan bagi para guru dengan segala dedikasinya, teruntuk Pak Luki dan Bu Miftah.

Buat Pak Luki dan Bu Mifta, Ifa adalah tantangan. Ifa bukan dianggap sebagai beban di kelas. Emang, Dua guru mengajar dalam satu kelas  dengan murid yang jumlahnya dibawah 20 anak. Tetapi,Saya kira cukup berat juga. Tantangan merubah Ifa menjadi bisa bercerita dan bukan sekedae ngomong adalah sesuatu yang ingin mereka taklukkan.

Lha trus gimana si Ifa ke saya? Hehehehehe….!!! Dia masih sama sejak pertama kali mengantar jemput di sekolah . Ifa masih diam saja ke saya. Ifa sering memakai sinyal/gesture daripada ngomong jika menyampaikan pesan ke saya.Saya antar ifa dari berangkat sampai pulang sekolah dalam kesunyian.

Ifa mungkin kurang sreg. Mungkin, Karena Cara berkomunikasi saya yang buruk. Saya kurang lihai berbasa-basi kepada anak-anak. Kata mama, Kalau dengan anak itu kadang harus butuh basa-basi dan mengetahui keinginan mereka. Apalagi anak perempuan. Dia penginnya dimengerti. Saya sukar untuk mengerti dia

Susahnya minta ampun. Hehehehe…!!!! Kita mengingat kesukaan anak ternyata itu penting. “Kalau ngobrol selipkan tentang kesukaan anak kita misal: Little Pony, Pawn Star, Kongkuni atau Upin Ipin”, begitu saran istri saya. “Kita yang menyesuaikan dunia anak bukan sebaliknya”, Sergah Istri saya.

Ah benar juga, Saya mengalami kesulitan melakukan itu. Saya coba dan masih belum berhasil sampai sekarang.Karena saya belum luwes melakukannya. Saya tidak terbiasa hidup dengan seorang perempuan apalagi seorang anak perempuan . Satu-satunya perempuan dalam keluarga saya adalah ibu. Keluarga saya terdiri dua orang anak laki-laki dan kedua orang tua saya. Setelah menikah, saya mempunyai anak perempuan yang melankolis. Sulit juga menyesuaikannya.

Ifa mulai membuka diri ke saya. Dia mau ngomong dengan saya hanya beberapa patah kata. Ifa mulai bisa ketawa-ketiwi meskipun seringkali ditahan. Gengsinya minta ampun, Ketawa –ketiwi dengan ayah sendiri masih sulit. Hehehehehe…!!!

Saya bersyukur. Ifa sudah bisa berkisah meski bukan ke saya. Ifa bisa mengungkapkan keinginannya meski kepada guru bukan ke saya. Ifa bisa melaporkan pesan guru kepada mama. Ifa sering bercanda dengan Mamanya. Saya yakin Ifa telah mampu berkomunikasi secara lisan. Itu membuat saya bahagia. It’s Enough.

Nak, kau sekarang udah naik TK B. Semoga kau lebih riang dan gembira. Semoga kau lebih cerewet. Ayah cuman bisa tersenyum lega dari kejauhan. Karena kau harus jadi dirimu sendiri. Engkau adalah anak panah. Anak panah yang melesat jauh ke depan sehingga menjadi dirimu sendiri seutuhnya. Kau bukan bayangan dari siapapun termasuk ayah dan mama.

Ah sudahlah

Tak mengapa kau diam kepadaku nak.

Ayahmu yakin bahwa merasakan atensi dari ayahmu

Perasaan itu seringkali tak terungkapkan tapi terasa

Bahasa kami adalah bahasa kalbu

 

 

NB :

Momen yang membahagiakan Ayah:

Tatkala Ifa berlari menyongsong kedatangan ayah. Ayah yang sedang menunggumu keluar dari kelas di halaman sekolah. Ayah yakin itulah bahasa kalbu Ifa.  “Aku sayang ayah”, mungkin itu yang terucap di dalam hati Ifa. Saya yakin itu. Rasa sayang memang sering tak terucapkan.

 

Layang-Layang

Kita semua suka berlibur ke pantai. Suasana tenang sembari mendengar orkestra alam. Orkestra yang hanya dihadirkan oleh alam.Suara debur ombak berpadu dengan desir angin pantai. 

Suasana pantai sungguh mententramkan hati. Apalagi kita sambil bermain layang-layang. Sungguh menyenangkan hati kita.

Bermain layang-layang adalah latihan mengendalikan. Bagaimana kita bisa mengontrol layangan yang terbang dengan seutas tali. Kadang diulur dan ditarik talinya.

Saya ingat.kejadian tempo hari..Saya main layang-layang di pantai. Karena permintaan anak perempuan saya. Dia ingin main layang-layang di pantai setelah mendengar lagu ini,

“Kuambil buluh sebatang

Kupotong sama panjang

Kuraut dan kupintal dengan benang

Kujadikan layang-layang…..”

Setelah layang-layang naik di angkasa. Dia ternyata sudah cukup senang melihat layang-layang terbang. Dia nggak mau main layang-layang lagi.

 Hmmm….!!! Apakah ini pesan dari anak saya?

“Ayah,aku ini layang-layang bagimu. Perlakukanlah aku seperti layang-layang.”

 “Jangan kau lepaskan aku,ayah. Tapi,jangan kau pegang terus diriku. Lepaskan aku bagai layang-layang.”

“Kau dan Aku terhubung dengan seutas tali”

“Jika anginnya bagus maka ulurkan benangnya.Jika anginnya jelek maka tariklah benangnya.”

Oh,kiranya begitu. Aku harus memperlakukanmu nak.Aku akan pilih benang terbaik, agar kau tak putus dariku. 

Janganlah kau terbang bak layang-layang putus. Terbang tidak tentu arah.