Winnetou I

Karl May memang seorang jenius. Kecerdasan Karl May mungkin sejajar dengan J.K Rowling yang menulis Harry Potter. Maaf, saya belum baca Harry Potter. Ini hasil dari diskusi dengan istri yang menyukai novel Harry Potter. “Cerita Harry Potter begitu sempurna dan lengkap dan semua kait- mengkait”, Itu menurut istri saya.

Karl May memang produktif menghasilkan novel. Novel Karl May berkisah tentang petualang si Charlie dengan setting di berbagai negara mulai Afrika, Asia, Eropa dan Amerika. Sungguh butuh kecerdasan tinggi untuk menyusun novel dengan kisah yang seru yang panjang dan setting di berbagai belahan dunia. Daerah-daerah tersebut ada yang pernah dikunjungi dan ada yang belum pernah dikunjungi sama sekali.

Karya yang masyhur dari Karl May salah satunya adalah Winnetou. Winnetou adalah seorang kepala suku indian Apache. Dia mempunyai saudara kulit putih yang bernama Old Shatterhand. Kisah ini dimulai di daerah pesisir barat (west) Amerika. Anehnya, Karl May belum pernah ke pesisir barat.

Bagaimana mungkin bisa menulis tanpa pernah mendatangi setting novel. Buat saya yang awam maka jawabannya adalah “Sulit”. Karl May mampu melakukan dengan baik bahkan ceritanya hidup. Seolah-olah kita berada disana ketika membaca buku Winnetou.

Karl May terlihat menguasai tentang detail cerita. Dia menulis dengan sangat detail. Imajinasi kita melayang-layang di padang prairie, sabana, hutan dan sungai di daerah barat. Kita merasa bertemu dengan para westman, indian. Kita seakan-akan berburu di Bison dan Mustang. Kita harus menahan nafas karena Beruang Grizzly menyerang Old Shatterhand di dalam kisah novel Winnetou.

Novel Winnetou itu humanis. Old Shatterhand mempunyai kesempatan untuk membalas dendam kepada Rattler. Rattler sudah ditangkap oleh suku Apache. Old Shatterhand meminta tolong kepada saudaranya yaitu Winnetou. Agar Rattler dihukum mati dengan satu tembakan bukan dengan siksaan. Suku Indian menghukum mati seseorang biasanya dengan menggunakan teknik siksaan.

Winnetou, kepala suku indian Apache yang berbeda. Winnetou menghormati manusia tidak memandang perbedaan suku, agama dan warna kulit. Winnetou adalah didikan Klekih-Putra. Seseorang yang berasal dari Jerman yang mengabdikan diri di Suku Indian Apache. Klekih-Putra adalah seorang Pendeta Kristen.

Winnetou tidak membenci orang westman atau orang eropa. Dia tidak suka karena tanah atau wilayah suku Indian dilewati rel kuda besi (Kereta Api) tanpa meminta izin atau membeli dari suku Apache. Seolah-olah tanah yang dilewati rel KA adalah tanah tidak bertuan.

Ini awal perselisihan dari suku Apache. Suku Indian memang semakin lama terdesak dan minoritas. Winnetou menentang sebuah gerakan yang menghapus orang indian di bumi Amerika. Makanya, dia mengangkat senjata demi kehormatan wilayah suku Indian.

Dia resah dengan keadaan orang eropa di Amerika. Mereka mendesak kehidupan bangsa Indian. Jika dibiarkan maka suku Indian akan punah. Dia menyadari bahwa Suku Indian pasti akan tersisih di tanah air mereka sendiri.

Sebelum Suku Indian terdesak dan menjadi minoritas. Old Shatterhand ingin melakukan sesuatu untuk memberdayakan bangsa Indian. Suku Indian adalah suku yang berbudaya menurut Old shaterhand. Pendapat yang berbeda di tengah-tengah pendapat mayoritas yang menyatakan bahwa Suku Indian itu tidak beradab.

Kita membaca novel Winnetou maka seolah-olah menonton film koboi. Ada suku indian yaitu Navajo, Kiowa dan Apache. Kita akan mengenal senjata yaitu Tomahawk. Kita akan mengenal mokasin. Semua budaya indian ada disana. Kita mengenal kebiasaan para westman. Kehidupan yang liar dan bebas di tengah padang prairie.

Karl May memang ingin memperkenal bangsa Indian. Bangsa yang pasti akan kalah dan punah di tanah mereka sendiri. Indian yang dikalahkan oleh bangsa eropa. Indian bukanlah bangsa terbelakang dan kejam. Indian adalah bangsa yang memiliki kebudayaan yang tinggi.

Bangsa Indian harus kalah dan terstigma bangsa yang kejam oleh bangsa eropa pendatang. Itulah keprihatinan Karl May yang diwujudkan novel dengan tokoh Winnetou, Old Shatterhand, Sam Wakkens, Dick, Rattler dsb.

Advertisements

Napak Tilas

Keluarga kecil kami liburan di musim liburan akhir tahun 2017. Kami liburan ke kampus istri di UI Depok. Karena istri dan kakak ipar adalah alumni dari sana. Istri saya yang menginginkan perjalanan napak tilas ke UI Depok. Katanya ingin menunjukkan ke anak-anak dimana mamanya dulu kuliah.

Mama Ifa dan Pakde Aji memang unik. Jika kami yang orang daerah menuju ibukota untuk mengadu nasib atau studi / kuliah maka tidak pulang sampai berkeluarga dan beranak pinak. Jika usia sudah tua dan pensiun baru pulang ke daerah asal.

Kata orang, “ Sejauh Burung Terbang Maka Tetap Akan Pulang ke Sarangnya”. Buat istri saya belum jauh terbang udah pulang ke sarang. Pakde Aji juga begitu setelah kerja di sebuah Bank ditempatkan di Kota kelahiran dan akhirnya menetap dan berbisnis di kota kelahiran pula.

Perjalanan ini menjadi terasa lebih emosional buat istri saya. Dia telah meninggalkan Jakarta beberapa tahun yang lalu. Katanya, Jakarta itu dinamis dan penuh tantangan. Sungguh sangat menantang hidup di gemerlap Jakarta. Bahkan, kawannya dari pulau seberang yang sudah mengenal Jakarta tidak mau pulang. Karena sudah nyaman hidup di Jakarta. Tiba-tiba, Dia harus pulang menjalani kehidupan rumah tangga di kota kecil yang sepi dan tenang.

Napak Tilas itu berasal dari kata “Napak” dan “Tilas”. Napak itu arti menapaki atau melintasi sebuah daerah atau wilayah. Tilas itu artinya bekas dipakai atau dulu pernah ditempati atau dilintasi. Kami (Saya, Istri, Ifa dan Zufar) menapaktilasi wilayah yang ditinggali atau dilewati sang mama ketika kuliah. Mulai wilayah Jakarta sampai berakhir di Depok.

Ketika melintasi stasiun UI maka terasa lebih emosional. Mama ifa mulai membandingkan kondisi dulu dengan sekarang. Kata mama ifa sudah banyak perubahan. Perpustakaan UI yang paling berubah. Perpustakaan UI adalah spot yang paling Instagramable ( Maaf, kalau salah penulisan..).

Aku pun cuman manggut-manggut. Hehehehehe… Saya adalah putra daerah asli. Saya sejak dari balita sampai punya dua anak tidak pernah berpindah dari kota kecilku. Mama Ifa sibuk menanyakan ke pakde Aji tentang perubahan kampus UI Depok. Karena pakde Aji lebih sering wira-wiri ke kampus UI Depok.

Kita melintasi berbagai fakultas. FKUI ternyata sudah ada di Depok. Saya kira FKUI hanya di Salemba. Pembangunan Kampus UI masih terus berlangsung. Kampus UI dilengkapi dengan RS Pendidikan. FEBUI terlihat lebih modern dan segar.

Pakde Aji menyempatkan diri berfoto dengan keluarga kecilnya di FEBUI. Maklum, Pakde Aji adalah alumni FEBUI program studi Manajemen. Foto adalah gambar sejuta makna. Agar menjadi prasasti bahwa ayahmu pernah kuliah di kampus terbaik di Indonesia. Kamu harus lebih baik dari bapakmu. Begitu sekiranya makna foto pakde aji sekeluarga buat buah hatinya.

Kami juga berfoto di depan kampus FASILKOM UI. Mama Ifa itu alumni S1 dan S2 di FASILKOM UI. Kami berfoto dalam formasi lengkap. Suatu saat, Ifa dan Zufar akan melihat oto itu. Ifa juga akan mengeti bahwa pernah ke kampus UI. Kamu berdua semoga lebih baik dari ibumu.

Tidak lupa, Kami napak tilas ke Masjid UI Depok. Masjid UI tampak teduh dan asri di siang har jam 13.30 WIB. Masjid yang terletak di tepi danau UI. Tampak di seberang danau yaitu Balairung UI dan Rektorat UI. Hawa panas yang menyengat berubah segar menyenangkan. Karena hembusan angin dari danau menuju masjid. Elemen air memang menenangkan dan menentramkan.

Napak Tilas itu menyenangkan dan bermanfaat. Napak tilas ini memberi energi positif buat mama ifa. Manusia kadang harus menengok ke belakang. Ketika melihat di depan terasa sangat sulit dan berat dilalui. Kita harus menengok ke belakang. Karena kita telah mengalami sesuatu yang lebih berat dan lebih payah di masa lalu. Kita tengok ke depan lagi. Ah… Itu tidak seberat masa laluku. Maka kita akan melangkah ke depan dengan gagah berani.

Acceptance

 

Saya berdiskusi dengan dua orang hebat. Mereka adalah Pak Maman . Sehebat apakah beliau? Beliau adalah guru TK yang mempunyai dedikasi dan loyalitas tinggi terhadap profesi. Beliau sangat menikmati setiap proses dalam menjalani profesi sebagai guru TK. Pendidikan beliau bukan sarjana tetapi kecintaan beliau terhadap dunia anak menjadikan dia layaknya seorang sarjana.

Saya meminta tolong kepada beliau tersebut untuk memberi pembekalan ke guru-guru TK di sebuah kecamatan yang ada di kota Solo. Guru-guru yang mengajar di TK-TK pinggiran dengan bayaran yang tidak akan mencukupi biaya hidup sebulan. Mereka meskipun berkekurangan tapi mempunyai semangat belajar yang tinggi.

Para Guru TK ini membutuhkan sekedar dari pemberian uang. Mereka membutuhkan asupan gizi ilmu. Kalau mereka diberi uang maka satu jam, sehari atau seminggu lagi segera terkonsumsi. Jika ilmu yang disalurkan maka akan mengendap dalam alam pikiran mereka, memajukan cara berpikir mereka dan akhirnya merubah generasi penerus menjadi lebih hebat.

Pak Maman adalah guru yang mempunyai nasib sedikit beruntung. Karena bekerja di TK yang modern. Mereka menikmati gaji yang cukup dan bekal ilmu yang banyak dari tempat bekerja. Alhamdulillah, mereka bersedia padahal honornya kecil. Mereka mempunyai idealisme tinggi untuk pendidikan anak usia dini.

Diskusi itu berjalan dengan menarik, dinamis dan hangat. Salah satu kesimpulan dari diskusi itu adalah Acceptance atau Penerimaan adalah faktor kunci dalam keberhasilan pendidikan anak usia dini. Apapun kondisi anak harus diterima baik itu normal atau yang berkebutuhan. Apabila anak sudah dapat kita terima maka lebih mudah kita menghantarkan mereka kearah keberhasilan.

Pak Maman cerita bahwa ada seorang dosen memiliki anak perempuan yang bisu dan tuli. Bagaimana sedihnya sang dosen memikir masa depan sang buah hati? Kebetulan sang ayah adalah Dosen Psikologi. Dia lebih rasional memikirkan masa depan sang anak.

Sang dosen menemui Pak Maman. Sang dosen ingin mendidik anaknya sesuai dengan kondisi si anak. Anak harus bertumbuh dan berkembang sesuai dengan kondisi fisik dan mental. Sang dosen mendiskusikan dengan pak maman untuk menentukan sekolah mana yang cocok buat sang anak. Sang dosen menginginkan anaknya paling tidak menjadi mandiri.

Pak Maman ngomong ke sang dosen, “Anak anda tidak butuh sekolah pak, Ngapain dimasukkan sekolah?”. “Anak anda butuh penerimaan dari anda”, ujar pak maman. “Anak ini akan mencari sendiri gift yang ada di dalam dirinya”,  Pak Maman menambahi. “Kuatkan saja potensi yang ada didalam dirinya”,Pak Maman mengakhiri uraiannya.

Sang Dosen berusaha menerima apa adanya si buah hati. Sang buah hati didampingi dengan menguatkan segala sesuatu dalam pembentukan karakter si anak mulai psikomotorik halus, psikomotorik kasar, karakter, keberanian dan kemandirian. Anaknya dibantu dalam ‘Tumbuh-Kembang” sampai menemukan sesuatu yang dia senangi dan kuasai. Sang Dosen meyakini bahwa ini adalah The Best Gift From GOD.

Anak ini sudah beranjak dewasa. Anak ini telah menjadi “mesin uang” yang handal. Anak ini mempunyai “gift” dalam bidang desain. Desain yang dia buat sangat diminati dan dihargai dengan mahal. Suatu Hari, Klien ingin bertemu dengan sang desainer. Sang desainer adalah anak sang dosen yang bisu dan tuli. Sang dosen mengantarkan sang anak untuk bertemu denga klien sang anak.

Klien si anak kaget bukan kepalang, “Hmm, selama ini yang mendesain itu mbak”. Sang dosen menjawab dengan bangga, “ Iya pak, Anak saya yang bisu dan tuli”. Karena Sang Anak disapa oleh kliennya maka dengan percaya diri menjawab meskipun dengan segala keterbatasan dia. Uppss…...Ternyata.

Penerimaan atau Acceptance dari orang tua kepada sang anak menguatkan karakter si anak. Menurut perhitungan, Si anak akan menjadi beban orang tua di masa depan. Karena Acceptance dari orang tua. Anak ini malah membuat bangga sang orang tua. Padahal, Sang dosen mungkin hanya mengharapkan kemandirian dari si anak.

Pak Maman menekankan bahwa kita harus menerima kondisi anak kita apa adanya. Pak Luki, kawan pak luki yang ikut nimbrung diskusi, menambahi bahwa seorang guru juga harus menerima apa adanya kondisi murid. Acceptance  dari seorang guru kepada murid sangat berpengaruh psoitif. Anak yang susah diatur menjadi lebih mengerti aturan. Anak-anak menjadi dekat gurunya dan muridnya menjadi percaya diri.

Saya bisa mempercayai itu. Karena anak saya adalah murid pak Luki di TK. Anak saya yang speech delay menjadi gembira dan percaya diri bergaul dengan teman-temannya. Anak saya sudah bisa ngomong. Anak saya menemukan ketenangan, keberanian dan Percaya Diri. Teman-temannya yang semula bengal menjadi taat aturan meskipun masih tetap saja ramai.

Setiap anak telah diberi “gift” dari Allah SWT. Kita harus menerima apa adanya. Tugas kita hanya memperkuat mental mereka, psikomotorik kasar, psikomotorik halus dan kegemaran untuk belajar. Setiap orang tua dan guru bertanggung jawab untuk menghantarkan “tumbuh-kembang” anak sesuai dengan gift yang diberikan oleh Allah SWT.

Acceptance kita terhadap anak akan memperkuat karakter mereka. Sehingga mereka tidak ragu untuk mengembangkan diri sesuai dengan “gift” masing-masing.Ibaratnya adalah Telur yang diselubungi cangkang. Kita hanya membantu isi telur menjadi anak ayam dan menetas sendiri tanpa kita bantu memecahkan cangkangnya.

Agar telur itu cepat menetas maka harus kita panasi. Kita masukkan ke mesin penetas telur. Ayam induk di-“minta” unrtuk mengerami dan ditempatkan di tempat yang senyaman-nyamannya. Namun, kita tidak boleh memecahkan telur itu terlebih dahulu. Kita tidak ada hak memecah cangkang jika kita menginginkan seekor anak ayam. Kecuali, kita menginginkan sepiring Telor Mata Sapi.

Acceptance itu menguatkan si anak. Siapapun anak itu baik yang normal atau berkebutuhan. Kita cari pelan-pelan yang menjadi gift bagi si anak. Kita bisa melakukan tes sidik jari sampai konsultasi dengan psikolog atau dokter. Trial and error, Kita mengenalkan berbagai hal mulai permainan, buku sampai perlombaan.

Pak Maman menyatakan bahwa dalam proses trial and error tidak ada kalah-menang  atau salah-benar. Kalau si anak diajari namun lambat menguasai berarti memang bukan bakatnya disitu. Jika diajak lomba maka yang dicari adalah pengalaman. Semua itu adalah ikhtiyar mencari gift dari si anak.

Sore itu banyak ilmu yang saya serap. Ternyata, saya banyak melakukan kesalahan ke sang buah hatiku. Maafkan ayah ya nak. Ayah akan selalu belajar memahamimu. Engkau adalah anugerah sekaligus ujian buat ayahmu ini. Agar ayahmu menjadi manusia lebih baik.

 

 

 

 

 

Isi Dompet

Anda mesti sudah tahu betul dengan nasi pecel. Nasi yang diberi sayuran yang sudah direbus kemudian disiram sambal kacang. So simple….

Kalau ditambahi dengan jantung pisang (jawa : tuntut), mlandhing, timun, bongko dan gembrot. Hmm… Terasa lebih enak dan istimewa.

Mau lebih enak? Kita ganti sambal kacang dengan sambal wijen hitam. Kita tambahi dengan parutan kelapa yang diurap dengan sambal. Oh ya,jangan lupa sambal trasi.

Sayuran harus lengkap,mulai bayam,taoge, kenikir, mentimun dan kemangi. Saya kira para vegetarian dan vegan mesti menggandrungi itu semua.

Kita bahas harganya. Menurut anda berapa? Bagi yang suka ke pasar tradisional, warteg, warung makan, restoran biasa atau yang mahal. Mereka mempunyai perkiraan masing-masing.

Pecel yang lengkap begitu disebut pecel ndeso. Kalau di jawa, Pecel ndeso masih banyak dijual di pasar tradisional. Harganya berkisar 3 ribu per porsi. Itu udah pakai nasi merah. Kalau yang baik hati masih ditambah ikan asin kering (jawa : gereh).

Kalau di tempat kumpul warga. Kalau di Jakarta misal di Monas. Kita yang di Solo misal di Manahan. Harga bisa berkisar 5 – 6 ribu.

Pecel ndeso jika disajikan di hotel berbintang atau resto berkelas. Harganya bisa berkali lipat. Kalau mau menikmati sajian yang masih genuine dan etnis. So,datang aja ke pasar tradisional. Rasanya masih asli dan harganya musti murah.

Cuman,pasar itu seringkali kotor dan tidak teratur. Suasana tidak mendukung untuk menikmati sajian istimewa. Padahal,kuliner itu ada di pasar.

Seperti ini tadi, saya datang ke manahan. Saya dan istri melakukan olahraga pagi mengitari stadion manahan dua kali. Kemudian,muter-muter nyari sarapan.

Setiap ahad pagi,manahan jadi tempat kumpul warga baik yang berolahraga atau yang jualan barang atau kuliner. Saya nyari pecel ndeso.

Karena semalam hujan deras. Suasana menjadi lembab, basah dan becek. Situasi agak gimana. Kurang pas buat makan sajian Istimew sekelas pecel ndeso.

Setelah ketemu yang jual pecel ndeso. Kami ya makan disitu. Meskipun agak gimana ya nggak masalah. hehe….

Rasanya enak dan unik. Pokoknya pas banget. Harganya cukup murah meskipun lebih murah yang di pasar tradisional.

Semuanya cocok baik rasa atau harga. Cuman kurang satu yaitu situasi yang lembab dan agak becek. Itulah resiko makan di tempat umum dan terbuka.

Ada nggak ya yang jual pecel ndeso yang genuine, murah, enak dan tempatnya nyaman?

Ah sudahlah…..Itu biar dipikir yang berwenang (pemerintah atau pengusaha). Kita menyesuaikan diri aja antara rasa,otentisitas, tempat dan isi dompet. Nggak ada yang sempurna di dunia.

Kalau mau istimewa ya harus bayar mahal. Kalau mau yang biasa so bisa aja yang murah. Kita menyesuaikan tergantung isi dompet. hehehehe……

Hidup Berdampingan

Kami berdua telah memiliki dua anak. Anak kami sudah lengkap yaitu seorang anak lelaki dan perempuan. Alhamdulillah, Kami juga telah dibantu seorang ART, sebut saja “Mbak”. Si “Mbak” sangat tangguh. Dia membantu mengasuh kedua anak kami, mengurusi urusan belakang dan juga membantu bagian perawatan di usaha kami. Rasanya senang dan nyaman karena ada ART yang tangguh, efektif dan efisien.

Faktanya, anak kami itu ada tiga. Lho kok bisa? Bisa saja lah. Khan, Si “mbak” membawa anak juga di rumah kami. Hehehehehe… Usia anaknya selisih satu tahun dengan anak saya nomer dua.  ART yang tangguh, efektif dan efisien tapi bawa anak di rumah kami. Hehehehe…..

Anak kami yang sulung itu perempuan berusia 5 tahun dan  yang kedua itu laki-laki berusia 2 tahun.  Anak si “mbak” itu perempuan berusia 3 tahun. Mereka bertiga hidup dalam satu rumah. Bisa dibayangkan betapa ramai rumah kami. Pokoknya rumah kami tidak pernah sepi dari suara anak-anak.

Bagaimana bisa sih? Anak dari si “mbak” tinggal di rumah kami.  Itu tidak terlalu penting. Buat saya interaksi diantara ketiga balita itu yang terpenting. Mereka berinteraksi bersama dalam kurun 24 jam secara terus-menerus. Lebih banyak menyenangkan dari menyusahkan. Kami seisi rumah sangat menikmati keadaan ini.

Saya dibesarkan sebagai anak tunggal selama 11 tahun 6 bulan. Setelah akhirnya, Adik saya dilahirkan ketika menjelang ujian kelulusan SD. Saya merasakan suka duka sebagai anak tunggal tanpa saudara. Saya merasakan kehadiran saudara kandung menjelang remaja awal. Setelah sekian lama menjadi “raja” di rumah.

Saya tahu rasanya sepi tanpa saudara atau teman sebaya di rumah. Meskipun di bagian lain, saya tidak perlu berbagi dengan saudara yang lain jika ada pemberian dari orang tua. Saya tidak perlu berbagi, bertenggang rasa dan bahkan tidak perlu berkonflik dalam segala hal. Apapun buat saya itu mutlak untuk saya.

Keadaan yang bertolak belakang dengan anak-anak saya. Anak-anak sejak balita sudah belajar untuk saling menyesuaikan dengan saudara kandung. Bahkan mereka sudah harus belajar saling menyesuaikan dengan anak orang lain. Padahal, Ego mereka muncul sebagai anak manusia maka konflik seringkali tidak terelakan.

Bukankah biasa setiap manusia memiliki ego. Karena ego maka ada konflik. Lha ini, konflik ego dengan anak orang lain dan apalagi tinggal dan kerja di rumah kami. Bukan konflik yang kami permasalahkan tetapi bagaimana mereka menyelesaikan konflik. Itu yang membuat kami terkagum-kagum dengan anak kecil.

Konflik sesama anak-anak sudah kami anggap biasa. Anak kecil itu ternyata sangat pemaaf. Setelah mereka bertengkar. Mereka bisa bermain lagi tanpa rasa dendam lima menit kemudian. Tidak ada yang disimpan di kalbu, semua hanya luapan emosi sesaat saja.

Anak itu tetaplah anak. Anak si “mbak” tentu belum terlalu peduli kalau numpang hidup di rumah orang. Ego anak tetap akan muncul dimanapun dan bisa kapanpun. Awalnya, mereka bertiga kalau udah berebut sesuatu maka ramai rumah kami.

Konflik yang sejati adalah konflik bagi kami. Para orang dewasa yang tinggal serumah. Ternyata, Kami dan si “mbak” yang harus bertenggang rasa dan saling menyesuaikan diri. Karena setiap orang tua akan memprioritaskan anak-anak kita diatas segala-galanya . Itu yang normal dan  naluriah. Kalau kadar berlebihan maka itu yang jadi masalah.

Kami sebagai tuan rumah dan si “mbak” yang hidup dalam satu rumah mendapat pelajaran berharga . Bagaimana menempatkan konflik anak-anak dalam koridor dunia anak tanpa melibatkan emosi kami sebagai orang tua.  Karena anak-anak itu sangat pemaaf, kadang kita sebagai orang tua yang seringkali memperpanjang konflik.

Kalau menimbang-nimbang untung dan rugi dari ART yang membawa anak ketika bekerja. Tentulah, kita lebih mudah melihat kerugiannya. Kerugian mulai kualitas pekerjaan si”mbak” tentu kurang maksimal karena perhatian terbagi antara anak dan pekerjaan. Privacy keluarga kami mestilah terganggu.

Alih-alih memperhatikan kerugian. Saya melihat banyak manfaat. Saya dan Istri mengibaratkan rumah kami adalah asrama yang besar. Asrama yang tidak ditinggali sendiri. Rumah kami menjadi ramai. Saya tidak merasakan kesepian seperti masa kecil. Hidup kami merasa lebih berkah dan penuh kegembiraan.

Karena kami bukan termasuk orang yang berpenghasilan besar. Tetapi, banyak orang  yang kami tanggung hidupnya. Rezeki terasa lancar meskipun pas-pasan. Ibarat aliran sungai, sungai kami tidak besar tetapi  alirannya kecil dan lancar. Karena kami menghidupi dua keluarga. Alhamdulillah, kami merasa cukup tetapi tidak berlebihan. Rasanya “pas”. Gitu aja…..

Anak-anak belajar hidup bersama dengan orang lain yang seusia mereka. Mereka harus berbagi dalam berbagai hal mulai makanan, minuman, mainan dan kesenangan. Karena hidup serumah maka pembagian harus adil diantara mereka bertiga. Saya anggap ini pembelajaraan buat anak-anak kami untuk berbagi, bersimpati dan mempunyai empati.

Semoga anak-anak saya tumbuh sebagai anak-anak yang peduli sesama, mampu mengontrol ego dan ringan dalam menolong. Bukan konflik yang kami permasalahkan, Bagaimana anak-anak menyelesaikan konflik yang kami perhatikan. Besok, Mereka akan menghadapi konflik dengan orang lain besok jika sudah dewasa.

Namun, Kami tetap mempunyai waktu istimewa. Waktu dimana merasa diistimewakan oleh orang tua mereka sendiri. Karena itu juga menjadi hak mereka sebagai anak-anak kami. Kami ajak mereka main keluar kota 1-2 hari. Kami hanya bersenang-senang selama perjalanan. Kami bermain bersama.

Kalau sudah selesai liburan. Kami pulang ke rumah dan hidup secara komunal kembali. Ruang kosong itu harus diisi. Ruangan yang membutuhkan kasih sayang langsung dari orangtua kepada anak-anak tanpa ada gangguan. Namun, Empati anak juga harus dibangun. Empati dibangun saat hidup bersama dengan orang lain.

 

 

 

Ngempit

Posisi tangan sedang “ngempit” tas 🙂

Sumber foto : disini

Negara mawa tata, Desa mawa cara

Itulah ungkapan yang menunjukkan  setiap tempat mempunyai aturan main. Itu bisa berupa kampung, keluarga, kantor bahkan pasar.Para penghuni mempunyai aturan yang tertulis atau tidak tertulis. Aturan tidak tertulis yang disepakati bersama disebut konvensi.

Pasar yang mau saya jadikan adalah: pasar klewer. Pasar Klewer adalah salah satu pasar tradisional yang ada di Solo. Pasar yang menjual produk-produk garmen,mulai dari batik, kain, baju, celana sampai pakaian dalam. Pasar ini tidak menjual kebutuhan harian yang lain. Hanya produk garmen saja.

Kalau anda tinggal di Jogjakarta maka anda ngerti Pasar Beringharjo. Pasar Beringharjo mirip dengan pasar klewer. Pasar Klewer ini sangat besar nilai transaksi per hari. Pasar ini mempunyai omzet  miliaran rupiah setiap harinya. Kalau di Jakarta itu mirip pasar Tanah Abang.

Pasar tradisional dengan omzet yang besar. Pasar yang menjadi tempat jujugan para bakul dari berbagai daerah. Pedagang kain yang berasal dari sekitar solo dan pantura banyak berdatangan ke pasar klewer. Mereka kulakan di pasar klewer kemudian dijual di daerah asalnya.

Ada kebiasan unik di pasar klewer yaitu “ngempit”. “Ngempit” dalam bahasa jawa artinya kita membawa sesuatu dengan menjepitkan antara lengan kita dengan ketiak. “Ngempit” dalam kebiasaan pasar klewer adalah meminjamkan barang kepada seseorang untuk dijual.

Modalnya adalah kepercayaan. Jadi untuk berdagang kain atau batik tidak perlu modal uang. Apabila kita mempunyai track record yang bagus maka sang pedagang akan meminjami dagangan dengan sukarela. Apalagi kalau terbukti jika kita jual laku keras. Kita akan dititipi banyak dagangan.

Juragan yang meminjamkan ke para tukang “ngempit” akan memberikan harga jual. Tukang “ngempit” akan menjual diatas harga jual yang diberikan juragan. Selisih harga yang dia jual dengan harga dari juragan adalah keuntungan mereka. Tukang “ngempit” akan menyetorkan hasil penjualan sesuai harga dari juragan.

Banyak yang sukses dari sistem “ngempit” ini. Mereka pada awalnya cuman “ngempit”. Lama-lama, bisa kulakan sendiri dan pesanan semakin menggunung. Karena banyak pembelian maka tukang “ngempit” naik kelas menjadi juragan.

Tukang “ngempit” yang semula berdagang keliling. Mereka akhirnya membeli kios dan menjadi Juragan bagi tukang “ngempit” yang lain. Ini banyak sekali terjadi di Solo. Semula biasa bahkan nyaris tanpa modal uang. Mereka menjadi orang kaya dan juragan besar.

Modalnya adalah kepercayaan. Apabila bisa dipercaya dan mempunyai pangsa pasar. Otomatis mereka akan naik kelas asal tekun dan rajin. Mereka para tukang “ngempit” adalah orang yang rajin, tangguh dan pantang menyerah.

Berbisnis memang butuh modal uang. Saya yakin dan percaya 100%. Tetapi, untuk mengawali tidak selalu butuh uang. Kita hanya butuh kepercayaan dan kerja keras. Kepercayaan yang menghadirkan modal. Kerja keras yang akan menghadirkan pelanggan. Kepercayaan dan pelanggan yang akan menghasilkan uang. Hehehehe….

Akhirnya, Pasar Tradisional hadir segala keunikannya yang tidak tergantikan. Kalau anda pernah mendengar istilah “Dropshipping”dalam dunia online shop. Ini mirip tapi beda. Dunia “Dropshipping” yang diberikan foto. Para Dropshipper cuman disuruh foto produk atau dikasih foto . Pengiriman barang yang laku berasal dari juragannya.

Dunia “ngempit” yang dipinjamkan adalah barang dagangan. Mereka para pedagang pasar lebih berani mengambil resiko. Karena yang diberikan tidak cuma foto tetapi barang dagangan. Mungkin,….. “Dropshipping” adalah bentuk lain dari “Ngempit” di era medsos kali ini ?

Bisa Jadi. Ah biarkan ahli marketing yang menyimpulkan hubungan “ngempit” dan “Dropshipping”. Hehehehehe…..

Salam dari Solo,18-10-2017

 

Pasar Tradisional

Superindo emang bersih karena kebersihan adalah standar mereka. Superindo itu nyaman karena AC-nya sejuk. Parkirnya juga luas. Superindo sangat lengkap dari kebutuhan dapur sampai kebutuhan sehari-hari (consumer goods) tersedia lengkap….kap. Kita bisa mendapatkan produk yang baik.

Hypermart, Carrefour, Makro, Giant dan masih lagi, Mereka adalah pasar modern yang berkonsep one stop shopping. Kita nggak perlu tawar-menawar. Kita bisa milih-milih tanpa terganggu. Kita belanja di satu tempat udah beres semua.

Asap knalpot, bau keringat dan suara bising pedagang tidak akan kita temukan disana. Pokoknya menyenangkan.

Tetapi mengapa? Masih ada yang senang pergi ke pasar kampung sebelah. Pasar itu bernama pasar Tradisional.

Pasar boleh jadi lengkap atau tidak lengkap. Pasar yang kotor, becek,sesak dan bau. Mungkin, Masih ada copet yang berlalu-lalang.

Tidak ada lorong yang bersih dan licin dan tidak ada hiburan musik. Suara yang memekakkan telinga dari para pedagang dan pembeli.

Kita masih harus menghadapi bermacam-macam jenis pedagang. Kita kadang bisa milih-milih namun kadang ada pedagang yang berusaha mengintimidasi kita.

Baunya amis atau anyir. Kalau nyari parkir sulitnya minta ampun. Jangan berharap sejuk udara dari AC. Kita akan menemukan hawa panas dan sesak nafas.

Karena berdesak-desakan antara pedagang, pembeli dan kuli panggul yang membawa barang belanjaan berlalu-lalang.

Aneh, Masih banyak yang suka pergi ke pasar terutama pasar kampung sebelah. Karena satu hal yaitu INTERAKSI.

Ini yang tidak ditemukan di Superindo, Hypermart, Carefour. Belanja di Superindo maka tidak ada kegiatan lain selain berbelanja.

Kalau sudah terpenuhi kebutuhan maka pulang. Kalau pramuniaga sok akrab (baca : interaksi) maka pembeli malah nggak suka. Pramuniaga cukup berkata “terimakasih pak..bu”,habisnya sekian..”,”pakai kardus atau plastik..”. Mereka cukup bicara satu dua patah kata.

Faktor daya tarik utama dari pasar itu adalah Interaksi. Kita belanja namun ada interaksi yang dibangun antara penjual dan pembeli. Interaksi itu sifatnya imbal-balik atau dua arah. Sehingga bisa kemana-mana. Bisa menyenangkan atau konflik.

Awalnya mungkin tawar-menawar kemudian ada negosiasi diantara pembeli dan penjual. Mereka kemudian sepakat dan dibayar. Suatu saat karena uangnya kurang maka hutang dulu. Beberapa hari kemudian, Pembeli yang punya utang datang . Dia melunasi utangnya. Tidak mungkin hanya sekedar membayar utang.

Mereka akan ngobrol kesana-kemari. Mereka jadi akrab dan berkawan. Karena sering ke pasar maka banyak kawan di pasar. Pergi ke pasar bukan sekedar kegiatan transaksional namun menjadi ritual kehidupan.

Itulah daya tarik pasar tradisional. Bagaimanapun manusia bisa hidup mandiri di era digital. Kehadiran orang lain adalah kebutuhan. Percaya deh…!!!

Saya yakin di era digital. Kita bisa mencukupi kebutuhan sendiri. Banyak sekali alat bantu mulai Go-Jek, Grab, Sosmed, Online Shop dsb. Hidup kita tergantung di ujung jari kita. Asal ada uang dan Gadget maka semua bisa terpenuhi. How Wonderful Life…!!

Alangkah garing hidup kita. Kalau kita menjalani hidup dengan pola kesendirian. Tanpa kita sadari maka kita menjadi pribadi kesepian. Pribadi yang pemurung dan tertutup. Karena semua bisa dicukupi sendiri.

I don’t need you. Wuih, kalau udah gitu sepi hidup kita.

Manusia yang ada di pasar (baca : pasar tradisional) . Mereka menolak menjadi kesepian. Mereka akan selalu berinteraksi.

Meskipun kadang ke arah positif (persaudaraan) atau ke arah negatif (permusuhan). Mereka menyukai interaksi dan menolak kesendirian.

Njagong

Hari Ahad adalah hari libur. Buat saya yang bekerja sebagai karyawan. Hari untuk bersantai dan bermalas-malasan. Namun, Kenyataan yang terjadi adalah bukan santai di rumah. Kita harus keluar untuk njagong atau menghadiri kondangan.

Njagong yang dilakukan di kota-kota besar biasanya dilakukan lebih simple. Kita datang, nyumbang, salaman, makan dan pulang. Kalau njagong dengan style seperti itu maka cukup 15 menit atau paling lama 30 menit. Cukup simpel dan praktis.

Beda yang ada di kota saya yaitu Solo. Penyelenggaraan masih banyak dengan gaya tradisional. Para tamu datang, duduk dan mengikuti seremonial dengan durasi kurang lebih dua jam. Tamu dilayani dengan sinoman mulai minuman, snek, sup, nasi dan kelengkapannya dan ditutup dengan hidangan es.

Kalau ada tamu dari luar kota. Mereka banyak yang complain. “Ah, nggak praktis banget kondangan macam gini”, kata mereka. “Waktu kita banyak terbuang nih, kita cuma duduk-duduk doang”, mereka makin bosan. Tapi, dimana bumi dipijak maka langit dijunjung. Kita harus mengikuti budaya setempat.

Semakin sibuk manusia maka segala sesuatu dilakukan semakin praktis. Budaya kondangan ala solo dianggap tidak praktis. Namun, Masyarakat Solo masih banyak yang melakukan. Warga Solo berkeyakinan bahwa ini adalah cara menghormati tamu yang diundang.

Tamu duduk dan dilayani dengan sinoman. Sinoman itu adalah sekelompok orang yang bertugas melayani makanan buat tamu undangan di kondangan. Nggak praktis bener, tetapi cukup menyenangkan. Hehehehehe….!!!! Kalau diniyati untuk sekalian nyantai. ( heheheheh…!!!! mana ada kondangan untuk refreshing).

Tamu dilayani kemudian dilayani makanan sambil mendengarkan lagu. Tamu harus duduk dan tidak ada yang berdiri. Kalau ada yang berdiri maka yang Hamong Tamu mencarikan kursi untuk duduk. Ribet ya….!!!! Hehehehehehe….

Itulah budaya. Setiap daerah punya budaya dan tradisi masing-masing. Solo dan Yogyakarta masih dalam satu wilayah budaya yaitu budaya jawa.

Saya merasa Yogya semakin praktis. Maklum, Yogyakarta berisi manusia yang lebih heterogen dan lebih adaptif dengan perubahan zaman.

Kondangan disana lebih praktis. Berdasarkan pengalaman saya saja ini. Hehehehe…Kondangan di Yogyakarta pakai “Standing Party”. Tamu datang, nyumbang, salaman dengan pengantin, foto dengan pengantin, makan dan pulang.

Mau makan banyak atau sedikit maka nggak ketahuan. Wong Prasmanan apalagi kalau pakai Booth. Lebih nggak ketahuan kalau mau bawa pulang.

Kalau di Solo, Hidangan sudah disajikan dan ditakar. Jadi kalau mau dobel bisa ketahuan. Nggak akan berani bawa pulang. Hahahahaha…….

Kondangan model Solo. Kita jika ingin bersalaman dengan pengantin harus nunggu acara selesai atau datang sebelum prosesi dimulai.

Kalau mau foto-foto nggak bisa sembarangan, nunggu panggilan. Itu saja kalau dipanggil. Kalau nggak dipanggil maka nunggu acara bubaran. Kita foto-foto dengan pengantin sendiri. Itu diluar acara di kondangan. Hehehehe….

Ya begitulah, Dimana Bumi dipijak Maka Disitu Langit Dijunjung. Setiap daerah memiliki tradisi dan budaya masing-masing. Nggak ada salah atau benar. Anggaplah itu keanekaragaman budaya. Bagaimana tradisi di tempat anda?

Salam dari SO

Kreativitas Sang Istri

Kita masih mau ngobrol kreativitas menghadapi problematika hidup. Beberapa orang mengeluh harga cabe yang melonjak tidak karuan. Harga cabai pas mahal-mahalnya saat lebaran. Kadang turun drastis nyungsep ke tanah. Saya nggak paham kok bisa gini. Harga cabai bergerak layaknya Roller Coaster.

Kedelai, Cabai, Gula dan Beras yang disebut dengan Sembako (Sembilan Bahan Pokok). Hmmm…. Harganya naik-turun nggak karuan. Beda cerita, Kita pergi ke Dufan dan naik Roller Coaster. Semakin cepat naik dan turun maka semakin menyenangkan.

Harga sembako yang naik turun. Itu bisa bikin nangis bombay. Ibu yang cermat dan teliti di keuangan keluarga akan pusing tujuh keliling. Harga yang naik –turun secara cepat bisa merusak perhitungan. Padahal, uang sudah diplotting pos-pos tertentu. Apa harus mencomot pos keuangan yang lain ?

The Power of Kepepet. Agar muncul kreativitas kadang harus dipepet dengan keadaan. Saya acungi jempol kepada ibu rumah tangga yang tidak bekerja di luar rumah tapi kreatif. Mereka hanya menerima gaji  dari sang suami. Gaji yang seringkali sudah tidak utuh pas diterima. Karena sudah dipotong disana-sini. Maklum, hutang masih menumpuk.

Karena saya adalah bagian dari para suami tersebut. Saya bisa memahami kesulitan para ibu rumah tangga. Mereka harus putar otak  bagaimana mencukupkan uang suami untuk kebutuhan yang semakin bertambah dan harga kebutuhan yang semakin naik. Padahal, Jumlah uang yang diterima tidak bertambah.

Padahal, Ibu Rumah Tangga sudah dibebani pekerjaan rumah yang memusingkan. Mereka harus menyingsingkan lengan baju, memeras otak dan menguatkan tubuh. Roda kehidupan rumah tangga harus jalan. Kalau suami hanya jadi pegawai rendahan sampai level menengah maka harus kreatif. Agar semua kebutuhan tercukupi. Tidak muluk-muluk, Tidak perlu jadi kaya asal tercukupi.

Kreativitas para ibu rumah tangga bermunculan mulai online shop, urban farming, bank sampah, katering, souvenir sampai menjahit. Alhamdulillah, kita hidup di era medsos. Apapun bisa kita lakukan dengan medsos. Salah satunya adalah online shop.

Ibu-ibu sambil menggendong anak, menyusui si bayi atau mengajari anak. Mereka berkelana di dunia maya untuk menambah pundi-pundi uang. Mereka adalah pengguna smartphone. Smartphone tidak harus mahal tapi menghasilkan.

Keinginan yang sederhana yaitu keluarga hidup layak, makan yang layak dan anak-anak bisa lulus sekolah dan akhirnya si anak bekerja. Sehingga sang anak bisa menghidupi sendiri.

Kalau jadi kaya. Itu adalah bonus. Niyat semula adalah untuk memenuhi kebutuhan keluarga saja. Para suami dengan sigap membantu istrinya. Mereka sepulang kantor berganti kostum yaitu kaos T-Shirt.

Mereka mengantar barang dagangan ke kantor ekspedisi. Para Suami yang siaga untuk mengantar barang dagangan yang laku. sekaligus mengambil dagangan yang sudah dipesan oleh istri mereka.

Istri mereka selesai merekap penjualan online selama satu hari. Uang penjualan hari itu sudah mengalir ke rekening bank yang ada di BCA, Mandiri atau BRI.

Selesai merekap hasil penjualan. Suami terburu-buru mengambil uang di ATM untuk belanja/kulakan barang dagangan di esok harinya.

Uang sisanya dipindahkan ke rekening penampungan. Uang itu adalah tabungan biaya sekolah anak, persiapan untuk berobat dan kebutuhan yang mendesak atau buat refreshing. Jika mereka beruntung. Mereka bisa beli mobil atau tanah.

Kebutuhan makan dan tagihan bulanan sudah ditanggung oleh gaji sang suami. Sisa gaji suami untuk bayar hutang. Gaji suami sudah habis tanpa sisa.

Mereka adalah manusia yang hidup dengan penuh keyakinan. Kita hanya diwajibkan berusaha. Sisanya kita serahkan ke Allah SWT. Semoga hidup kita semakin lancar jaya.

Saya ANGKAT TOPI kepada para ibu rumah tangga yang tangguh dan perkasa. Mereka sangat memahami bahwa hidup berumah tangga adalah selayaknya sebuah tim. Mereka seringkali lebih repot daripada sang suami. Mereka sunyi dan senyap dalam pubilkasi padahal sangat menentukan bagi roda kehidupan rumah tangga.

Think Globally Act Locally

Koro Pedang

Sumber : DISINI

Tempe yang menjadi makanan sejuta umat di Indonesia. Hampir siapa saja mesti pernah makan tempe. Lauk yang enak nan gurih. Tempe bisa dikatakan makanan asli Indonesia. Resep cara membuat tempe, kita yang punya.

Bahan baku tempe adalah kedelai. Kedelai untuk membuat tempe konon 60 % dari Impor (sumber :Kemenperin). Saya dengar dari pengrajin tempe ketika penelitian biogas. Harga kedelai sangat fluktuatif.

Jika Amerika panen raya kedelai maka harga kedelai dunia turun. Sebaliknya, Kalau Amerika sedang gagal panen maka harga akan naik tinggi. Harga kedelai mengikuti harga pasar dunia.

Karena kedelai sebagian besar impor. Pengrajin Tahu dan Tempe tidak bisa tidur nyenyak. Karena harga kedelai naik dan turun seperti Roller Coaster. Apes, Harga Tempe/Tahu tidak bisa mengikuti fluktuasi harga kedelai

Sedih, Makanan rakyat yang ikonik memiliki ketergantungan tinggi dengan impor. Kita memang tergantung terhadap komoditas internasional seperti kedelai. Karena produksi dalam negeri tidak mencukupi.

Ketergantungan ini menyebabkan pedagang besar kedelai menjadi faktor penting. Petani dan Konsumen hanya bisa pasrah. Para pedagang kedelai yang memiliki modal besar dan gudang besar. Kalau timing pas, maka bisa untung besar. Beli saat harga murah dan jual saat harga mahal.

Ya iyalah…Mereka yang punya kapital/modal. Petani cuman bisa pasrah. Produksi berlebih maka harga jual turun dan jika produksi turun maka konsumen yang pasrah. Akibatnya, Ukuran tahu/tempe yang dijual akan mengecil jika harga kedelai naik. Kalau ukuran tempe tidak berubah maka harganya naik. Hufttt… Pilihan yang sulit.

Pengrajin tahu/tempe serba salah. Kalau harga tahu dan tempe dinaikan maka bisa gulung tikar. Mana ada yang mau beli tahu-tempe? kalau harganya naik. Kita mesti pilih ayam atau daging jika harga tahu/tempe mahal.

Tapi, Kalau harga tahu dan tempe tidak naik maka biaya produksi tidak tercover. Runyam….. Pilihan yang sulit bagi pengrajin tahu/tempe. Pengrajin tahu/tempe rata-rata pengusaha skala kecil sampai menengah. Kasihan khan…

Pemerintah yang harus mengambil peran melindungi konsumen, pengrajin dan petani kedelai. Petani kedelai dan pengrajin harus dilindungi sehingga masih dapat untung. Pemerintah bisa kasih subsidi ke petani atau pengrajin.

Kebijakan pemerintah harus mengarah ke swa sembada kedelai. Petani kedelai harus bisa hidup dari panen kedelai. Produksi melimpah dan untuk kebutuhan dalam negeri dulu. Harga Pokok Penjualan harus bisa mengcover biaya produksi dan lebih. Petani kedelai harus bisa hidup dengan tanam kedelai.

Ini yang namanya “Ketergantungan kedelai”. Karena mayoritas berasal dari impor. Efek yang ditimbulkan adalah efek domino. Pemerintah mau swa sembada kedelai mesti sulit. Banyak kepentingan bersliweran. Bisnis komoditi internasional memang menggiurkan.

Ternyata ada yang iseng melawan “ketergantungan kedelai”dengan caranya sendiri. Misal : Pak Tode dan kawan-kawan. Dia kawan saya yang mencoba mengolah kacang koro pedang menjadi tempe dan tahu.

Beliau berpikir skala global. Indonesia memiliki ketergantungan impor kedelai. Dia sengaja tidak menanam kedelai. Karena kedelai adalah komoditas internasional. Bagaimanapun harus mengikuti tata niaga yang ada.

Kalau pak Tode menanam kedelai maka harus mengikuti harga pasar. Pak Tode harus mengikuti tata niaga kedelai. Maka, jika menanam koro Pedang. Pak Tode mengatur sendiri. Produksi sendiri, diolah sendiri dan dikonsumsi sendiri atau dijual.

Pak Tode termotivasi oleh sahabatnya. Sahabatnya menanam koro pedang di lahan seluas 3 hektar. Pak Tode berpikir untuk membuat dan menjual tahu/tempe koro pedang. Jadi, Koro pedang itu ditanam sendiri, diolah sendiri dan dijual sendiri oleh masyarakat.

Beliau mencoba membuat tempe dan tahu dari Koro Pedang. Koro Pedang yang ditanam dari kebun milik temannya. Obsesi beliau, Jika berhasil membuat tempe dan tahu sendiri maka akan dikonsumsi sendiri dan dijual ke sahabat-sahabat atau di depan rumah.

Akhirnya, Kedelai tidak akan menjadi pemain tunggal dalam produksi tahu/tempe. Kalau ada kompetitor maka diharapkan harganya jadi kompetitif. Ada produk alternatif pengganti tempe. Harga ekulibrium kedelai diharapkan lebih stabil. Karena ada produk alternatif

Naif sekali…..yang saya tulis diatas. Tapi bukannya tidak mungkin. ”Ketergantungan kedelai” hampir tidak mungkin hilang. Kayak semut melawan Gajah. Mission Impossible, tapi kalau nggak dicoba ya mana tahu. Tentu saja masih ada possibility.

Beliau berpikir secara global namun langkah beliau hanya lokal. Beliau melihat ada “ketergantungan kedelai” namun ada produk alternatif yaitu koro pedang.

Beliau melakukan langkah kecil. Langkah yang sangat lokal. Coba, kalau semua orang melakukan langkah kecil perbedaan dan kemajuan. Semua akan maju dan membuat perbedaan.

Makanya, Think Globally Act Locally