Kreativitas Sang Istri

Kita masih mau ngobrol kreativitas menghadapi problematika hidup. Beberapa orang mengeluh harga cabe yang melonjak tidak karuan. Harga cabai pas mahal-mahalnya saat lebaran. Kadang turun drastis nyungsep ke tanah. Saya nggak paham kok bisa gini. Harga cabai bergerak layaknya Roller Coaster.

Kedelai, Cabai, Gula dan Beras yang disebut dengan Sembako (Sembilan Bahan Pokok). Hmmm…. Harganya naik-turun nggak karuan. Beda cerita, Kita pergi ke Dufan dan naik Roller Coaster. Semakin cepat naik dan turun maka semakin menyenangkan.

Harga sembako yang naik turun. Itu bisa bikin nangis bombay. Ibu yang cermat dan teliti di keuangan keluarga akan pusing tujuh keliling. Harga yang naik –turun secara cepat bisa merusak perhitungan. Padahal, uang sudah diplotting pos-pos tertentu. Apa harus mencomot pos keuangan yang lain ?

The Power of Kepepet. Agar muncul kreativitas kadang harus dipepet dengan keadaan. Saya acungi jempol kepada ibu rumah tangga yang tidak bekerja di luar rumah tapi kreatif. Mereka hanya menerima gaji  dari sang suami. Gaji yang seringkali sudah tidak utuh pas diterima. Karena sudah dipotong disana-sini. Maklum, hutang masih menumpuk.

Karena saya adalah bagian dari para suami tersebut. Saya bisa memahami kesulitan para ibu rumah tangga. Mereka harus putar otak  bagaimana mencukupkan uang suami untuk kebutuhan yang semakin bertambah dan harga kebutuhan yang semakin naik. Padahal, Jumlah uang yang diterima tidak bertambah.

Padahal, Ibu Rumah Tangga sudah dibebani pekerjaan rumah yang memusingkan. Mereka harus menyingsingkan lengan baju, memeras otak dan menguatkan tubuh. Roda kehidupan rumah tangga harus jalan. Kalau suami hanya jadi pegawai rendahan sampai level menengah maka harus kreatif. Agar semua kebutuhan tercukupi. Tidak muluk-muluk, Tidak perlu jadi kaya asal tercukupi.

Kreativitas para ibu rumah tangga bermunculan mulai online shop, urban farming, bank sampah, katering, souvenir sampai menjahit. Alhamdulillah, kita hidup di era medsos. Apapun bisa kita lakukan dengan medsos. Salah satunya adalah online shop.

Ibu-ibu sambil menggendong anak, menyusui si bayi atau mengajari anak. Mereka berkelana di dunia maya untuk menambah pundi-pundi uang. Mereka adalah pengguna smartphone. Smartphone tidak harus mahal tapi menghasilkan.

Keinginan yang sederhana yaitu keluarga hidup layak, makan yang layak dan anak-anak bisa lulus sekolah dan akhirnya si anak bekerja. Sehingga sang anak bisa menghidupi sendiri.

Kalau jadi kaya. Itu adalah bonus. Niyat semula adalah untuk memenuhi kebutuhan keluarga saja. Para suami dengan sigap membantu istrinya. Mereka sepulang kantor berganti kostum yaitu kaos T-Shirt.

Mereka mengantar barang dagangan ke kantor ekspedisi. Para Suami yang siaga untuk mengantar barang dagangan yang laku. sekaligus mengambil dagangan yang sudah dipesan oleh istri mereka.

Istri mereka selesai merekap penjualan online selama satu hari. Uang penjualan hari itu sudah mengalir ke rekening bank yang ada di BCA, Mandiri atau BRI.

Selesai merekap hasil penjualan. Suami terburu-buru mengambil uang di ATM untuk belanja/kulakan barang dagangan di esok harinya.

Uang sisanya dipindahkan ke rekening penampungan. Uang itu adalah tabungan biaya sekolah anak, persiapan untuk berobat dan kebutuhan yang mendesak atau buat refreshing. Jika mereka beruntung. Mereka bisa beli mobil atau tanah.

Kebutuhan makan dan tagihan bulanan sudah ditanggung oleh gaji sang suami. Sisa gaji suami untuk bayar hutang. Gaji suami sudah habis tanpa sisa.

Mereka adalah manusia yang hidup dengan penuh keyakinan. Kita hanya diwajibkan berusaha. Sisanya kita serahkan ke Allah SWT. Semoga hidup kita semakin lancar jaya.

Saya ANGKAT TOPI kepada para ibu rumah tangga yang tangguh dan perkasa. Mereka sangat memahami bahwa hidup berumah tangga adalah selayaknya sebuah tim. Mereka seringkali lebih repot daripada sang suami. Mereka sunyi dan senyap dalam pubilkasi padahal sangat menentukan bagi roda kehidupan rumah tangga.

Advertisements

Kursus Online

UNESCO sudah mencanangkan pendidikan sepanjang hayat atau Long Life Education maka belajar itu mulai dari lahir sampai mati, dimanapun, kapanpun dan dalam keadaan bagaimanapun. Kesadaran belajar sudah tumbuh di masyarakat jalur formal mulai SD, SMP, SMA, S1, S2 dan S3. Pendidikan di jalur formal mulai tumbuh pula misal : Kursus Online.

Karena jaman internet maka cara belajar berkembang juga yaitu via online. Jalur non formal lebih berkembang pesat via online, misal : kursus. Lembaga Kursus ini menawarkan program belajar sesuai dengan kebutuhan masa kini. Penyelenggara menyediakan materi dan peserta silahkan milih sendiri. Manfaat yang dapat diambil oleh peserta yaitu sertifikat yang dikeluarkan oleh lembaga kursus.

Misal : IndonesiaX, Lembaga ini menyediakan berbagai macam kursus singkat  via online. Short Course ini mulai bidang ekonomi, sosial, budaya dan engineering. Pokoknya PALU GADA, aPA mau LU GuA aDA. Pengajarnya berasal dari berbagai institusi mulai UNAIR, ITS, BNI, Rumah Perubahan dsb.

Kita belajar langsung dari ahlinya. Kita diajar oleh Renal Kasali, Daoed Yusuf, Hilmar Farid, Emil Salim atau Ahmad Baiquni. Tokoh-tokoh nasional ini mengajar via online. Mereka membagikan pengalaman dan ilmu mereka secara gratis kepada kita. Kita tidak membayar sepeser pun.

Kecuali, kita ingin mendownload sertifikat kelulusan kita. Harga sertifikat sebesar Rp 250.000,-/kursus. Cukup murah dibandingkan dengan ilmu yang kita dapatkan.

Kita belajar dengan banyak pilihan. Kita mau secara online? Bisa…!!! Mau Offline? Boleh…!!! Kita download materi kursus kemudian dilihat secara offline, Luwes banget…!!! Kita langsung belajar dari yang ahli di bidang masing-masing.

Saya terkesan dengan Prof Renal Kasali yang dengan mudah berbagi ilmu dengan kita. Kita belajar mulai manajemen CHANGE dan  “ Are You Driver and Passenger?” dari Prof Renal. Saya mulai belajar Financial Plan, Produk Jasa Keuangan. Saya belajar langsung dari mantan mendikbud yaitu Pak Daoed Joesoef. Kapan lagi bisa belajar kayak gini? Lha cuman via online, kita bisa wujudkan.

Saya yakin kursus macam diatas tidak hanya terbatas oleh IndonesiaX. kebetulan aja, saya mengikuti IndonesiaX. Buanyaaaak banget…kursus macam gini di dunia maya. Sepintas lalu, kita merasa cukup dengan ilmu yang didapatkan di bangku sekolah. Ternyata, saya merasa sangat berguna di dunia nyata. Manfaat tidak melulu masalah sertifikat. Tanpa sertifikat, Saya merasa sangat terbantu dengan materi kursus di dunia kerja.

Karena saya bukan lulusan ekonomi tapi “terjebak” di bagian keuangan. Kebetulan ada sedikit masalah di bagian keuangan. Setelah mengikuti kursus dari Prof Renal Kasali. Saya jadi memahami masalah di kantor dan mampu menjelaskan ke pimpinan secara logis dan sistematis. Itu salah satu manfaat mengikuti kursus online.

Hayuk, manfaatin Gadget, Laptop dan komputer kantor buat Fb-nan, Twitter-an, Youtube-an, Blogging . But, jangan lupa buat kursus online pula. Hehehehe…!!!