The Best Process Vs The Best Input

Pendidikan di Indonesia mengalami sebuah perkembangan baru. Sekolah konvensional berubah menjadi sekolah unggulan.Maka, berdirilah berbagai macam sekolah seperti : SD Full day School, SD Program Khusus atau SD IT ( Islam Terpadu). Mereka semua mengenalkan diri sebagai sekolah unggulan.

Pengertian unggulan sangat beragam. Unggulan adalah murid-muridnya mempunyai IQ yang tinggi. Unggulan adalah murid-muridnya mempunyai kemampuan kognitif yang tinggi atau berarti mempunyai nilai rapor rata-rata 9,0 ( Ini kenyataan, kemarin diberitahu oleh saudara saya jika rat-rata nilai kelas anaknya adalah 9,0. Wuiiiih hebat sekali….)

Tuntutan unggulan mengakibatkan tekanan kepada anak-anak didik. Mereka tertekan dengan tuntutan orangtuanya yang mempunyai ekspektasi tinggi terhadap hasil belajarnya. Tuntutan sekolah agar selalu berprestasi sehingga mempunyai nilai jual di masyarakat. Tuntutan masyarakat kepada si anak agar diakui sebagai anak pandai.

Sekolah menjadi momok bagi anak. Sekolah mencetak robot “pintar” namun hilang sisi kemanusiaan. Sekolah menjadi tidak nyaman bagi siswa karena dengan segala tuntutan. Sekolah menjadi tidak manusiawi. Sekolah yang tidak “memanusiakan manusia”.

Sekolah unggul adalah sekolah yang memanusiakan manusia (hal:96)

Itu adalah kata Munif Chatib dalam bukunya ”Sekolahnya Manusia”. Sekolah yang menghargai semua kecerdasan anak. Asumsi dasar yang dipakai adalah “TIDAK ANAK YANG BODOH TETAPI ANAK MEMPUNYAI KECENDERUNGAN KECERDASAN TERTENTU”. Anak penderita autis ternyata juga mempunyai kecerdasan tertentu misal : Spasial-Virtual.

“Sekolahnya Manusia” prinsipnya tidak menolak berbagai jenis siswa. “Sekolahnya Manusia” berasumsi tidak anak yang bodoh. Tes yang dilakukan bukan untuk menyeleksi siswa diterima atau ditolak. Tes yang dilakukan adalah Tes MIR ( Multiple Intelligence Research). Tes ini hanya mendeskripsikan kecenderungan belajar siswa. Sehingga anak-anak dikelompokkan berdasarkan kecenderungan cara belajar.

Multiple Intelligences menyarankan kepada kita untuk mempromosikan kemampuan atau kelebihan seorang anak dan mengubur ketidakmampuan atau kelemahan anak ( hal : 78)

“Sekolahnya Manusia” bukan hanya isapan jempol atau teori belaka. Munif Chatib telah membuktikannya di SMP YIMI.  Sekolah yang sudah sekarat karena tidak ada murid. Munif Chatib membangun kembali dengan metode “Sekolahnya Manusia”. Akhirnya, mampu meluluskan 100 % siswanya dengan nilai UAN tinggi kedua di Gresik. (hal : 11 )

Sekolah Unggulan saat ini mengandalkan input siswa yang pintar-pintar secara kognitif. Mereka bahkan mengadakan seleksi berdasarkan nilai UAN. Jika sudah diterima maka para siswa ini dikumpulkan di dalam satu kelas tersendiri yang disebut “kelas unggulan”. Oleh Munif Chatib disebut dengan Tracking  (hal : )

Sekolah Unggulan tipe ini berdasarkan the best input. Maka, kita tidak heran jika mereka secara kognitif berprestasi. Sekolah ini secara tidak sadar mengklasifikasi anak pintar dan anak bodoh. Padahal, Semua anak berpotensi dan semua anak mempunyai gaya belajar masing-masing. Semua anak butuh pengakuan atas kelebihannya.

Munif Chatib menjungkir balikkan konsep diatas. Dalam bukunya “Sekolahnya Manusia”, Sekolah Unggulan adalah Sekolah yang mengandalkan ”the best process”. Dosen saya di S2, Prof Sutama menyatakan bahwa sekolah unggulan adalah sekolah yang mampu mengubah anak bodoh menjadi pintar. Dengan kata lain, Sekolah Unggulan adalah sekolah yang mempunyai proses terbaik dalam proses KBM mengakomodasi semua gaya belajar siswa.

Karena menganut “The Best Process”, calon siswa yang lebih awal mendaftar akan langsung diterima. Tak peduli siswa itu mempunyai nilai ujian akhir SD yang bagus atau jeblok ( hal 9)

Sekolah unggul adalah sekolah yang para gurunya mampu menjamin semua siswa akan dibimbing kea rah perubahan yang lebih baik, bagaimanapun kualitas akademis dan moral yang mereka miliki (hal : 93)

Buku ini cukup inspiratif bagi kalangan guru. Guru disuguhi tema yang berbeda dari biasanya. Guru yang membaca buku ini diharapkan terbuka pikirannya dan menyadari bahwa ada seribu jalan untuk mencerdaskan .

Buku ini meski menyuguhkan tema yang menarik dan debatable  namun juga membingungkan. Karena dalam buku ini tidak menyediakan cerita atau keterangan yang detail bagaimana “sekolah manusia” di kelola sehingga menghasilkan lulusan yang terbaik.

Buku ini lebih condong kepada bidang Psikologi. Maklum, MI sebenarnya adalah bidang di Psikologi. Berisi tentang cerita sukses pelaksanaan Multiple Intelligence namun sedikit bercerita tentang hambatan dan kesulitan dalam proses KBM.

Pengelolaan sekolah berbasis Multiple Intelligence hanya ditulis secara sekilas saja. Pembaca yang haus akan informasi akan dibuat kebingungan karena tidak ada keterangan mengenai pengelolaan sekolah padahal judulnya “Sekolahnya Manusia”.

Mayoritas Guru akan banyak yang menolak karena metode yang begitu repotnya. Terutama Guru-Guru PNS yang merasa sudah nyaman dengan keadaannya sekarang. Mereka akan lebih enggan bersusah payah untuk mengaplikasikan Multiple Intelligence, Toh sekarang kedaan mereka sudah cukup.

Buku ini laris atau Best Seller  lebih karena ide ini cukup baru dan menarik. Ide yang berbeda dari biasanya dan unik. Para Guru tertarik namun jika tidak mempunyai idealism dan keinginan meningkatkan diri maka yang terjadi adalah penolakan terhadap ide buku ini.

Munif Chatib mungkin sengaja hanya sedikit memberi keterangan sehingga pembaca bertanya-tanya. Karena Munif Chatib ingin membuat sekuelnya sehingga nformasi yang disampaikan lebih lengkap. Akan tetapi, Ini menyebabkan pembaca kebingungan untuk menangkap isi pesan buku bahkan bisa jadi menjadi apatis.

Sekuel dari buku ini adalah : “Guruya Manusia”, “Sekolahnya sang Juara. Buku pantas diacungi jempol. Karena memberi ide segar ditengah kejumudan metode pembelajaran. Guru yang ideal akan selalu meningkatkan diri untuk memberikan terbaik untuk anak didiknya. Buku ini akan memenuhi kebutuhan guru ideal dan memacu rasa ingin tahu mereka menjadi yang terbaik.

Asisten Rumah Tangga

ART singkatan dari Asisten Rumah Tangga adalah bagian dari kehidupan bangsa ini sejak dahulu. Dulu, muncul film tentang ART yaitu “Inem Pelayan Seksi”.  ART adalah pahlawan devisa bagi Bangsa ini, dengan nama lain yaitu TKW. Sinetron terbaru yang nge-hits juga bercerita tentang ART, judulnya  “Dunia Terbalik”.

Bangsa ini awalnya feodal lambat laun mulai terkikis meskipun tidak 100 %. Stratifikasi masyarakat yang ketat sudah kendor. Kalangan atas tidak turun kasta  dan kasta bawah sangat sulit naik ke kasta di atas meskipun juga memungkinkan, Misal : Kisah Ken Arok pendiri dinasti Singashari.

“Jongos” adalah sebutan bagi ART di masa penjajahan. Sebutan yang merendahkan. Ternyata Jongos bisa naik kasta. Jongos menjadi Priyayi dan mendirikan sebuah klan keluarga yang kaya raya. Novel SANG PRIYAYI karya Umar Kayam, bercerita tentang klan / trah Sastrodarsono. Trah yang berjaya di era orba. Sastrodarsono sejak muda bercita-cita mendirikan klan yang disegani dengan menapaki mulai menjadi Priyayi Kecil. Dia tidak menikmati tetapi dua generasi dibawahnya menjadi klan yang disegani.

Hubungan antara Majikan dan ART sebenarnya adalah saling membutuhkan sejak dulu kala. Karena sistem sosial kita membuat terstratifikasi. Kita membutuhkan ART untuk menyelesaikan pekerjaan rumah. ART bekerja untuk mendapatkan uang. Mereka profesional, bekerja untuk dibayar. Cukup Adil…!!!

Semakin sibuk manusia modern,bekerja dari pagi sampai malam hari di luar rumah.  Karena urusan Rumah Tangga tidak sedikit apalagi jika sudah hadir buah hati atau anak. Karena besar tanggung jawab sang ART maka  tuntutan gaji semakin lama semakin tinggi. Maka, pilihan hidup tanpa ART menjadi alternatif.

Manusia modern cenderung hidup secara soliter. Mereka menyukai hidup yang lebih private. Apalagi ditunjang dengan kemajuan teknologi. Banyak juga yang hidup tanpa ART. Maka muncul istilah Full Time Mother dan juga Full Time Father. Jika sang buah hati lahir maka ditentukan siapa yang menjaga day by day. Kalau sudah cukup umur untuk dititipkan maka bekerja lagi.

Ketika menjelang usia Playgroup maka anak dititipkan di TK/Kelompok Bermain. Kebanyakan ambil program Full Day School atau After School. Kedua orang tua bekerja kembali. Mereka pulang dari kantor di sore hari. Mereka mampir dulu untuk mengambil anaknya di TK/KB sebelum pulang ke rumah. Anak mereka sudah mandi dan bersih. Terima Beres…..

Banyak juga perusahaan menyediakan fasilitas Penitipan Anak. Orang Tua nyaman bekerja karena anak sudah terurus. Ini tuntutan zaman. Manusia menjadi lebih soliter dan “tua di jalan”. Karena tuntutan kerja memang semakin tinggi. Jam kerja semakin menggila. Jarak tempuh rumah ke kantor semakin jauh maka perjalanan semakin lama. Mereka tinggal di Suburban area.

Repotnya, kalau kedua orang tuanya kerja sampai malam. Perusahaan tidak menyediakan fasilitas “penitipan anak”. Mana ada TK/KB buka sampai malam..? Pilihannya ada tiga, mendatangkan bala bantuan (baca: kakek / nenek / Saudara), salah satu resign menjadi FTM (Full Time Mother) atau FTF (Full Time Father) atau mempekerjakan ART.

Kehadiran ART tentu mengambil “kemerdekaan” sang majikan. Berbagi ruang, menjaga perasaan dan saling menyesuaikan adalah keniscayaan. Ini bukan hal yang mudah bagi yang menyukai hal yang private.

Asisten Rumah Tangga (ART) memang membuat hidup menjadi lebih nyaman. Karena ada yang siap untuk menyiapkan segala sesuatu dan siap membereskan. Namun jika kita tidak sanggup hidup berdampingan bisa jadi siksaan.

Apabila sudah bisa nyaman hidup “berdampingan” dengan ART. Anda juga harus siap dengan segala konsekuensi. Konsekuensi ketidaknyamanan, ART mendadak mengundurkan diri. Kita harus menyesuaikan lagi. Maju Kena Mundur Kena, hehehehehe…….

 

 

Bahasa Kalbu

Ifa, itu nama panggilan dari anak saya. Ifa telah naik kelas TK B. Tak terasa sudah 3 tahun belajar di PAUD. Ifa belajar di PAUD sejak usia 2 tahun. Karena ifa mengalami speech delay. Saya mendaftarkan dia ke PAUD sebagai bagian terapi wicara. Lucu juga, Saya bukan mengikuti  sebuah terapi tetapi sekolah.

Ifa sebenarnya sudah mengikuti terapi. Sayang, Ifa selalu meronta-ronta dan menangus ketika terapi. Ifa menjalani tiga kali terapi wicara tapi gagal terus. Dia tidak nyaman dengan suasana di ruang terapi. Kita punya ide sendiri. Ifa harus dikasih tantangan untuk ngomong. Ifa harus kumpul dengan sesama anak-anak seusia. Dia akan tertantang untuk berbicara.

Alhamdulillah, Ifa dinyatakan resmi bisa ngomong di usia 2,5 tahun atau 30 bulan. Perjuangan cukup berat buat mama Ifa. Mama Ifa nungguin Ifa di sekolah hampir satu tahun ketika masih di Playgroup Kecil. Ifa sempat mogok sekolah di akhir tahun ajaran. Ifa mungkin kepayahan di Sekolah. Busyeeettt…. Dah…!!! Tapi nggak masalah. hehehehe….

Ifa naik Playgroup Besar. Guru di playgroup besar kasih saran ke kami. “Ifa biar diantar ayah aja,kalau mama yang antar bisa mellow nanti si Ifa”, gitu kata gurunya. Waduh, Tambahan tugas nih buat saya. Saya harus ngantor masih ditambah antar jam 8 dan jemput jam 11. Cukup merepotkan juga, karena harus bagi waktu.

Saya jalani rutinitas ini terasa ringan saja, nikmatin aja deh. Ternyata…., Kegiatan ini berlangsung sudah 2 tahun. Saya sering mendiskusikan tentang Ifa dengan ibu guru di jeda waktu ketika antar atau jemput. Saya nanya gimana Ifa di kelas. Mulai ngomong atau belum ? Ibu guru juga mulai memancing Ifa ngomong. Ifa kadang merespon atau kadang diam aja.

Alhamdulillah, Ifa akhirnya bisa ngomong. Lega hati saya, kita beri kesempatan Ifa berinteraksi dengan teman kelas dan gurunya adalah bentuk terapi pula. Ifa mulai senang bercerita di rumah. Ifa selalu bercerita ke mamanya tentang segala kejadian di Sekolah. Kalau nonton TV, Ifa cerita tentang yang ditontonnya. Semua hanya untuk mama Ifa dan Mbak  yang njagain Ifa. Tetapi, Itu tidak terjadi ke saya. Ketemu saya, hehehehe… Ifa masih diem aja atau cuman satu dua patah kata.

Ifa masuk ke kelas TK A. Guru kelasnya ada yang laki-laki. Ini menambah tantangan ke Ifa. Ifa harus mulai berkomunikasi dengan seorang lawan jenis dan dewasa lagi. Ifa lebih nyaman dengan sesama jenis makanya dekat dengan Mamanya. Tim Guru TK disusun sebagai ganda campuran. Mereka adalah Pak Luki dan Bu Mifta, Tim Guru yang mengajar di kelasnya si Ifa.

Mereka dengan sabar meladeni Ifa. Pak Luki dan Bu Mifta melatih Ifa untuk mengungkapkan keinginan dan keadaan. Meskipun hal yang sederhana,misal : pipis, makan, atau haus. Awalnya, sering nangis. Sulit bagi Ifa menyatakan perasaan dalam sebuah kalimat. Maklum, dulu pernah speech delay. Ifa lebih nyaman dengan bahasa Isyarat. Namun, Ifa harus dilatih mengungkapkan secara oral.

Guru selalu memberi contoh dalam sebuah kalimat. Ifa dilatih untuk menirukan contoh kalimat tersebut. Alhamdulillah, Pak Luki dan Bu Mifta menganggap sebuah tantangan untuk melatih Ifa. Jadi, mereka melakukan dengan senang hati.  Sebenarnya, Bu Mifta dan Pak Luki mengetahui keinginan Ifa. Mereka ingin melatih Ifa  untuk mengungkapkan dalam sebuah kalimat sederhana bukan isyarat/gesture.

Ifa semakin terlatih. Ifa sudah cerewet ke mama. Lumayan, Dia sudah tahu sendiri bagaimana bercerita ke mama. Hufftt…. Lega rasanya. Ifa mulai dari satu dua patah kata berkembang menjadi kalimat. Terimakasih kami haturkan bagi para guru dengan segala dedikasinya, teruntuk Pak Luki dan Bu Miftah.

Buat Pak Luki dan Bu Mifta, Ifa adalah tantangan. Ifa bukan dianggap sebagai beban di kelas. Emang, Dua guru mengajar dalam satu kelas  dengan murid yang jumlahnya dibawah 20 anak. Tetapi,Saya kira cukup berat juga. Tantangan merubah Ifa menjadi bisa bercerita dan bukan sekedae ngomong adalah sesuatu yang ingin mereka taklukkan.

Lha trus gimana si Ifa ke saya? Hehehehehe….!!! Dia masih sama sejak pertama kali mengantar jemput di sekolah . Ifa masih diam saja ke saya. Ifa sering memakai sinyal/gesture daripada ngomong jika menyampaikan pesan ke saya.Saya antar ifa dari berangkat sampai pulang sekolah dalam kesunyian.

Ifa mungkin kurang sreg. Mungkin, Karena Cara berkomunikasi saya yang buruk. Saya kurang lihai berbasa-basi kepada anak-anak. Kata mama, Kalau dengan anak itu kadang harus butuh basa-basi dan mengetahui keinginan mereka. Apalagi anak perempuan. Dia penginnya dimengerti. Saya sukar untuk mengerti dia

Susahnya minta ampun. Hehehehe…!!!! Kita mengingat kesukaan anak ternyata itu penting. “Kalau ngobrol selipkan tentang kesukaan anak kita misal: Little Pony, Pawn Star, Kongkuni atau Upin Ipin”, begitu saran istri saya. “Kita yang menyesuaikan dunia anak bukan sebaliknya”, Sergah Istri saya.

Ah benar juga, Saya mengalami kesulitan melakukan itu. Saya coba dan masih belum berhasil sampai sekarang.Karena saya belum luwes melakukannya. Saya tidak terbiasa hidup dengan seorang perempuan apalagi seorang anak perempuan . Satu-satunya perempuan dalam keluarga saya adalah ibu. Keluarga saya terdiri dua orang anak laki-laki dan kedua orang tua saya. Setelah menikah, saya mempunyai anak perempuan yang melankolis. Sulit juga menyesuaikannya.

Ifa mulai membuka diri ke saya. Dia mau ngomong dengan saya hanya beberapa patah kata. Ifa mulai bisa ketawa-ketiwi meskipun seringkali ditahan. Gengsinya minta ampun, Ketawa –ketiwi dengan ayah sendiri masih sulit. Hehehehehe…!!!

Saya bersyukur. Ifa sudah bisa berkisah meski bukan ke saya. Ifa bisa mengungkapkan keinginannya meski kepada guru bukan ke saya. Ifa bisa melaporkan pesan guru kepada mama. Ifa sering bercanda dengan Mamanya. Saya yakin Ifa telah mampu berkomunikasi secara lisan. Itu membuat saya bahagia. It’s Enough.

Nak, kau sekarang udah naik TK B. Semoga kau lebih riang dan gembira. Semoga kau lebih cerewet. Ayah cuman bisa tersenyum lega dari kejauhan. Karena kau harus jadi dirimu sendiri. Engkau adalah anak panah. Anak panah yang melesat jauh ke depan sehingga menjadi dirimu sendiri seutuhnya. Kau bukan bayangan dari siapapun termasuk ayah dan mama.

Ah sudahlah

Tak mengapa kau diam kepadaku nak.

Ayahmu yakin bahwa merasakan atensi dari ayahmu

Perasaan itu seringkali tak terungkapkan tapi terasa

Bahasa kami adalah bahasa kalbu

 

 

NB :

Momen yang membahagiakan Ayah:

Tatkala Ifa berlari menyongsong kedatangan ayah. Ayah yang sedang menunggumu keluar dari kelas di halaman sekolah. Ayah yakin itulah bahasa kalbu Ifa.  “Aku sayang ayah”, mungkin itu yang terucap di dalam hati Ifa. Saya yakin itu. Rasa sayang memang sering tak terucapkan.

 

Layang-Layang

Kita semua suka berlibur ke pantai. Suasana tenang sembari mendengar orkestra alam. Orkestra yang hanya dihadirkan oleh alam.Suara debur ombak berpadu dengan desir angin pantai. 

Suasana pantai sungguh mententramkan hati. Apalagi kita sambil bermain layang-layang. Sungguh menyenangkan hati kita.

Bermain layang-layang adalah latihan mengendalikan. Bagaimana kita bisa mengontrol layangan yang terbang dengan seutas tali. Kadang diulur dan ditarik talinya.

Saya ingat.kejadian tempo hari..Saya main layang-layang di pantai. Karena permintaan anak perempuan saya. Dia ingin main layang-layang di pantai setelah mendengar lagu ini,

“Kuambil buluh sebatang

Kupotong sama panjang

Kuraut dan kupintal dengan benang

Kujadikan layang-layang…..”

Setelah layang-layang naik di angkasa. Dia ternyata sudah cukup senang melihat layang-layang terbang. Dia nggak mau main layang-layang lagi.

 Hmmm….!!! Apakah ini pesan dari anak saya?

“Ayah,aku ini layang-layang bagimu. Perlakukanlah aku seperti layang-layang.”

 “Jangan kau lepaskan aku,ayah. Tapi,jangan kau pegang terus diriku. Lepaskan aku bagai layang-layang.”

“Kau dan Aku terhubung dengan seutas tali”

“Jika anginnya bagus maka ulurkan benangnya.Jika anginnya jelek maka tariklah benangnya.”

Oh,kiranya begitu. Aku harus memperlakukanmu nak.Aku akan pilih benang terbaik, agar kau tak putus dariku. 

Janganlah kau terbang bak layang-layang putus. Terbang tidak tentu arah.

Kursus Online

UNESCO sudah mencanangkan pendidikan sepanjang hayat atau Long Life Education maka belajar itu mulai dari lahir sampai mati, dimanapun, kapanpun dan dalam keadaan bagaimanapun. Kesadaran belajar sudah tumbuh di masyarakat jalur formal mulai SD, SMP, SMA, S1, S2 dan S3. Pendidikan di jalur formal mulai tumbuh pula misal : Kursus Online.

Karena jaman internet maka cara belajar berkembang juga yaitu via online. Jalur non formal lebih berkembang pesat via online, misal : kursus. Lembaga Kursus ini menawarkan program belajar sesuai dengan kebutuhan masa kini. Penyelenggara menyediakan materi dan peserta silahkan milih sendiri. Manfaat yang dapat diambil oleh peserta yaitu sertifikat yang dikeluarkan oleh lembaga kursus.

Misal : IndonesiaX, Lembaga ini menyediakan berbagai macam kursus singkat  via online. Short Course ini mulai bidang ekonomi, sosial, budaya dan engineering. Pokoknya PALU GADA, aPA mau LU GuA aDA. Pengajarnya berasal dari berbagai institusi mulai UNAIR, ITS, BNI, Rumah Perubahan dsb.

Kita belajar langsung dari ahlinya. Kita diajar oleh Renal Kasali, Daoed Yusuf, Hilmar Farid, Emil Salim atau Ahmad Baiquni. Tokoh-tokoh nasional ini mengajar via online. Mereka membagikan pengalaman dan ilmu mereka secara gratis kepada kita. Kita tidak membayar sepeser pun.

Kecuali, kita ingin mendownload sertifikat kelulusan kita. Harga sertifikat sebesar Rp 250.000,-/kursus. Cukup murah dibandingkan dengan ilmu yang kita dapatkan.

Kita belajar dengan banyak pilihan. Kita mau secara online? Bisa…!!! Mau Offline? Boleh…!!! Kita download materi kursus kemudian dilihat secara offline, Luwes banget…!!! Kita langsung belajar dari yang ahli di bidang masing-masing.

Saya terkesan dengan Prof Renal Kasali yang dengan mudah berbagi ilmu dengan kita. Kita belajar mulai manajemen CHANGE dan  “ Are You Driver and Passenger?” dari Prof Renal. Saya mulai belajar Financial Plan, Produk Jasa Keuangan. Saya belajar langsung dari mantan mendikbud yaitu Pak Daoed Joesoef. Kapan lagi bisa belajar kayak gini? Lha cuman via online, kita bisa wujudkan.

Saya yakin kursus macam diatas tidak hanya terbatas oleh IndonesiaX. kebetulan aja, saya mengikuti IndonesiaX. Buanyaaaak banget…kursus macam gini di dunia maya. Sepintas lalu, kita merasa cukup dengan ilmu yang didapatkan di bangku sekolah. Ternyata, saya merasa sangat berguna di dunia nyata. Manfaat tidak melulu masalah sertifikat. Tanpa sertifikat, Saya merasa sangat terbantu dengan materi kursus di dunia kerja.

Karena saya bukan lulusan ekonomi tapi “terjebak” di bagian keuangan. Kebetulan ada sedikit masalah di bagian keuangan. Setelah mengikuti kursus dari Prof Renal Kasali. Saya jadi memahami masalah di kantor dan mampu menjelaskan ke pimpinan secara logis dan sistematis. Itu salah satu manfaat mengikuti kursus online.

Hayuk, manfaatin Gadget, Laptop dan komputer kantor buat Fb-nan, Twitter-an, Youtube-an, Blogging . But, jangan lupa buat kursus online pula. Hehehehe…!!!

 

 

Karak

Karak, Orang Solo tidak ada yang tidak mengenal jenis makanan ini. Makanan ini sangat familiar. Makanan ini  adalah lauk pelengkap saja. Tidak lengkap makan nasi dan sayur tanpa Karak. Kalau mau dimakan begitu saja juga enak, kalau orang Solo menyebut sebagai “Gadon”. Rasa gurih dan apabila dikunyah akan timbul suara, “kreak…kreak…kreak”….!!!

Karak itu berfungsi sama Kerupuk. Kalau kerupuk berbahan dasar tepung dan karak berbahan dasar dari  nasi sisa. Karak adalah bentuk dari Kearifan lokal masyarakat Solo. Orang Jawa mengatakan jika kita membuang makanan adalah sesuatu yang pamali. Karena bisa membuat seret rezeki kita. Maka, lahirlah jenis Karak.

Kita sering melihat makanan sisa yang dibuang dengan percuma terutama nasi. Karena makanan pokok kita adalah nasi. Kita menanak nasi di pagi hari untuk sampai malam hari. Karena makan diluar maka nasi di rumah jadi bersisa. Nasi sisa itu diolah lagi menjadi makanan layak konsumsi. Makanan itu bisa berupa Karak, Cengkaruk dan Intip.

Hmmm…!! Banyak juga jenis makanan dari nasi sisa. Itulah kearifan lokal. Ada pula yang menjemur nasi sisa kemudian dijadikan makanan untuk Bebek. Bebek diberi makan dengan nasi sisa kemudian bebek bertelor atau disembelih. Maka, Kita menikmati bebek goreng dan Telor Asin. Hehehehe…!!! Kreatif juga.

Karak ini adalah lambang kerinduan bagi para perantau. Mereka sering kali dibelikan karak dari Solo. Jika musim mudik lebaran, Mereka akan memborong karak untuk dibawa ke Tanah Perantauan. Jika ada saudara berkunjung ke tanah perantauan maka oleh-oleh cukuplah Karak. Apalah itu karak? Karak adalah lambang romantisme tanah kelahiran.

Kalau ngomong tentang kandungan gizi dari karak. Hahahahaha…!!! Karak tentu saja bukan prioritas utama dari makanan bergizi. Namun, Karak itu nikmat karena mengandung banyak cerita, romantisme dan kenangan yang terlupakan bagi orang solo terutama yang di perantauan. Setiap gigitannya akan membangkitkan kenangan masa kecil sampai saat menjelang merantau.

Coba bayangkan, Kita makan Nasi dengan lauk yaitu Karak. Apalah jadinya? Karbohidrat bertemu Karbohidrat. Maka yang timbul adalah tumpukan kandungan kalori di tubuh. Tapi, Itulah kebiasaan yang menyenangkan bagi orang solo. Sego Karak ( Nasi + Karak) adalah Menu yang penuh kenangan dan romantis bagi orang solo terutama yang perantauan.

Secara kesehatan fisik memang tidak menguntungkan namun secara kesehatan jiwa maka menyehatkan. Karena karak membawa kebahagiaan. Apalagi makan GOCAPRAK (Sego + Kecap + Karak) sangat menyenangkan dan nikmat. GOCAPRAK yaitu Makan Nasi dituangi kecap manis dan pakai lauk yaitu karak. Hmmm…!!! Penghasil Glukosa semua dan sangat tidak sehat.

Eitsss…!! Itu yang membangkitkan memori masa kecil yang menyenangkan. Jangan salah..!!! Hahahahaha…!!!! Jiwa kita yang sehat karena bahagia. Karena makan GOCAPRAK. Hahahahahaha…!!!!!

Bima Suci

Sumber : disini

Tubuhnya besar dan gempal. Dia mempunyai brewok yang lebat. Kalau berbicara tidak bisa halus kepada siapa saja. Orangnya tulus, pemberani dan sakti. Adik dari Puntadewa. Dia adalah sang Bima yang perkasa.  Bima adalah anak kedua dari Pandawa Lima

Bima atau Werkudara hanya berbicara halus kepada seorang saja yaitu Dewa Ruci. Dewa Ruci adalah guru sejati bagi Werkudara. Resi Drona saat itu sedang menggunakan akal liciknya untuk menyingkir Werkudara. Maka, Werkudara ditugaskan mencari Tirta Prawitasari ke dasar Samudra.

Tirta Prawitasari atau Air Kehidupan sebenarnya ada di dasar hati manusia. Karena bujukan Sengkuni atas Drona maka Bima ditugaskan mencari Tirta Prawitasari. Sengkuni berharap jika Bima masuk ke dalam samudra maka dia akan mati terbunuh oleh makhluk dasar laut.

Karena Werkudara itu tulus dan patuh kepada gurunya. Werkudara mengerjakan dengan sepenuh hati tanpa dia pikir panjang. Perintah Gurunya maka Sami’na Wa Atho’na ( Kami mendengar dan Kami Taati). Rantai komando harus ditaati tanpa bantahan. Werkudara masuk ke dalam dasar samudra.

Bima menyelam ke dalam samudra bertemu dengan dua Raksasa yaitu Rukmaka dan Rukmakala. Dua raksasa tersebut dihajar sampai tewas. Ternyata, Dua raksasa itu adalah jelmaan Batara Bayu dan Batara Indra yang disumpah oleh Batara Guru jadi Raksasa. Karena Dua Raksasa itu telah mati maka dua batara yang disumpah naik ke Kahyangan.

Werkudara bertemu dengan Naga bernama Nemburnawa maka sang Naga dihajar habis. Kuku Pancanaka yang dipakai werkudara telah merobek sang Naga. Sang Naga tewas dengan mengenaskan. Selesai berkelahi, Werkudara duduk termenung.

Werkudara bingung kemana lagi harus mencari Tirta Prawitasari. Sengkuni dan kroni mungkin baru terkekeh-kekeh membicarakan ketololan Werkudara. Tetapi, Kalau Sengkuni tau keadaan Bima saat itu. Maka siapakah yang tolol ? Sengkuni atau Werkudara? Werkudara semakin kuat dan berpengalaman berkelahi.

Dia mungkin sudah menyumpah serapahi dirinya sendiri. “Mengapa gue jadi tolol gini? “,Gumamnya.”Sial, gue dikerjain sang guru”, tambahnya dalam hati.  Dia tidak sadar melakukan dua hal besar yaitu membunuh dua raksasa dan seekor naga. Kalau Sengkuni mendengar itu, saya yakin dia akan kencing di celana saking takutnya.

Setelah itu Werkudara duduk terdiam di atas samudra. Di sini,Werkudara bertemu dengan gurunya atau dewanya yang sejati yaitu Dewa Ruci. Werkudara diminta masuk kedalam lubang telinga dewa kerdil itu atau Dewa Ruci. Werkudara masuk dan mendapat wejangan tentang makna kehidupan.

Werkudara juga melihat suatu daerah yang damai, aman, dan tenteram. Setelah itu, Werkudara menjadi seorang pendeta bergelar Begawan Bima Suci dan mengajarkan apa yang telah ia peroleh dari Dewa Ruci. Ksatria yang menjadi Begawan.

Kesetian Werkudara atas gurunya diganjar dengan gelar Begawan Bima Suci. Ini terkait dengan niat dan cara yang baik. Barangsiapa yang berniat baik maka akan mendapat kebaikan. Asal dilakukan dengan cara yang baik pula. Niat dan cara yang baik akan memberi keberkahan dan keberuntungan. Maka, marilah kita berniat baik dan menggunakan cara yang baik

Hahahahaha…….