RONGGENG DUKUH PARUK

Alhamdulillah, saya sudah selesai membaca novel “Ronggeng Dukuh Paruk” karya Ahmad Tohari. Saya ingin membaca novel ini sudah sejak lama . Sejak Pakde Widadi mengundang beliau mengisi pengajian di rumahnya di Semarang. Kyai “nyentrik” menurut penilaian saya. Kyai jarang menyentuh hal-hal yang unik seperti : Ronggeng.
Hati menjadi penasaran. Ronggeng dibahas oleh pengasuh Pondok Pesantren. Novel juga di-”cekal” oleh Orde Baru. Apa karena menyinggung PKI ?  Penulis simpatisan PKI? Bagi saya, yang rajin nonton film G 30 S PKi setiap tahun tentu lebih sensitif. Hehehehehehehe…!!!!!!
Kyai Pondok Pesantren, Simpatisan PKI dan Novel dengan judul sensasional. Kyai itu adalah Ahmad Tohari. Ronggeng menurut saya kongruen dengan tayub ( atau sama saja ya?) Emang, saya masih lugu, naif dan masih men-“judge from it’s cover” (hahahaha…!!!!). Makanya, saya harus baca novel RONGGENG DUKUH PARUK agar terang benderang.
Novel ini dilarang orde baru. Akibatnya, Novel ini masih sukar dicari pada awal orde reformasi. Novel ini populer dan sulit dicari. Apalagi buat saya yang merupakan generasi 80-an ( kelahiran era 1980-an). Saya download versi pdf. Ternyata nggak enak dibaca.
Kemarin, Saya menemukan di Gramedia. Tanpa pikir panjang, Saya beli. Ya Allah, sudah sejak bujangan berniat beli baru kesampaian setelah punya anak. Untung, Istri mendukung hobi “membeli”. 🙂
Saya membaca dari halaman ke halaman. Saya membaca mulai di ruang tengah, kamar tidur dan bahkan di WC. semakin dalam dibaca maka serasa ada “pencerahan”. Kang Ahmad Tohari itu ternyata sedang ber”dakwah”. “Dakwah yang tanpa menggurui.
Kang Tohari tidak ingin agama hanya menjadi “ngelmu” tetapi menjadi Ilmu. “Ngelmu” bermakna ke arah spiritual. Ilmu adalah sesuatu yang aplikatif dan bermanfaat bagi seluruh alam semesta ( Manusia, Hewan, Tumbuhan dan Segala isi bumi). Agama tidak hanya “doktrin”.
Agama hanya bicara dosa, neraka dan surga kurang afdol. Lebih afdhol lagi, yaitu Rahmatan Lil Alamin. hehehehehe…!!! Meminjam ungkapan Gusdur kali ya. :). Kang Tohari ber”dakwah” sangat halus. Kalau ingin mengetahui “dakwah” kang Tohari. kita harus membaca seluruh isi novel secara urut.
Kang Tohari memilih setting yaitu dukuh Paruk wilayah kabupaten “Eling-Eling” Jawa tengah. Wilayah ini terletak di bagian selatan jawa tengah. Wilayah yang akrab dengan logat “ngapak-apak”.
Kang Tohari memang berasal dari daerah tersebut yaitu Banyumas. Dia ingin mengangkat kehidupan desa yang menjadi kehidupan sehari hari. Kang Tohari mengakrabi pedesaan sejak kecil. Sehingga novel ini sangat orisinil.
Ini menjadi catatan penting bahwa novel Ronggeng Dukuh Paruk adalah Fiksi. Kalau ada kesamaan nama, tempat dan kejadian. Ini adalah kebetulan saja. hehehehehehe…..!!!!!! Kayak di pembukaan film saja.
Dukuh Paruk adalah wilayah yang terpencil. Daerah yang belum tersentuh sama sekali dengan modernitas. Masyarakat yang menjunjung tinggi keserasian dengan alam semesta. Salah satu hal yang harus serasi dengan alam semesta adalah “Birahi”.
Ronggeng adalah salah “Pemangku Birahi”. Oleh karena itu, Keberadaan Ronggeng tidak dipandang sebagai hiburan tetapi dipandang sebagai bagian “spiritualitas” masyarakat disana.
Pendiri dukuh Paruk adalah Ki Secamenggala. Seorang mantan bromocorah yang tobat dan menyepi di daerah Dukuh Paruk. Kuncup makam Ki Secamenggala dipuja oleh warga dukuh Paruk. Anak keturunan Ki Secamenggala yang menempati Dukuh Paruk mempunyai cara menjaga keserasian alam  sesuai petunjuk Ki Secamenggala.
Perjalanan hidup Ronggeng Dukuh Paruk adalah Perjalanan hidup Dukuh itu sendiri. Dukuh itu mengalami kejayaan, pasang-surut sampai kehancurannya selalu mengikuti kehidupan si ronggeng dukuh Paruk yaitu Srintil. Dukuh Paruk adalah lambang kemelaratan sekaligus kemandirian kawula alit Jawa.
Masyarakat Dukuh Paruk dipenuhi aroma klenik dan kejawen. Norma mereka longgar dalam birahi. Birahi adalah sesuatu yang harus disalurkan tanpa harus dengan aturan yang rumit. Mereka dengan bebas menyalurkan kepada siapa saja. Tidak ada istilah selingkuh. Semua dilakukan dengan terbuka.
Masyarakat Dukuh Paruk mengartikan nrima ing pandum  secara membabi buta. Nrima ing Pandum  dalam arti harfiah adalah bersyukur atas nikmat Ilahi Robbi. Mereka hanya “menerima” yang diberikan kepada mereka oleh Ilahi Robbi. Mereka tidak berusaha untuk merubah nasib  menjadi lebih baik, sejahtera dan berpengetahuan.
Kemiskinan dan Kebodohan dibumbui ronggeng adalah yang mereka syukuri dan nikmati dalam kehidupan. Kemiskinan dan kebodohan adalah dianggap sebuah “garising pepesthen urip”.  Kedua hal itu harus diterima dengan ikhlas dan rasa syukur. Manusia tidak perlu merubah sesuatu apapun. Apabila dirubah maka akan menganggu keseimbangan alam semesta.
Ironis, Sesuatu yang indah dan selaras dengan alam tetapi Dukuh Paruk tetap mengalami pageblug. Mereka menjadi korban pertarungan politik. Kebodohan mereka membuat dukuh paruk menjadi lebih terpuruk lagi. Terutama Srintil yang kehilangan harkat & martabat kemanusiaan.
Novel ini vulgar tetapi tidak mesum. Hanya novelis handal yang bisa melakukan ini. Kang Tohari mampu mengimajinasikan kehidupan ronggeng yang vulgar tanpa aroma mesum. Ini membutuhkan latihan yang lama untuk mencapai kemampuan tersebut. Itu yang paling top. Two Thumbs Up…!!!
Tokoh utama dalam Novel ini adalah Srintil dan Rasus. Kedua tokoh ini yang menguasai jalan cerita. Kedua tokoh ini merupakan sentral dari Novel. Srintil adalah ronggeng yang kewahyon  “indang” Ronggeng Dukuh Paruk. Rasus adalah anak sebatang kara. Rasus yang mencintai Srintil. Karena bayangan ibunya yang berada di dalam diri Srintil.
Rasus kehilangan ayah dan ibu karena tragedi tempe bongkrek beberapa tahun silam. Dia diasuh oleh nenek. Rasus merindukan sosok ibu yang tidak pernah dia temui. Dia membayangkan sosok ibu di dalam diri Srintil. Karena status Srintil menjadi Ronggeng. Rasus kecewa. Rasus melarikan diri dari Dukuh Paruk. Dalam bagian akhir cerita,  Rasus menjadi tumpuan warga Dukuh Paruk.
Konflik percintaan antara Rasus dan Srintil adalah awal cerita. Puncak dari cerita adalah kehancuran Dukuh Paruk karena kebodohan & kemiskinan yang mendera. Akhir cerita adalah harkat martabat Srintil sebagai manusia terjerembab yang dikuti dengan rasa penyesalan Rasus.
Rasus mencintai Srintil. Karena bayangan sosok ibu di dalam diri Srintil. Tragiis, Srintil “direbut” oleh Dukuh Paruk. Srintil harus menjadi Ronggeng . Karena Srintil diyakini bahwa “indang” dukuh Paruk bersemayam dirinya. Ronggeng diyakini akan memberi kemakmuran bagi Dukuh Paruk. Rasus kecewa, jiwanya berontak dan akal sehat rasus menolak status Srintil yang baru.
Rasus yang rasional, modern dan tidak tertarik takhyul. Rasus dipaksa mengalah dengan lingkungan. Karena Rasus memiliki kecintaan kepada Dukuh Paruk. Maka, Rasus menolak ketika srintil mengungkapkan rasa cinta kepada Rasus. Rasus berpikir bahwa Srintil telah menjadi milik dukuh Paruk. Rasus tidak berhak atas Srintil.
Rasus membawa rasa sakit hati ketika meninggalkan dukuh Paruk. Dukuh Paruk yang berjasa atas kehidupan si Rasus.  Pelarian Rasus bermuara menjadi seorang serdadu TNI. Ironis, Dukuh Paruk yang dia cintai habis terbakar. Pelaku pembakaran adalah yaitu TNI. Dukuh Paruk dianggap sebagai bagian dari pemberontak negara yaitu PKI.
Keterlibatan warga Dukuh Paruk atas pemberontakan PKI adalah karena kebodohan & kemiskinan warga dukuh Paruk. Rombongan Ronggeng Dukuh Paruk dianggap bagian dari strategi agitasi dan penghasutan rakyat untuk melawan negara. Padahal, hal itu terjadi karena penipuan yang dilakukan oleh oknum yang memanfaatkan Rombongan Ronggeng Dukuh Paruk.
Rombongan Ronggeng Dukuh Paruk harus mendekam di dalam penjara. Mereka masih beruntung. Karena tidak harus berhadapan dengan regu tembak. Seluruh anggota Rombongan dibebaskan kecuali Srintil. Mereka pulang membawa trauma. Tidak ada niat secuilpun dari warga dukuh Paruk untuk memberontak. Hanya orang yang kejam memanfaatkan mereka. Hanya orang tidak berperasaan yang menindas mereka.
Srintil mengalami nasib lebih mengenaskan. Kemanusiaan srintil tidak dianggap lagi. Srintil menjadi pemuas birahi para oknum pemerintah yang ada di penjara. Srintil mengalami trauma. Dia merasa menjadi ronggeng adalah malapetaka. Maka, Srintil berusaha melupakan ronggeng dan menjadi perempuan seutuhnya. Perempuan normal yang berkeluarga dan berketurunan. Dunia Ronggeng adalah dunia masa lalu yang kelam.
Srintil masih mencintai Rasus. Malang, Rasus tidak segera datang. Karena Tugas Negara di Tanah Seberang. Bajus yang hadir. Bajus memberi harapan Srintil untuk berkeluarga. Bajus seolah-olah memberi harapan ke Srintil. Impian Srintil melambung tinggi bersama Bajus.
Untung dapat dapat diraih dan Malang tidak dapat ditolak. Bajus ternyata hanya seorang perayu ulung. Ternyata, Dia tidak ingin menikah dengan Srintil. Bajus adalah manusia proyek yang mengejar recehan dengan segala cara termasuk menjual srintil. Srintil dibeli dengan kebaikan hatinya dengan menemani Srintil, membahagiakan Goder dan membangun rumah Srintil.
Bajus sudah impoten sejak insiden Jatiluhur. Hasratnya bukan perempuan tetapi uang. Srintil dijual kepada Blengur. “Orang Kuat” yang suka main perempuan. Hati si Blengur luluh melihat Srintil. Blengur tidak berani menjamah Srintil. Bajus tidak peduli asalkan proyek bisa ditangan.
Srintil telah mengalami serentetan tragedi kehidupan. Dia mengetahui bahwa bajus telah menjual dirinya. Akal Sehat Srintil tidak kuat menerima dan jiwanya terguncang. Srintil menjadi Sakit Jiwa dan harus dipasung di rumah. Harkat kemanusiaan lengkap sudah hilang entah kemana. Dia menjadi manusia tanpa akal dan jiwa.
Penugasan di Kalimantan sudah berakhir. Rasus gamang hendak kemana. Hati kecilnya merasa dipanggil oleh tanah air kecilnya yaitu Dukuh Paruk. Rasus pulang ke rumah. Dia mendapati bahwa Dukuh Paruk telah porak – poranda. Kebanggaan dukuh Paruk telah hancur. Tragisnya, Kebanggaan Dukuh Paruk adalah pujaan hati yaitu Srintil.
Hati Rasus kecut. Dia merasa bersalah membiarkan srintil mengalami kemalangan.
Rasus juga menyesal mengapa keputusannya untuk melarikan diri di waktu dahulu adalah salah. Rasus merasa ada tanggung jawab yang ditinggalkannya sebagai warga Dukuh Paruk dan kepada kekasih hati.
Rasus merasa mendapat “pencerahan”. Dukuh Paruk harus dirawat dan dijaga. Rasus adalah putra “asli” dukuh Paruk. Segala yang terjadi di Dukuh Paruk disebabkan kebodohan dan kemiskinan. Dukuh Paruk adalah korban dari pertarungan politik. Rasus harus melakukan “pencerahan” bagi dukuh Paruk. Sehingga hidup mereka menjadi lebih baik.
Kang Tohari adalah seorang kyai. Pembinaan masyarakat adalah tugas utamanya. Kang Tohari berpesan bahwa hidup harus sesuai aturan Ilahi. Tujuan yang baik dengan cara yang tidak pas maka malapetaka bisa saja terjadi.
Warga Dukuh Paruk adalah masyarakat yang dasarnya baik. Birahi harus dikelola dengan baik. Sehingga ada perbedaan antara hewan dan manusia. Warga Masyarakat memang harus terus didakwahi tanpa harus digurui. Tujuan utama dakwah yaitu menghapus kebodohan dan kemiskinan.
Kebodohan juga yang menyebabkan malapetaka. Warga dukuh Paruk hanya sebagai korban. Mereka harus diayomi dan dibina. Mereka rela untuk dibina bukan dibinasakan dan distigma sebagai eks PKI. Ini adalah kritik kepada pemerintah bukan subversi.
Kebodohan yang menyebabkan kemiskinan. Maka, kewajiban bagi orang pintar untuk memberdayakan masyarakat awam. Orang pintar harus memberdayakan bukan memperdaya. Itu pesan halus yang disampaikan Kang Tohari dalam “Dakwah” di Novel ini.
Kang Tohari hanya membaca zaman. Ronggeng Dukuh Paruk adalah novel humanis nan menyentuh. Gambaran kemiskinan dan kebodohan sangat kental dan menyentuh. Karena kang Tohari memang berasal dari desa dan kembali ke desa.
Novel ini akan selalu relevan dalam setiap zamannya. Novelis yang mampu membaca zaman dan menghantarkan pesan. Novel yang tidak hanya menghibur namun juga men”cerah”kan.
Selamat Membaca. hehehehehehehe…..!!!

Arti kata :

Kongruen      :  sebangun ( http://id.m.wikipedia.org/wiki/Kongruen )

Birahi             :  persenggamaan ( http://id.m.wikipedia.org/wiki/Berahi )

Bromocorah :  residivis ( http://artikata.com/arti-322411-bramacorah.html )

Kemelaratan : kemiskinan ( http://www.artikata.com/arti-340300-melarat.html )

Kawula alit    : rakyat kecil ( http://artikata.com/arti-333399-kawula.html )

Nrima ing pandum : Kejujuran, keiklasan, menerima segala takdir Allah SWT
( http://sacrosact.blogspot.com/2010/02/10-filosofi-hidup-orang-jawa.html )

Garising pepesthen urip : takdir kehidupan yang tidak bisa diubah

Pageblug : bencana ( bencana alam, kekeringan, kelaparan, wabah penyakit )

Kewahyon : mendapat karunia dari Allah SWT

Advertisements

Author: zaki19482

Saya sedang belajar menulis, mencoba menulis segala sesuatu yang dapat dilihat, didengar dam dirasakan

2 thoughts on “RONGGENG DUKUH PARUK”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s