Mikul Dhuwur Mendhem Jero

pandawa_putihAmbil dari sini

Pada akhirnya, anak-anak Pandawa gugur semua mulai dari Gatotkaca, Abimanyu, Antareja, Antasena dan Wisanggeni. Huft….!!! Keturunan langsung Pandawa ternyata hanya tersisa satu yaitu Parikesit. Parikesit adalah anak dari Abimanyu dengan istri Dewi Utari, cucu dari Arjuna. Parkesit dilahirkan di masa perang Baratayudha.

Sedih, Kemenangan keluarga Pandawa meninggalkan duka yaitu kematian anak-anak mereka. Kemenangan di Perang Baratayudha harus diiringi dengan kisah sedih itu. Mengapa jalan cerita harus begini?  Masihkah ada kemungkinan skenario kitab Jitabsara dibuat Happy Ending? Kemenangan yang gemilang namun menyedihkan.

Wayang itu salah satu bagian dari kehidupan orang jawa. Wayang adalah tuntunan bagi orang Jawa. Batas yang tipis antara kisah wayang itu nyata atau hanya cerita para pujangga. Karena wayang adalah mitologi jawa meskipun tidak murni. Oleh sebab itu, Kisah wayang harus mengandung ajaran kehidupan atau filosofi hidup. Meskipun, kadang jalan cerita kadang seringkali ironi.

“Othak-Athik Gathuk” itu kata orang Jawa. Saya mengotak-atik dan menghubung-hubungkan sehingga tampak menarik dan berfilosofi hidup. Filosofi hidup dari kematian  para Anak PANDAWA adalah “MIKUL DHUWUR MENDHEM JERO” yaitu Mengangkat kebaikan Orang Tua kita dan Mengubur segala keburukan para Orang Tua kita.

Dikisahkan jika Abimanyu dan Gatotkaca mati di medan peperangan Baratayudha. Antareja harus rela menjadi tawur/kurban  sehingga mati sebelum perang. Antasena dan Wisanggeni yang paling digdaya ternyata moksa sebelum perang Baratayudha.

Antasena dan Wisanggeni adalah dua orang dalam perlindungan Sanghyang Wenang. Keduanya melihat orangtua mereka berperang melawan Kurawa maka keduanya tergerak hati untuk ikut membantu. Mereka merasa mampu dan berkewajiban. Maka, Mereka berdua memohon izin kepada Sanghyang Wenang untuk ikut perang Baratayudha.

Sanghyang Wenang ternyata tidak mengizinkan mereka berdua ikut perang Baratayudha. Sanghyang Wenang meramalkan jika mereka berdua ikut perang maka Pandawa akan kalah. Padahal, Wisanggeni adalah anak yang sakti dan begitu pula Antasena. Wisanggeni pernah mengalah resi Durna. Antasena pernah menduduki Astinapura kemudian dilepaskan kembali atas permintaan para Pandawa. Antasena melakukan sesuatu yang berat yaitu melepaskan Astina yang sudah dalam genggamannya.

Pandawa sebenarnya cukup mengirimkan anak-anak mereka menghadapi Kurawa. Perang Baratayudha dipastikan dimenangkan pihak Pandawa. Pandawa tidak perlu susah payah berperang. Anak-anak Pandawa adalah anak yang berbakti kepada orang tuanya. Pandawa cukup duduk ditemani secangkir teh sambil menunggu perang usai. Dijamin Kurawa mesti tumpas. Astinapura menjadi Karang Abang dan Porak Poranda.

Kitab Jitabsara menjadi basi jika itu terjadi. Para Dewa menetapkan bahwa Perang Baratayudha mesti harus terjadi agar dapat menjadi pelajaran bagi anak cucu manusia. Pelajaran tentang Perjuangan, Kebenaran VS Kebathilan dan Mikul Dhuwur Mendhem Jero. Kitab Jitabsara tidak boleh menjadi basi.

Setinggi apapun kesaktian anak-anak Pandawa dan memang lebih sakti daripada bapak-bapaknya. Tetapi, Orang Tua mereka adalah prioritas utama. Kisah ini menjadi kisah pengorbanan mereka kepada para orang tua. Mereka rela jadi Tawur / Kurban untuk Perang Baratayudha. Karena perang Baratayudha adalah urusan orangtua mereka. Mereka rela untuk berkurban apa saja untuk orangtuanya meski harus gugur di medan perang atau menjadi tawur/ kurban dan moksa sehingga menghilang tanpa bekas.

Itulah sikap Mikul Dhuwur dari anak-anak Pandawa. Mereka akan selalu memanggul (mikul) demi kehormatan orang tua mereka. Apapun yang terjadi bahkan nyawa sekalipun. Mereka rela harus minggir untuk memanggul kehormatan orang tua.

Karena Perang Baratayudha adalah perang “kehormatan” dari masing-masing trah yaitu Trah Pandawa dan Trah Kurawa. Sehingga para Pandawa sendiri yang harus maju perang. Jangan sampai Sejarah menyatakan bahwa mereka adalah para pengecut dengan berlindung dibalik kesaktian anak-anak mereka. Anak-anak Pandawa sedang mengamalkan ajaran “Mikul Dhuwur”.

Anak-anak Pandawa sebenarnya anak-anak yang ditelantarkan. Para Pandawa khususnya Bimasena dan Arjuna adalah Ksatria yang mempunyai anak dimana-mana dari beberapa istri. Anak-anak ini tidak diurus” oleh para bapaknya. Akan tetapi, anak-anak Pandawa tidak pernah mengungkit masalah ini kepada para bapaknya.

Seringkali kisah bercerita bahwa si anak lahir tanpa ditunggui ayahnya dan ditinggal bersama ibunya seperti Wisanggeni dan Antasena. Namun, Anak-anak Pandawa tidak pernah melawan atas perlakuan ini. Mereka memilih jalan “Mendhem Jero”. Apapun yang terjadi maka saya harus menghormati ayah dan Ibu.

Hehehehehe..!!!!! Naif-kah?  Tapi begitulah, Penghormatan kepada orang tua adalah filosofi dalam pewayangan. Menghormati bukan berarti sepakat dalam berbagai hal. Bahkan Para Pandawa pernah bertempur dan dikalahkan oleh anak mereka misal : Wisanggeni. Menghormati tapi tetap bersifat kritis. Kekritisan dibingkai dalam rasa penghormatan.

Namun, setelah ayah mereka mempunyai musuh maka mereka patuh dengan strategi yang dijalankan oleh pihak Pandawa. Antareja harus menjilat kakinya sendiri hingga mati. Wisanggeni dan Antasena juga harus mati sebelum perang. Gatotkaca dan Abimanyu harus mati dalam peperangan. Itu semua dalam bingkai strategi pihak Pandawa yang diotaki sang penasihat militer yaitu Kresna. Mereka manut saja asal untuk kebaikan mereka sendiri di Nirwana.

Anak-anak Pandawa, Mereka patuh menjalani takdirnya untuk kemenangan orang tua mereka. Ini bentuk keyakinan dan kepercayaan mereka. Bahwa menghormati orang tua mereka adalah jalan terbaik menuju kehidupan Nirwana yang lebih Agung dan Abadi.

 

 

 

Advertisements

Kesaktian Antasena

antasena-ang

Sumber : disini

Tokoh ini adalah anak dari Bimasena yaitu Antasena. Jika mengikuti gagrak Surakarta maka Antasena adalah nama lain dari Antareja namun Gagrak Yogyakarta maka Antasena adalah anak bungsu dari Bimasena. Keduanya sama-sama murid Sanghyang Antaboga. Antasena yang paling sakti diantara keluarga Pandawa.

Antasena memiliki kemampuan terbang, ambles bumi dan menyelam. Kesaktiannya lengkap sudah, Gatotkaca yang mampu terbang, Antareja yang mampu ambles bumi masih kalah kelas karena Antasena masih bisa menyelam. Anugerah yang dimiliki oleh Antasena sebagai cucu Batara Baruna yang menguasai lautan.

Wisanggeni yang memiliki kemampan yaitu Upas yang beracun maka Antasena juga memiliki. Kelahiran Antasena juga sedikit dipaksakan. Saat itu, Kahyangan diserbu oleh Prabu Dewa Kintaka dari Kerajaan Guwacinraka untuk merebut Batari Komaratih untuk dijadikan istri. Kala itu, Dewi Urangayu sedang mengandung janin si Antasena. Seperti biasa, sang Ayah janin yaitu Bimasena sudah meninggalkan Dewi Urangayu menuju kerajaan Amarta.

Batara Narada yang menjadi penasehat Batara Guru memiliki ide untuk menghadapi pengacau Kahyangan. Batara Narada mengeluarkan Antasena dari dalam janin ibunya. Antasena dimajukan ke medan perang menghadapi Prabu Dewa Kintaka.Singkat cerita maka Prabu Dewa Kintaka dapat dikalahkan. Kemudian, Antasena dikirim ke Kakeknya Antareja yaitu Sanghyang Antaboga untuk dididik menjadi Ksatria pilih tanding.

Antasena adalah lambang kejujuran. Antasena tidak bisa basa-basi, omongannya lugas dan ngoko cenderung kasar. Sepupunya yaitu Wisanggeni memanggil dia dengan sebutan Cah Edan ( Anak Gila). Antasena sangat urakan, semau gue, polos, lugu dan teguh pendirian. Dia mempunyai loyalitas tinggi ke trah Pandawa.

Anggota Pandawa sangat segan dengan antasena. Trah Pandawa tidak ada yang mengalahkan kesaktian Antasena dan Trah Pandwa juga diselamatkan oleh Antasena berkali-kali.

Pernikahan Dewi Pregiwati dan Raden Pancawala diselamatkan dari gangguan Begawan Durna. Pandawa juga pernah diselamatkan pula dari Ganggatrimuka yaitu Raja Dasar Samodra. Ganggatrimuka adalah sekutu Kurawa. Pandawa dimasukkan ke dalam jeruji besi oleh Ganggatrimuka. Kemudian mereka ditenggelamkan ke dasar Samudra sampai mati.  Pandawa yang sudah mati dihidupkan kembali oleh Antasena dengan Senjata Cupumadusena pemberian dari Kakeknya.

Antasena juga pernah merebut Astina sebelum perang Baratayuda pecah. Prabu Duryudana sudah takluk namun Pandawa tidak merestui aksi Antasena. Antasena dengan legowo mengembalikan Astina ke tangan Prabu Duryudana. Antasena lebih taat kepada orangtuanya meskipun mampu merebut Astina.

Kalau Astina sudah direbut Pandawa sebelum Perang Baratayudha, Apa jadinya Kitab Jitabsara? Hehehehehe…!!!!! nggak ada cerita Perang Baratayudha.