Pembakaran Sampah (2)

Sampah anorganik dikurangi dengan membakar. Bagaimana dengan sampah organik? Awalnya, saya pakai cara menimbun. Saya buat lubang penampungan sampah di kebun.

Lubang ini berfungsi menampung sampah organik seperti : daun-daunan, batang dan akar. Sampah tersebut dikumpulkan di lubang itu untuk dirubah menjadi kompos.  Kompos adalah pupuk yang dihasilkan dari sampah organik.

Katalisator yang digunakan biasanya adalah EM4. Saya siram dengan EM4. EM4 sebagai katalisator untuk membentuk kompos. Sampah diurai menjadi unsur-unsur yang diperlukan oleh tanaman. Kompos terbentuk setelah proses pembentukan selama  1-2 bulan.

Kebun mayoritas ditanami pohon pisang. Karena setiap panen pisang selalu diikuti dengan tebang pohon pisang. Lubang penampungan lebih cepat penuh sebelum terbentuk kompos. Lubang sampah sudah membludak.

Proses dekomposisi ternyata belum menjadi solusi total untuk sampah organik. Arus sampah lebih besar darpada arus dekomposisi. Sampah masih selalu saja menggunung. Saya bisa bayangkan begitu repotnya bagi pekerja yang mengurusi sampah.

Walhasil, pembakaran menjadi solusi alternatif. Kelebihan sampah organik dibakar di dalam drum. Ternyata, membakar sampah itu tidak semudah yang saya bayangkan.

Saya beli drum baru lagi. Saya mengisi dengan sampah organik seperti daun pisang kering dan batang pohon pisang. Daun-daun pohon mangga mengering juga ikut dibakar.

Hasilnya lumayan. Saya dulu bingung buang sampah dari penebangan pohon pisang. Sekarang, saya bisa bakar langsung tanpa harus membuang di suatu tempat. But, timbul masalah baru yaitu polusi udara bersifat temporer. hehehehehehe….

zaki19482

Advertisements

Pembakaran Sampah (1)

Kalau sampah sudah terpisah antara organik dan anorganik. Sampah organik dikonsumsi oleh ayam dan sampah anorganik dijual oleh mbak warti sebagai tambahan penghasilan. Ternyata, sampah masih menggunung. Sampah organik maupun dan organik sama-sama menggunung. Hehehehhe….Pusing juga ya.

Sampah plastik yang mendominasi dari sampah anorganik. Kalau botol plastik maka masih bisa dijual.Apalagi yang merek *Q*A. Lha…. kalau bentuknya plastik pembungkus makanan, aluminium foil, sampah susu kotak, atau pembungkus apapun yang berasal dari plastik dan sudah jadi serpihan. Gimana coba……? Udah tidak laku dijual. Kita tidak mampu mendaur ulang.

Sampah anorganik yang paling sering muncul di rumah yaitu Tisu. Maklum, usaha kami adalah persewaan perlengkapan bayi. Tisu antiseptic adalah andalan kami untuk membersihkan peralatan. Maka menggununglah sampah tisu. Yang nomer dua adalah kotak susu UHT.

Anak kami lebih suka minum susu UHT daripada susu bubuk. Sampah yang dihasilkan dari susu UHT adalah kemasan kosong. Sampah jenis ini sama sekali tidak bisa dimanfaatkan. Karena ada sisa cairan susu di dalam kemasan. Ini rentan munculnya bakteri. Kalau mau dibuat handycraft juga berbahaya. Treatment yang sulit.

Snek makanan dalam kemasan biasanya dibungkus alumunium foil. Ini juga merepotkan. Kalau mau dibuat sebagai handycraft maka butuh dalam jumlah yang banyak. Padahal, kita beli makanan tidak sebanyak itu kecuali sebagai pengepul. Kalau handycraft rusak maka menjadi limbah lagi. Alumunium foil sulit dicarikan solusi mendaur ulang.

Saya punya teman yang mengolah limbah aluminium foil. Dia mengubah alumunium foil menjadi lembaran-lembaran. Alumunium foil mula-ula dipanaskan kemudian dipres menjadi lembaran alumunium foil. Lembaran-lembaran bisa menjadi pelapis meja atau counter-counter di front office hotel atau bank.

Lha, sampah aluminium foil di rumah kami Cuma sedikit. Solusi paling mudah ya dimusnahkan. Cara efektif memusnahkan sampah anorganik adalah pembakaran. Kalau ada yang tidak bisa dijual maka dibakar. Kita kumpulkan sampah anorganik kemudian dibakar. Niscaya sampah menjadi abu.

Saya minta tolong mas Giyoto untuk membelikan tong sampah dari drum. Kita kumpulkan sampah anorganik kemudian dibakar di dalam tong sampah tersebut. Sisa pembakaran sampah adalah abu. Abu tersebut dibuang melalui “pak sampah”.

Karena proses pembuangan sampah melalui proses pembakaran. Volume sampah yang diambiil “pak sampah” berkurang drastis. Sampah yang diambil sudah menjadi abu. Berapapun jumlah sampah anorganik yang dihasilkan di rumah kami. Kami akan bakar kecuali yang bisa dijual. Pengurangan volume sampah bisa sampai 90 % lebih.

Lumayan, sudah tidak menggunung lagi. Solusinya adalah “Pembakaran”. Sampah organik ? Hmm… Ada yang dibakar dan ada yang ditimbun. Ini untuk postingan selanjutnya.  Hehehehehe…..

 

Sampah Anorganik (Kanan) dan Sampah Organik (kanan / sedang dibakar)

 

 

Sampah…Oh…Sampah

Sampah akan menjadi masalah di masa depan. Tanggapan orang akan hal tersebut bisa sangat bervariasi. Orang pesimis bisa bilang gini, “hidup kita semakin tidak sehat”. Orang optimis berkata sebaliknya,” ini ada peluang di masa depan berkaitan sampah”. Orang optimis bisa melonjak girang,”kita harus merubah sampah menjadi emas”.

Kalau saya, sadar diri aja. Saya yakin sampah bisa menjadi masalah masa depan. Tidak sampai pesimis tapi juga tidak terlalu optimis. Kita pakai jargon Aa Gym saja, Mulai dari diri sendiri, Mulai dari yang kecil dan Mulai sekarang juga. Kita urus sampah yang ada di rumah dulu. Itung-itung, aplikasi ilmu sewaktu kuliah. Saya meskipun IP pas-pasan bahkan pernah NASAKOM. Saya tidak ada salahnya mengaplikasikan hal-hal yang sepele dari Ilmu di bangku kuliah dulu. (*tutup muka…..hehehehe..)

Sampah di rumah saya mulai menjadi masalah. Sampah mulai menggunung karena aktivitas rumah tangga dan usaha bisnis. Anak-anak suka jajan menambah masalah. Karena sampah aluminium foil bertambah. Istri suka memasak juga menambah sampah. Kita punya usaha rental mainan juga menimbulkan sampah baik itu berupa kardus mainan, plastik pembungkus, baterei sampai tisu pembersih.

Mbak Warti sering bilang ke saya, “Sampah rumah kita paling banyak sepanjang gang ini,mas”. Saya nggak enak juga sama petugas sampah. Kita bayar sama dengan tetangga tetapi volume bisa dua kali dari sampah tetangga. Maklum, Karena Limbah usaha rental dan usaha pesanan masakan  yang menjadi ekstra sampah.

Setiap hari selalu ada limbah tisu. Karena membersihkan mainan dengan tisu. Belum lagi, sampah plastik dari alumunium foil untuk pembungkus makanan, Botol Soft drink dan AMDK (Air Minum Dalam Kemasan). Semua itu limbah yang berasal dari sampah Anorganik.

Kami juga menyuplai makanan ke Rumah Makan milik keluarga besar. Kegiatan memasak menghasilkan limbah seperti : dedaunan, kulit bawang. Bonggol sayuran dsb. Kami juga memasak untuk keperluan pribadi. Karena anggota keluarga agak banyak. Maka kalau masak besar maka limbah juga banyak. Belum lagi ada sisa makanan. Semua itu adalah sumber limbah organik.

Pernah suatu saat, Petugas yang mengambil sampah di rumah libur sehari. Sampah  menggunung dan tidak karuan. Pemandangan tidak enak dipandang dan tidak sehat. Baunya juga tidak enak. Kita butuh sedikit kreatifitas untuk masalah sampah.

Alhamdulillah, Mbak Warti emang kreatif. Sampah yang bisa “dijual” dikumpulkan. Semangatnya bukan solusi limbah. Semangat nyari tambahan penghasilan. Hehehehehe…Tapi gak  masalah. Ini cukup solutif. Mbak Warti jadi rajin mengumpulkan sampah botol plastik. Dia seneng dapat tambahan penghasilan. Kami yang tuan rumah juga senang. Karena rumah bebas dari sampah plastik. Katakanlah ini adalah simbiosis mutualisme.

Sampah sisa makanan. Ini menyisakan masalah tersendiri. Karena membuang makan secara etika tidak pantas. Orang Jawa bilang “ora elok”. Karena sama saja membuang rezeki. Apa boleh buat? Karena tidak tersentuh atau memang bersisa. Karena terlanjur memasak ternyata ada kegiatan di luar rumah. Kita makan di luar. Kita masuk rumah sudah malam. Akhirnya, masakan sudah basi.

Dahulu, Makanan sisa/basi dibuang begitu saja. Lha mau gimana lagi?. Karena kalau tidak dibuang baunya itu lho dan jadi sumber penyakit. Eureka……hehehehe… Ada solusi.

Suatu hari, Mbak Warti datang dari kampung halaman dengan membawa sepasang ayam (Ayam Babon dan Ayam Jago). Anak-anak sangat girang melihat sepasang ayam. Mereka pikir kalau mau ada kebun binatang di rumah. Anak emang paling suka dengan hewan maka hadirlah kebun binatang.

Saya siapkan kandang buat sepasang ayam tersebut. Saya kasih pakan berupa  bekatul dan BR. Makanan pabrik tentu lebih bergizi. Eh…Ternyata…, saya keliru besar. Makanan sisa ternyata disukai ayam. “ Makanan sisa lebih bagus buat ayam daripada pakan pabrikan, gitu mas”, Mbak Warti mengoreksi pendapat saya.

Alhamdulillah, Masalah makanan sisa sudah ada solusi. Makanan sisa bisa diberikan ke  ayam. Bahkan, saya kadang sengaja menyisakan buat ayam. Pakan ayam kombinasi dari pakan pabrikan, bekatul, makanan sisa dan dedaunan yang terbuang. Hasilnya? Hmmmm…Luar Biasa. Saya akan ceritakan di postingan tersendiri.

Ini baru solusi awal dari limbah rumah tangga. Mbak Warti masih banyak segudang solusi. Solusi “ mbak warti dengan “sok tahu” saya. So, Amburadul. Hehehehehe….

Balance Bike

Dulu,saya belajar naik sepeda dengan langsung menaiki tanpa tips tertentu. Kakak sepupu yang mengajari naik sepeda. Saya ucapkan terimakasih kepada mbak Ani. Beliau adalah kakak sepupu mengajari dengan penuh kesabaran. Lama banget bisa naik sepeda. Teknik belajar saya yang kurang pas.

Belajar naik sepeda yang pertama kali dilatih adalah keseimbangan. Saya paham setelah melihat di Yutub. Ah…. pantes, saya belajar naik sepeda kok lama banget. Sebelum mengayuh pedal maka melatih keseimbangan terlebih dahulu.

Pada awal belajar naik sepeda. Kita lepas dulu pedal dan berusaha meluncur dengan menjaga keseimbangan. Lha,prinsip melatih keseimbangan itu ada di Balance Bike. Balance bike atau boleh saya sebut yaitu Sepeda keseimbangan atau sepeda tanpa pedal.

Kita mengendarai balance bike berjalan dengan menapak dua kaki terlebih pada awalnya. Tahap selanjutnya ,kita meluncur dengan dua kaki terangkat. Balance Bike itu menyenangkan pas meluncur ke bawah dan jalan berkelok.. Kalau teknik meluncur dilakukan dengan baik maka tahap selanjutnya adalah mengkombinasi antara mengayuh dan meluncur.

Begitu kiranya, saya belajar dari Yutub. hehehehehe…Bisa benar atau salah. Anak laki-laki saya sedang belajar mengendarai balance bike. Usianya masih 2 tahun lebih sedikit. Semoga segera bisa mengendarai balance bike kemudian sepeda. Kalau udah lancar. Kita naik sepeda keliling kampung. Hehehehehe…..

Sisa Makanan

Hampir tidak ada makanan yang tersisa untuk saat ini di rumah. Semua makanan hampir tidak terbuang sia-sia. Semua makanan hampir terkonsumsi dengan baik. Siapa yang membantu menghabiskan sisa makanan? Ternyata adalah sepasang ayam. Sepasang ayam yang terdiri ayam seekor ayam jago dan ayam betina.

Saya sudah membayangkan sebelumnya memiliki ayam. Binatang yang suatu saat bisa dikonsumsi sendiri. Binatang ini juga ikut mengkonsumsi sisa makanan di rumah kami, misal : Ayam atau Ikan Lele. Dua jenis binatang ini sangat ahli dalam mengkonsumsi sisa makanan. Jadi, makanan di rumah kami relatif tidak mubadzir.

Sungguh amat sayang, Kita membuang sisa nasi yang masih banyak. Ada perasaan bersalah, karena jauh disana masih banyak membutuhkan tapi kita malah membuang. Apa boleh buat? Karena tidak layak konsumsi maka harus dibuang. Kita dahulu juga tidak punya hewan peliharaan. Mau dikasih siapa? Sekitar kami juga tidak yang bikin karak.

Kita sudah punya tukang “tadah” untuk sisa makanan di rumah kami. Sepasang ayam itu adalah penadahnya. Pemberian makanan sisa mengirit biaya pakan ayam. Apabila ayam itu sudah besar maka bisa disembelih. Inilah prinsip “Sisa Makanan ” (Dari Kita Oleh Kita dan Untuk Kita)

Asisten Rumah Tangga yang berbaik hati. Dia memberikan sepasang ayam. Dia setelah mengetahui keinginan saya untuk mempunyai ayam. Sepasang ayam ini berasal dari induk yang saya belikan untuk keluarganya. Jadi, Saya pernah memberi modal berupa “bibit ayam” sebanyak 100 ekor.

Setelah dikembangkan maka ada yang dikasihkan kembali ke saya. Katanya, ayam bertelur setiap hari. Dia tidak perlu beli telur lagi dan cukup untuk anak-anaknya.

Karena saya ingin punya ayam. Dia membawa sepasang ayam dari rumah. Sepasang ayam itu sudah mulai membesar. Ayam jagonya gemar berkokok. Ada hiburan baru di rumah kami.

Terimakasih Mbak Warti (ART kami). Dia memberi solusi masalah kita sekaligus hiburan. Sisa Makanan sudah ada yang menampung. Suara kokok ayam juga menjadi hiburan kami. Anak-anak suka memberi makan ayam.

Marketplace

Urusan jual beli ternyata mengalami lompatan besar. Transaksi dimulai dengan barter berkembang menggunakan uang dan dilakukan di pasar. Pasar mengalami evolusi mulai pasar tradisional menjadi pasar modern sampai era Centro, Metro dan SOGO. Di era millenial ini, Transaksi jual-beli menjadi sangat personal yaitu melalui marketplace dengan Gadget. Kita membayar juga tanpa uang tetapi dengan e-money.

Kita bertransaksi disana tanpa ketemu sang penjual. Kita melihat foto saja dan cocok. Maka langsung diklik “bayar”. Kita bisa mengunjungi “pasar” dimanapun, kapanpun dan dalam keadaan bagaimanapun. “Pasar” ini mempunyai nama yang unik dan variatif seperti Bukalapak, Tokopedia, Shopee, Lazada dsb. “Pasar” ini ditopang oleh industri jasa Delivery yang sudah menjamur seperti : JNE, JNT, Lion Cargo atau Wahana. Apalah arti “pasar ” ini jika tidak ada jasa Delivery? “Pasar” ini hanya lelucon jika tanpa Jasa Delivery. Lelucon di era millenial.

Dahulu, saya ragu untuk berbelanja di “Pasar” ini. Karena transaksi membutuhkan jasa perbankan secara langsung (ATM, M-Banking, E-Banking dsb). Sekarang, “Pasar” ini telah dibanjiri konsumen yang ternyata tidak punya rekening di bank .

Kita sering melihat orang antre di gerai ALFAMART/INDOMARET untuk membayar transaksi di “Pasar”. Mereka tidak ragu lagi berbelanja di “pasar”. Karena sistem pembayaran sudah dipermudah. Ini revolusi sistem pembayaran dimulai dari barter dilanjutkan uang dilengkapi dengan e-money.

“Pasar” itu adalah Marketplace, Marketplace diterjemahan secara harfiah artinya ya pasar itu sendiri yang kekinian. Marketplace itu adalah pasar yang ada di dunia maya. Itu sepanjang pengertian yang saya ketahui. Pemerintah melihat potensi pajak dari “pasar” ini cukup besar. Maka, Pemerintah sedang pusing tujuh keliling bagaimana me-“majak”-i transaksi dunia maya.

Ah…Nikmatnya Hidup di Jaman NOW. Semua bisa dilakukan dengan ujung jari. Tapi inget….Ancaman Konsumerisme mengancam saya dan kita semua. Kita sudah belanja online dan masih aja belanja offline. Lihat aja, Mall masih rame dan banyak pengunjung.Banyak ahli yang meramalkan banyak Mall akan Gulung Tikar akan tetapi masih ramai aja. Karena semua sudah online mulai belanja online, bisnis online, teman online. Ini bisa saja sampai era Nikah Online . Uppssss….!!!

Ngempit

Posisi tangan sedang “ngempit” tas 🙂

Sumber foto : disini

Negara mawa tata, Desa mawa cara

Itulah ungkapan yang menunjukkan  setiap tempat mempunyai aturan main. Itu bisa berupa kampung, keluarga, kantor bahkan pasar.Para penghuni mempunyai aturan yang tertulis atau tidak tertulis. Aturan tidak tertulis yang disepakati bersama disebut konvensi.

Pasar yang mau saya jadikan adalah: pasar klewer. Pasar Klewer adalah salah satu pasar tradisional yang ada di Solo. Pasar yang menjual produk-produk garmen,mulai dari batik, kain, baju, celana sampai pakaian dalam. Pasar ini tidak menjual kebutuhan harian yang lain. Hanya produk garmen saja.

Kalau anda tinggal di Jogjakarta maka anda ngerti Pasar Beringharjo. Pasar Beringharjo mirip dengan pasar klewer. Pasar Klewer ini sangat besar nilai transaksi per hari. Pasar ini mempunyai omzet  miliaran rupiah setiap harinya. Kalau di Jakarta itu mirip pasar Tanah Abang.

Pasar tradisional dengan omzet yang besar. Pasar yang menjadi tempat jujugan para bakul dari berbagai daerah. Pedagang kain yang berasal dari sekitar solo dan pantura banyak berdatangan ke pasar klewer. Mereka kulakan di pasar klewer kemudian dijual di daerah asalnya.

Ada kebiasan unik di pasar klewer yaitu “ngempit”. “Ngempit” dalam bahasa jawa artinya kita membawa sesuatu dengan menjepitkan antara lengan kita dengan ketiak. “Ngempit” dalam kebiasaan pasar klewer adalah meminjamkan barang kepada seseorang untuk dijual.

Modalnya adalah kepercayaan. Jadi untuk berdagang kain atau batik tidak perlu modal uang. Apabila kita mempunyai track record yang bagus maka sang pedagang akan meminjami dagangan dengan sukarela. Apalagi kalau terbukti jika kita jual laku keras. Kita akan dititipi banyak dagangan.

Juragan yang meminjamkan ke para tukang “ngempit” akan memberikan harga jual. Tukang “ngempit” akan menjual diatas harga jual yang diberikan juragan. Selisih harga yang dia jual dengan harga dari juragan adalah keuntungan mereka. Tukang “ngempit” akan menyetorkan hasil penjualan sesuai harga dari juragan.

Banyak yang sukses dari sistem “ngempit” ini. Mereka pada awalnya cuman “ngempit”. Lama-lama, bisa kulakan sendiri dan pesanan semakin menggunung. Karena banyak pembelian maka tukang “ngempit” naik kelas menjadi juragan.

Tukang “ngempit” yang semula berdagang keliling. Mereka akhirnya membeli kios dan menjadi Juragan bagi tukang “ngempit” yang lain. Ini banyak sekali terjadi di Solo. Semula biasa bahkan nyaris tanpa modal uang. Mereka menjadi orang kaya dan juragan besar.

Modalnya adalah kepercayaan. Apabila bisa dipercaya dan mempunyai pangsa pasar. Otomatis mereka akan naik kelas asal tekun dan rajin. Mereka para tukang “ngempit” adalah orang yang rajin, tangguh dan pantang menyerah.

Berbisnis memang butuh modal uang. Saya yakin dan percaya 100%. Tetapi, untuk mengawali tidak selalu butuh uang. Kita hanya butuh kepercayaan dan kerja keras. Kepercayaan yang menghadirkan modal. Kerja keras yang akan menghadirkan pelanggan. Kepercayaan dan pelanggan yang akan menghasilkan uang. Hehehehe….

Akhirnya, Pasar Tradisional hadir segala keunikannya yang tidak tergantikan. Kalau anda pernah mendengar istilah “Dropshipping”dalam dunia online shop. Ini mirip tapi beda. Dunia “Dropshipping” yang diberikan foto. Para Dropshipper cuman disuruh foto produk atau dikasih foto . Pengiriman barang yang laku berasal dari juragannya.

Dunia “ngempit” yang dipinjamkan adalah barang dagangan. Mereka para pedagang pasar lebih berani mengambil resiko. Karena yang diberikan tidak cuma foto tetapi barang dagangan. Mungkin,….. “Dropshipping” adalah bentuk lain dari “Ngempit” di era medsos kali ini ?

Bisa Jadi. Ah biarkan ahli marketing yang menyimpulkan hubungan “ngempit” dan “Dropshipping”. Hehehehehe…..

Salam dari Solo,18-10-2017