NO BODY PERFECT

(Kisah Puntadewa)

Sumber : disini

Raden Puntadewa adalah anak sulung dari Pandawa dari Ibu Kunti. Dia adalah sosok yang sempurna, mempunyai ilmu kanuragan yang tinggi sekaligus memiliki budi pekerti yang unggul. Dia terkenal sebagai Ksatria berdarah putih. Artinya  adalah berwatak unggul yaitu jujur, berperasaan halus dan hatinya yang Tulus Ikhlas.

Puntadewa alias Yudistira dalam versi India. Manusia yang berakhlaq mulia. Beliau dalam ilmu kanuragan unggul dalam memainkan tombak. Resi Durna sebagai guru Pandawa dan Kurawa mengakui hal itu. Puntadewa sangat menghormati guru-gurunya termasuk Resi Durna. Sayang, Resi Durna mati karena muslihat yang dimainkan oleh Puntadewa dalam perang Baratayudha.

Seperti yang kita ketahui, Pandawa selalu dikerjai oleh Kurawa. Negara Hastina yang seharusnya diwariskan kepada Pandawa ternyata direkayasa menjadi milik Kurawa. Karena hati Puntadewa yang baik maka diterima pula keputusan yang sepihak itu. Puntadewa memilih menyingkir dan mendirikan kerajaan Amarta.

Pandawa diberi wilayah berupa hutan angker di wilayah hastina. Hutan itu sebenar adalah tempat kerajaan hastina yang lama kemudian dipindah di lokasi yang sekarang. Puntadewa harus berjuang dulu untuk membuka hutan tersebut menjadi Kerajaan Amarta. Kurawa sungguh enak tinggal meneruskan kerajaan yang sudah besar.

Singkat cerita, Puntadewa dan para Pandawa berhasil mendirikan kerajaan Amarta di daerah hutan yang telah dibuka.  Kerajaan Amarta milik Pandawa yang dibangun sendiri. Berbeda dengan Kerajaan Hastina yang direbut oleh saudara sepupu mereka yaitu Kurawa adalah warisan. Pandawa memang hebat memiliki jiwa Entrepreneurship. Mereka tidak mau berpangku tangan. Alih-alih, mereka berjuang untuk mewujudkan cita-cita. Hehehehehe……..

Amarta berkembang pesat. Amarta mempunyai wilayah dan  tanah jajahan yang semakin meluas. Kerajaan menjadi besar dan menyamai kerajaan Hastina. Karena mereka mau berjuang untuk mewujudkan.

Negara Hastina tidak mungkin ditaklukkan bahkan diserang oleh Pandawa. Mereka selalu patuh dengan Filosofi “Kacang Ora Lali Lanjaran” (Kacang tidak akan lupa dengan kulitnya). Karena di Hastina terdapat orang-orang yang dihormati Pandawa yaitu Resi Bisma, Resi Durna, Paman Yamawidura, Ibu Kunti, Prabu Destarata dan Dewi Madrim dsb.

Puntadewa yang mengadakan perayaan Sesaji Rajasuya sebagai rasa syukur kepada YANG MAHA KUASA. Karena Pandawa telah dianugerahi dengan kerajaan Amarta yang semakin berjaya. Perayaan ini mengundang seluruh negara jajahan, negara sahabat dan para kerabat termasuk negara Hastina. Mereka yang diundang termasuk Kurawa, Resi Bisma, Resi Durna dan Prabu Destarata dsb.

Kurawa yang dipimpin oleh Duryudana melihat sendiri kejayaan dan kemasyhuran dari Kerajaan Amarta. Hati Duryudana terbakar oleh rasa iri dan dengki. Karena rivalnya lebih jempolan. Pandawa mampu mendirikan Imperium mereka sendiri. Kurawa mempunyai imperium yang besar karena warisan nenek moyang.

Rasa iri dan dengki yang berkobar-kobar ini bagai Api disiram BBM Pertamax DEX. Apalagi Sengkuni memprovokasi Kurawa untuk merebut Amarta tanpa perang. Sengkuni adalah ahli strategi perang agitasi, propganda dan penghasutan. Rasa iri dan Dengki Prabu Duryudana berkolaborasi dengan hasutan Sengkuni.

Sengkuni adalah lambang kelicikan level  TOP. Karena pola kerja sengkuni adalah menang tanpa perang namun dengan menghasut, memfitnah dan menjebak. Mulai dari Insiden Bale Sigala-gala, penghasutan Raja Duryudana untuk merebut Amarta melalui meja Judi dan puncaknya adalah Perang Baratayudha. Sengkuni mengambil peran penting dalam peristiwa itu semua.

No Body Perfect, Satu kalimat yang menggambarkan Puntadewa. Puntadewa yang bersih, jujur, alim dan sportif ternyata memiliki titik lemah. Puntadewa suka sekali main dadu. Main dadu alias berjudi. Hobi kesukaan di kala senggang bagi raja-raja. Ternyata, apapun bisa jadi taruhan alias judi.

Sengkuni memahami hal ini. Pandawa diajak untuk bermain dadu melawan Kurawa di Hastina. Sengkuni menjalankan strategi dengan mengalah di awal permainan dan menghajar di tengah sampai akhir permainan. Pandawa menjadi lengah. Pandawa masuk perangkap Kurawa tanpa sadar.

Semakin lama permainan menggila. Pandawa mulai kalah sedikit demi sedikit. Taruhan semakin menggila mulai uang recehan sampai kerajaan Amarta bahkan pasangan hidup. Sial, Pandawa masih juga kalah. Hmmm….!!! Pandawa sudah kehilangan Amarta.

Kurawa ingin menghabisi Pandawa sampai akar-akarnya. Dewi Drupadi dijadikan taruhan. Oh no…!!!! Dewi Fortuna sedang enggan memihak Pandawa. Saya jadi ingat lagu Bang Rhoma yang judulnya JUDI. Hehehehe… Judi emang harus ditinggalkan

Pandawa kalah dalam taruhan Dewi Drupadi. Dursasana berjingkrak-jingkrak. Dursasana menarik kain kemben Dewi Drupadi dengan penuh nafsu. Karena perlindungan dewa maka kain kemben yang ditarik tiada habisnya. Dursasana tidak berhasil menelanjangi Dewi Drupadi.

Dewi Drupadi malu dan murka. Dia bersumpah tidak akan melepas ikatan rambutnya sampai bisa berkeramas dengan darah Dursasana. Sumpah ini akan terbukti di kancah perang Baratayudha. Dursasana akan mati mengenaskan bagai bangkai yang dihisap darahnya sampai habis.

Pandawa Cuma bisa pasrah melihat adegan tersebut. Pandawa kalah tanpa peperangan. Kelihaian Arjuna memainkan panah tidak ada gunanya. Keperkasaan Werkudara dengan senjata Gada tiada artinya. Pandawa kehilangan segala-galanya dan masih menjalani hukuman.

Masih untung, Dewi Drupadi dilepaskan. Dursasana mungkin mikir. Meskipun bisa memiliki Dewi tapi apalah gunanya. Kemben Drupadi nggak bisa dia lucuti. Maka berlaku pantun dibawah ini :

Jas Buka Iket Blangkon,

Sami juga Sami Mawon.

Apalagi, Ngerih…!!!  mendengar sumpah Dewi Drupadi.

Pandawa menjalani hukuman untuk mengasingkan diri  selama 12 tahun. Pandawa tidak boleh diketahui siapapun dalam masa pengasingan. Jika ada yang mengetahui maka hukuman harus diulang dari awal lagi . Meskipun, sudah menginjak tahun ke-11 bulan ke-11. Itulah peperangan tanpa adu fisik memang lebih Sadiiissssssssss……!!!!!!!

Pandawa menyelesaikan masa hukuman 12 tahun. Ini kesempatan untuk menuntut kerajaan Hastina untuk dikembalikan kepada Pandawa. Duryudana tidak mau menyerahkan Hastina kepada Puntadewa. Bahkan, Duryudana tetap menolak ketika Puntadewa hanya meminta lima buah desa saja.

Atas saran penasehat Pandawa yaitu Kresna. Perang Baratayudha digelar antara Pandawa dan Kurawa. Kresna sudah yakin menang. Karena kitab Jitabsara sudah ditulis. Kitab Jitabsara menulis kemenangan Pandawa lengkap dengan cara kematian para pelaku perang Baratyudha.

Kresna yang telah melakukan operasi intelijen ke Ngarcapada sehingga mengetahui detil perang `Baratayudha. Pandawa menyerahkan strategi perang kepada Kresna. Ini seperti dalam Perang Dunia ke-2. Ketika Sekutu yang mencuri mesin Enigma dari Jerman. Sehingga, Sekutu bisa mengetahui pergerakan tentara Jerman melalui berita intelijen yang diterjemahkan dengan mesin Enigma.

Sekali lagi, Puntadewa mengalami dilema. Strategi perang dari Kresna mengharuskan Puntadewa melakukan muslihat sehingga Resi Drona bisa dibunuh. Puntadewa harus memberi berita tidak lengkap  mengenai kematian Aswatama. Aswatama adalah titik lemah Resi Durna (Inget… No Body Perfect).

Putra kesayangan Resi Durna bernama Aswatama. Kebetulan, Salah satu gajah yang menjadi tunggangan dalam Perang Baratayudha bernama Aswatama. Bima membunuh gajah Aswatama. Prajurit Pandawa diperintahkan berteriak, “Aswatama mati…!!!!!”. Ketika berita ini sampai di telinga Resi Durna menjadi limbung dan galau. Resi Durna teringat anak kesayangan dan satu-satunya

Resi Durna paham bahwa Puntadewa adalah orang jujur dan tidak bisa bohong meskipun di pihak musuh. Resi Durna menanyakan kepada Puntadewa, “apakah Aswatama mati?”. Puntadewa dengan bimbang menjawab,”iya”. Puntadewa tidak memberi keterangan lebih lanjut. Bahwa yang mati adalah Gajah yang bernama Aswatama.

Resi Durna sangat sedih hati. Dia lepaskan baju perang dan bermeditasi. Drestajumna, Panglima Pandawa sekaligus saudara kandung Dewi Drupadi menebas leher Resi Durna sehingga mati. Puntadewa sangat galau dan sedih karena telah melakukan penipuan.

Singkat cerita, Perang Baratayudha dimenangkan Pandawa dan janji telah tertunaikan. Dursasana mati mengenaskan. Karena darahnya diambil untuk keramas dewi Drupadi. Paha Duryudana patah sampai ajalnya tiba. Karena sumpah Werkudara akan mematahkan paha Duryudana untuk memangku Dewi Drupadi. Menurut Werkudara, Itu adalah pelecehan Duryudana atas Dewi Drupadi.

Puntadewa memiliki dua kerajaan yaitu Amarta dan Hastina. Dua kerajaan besar menjadi satu. Keluhuran budi si Puntadewa membuahkan hasil. Puntadewa telah mengembalikan yang hilang darinya bahkan lebih besar dengan cara elegan.

Puntadewa menyepi di Gunung Himalaya menjelang ajal tiba. Puntadewa ketika hendak dimasukkan Nirwana maka diperlihatkan bahwa saudara Pandawa berada di Neraka dan Kurawa di Nirwana. Puntadewa sangat bersedih hati. Puntadewa memilih hidup neraka bersama dengan saudara-saudaranya daripada di Nirwana bersama dengan Kurawa yang penuh angkara murka.

Cling…!!! Puntadewa tiba-tiba sudah berada di Nirwana bersama Pandawa. Ini adalah penebusan dosanya yang telah “mengerjai” sang guru yaitu Resi Durna. Puntadewa hidup damai bersama saudara Pandawa di Nirwana.

No Body Perfect, itu hikmah dari cerita Puntadewa. Puntadewa yang sudah memiliki ketinggian budi pekerti. Kadang kala harus terperosok. Karena kebiasaan “main dadu” atau berjudi dan strategi perang yang mengharuskan untuk “mengerjai” Resi Durna.

Orang Yang Terbaik Bukanlah Yang Tanpa Dosa, Orang Yang Terbaik Adalah Cepat Menyadari Kesalahan, Memohon Ampun Ke HadliratNYA dan Tidak Akan Mengulang Lagi.

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Tulusnya Semar

semarSumber : sini

Kalau tokoh wayang yang satu ini asli Indonesia. Kita nggak akan menemukan tokoh ini di cerita pewayangan gagrak India. Tokoh ini asli ciptaan pujanggan Jawa. Dia adalah Semar. Semar sang pamomong. Tentu saja nama Semar tidak ditemukan dalam naskah asli kedua wiracitra tersebut yang berbahasa Sanskerta.

Pamomong artinya orang yang bertugas sebagai pamong atau pengasuh.  Pamomong ini selalu mendengar segala keluh kesah yang tuannya dan menghibur jika sang tuannya sedang bersedih. Sang Pamomong inhi selalu menemani kemana saang tuan pergi.

Semar itu sang  pamomong bagi Pandawa. Nama lengkapnya Kyai Lurah Semar Badranaya. Semar memiliki anak yang sebenarnya hanya anak angkat yaitu Semar, Gareng, Petruk dan Bagong. Panakawan inilah selalu menyertai pandawa dalam suka dan duka. Semar adalah sahabat setia bagi Pandawa.

Sang pamomong harus bisa menghibur sekaligus menasihati tuannya. Dia memberi masukan tentang pelajaran hidup dan kebajikan. Maka sungguh tidak mengherankan jika Sunan Kalijaga menggunakan tokoh Semar dalam pementasan wayang dan dakwahnya.

Apabila Semar adalah di sisi kanan Pandawa maka Kresna berada di sisi kiri Pandawa. Kresna dan Semar adalah dua orang penting di lingkaran Pandawa. Kresna yang lebih rasional dan tegas sedangkan Semar lebih humanis dan menentramkan.

Hidup Pandawa sudah lengkap karena ada dua penasehat di sisi kanan dan kiri. Kurawa memang memiliki banyak penasehat mulai Resi Bisma, Resi Durna dan Sengkuni tetap rasanya tidak sesempurna dua penasehat Pandawa. Karena penasehat Kurawa ada yang tidak tulus terutama yaitu Sengkuni.

Maka, ukurannya adalah ketulusan. Adakah kita memiliki saudara, teman dan sahabat yang tulus untuk menemani kita? Setulus Semar terhadap Pandawa yang tanpa pamrih.