Balance Bike

Dulu,saya belajar naik sepeda dengan langsung menaiki tanpa tips tertentu. Kakak sepupu yang mengajari naik sepeda. Saya ucapkan terimakasih kepada mbak Ani. Beliau adalah kakak sepupu mengajari dengan penuh kesabaran. Lama banget bisa naik sepeda. Teknik belajar saya yang kurang pas.

Belajar naik sepeda yang pertama kali dilatih adalah keseimbangan. Saya paham setelah melihat di Yutub. Ah…. pantes, saya belajar naik sepeda kok lama banget. Sebelum mengayuh pedal maka melatih keseimbangan terlebih dahulu.

Pada awal belajar naik sepeda. Kita lepas dulu pedal dan berusaha meluncur dengan menjaga keseimbangan. Lha,prinsip melatih keseimbangan itu ada di Balance Bike. Balance bike atau boleh saya sebut yaitu Sepeda keseimbangan atau sepeda tanpa pedal.

Kita mengendarai balance bike berjalan dengan menapak dua kaki terlebih pada awalnya. Tahap selanjutnya ,kita meluncur dengan dua kaki terangkat. Balance Bike itu menyenangkan pas meluncur ke bawah dan jalan berkelok.. Kalau teknik meluncur dilakukan dengan baik maka tahap selanjutnya adalah mengkombinasi antara mengayuh dan meluncur.

Begitu kiranya, saya belajar dari Yutub. hehehehehe…Bisa benar atau salah. Anak laki-laki saya sedang belajar mengendarai balance bike. Usianya masih 2 tahun lebih sedikit. Semoga segera bisa mengendarai balance bike kemudian sepeda. Kalau udah lancar. Kita naik sepeda keliling kampung. Hehehehehe…..

Advertisements

Sisa Makanan

Hampir tidak ada makanan yang tersisa untuk saat ini di rumah. Semua makanan hampir tidak terbuang sia-sia. Semua makanan hampir terkonsumsi dengan baik. Siapa yang membantu menghabiskan sisa makanan? Ternyata adalah sepasang ayam. Sepasang ayam yang terdiri ayam seekor ayam jago dan ayam betina.

Saya sudah membayangkan sebelumnya memiliki ayam. Binatang yang suatu saat bisa dikonsumsi sendiri. Binatang ini juga ikut mengkonsumsi sisa makanan di rumah kami, misal : Ayam atau Ikan Lele. Dua jenis binatang ini sangat ahli dalam mengkonsumsi sisa makanan. Jadi, makanan di rumah kami relatif tidak mubadzir.

Sungguh amat sayang, Kita membuang sisa nasi yang masih banyak. Ada perasaan bersalah, karena jauh disana masih banyak membutuhkan tapi kita malah membuang. Apa boleh buat? Karena tidak layak konsumsi maka harus dibuang. Kita dahulu juga tidak punya hewan peliharaan. Mau dikasih siapa? Sekitar kami juga tidak yang bikin karak.

Kita sudah punya tukang “tadah” untuk sisa makanan di rumah kami. Sepasang ayam itu adalah penadahnya. Pemberian makanan sisa mengirit biaya pakan ayam. Apabila ayam itu sudah besar maka bisa disembelih. Inilah prinsip “Sisa Makanan ” (Dari Kita Oleh Kita dan Untuk Kita)

Asisten Rumah Tangga yang berbaik hati. Dia memberikan sepasang ayam. Dia setelah mengetahui keinginan saya untuk mempunyai ayam. Sepasang ayam ini berasal dari induk yang saya belikan untuk keluarganya. Jadi, Saya pernah memberi modal berupa “bibit ayam” sebanyak 100 ekor.

Setelah dikembangkan maka ada yang dikasihkan kembali ke saya. Katanya, ayam bertelur setiap hari. Dia tidak perlu beli telur lagi dan cukup untuk anak-anaknya.

Karena saya ingin punya ayam. Dia membawa sepasang ayam dari rumah. Sepasang ayam itu sudah mulai membesar. Ayam jagonya gemar berkokok. Ada hiburan baru di rumah kami.

Terimakasih Mbak Warti (ART kami). Dia memberi solusi masalah kita sekaligus hiburan. Sisa Makanan sudah ada yang menampung. Suara kokok ayam juga menjadi hiburan kami. Anak-anak suka memberi makan ayam.

Marketplace

Urusan jual beli ternyata mengalami lompatan besar. Transaksi dimulai dengan barter berkembang menggunakan uang dan dilakukan di pasar. Pasar mengalami evolusi mulai pasar tradisional menjadi pasar modern sampai era Centro, Metro dan SOGO. Di era millenial ini, Transaksi jual-beli menjadi sangat personal yaitu melalui marketplace dengan Gadget. Kita membayar juga tanpa uang tetapi dengan e-money.

Kita bertransaksi disana tanpa ketemu sang penjual. Kita melihat foto saja dan cocok. Maka langsung diklik “bayar”. Kita bisa mengunjungi “pasar” dimanapun, kapanpun dan dalam keadaan bagaimanapun. “Pasar” ini mempunyai nama yang unik dan variatif seperti Bukalapak, Tokopedia, Shopee, Lazada dsb. “Pasar” ini ditopang oleh industri jasa Delivery yang sudah menjamur seperti : JNE, JNT, Lion Cargo atau Wahana. Apalah arti “pasar ” ini jika tidak ada jasa Delivery? “Pasar” ini hanya lelucon jika tanpa Jasa Delivery. Lelucon di era millenial.

Dahulu, saya ragu untuk berbelanja di “Pasar” ini. Karena transaksi membutuhkan jasa perbankan secara langsung (ATM, M-Banking, E-Banking dsb). Sekarang, “Pasar” ini telah dibanjiri konsumen yang ternyata tidak punya rekening di bank .

Kita sering melihat orang antre di gerai ALFAMART/INDOMARET untuk membayar transaksi di “Pasar”. Mereka tidak ragu lagi berbelanja di “pasar”. Karena sistem pembayaran sudah dipermudah. Ini revolusi sistem pembayaran dimulai dari barter dilanjutkan uang dilengkapi dengan e-money.

“Pasar” itu adalah Marketplace, Marketplace diterjemahan secara harfiah artinya ya pasar itu sendiri yang kekinian. Marketplace itu adalah pasar yang ada di dunia maya. Itu sepanjang pengertian yang saya ketahui. Pemerintah melihat potensi pajak dari “pasar” ini cukup besar. Maka, Pemerintah sedang pusing tujuh keliling bagaimana me-“majak”-i transaksi dunia maya.

Ah…Nikmatnya Hidup di Jaman NOW. Semua bisa dilakukan dengan ujung jari. Tapi inget….Ancaman Konsumerisme mengancam saya dan kita semua. Kita sudah belanja online dan masih aja belanja offline. Lihat aja, Mall masih rame dan banyak pengunjung.Banyak ahli yang meramalkan banyak Mall akan Gulung Tikar akan tetapi masih ramai aja. Karena semua sudah online mulai belanja online, bisnis online, teman online. Ini bisa saja sampai era Nikah Online . Uppssss….!!!

Ngempit

Posisi tangan sedang “ngempit” tas 🙂

Sumber foto : disini

Negara mawa tata, Desa mawa cara

Itulah ungkapan yang menunjukkan  setiap tempat mempunyai aturan main. Itu bisa berupa kampung, keluarga, kantor bahkan pasar.Para penghuni mempunyai aturan yang tertulis atau tidak tertulis. Aturan tidak tertulis yang disepakati bersama disebut konvensi.

Pasar yang mau saya jadikan adalah: pasar klewer. Pasar Klewer adalah salah satu pasar tradisional yang ada di Solo. Pasar yang menjual produk-produk garmen,mulai dari batik, kain, baju, celana sampai pakaian dalam. Pasar ini tidak menjual kebutuhan harian yang lain. Hanya produk garmen saja.

Kalau anda tinggal di Jogjakarta maka anda ngerti Pasar Beringharjo. Pasar Beringharjo mirip dengan pasar klewer. Pasar Klewer ini sangat besar nilai transaksi per hari. Pasar ini mempunyai omzet  miliaran rupiah setiap harinya. Kalau di Jakarta itu mirip pasar Tanah Abang.

Pasar tradisional dengan omzet yang besar. Pasar yang menjadi tempat jujugan para bakul dari berbagai daerah. Pedagang kain yang berasal dari sekitar solo dan pantura banyak berdatangan ke pasar klewer. Mereka kulakan di pasar klewer kemudian dijual di daerah asalnya.

Ada kebiasan unik di pasar klewer yaitu “ngempit”. “Ngempit” dalam bahasa jawa artinya kita membawa sesuatu dengan menjepitkan antara lengan kita dengan ketiak. “Ngempit” dalam kebiasaan pasar klewer adalah meminjamkan barang kepada seseorang untuk dijual.

Modalnya adalah kepercayaan. Jadi untuk berdagang kain atau batik tidak perlu modal uang. Apabila kita mempunyai track record yang bagus maka sang pedagang akan meminjami dagangan dengan sukarela. Apalagi kalau terbukti jika kita jual laku keras. Kita akan dititipi banyak dagangan.

Juragan yang meminjamkan ke para tukang “ngempit” akan memberikan harga jual. Tukang “ngempit” akan menjual diatas harga jual yang diberikan juragan. Selisih harga yang dia jual dengan harga dari juragan adalah keuntungan mereka. Tukang “ngempit” akan menyetorkan hasil penjualan sesuai harga dari juragan.

Banyak yang sukses dari sistem “ngempit” ini. Mereka pada awalnya cuman “ngempit”. Lama-lama, bisa kulakan sendiri dan pesanan semakin menggunung. Karena banyak pembelian maka tukang “ngempit” naik kelas menjadi juragan.

Tukang “ngempit” yang semula berdagang keliling. Mereka akhirnya membeli kios dan menjadi Juragan bagi tukang “ngempit” yang lain. Ini banyak sekali terjadi di Solo. Semula biasa bahkan nyaris tanpa modal uang. Mereka menjadi orang kaya dan juragan besar.

Modalnya adalah kepercayaan. Apabila bisa dipercaya dan mempunyai pangsa pasar. Otomatis mereka akan naik kelas asal tekun dan rajin. Mereka para tukang “ngempit” adalah orang yang rajin, tangguh dan pantang menyerah.

Berbisnis memang butuh modal uang. Saya yakin dan percaya 100%. Tetapi, untuk mengawali tidak selalu butuh uang. Kita hanya butuh kepercayaan dan kerja keras. Kepercayaan yang menghadirkan modal. Kerja keras yang akan menghadirkan pelanggan. Kepercayaan dan pelanggan yang akan menghasilkan uang. Hehehehe….

Akhirnya, Pasar Tradisional hadir segala keunikannya yang tidak tergantikan. Kalau anda pernah mendengar istilah “Dropshipping”dalam dunia online shop. Ini mirip tapi beda. Dunia “Dropshipping” yang diberikan foto. Para Dropshipper cuman disuruh foto produk atau dikasih foto . Pengiriman barang yang laku berasal dari juragannya.

Dunia “ngempit” yang dipinjamkan adalah barang dagangan. Mereka para pedagang pasar lebih berani mengambil resiko. Karena yang diberikan tidak cuma foto tetapi barang dagangan. Mungkin,….. “Dropshipping” adalah bentuk lain dari “Ngempit” di era medsos kali ini ?

Bisa Jadi. Ah biarkan ahli marketing yang menyimpulkan hubungan “ngempit” dan “Dropshipping”. Hehehehehe…..

Salam dari Solo,18-10-2017