Life and Journey

Judul: In The Mind of Natali Ardianto
Penulis: Natali Ardianto
Penerbit: Metagraf, 2016
Tebal: 154 Halaman

Jika anda ingin belajar sesuatu maka belajar kepada yang ahli dan berpengalaman. Anda ingin belajar memasak maka belajar ke seorang koki. Belajar bertani?  Maka datangilah petani.  Anda ingin membuat  Start-Up, belajarlah kepada yang Ahli Start-Up. Ahli yang berpengalaman mendirikan dan mengelola Start-Up.

Natali Ardianto, nama yang tidak asing di dunia Start-Up. Dia adalah founder Urbanesia. Website Directory Online  yang dibeli grup Kompas. Golfnesia adalah proyek yang selanjutnya. Puncaknya adalah Tiket.Com. Natali menjadi salah satu Co-Founder disana yang akhirnya dibeli oleh grup Djarum.

Life is Journey, itu kesimpulan saya dari Buku In The Mind of Natali Ardianto tulisan dari Natali Ardianto. Natali mengkisahkan perjalanan hidupnya dimulai dari masa kecil yang dimulai dengan berkenalan dengan Komputer Apple “Lisa” sampai mendapat penghargaan  “The Most Intelligent CTO”. Itu adalah sebuah journey bagi dirinya.

Saya kira masih panjang petualangan bagi Si Natali.  Tiket.com sudah dibeli maka akan ada kisah baru dari si Natali. Kita tunggu saja.Manusia dianugerahi akal dan hati sehingga selalu bergerak dinamis.

Apa yang kita dapat jika selalu dinamis? Sesuatu yang  priceless,  yaitu  Experience dan Journey. Journey  lebih  bersifat  personal  karena tidak semua orang mengalami. Sesuatu yang bisa dibagikan untuk anak-cucu. Experience itu adalah Portofolio bagi seorang profesional. Portofolio  itulah  yang menaikkan nilai tawar.

Natali menjelaskan pentingnya Experience dengan contoh kasus yaitu  Google. Sergey Brin dan Larry Page adalah pendiri GOOGLE. Namun, mereka membutuhkan Eric Schmidt sebagai CEO GOOGLE. Eric yang membawa GOOGLE menjadi  Worldwide Company.  Karena Eric mempunyai pengalaman selama bertahun-tahun di Sun Microsystem sehingga paham dunia bisnis IT.

Eric yang membawa GOOGLE terkenal seantero dunia. Kalau mau mencari informasi di dunia maya. Kita pakai istilah Googling. “Silahkan googling dulu biar lebih paham”, ungkapan yang sering kita sampaikan. Jika hanya dikembangkan oleh Sergey Brin dan Larry Page maka Google hanya menjadi perusahaan rata-rata saja.

Pengalaman Natali di dunia Start-Up dituangkan di dalam buku ini.Buku ini membahas mulai yang basic, teknis sampai attitude. Segala yang  dipikirkan, dirasakan dan dijalani tertuang di buku ini. Kalau ingin membuat atau sedang menjalani sebuah start-up maka buku ini layak dibaca.

Kita langsung belajar Experience dan Journey dari seorang praktisi dan ahli. Ini akan menjadi masukan berharga.Meskipun, bagi yang hanya ingin menambah wawasan dan kebijaksanaan hidup cocok juga baca buku ini.

Kelemahan buku ini adalah tulisannya bercampur antara bahasa Inggris dan Indonesia. Generasi Milenial yang hidup di borderless world sesungguhnya bukan masalah. Bahasa Inggris telah menjamur kian kemari. Namun, saya yakin masih ada yang tidak nyaman. Karena pakai bahasa Indonesia dan kadang bahasa Inggris.

Natali beralasan bahwa kalau diterjemahkan maka ada ungkapan yang tidak tepat diartikan dalam bahasa Indonesia. Natali khawatir pesannya tidak sampai dan jadi ribet. Karena ada yang tidak bisa diterjemahkan secara langsung ke bahasa Indonesia.

 

Perpustakaan Kampung Sebelah

Buku adalah jendela ilmu.Itu jargon yang sering saya dengar sewaktu masih kecil. Buku masih lebih unggul daripada internet di era informasi. Keunggulan yang tidak dimiliki oleh internet yaitu lebih fokus. Namun demikian, Internet mempengaruhi perkembangan buku di era informasi.

Oleh sebab itu, Keberadaan perpustakaan masih urgent. Internet masih menjadi pelengkap di perpustakaan. Konon, perpustakaan umum adalah bagian hidup di setiap negara bagian Ameriika Serikat. Budaya baca berbanding lurus dengan kemajuan bangsa. Benarkah…???? Hehehehe…!!!!

ganesha-8
Perpustakaan di Lantai 2

Kampung sebelah saya hadir juga perpustakaan umum. Nama Perpustakaan itu adalah Perpustakaan Ganesha. Kita bisa membaca, berdiskusi bahkan meminjam buku secara gratis. Pemilik perpustakaan ini adalah pengusaha amerika yang bermukim di Solo. Beliau sudah pulang ke negara asal.Perpustakaan adalah kenang-kenangan dari beliau.

Setiap hari Jum’at sore dan Minggu sore diadakan kegiatan English Speaking. Pengunjung perpustakaan ini bermacam, mulai : anak-anak yang mencari buku cerita, remaja yang suka novel atau orang paruh baya yang suka buku yang berat. Ada yang sekedar baca, belajar bahasa inggris atau nonton TV kabel.

ganesha-7
Suasana di dalam Perpustakaan

Perpustakaan Ganesha ini suungguh menyenangkan. Ruang Baca dan Diskusi dilengkapi dengan AC. Kita bisa lesehan bersandar bantal yang besar dan empuk. Kalau mau belajar bahasa Inggris disediakan perangkat audio visual. Semua fasilitas GRATIS TIS TIS…….!!!!

ganesha-1
Belajar Bahasa Inggris via TV kabel

Kalau mau internet juga disediakan fasilitas Wifi . But, Internet bukan prioritas utama disini. Internet adalah fasilitas pelengkap. Kegiatan utama disini adalah membaca, berdiskusi dan belajar. Semua dibuat senyaman mungkin sehingga pengunjung betah untuk berlama-lama di Perpustakaan.

Perpustakaan ini hadir karena keprihatinan minimnya perpustakaan umum di Solo. Karena berbeda dengan negara asalnya yaitu Amerika. katanya, Orang Amerika suka pergi ke perpustakaan dan baca buku. Oleh karena itu, Dia bangun perpustakaan umum dan siapapun boleh datang kesini mulai baca, diskusi dan pinjam buku. Namun sebenarnya, Perpustakaan umum bukannya tidak ada.

ganesha-4
Rak Buku

Setiap pemerintah daerah memiliki Perpustakaan Daerah ( Perpusda). Perpusda ini biasanya hanya ada satu di setiap daerah. Makanya, Setiap kelurahan juga dibuat “pojok buku”. Semua itu untuk meningkatkan budaya membaca buku di masyarakat.

Seandainya banyak bermunculan perpustakaan umum yang sejenis dengan perpustakaan ganesha. Itu sangat menyenangkan. Baca buku menjadi gaya hidup. Baca Buku membuat hidup lebih berwarna. Wawasan yang luas membuat kita lebih bijaksana. Kata orang begitu. hehehehe…!!!!

ganesha-2

ganesha-5

 

MEMAHAMI FILSAFAT

Filsafat UmumSaya ambil foto diatas dari sini

Judul : Filsafat Umum (Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Chapra )
Pengarang : Prof. DR. Ahmad Tafsir
Tebal Buku : viii + 276 halaman
Cetakan ke : 19
Tahun : 2012
Penerbit : PT REMAJA ROSDAKARYA
Jl. Ibu Inggit Ganarsih No : 40 Bandung 40252

Filsafat adalah sesuatu yang sangat sulit dipelajari. Sayang, buku yang kelas berat biasanya menggunakan pendekatan filsafat. Kita ambil contoh buku MADILOG merupakan buku masterpiece dari TAN MALAKA. Saya sulit sekali memahami, hehehehe…!!!!! Otak sudah mampet atau karena tidak paham filsafat.

Bagian awal MADILOG, Tan Malaka bicara tentang Filsafat Idealisme dan Materialisme. Saya yang tidak punya pengalaman dengan filsafat nekad membaca. Hasilnya adalah kebingungan. Karena tidak memiliki dasar apapun tentang idealisme atau materialisme.

Kesimpulannya, saya harus buku pengantar filsafat dulu. Buku pengantar ini agar ada “benang merah” ketika membaca buku kelas berat. Makanya kita menganggap ada buku level “kudapan” dan level “berat”, karena kita tidak ada jembatan penghubung yaitu pemahaman filsafat.

Filsafat itu seperti senjata. Apabila digunakan untuk kebaikan maka mendatangkan kemaslahatan. Karena kita diajak berpikir mendalam sampai inti masalah. Filsafat bersifat “relatif “. Filsafat maka bisa untuk mencari-cari “alasan pembenaran” tindakan kita meski itu tidak tepat.

Nah, ada buku yang mudah dicerna dan menjembatani menuju pemahaman filsafat. Judul bukunya adalah FILSAFAT ILMU. Buku yang ditulis oleh Prof Ahmad Tafsir, seorang guru besar di UIN SUNAN GUNUNG DJATI. Buku ini lumayan lengkap.

Beliau menulis dengan bahasa yang sederhana dan ringkas. Kalimatnya pendek dan langsung ke tujuan. Beliau menulis filsafat dari perspektif sejarah. Filsafat sejak zaman Yunani yaitu Thales sampai ke filsafat post modernisme. Karena buku ini berawal dari Diktat kuliah maka cukup lengkap.

Menurut beliau, Para filosof atau pecinta kebijakan telah beradu argumen dan berdiskusi sejak lama. Perdebatan diantara mereka berkutat konflik antara idealisme/agama dan akal/materialisme.

Era Socrates, Agama atau keyakinan yang memenangkan meskipun harus dibayar mahal. Karena Socrates dihukum mati. Abad pertengahan maka agama yang menang mutlak. Kemudian lahir Descartes sebagai tokoh rasionalisme terus berkembang era post modernism . Beliau tidak lupa menyinggung perkembangan filsafat di dunia Islam.

Buku ini tidak lepas dari subyektivitas penulis. Misal, beliau menulis secara kritis tentang filsafat pragmatisme yang didirikan oleh William James yang seorang psikolog ( anak psikologi mesti tahu nih. Hehehehehe…!!!!). Filsafat yang mendasari negara Amerika Serikat. Beliau juga mengkritisi Jean Paul Satre sebagai tokoh filsafat Eksistensialisme. Jean Paul Satre yang sangat atheis, menurut beliau.

Buku yang sudah ada pendapat subyektif penulis menjadi tidak asyik. Buku itu cenderung segmented. Tapi nggak masalah lah. Kalau masih buta sama sekali filsafat buku ini recommended. Karena penulisannya sangat simpel dan mudah dipahami. Saya yang bingung dengan filsafat agak sedikit ngeh.

Kalau boleh saya sebut, buku ini adalah INTRODUCTION OF PHILOSOPHY FOR DUMMIES. Itu yang terjadi pada saya. Hehehehe…!!!! Kalau ada salah penulisan diatas dalam bahasa inggris, saya minta maaf ya. Sekian terimakasih

BUDAYA MEMBACA

Dahulu, ketika saya masih mahasiswa. Mahasiswa baru intens masuk perpustakaan ketika mengerjakan skripsi. Kalau hanya duduk berjam-jam hanya membaca buku. Rasanya sangat membosankan sekali. Endingnya adalah tertidur sambil memegang buku. Padahal bukunya belum tentu terbaca. Sama saja dengan saya. Hehehehe..!!!!

Membaca itu ternyata sebuah kebiasaan. Kalau yang addict bisa jadi kebutuhan, kalau yang gaya doang paling banter ditenteng. Era sekarang sedikit berbeda. Buku yang dibawa bukan buku biasa, namanya e-book. Bukunya berbentuk file yang tertanam dalam gadget. Kalau baca tinggal buka gadget dan baca. Kalau saya sering berakhir dengan ber-sosmed ria.

Banyak sekali buku diterbitkan mulai resep makanan, novel sampai dengan Tips & Trik SEO. Ini adalah tanda dari peningkatan minat baca.  Heehehehehe…!!!! Alhamdulillah, kita sudah punya budaya membaca yang lebih baik. But, saya belum tahu budaya membaca yang baik itu bagaimana?

Bangsa Israel adalah bangsa yang suka membaca. Paling tidak menurut blog izzatunissa. Saya setelah blogwalking ternyata mereka gila baca. Merek benar-benar gila. hahahahaha…!!!!!! Mereka membaca langsung dari buku yang tebal-tebal dan butuh mikir. Itu bagian yang sulit. brrr….!!!!!

Coba baca kutipan dari blog izzatunisa :

Saya sedang membuka chapter dua puluh lima buku di tangan ketika seorang bapak berusia tiga puluhan bangkit berdiri dan mengambil smartphone dari tangan anak lelaki yang saya taksir berusia Sembilan atau sepuluh tahun, dengan bahasa yang saya tidak mengerti sang ayah seolah menasihati anaknya untuk tidak berlama-lama berkutat dengan game di telepon genggam canggihnya.
Bangsa jewish yang menemukan smartphone namun membatasi penggunaan smartphone. Lha iki piye..!! mereka yang cerdik, kita yang dibanjiri smartphone. Tulisan mbak izza memang kasuistik tapi menarik. Karena mereka lebih suka baca dari buku yang berat di otak saya.

Si sulung membaca novel kontemporer karangan John Green, sang ibu membaca buku setebal kurang lebih dua ratus halaman, dan entah apa yang dibaca sang ayah, namun kesamaannya adalah buku mereka sama-sama ditulis dalam bahasa Ibrani (Hebrew). Sang kakak sulung untuk menghentikan adiknya yang merajuk membongkar tasnya dan merogoh buku bacaan lain dan menyodorkannya ke si adik kecil usia Sembilan tahun.

Ini yang mengerikan sekali. Mereka menunggu penerbangan di Bandara. Dalam keadaan yang sama (menunggu jadwal penerbangan). Saya pilih ngobrol dengan orang yang duduk disebelah saya dan saya yakin jika istri pilih tidur sedangkan . Wah, sulit sekali dilakukan buat kami. Hahaha…!!!

Kalau orang kepepet biasanya akan berjuang. Bangsa Israel juga begitu. Jumlah mereka nggak banyak hanya sekian persen dari total penduduk dunia. Sadar jumlahnya sedikit maka harus maju. Mereka mengawali dengan membentuk kebiasaan yang progresif. Salah satunya adalah membaca.

Budaya membaca mereka sudah di tingkat advance. Mereka membaca bukan sekedar mencari hiburan. Mereka membaca bukan gaya-gayaan. Meski awal budaya membaca bisa diawali dengan gaya-gayaan. Mereka membaca sudah jadi kebutuhan. Kayak manusia kalau tidak makan ya lapar.

Dulu pernah geger di jagad maya. Mark Zuckerberg berencana membaca buku Muqaddimah karya Ibnu Battutah. Buku opo iku? Anak itu sudah kaya dan hidup nyaman kok susah-susah amat mau baca buku kayak gitu. Lha apa manfaatnya? Mungkin, Otak saya yang belum bisa memikirkan. Begitu kiranya khusnudzon saya. Hahahaha….!!!!!

Apa ya saya bisa ? mempunyai budaya membaca tingkat advance. Bangsa Israel sudah memilih jenis bacaan lebih berkualitas dan dilakukan oleh anak kecil lho bukan mahasiswa. Emang aneh bangsa Israel itu ya.

Baca komik itu penting untuk nutrisi otak kanan, baca berita gosip itu “harus” agar selalu update. Tapi kalau saya hanya baca buku sekelas “jajanan pasar”. Apa saya ya tambah pinter?

Wah, jadi ngelantur nih. Saya hanya ingin kontemplasi saja. Jangan sampai saya hanya suku baca “judul berita” saja dan nggak peduli isinya. But, baca MADILOG karya TAN MALAKA saja sulit sekali saya pahami.

Emang otak saya sudah mampet atau masih harus dilatih dengan bacaan rumit. So, dengan buku berat bisa nyambung dan nggak pusing. Ibarat mobil sudah terbiasa tanjakan. Kayaknya itu perlu latihan . hehehehehe…!!!!

Marilah kita baca buku. Apapun bentuk bukunya mau yang asli atau e-book. Mulai dari yang santai sampai serius. Mulai Koran sampai buku tebal. Mulai komik sampai karya sastra. Mulai yang fiksi sampai science.

lha kok sulit tenan ya. 😀