Passion itu Penting

Kemarin, saya blogwalking ke tempat mas Ryan. Beliau sedang nulis tentang Passion gitu. Apa itu passion? Tulisannya panjang dan ada disini . Singkat cerita, Saya mau cerita kisah  “mama” a.k.a istri saya. Kalau menurut saya, dia mengikuti Passion-nya. OK, saya coba cerita. hehehehehe…!!!!!

Mama itu ketika awal menikah dengan saya masih berstatus Dosen PNS di sebuah Perguruan Tinggi Negeri di Solo. Solo itu daerah pedalaman Jawa, budaya jawa yang kental. So, menjadi PNS adalah kebanggaan tersendiri.

Semua bilang, saya beruntung dapat istri PNS dan dosen lagi. Kesejahteraan tentu terjamin dan apalagi ada pensiun. So, masa tua bukan masalah. hahahaha….!!!! Ini tipikal sekali di daerah. PNS adalah segala-galanya, tidak masalah jika kamu adalah seorang pesuruh atau bos. Pokoknya PNS.

Mama itu lulusan Universita Indonesia (UI). Dia lulus jenjang S1 dari Fasilkom UI angkatan 1999.  Sebelumnya, Mama bekerja di Penerbitan besar di Jakarta tahun 2003. 2005, mama pulang kampung ke Solo karena diterima sebagai Dosen PNS di PTN. 2007, Mama berangkat ke Jakarta lagi untuk menempuh pendidikan S2 di Fasilkom UI.

Praktis, Sebagian besar kehidupannya di Jakarta. 2011, Dia menikah dengan saya artinya  pulang kampung lagi. Anak kami lahir mei 2012. Ketika sedang seneng-senengnya punya anak. Dia minta resign dari Dosen PNS. Duarrrrr…..!!!!! hehehehhehe…!!!!

Keadaan jadi kacau balau. hehehehe…!!!! Buat saya, Itu pilihan mama. Kalau Mama bekerja itu jadi pahala buatnya. Mama pengin keluar itu hak dia. Karena kewajiban kerja khan di saya. But, soal penghasilan cukup atau tidak. Allah sudah mengaturnya. hehehehehe….!!!!

Bapak Ibu mertua dan Bapak Ibu saya sendiri yang bingung. Mereka semua adalah PNS. PNS khan masih bisa bisnis tanpa harus resign dulu. Lha kok ini mau keluar. Maunya apa? Semua bingung dengan keputusan Mama.

Saya coba nanya-nanya ke Mama, “Kenapa mau resign ma?”. Jawab mama, “Mama nggak nyaman mengajar, kurang sreg yah”. “Mama kalau mengajar kurang sreg selalu ada yang kurang”, tambahnya.

Mama itu orangnya total. Kalau sudah terjun di suatu bidang harus dikerjakan dengan sungguh-sungguh. Mama merasa sudah berusaha semaksimal mungkin kok tidak sreg. Mama nggak ada minat sama sekali meskipun ada kemampuan menjadi Dosen.

Pusing saya, kok nggak betah napa ya? Mama cuman pernah cerita kalau suka mainan anak. Sewaktu masih mahasiswa , mama suka lihat deretan mainan di etalase di Mall.Mama emang cuman lihat tapi hatinya puas. Apa ini Passion? hehehehe…!!!!!

Mama sudah hafal pabrikan mainan anak misal: fisher price, bright start atau leapfrog sampai Little tikes. Keunggulan dan kelemahan pabrikan sudah hafal diluar kepala. Karena punya anak, Mama ada alasan untuk menekuni kembali dunia kecilnya.

Mama mau beli mainan buat si Ifa musti browsing dulu, baca review, cara pemakaian, dan bahaya dsb. Pokoknya lengkap deh, sampai hal-hal yang tidak kepikiran orang lain. Dia mesti lakukan. “Rasanya puas”, kata mama.

Suddenly, Mama bilang ke saya mau buat rental mainan setelah resign. Hahahahaha…!!!! Pusing kepala saya. Dunia yang jauh dari saya bahkan mungkin sama sekali baru. Gimana mau mengawali. Coba aja, gak usah dipikir panjang . Kalau Mama sudah mantep tinggal saya dukung.

Karena sudah tekad bulat. Mama akhirnya resign tanpa ada plan B. Pokoknya resign dulu alias Terjun Bebaaaaaaasssss…!!!! Pokoknya nekad abis. Plan A cuman satu yaitu  buka usaha rental mainan. Sulit dipahami buat saya. Maklum, Warga kota kecil yang kuper. hahahahaha…!!!

Apa ada yang nyewa? Siapa yang nyewa? beli mainannnya dimana? kalau rusak terus gimana? Ada yang jual spare part-nya? Buka toko atau percetakan masih bisa kebayang gimana-gimanya. Ini rental mainan, sama sekali masih buta. Buat saya….!!!!! hehehehehe

Akhirnya, Passion mengambil alih dari sini. Mama sudah passion di dunia anak khususnya di mainan anak dan perlengkapan bayi. Alhamdulillah,  jaringan internet sudah tersedia di rumah kami. So, dua modal utama hanya Passion dan Internet.

Mama selalu browsing siang malam tentang rental mainan. Mulai dari pelaku usaha rental mainan di kota besar semacam Jakarta, Bandung dan Surabaya. Dia pelajari berbagai jenis mainan yang disewakan, harga, cara menyewakan,  promo dan sampai dengan sejarah perjalanan usaha mereka. Mama pelajari semua itu.

Lha mana contoh rental mainan di kota kecil? hehehehehe….!!!! Sangat terbatas je. Kebanyakan di kota besar. Ada juga menawarkan franchise. Franchise? Buat mama, Big NO NO NO. We’ll build from the scratch *Halah. hehehehe…!!!!

Mama catat yang menjadi poin-poin penting. Mama mulai buat sistem sewa, aturan denda yang dituangkan dalam SOP, prosedur pengantaran mainan. Mama mulai memilih jenis-jenis mainan yang akan disewakan berdasarkan pabrikan, umur, edukatif dan non edukatif dsb. Mama mulai mencari toko yang menjual mainan baik secara online atau offline.

Mama berdiskusi dengan saya siang dan malam. Persiapan pembuatan rental, sistem antar jemput, uang jaminan sampai perawatan dan perbaikan jika mainan rusak dan penyimpanan. Tidak mentor atau contoh usaha yang memadai. Kami melakukan improvisasi saja. Kalau ada tidak seperti yang kami inginkan.

Tahap persiapan ini dilakukan ketika mama sudah resign dan hanya di rumah saja. Anak usia 5 bulan. Mama selalu melakukan persiapan. Jika rasa bosan menghinggapi maka diselingi membuat MPASI buat si Ifa atau masak untuk orang serumah. Hikmahnya, Ifa lulus S2 ASIX dan sukses mengkonsumsi MPASI sebenarnya. Lha, dia dijaga terus oleh mamanya.

Saya kerja dengan penghasilan pas-pasan saja. hehehehehehe…!!!!!! Pokoke nekad. kita belum tahu potensi pasar di Solo. Kami melakukan karena ingin mandiri dan rasa cinta mama yang besar terhadap mainan. Kata orang itu Passion.

Kami benar-benar buta tentang peluang pasar. Kami masih buta tentang calon konsumen. Semua hanya nekad dan berbekal tekad saja. Pegangan kami populasi anak semakin lama semakin bertambah. Itu peluang kami. hehehehe…!!!!

Saya inget mainan pertama kami yaitu Roller Coaster. Kami beli secara online dengan harga jutaan. Dag dig dug, nyampai nggak di rumah? itu modal kami. Alhamdulillah, sampai juga. Little Tike Cozy Coupe itu mainan kedua dan seterusnya.

Proses Merakit Mainan

Sewaktu beli Little Tikes Cozy Coupe, kami membeli dari bentuk komponen terpisah. Kami berdua nggak ada pengalaman sama sekali merakit mainan.  Passion yang meledak-ledak, kami mencoba merakit dengan hati-hati meski harus nonton YOUTUBE dulu berkali-kali.

Little Tikes Cozy Coupe

( Mainan yang kami rangkai pertama kali)

Mama memasarkan rental mainan secara fully online. Mama memakai Facebook dalam memasarkan. Mama mulai add friend, nge-tag, menawarkan dan melakukan transaksi sendiri melalui FB. Mama lakukan sendiri sampai begadang-begadang. Hampir setiap hari jam 3 pagi. Kalau sekarang sudah nggak lgi.

Mama membutuhkan showroom untuk menggelar dagangannya. Karena rumah kami kecil. Mama merancang showroom dalam dunia maya. Mama yang merancang, mama yang ngoprek blogspot menjadi website. Mama selalu meng-update website sampai sekarang. Bahkan, pelanggan ada yang bilang jika mainansolo adalah website rental yang paling update sampai sekarang.

Mama juga yang membayar domain dan hosting. Mama yang merancang dan memasukkan data ke website. Mama bekerja mulai proses perancangan sampai menjadi operator. Mama lakukan sendiri. Ilmu yang diserap di Fasilkom ada manfaanya disini. hehehehe….!!!!

Teknik Marketing juga 🙂

Mama melakukan dengan sepenuh hati dalam setiap proses bisnis. Kontak HP,BBM dan WA mulai bertambah seiring perkembangan di website dan FB. Mama melayani layaknya Customer Service di Perbankan namun tidak bertatap muka.

Unik, Mama hanya mau melayani pelanggan secara tertulis. Jarang sekali, mama mengangkat telepon dari pelanggan. Kalau bertemu dengan pelanggan itu bagian saya. Ini dilakukan sampai sekarang. Saya pegang bagian Delivery dan perbaikan. Mbak Warti (ART) pegang bagian perawatan. Ifa menjadi bintang iklannya. hehehehe….!!!!!

Kalau ada mainan atau perlengkapan bayi baru biasanya di-upload ke FB atau website. Awalnya, mama menggunakan gambar resmi dari pabrikan. Iseng-iseng, Mama foto mainan baru dengan Ifa sebagai modelnya. Selesai foto kemudian di-upload ke Website, FB dan BB. Ternyata responnnya bagus karena sifatnya riil.

Ifa menjadi model iklan kami. Setiap mainan baru yang sesuai dengan umrnya mesti difoto dengan Ifa sebagai modelnya. Akhirnya, Ifa ikut andil dalam usaha kami. Semua terlibat mulai Mama sebagai bosnya, Saya, Ifa dan Mbak warti sang ART.

Ifa

Saya mengantar mainan hampir setiap hari. Saya hafal jalanan di Solo karena tugas ini. Saya bertemu dengan berbagai macam pelanggan. Kalau mama bertemu secara tulisan, saya yang bertemu langsung dengan pelanggan. Saya punya pengalaman banyak keluar masuk rumah kecil sampai rumah gedongan.

Rasanya memang lelah namun menyenangkan. Suka dan Duka memang selalu ada. Kemampuan kami diuji dengan seiring perkembangan usaha. Usaha berkembang berarti masalah semakin banyak. Karena Passion Mama tadi, kami menjalankan dengan baik-baik saja.

ART ( Asisten Rumah Tangga) kami juga merasa senang. Dia mendapat uang tambahan karena usaha kami. Dia yang di bagian perawatan. Setiap mainan pulang maka dia yang mencuci dan setiap mainan mau disewa maka dia yang menyiapkan.

Kakak sepupu istri juga mulai bantu. Dia yang mengantar mainan dan saya menjadi pendamping saja. Awalnya, saya ajak dulu antar mainan. Sekarang, kakak sudah mampu keliling sendiri.

Saya tidak ikut keliling lagi. Kalau yang diantar terlalu banyak. Baru, saya ikut keliling dengan mobil sendiri. Jadi yang jalan adalah dua mobil. Mainan sudah memenuhi rumah kami. Daftar pelanggan semakin panjang di  gadget Mama.

Mama lebih bahagia saat ini. Meskipun, sebenarnya lebih berat. Mama bekerja karena Passion. Mama mempunyai energi yang besar karena bekerja dari A to Z. Segala hambatan hampir semua menjadi tantangan. Jujur, hambatan tetap sesuatu tidak enak tapi dihadapi dengan sikap lebih baik.

Mama masih berburu mainan baru. Karena harus berkembang terus. Mama selalu browsing dan melayani pelanggan sendiri. Mama sudah mulai jarang pakai FB. Mama cukup pakai DP di BBM atau WA untuk menawarkan mainan. Sekali pasang, biasanya sudah ada yang minat.

Jam kerja mama adalah 24 jam.  Masalah yang dihadapi mulai kompleks. Resiko semakin besar. Semua dijalani dengan gembira. Mama sudah menemukan “Dunia”-nya. Mama sukses mengembangkan Passion. Setia dengan Passion kadangkala harus diperjuangan secara Nekad. Hehehehehe…!!!!

 

 

JUST DO IT

Saya dan “mama ifa” sarapan bersama pagi ini. Kami mesti ngobrol sembari sarapan. Topiknya bisa tentang bisnis, kuliner, resep masakan, travelling sampai dengan anak. Dua hal yang jarang kami diskusi yaitu tentang politik dan aktivitas kantor saya.
Maklum, sudah full mother  dan saya kerja di kantor juga santai.hahahahaha……!!!! Kami tidak terlalu memusingkan kantor. Lebih suka bahas tentang makanan dan travelling.
Saya nanya ,  “ma, dulu belajar masak dari eyang putri ya?”. “kadang nanya-nanya resep sih”, jawabnya. “Tapi resep rahasianya ya kliping resep masakan”, tambahnya.
Kliping masakan itu adalah kliping yang dibuat olehnya sewaktu masih di SMA. Kliping berasal dari resep masakan yang ada di koran kompas dan tabloid nova era 90-an.
Sungguh, mama tidak kepikiran kalau kliping ini akan sangat berguna kelak. Mama khan masih belum terlalu suka masak saat itu. Dia hanya suka aja buat kliping. Prinsipnya adalah  Just Do It.
Satu dekade kemudian, dia buka klipingnya dan mulai mencoba untuk memasak. Semakin lama mama semakin ahli . Kliping tersebut sudah ditinggal. Mama terus memasak. Sumber ilmunya berkembang merambah dunia maya.
Kadang kita sering rewel. Kita hanya meributkan sesuatu, sibuk mendebat dan cuman mengkritik. Padahal, tidak melakukan apapun yang nyata.
Kita jadi NATO ( no action talk only). Kita sering berdebat tentang rencana dan aksi. Mana dulu yang didahulukan? Kayak ngomong tentang telur dan ayam, tidak ada realisasi.
Kita sangat ahli untuk hal ini. Kita adalah manusia Indonesia. Apakah kita seperti itu? Hanya kita sendiri yang bisa jawab. Pokoknya, Just Do It.
Kita kadang berpikir pendek atau tidak sabar, maunya instan. Manfaat tentu tidak hadir seketika.  Proses mesti panjang. Prosesnya dinikmati saja sembari berdoa. Semoga ada manfaat kelak di kemudian hari. Kalau yang kita lakukan positif, hasilnya Insya Allah Positif juga.
Surakarta, 29 Agustus 2014

Resep Bahagia

Kita pernah denger nama Pepeng. Komedian yang menderita sakit multiple sclerosis. Beliau hanya bisa terbaring di tempat tidur. Beliau meski sakit tetap menulis dengan laptopnya. Menulis memberi semangat hidup bagi dia. Ternyata, manfaat menulis bukan hanya memperdalam pemahaman juga menjaga kesehatan. Lho kok bisa?
Kakek saya menderita diabetes melitus sejak tahun70-an. Sampai beliau harus pensiun dini dari dinas kepolisian. Beliau kembali ke hobi lama yaitu bertani. Setiap hari bertani di sawah dan disiplin mengkonsumsi obat. Beliau meninggal dunia di akhir 90-an. Bertani ternyata membuat panjang umur dan badan jadi sehat.
Intisari dari dua kisah di atas bukan tentang menulis atau bertani. Intisari kedua kisah di atas adalah melakukan sesuatu yang anda sukai maka akan membuat anda bahagia. Bahagia membuat anda sehat. Itu karena kerja Hormon Serotonin.
Apa itu serotonin? Hehehehehe…..Buat tulisan besok aja deh. Ternyata mempunyai hobi itu penting. Dahulu, saya tidak memahami manusia yang menghabiskan tenaga, pikiran, waktu dan harta untuk hobi. Saya baru memahami bahwa hobi yang membuat hormon serotonin bekerja sehingga anda bahagia.
Hehehehehehe…..!!!!!!! Yang penting hobi yang manfaat untuk sekitar. Hobi mencuri? Jangan…..!!!!! Kleptomania kata orang. Hobi tidak harus mahal dan prestisius. Bisa-bisa hanya gengsi doang. Ukurannya memang tipis dan kasuistik.
Hobi itu yang positif. Ada yang hobi membantu sesama, sering disebut filantropi. Menulis memberi pencerahan. Berkebun menjaga lingkungan. Travelling membuat kita lebih toleran dengan perbedaan. Pokoknya punya hobi. Jangan sampai hidup anda kering dan mati gaya karena hidup yang tidak seimbang.
Surakarta, 27 Agustus 2014