Thengkleng Mbak Diah Solobaru

Kalau anda makan sate kambing yang kita nikmati adalah daging kambing. Kalau makan nasi kabuli maka yang disajikan juga daging kambing. Berbagai olahan kambing banyak dari daging. Tulang Kambing digunakan untuk membuat kaldu yang enak atau diambil Sumsumnya.

Padahal, bagian dari tubuh kambing masih ada berbagai macam misal: Iso, Babat, Jantung, Hati, Paru, Kepala Kambing, Isi Kepala Kambing, Kaki Kambing, Iga Kambing dsb. Apakah semua bagian selain daging atau Iga dibuang? Kalau dibuang ya sayang. Kita masih bisa mengolahnya.

Kita olah dengan bumbu gulai dan santan yang maka jadilah jenis masakan yang lezat yaitu Thengkleng. Thengkleng mirip gulai namun kuahnya  agak bening dan terasa segar. Thengkleng isinya minoritas daging namun mayoritas berisi Hati, Babat, Iso, Kepala dan Isi Kepala Kambing, Tulang-Belulang Kambing dan Kikil.

Hmmm…!! Isinya semua barang sisa. Bagaimana rasanya ya? Rasanya lezat  penuh dengan kolesterol. Kalau penggemar bisa nambah dan nambah lagi. Jika makan tulang dengan cara disesap-sesap  sehingga keluar sumsumnya. Kalau penggemar thengkleng udah sakit Jantung maka Dokter bilang, “Dilarang makan Thengkleng lho pak”.

Thengkleng ini popular di daerah Solo Jawa Tengah dan sekitarnya. Sejarah Thengkleng ini mirip dengan Sate Kere atau Kopi Aiwa di Sumatra. Pada jaman penjajahan, Hidup begitu susah sehingga makan daging sangat mewah. Apabila sudah kepepet maka muncul kreatifitas, muncul jenis makanan baru yaitu Thengkleng, Sate Kere atau Kopi Aiwa. Jenis masakan baru dari sisa.

Sekarang, Thengkleng dinikmati lintas strata sosial mulai dari orang paling kaya sampai kalangan bawah. Bahkan Thengkleng menjadi kuliner mewah saat ini. Semua menyukai Thengkleng. Thengkleng mengalami social jumping. Salah satu penggemar thengkleng adalah keluarga Cendana. Konon, Keluarga Cendana memesan setiap bulan satu kuali thengkleng masa Orde Baru berkuasa.

Makan Siang di Thengkleng Mbak Diah Solobaru

Thengkleng yang dipesan keluarga Cendana berasal dari Solo. Thengkleng Mbak Diah yang terkenal. Mereka kirim ke Cendana satu bulan sekali. Pemilik usaha thengkleng aja belum pernah naik pesawat. Lha ini, Thengklengnya malah sudah wara-wiri ke Jakarta naik pesawat. Maklum, Harga tiket pesawat mahal banget sebelum era Low Cost Carrier. Kalau bukan pejabat atau orang kaya tidak mungkin naik pesawat di era 90-an.

Kalau anda punya hajatan. Anda bisa pesan di Mbak Diah. Anda bisa pesan satu kuali besar Thengkleng. Harganya kisaran 1 juta/kuali. Mahal? Sekali lagi relatif. Setiap hajatan atau kondangan maka thengkleng jadi favorit. Habis dalam sekejap. Rasa-rasanya, Kalau nggak ada kondangan nggak akan bisa makan thengkleng.

Siapa mau yang bayar 1 juta hanya buat Thengkleng? Hehehehehe….!! Ternyata kita bisa menikmati thengkleng tanpa harus menunggu hajatan atau keluar uang 1 juta-an. Nasib mujur, saya menemukan warung thengkleng mbak Diah di kawasan Solobaru.

Lama nggak kedengaran “Thengkleng Mbak Diah” atau saya yang kuper. Saya menemukan warung itu baru satu atau dua tahun ini. Warungnya besar dan mempunyai pelanggan banyak. Ada dua penjual Thengkleng Legendaris di Solo yaitu Mbak Diah dan Thengkleng Pasar Klewer.

Harganya relatif murah yaitu 28 rb/mangkuk. Kita tidak mungkin menghabiskan satu kuali atau uang 1 juta untuk thengkleng. Satu Mangkuk thengkleng mengobati kerinduan akan thengkleng. Satu thengkleng minimal berisi satu tusuk babat, hati, Iga dan tulang. Rasa dan harga yang pas.

Satu Mangkok Thengkleng

Kalau mau menu tambahan ada Nasi Goreng Kambing, Tongseng atau Sate. Saya pas kesitu nambah satu piring nasi goreng kambing plus iga goreng. Satu piring nasi goreng kambing plus-plus seharga 20 ribu. Harganya cukup terjangkau.

Nasi Goreng Kambing + Iga Kambing Goreng

Kalau minat anda aktifkan Google Maps atau Waze anda dengan kata kunci : Tengkleng Mbak Diah Solobaru Sukoharjo Jawa Tengah. Setelah aktif, Ikuti petunjuk dari Waze atau Google Maps anda.  Apabila anda lebih menyukai HP old style. Anda cari patung PANDAWA LIMA di perempatan Solobaru. Kalau sudah ketemu, silahkan berjalan ke arah utara sampai menemukan patung Soekarno yang berada di tengah perempatan. Cari Apotik TANJUNG ANOM di sebelah barat badan jalan. Lokasi Warung Thengkleng Mbak Diah ada di belakang apotik TANJUNG ANOM.

Jika anda mencari di kawasan Solobaru dan menemukan gedung diatas Anda sudah berada di kawasan Thengkleng “Mbak Diah”

 Harga menu di Mbak Diah cukup rendah untuk Kuliner Legendaris. Kita merogoh kocek yang sama maka di Thengkleng Mbak Diah mendapat dua menu namun di tempat lain yang Legendaris di Solo maka hanya dapat satu menu, misal: Pak Manto, Mbok Galak atau Hj. Bejo.

Silahkan Mencoba……!!!!

Mie Mbah Blangkon

Warung makan yang menyajikan menu mie ada dua genre yaitu genre jawa dan cina. Kalau mie yang bergenre cina biasanya terasa lebih plain dan genre jawa terasa taste yang njawani. Rasa yang manis lebih kuat daripada asin atau gurih.

Mie Jawa sudah tersebar di pulau Jawa bahkan di luar jawa. Sajian ini adalah hasil akulturasi budaya jawa dan cina. Karena kita tahu bahwa mie berasal dari cina namun diolah dengan taste orang jawa. Ini adalah khasanah perkulineran Indonesia.

Kalau bicara kuliner maka yang saya tahu adalah Jawa, Cina dan Minang.Ketiga suku bangsa ini mempunyai tradisi kuliner yang turun menurun. Karena khasanah kuliner tiga suku bangsa ini relatif sudah menyebar di Nusantara.

Khasanah kuliner Jawa tersebar karena para pendatang jawa yang menyebar ke seluruh nusantara. Kuliner minang karena para perantauan orang minang. Mereka adalah bangsa perantau. Kuliner cina karena orang Cina telah berkelana ke seluruh penjuru dunia. Jadi, kuliner cina lebih mendunia.

Saya tidak menafikan khasanah kuliner diluar ketiga suku bangsa ini. Karena untuk ukuran solo yang masih termasuk kota kecil . Khasanah dari ketiga suku lebih mendominasi. Kuliner di luar tiga suku itu masih minoritas di solo. Paling tidak itu menurut saya. hahahaha…!!!! Semua mempunyai penggemar fanatik.

Warung mie yang saya kunjungi kemarin malam, bergenre jawa. Warung mi “Mbah Blangkon” . Lokasinya adalah di sebelah barat Underpass Makamhaji. “Mbah Blangkon” terletak 500 m dari Underpass Makamhaji di sebelah kiri jalan. Warung mie “Mbah Balngkon” mempunyai dekorasi tempat yang didominasi dengan bambu, selayaknya warung bambu.

dekorasi
Warung Bambu

Warung mie “Mbah Blangkon” hanya melayani tiga menu dasar yaitu mie goreng, mie godog (pent : rebus) dan nasi goreng. Tidak ada menu lain diluar tiga menu dasar. Kita tidak bisa pesan selain ketiga menu apalagi capjay, kulit goreng atau jeroan goreng.

Warung mie ‘Mbah Blangkon” menyediakan isian untuk ketiga menu dari berbagai bagian tubuh ayam mulai kepala, sayap, ati rempela, uritan , paha ayam, dada. Pengunjung bebas memilih isiannya. Bisa saja, pesannya sama nasi goreng tetapi isiannya berbeda. Menu dasar tanpa isian harganya RP 14.000,- dan Rp 18.000,- apabila dengan isian.

Saya dan istri mempunyai pesanan sama tetapi isian berbeda. Saya pesan nasi goreng isi uritan dan istri pesan nasi goreng isi ati rempela. Porsi juga tidak terlalu banyak. Hidangan malam dengan porsi pas, tidak terlalu sedikit namun tidak terlalu banyak. Anak saya dipesankan mie godog.

nasi goreng
Nasi Goreng
mie godog
Mie Godog

Cara masak dengan genre jawa yaitu menggunakan anglo. Anglo itu kompor yang terbuat dari tanah liat dan menggunakan arang sebagai bahan bakarnya. Kata orang dulu, Apabila memasak dengan arang maka masakan lebih mantap daripada menggunakan kompor gas atau minyak. Karena hawa panas merata dan konsisten.

memasak
Wajan diatas Anglo

Ada satu khasanah kuliner nusantara di kota solo tapi minoritas yaitu Kuliner Banjar. Kuliner yang dibawa oleh perantauan dari orang Kalimantan, khususnya berasal dari daerah sekitar Banjarmasin. Tapi, besok aja deh. Hehehehe…!!!!!