Masjid Itu…..

Masjid itu sederhana tapi mengesankan. Arsitek masjid tidak neko-neko. Bangunannya berarsitek jawa yang tidak terkesan megah dan mewah tapi teduh dan mengayomi. Bangunan masjid dikelilingi serambi. Ada taman diantara serambi dan ruang utama masjid. Taman di dalam masjid berdiri berbagai pohon yang rindang. Itu sangat menentramkan dan meneduhkan.

Masjid itu indah. Masjid berada di pinggir danau UI. Balairung dan Rektorat UI berdiri kokoh di seberang danau. Masjid , Balairung dan Rektorat berdiri mengitari danau yang tenang dan tampak indah di sore hari. Angin berhembus lembut menerpa tubuh kami. Angin yang membawa uap air ini menambah syahdu suasana di masjid.

Masjid itu pusat kegiatan. Masjid UI bukan hanya tempat untuk sholat saja. Mahasiswa banyak yang berdiskusi di serambi masjid tepatnya di pinggir danau. Mereka berdiskusi, bercengkerama atau refreshing sambil makan bekal yang dibawa. Hebatnya, Ada Toko buku di pojok serambi. Tokonya kecil sederhana tapi lengkap. Saya beli dua novel yang ditulis Kafka. Buku yang tidak saya temui di toko buku dimana-mana.

Masjid itu menenangkan. Kita bisa tertidur nyenyak, asyik ngobrol atau khusyuk membaca buku di masjid ini. Masjid yang didesain terbuka maka di dalam masjid sekalipun terasa sangat menyejukan. Suasana sejuk dan segar mungkin pengaruh dari keberadaan danau. Sungguh menyenangkan mendirikan sholat di situ

Masjid itu bagai oase. Oase di tengah-tengah hiruk pikuk manusia di kota Depok. Kota Depok yang panas, sesak dan gaduh. Apabila masuk ke masjid UI maka akan terasa kebalikannya. Rasanya teduh, tenang dan menentramkan. Apalagi setelah sholat kemudian duduk terpekur mengagungkan Asma Allah SWT sembari melihat hamparan danau UI. Danau UI yang sedang berkilauan karena diterpa sinar matahari.

Masjid itu adalah Masjid UI (Ukhuwah Islamiyah) yang berada di Kampus UI ( Universitas Indonesia) Depok. Masjid bukan sekedar tempat ibadah. Masjid adalah tempat segala urusan muslimin tertumpah ruah mulai dari belajar, bergaul,berkumpul, berdiskusi, bergaul sampai berdagang di serambi masjid. Masjid itu terus terngiang-ngiang di kepala saya. Sungguh, Masjid itu………

Advertisements

Napak Tilas

Keluarga kecil kami liburan di musim liburan akhir tahun 2017. Kami liburan ke kampus istri di UI Depok. Karena istri dan kakak ipar adalah alumni dari sana. Istri saya yang menginginkan perjalanan napak tilas ke UI Depok. Katanya ingin menunjukkan ke anak-anak dimana mamanya dulu kuliah.

Mama Ifa dan Pakde Aji memang unik. Jika kami yang orang daerah menuju ibukota untuk mengadu nasib atau studi / kuliah maka tidak pulang sampai berkeluarga dan beranak pinak. Jika usia sudah tua dan pensiun baru pulang ke daerah asal.

Kata orang, “ Sejauh Burung Terbang Maka Tetap Akan Pulang ke Sarangnya”. Buat istri saya belum jauh terbang udah pulang ke sarang. Pakde Aji juga begitu setelah kerja di sebuah Bank ditempatkan di Kota kelahiran dan akhirnya menetap dan berbisnis di kota kelahiran pula.

Perjalanan ini menjadi terasa lebih emosional buat istri saya. Dia telah meninggalkan Jakarta beberapa tahun yang lalu. Katanya, Jakarta itu dinamis dan penuh tantangan. Sungguh sangat menantang hidup di gemerlap Jakarta. Bahkan, kawannya dari pulau seberang yang sudah mengenal Jakarta tidak mau pulang. Karena sudah nyaman hidup di Jakarta. Tiba-tiba, Dia harus pulang menjalani kehidupan rumah tangga di kota kecil yang sepi dan tenang.

Napak Tilas itu berasal dari kata “Napak” dan “Tilas”. Napak itu arti menapaki atau melintasi sebuah daerah atau wilayah. Tilas itu artinya bekas dipakai atau dulu pernah ditempati atau dilintasi. Kami (Saya, Istri, Ifa dan Zufar) menapaktilasi wilayah yang ditinggali atau dilewati sang mama ketika kuliah. Mulai wilayah Jakarta sampai berakhir di Depok.

Ketika melintasi stasiun UI maka terasa lebih emosional. Mama ifa mulai membandingkan kondisi dulu dengan sekarang. Kata mama ifa sudah banyak perubahan. Perpustakaan UI yang paling berubah. Perpustakaan UI adalah spot yang paling Instagramable ( Maaf, kalau salah penulisan..).

Aku pun cuman manggut-manggut. Hehehehehe… Saya adalah putra daerah asli. Saya sejak dari balita sampai punya dua anak tidak pernah berpindah dari kota kecilku. Mama Ifa sibuk menanyakan ke pakde Aji tentang perubahan kampus UI Depok. Karena pakde Aji lebih sering wira-wiri ke kampus UI Depok.

Kita melintasi berbagai fakultas. FKUI ternyata sudah ada di Depok. Saya kira FKUI hanya di Salemba. Pembangunan Kampus UI masih terus berlangsung. Kampus UI dilengkapi dengan RS Pendidikan. FEBUI terlihat lebih modern dan segar.

Pakde Aji menyempatkan diri berfoto dengan keluarga kecilnya di FEBUI. Maklum, Pakde Aji adalah alumni FEBUI program studi Manajemen. Foto adalah gambar sejuta makna. Agar menjadi prasasti bahwa ayahmu pernah kuliah di kampus terbaik di Indonesia. Kamu harus lebih baik dari bapakmu. Begitu sekiranya makna foto pakde aji sekeluarga buat buah hatinya.

Kami juga berfoto di depan kampus FASILKOM UI. Mama Ifa itu alumni S1 dan S2 di FASILKOM UI. Kami berfoto dalam formasi lengkap. Suatu saat, Ifa dan Zufar akan melihat oto itu. Ifa juga akan mengeti bahwa pernah ke kampus UI. Kamu berdua semoga lebih baik dari ibumu.

Tidak lupa, Kami napak tilas ke Masjid UI Depok. Masjid UI tampak teduh dan asri di siang har jam 13.30 WIB. Masjid yang terletak di tepi danau UI. Tampak di seberang danau yaitu Balairung UI dan Rektorat UI. Hawa panas yang menyengat berubah segar menyenangkan. Karena hembusan angin dari danau menuju masjid. Elemen air memang menenangkan dan menentramkan.

Napak Tilas itu menyenangkan dan bermanfaat. Napak tilas ini memberi energi positif buat mama ifa. Manusia kadang harus menengok ke belakang. Ketika melihat di depan terasa sangat sulit dan berat dilalui. Kita harus menengok ke belakang. Karena kita telah mengalami sesuatu yang lebih berat dan lebih payah di masa lalu. Kita tengok ke depan lagi. Ah… Itu tidak seberat masa laluku. Maka kita akan melangkah ke depan dengan gagah berani.

Abuba Steak

( Mantap Bro…!!)

Saya dan Istri sudah agak lama tidak travelling. Saat itu, Istri saya baru hamil muda 3 bulan. Hamil pertama bagi pasangan baru adalah momen yang  krusial. Semua menunggu dengan hati berdebar-debar. Orang tua saya apalagi, karena cucu pertama.

Kesempatan travelling  datang juga. Pernikahan sepupu istri menjadi berkah kami. Sepupu istri menikah di Jakarta. Karena inilah kesempatan kami untuk travelling juga. Saya dan Istri sudah merencanakan untuk datang ke beberapa tempat, khususnya lokasi yang memorable buat istri seperti : Empek-Empek Megaria, Steak Abuba  dan Bakmi Roxy

Resepsi pernikahan masih hari Minggu maka berangkat ke Jakarta  Jum’at malam dengan menumpang KA Argolawu. Karena itri hamil muda. Kami ingin wisata kuliner terlebih dahulu di tempat memorable istri saya . Saya sering mendengar cerita berbusa-busa tentang lezatnya steak abuba, rasa selangitnya Pempek Megaria, Bakmi Roxy yang unik.

Setelah perjalanan 10 jam dari Solo, Kami tiba di hotel tepat pukul 6 pagi. Kami istirahat terlebih dahulu dan siangnya baru ber-wisata kuliner ria. Tujuan pertama kami adalah Abuba Steak. Steak yang mempunyai porsi gede, enak dan murah.Paling tidak itu versi istri saya.

First Experience buat saya. Kami makan di ABUBA steak Jl.Wahid Hasyim Jakarta. Tempatnya sederhana namun menunya yang luar biasa. Berbagai macam steak ada disana. Daging steak-nya berasal dari berbagai tempat seperti dari America, New Zealand maupun Lokal Indonesia saja. Harganya….? Relatif. Kalau sekarang mungkin lebih tinggi lagi, maklum acara travelling ini udah lama banget.

Steak yang dijual di Solo biasanya memakai hot plate dalam penyajiannya dan memakai tepung untuk membungkus daging steak-nya. Abuba steak tidak ada keduanya. Porsinya sangat gede, ukuran orang asing kali ya. Rasanya enak , sayurannya banyak dan dagingnya empuk serta ukurannya gede banget.

T-Bone

Saya pesan  T-Bone Steak, Steaknya sangat besar dan sayurannya terdiri dari buncis dan jagung muda. Dagingnya empuk dan sayurannya renyah sekali. Kentangnya banyak sekali sebagai ganti nasi. Sampai-sampai, dua piring untuk penyajiannya karena porsinya besar. Minumnya Milco  (Milk Coca-Cola), sedap banget. Hehehe

Rib Eye Steak

Pengalaman makan di Abuba Steak memberi sensasi beda. Hehehehehehe. Kalau mau ya harus ke Jakarta atau ke Bandung. Karena yang ada Cuma disana. So, Satu atau dua kali aja makan disana. Kalau mau makan disana bisa buka reviewnya dulu di laman ini:

http://www.yukmakan.com/partners/20918/abuba-steak/home

Lokasinya ada di Jalan Wahid Hasyim berada di depan hotel Akmani

Pantai Bandengan Jepara

Ternyata, Pesisir Pantai Utara Jawa menyimpan keindahan pantai yang mengagumkan. Setahu saya, Pesisir pantai utara jawa hanya ada Jalur Daendels yang kotor dan macet . Jalur yang menghubungkan antara Anyer sampai Panarukan. Jalur Pantura yang menjadi andalan para pemudik di saat Lebaran, Natal atau Imlek.

sunset

Pantai itu bernama Pantai Bandengan. Pantai ini terletak di Kabupaten Jepara. Kalau anda lihat peta pulau jawa. Lokasinya ada di punuk Pulau Jawa atau di ujung utara pulau jawa. Lokasi tersembunyi, ombak tidak terlalu besar dan bersih. Sangat cocok untuk menikmati Sunset.

selfie

Pantai Bandengan ada yang publik dan private. Publik untuk pengunjung umum dan private bagi pengunjung resort di sekitar pantai Bandengan. Hanya 10 menit dari pusat kota Jepara tetapi masih sepi. Ini cocok buat istirahat atau menyepi.

main air

Waktu yang paling tepat menikmati Pantai Bandengan yaitu di sore hari mulai jam 16.00 sampai Matahari tenggelam. Bagi yang suka jalan-jalan sangat menyenangkan karena pemandangan yang indah, pantai bersih dan semilir angin pantai yang menyejukkan.

Anak-anak yang suka main air juga cocok. Karena ombak tidak besar dan dangkal. Jika anda suka main banana boat juga ada yang menyewakan. Kalau anda suka berpetualang maka ada kapal menuju Pulau di seberang yaitu ke Pulau Panjang.

Pantai ini cukup romantis cocok bagi keluarga maupun pasangan. Tapi, jangan mengunjungi pantai ini di siang hari. Panas dan kering bro, hehehehe..!!!!! Kalau pagi hari juga menyenangkan. Berdiam diri sambil mendengarkan suara debur ombak, semilir angin dan jika beruntung ada kapal nelayan melintas.

pagi hari

Idealnya, Kita sampai di pantai Bandengan menjelang Ashar dan pulang Maghrib. Kalau datang di pagi buta juga menyenangkan, kira-kira sampai Jam 9 pagi. Setelah jam 9 pagi maka udara panas yang datang. Ayo berkunjung ke pantai bandengan Jepara.

 

 

Itiak Lado Mudo

Perburuan kuliner selanjutnya di Bukittinggi adalah Itiak Lado Mudo. Masakan yang anda temukan hanya di Tanah Minang, itu menurut sepengetahuan saya lho. hahahaha…!!!  Itiak Lado Mudo tidak dijual di Rumah Makan Padang di Jawa. Jenis Masakan ini hanya ada (mungkin…???) di Sumatera Barat dan khususnya di Ngarai Sianok.

ITIAK
itiak lado mudo

Ambil dari sini

Bahan Baku masakan ini yaitu Daging Bebek. Itiak itu artinya Bebek menurut Ilmu Ngawurologi saya, hehehehehehe…!!!! Daging Bebek dibumbui rempah-rempah khas melayu dan dilumuri ulegan cabai hijau. Bumbu rempah yang mantap. Pokoknya pedas, mantap dan lezat.

Hawa dingin Bukittinggi sangat cocok dengan kuliner ini. Angin lembah berhembus di ngarai sianok berjodoh dengan aroma pedas Itiak Lado Mudo. “Itiak Lado Mudo memang berasal dari Ngarai Sianok sini”, kata Uda Nedi. Makanya, ada Rumah Makan yang melayani pengiriman paket Itiak Lado Mudo ke luar daerah. Karena itiak lado mudo memang orisinil dari sini.

Takaran cabai yang banyak memang membuat makanan ini menjadi ekstra pedas. Namun, tidak menyurutkan para penggemar untuk menikmati. Rasa Pedas yang ekstra, Bumbu rempah yang khas dan suasana ngarai sianok yang tenang dan menentramkan adalah daya tarik tersendiri.

LANSANO JAYA
Rumah Makan LANSANO JAYA

Ambil dari sini

LANSANO OKAmbil dari sini

Uda Nedi bilang kalau Itiak Lado Mudo yang paling enak itu di R.M Lansano Jaya. Rasanya masih asli. Saya tidak tahu maksud dengan kata “asli”. Asli mungkin artinya masih belum dimodifikasi atau fanatisme. Suasana yang nyaman karena kita makan di saung yang langsung menghadap ngarai sianok.

LANSANO-1
Memandang Ngarai ( sebelah kanan )

Karena berada dekat dengan ngarai dan berhadapan. Rasanya takjub karena Tebing yang menjulang tinggi tepat di hadapan. Ada kekaguman dan takut dengan kekuatan alam. Karena tebing ini terbentuk dari lempeng bumi yang bergeser membentuk patahan tanah sehingga terbentuk Ngarai Sianok.

Kalau memikirkan itu rasanya bergidik bulu roma. Imajinasi kejadian proses pergeseran tanah berlangsung, sungguh maha dahsyat. Antara rasa takut, kagum dan takjub bercampur jadi satu. Angin lembah yang berhembus menyempurnakan rasa takut dan kagum ini.

Pokoknya sangat menakjubkan. Emang, manusia bisa mempelajari namun tidak bisa meniru. Sungguh megah mahakarya Allah SWT. Alangkah kecil diri ini dihadapanNYA.

Karena suasana yang hening, sepi dan dingin maka cocok ditemani dengan menu pedas. Suasana kontras akan menjalar yaitu pedas dan dinginnya hawa. Jadi, makan disana bukan hanya mencari rasa di Lidah. Namun juga , Suasana alam sekitar melengkapi pengalaman kuliner disana. Ini yang tidak dapat diperoleh di tempat lain. Cuman di Ngarai Sianok.

LANSANO
Ketrampilan orang Minang dalam membawa piring 🙂

 

MENU LENGKAP
Sajian Lengkap

Makanya, saya berharap semoga bisa kesini lagi. Kapan ya? Hahahaha…!!!! Nunggu ada yang ngasih uang. Hehehehe…!!!! Mimpi di siang Bolong.

Santai Belanja di Pasar

Akhir-akhir ini, saya sering pergi ke pasar. Istri jadi supplier masakan ke rumah makan milik mertua. Kesibukan rumah jadi bertambah yaitu memasak. Sebelumnya hanya rental mainan saja. Wah, saya yang kebagian belanja ke pasar. Rasanya senang sekali.

Saya suka keramaian pasar dan aneka ragam dagangan lengkap keriuhan jual beli. Pasar dimana penjual dan pembeli berinteraksi. Pasar adalah rendezvous bagi manusia. Sebagian besar adalah kalangan menengah ke bawah. Disanalah orang mengais rezeki untuk sesuap nasi.

Suasana di dalam Pasar

Saya suka ke pasar tradisonal karena bisa membeli sesuatu yang tidak ada di pasar modern. Misal : Gudangan beras merah, jenang sumsum, jenang grendul atau berbagai jenis umbi-umbian seperti: talas, uwi dan gembili.

?????????????
Semakin Ramai Saja

Saya paling suka beli jajanan pasar, missal : klepon, getuk, kue lopis, onde-onde, ketan, wajik dan risoles atau berbagai macam jenang atau bubur. Rasanya Mak Nyuss dan harga yang terjangkau. Kalau cari yang lebih berat ada Nasi Liwet , Gudangan Beras Merah dan Pecel Gendar.

pasar8
Atas : Penjual Nasi Merah, Bawah : Penjual Bubur

Saya suka interaksi dengan pedagang. Mereka lebih lugas dalam ngobrol. Kalau tawar-menawar, hhmmmm…!!!! Saya tidak jago. Saya tanpa menawar saja. Apabila membawa uang 50 rb sudah bisa berbagai macam sayuran, jajanan dan daging ayam. Bayangkan bagi ibu-ibu yang jago menawar.

?????????????
Tawar Menawar ( Si Baju Merah yang Berhelm)

Mereka dalam rantai distribusi adalah bagian yang lemah, setingkat dengan petani. Karena rantai distribusi yang panjang maka harga sudah tinggi sampai di tangan mereka. Para tengkulak yang seenaknya mempermainkan harga. Padahal sudah ada harga pasar. Apa ya tega saya menawar? Hehehehe….!!!

Pasar Tradisional memiliki segmen berbeda dengan pasar modern. Kalangan menengah ke atas tentu mempunyai pilihan lebih banyak yaitu pasar modern. Karena lebih bersih dan teratur. Meskipun ada yang suka ke pasar tradisional dari kalangan mereka. Pasar tradisional segmennya sudah jelas baik dari segi penjual dan pembeli yang sama-sama lemah.

Pasar Modern memiliki keunggulan mulai dari kebersihan, kenyamanan dan kelengkapan. Harga yang pas dan tidak bisa ditawar. Kualitas barang yang terstandarisasi. Durasi pasar modern juga lebih panjang. Bandingkan dengan pasar tradisional di siang dan sore hari jadi sudah sepi dari pembeli dan penjual.

Modal adalah kuasa terbesar dari pasar modern. Mereka mempunyai modal besar. Kuasa akan modal menyebabkan mereka bisa saja memotong rantai distribusi. Mereka mampu membeli dalam jumlah besar maka dapat menekan harga. Pedagang kecil “terancam” sebagai korban rantai distribusi.

Jangan heran, Pasar tradisional semakin terengah-engah menghadapi pasar modern. Ada yang bilang begini, “beli di swalayan sana aja, harganya juga murah, bersih dan nggak perlu nawar lagi”. Kalau harga di pasar modern sudah lebih murah daripada pasar tradisional. Added Value apa yang dapat diberikan oleh pasar tradisional?

Apabila pasar tradisional hidup maka lebih banyak orang yang diuntungkan. Mereka adalah kumpulan ratusan bahkan ribuan pedagang. Pasar Tradisional hidup maka akan menghidupkan perekonomian masyarakat. Social Effect juga lebih besar.

Pasar Modern yang berkembang maka perekonomian maka ditopang hanya oleh segelintir manusia. Apabila segelintir manusia tersebut limbung maka semua ikut pusing. Ibaratnya adalah kekuatan segerombolan gajah dibandingkan dengan ribuan bahkan jutaan semut.

Pemerintah harus membantu mereka dan mutlak dilakukan. Perlindungan dan pembinaan harus dilakukan. Mereka harus diproteksi dari para tengkulak namun juga harus dibimbing menjadi mandiri. Kalau tidak, maka jangan harap kesejahteraan melanda negeri kita.

Ada yang bilang, Pasar tempat berkumpulnya syetan . Kita sering temui pencuri, pencopet, pembual dan penipu ada disana. Namun, Pintu rezeki yang paling banyak berasal dari berdagang. Malaikat mungkin sedang mendoakan para pedagang di pasar.

Hehehehe…!!!! Pasar adalah dimana semua berkumpul disana. Malaikat, syetan, orang alim, penipu  dan pencuri semua berkumpul, bersedih dan bergembira di pasar. Makanya, saya suka ke pasar. Hahahahahaha….!!!!!

Jalan Jalan Sore di Kota Bukittinggi

Jam Gadang adalah satu-satunya yang ada di Indonesia. Konon, mesin jam gadang memiliki kembarannya di Inggris yaitu Jam Big Ben. Jam Gadang sebuah penanda (landmark) bagi kota Bukittinggi.

Kata WIKIPEDIA, Jam Gadang adalah nama untuk menara jam yang terletak di pusat kota Bukittinggi, Sumatera Barat, Indonesia. Menara jam ini memiliki jam dengan ukuran besar di empat sisinya sehingga dinamakan Jam Gadang, sebutan bahasa Minangkabau yang berarti “jam besar”.

Jam Gadang selesai dibangun pada tahun 1926 sebagai hadiah dari Ratu Belanda kepada Rook Maker sebagai controleur Fort de Kock pada masa pemerintahan Hindia-Belanda. Arsitektur menara jam ini dirancang oleh Yazid Rajo Mangkuto, dikutip dari Wikipedia.

image
Ngeksis dan Narsis di Jam Gadang

Kota ini berada diantara dua gunung yaitu Gunung Singgalang dan Gunung Marapi. Kata Wikipedia, Bukittinggi adalah Paris Van Sumatra, coba dibandingkan dengan Bandung sebagai Paris van Java.

Apabila kita berkunjung Bukittinggi maka tidak mampir ke Jam Gadang seperti makan sayur tanpa garam. Jam Gadang adalah randevous bagi warga Bukittinggi.

Semua warga Bukittinggi berkumpul di jam gadang. Mereka yang ingin jalan-jalan, bercengkerama dengan keluarga, mencari baju atau mencari kuliner khas Bukittinggi.

image
Ifa asyik main di Jam Gadang

Kota Bukittinggi tidak terlalu besar mungkin kayak kota Salatiga. Anda cukup berjalan kaki untuk mengelilingi kota. Makanya, keberadaan jam gadang sangat vital sebagai jantung kota Bukittinggi.

Bukittinggi seperti lokasi tersembunyi diantara dua gunung. Siapa sangka di bawah dua kaki gunung ada kota yang nyaman. Kota yang dulu bernama Fort De Kock. Kota kelahiran sang proklamator yaitu Bung Hatta.

Kota Bukttinggi itu unik. Kota besar kedua di Sumatra Barat namun masih asli atau natural. Ketika kami disana maka tidak ditemukan Indomaret atau Alfamart. Bukittinggi cuma punya satu mall dan satu gerai KFC. Keduanya adalah simbol kapitalisme di Bukittinggi.

image
"Hanya" RAMAYANA,hehehehe...!!!
image
"Hanya" satu di Bukittinggi. Pandangan sekilas saja. Hehehehe...!!!

Ekonomi kerakyatan disana sekilas cukup unik. Karena toko-toko yang berkembang adalah milik warga sendiri. Pemodal besar belum masuk. Perekonomian yang berkembang adalah kecil dan menengah. Tapi itu dilihat sekilas saja. Hehehe

image
Atas : jembatan limpapeh, Bawah : pojok kuliner jawa (nasi pecel, pecel lelel dan nasi goreng dsb )
image
Kawasan Pecinan

Kalau anda malas jalan kaki. Ada delman yang siap mengantar keliling kota. Anda kalau ke sana pas musim kemarau saja. Jadi, bisa menikmati suasana sore hari di Jam Gadang atau keliling kota.

image
Dimanapun semua Delman bentuknya sama. Hehehe...!!!

Anda bercengkerama dengan keluarga atau orang yang anda sayangi sembari menunggu senja datang. Ketika adzan maghrib berkumandang maka saatnya pulang. Terasa damai dan nyaman sekali. Kira-kira adzan berkumandang jam 18.30 WIB. Kalau di jawa itu sudah gelap.

image
Suasana menjelang maghrib. Diatas jam 18.00 masih terang benderang

Catetan saja, maghrib disana lebih malam daripada di Jawa. Makanya, menikmati sore di Jam Gadang bisa terasa lama dan menyenangkan.

Kami mampir membeli martabak arab sebelum masuk hotel. Kuliner yang sudah pasti kaya rempah-rempah. Itu jadi snek kami di hotel sembari istirahat.

image
Martabak Arab

Tidur malam dan pagi harinya berenang. Perjalanan dilanjutkan ke danau singkarak untuk mencari ikan bilih. Sedap sekali. Hehehehehe….!!!!