Hobi dan Kebahagiaan

Pohon Kenitu sudah datang di kantor setelah dikirim JNT dari kota Kediri beberapa hari yang lalu. Saya harus beli online untuk pohon ini. Karena pohon ini tidak populer tetapi bukan langka. Pohon ini memorable kata istri saya. Kenangan masa SMA, Pohon ini pernah hidup di halaman rumah dia dan unik. Karena mempunyai tekstur seperti buah sawo dan rasa seperti apel. Uniknya lagi, buah kenitu tidak dijual di pasar. Kalau ingin makan buah ini maka harus menanam dulu. 

Saya menjadi penasaran. Seperti apa buah kenitu itu? Dia mengenalkan  ke saya tentang buah kenitu dengan sebutan yaitu buah strapel. Saya browsing di internet ternyata punya nama lain yaitu kenitu. Karena sulit mencari secara offline makanya beli online. Pohon kenitu akan melengkapi koleksi tanaman di kebun depan rumah. Apa sih tidak terbeli di marketplace?  

Kenitu

Saya udah mengoleksi beberapa tanaman buah seperti : Durian, Matoa, Jambu, Belimbing, Alpukat, Kelengkeng, Pisang dan Pepaya. Pisang ada beberapa varian yang berbeda ditanam di kebun. Pohon Jambu ada dua yang terdiri dari jambu air dan jambu biji. Belimbing dan Kelengkeng masing-masing terdiri dari tiga pohon.  Tanaman yang berguna sebagai bumbu dan  bahan masak juga ada seperti pohon melinjo, pohon petai, singkong, daun chaya, tanaman cabai, kangkung, pohon kluwih (red : jawa). Tanaman herbal juga ada mulai lengkuas, jahe, sereh, sambiloto, pohon jarak, daun yodium, pohon mengkudu dan daun handelen.

Beberapa orang bijak bilang,  “manusia harus punya hobi”.  Saya lakukan ini demi hobi. Alangkah bodohnya diri saya, Jika  diniatkan untuk memenuhi kebutuhan harian apalagi tambahan penghasilan. Hobi itu senang dan bergembira untuk memenuhi kebutuhan rohani manusia. Karena kebutuhan manusia tidak hanya yang bersifat materi seperti  makan, minum dan melampiaskan hasrat seksual. Kebutuhan rohani  itu juga tidak hanya spiritualita dan agama namun juga kebahagiaan. Hobi itu memantik kebahagian, demikian kata sahabat. Jika menghasilkan maka  bonus saja. Berbahagialah bagi manusia yang menghasilkan uang dari hobi.  Trus, Hobi anda apa?

Bermata Dua

Semua orang bersembunyi di rumah di awal pandemi. Orang tidak berani keluar rumah. Lama-lama rasa bosan menyusup ke dalam jiwa manusia. Mereka mulai keluar rumah dengan berbagai aktivitas. Aktivitas dari sekedar jalan-jalan ,muter-muter keliling kota  atau olahraga. Tentu saja dengan mematuhi protokol kesehatan yaitu pakai masker, social distancing dan cuci tangan pakai sabun atau hand sanitizer.

Eh..tiba-tiba, Semua mengalami demam sepeda. Jalanan dipenuhi oleh sepeda yang berkeliling kesana kemari. Orang yang berolahraga sepeda sebenarnya udah ada sejak lama. Tapi, Ada peningkatan yang cukup drastis di masa pandemi.

Harga sepeda juga bervariasi dengan jangkauan harga lebih lebar mulai ratusan ribu sampai ratusan juta. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana nikmatnya naik sepeda yang berbanderol ratusan juta. 🙂

Bersepeda adalah sebuah ikhtiyar untuk meningkatkan imun melawan COVID-19. Popularitas Sepeda mengalahkan olahraga yang lain. Sepeda yang mengalami peningkatan popularitas secara siginifikan.  Aneh ya….., Kenapa hanya bersepeda yang lain tidak?

Kita udah biasa melihat tanaman atau bunga di halaman depan atau belakang rumah. Ibu saya selalu menyirami taman bunga setiap pagi dan sore . Sampai ada lagu “Lihat Kebunku”. Karena aktivitas berkebun itu menyenangkan dan sudah ada sejak lama. Siapa yang tidak suka melihat indahnya bunga dan main air.

Tapi…..Semua orang mengurusi kebun tanaman di masa pandemi. Semua orang menanam bunga atau tumbuhan hias di halaman rumah. Mereka berusaha melengkapi koleksi tanaman yang cantik dan unik. Kios-kios tanaman sepanjang jalan di Pasar Nongko dipenuhi manusia yang mencari tanaman yang diinginkan.

Berkebun adalah ikhtiyar adalah mencari kebahagiaan. Karena bahagia bisa meningkatkan hormon endorfin. Hormon endorfin akan meningkatkan imun. Imun ini yang akan menghalau virus masuk dan meracuni tubuh. Rasa penasaranku adalah, “mengapa harus berkebun yang menjadi viral ?”.

Ada ungkapan yang menjadi viral, “Ada tiga tempat yang ramai yaitu Rumah Sakit, Toko Sepeda dan Kios Tanaman”. Ini berkah bagi penjual tanaman dan toko sepeda. Sepeda termasuk kebutuhan sekunder. Kita tetap membeli sepeda meskipun bukan penghobi. Olahraga sepeda yang viral menambah omzet penjualan semakin melejit .

Apalagi buat penjual tanaman. Ini berkah besar. Penghobi tanaman itu terbatas. Kebutuhan tanaman tidak setinggi kebutuhan sepeda. Masa pandemi melejitkan pamor tanaman. Omzet penjualan tanaman melejit sangat tinggi.

Pandemi bermata dua. Mata yang satu bersifat mematikan. Pandemi memberi rasa takut. Karena memang pandemi ini mematikan. Pandemi harus disikapi dengan rasa waspada dan hati-hati. Kita tidak boleh jumawa dan paranoid. Kita menghadapi secara rasional dan logis.

Mata yang satunya adalah kebiasaan baru yang positif. Pemerintah menggalakkan olahraga sepeda udah lama. Pemerintah menggalakan penggunaan sepeda untuk mengurangi polusi itu juga udah lama. Usaha pemerintah belum berhasil secara signifikan. Pandemi ternyata signifikan untuk menggalakan olahraga bersepeda.

Polusi udara semakin meningkat. Pemerintah menyeru masyarakat agar banyak menanam. Ini salah satu ikhtiyar mengurangi polusi. Gerakan 1.000.000 pohon udah lama digeber dan terus diperjuangkan. Pandemi tanpa bertujuan untuk sebuah gerakan 1.000.000 pohon ternyata membuat sebuah trend. Trend itu adalah menanam. Trend ini menjadi viral.

Sholat Jamaah

Salah satu polemik di masa pandemik adalah masalah ibadah sholat jamaah di masjid. MUI mengeluarkan fatwa tentang penggantian sholat jamaah di masjid dengan sholat jamaah di rumah di kawasan zona merah. Wah, pro kontra yang berlangsung dengan sangat seru. Bahkan masih ada sisa-sisa pro kontra sampai hari ini.

Keluarga kecil saya memilih mengikuti fatwa tersebut. Kami menunaikan shalat jamaah lima kali sehari. Ternyata, Sholat Jamaah di rumah mempunyai dampak yang dahsyat bagi Ifa. Ifa, anak sulung kami menjadi terbiasa sholat jamaah tanpa bolong-bolong mulai awal pandemi sampai hari ini.

Apabila waktu sholat udah masuk. Saya suruh Ifa untuk segera persiapan tanpa ada paksaan. Dia akan ngeloyor wudlu dan memakai mukena. Sholat jamaah menjadi rutin bagi dia. Alhamdulillah, Kita membangunkan untuk sholat shubuh tidak pakai drama.

Kita (Saya dan istri) mengalahi untuk mengikuti ritme si anak. Anak memang masih dalam taraf belajar. Jika persiapan sholat agak lama buat Ifa. Ya….kita tunggu. Pelaksanaan agak molor tidak tepat waktu kayak di masjid. Ya nggak masalah deh untuk sementara.

Ya Allah…Aku Mohon anakku menjadi anak sholihah. Jalan hidup manusia siapa yang tau. Kita harus mengusahakan dan mendoakan. Aamiin

FILOSOFI SAPU LIDI

Sapu Lidi terdiri dari kumpulan lidi yang diikat jadi satu. Ketika masih berwujud lidi, Lidi adalah sesuatu yang lemah dan tidak bermakna. Kita mematahkan lidi dengan  mudahnya. Apabila dijadikan satu kemudian diikat menjadi Sapu Lidi. Kita akan kesulitan mematahkan lidi-lidinya.

Kita belajar dari filosofi sapu lidi. Filosofi sapu lidi adalah berkumpul, bersatu dan bekerjasama. Saya kira itu yang mendasari munculnya komunitas IKATAN KATA. Komunitas yang mengikat anggotanya dengan KATA. Komunitas ini juga  mengikat KATA menjadi sebuah makna.

Ibarat satu penulis itu adalah SATU KATA. Apabila dikumpulkan puluhan penulis dalam satu ikatan maka akan menjadi sekumpulan KATA. Sekumpulan KATA lebih bermakna daripada sebuah KATA. Seperti  filosofi sapu lidi.

Saya bergabung dengan komunitas IKATAN KATA karena alasan ini. Jika saya menulis sendiri maka pengaruhnya tidak besar. Kecuali saya adalah orang besar atau tokoh, ternyata saya hanya orang biasa. Ketika saya menulis bersama dengan sahabat satu komunitas. Maka, Tulisan saya menjadi bagian dari kekuatan yang besar. Tulisan saya menjadi bermakna.

IKATAN KATA mengajak para penulis untuk berjalan bersama. IKATAN KATA mengajari makna kekuatan dalam persatuan. Jika anda blogger maka bergabunglah dengan sebuah komunitas. Karena ada manfaat ganda dengan bergabung dengan komunitas. Kalau saya bergabung dengan komunitas IKATAN KATA.

Seperti pepatah “SEKALI DAYUNG MAKA DUA ATAU TIGA PULAU TERLAMPAUI”. Anda menulis maka hasrat untuk menulis terpuaskan. Jika anda bergabung dengan komunitas maka tulisan anda menjadi bagian dari kekuatan yang lebih besar dan bermanfaat. Anda menulis maka hasrat terpuaskan sekaligus memberi manfaat kepada orang lain.

Kita adalah makhluk sosial. Kita tidak bisa hidup sendirian. Kita sebagai manusia mempunyai tanggungjawab sosial. Tanggungjawab sosial kita adalah memberi kebaikan kepada sesama manusia. Berkontribusi di komunitas IKATAN KATA adalah salah satu wujud tanggungjawab sosial di diri saya pribadi.

Mari bergabung di IKATAN KATA. Jika mau gabung klik saja di https://ikatankata.home.blog/join-us/

The Man Behind A Gun

Hari ini tadi ketemu teman yang lama tidak jumpa. Beliau mempunyai usaha yang sederhana tapi cukup menarik. Dia jualan sayuran dan hasil bumi di rumah. Sederhana….khan…

Warung ini melayani penjualan sayuran meliputi Tomat, Brokoli, Bawang Merah, Bawang putih dsb. Teman saya ini tinggal di Boyolali. Dia dan suami mengambil barang dagangan dari lereng gunung merapi yaitu daerah Selo. Kalau hanya menggelar dagangan dan menunggu pembeli datang. Itu sudah biasa.

Lha menariknya…..

Dia jualan online juga. Saya mendengar kata online maka otak saya berasosiasi dengan program aplikasi android seperti yang dijalankan perusahaan start up seperti TaniHub, Regopantes atau Go-Mart. Saya bergumam, “canggih juga mbak Aris”.

Ternyata bukan aplikasi android yang complicated.……..

Setiap barang dagangan datang ke rumah. Dia catat nama dagangan beserta harganya di memo HP. Catatan itu jauh dari rapi dan informatif. Catatan di copy-paste dan dikirim ke kontak yang ada di phone book melalui aplikasi Whatsapp /WA. Meskipun tidak rapi dan informatif catatannya.

Dia bisa menghabiskan barang dagangan dalam waktu singkat. Profit yang dia dapat diatas 40 % dari harga beli. Cuman sebar catatan tadi ke kontak yang dimilikinya. Kalau cuman nunggu pembeli di warung tidak mungkin lebih cepat dan lebih besar hasilnya. Wauw Banget…..Kok bisa ya…

Kunci sukses nya ternyata bukan di aplikasi. Kuncinya adalah hubungan personal dengan orang lain. Dia mengikuti berbagai kelompok dan komunitas. Dia menjadi anggota WAG berbagai kelompok. No WA dari anggota dari berbagai WAG disimpan di kontak HP. Dia kirim catatan dagangan tadi ke semua kontak yang dimiliki via WA.

Agak nekad sih….mesti ada yang suka dan tidak suka. Kalau ada yang nggak suka bisa dimarahi. Buat dia tidak masalah, resiko usaha katanya. Ternyata ada yang nyantol juga. Nyantol untuk pesan ini dan itu. Pesanan diantar sendiri ke pelanggan. Sampai mulai kewalahan.

Kesimpulannya adalah Secanggih Apapun Teknologi Informasi maka kembali ke manusia yang menggunakannya. Aplikasi yang hebat tanpa ditunjang SDM memadai maka tidak akan efektif dan efisien. Cuman aplikasi WA tapi orang kreatif dan ulet. Perdagangan menjadi ramai dan menguntungkan.

Metode teman saya ini cukup efektif dan murah. No Admin, No System and No Server. Tapi….. kalau membesar lagi maka ya butuh sistem aplikasi. So Far…….belum butuh sampai satu atau dua tahun mendatang. Semoga…Aamiin

It’s the most Important is The Man Behind a Gun not The Gun Itself”

Pembakaran Sampah (2)

Sampah anorganik dikurangi dengan membakar. Bagaimana dengan sampah organik? Awalnya, saya pakai cara menimbun. Saya buat lubang penampungan sampah di kebun.

Lubang ini berfungsi menampung sampah organik seperti : daun-daunan, batang dan akar. Sampah tersebut dikumpulkan di lubang itu untuk dirubah menjadi kompos.  Kompos adalah pupuk yang dihasilkan dari sampah organik.

Katalisator yang digunakan biasanya adalah EM4. Saya siram dengan EM4. EM4 sebagai katalisator untuk membentuk kompos. Sampah diurai menjadi unsur-unsur yang diperlukan oleh tanaman. Kompos terbentuk setelah proses pembentukan selama  1-2 bulan.

Kebun mayoritas ditanami pohon pisang. Karena setiap panen pisang selalu diikuti dengan tebang pohon pisang. Lubang penampungan lebih cepat penuh sebelum terbentuk kompos. Lubang sampah sudah membludak.

Proses dekomposisi ternyata belum menjadi solusi total untuk sampah organik. Arus sampah lebih besar darpada arus dekomposisi. Sampah masih selalu saja menggunung. Saya bisa bayangkan begitu repotnya bagi pekerja yang mengurusi sampah.

Walhasil, pembakaran menjadi solusi alternatif. Kelebihan sampah organik dibakar di dalam drum. Ternyata, membakar sampah itu tidak semudah yang saya bayangkan.

Saya beli drum baru lagi. Saya mengisi dengan sampah organik seperti daun pisang kering dan batang pohon pisang. Daun-daun pohon mangga mengering juga ikut dibakar.

Hasilnya lumayan. Saya dulu bingung buang sampah dari penebangan pohon pisang. Sekarang, saya bisa bakar langsung tanpa harus membuang di suatu tempat. But, timbul masalah baru yaitu polusi udara bersifat temporer. hehehehehehe….

zaki19482

Pembakaran Sampah (1)

Kalau sampah sudah terpisah antara organik dan anorganik. Sampah organik dikonsumsi oleh ayam dan sampah anorganik dijual oleh mbak warti sebagai tambahan penghasilan. Ternyata, sampah masih menggunung. Sampah organik maupun dan organik sama-sama menggunung. Hehehehhe….Pusing juga ya.

Sampah plastik yang mendominasi dari sampah anorganik. Kalau botol plastik maka masih bisa dijual.Apalagi yang merek *Q*A. Lha…. kalau bentuknya plastik pembungkus makanan, aluminium foil, sampah susu kotak, atau pembungkus apapun yang berasal dari plastik dan sudah jadi serpihan. Gimana coba……? Udah tidak laku dijual. Kita tidak mampu mendaur ulang.

Sampah anorganik yang paling sering muncul di rumah yaitu Tisu. Maklum, usaha kami adalah persewaan perlengkapan bayi. Tisu antiseptic adalah andalan kami untuk membersihkan peralatan. Maka menggununglah sampah tisu. Yang nomer dua adalah kotak susu UHT.

Anak kami lebih suka minum susu UHT daripada susu bubuk. Sampah yang dihasilkan dari susu UHT adalah kemasan kosong. Sampah jenis ini sama sekali tidak bisa dimanfaatkan. Karena ada sisa cairan susu di dalam kemasan. Ini rentan munculnya bakteri. Kalau mau dibuat handycraft juga berbahaya. Treatment yang sulit.

Snek makanan dalam kemasan biasanya dibungkus alumunium foil. Ini juga merepotkan. Kalau mau dibuat sebagai handycraft maka butuh dalam jumlah yang banyak. Padahal, kita beli makanan tidak sebanyak itu kecuali sebagai pengepul. Kalau handycraft rusak maka menjadi limbah lagi. Alumunium foil sulit dicarikan solusi mendaur ulang.

Saya punya teman yang mengolah limbah aluminium foil. Dia mengubah alumunium foil menjadi lembaran-lembaran. Alumunium foil mula-ula dipanaskan kemudian dipres menjadi lembaran alumunium foil. Lembaran-lembaran bisa menjadi pelapis meja atau counter-counter di front office hotel atau bank.

Lha, sampah aluminium foil di rumah kami Cuma sedikit. Solusi paling mudah ya dimusnahkan. Cara efektif memusnahkan sampah anorganik adalah pembakaran. Kalau ada yang tidak bisa dijual maka dibakar. Kita kumpulkan sampah anorganik kemudian dibakar. Niscaya sampah menjadi abu.

Saya minta tolong mas Giyoto untuk membelikan tong sampah dari drum. Kita kumpulkan sampah anorganik kemudian dibakar di dalam tong sampah tersebut. Sisa pembakaran sampah adalah abu. Abu tersebut dibuang melalui “pak sampah”.

Karena proses pembuangan sampah melalui proses pembakaran. Volume sampah yang diambiil “pak sampah” berkurang drastis. Sampah yang diambil sudah menjadi abu. Berapapun jumlah sampah anorganik yang dihasilkan di rumah kami. Kami akan bakar kecuali yang bisa dijual. Pengurangan volume sampah bisa sampai 90 % lebih.

Lumayan, sudah tidak menggunung lagi. Solusinya adalah “Pembakaran”. Sampah organik ? Hmm… Ada yang dibakar dan ada yang ditimbun. Ini untuk postingan selanjutnya.  Hehehehehe…..

 

Sampah Anorganik (Kanan) dan Sampah Organik (kanan / sedang dibakar)

 

 

Sampah…Oh…Sampah

Sampah akan menjadi masalah di masa depan. Tanggapan orang akan hal tersebut bisa sangat bervariasi. Orang pesimis bisa bilang gini, “hidup kita semakin tidak sehat”. Orang optimis berkata sebaliknya,” ini ada peluang di masa depan berkaitan sampah”. Orang optimis bisa melonjak girang,”kita harus merubah sampah menjadi emas”.

Kalau saya, sadar diri aja. Saya yakin sampah bisa menjadi masalah masa depan. Tidak sampai pesimis tapi juga tidak terlalu optimis. Kita pakai jargon Aa Gym saja, Mulai dari diri sendiri, Mulai dari yang kecil dan Mulai sekarang juga. Kita urus sampah yang ada di rumah dulu. Itung-itung, aplikasi ilmu sewaktu kuliah. Saya meskipun IP pas-pasan bahkan pernah NASAKOM. Saya tidak ada salahnya mengaplikasikan hal-hal yang sepele dari Ilmu di bangku kuliah dulu. (*tutup muka…..hehehehe..)

Sampah di rumah saya mulai menjadi masalah. Sampah mulai menggunung karena aktivitas rumah tangga dan usaha bisnis. Anak-anak suka jajan menambah masalah. Karena sampah aluminium foil bertambah. Istri suka memasak juga menambah sampah. Kita punya usaha rental mainan juga menimbulkan sampah baik itu berupa kardus mainan, plastik pembungkus, baterei sampai tisu pembersih.

Mbak Warti sering bilang ke saya, “Sampah rumah kita paling banyak sepanjang gang ini,mas”. Saya nggak enak juga sama petugas sampah. Kita bayar sama dengan tetangga tetapi volume bisa dua kali dari sampah tetangga. Maklum, Karena Limbah usaha rental dan usaha pesanan masakan  yang menjadi ekstra sampah.

Setiap hari selalu ada limbah tisu. Karena membersihkan mainan dengan tisu. Belum lagi, sampah plastik dari alumunium foil untuk pembungkus makanan, Botol Soft drink dan AMDK (Air Minum Dalam Kemasan). Semua itu limbah yang berasal dari sampah Anorganik.

Kami juga menyuplai makanan ke Rumah Makan milik keluarga besar. Kegiatan memasak menghasilkan limbah seperti : dedaunan, kulit bawang. Bonggol sayuran dsb. Kami juga memasak untuk keperluan pribadi. Karena anggota keluarga agak banyak. Maka kalau masak besar maka limbah juga banyak. Belum lagi ada sisa makanan. Semua itu adalah sumber limbah organik.

Pernah suatu saat, Petugas yang mengambil sampah di rumah libur sehari. Sampah  menggunung dan tidak karuan. Pemandangan tidak enak dipandang dan tidak sehat. Baunya juga tidak enak. Kita butuh sedikit kreatifitas untuk masalah sampah.

Alhamdulillah, Mbak Warti emang kreatif. Sampah yang bisa “dijual” dikumpulkan. Semangatnya bukan solusi limbah. Semangat nyari tambahan penghasilan. Hehehehehe…Tapi gak  masalah. Ini cukup solutif. Mbak Warti jadi rajin mengumpulkan sampah botol plastik. Dia seneng dapat tambahan penghasilan. Kami yang tuan rumah juga senang. Karena rumah bebas dari sampah plastik. Katakanlah ini adalah simbiosis mutualisme.

Sampah sisa makanan. Ini menyisakan masalah tersendiri. Karena membuang makan secara etika tidak pantas. Orang Jawa bilang “ora elok”. Karena sama saja membuang rezeki. Apa boleh buat? Karena tidak tersentuh atau memang bersisa. Karena terlanjur memasak ternyata ada kegiatan di luar rumah. Kita makan di luar. Kita masuk rumah sudah malam. Akhirnya, masakan sudah basi.

Dahulu, Makanan sisa/basi dibuang begitu saja. Lha mau gimana lagi?. Karena kalau tidak dibuang baunya itu lho dan jadi sumber penyakit. Eureka……hehehehe… Ada solusi.

Suatu hari, Mbak Warti datang dari kampung halaman dengan membawa sepasang ayam (Ayam Babon dan Ayam Jago). Anak-anak sangat girang melihat sepasang ayam. Mereka pikir kalau mau ada kebun binatang di rumah. Anak emang paling suka dengan hewan maka hadirlah kebun binatang.

Saya siapkan kandang buat sepasang ayam tersebut. Saya kasih pakan berupa  bekatul dan BR. Makanan pabrik tentu lebih bergizi. Eh…Ternyata…, saya keliru besar. Makanan sisa ternyata disukai ayam. “ Makanan sisa lebih bagus buat ayam daripada pakan pabrikan, gitu mas”, Mbak Warti mengoreksi pendapat saya.

Alhamdulillah, Masalah makanan sisa sudah ada solusi. Makanan sisa bisa diberikan ke  ayam. Bahkan, saya kadang sengaja menyisakan buat ayam. Pakan ayam kombinasi dari pakan pabrikan, bekatul, makanan sisa dan dedaunan yang terbuang. Hasilnya? Hmmmm…Luar Biasa. Saya akan ceritakan di postingan tersendiri.

Ini baru solusi awal dari limbah rumah tangga. Mbak Warti masih banyak segudang solusi. Solusi “ mbak warti dengan “sok tahu” saya. So, Amburadul. Hehehehehe….

Balance Bike

Dulu,saya belajar naik sepeda dengan langsung menaiki tanpa tips tertentu. Kakak sepupu yang mengajari naik sepeda. Saya ucapkan terimakasih kepada mbak Ani. Beliau adalah kakak sepupu mengajari dengan penuh kesabaran. Lama banget bisa naik sepeda. Teknik belajar saya yang kurang pas.

Belajar naik sepeda yang pertama kali dilatih adalah keseimbangan. Saya paham setelah melihat di Yutub. Ah…. pantes, saya belajar naik sepeda kok lama banget. Sebelum mengayuh pedal maka melatih keseimbangan terlebih dahulu.

Pada awal belajar naik sepeda. Kita lepas dulu pedal dan berusaha meluncur dengan menjaga keseimbangan. Lha,prinsip melatih keseimbangan itu ada di Balance Bike. Balance bike atau boleh saya sebut yaitu Sepeda keseimbangan atau sepeda tanpa pedal.

Kita mengendarai balance bike berjalan dengan menapak dua kaki terlebih pada awalnya. Tahap selanjutnya ,kita meluncur dengan dua kaki terangkat. Balance Bike itu menyenangkan pas meluncur ke bawah dan jalan berkelok.. Kalau teknik meluncur dilakukan dengan baik maka tahap selanjutnya adalah mengkombinasi antara mengayuh dan meluncur.

Begitu kiranya, saya belajar dari Yutub. hehehehehe…Bisa benar atau salah. Anak laki-laki saya sedang belajar mengendarai balance bike. Usianya masih 2 tahun lebih sedikit. Semoga segera bisa mengendarai balance bike kemudian sepeda. Kalau udah lancar. Kita naik sepeda keliling kampung. Hehehehehe…..

Sisa Makanan

Hampir tidak ada makanan yang tersisa untuk saat ini di rumah. Semua makanan hampir tidak terbuang sia-sia. Semua makanan hampir terkonsumsi dengan baik. Siapa yang membantu menghabiskan sisa makanan? Ternyata adalah sepasang ayam. Sepasang ayam yang terdiri ayam seekor ayam jago dan ayam betina.

Saya sudah membayangkan sebelumnya memiliki ayam. Binatang yang suatu saat bisa dikonsumsi sendiri. Binatang ini juga ikut mengkonsumsi sisa makanan di rumah kami, misal : Ayam atau Ikan Lele. Dua jenis binatang ini sangat ahli dalam mengkonsumsi sisa makanan. Jadi, makanan di rumah kami relatif tidak mubadzir.

Sungguh amat sayang, Kita membuang sisa nasi yang masih banyak. Ada perasaan bersalah, karena jauh disana masih banyak membutuhkan tapi kita malah membuang. Apa boleh buat? Karena tidak layak konsumsi maka harus dibuang. Kita dahulu juga tidak punya hewan peliharaan. Mau dikasih siapa? Sekitar kami juga tidak yang bikin karak.

Kita sudah punya tukang “tadah” untuk sisa makanan di rumah kami. Sepasang ayam itu adalah penadahnya. Pemberian makanan sisa mengirit biaya pakan ayam. Apabila ayam itu sudah besar maka bisa disembelih. Inilah prinsip “Sisa Makanan ” (Dari Kita Oleh Kita dan Untuk Kita)

Asisten Rumah Tangga yang berbaik hati. Dia memberikan sepasang ayam. Dia setelah mengetahui keinginan saya untuk mempunyai ayam. Sepasang ayam ini berasal dari induk yang saya belikan untuk keluarganya. Jadi, Saya pernah memberi modal berupa “bibit ayam” sebanyak 100 ekor.

Setelah dikembangkan maka ada yang dikasihkan kembali ke saya. Katanya, ayam bertelur setiap hari. Dia tidak perlu beli telur lagi dan cukup untuk anak-anaknya.

Karena saya ingin punya ayam. Dia membawa sepasang ayam dari rumah. Sepasang ayam itu sudah mulai membesar. Ayam jagonya gemar berkokok. Ada hiburan baru di rumah kami.

Terimakasih Mbak Warti (ART kami). Dia memberi solusi masalah kita sekaligus hiburan. Sisa Makanan sudah ada yang menampung. Suara kokok ayam juga menjadi hiburan kami. Anak-anak suka memberi makan ayam.