Ternak Teri

Saya mengantar dua anak ke sekolah setiap hari. Si Sulung udah kelas 2 SD dan adiknya masih di Playgroup besar. Kita kadang naik motor atau mobil. Ini tergantung situasi. Kalau mengantar pakai motor. Saya bisa jadi jemput pakai mobil. Istri berada di rumah untuk mengurus rumah dan bekerja dari rumah.

Teman-teman kantor sering bilang, “Ternak Teri”. Awalnya, Saya pikir itu beneran yaitu beternak ikan teri. Eh… Ternyata adalah kepanjangan dari “anTer anak anTer istri”. Ungkapan ini jadi olok-olok. Karena yang tugas antar jemput diasosiasikan dengan tugas Istri/ Ibunya anak-anak.

Zaman sudah berubah. Suami dan Istri itu “berbagi peran” berevolusi menjadi “berbagi tugas”. Pekerjaan Rumah Tangga dahulu berbias gender menjadi luntur terhadap bias gender di zaman now.

Mencari Nafkah itu tugas utama laki-laki di masa lalu. Mencari nafkah itu tugas bersama di masa kini. Memasak itu tugas wanita di masa lalu. Kita sering melihat sang ayah yang menyiapkan makan malam di masa kini.

Zaman udah berubah namun muncul anomali. Wanita Karier berbondong-bondong untuk resign. Mereka ingin mengurus keluarga secara total. Sehingga muncul istilah Full Time Mother (FTM). Istilah ini tidak tepat 100 %. Mana ada ibu yang setengah-setengah? Kalau udah jadi ibu tetaplah seorang ibu. Ibu yang di rumah atau Ibu yang berkarier.

Anomali yang lain….. Sang Ayah menyempatkan diri untuk mengantar anak ke sekolah, menemani anak ketika outing class, menunggui les anak dan mengajak anak hang out atau berenang. Padahal, Mereka sebenarnya sibuk bekerja sebagai pengusaha, profesional atau pekerja kantor.

Fenomena lain yang hadir adalah Full Time Father (FTF). Karena sang istri sangat sibuk di Kantor. Sang Suami merelakan diri untuk merawat anak di rumah. Karena sebuah pertimbangan.

Kalau mereka berdua bekerja diluar. Anak yang menjadi “korban” . Karena anak tidak terurusi dan tanpa pengawasan. Apalagi sulit juga mencari Asisten Rumah Tangga (ART). Sangat riskan meninggalkan anak tanpa pengawasan. Kesepakatan harus dicapai untuk menentukan siapa yang menemani sang anak.

Kalau era dulu…Keputusannya hampir dipastikan bahwa istri yang menunggui anak di rumah. Keputusannya berdasarkan kesepakatan untuk masa kini, bisa jadi ayah atau Ibu. Kesepakatan yang berdasarkan berbagai pertimbangan. Inilah yang disebut era “berbagi tugas”.

TERNAK TERI adalah bukanlah olok-olokan lagi. Ini adalah bagian dari era “berbagi tugas”. Ini menjadi sebuah keniscayaan. Bangga menjadi bagian TERNAK TERI. hehehehehe…….

The Man Behind A Gun

Hari ini tadi ketemu teman yang lama tidak jumpa. Beliau mempunyai usaha yang sederhana tapi cukup menarik. Dia jualan sayuran dan hasil bumi di rumah. Sederhana….khan…

Warung ini melayani penjualan sayuran meliputi Tomat, Brokoli, Bawang Merah, Bawang putih dsb. Teman saya ini tinggal di Boyolali. Dia dan suami mengambil barang dagangan dari lereng gunung merapi yaitu daerah Selo. Kalau hanya menggelar dagangan dan menunggu pembeli datang. Itu sudah biasa.

Lha menariknya…..

Dia jualan online juga. Saya mendengar kata online maka otak saya berasosiasi dengan program aplikasi android seperti yang dijalankan perusahaan start up seperti TaniHub, Regopantes atau Go-Mart. Saya bergumam, “canggih juga mbak Aris”.

Ternyata bukan aplikasi android yang complicated.……..

Setiap barang dagangan datang ke rumah. Dia catat nama dagangan beserta harganya di memo HP. Catatan itu jauh dari rapi dan informatif. Catatan di copy-paste dan dikirim ke kontak yang ada di phone book melalui aplikasi Whatsapp /WA. Meskipun tidak rapi dan informatif catatannya.

Dia bisa menghabiskan barang dagangan dalam waktu singkat. Profit yang dia dapat diatas 40 % dari harga beli. Cuman sebar catatan tadi ke kontak yang dimilikinya. Kalau cuman nunggu pembeli di warung tidak mungkin lebih cepat dan lebih besar hasilnya. Wauw Banget…..Kok bisa ya…

Kunci sukses nya ternyata bukan di aplikasi. Kuncinya adalah hubungan personal dengan orang lain. Dia mengikuti berbagai kelompok dan komunitas. Dia menjadi anggota WAG berbagai kelompok. No WA dari anggota dari berbagai WAG disimpan di kontak HP. Dia kirim catatan dagangan tadi ke semua kontak yang dimiliki via WA.

Agak nekad sih….mesti ada yang suka dan tidak suka. Kalau ada yang nggak suka bisa dimarahi. Buat dia tidak masalah, resiko usaha katanya. Ternyata ada yang nyantol juga. Nyantol untuk pesan ini dan itu. Pesanan diantar sendiri ke pelanggan. Sampai mulai kewalahan.

Kesimpulannya adalah Secanggih Apapun Teknologi Informasi maka kembali ke manusia yang menggunakannya. Aplikasi yang hebat tanpa ditunjang SDM memadai maka tidak akan efektif dan efisien. Cuman aplikasi WA tapi orang kreatif dan ulet. Perdagangan menjadi ramai dan menguntungkan.

Metode teman saya ini cukup efektif dan murah. No Admin, No System and No Server. Tapi….. kalau membesar lagi maka ya butuh sistem aplikasi. So Far…….belum butuh sampai satu atau dua tahun mendatang. Semoga…Aamiin

It’s the most Important is The Man Behind a Gun not The Gun Itself”

Melatih Imajinasi

Kalau kita pernah membaca novel dan novel itu dibuat film.Kadang, kita kecewa dengan film tersebut. Karena tidak sesuai dengan imajinasi kita. Lha mau gimana……, Setiap orang mempunyai imajinasi. Imajinasi yang sangat bervariasi dan cenderung liar.

Novel adalah karya tulis. Semua ide, lokasi, kejadian dsb dituangkan dalam tulisan. Membaca novel tanpa imajinasi itu tidak nikmat. Karena novel hanya sekumpulan tulisan. Tanpa imajinasi maka kumpulan kata-kata menjadi tidak bermakna.

Kadar Imajinasi setiap manusia berbeda-beda. Kalau yang kadar imajinasi rendah maka mudah dipuaskan dengan visualisasi novel oleh film. Kalau yang kadarnya tinggi. Lha… yang ini sulit dipuaskan. Mereka tidak pernah ada puasnya.

Sutradara yang bisa memvisualisasi novel dalam film dengan eloknya dan memuasakan banyak pihak. Maka, Sutradara itu dipastikan mempunyai daya imajinasi tinggi.

Membaca novel dan. menonton film itu melatih imajinasi. Imajinasi bisa dibangun dan dilatih. Novel itu memiliki sejuta makna. Novel itu sanggup mengaduk-aduk perasaan, membuat gembira dan sekaligus sedih. Itu hanya buat orang berimajinasi tinggi. Hehehehe…..

Film itu sekumpuan adegan yang berdasarkan skenario dan diarahkan oleh sutradara. Film itu imajinatif karena bisa masuk akal atau tidak masuk akal. Imajinasi adalah unsur utama film. Film yang dibuat berdasarkan novel adalah Imajinasi dari imajinasi.

Semua karya ilmiah awalnya berawal dari imajinasi. Sesuatu yang tidak masuk akal (imajinasi) menjadi masuk akal.Sesuatu yang tidak ada menjadi ada, misal : Film tentang manusia pergi ke bulan. Itu berasal dari imajinasi.

Mari kita melatih imajinasi kita dengan membaca buku dan menonton film. Kalau ada bakat bisa diteruskan denan melukis, memahat dsb. Jangan lupa…..Melatih Imajinasi

Mesra itu Penting

Eyang saya berkata,”eyang ini mesra dengan eyang kakung tapi eyang tidak romantis”. Pernyataan ini disampaikan eyang yang berusia 70 tahun lebih kepada anak dan cucu. Kita sebagai cucu beliau. menjadi bertanya-tanya, “Apa sih beda antara keduanya?”

Mesra itu ungkapan sayang diungkapkan secara timbal balik. In My Opinion lho….hehehehehe….. Suami memperhatikan Istri dan Istri melayani suami itu tindakan yang mesra. Tindakan mesra dilakukan secara refleks. Refleks itu ya otomatis tanpa harus disuruh. Artinya udah “Bulit In” diantara dua pihak. Kalau hanya satu pihak bisa jadi hanya romantis aja.

Kalau romantis itu pembawaan diri atau sifat asli dari manusia. Ada orang yang pembawaannya dingin, kaku, galak atau romantis. Mesra itu harus dari dua pihak. Bisa jadi kedua-duanya romantis, salah satu romantis atau kedua-duanya tidak ada romantis. Anehnya, Ada yang kedua-duanya tidak romantis tapi mesra. Mereka saling bahu-membahu, saling perhatian dan saling menolong.

So, Jika anda ingin mesra dengan pasangan. Maka tidak harus menjadi orang yang romantis. Anda cuman harus saling asah asih dan asuh. Jika anda adalah orang yang romantis maka bersyukurlah. Anda mempunyai “potensi” lebih untuk mesra dengan  pasangan anda. Mari kita syukuri “potensi” di dalam diri kita sendiri.

Ah…udah. Pagi-pagi udah bicara tentang mesra-mesraan dan romantis-romantisan. Ayo kerja….kerja…..kerja dan kerja…….. :D.

Kisah Sang Dewi Kunti

Prabu Surasena dari Raja Wangsa Yadawa memiliki anak yang bernama dewi Prita. Raja Kuntiboja mengambil dewi Prita sebagai anak. Karena Raja Kuntiboja tidak memiliki anak. Dewi Prita diganti nama menjadi Dewi Kunti. Kunti maksudnya adalah anak dari Raja Kuntiboja.

Dewi Kunti mempunyai saudara yaitu Basudewa. Basudewa adalah ayah dari Baladewa, Kresna dan Sembadra. Jadi, Pandawa Lima memiliki saudara sepupu yaitu Kresna, Baladewa dan Sembadra. Sembadra kelak akan menjadi istri Arjuna. Kresna menjadi penasehat strategi perang bagi Pandawa Lima. Baladewa adalah guru permainan senjata Gada bagi Bima dan Duryudana.

Dewi Kunti digambarkan sebagai anak yang baik hati, penuh welas asih dan berbakti kepada kedua orang tua. Dewi Kunti pernah memberikan makanan yang lezat bagi resi Druwasa. Ketika sang resi mengunjungi Raja Kuntiboja. Resi Druwasa yang merasa senang dengan kebaikan Dewi Kunti. Resi Druwasa memberikan sebuah ajian atau mantera yaitu mantera Adityaredhaya.

Ketika itu Dewi Kunti masih muda. Rasa ingin tahu yang besar dengan mantera pemberian Resi Druwasa membawa malapetaka. Dewi kunti ingin mencoba kesaktian mantera Adityaredhaya.  Dewi kunti mengundang Batara Surya. Cilaka, Batara Surya datang menemui Dewi Kunti.

Karena tidak mempunyai keinginan apapun. Dewi Kunti memohon Batara Surya agar kembali ke Ngarcapada. Batara Surya ternyata “menganugerahi” Dewi Kunti dengan seorang anak. Dewi Kunti pusing tujuh keliling. Dewi Kunti belum menikah dan masih gadis mosok hamil. Ini namanya “Hamil Di Luar Nikah”.

“Kehormatan” Dewi Kunti ternyata masih dijaga. Kelahiran anak tersebut bukan lewat jalan yang alami. Anak tersebut dilahirkan lewat telinga. Karena anak tersebut setengah dewa seperti halnya Hercules dalam mitologi Yunani. Bayi tersebut lahir dengan wajah sangat tampan.

Dewi Kunti mengalami kebingungan kedua. Anak ini siapa yang akan merawat. Bak kisah nabi Musa, Anak ini dimasukkan dalam kotak dan dihanyutkan di sungai. Anak ini yang akan menjadi pahlawan di perang Baratayudha Jaya Binangun meskipun di pihak yang berseberangan dengan anak-anak dewi kunti yang lain (Pandawa Lima).

Alkisah, anak ini ditemukan seorang sais kereta kuda yang bernama Adhirata.  Adhirata adalah sais kuda di Kerajaan Kuru. Anak ini diberi nama Karna. Karna diangkat menjadi Ksatria dari pihak Kurawa. Kelak, Dewi Kunti merasa sangat bersedih. Karena dua anak kandungnya akan saling membunuh dalam perang Baratayudha yaitu Karna dan Arjuna.

Dewi Kunti menikah dengan Prabu Pandhu Dewanata. Prabu Pandhu Dewanata menikahi dua orang putri sekaligus yaitu Dewi Kunti dan Dewi Madri. Alangkah nikmat mempunyai dua istri yang siap melayani. Ternyata sebelum kenikmatan dirasakan. Prabu Pandu Dewanata dikutuk oleh  Resi Kindama.

Prabu Pandhu Dewanata tidak bisa “menyentuh” kedua putri tersebut (Dewi Kunti dan Dewi Madri). Karena kutukan sang resi, Prabu Pandhu Dewanata memutuskan untuk bersemedi mendekatkan kepada Syang Hyang Widhi. Ada satu keresahan dari sang Prabu Pandhu Dewanata belum memiliki keturunan. Semua gegara kutukan sang resi.

Dewi Kunti merasakan keresahan sang Prabu. Dewi Kunti bermaksud menggunakan mantera Adityaredhaya sebagai solusi untuk mempunyai keturunan.

Dewi Kunti memanggil tiga dewa sekaligus yaitu Dewa Dharma, Dewa Bayu dan Dewa Indra. Dewa Dharma memberi keturunan yaitu Yudistira, Dewa Bayu memberi keturunan yaitu Bima dan Dewa Indra memberi keturunan yaitu Arjuna.

Atas kebaikan Dewi Kunti maka Dewi Madri juga diajari mantera ini juga. Dewi Madri mengundang Dewa Aswin sehingga memberi anak yaitu Nakula dan Sadewa. Suatu saat, Prabu Pandhu Dewanata meninggal dunia. Dewi Madri mengikuti Prabu Pandhu Dewanata untuk mati. Nakula dan Sadewa dititipkan kepada Dewi Kunti.

Dewi Kunti memiliki lima anak yaitu Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa. Mereka berlima disebut Pandawa Lima. Ketika perang Baratayudha berkecamuk maka Dewi Kunti tinggal di rumah Widura sampai perang berakhir.

Dewi Kunti meninggal dunia bersama dengan Destarata dan Dewi Gendari. Mereka bertiga menyepi ke dalam hutan. Hutan terbakar oleh api persembahan Destarata. Mereka dimakan apai yang membakar hutan itu.

Kesedihan Prabu Destarata

Pandhu diangkat sebagai raja di Hastinapura. Karena kakaknya yaitu Destarata dalam keadaan buta. Buta yang disebabkan menutupnya kelopak mata sang Ibu saat bertemu Begawan Abiyasa. Destarata hanya menjadi “pejabat sementara” sebagai Raja ketika Prabu Pandhu sedang tidak di Istana.

Prabu Pandhu yang menyepi di hutan sampai ajal menjemput. Karena Prabu Pandhu mendapat kutukan Resi Kindama. Destarata dikukuhkan sebagai Prabu Destarata di Kerajaan Hastinapura setelah kematian Prabu Pandhu Dewanata. Prabu Pandhu Dewanata meninggalkan lima anak yang disebut PANDAWA LIMA.

Prabu Destarata memiliki seorang istri bernama Dewi Gendari. Mereka berdua memiliki seratus anak yang disebut KURAWA. Duryudana adalah anak sulung dari Prabu Destarata. Suatu saat, Bisma dan Widura mengingatkan kepada Prabu Destarata bahwa Duryudana adalah anak yang akan membawa angkara murka.

Prabu Destarata sangat menyayangi anak-anaknya. Prabu Destarata cenderung “Welas Tanpa Alis”. Welas Tanpa Alis adalah Kasih Sayang yang berlebihan tanpa syarat. Ini menyebabkan kerugian. Kutukan Dewi Drupadi atas Dursasana yang menarik kemben. Sumpah Bima karena ulah Duryudana atas Dewi Drupadi . Prabu Destarata membiarkan semua tanpa memperingatkan kepada Dursasana dan Duryudana.

Pandawa Lima beranjak dewasa. Usia mereka seangkatan yaitu Pandawa dan Kurawa. Pandawa Lima menuntut hak atas Kerajaan Hastinapura. Emang mereka yang berhak. Karena mereka adalah anak-anak Prabu Pandhu Dewanata.

Duryudana juga menuntu hak yang menjadi raja. Padahal, niat semula adalah Prabu Destarata cuman menjadi “pejabat sementara” sampai Pandawa Lima dewasa. Duryudana beralasan bahwa Ayahnya juga Raja Kerajaan Hastinapura.

Keruwetan ini ditengahi oleh sang kakek yaitu Bisma. Bisma mengusulkan bahwa Kerajaan Hastinapura dibagi dua. Separuh wilayah kerajaan Hastinapura diberikan kepada anak-anak Prabu Destarata. Pandawa Lima diberi sisanya yaitu di Kandawaprasta.

Kandawaprasta adalah lokasi kerajaan Hastinapura yang awal. Ini adalah wilayah yang kering, miskin, dan berpenduduk jarang. Pandawa Lima yang dipimpin Yudistira dibantu oleh Kresna dan Baladewa. Mereka mengubah daerah gersang tersebut menjadi makmur dan megah, dan dikenal sebagai Kerajaan Amarta atau Indraprastha.

Indrapastha mengalami kejayaan. Yudhistira bermaksud mengadakan acara Sesaji Rajasuya. Acara yang bertujuan mengungkapkan rasa Syukur kepada Sang Maha Kuasa. Seluruh raja dari kerajaan tetangga diundang termasuk Kerajaan Hastinapura.

Kurawa datang ke acara Sesaji Rajasuya. Mereka adalah Duryudana, Dursasana, Sengkuni beserta Kurawa datang di acara Sesaji Rajasuya. Mereka melihat kemegahan Indraprastha. Timbul rasa iri dan dengki di kalbu Duryudana. Ide liar bermunculan termasuk mencaplok wilayah Indraprasta.

Hasutan Sengkuni membuat dada Duryudana lebih sesak. Mereka bersekongkol untuk mengajak Yudhistira bemaina Dadu. Permainan yang disukai Yudhistira tetapi Sengkuni lebih mumpuni. Mereka hendak merebut Indraprastha via permaian dadu tanpa perang.

Singkat cerita, Pandawa kalah habis-habisan. Semua habis diambil oleh Kurawa mulai uang, kerajaan bahkan istri. Pandawa harus mengasingkan diri selama 12 tahun. Masa pengasingan inilah yang menempa Pandawa Lima menjadi lebih kuat. Pelatihan sebelum perang sejati dimulai yaitu Perang Baratayudha Jaya Binangun.

Prabu Destarata hanya diam saja tanpa melakukan apapun. Prabu Destarata hanya mampu memerintahkan untuk mengembalikan harta dan kerajaan yang direbut Kurawa. Meskipun firasatnya berbicara bahwa ini awal kehancuran keturunannya.

Prabu Destarata paling bersedih karena dalam permainan dadu muncul dua kutukan untuk kedua anaknya yaitu Dursasana dan Duryudana. Karena kutukan ini maka kedua anaknya akan mati ditangan Bima. Dosa Duryudana dan Dursasana adalah melecehkan Dewi Drupadi.

Duryudana yang merasa sudah menguasai dewi Drupadi. Dia menyuruh dewi drupadi duduk di pahanya. Bima sangat marah maka berjanji akan membunuh Duryudana dengan mematahkan pahanya. Sumpah Bima adalah kutukan bagi Duryudana.

Dursasana yang bernafsu menarik selendang dewi drupadi di balairung kerajaan. Dewi Drupadi memohon kepada dewa untuk memanjangkan selendangnya. Doa Dewi Drupadi dikabulkan sehingga Dursasana tidak bisa melucuti selendang sampai dia kelelahan sendiri.

Dewi Drupadi bersumpah tidak akan melepas ikatan rambut. Dewi Drupadi akan melepas ikatan rambut setelah keramas dengan darah Dursasana. Dursasana sangat ketakutan akan sumpah dewi drupadi. Bima menyanggupi akan membunuh dursasana dan mempersembahkan darah dursasana  untuk dewi drupadi.

Prabu destarata sangat sedih. Karena Prabu Destarata sadar hal itu akan terjadi. Prabu Destarata juga meyakini bahwa Duryudana dan Dursasana akan mati ditangan Bima. Prabu Destarata tidak memiliki penerus setelah Kurawa.

Prabu Destarata sangat benci dengan Bima di akhir masa perang. Prabu Destarata kehilangan seluruh keturunannya. Bima adalah Jagal yang paling banyak membunuh kurawa. Bagaimanapun dosa Kurawa itu menggunung tinggi. Kasih Sayang orang tua sepanjang masa. Maka, Rasa benci itu adalah manusiawi.

Alkisah, setelah perang Baratayuda selesai. Pandawa Lima menghadap Prabu Destarata. Pandawa Lima ingin mengangkat Prabu Destarata menjadi sesepuh kerajaan. Prabu Destarata memanggil Bima. Prabu Destarata ingin memeluk Bima. Kresna sudah “waskita” bahwa ada niat buruk dari prabu Destarata.

Prabu Destarata mempunyai kesaktian untuk meremukkan batu. Kalau Bima dipeluk maka bisa diremuk oleh Prabu Destarata. Prabu Destarata yang buta maka tidak tahu yang terjadi disekitarnya. Kresna melakukan sebuah muslihat.

Kresna mengajukan sebuah batu yang berbentuk Bima. Prabu Destarata memeluk dan meremukkan batu itu sampai pecah berkeping-keping. Prabu Destarata awalnya menduga itu Bima ternyata hanya batu. Prabu Destarata minta maaf atas tindakan pengecut tersebut.

Prabu Destarata, Dewi Gendari dan Dewi Kunti akhirnya menyepi ke tengah hutan. Mereka bertapa mendekat diri kepada Sang MAHA KUASA. Hutan tersebut terbakar karena api suci. Api Suci yang sejatinya sebagai kelengkapan Prabu Destarata untuk bertapa. Prabu Destarata meninggal dunia bersama sesepuh kerajaan Hastinapura dalam kesedihan.  

Ironi Sang Prabu

Destarata dan Pandu mulai beranjak dewasa. Karena Destarata mengalami kebutaan maka Tahta diserahkan kepada Pandu. Dia bergelar Prabu Pandhu Dewanata. Prabu Pandhu memiliki dua istri yaitu Dewi Kunti dan Dewi Madrim. Yang paling terkenal adalah anak-anak dari Sang Prabu yaitu PANDAWA LIMA.

Sang Prabu suka berburu dengan memanah. Tatkala melihat sepasang kijang sedang bersenggama maka langsung dipanah. Mungkin itu naluri seorang pemburu. Sayang, Sang Prabu tidak mengetahui bahwa kijang itu adalah jelmaan sang resi kindama dan istri . Ketika itu sang resi sedang bersenggama dalam wujud Kijang. Siapa yang tau bro…? That’s too bad.

Sebelum meninggal maka sang resi Kindama mengucapkan kutukan kepada sang Prabu. “Sang Prabu akan meninggal dunia ketika sedang bersenggama”, Kira-kira begitu kutukannya. Aduh…., Sang Prabu belum mempunyai keturunan padahal ada dua istri. Mereka juga terancam “menganggur”.Ini sebuah ironi.

Karena telah dikutuk. Sang Prabu Pandhu Dewanata memutuskan untuk menyepi menjadi pertapa. Kerajaan Astinapura diserahkan kepada Destarata. Sang Prabu ditemani oleh dua orang istri yaitu Dewi Kunti dan Dewi Madrim. Itu hukuman berat…. Ketika masih produktif tetapi tidak boleh disalurkan. Apalagi belum punya anak.

Masalah yang kedua adalah masalah keturunan. Emang, Keturunan selalu menjadi inti pokok masalah di Trah ini. Prabu Pandu terancam tidak mempunyai keturunan. Bagaimana mau punya keturunan? Bersenggama saja dikutuk. Padahal,mempunyai keturunan adalah keniscayaan untuk meneruskan kekuasaan. Masalah yang selalu dihadapi oleh keturunan Prabu Sentanu.

Hufftt…. Selalu ada jalan keluar. Dewi Kunti menguasai mantera tertentu yang bisa memanggil dewa yaitu mantera Adityaredhaya. Mantera ini diajarkan oleh Resi Druwasa. Dewi Kunti pernah main-main dengan mantera itu maka datang Batara Surya. Karena kebablasan maka dewi Kunti mengandung anak dari Batara Surya. Kejadian ini sebelum menjadi istri Prabu Pandhu Dewanata. Dewi Kunti akan dikupas dalam tulisan tersendiri.

Dewi Kunti memanggil tiga batara yaitu Batara Darma, Batara Bayu dan Batara Indra dengan menggunakan mantera Adityaredhaya. Kunti melahirkan Yudhistira dari Batara Darma, Bima adalah putera dari Batara Bayu dan Arjuna adalah putera Batara Indra.

Prabu Pandhu mengusulkan agar Dewi Madri juga diajari mantera Adityaredhaya. Dewi Madrim memanggil Batara Aswin maka lahir dua anak kembar yaitu Nakula dan Sadewa.

Ah….Case closed. Prabu Pandu Dewanata mempunyai lima anak yaitu Yudhistira, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa. Mereka berlima disebut PANDAWA LIMA. Prabu Pandhu Dewanata berbahagia. Karena penerus tahta sudah lahir. Ada masalah lain yang menghantui Sang Prabu Pandhu Dewanata yaitu KUTUKAN SENGGAMA.

Prabu Pandhu pergi bertapa salah satu tujuannya adalah mengendalikan libido. Manusia tetaplah manisia. Ketika itu libido sedang memuncak sehingga Prabu Pandhu bersenggama dengan dewi Madri. Kutukan Resi Kindama berlaku. Ini berakibat Prabu Pandhu meninggal dunia. Dewi Madri sangat bersedih dan merasa bersalah.

Jenazah Prabu Pandhu Dewanata dibakar dalam sebuah upacara perabuan. Dewi Madri merasa bersalah maka dia terjun ke dalam api pembakaran (Sati) sang suami. Ini sebagai wujud kesetiaan dan penyesalan atas sebab kematian sang Prabu .Kedua anaknya yaitu Nakula dan Sadewa dititipkan ke Dewi Kunti.

Ironi kehidupan sang Prabu. Semua ada dan tersedia. Karena kutukan dari sang resi merubah segalanya.

Begawan Abiyasa, Sang Penolong Trah

Ketika Wicitrawirya meninggal dunia. Dewi Satyawati sangat sedih. Dia teringat ketika awal menikah dengan Prabu Sentanu. Dia membuat syarat bahwa yang menjadi penerus kerajaan Hastinapura harus dari keturunannya. Ternyata, Semua anak dari Prabu Sentanu meninggal dunia semua. Dia menghiba agar Bisma mau jadi raja Astinapura. Ternyata, Dewabrata sudah nyaman menjomblo sampai akhir hayat (Brahmacarin).

Dewi Satyawati tidak kehilangan akal. Dia teringat bahwa masih punya anak dari keturunan Resi Palasara. Anaknya yang sudah menjadi Begawan. Dia bernama Begawan Abiyasa.  Begawan Abiyasa ini memang sakti. Begawan ini mampu memberi keturunan kepada para istri Wicitrawirya (Ambika dan Ambalika) tanpa harus bersetubuh tapi cukup melangsungkan suatu Yajna (Upacara Suci).

Ambika mendapat giliran pertama melakukan Yajna. Karena Begawan Abiyasa memang bukan Ksatria namun seorang pertapa. Ambika menutup mata secara spontan karena takut dengan sang Begawan. Sang begawan mengatakan bahwa anak Ambika akan terlahir dalam keadaan Buta. Hufft….Sang Dewi Satyawati sebenarnya sudah mengingatkan Ambika untuk jangan menutup mata. Karena sang dewi udah mengetahui konsekuensi dari menutup mata. Eeeee… terjadi pula.

Ambalika belajar dari pengalaman Ambika. Dia bertekad tidak menutup mata. Ambalika ternyata ketakutan dan wajah pucat pasi ketika ketemu Begawan Abiyasa. Namun, Ambalika kedua matanya tetap terbuka. Hufft….Tidak buta. Tapi, Sang begawan mengatakan anak Ambalika akan terlihat pucat. Yah…..sedih juga.

Dewi Satyawati masih belum menyerah. Ambika dan Ambalika diminta menghadap lagi ke Begawan Abiyasa. Sayang, Mereka udah menyerah. Mereka berdua meminta seorang dayang untuk mewakili mereka. Dayang itu bersikap tenang selama upacara berlangsung. Anak yang dilahirkan dalam keadaan sehat wal afiat tanpa kekurangan apapun. Dia bernama Widura.

Ambika melahirkan anak yang buta. Dia adalah Destarata. Kelak anak keturunan dari Destarata disebut dengan Korawa. Ambalika melahirkan anak yang lemah. Dia adalah Pandu. Anak keturunan dari Pandu disebut dengan Pandawa. Dua trah ini yang memperebutkan kerajaan Astinapura dalam sebuah perang yang disebut perang Baratayudha.

Ambisi Dewi Satyawati terhadap keturunannya menyebabkan peperangan diantara mereka sendiri. Bahkan skenario perang besar ini sudah tertulis dalam sebuah kitab yang disebut kitab Jitabsara. Ini sebuah pesan filosofis. Bahwa menjalankan hidup lebih baik Narima Ing Pandum daripada memperturutkan hawa nafsu. Karena kita tidak tahu akibat dari nafsu duniawi yang ada di dalam diri kita sendiri.

Wicitrawirya Mencari Istri

Sesuai dengan tradisi, maka Wicitrawirya menggantikan kekuasaan Citranggada. Pada waktu itu usia Wicitrawirya juga masih muda. Karena Wicitrawirya masih muda untuk melanjutkan pemerintahan. Bisma ditunjuk untuk membantu saudara tirinya, Bisma. Satyawati sebagai sang ibu menjadi khawatir dengan keberlangsungan keturunan Prabu Santanu. Karena Citranggada meninggal tanpa keturunan.

Satyawati menyampaikan kekhawatirannya kepada Bisma. Bisma menyanggupi untuk meminang ketiga putri dari kerajaan Kasipura atau Giyantipura untuk Wicitrawirya. Bisma mengkuti sayembara di Kerajaan Kasipura untuk mendapatkan ketiga putri yaitu Amba, Ambika dan Ambalika.

Raksasa Wahmuka dan Raksasa Arimuka memiliki tiga saudara perempuan yaitu Amba, Ambika dan Ambalika. Ketika mereka meningkat dewasa, Arimuka dan Wahmuka sepakat mengadakan sayembara untuk mencari calon suami untuk mereka bertiga atas izin Prabu Darmamuka dari Kerajaan Giyantipura.

Pelamar yang sanggup mengalahkan Arimuka dan Wahmuka, akan dinikahkan dengan ketiga putri raja itu. Wahmuka dan Arimuka memiliki kesaktian yang hebat. Apabila salah satu di antara mereka mati, dan yang lain melompati mayat saudaranya, maka yang mati akan hidup kembali. Tetapi membunuh kedua raksasa juga tidak mudah, karena Arimuka dan Wahmuka memiliki ilmu kebal.

Banyak ksatria dan raja yang mengikuti sayembara itu, tetapi semuanya dapat dikalahkan oleh Arimuka danWahmuka. Bisma yang hanya bisa mengalahkan mereka berdua. Keduanya gugur karena bocoran rahasia dari Ki Lurah Semar.  Dewabrata mendapat rahasia tentang bagaimana cara membunuh kedua raksasa kakak beradik itu.

 Menurut Semar, kedua raksasa sakti itu sebenarnya adalah penjelmaan air kawah dan ari-ari ketiga putri Prabu Darmamuka itu. Keduanya kebal dan tidak mempan segala macam senjata. Oleh karena itu, untuk dapat membunuhnya kedua telapak tangan Dewabrata harus dilumuri dengan kunir (kunyit) dan apu (kapur sirih).

Jika Dewabrata dapat memukul mereka bersama-sama sekaligus, maka Wahmuka dan Arimuka pasti akan mati.Ternyata, Saran Semar itu terbukti. Kedua raksasa itu mati dalam waktu bersamaan dan tidak bangun lagi. Karena Dewabrata menempeleng dalam waktu yang bersamaan. Bisma berhasil mengalahkan Wahmuka dan Arimuka. Keduanya kembali ke wujud asli yaitu kawah dan ari-ari.

Dewabrata dapat membunuh Wahmuka dan Arimuka maka berhak atas ketiga putri yaitu Amba, Ambika danAmbalika. Ketiga-tiga putri diboyong ke Hastinapura. Di tengah perjalanan, Dewi Amba memohon kepada Resi Bisma agar dibebaskan, karena dia telah mempunyai seorang kekasih yang bernama Prabu Citramuka dari kerajaan Srawantipura. Permintaan Dewi Amba dikabulkan dan pergilah ia menyusul Prabu Citramuka.

Tetapi Prabu Citramuka menolak Dewi Amba. Karena Dewi Amba telah menjadi milik Dewabrata seperti dalam ketentuan sayembara. Kemudian Dewi Amba kembali menemui Dewabrata dan memohon agar diperkenankan ikut bersama saudarinya yaitu Ambika dan Ambalika ke Hastinapura.

Dewabrata tidak dapat menerima kembali dewi Amba sebagai putri boyongan. Karena Bisma sudah melepas dewi Amba.  Dewi Amba memaksa sehingga menimbulkan kemarahan Dewabrata. Bisma mengancamnya dengan menodongkan pusakanya.

Tanpa sengaja anak panah terlepas dari busurnya dan meluncurmengenai dada Dewi Amba. Sebelum meninggal Dewi Amba mengeluarkan kutukan kepada Dewabrata. Dewi Amba akan membalas dendam dengan perantara seorang prajurit wanita dalam perang Bharata Yudha.

Titisan dewi Amba masuk ke tubuh Dewi Srikandi, Istri Arjuna. Srikandi adalah putri dari Prabu Drupada dan Dewi Gandawati. Kisahnya akan ditulis di postingan selanjutnya.

Petaka Atas Nama Citranggada

Prabu Sentanu dan Dewi Satyawati memiliki anak yaitu Citranggada dan Wicitrawirya. Keduanya adalah saudara seayah dengan Dewabrata. Dewabrata alias Bisma bersumpah menjadi Brahmanacarin (Resi) dan Wadat alias tidak akan menikah. Karena baktinya kepada ayahnya, Dewa memberi kesaktian yang tiada tara (Mahawira) yaitu  tidak dapat mati kecuali atas kemauan sendiri.

Prabu Sentanu dan Dewi Satyawati memiliki anak yaitu Citranggada dan Wicitrawirya. Keduanya adalah saudara seayah dengan Dewabrata. Dewabrata alias Bisma bersumpah menjadi Brahmanacarin (Resi) dan Wadat alias tidak akan menikah. Karena baktinya kepada ayahnya, Dewa memberi kesaktian yang tiada tara (Mahawira) yaitu  tidak dapat mati kecuali atas kemauan sendiri.

Alkisah, Seorang Raja Gendruwo yang juga bernama Citranggada memberi surat tantangan. Raja Gendruwo marah karena merasa ada dua raja dengan nama yang sama. Kedua Raja tidak mungkin akan hidup bersama dalam satu zaman, maka ia berpikir bahwa salah satu di antaranya harus mati. Citranggada putra Santanu menerima tantangan tersebut. Menurut Adiparwa, pertempuran mereka berlangsung di tepi sungai Saraswati. Citranggada manusia dan Citranggada Gendruwo sama-sama kuat dan sakti. Namun, Citranggada gandarwa lebih mahir dalam tipu muslihat. Setelah pertempuran sengit berlangsung selama tiga tahun, Citranggada putra Santanu akhirnya gugur.