Kecerdikan Kresna

kresna-kclSumber :disini

Tokoh wayang yang satu ini adalah salah satu tokoh sentral perang Baratayudha. Dia saudara sepupu Pandawa dari jalur Ibu Kunti. Dia putra dari Prabu Basudewa, kakak Ibu Kunti. Dia juga awatara dari Dewa Wisnu. Namanya adalah Sri Kresna , Raja dari Kerajaan Dwarawati.

Ketika menjelang perang Baratayudha. Sri Kresna bersemedi dan “ngrogo sukmo”. Dia masuk ke alam kahyangan merubah diri menjadi Klanceng Putih untuk mengintip Kitab Jitabsara. Akhirnya, Kresna diserahi kitab Jitabsara oleh Batara Guru dengan satu syarat yaitu tidak boleh membocorkan isi Kitab Jitabsara.

Kresna memberikani tawaran kepada Pandawa dan Kurawa. Mereka diberi pilihan antara memilih dirinya dan pasukannya. Kurawa memilih pasukan Kresna dan Pandawa memilih Kresna. Pilihan ini yang menentukan kemenangan besok di akhir perang Baratayudha.

Karena memegang kitab Jitabsara maka Kresna harus kehilangan “Kembang Wijayakusuma”. Salah satu senjata milik Kresna yang berkhasiat untuk menghidupkan orang yang mati. It’s Worthed, Karena Kresna memegang kunci kemenangan di kancah peperangan terbesar di dunia pewayangan.

Prabu Basudewa adalah kakak dari Ibu Kunti. Ibu dari tiga anggota Pandawa yaitu Puntadewa, Arjuna dan Bimasena. Wajar, Kresna membela Pandawa karena masih ada hubungan darah. Tapi bukan karena itu. Kresna adalah awatara dari Dewa Wisnu. Dia ingin menjaga keseimbangan dunia. Kebenaran harus menang atas Kezaliman.

Kresna adalah mastermind Perang Baratayudha dari pihak Pandawa. Kemenangan demi kemenangan Pandawa tidak lepas dari strateginya. Apalah jadinya jika Pandawa tidak didukung Kresna?  Tapi, Perang Baratayudha adalah bagian kerusakan alam semesta maka Kresna wajib menjaganya dengan memenangkan Pandawa di kancah perang ini.

Duryudana lebih pintar tapi Bimasena lebih kuat, menurut Baladewa. Adipati Basukarna lebih sakti dengan senjata Kuntawijaya daripada Arjuna. Yudistira adalah orang yang lugu telah  “dikerjain” oleh Sengkuni di permainan dadu. Resi Bisma tidak terkalahkan dan Resi Durna sulit untuk ditaklukkan.

Pandawa harus melawan guru-guru mereka yang sangat dihormati. Kematian Resi Bisma ditangan Srikandi bukan oleh Arjuna. Itu adalah strategi Kresna. Pandawa tidak sanggup membunuh Resi Durna. Kematian Resi Durna karena tebasan pedang oleh Drestajumna. Itu semua karena strategi Kresna yang jitu. Adipati Karna kehilangan senjata Kuntawijaya karena diumpankan ke Gatotkaca adalah kecerdikan Kresna pula.

Kresna menyadari bahwa Pandawa adalah orang yang lurus, jujur dan lugu. Apabila Pandawa menghadapi Kurawa dengan cara yang lugu dan polos maka akan mudah dikalahkan. Apalagi harus menghadapi saudara yang disayanginya, guru-guru yang dihormati dan musuh-musuh yang culas. Pandawa tidak tega menghabisi mereka. Tega Larane Ora Tega Patine.

Karena Kurawa itu licik maka harus dihadapi dengan strategi yang cerdik. Sehingga, Kekuatan menjadi berimbang. Kresna hadir untuk mengisi kekosongan ini. Kurawa memiliki Resi Durna, Sengkuni dan Bisma yang lebih berpengalaman dan Pandawa menghormati mereka.

Kecerdikan Kresna terlihat sejak permulaan perang. Kresna memilih menjadi sais Kereta Perang Arjuna. Kresna telah berjanji tidak akan mengangkat senjata dalam perang Baratayuda. Meskipun tidak mengangkat senjata. Kresna yang merencanakan seluruh strategi perang pihak Pandawa.

Resi Bisma sangat dihormati pihak Pandawa. Arjuna enggan dan setengah hati melawan. Akhirnya, Kresna dan Pandawa menghadap Resi Bisma di kemah untuk menanyakan kelemahannya. Kelemahan Resi Bisma salah satunya adalah tidak akan melawan jika bertarung dengan wanita.

Maka, Istri Ajuna yaitu Srikandi yang diajukan untuk menghadapi Resi Bisma. Karena yang menyerang adalah wanita dan titisan Dewi Amba yang dicintai oleh Resi Bisma.  Resi Bisma tidak melawan. Resi Bisma tumbang dan dapat dikalahkan. Hanya karena Resi Bisma memiliki kesaktian untuk dapat menentukan sendiri saat kematiannya. Resi Bisma meninggal di akhir Perang Baratayuda.

Resi Durna sangat sulit dikalahkan. Kresna membuat siasat dengan menyuruh Bima untuk membunuh Gajah yang bernama Aswatama. Nama yang mirip dengan nama anak Resi Durna. Ketika Gajah itu mati maka Bima berteriak, “ Aswatama mati…!!!!”. Resi Durna mendengar nama Aswatama.

Resi Durna limbung, histeris dan sedih. Karena Aswatama adalah anak satu-satunya yang sangat dicintai. Dia bertanya kepada Yudhistira menanyakan keadaan Aswatama. Resi Durna percaya bahwa Yudhistira tidak akan berbohong. Maka, Yudhistira menjawab dengan jawaban bersayap, “Aswatama mati”. Entah itu gajah atau anak dari Resi Durna. Resi Durna akhirnya mati ditangan Drestajumna dalam keadaan sedih dan tertipu.

Adipati Basukana yang menyerang Pandawa di malam hari. Ini adalah pelanggaran dalam perang. Kresna dengan sigap mengundang Gatotkaca untuk melawan pamannya sendiri. Perang besar di malam hari terjadi. Entah mengapa, Adipati Basukarna mengeluarkan senjata Kuntawijaya untuk membunuh Gatotkaca.

Gatotkaca memang terbunuh tapi Kuntawijaya hanya sekali pakai. Adipati Basukarna sudah tidak memiliki senjata andalan lagi. Gatotkaca sanggup mengorbankan diri untuk Pandawa. Lain waktu, Adipati Basukarna dibunuh Arjuna. Ini lebih mudah dilakukan. Karena Adipati Basukarna sudah kehilangan senjata pamungkas.

Itulah, beberapa strategi Kresna dalam menghadapi Kurawa. Pandawa mungkin diatas kertas kalah unggul. Namun, karena kecerdikan Kresna maka Pandawa menjadi unggul di medan persang Baratayudha.

Kekalahan dan tumpasnya seluruh Kurawa membuat Dewi Gendari marah besar. Dewi Gendari adalah ibu dari para Kurawa dan Kakak dari Sengkuni. Dia mengutuk Kresna bahwa Kerajaan Dwarawati akan tumpas tanpa bekas. Dewi Gendari marah karena Duryudana mati dipukul pahanya oleh Bima atas saran Kresna.

Hal itu terjadi. Kerajaan Dwarawati tumpas karena rakyatnya saling bunuh. Kresna bersemedi kemudian kakinya kena panah oleh pemburu. Sang pemburu melihat kaki kresna seperti kaki kijang. Kresna akhirnya mati dengan cara Moksa. Kerajaan Dwarawati diterjang badai Tsunami.

Mikul Dhuwur Mendhem Jero

pandawa_putihAmbil dari sini

Pada akhirnya, anak-anak Pandawa gugur semua mulai dari Gatotkaca, Abimanyu, Antareja, Antasena dan Wisanggeni. Huft….!!! Keturunan langsung Pandawa ternyata hanya tersisa satu yaitu Parikesit. Parikesit adalah anak dari Abimanyu dengan istri Dewi Utari, cucu dari Arjuna. Parkesit dilahirkan di masa perang Baratayudha.

Sedih, Kemenangan keluarga Pandawa meninggalkan duka yaitu kematian anak-anak mereka. Kemenangan di Perang Baratayudha harus diiringi dengan kisah sedih itu. Mengapa jalan cerita harus begini?  Masihkah ada kemungkinan skenario kitab Jitabsara dibuat Happy Ending? Kemenangan yang gemilang namun menyedihkan.

Wayang itu salah satu bagian dari kehidupan orang jawa. Wayang adalah tuntunan bagi orang Jawa. Batas yang tipis antara kisah wayang itu nyata atau hanya cerita para pujangga. Karena wayang adalah mitologi jawa meskipun tidak murni. Oleh sebab itu, Kisah wayang harus mengandung ajaran kehidupan atau filosofi hidup. Meskipun, kadang jalan cerita kadang seringkali ironi.

“Othak-Athik Gathuk” itu kata orang Jawa. Saya mengotak-atik dan menghubung-hubungkan sehingga tampak menarik dan berfilosofi hidup. Filosofi hidup dari kematian  para Anak PANDAWA adalah “MIKUL DHUWUR MENDHEM JERO” yaitu Mengangkat kebaikan Orang Tua kita dan Mengubur segala keburukan para Orang Tua kita.

Dikisahkan jika Abimanyu dan Gatotkaca mati di medan peperangan Baratayudha. Antareja harus rela menjadi tawur/kurban  sehingga mati sebelum perang. Antasena dan Wisanggeni yang paling digdaya ternyata moksa sebelum perang Baratayudha.

Antasena dan Wisanggeni adalah dua orang dalam perlindungan Sanghyang Wenang. Keduanya melihat orangtua mereka berperang melawan Kurawa maka keduanya tergerak hati untuk ikut membantu. Mereka merasa mampu dan berkewajiban. Maka, Mereka berdua memohon izin kepada Sanghyang Wenang untuk ikut perang Baratayudha.

Sanghyang Wenang ternyata tidak mengizinkan mereka berdua ikut perang Baratayudha. Sanghyang Wenang meramalkan jika mereka berdua ikut perang maka Pandawa akan kalah. Padahal, Wisanggeni adalah anak yang sakti dan begitu pula Antasena. Wisanggeni pernah mengalah resi Durna. Antasena pernah menduduki Astinapura kemudian dilepaskan kembali atas permintaan para Pandawa. Antasena melakukan sesuatu yang berat yaitu melepaskan Astina yang sudah dalam genggamannya.

Pandawa sebenarnya cukup mengirimkan anak-anak mereka menghadapi Kurawa. Perang Baratayudha dipastikan dimenangkan pihak Pandawa. Pandawa tidak perlu susah payah berperang. Anak-anak Pandawa adalah anak yang berbakti kepada orang tuanya. Pandawa cukup duduk ditemani secangkir teh sambil menunggu perang usai. Dijamin Kurawa mesti tumpas. Astinapura menjadi Karang Abang dan Porak Poranda.

Kitab Jitabsara menjadi basi jika itu terjadi. Para Dewa menetapkan bahwa Perang Baratayudha mesti harus terjadi agar dapat menjadi pelajaran bagi anak cucu manusia. Pelajaran tentang Perjuangan, Kebenaran VS Kebathilan dan Mikul Dhuwur Mendhem Jero. Kitab Jitabsara tidak boleh menjadi basi.

Setinggi apapun kesaktian anak-anak Pandawa dan memang lebih sakti daripada bapak-bapaknya. Tetapi, Orang Tua mereka adalah prioritas utama. Kisah ini menjadi kisah pengorbanan mereka kepada para orang tua. Mereka rela jadi Tawur / Kurban untuk Perang Baratayudha. Karena perang Baratayudha adalah urusan orangtua mereka. Mereka rela untuk berkurban apa saja untuk orangtuanya meski harus gugur di medan perang atau menjadi tawur/ kurban dan moksa sehingga menghilang tanpa bekas.

Itulah sikap Mikul Dhuwur dari anak-anak Pandawa. Mereka akan selalu memanggul (mikul) demi kehormatan orang tua mereka. Apapun yang terjadi bahkan nyawa sekalipun. Mereka rela harus minggir untuk memanggul kehormatan orang tua.

Karena Perang Baratayudha adalah perang “kehormatan” dari masing-masing trah yaitu Trah Pandawa dan Trah Kurawa. Sehingga para Pandawa sendiri yang harus maju perang. Jangan sampai Sejarah menyatakan bahwa mereka adalah para pengecut dengan berlindung dibalik kesaktian anak-anak mereka. Anak-anak Pandawa sedang mengamalkan ajaran “Mikul Dhuwur”.

Anak-anak Pandawa sebenarnya anak-anak yang ditelantarkan. Para Pandawa khususnya Bimasena dan Arjuna adalah Ksatria yang mempunyai anak dimana-mana dari beberapa istri. Anak-anak ini tidak diurus” oleh para bapaknya. Akan tetapi, anak-anak Pandawa tidak pernah mengungkit masalah ini kepada para bapaknya.

Seringkali kisah bercerita bahwa si anak lahir tanpa ditunggui ayahnya dan ditinggal bersama ibunya seperti Wisanggeni dan Antasena. Namun, Anak-anak Pandawa tidak pernah melawan atas perlakuan ini. Mereka memilih jalan “Mendhem Jero”. Apapun yang terjadi maka saya harus menghormati ayah dan Ibu.

Hehehehehe..!!!!! Naif-kah?  Tapi begitulah, Penghormatan kepada orang tua adalah filosofi dalam pewayangan. Menghormati bukan berarti sepakat dalam berbagai hal. Bahkan Para Pandawa pernah bertempur dan dikalahkan oleh anak mereka misal : Wisanggeni. Menghormati tapi tetap bersifat kritis. Kekritisan dibingkai dalam rasa penghormatan.

Namun, setelah ayah mereka mempunyai musuh maka mereka patuh dengan strategi yang dijalankan oleh pihak Pandawa. Antareja harus menjilat kakinya sendiri hingga mati. Wisanggeni dan Antasena juga harus mati sebelum perang. Gatotkaca dan Abimanyu harus mati dalam peperangan. Itu semua dalam bingkai strategi pihak Pandawa yang diotaki sang penasihat militer yaitu Kresna. Mereka manut saja asal untuk kebaikan mereka sendiri di Nirwana.

Anak-anak Pandawa, Mereka patuh menjalani takdirnya untuk kemenangan orang tua mereka. Ini bentuk keyakinan dan kepercayaan mereka. Bahwa menghormati orang tua mereka adalah jalan terbaik menuju kehidupan Nirwana yang lebih Agung dan Abadi.

 

 

 

Pengorbanan Gatotkaca

 gatotkaca_surakartaSumber : disini

Gatotkaca adalah ikon yang dianggap Indonesia Bingiittsss….!!!! Padahal nggak terlalu Indonesia juga. Karena tokoh ini diambil dari kisah di Kitab Mahabarata. Orang India juga punya tokoh Gatotkaca versi mereka. Tapi nggak masalah, India tidak mempermasalahkan Gatotkaca versi Indonesia . Hehehehehehe…!!!!!

Sosok yang sempurna sebagai pria perkasa tanpa tanding. Dia mempunyai otot sekuat kawat dan tulang sekuat besi, tidak ada senjata apapun yang mampu melukainya dan bisa terbang pula. Penokohannya mirip Superman.

Kalau Superman pakai baju ketat dan didadanya ada tulisan huruf “S” yang gede. Gatotkaca pakai baju yang bernama Kotang Antakusuma  dan ada lambang mirip matahari bersinar di dadanya. Superman u terbang mesti bagian belakangnya berkibar-kibar dan posisi tengkurap. Kalau Gatotkaca terbang posisinya berdiri sambil memainkan kain selendang dengan kedua tangannya. Lebih gagah khan? Hehehehehe…!!!!

Kostum Gatotkaca lebih atraktif dan etnis dibandingkan kostum Superman yang simpel. Gatotkaca pakai Badong, Caping Basunanda, Kotang Antakusuma, dan Terompah Padakacarma. Semua mempunyai fungsi masing-masing. Semua adalah senjata dan pertahanan buat Gatotkaca tidak sekedar pakaian saja.

Gatotkaca menjadi sakti setelah dimasukkan ke kawah Candradimuka. Kawah yang berisi leburan berbagai jenis senjata. Sehingga badan Gatotkaca adalah yang terkuat dan terbaik diantara para tokoh wayang.

Gatotkaca cuma ada satu kelemahan yaitu senjata Kontawijaya. Kebetulan yang pegang senjata itu adalah musuh bebuyutan pandawa sekaligus pamannya sendiri yaitu Adipati Basukarna. Kelemahan Gatotkaca ini sekaligus menjadi faktor kemenangan Pandawa di perang Baratayudha.

Arjuna mempunyai senjata andalan yaitu Pasopati dan Adipati Basukarna memegang Kuntawijaya sebagai senjata pamungkas. Ini berarti kekuatan mereka berdua adalah seimbang. Maka, harus dibuat tidak seimbang agar Arjuna dapat mengalahkan sang Adipati.

Senjata Pamungkas sang Adipati harus dilepaskan dulu sebelum berhadapan dengan Arjuna. Karena Kontawijaya hanya bisa sekali pakai. Karena Kontawijaya adalah senjata yang eksklusif dan sakti. Arjuna tidak mungkin menghadapi Kontawijaya.

Inilah strategi perang dari sang maestro perang yaitu Kresna. Mau nggak mau…. , Gatotkaca emang harus dikorbankan. Bagi kesatria, Pengorbanan adalah yang sesuatu yang tertinggi dalam hidup mereka. Kresna emang sudah “mengintip” kitab Jiptasara, tentang jalan cerita perang Baratayudha. Emang, Gatotkaca harus dikorbankan.

Kematian Gatotkaca oleh senjata Kuntawijaya adaah faktor penentu kemenangan Pandawa. Karena sang adipati kehilangan senjata pamungkas yaitu Kontawijaya. So, ketika berhadapan dengan Arjuna maka dia sudah sadar jika akan kalah. Kalau sang adipati tewas maka kurawa kehilangan satu-satunya jago panah mereka.

Walhasil, Anak Panah Pasopati memotong leher sang adipati. Gugurlah sang adipati kresna di padang kurusetra. Strategi Kresna berjalan mulus meski dengan pengorbanan yang besar. Bima dirundung sedih karena dua anaknya menjadi tumbal perang Baratayudha yaitu : Antareja dan Gatotkaca.

Ada dua pelajaran yang bisa dipetik yaitu “Pengorbanan” dan “Kelemahan”. Setiap perjuangan membutuhkan pengorbanan. Pandawa memang memenangkan Perang Baratayudha Jayabinangun. Jangan ditanya kurbannya berapa? Seluruh anak pandawa meninggal mulai Antareja, Abimanyu dan Gatotkaca. Penerus dinasti pandawa adalah anak Abimanyu yaitu Parikesit.

Sekuat dan sesakti apapun manusia. Kita mesti punya kelemahan. Karena itulah kita manusia bukan malaikat atau Dewa. Manusia sekuat apapun bisa tumbang. Romawi, Persia, Yunani, Turki Usmani harus tumbang. Ketidaksempurnaan manusia itu yang membuat manusia itu sempurna. So, kita adalah manusia yang manusiawi.